[BTS FF Freelance] The Tower Magic of Shadow (Epilogue / Chapter 2)

BTS (6)

Title : The Tower Magic of Shadow (Epilogue / Chapter 2)

Author : Haruko

Cast:

– Lee Jaesuk

– Kim Taehyung of BTS ? (Api Biru Abadi & Ice Abadi)

– Jeon Jungkook of BTS  ( Elements Air dari Klan Air Selatan & Medis)

– Park Jimin of BTS (Elements Halilintar)

– Jung Hoseok of BTS (Elements Udara)

– Min Yoongi of BTS  (Elements Cahaya)

– Kim Seok Jin of BTS (Elements Api Merah)

– Kim Namjoon of BTS (Telekinesis/ Pengendalian lewat Pikirkan dan Aliran darah)

– Park Haru (OC) (Elements Alam/ Elf & Medis)

– Park Hani (OC) (Elements Alam/ Elf & Medis)

– Shin Natsu (OC) (Elements Api Biru)

– OC and Cast Support

Genre: Fantasy Supranatural, Life school, Friendship, Family, Action, Little Mystery(?), AU, Sad.

Length: Chapter

Rating: PG – 13 (Dapat berubah mengikuti alur cerita)

Disclaimer

Annyeong Chingu-duel. Apa kabar?.. Saya kembali dengan Sequel ke-2…. Mian lama. *Bow.. Semua anggota BTS milik Army dan orang tua mereka! Cerita dan OC sepenuhnya milik saya! Dan ingat This is just fanfiction, kekerasan tak patut ditiru, oke!… Hati-hati Typo bergentayangan… Happy Reading….!

Summary

Please, Comeback!

*********

*********

Previous part

Tanpa disadarinya cairan bening mengalir dari matanya— seperti ada duri yang tersemat di jantungnya saat teman-temannya tidak percaya dengan ucapannya.

“Mungkin saja Jungkook melihatnya!”

Suara itu menarik tatapan semua mata yang berada dalam kamar pada seseorang yang berdiri di ambang pintu.

….@_@….

Ucapannya yang menggantung membuat suasa semakin memanas dan memperumit masalah yang ada.

“Apa maksud mu?! Jangan memperumit masalah ini!” Hoseok tak melepaskan tatapannya sedikitpun dari orang itu yang sekarang berjalan dan bergabung dengan mereka.

Orang itu menghela nafas dalam.

“Jangan diam saja Min Yoongi! Jelaskan. Apa maksud mu tadi?!” Jin ikut emosi dengan sikap dua temannya yang tidak bisa menerima kenyataan ini.

Ya. Orang itu Min Yoongi.

“Apa kau tidak bisa menahan emosi mu itu Kim Seok Jin?! Pantas kau….”

“Apa?! Aku lemah dari mu ‘Huh?!” Potong Jin yang tak suka dengan ucapan Yoongi. Ia sudah tau sambungannya.

“BERHENTI!” bentak Namjoon.

“Apa kalian pikir Taehyung akan senang melihat kita berkelahi seperti ini?! Aku rasa tidak! Kau, Min Yoongi selesai ucapan mu!” sambung Namjoon menengahi perdebatan itu.

Yoongi mendengus kesal pada Namjoon. “Aku bilang mungkin saja Jungkook melihatnya. Melihat…”

“Kau pasti perca…”

“Tidak. Aku tidak percaya padamu. Apa kau tidak bisa membiarkan aku menyelesaikan kalimat ku?!” ujar Yoongi kesal karena ucapan disela Jungkook.

“Kau mungkin saja melihat orang yang mirip dengan Taehyung!” sambung Yoongi dengan tatapan yang masih menghujam Jungkook.

“Maksud senior?” tanya Natsu penasaran.

Yoongi menghela nafas pelan dan menatap satu persatu teman-temannya “Jungkook pasti melihat orang yang mirip dengan Taehyung. Aku yakin itu!”

“Kenapa kau bisa yakin?” tanya Jimin.

“Karena…..”

Flash Back

-24 Juni 2015. Seoul.

Badan lelah dan kurang fit— Yoongi sangat berharap cepat sampai di rumah. Setelah turun bus ia harus berjalan lagi melewati gang agar sampai di rumah lebih cepat.

Yoongi sengaja tidak minta jemput oleh Appa’nya— ia tidak mau merepotkan orang tua’nya yang mungkin sedang sibuk di toko buah milik keluarganya. Selain itu ia ingin memberikan kejutan pada kedua orang tuanya setelah dua bulan tidak pulang.

Membayangkan kebersamaan dengan kedua orang tuanya sedikit mengurangi lelah yang dirasakannya. Yoongi terus merajut langkahnya dengan semangat— sesekali senyuman terukir dibibirnya.

Brukkkk…..

Tubuh Yoongi terhuyung ke belakang, terjatuh dengan pantat mendarat duluan oleh tabrakan seseorang yang datang tiba-tiba dari persimpangan gang.

Dengan sigap orang yang menabrak’nya tadi membantunya kembali berdiri. Orang itu meminta maaf  dan terus membungkukan badan. Awalnya Yoongi akan membuat perhitungan dengan orang yang menabrak’nya— tapi setelah melihat wajah orang itu Yoongi hanya diam terpaku.

Orang yang sekarang berdiri dihadapannya adalah seseorang yang menghilang satu tahun lalu atau lebih tepatnya sahabatnya sendiri, Taehyung!

Rasa lelah, rasa sakit dan tubuh yang kurang fit semuanya sirna begitu saja, berganti dengan kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan. Bahkan ia tidak bisa berkata-kata lagi yang ingin ia lakukan hanya memeluk orang di hadapannya ini. 

Namun kebahagiaan itu hanya sesaat— ketika seseorang datang dan memanggilnya dengan sebutan Tuan muda Jaesuk— semaunya langsung sirna. Dan ditambah orang dihadapannya ini tidak mengenali dirinya.

Dan pergi tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

Flash Back end.

Yoongi kembali menghela nafas “Setelah aku cari tau, dia memang bukan Taehyung. Dia Lee Jaesuk, cucu dari seorang pengusaha.” Yoongi menghentikan ceritanya.

“Dan jika dia benar Taehyung, dia pasti mengenali mu Jungkook. Dia juga akan kembali kesini.” sambung Yoongi.

“Semuanya sudah jelaskan?” ujar Namjoon. Yang lain mengangguk. “Sekarang lebih baik kita istirahat. Besok ada latihan bertarung bukan?” ujar Namjoon lagi. Teman-temannya yang lain kembali mengangguk dan pergi kemar masing-masing.

Begitupun dengan Jimin dan Natsu beranjak ketempat tidur mereka masing-masing, meninggalkan Jungkook yang masih duduk menyendiri dengan pikiran melayang jauh.

…..@_@……

-09.00. 28 Juni 2015, High Korean Internasional School…

Ini sudah tiga hari berlalu sejak sekembali dirinya dari Shadow Village— rasa penasaran terus mengusik dirinya akan Bangunan yang ia lihat waktu itu. Entah kenapa ia begitu tertarik dengan Bangunan yang berarsitektur kastil kuno itu?

Bahkan setiap memejamkan mata, Ia bisa mengingat Bangunan itu dengan jelas. Tidak pernah ia sepenasaran ini terhadap sesuatu?

Apalagi dengan sikap aneh kakeknya yang seperti menyembunyikan sesuatu dan seperti berhubungan dengan Bangunan itu atau apapun yang menyangkut tempat itu?

Jaesuk terus berkutik dengan pikirannya— penjelasan guru didepan kelas pun tidak di dengarnya.

“Lee Jaesuk.”

“Saudara Lee Jaesuk.”

Jaesuk bahkan tidak mendengar panggilan barusan. Ia masih dengan pikirannya sendiri— mencari cara untuk kembali ke Shadow Village dan Bangunan itu.

Jika ia minta izin pada kakeknya, jelas kakeknya tidak akan mengizinkan. Minta batuan Jaeha pun percuma, pasti Jaeha akan memberitahu kakeknya. Ujung-ujungnya tidak di izinkan juga.

Pergi sendiri kesana, itu hal yang mustahil. Bagaimana jika penyakit anehnya kambuh di tempat itu? Ia bisa mati tergeletak begitu saja. Ia harus mencari cara lain yang aman.

“Jaesuk!” panggil Sungho menepuk bahu Jaesuk yang berhasil mengagetkan’nya.

“Kau mau mati?!” desis Jaesuk menatap tajam Sungho.

“Kau di panggil Ssengnim!” jawab Sungho mengacuhkan tatapan Jaesuk.

“Saya Ssengnim.” ujar Jaesuk pada gurunya.

“Ada yang mencari mu?” terlihat guru Jaesuk mempersilahkan seseorang yang berdiri di luar masuk.

“Sekretaris Choi? Ada apa mencari ku?”

“Tuan muda, Presdir Lee masuk rumah sakit.”

Mendengar ucapan Sekretaris Choi— Jaesuk langsung berlari keluar kelas tanpa minta izin pada gurunya dan meninggalkan tasnya begitu saja. Sekretaris Choi lah yang meminta izin dan membereskan barang Jaesuk.

……

Dalam mobil Jaesuk terus saja gelisah— ia tidak bisa tenang sebelum melihat keadaan kakeknya.

“Apa yang terjadi pada kakek?”

“Beberapa hari ini Presdir kurang sehat, tapi ia tidak mau dibawa ke rumah sakit dan meminta saya agar tidak memberitahukan keadaannya pada cucu-cucunya. Tadi pagi tiba-tiba saja Presdir jatuh pingsan, karena itu saya melarikan’nya kerumah sakit.”  jelas Sekretaris Choi.

Sesampai di rumah sakit Jaesuk langsung berlari ke ruangan tempat kakeknya dirawat, namun ia tidak menemukan kakeknya disana.

“Sekretaris Choi dimana Kakek?” tanya Jaesuk panik.

“Tadi Presdir di ruang ini. Presdir sendiri yang meminta saya menjemput Tuan muda. ” jawab Sekretaris Choi juga ikut panik.

Tak berselang lama Dokter Han masuk keruangan itu— memberitahukan jika Presdir Lee di pindahkan ke ruangan ICU karena sempat mengalami sesak nafas dan jantungnya sempat terhenti sesaat. Tapi sekarang Presdir Lee sudah melewati masa kritis dan sudah siuman.

Jaesuk terhenyak mendengar penuturan Dokter Han— ia berusah merajut langkahnya ke ruangan ICU, disana ia melihat kakeknya terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan yang terpasang dan alat medis lainnya yang menghiasi tubuh lemah itu.

Jaesuk berusaha tersenyum membalas senyuman kakeknya yang melihat kedatangannya— ia berusah menahan air mata agar tidak jatuh.

Rasa takut kehilangan menggerogoti’nya sekarang — ia tidak mau lagi kehilangan orang yang disayangi’nya. Cukup kedua orangtuanya yang pergi dan tak akan pernah kembali.

Sekuat apapun ia menahan air mata— cairan bening itu tetap mengalir dari sudut matanya.

“Kenapa kau menangis? Aku baik-baik saja.” ujar Presdir Lee susah payah.

“Ini yang kakek sebut baik?! Aku yang sakit kenapa kakek yang terbaring disini?” teriak Jaesuk  dan air mata yang ditahan-tahan sejak tadi keluar sudah. Sekarang ia menangis.

Presdir Lee tersenyum lemah “Kan sayang tempat tidur yang empuk .. ini tidak ditiduri.” canda’nya. Sangat jelas terdengar dari setiap kata yang diucapkannya,  ia menarik nafas dengan susah payah.

“Ini bukan saatnya becanda!”

“Baiklah. Hufff…. Bolehkah aku memeluk mu?” pinta Presdir Lee sambil sedikit membentangkan tangan lemahnya. Jaesuk langsung memeluk kakeknya— rasa takut benar-benar menggerogoti’nya sekarang.

Presdir Lee membelai rambut Jaesuk lembut— ia sangat menyayangi Jaesuk lebih dari apapun— orang yang memberinya semangat hidup dan tujuan hidup. Orang yang mengembalikan warna dalam hidupnya setelah sekian lama hidup dalam kegelapan dan tanpa tujuan yang jelas.

Orang yang mengembalikan apa yang telah hilang dalam hidupnya. Dan Jaesuk segala-galanya untuknya.

Tapi apa yang dilakukannya pada orang yang dianggap cucu ini?! Hanya kepedihan dan penderitaan berkepanjangan yang didapatkan’nya.

“Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

Jaesuk mengangkat kepalanya dan menatap kakeknya bingung “Kenapa kakek minta maaf pada ku? Kakek tak ada salah” ujar Jaesuk sambil menyeka air mata yang turun dari pelipis mata kakeknya.

“Sekali lagi aku minta maaf.” terdengar nafas Presdir Lee kembali sesak dan detak jantungnya  kembali berdetak tak stabil.

Melihat kakeknya Jaesuk mulai panik. Sekretaris Choi yang juga dalam ruangan itu segera memanggil Dokter Han. Dengan sigap Dokter Han menangani Presdir Lee— semua usaha dilakukan’nya untuk menstabilkan kondisi Presdir Lee.

Jaesuk menunggu di luar ruangan tak berhenti berdoa. Khawatir. Takut.  Itu yang menghantui. Beberapa menit menunggu dalam keadaan yang tak pasti— ini didapatkan’nya.

Tubuhnya terhenyak lemas. Perasaannya remuk. Yang ditakutkan’nya menjadi kenyataan. Merasa takdir tuhan terlalu kejam untuknya— setelah merenggut kedua orang tuanya, sekarang tuhan merenggut kakeknya juga. Teriakan frustasi keluar dari mulut Jaesuk.

“Kenapa kau tidak mengambil nyawaku juga. Aku lelah dengan hidup yang tak adil ini. Aku lelah dengan penyakit ini. Aku juga ingin mati!”

Sekretaris Choi berusaha menenangkan Tuan mudanya yang terpuruk. Jaesuk menepis tangan Sekretaris Choi kasar dan belari mendekati tubuh kakeknya yang terbujur kaku.

“Kakek bangun. Kek… Hikss… Bangun.. Hikss..”

“Kakek bangun. Hikss… Aku janji akan jadi cucu penurut. Hiksss… Aku tak akan membantah mu lagi. Aku janji. Hiksss…. Hiksss… Aku juga akan meminum semua obat ku dan selalu melakukan pemeriksaan yang kakek suruh. Aku janji.”

“Kek… Hikss… Hiksss… Bangun. Ku mohon.” isak Jaesuk yang tak bisa mengendalikan dirinya lagi.

…………

-19.00. 28 Juni 2015. Kediaman Lee Sungmin/ Presdir Lee.

Sepulang dari pemakaman, Jaesuk mengurung diri di kamar.

“Boleh Hyung masuk?” tanya Jaeha yang berdiri di ambang pintu kamar Jaesuk.

“Hmmmm…. ” jawab Jaesuk tanpa melihat ke arah Jaeha.

Jaeha berjalan masuk dan berdiri disamping Jaesuk dekat jendela dengan tatapan jauh keluar. Jaeha sangat tau apa yang dirasakan Jaesuk sekarang. Jaesuk yang ia kenal tegar dan penuh semangat sekarang sangat rapuh dan terpuruk.

Trrrrrrr….

Jaeha berjalan sedikit jauh dari Jaesuk menerima telpon. Jaesuk melirik Jaeha sekilas yang terlihat sibuk.

“Apa tak bisa diundur? Tolong mengerti keadaan saya sekarang.” ujar Jaeha setengah memohon pada orang di seberang sana.

“Pergilah lah Hyung. Aku baik-baik saja.” ucap Jaesuk berat. Jika boleh jujur, ia sangat ingin Hyung’nya tetap tinggal di Korea bersamanya.

Tapi ia tau Hyung telah berjanji pada kakeknya—  Hyung’nya akan tetap di Amerika sampai cabang perusahaan yang bermasalah di sana membaik. Dan ia sangat tau Hyung’nya orang yang memegang janji.

Jaeha kembali berdiri disamping Jaesuk “Apa kau yakin?” tanya Jaeha. Jaesuk tersenyum kecil sambil mengangguk.

“Maafkan Hyung.” Jaeha memeluk adiknya itu erat “Hyung janji akan cepat menyelesaikannya dan segera kembali.”  Jaeha melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari kamar Jaesuk.

Sebelum berangkat ke bandara Jaeha terlibat pembicaraan serius dengan Sekretaris Choi— ia harap Sekretaris Choi masih bisa di percaya, walau kakeknya sudah tak ada dan masih setia menjaga Jaesuk. Ia tak mau terjadi hal buruk pada adik kesayangannya itu?

……….

-19:00. 31 Juni 2015. Kediaman Lee Sungmin.

Tiga hari berselang setelah kematian kakeknya, Jaesuk masih mengurung diri— ia tidak pergi ke sekolah dan tak mau pergi bermain dengan teman-temannya. Rasa kehilangan merubah kepribadian Jaesuk yang periang menjadi pemurung.

Dan semuanya semakin kacau saat dua orang laki-laki yang mengatakan dirinya sepupu dari mendiang istri  Presdir Lee datang menemui Jaesuk.

Walau tidak mengenal dua laki-laki paruh baya itu dan kakeknya tidak pernah menceritakan mereka, Jaesuk mencoba tetap sopan. Tapi kedua laki-laki paruh baya itu memberikan respon yang berbeda pada Jaesuk— mereka bersikap dingin dan menunjukkan ketidak sukaan mereka.

Salah satu dari mereka tersenyum sinis “Kau tidak perlu pura-pura sopan pada kami.” ujarnya kasar. “Kau pasti senang Presdir Lee mati. Dengan begitu kau bisa menguasai hartanya. Kau sangat licik.” sambungannya dengan kata-kata menyudutkan.

Jaesuk mencoba untuk tenang dan tidak terpancing emosi, walau kata-kata orang dihadapannya ini menyinggung perasaan’nya.

“Atau kau yang mempersingkat umurnya?” orang yang satu lagi ikut berbicara.

“Apa maksud anda?” tanya Jaesuk yang masih mencoba untuk sabar menghadapi dua orang dihadapannya.

“Jangan pura-pura bodoh. Kau sengaja membunuhnya supaya kau bisa menguasai hartanya.”

Emosi didadanya semakin menyeruak— luka yang belum sembuh kembali berdarah. Tangan Jaesuk mengepal menahan amarah’nya “Aku tak mungkin membunuh kakek ku sendiri! Orang yang selama ini merawat ku.”

“Hahahahahahaa…” tawa kedua orang itu pecah mendengar jawaban Jaesuk.

“Kakek? Kau bilang dia kakek mu?”

Jaesuk mengangguk mantap. Memang itu yang ia tau!

“Hahahaha….” tawa mereka kembali pecah.

Mendengar mereka tertawa Jaesuk merasa hatinya semakin terluka.

“Asal kau tau, putra Presdir Lee mati umur 18 tahun, bagaimana bisa dia punya anak?” ujar salah satu dari mereka yang mengenakan kacamata dan berkulit sedikit kusam.

“Tidak. Anda pasti salah. Ayahku meninggalkan satu tahun lalu dalam kecelakaan mobil. Kakek sendiri yang mengatakannya padaku.” sanggah Jaesuk dengan berlinang air mata.

“Dan kau percaya?” Jaesuk mengangguk. “ Sepertinya kau tidak tau apa-apa?! Baiklah, dengan senang hati aku akan memberitahu mu semuanya.” orang berkacamata itu menggantung ucapannya.

Dia menghela nafas pelan dengan seringai yang tak lepas dari bibirnya. Ia telah menunggu lama saat seperti ini.

“ Kau bukan cucu dari Lee Sungmin dan kau juga bukan bagian dari keluarga ini. Kau hanya gelandangan yang hidup karena belas kasihan Presdir Lee. Jika tidak?! Kau sudah mati membusuk!”

Nafas Jaesuk terasa sesak, luka di hatinya tergores semakin dalam. Air matanya turun tanpa ia bisa hentikan. Tangisannya pecah dalam ruangan tamu yang luas itu.

Tak ada lagi Kakek yang akan membelanya. Jaeha pun jauh untuk membantunya. Sekarang ia merasa sendirian.

“Kalian bohong! Kalian pasti bohong!” teriak Jaesuk.

Kedua orang itu malah senang meliha Jaesuk seperti ini tanpa ada Presdir Lee yang selalu melindunginya. Sekarang mereka bisa bebas melakukan apapun pada Jaesuk.

“Kami mengatakan yang sebenarnya. Kau dan Jaeha bukan cucu Lee Sungmin. Kalian hanya gelandangan yang di tolong Lee Sungmin. Jika kau tak percaya lihat ini ”

Sebuah album foto dilemparkan ke hadapan Jaesuk. Jaesuk mengambil Album foto dan membukanya— disana terdapa foto kenangan kakeknya. Dari foto pernikahan sampai kakeknya mempunyai seorang anak laki-laki.

Jaesuk memperhatikan wajah anak laki-laki berumur sekitar 17 tahun yang berdiri di tengah-tengah nenek dan kakeknya— wajah anak laki-laki itu sangat mirip dengannya.

“Dia pasti ayah, wajahnya mirip dengan ku.” gumam Jaesuk dengan senyum terukir dibibir’nya.

“Kau salah. Dia Lee Jaesuk, putra satu-satunya Lee Sungmin yang mati saat umur 18 tahun karena penyakit kanker otak dan gagal ginjal 20 tahun lalu!”

Album foto itu terlepas dari tangannya “ Kalian bohong!” teriak Jaesuk tangisan yang terhenti tadi kembali pecah.

“Buat apa kami bohong?! Kau diangkat menjadi cucu oleh Presdir Lee karena kau mirip dengan mendiang anaknya!”

“Berhenti! Aku tak mau dengar lagi!”

“Jika kau masih punya malu, kau harus pergi dari rumah ini. Kau harus sadar diri!”

“BERHENTI! JANGAN BICARA LAGI! KALIAN BOHONG! AKU CUCU KAKEK, AKU CUCU LEE SUNGMIN!” teriak Jaesuk menggema dalam ruangan itu. Tapi tak ada satu orang pun datang membantunya melawan kedua orang dihadapannya ini.

Mereka tertawa puas melihat Jaesuk terpuruk dan hancur. Sekretaris Choi yang baru pulang dari kantor berlari kedalam ketika mendengar teriakan Tuan mudanya.

“PERGI!” Jaesuk mencoba mendorong kedua orang itu keluar dengan tenaga yang tersisa. Tapi tenanga’nya tidak cukup kuat untuk mengusir kedua orang itu, malah tubuh lemahnya yang didorong hingga jatuh ke lantai.

“Tuan muda!” teriak Sekretaris Choi bergegas berlari mendekati Jaesuk. Sekretaris Choi membantu Jaesuk berdiri.

“Mau apa kalian datang kemari?!” tanya Sekretaris Choi menatap tajam kedua orang itu yang tertawa melihat Jaesuk hancur.

Mereka sengaja menceritakan semua kenyataan itu pada Jaesuk— mereka menginginkan Jaesuk terpuruk yang akan berimbas pada kondisi’nya yang melemah dan berakhir dengan kematian. Dengan begitu mereka bisa menguasai harta kekayaan Lee Sungmin.

“Apa salahnya kami datang kerumah kakak ipar Lee?”

“Kakak ipar? Apa kalian lupa? Kalian sudah pernah di usir dari rumah ini oleh Presdir. Dan bukankah kalian juga yang mengatakan putus hubungan keluarga dengan Presdir? Apa kalian tidak punya malu datang lagi kesini?”

Kedua orang itu terdiam mendengar ucapan Sekretaris Choi— semua yang dikatakan’nya benar adanya!

“Jika kalian tidak mau pergi juga, kalian akan berurusan dengan Lee Jaeha!” ancam Sekretaris Choi.

Mereka menyeringai “Apa kau pikir aku takut dengan ancaman mu?!”

“Aku tidak mengancam kalian. Aku hanya mengingat kalian, apa yang pernah dan bisa dilakukan Jaeha pada kalian jika kalian mengusik Jaesuk?!”

Mereka kembali terdiam dan saling pandang—  mereka tak mau berurusan dengan orang yang bernama Lee Jaeha yang tak pernah main-main dengan ucapannya. Jaeha tidak akan segan-segan membunuh mereka jika mengusik Jaesuk.

Tak mau berurusan dengan Jaeha, kedua orang itu memilih pergi.

“Aku peringatkan jangan pernah datang lagi atau mencoba mengusik Tuan muda Jaesuk!” teriak Sekretaris Choi pada kedua laki-laki paruh baya itu.

Jaesuk menyeka air mata’nya kasar dan menatap Sekretaris Choi dengan tatapan menuntut penjelasan. “Hanya satu pertanyaan ku padamu Sekretaris Choi, aku ingin kau jawab jujur! Apa benar aku bukan cucu Lee Sungmin?” tanya Jaesuk yang masih sesegukkan.

“Lebih baik sekarang Tuan muda istirahat.” jawab Sekretaris Choi mencoba menghindari pertanyaan Jaesuk.

“Jangan mengalihkan pembicaraan Sekretaris. Jawab aku! Apa benar aku bukan cucu Lee Sungmin ?!” bentak Jaesuk.

Sekretaris Choi masih diam — ia tidak tau harus memberi jawaban apa? Apa harus ia memberitahu kebenarannya? Tapi kondisi Jaesuk tidak memungkinkan sekarang— ia tidak mau melihat Tuan mudanya semakin terpuruk karena kenyataan itu.

Dan lagian ia sudah berjanji pada Jaeha untuk menunggu ke pulangnya dan membiarkan Jaeha yang memberitahu Jaesuk kenyataannya. Atau menyembunyikan kebenarannya.

Melihat Sekretaris Choi masih diam membisu Jaesuk menekuk lutut’nya dan bersimpuh di hadapan Sekretaris Choi “Aku hanya ingin tau kebenarannya.” pinta Jaesuk memohon.

Sekretaris Choi ikut bersimpuh didepan Jaesuk dan meletakkan sebuah Amplop di telapak tangan Jaesuk.

“Maafkan saya Tuan muda. Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf!” Sekretaris Choi ikut menangis melihat penderitaan yang dialami Tuan mudanya

“ Benar. Anda dan Jaeha bukan cucu Presdir Lee. Mohon maafkan saya.” sambung Sekretaris Choi yang bersujud di hadapan Jaesuk.

Bagaikan disambar petir mendengar kenyataan pahit ini. Jaesuk berdiri sempoyongan dan berjalan masuk kedalam kamar’nya.

“Arghhh!” teriak Jaesuk frustasi. “Kenapa takdir mu kejam untuk ku Tuhan?! Kenapa?!” teriak Jaesuk dengan air mata yang tak terbendung lagi.

Pranggg…. Prangggg….

Sekretaris Choi semakin khawatir ketika mendengar benda pecah dalam kamar Tuan mudanya yang terkunci.

Brakkk…. Prangggg…..

“Tuan muda saya mohon buka pintunya. Jangan seperti ini.” bujuk Sekretaris Choi di depan pintu.

Jaesuk tak menjawab dan terus melampiaskan kemarahannya pada semua benda yang ada dikamar’nya. Semakin ia melampiaskan’nya semakin dada’nya terasa sesak.

Semua benda dikamar’nya pecah dan rusak. Kamar pun sudah tak seperti kamar lagi. Hanya cermin yang memperlihatkan pantulan bayangan yang tersisa — Jaesuk terus memperhatikan pantulan dirinya dalam cermin.

Menyedihkan!

Mungkin kata-kata itu yang cocok untuk dirinya sekarang.

“Kau menyedihkan Lee Jaesuk!”

Pranggg….

Darah mengalir dari tangannya yang mendarat di cermin.

Pranggg…

Pranggg…

Cermin itu hancur berkeping-keping oleh pukul Jaesuk yang bertubi-tubi. Ia tak memperduli darah segar mengalir dari tangannya dan pipi’nya yang terkena serpihan kaca kaca.

Jaesuk memungut Amplop dari Sekretaris Choi dilantai yang sudah berantakan. Amplop putih itu berubah merah terkena darah tangannya— Jaesuk membuka Amplop itu kasar.

~~~~~~~~                                  ~~~~~~~~

Untuk cucuku tersayang Lee Jaesuk.

Aku bingung harus menulis apa disini? Apa aku harus menanyakan kabarmu, yang aku tau kau tak akan baik-baik saja?  Atau aku harus minta maaf dulu padamu karena kesalah yang aku lakukan padamu dengan sengaja?

Aku tak tau harus mulai dari mana? Tak peduli aku mulai dari mana, aku hanya ingin minta maaf padamu Jaesuk-ah. Apa aku masih boleh memanggil mu Jaesuk ketika kau sudah tau kenyataannya?

Kenyataan betapa jahat’nya aku— ketika seorang anak  yang membutuhkan bantuan datang pada ku, tapi aku memanfaatkan keadaan itu untuk keuntungan ku sendiri. Aku tak peduli betapa butuhnya anak itu akan bantuan ku. Aku juga tak peduli jika dia bisa mati karena keegoisan ku.

Aku hanya memikirkan apa yang bisa aku dapatkan jika menolong anak itu? Bahkan ketika pemuda yang membawa anak itu dalam pangkuannya bersujud dan mencium kaki ku memohon agar aku mau menolong’nya, aku malah menendangnya kasar.

Mungkin aku manusia yang paling keji di dunia ini. Mungkin juga aku manusia yang tak punya perasaan. Bagaimana tidak?! Orang yang sangat membutuhkan bantuan ku malah aku memanfaatkan untuk kepentingan ku sendirian.

Aku minta maaf.

Anak yang ku maksud itu adalah kau Taehyung. Aku sangat menyesal.

Aku mau menolong mu karena kau mirip dengan mendiang anak ku Lee Jaesuk yang meninggal 20 tahun lalu. Saat aku tau kau kehilangan ingatan dengan sengaja aku memanfaatkan keadaan itu.

Aku mengatakan pada mu bahwa kau cucu ku yang mengalami kecelakaan mobil dan aku merubah nama mu menjadi Lee Jaesuk. Aku dengan sengaja menyembunyikan mu dari keluarga mu yang mungkin sedang mencari mu. Aku juga menjauhkan mu dari semua hal yang bisa mengembalikan ingatan mu.

Yang aku tau hanyalah kau sekarang cucuku. Aku tak mau kehilangan mu— aku ingin menghidupkan putraku dalam dirimu. Aku bahkan tak peduli  jika orang tua mu akan terluka oleh keegoisan ku.

Sekarang aku sangat menyesal atas semua yang pernah aku lakukan pada mu. Aku takut jika kau membenci ku.

Jujur aku sangat menyayangi mu. Kau yang telah memberi warna di sisa hidupku ini.

Izinkan aku membalas kesalahan ini. Mungkin semua harta yang ku berikan padamu tak akan mampu menghapus luka yang ku buat di hatimu dengan sengaja.

Jika kau bersedia memenuhi permintaan terakhir ku ini— dan mungkin ini satu-satunya cara mengurangi penyesalan yang menggelayut dihati ini. Aku takut saat aku bertemu dengan putra ku Jaesuk dan istri ku disana mereka akan membenci ku. Aku juga takut Tuhan menghukum ku.

Maukah kau kembali ke Menara Bayangan— disana kau akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang pernah kau ajukan pada ku.

Maaf…

Maaf…

Sekali lagi aku minta maaf padamu Kim Taehyung.

~~~~~~~          Lee Sungmin        ~~~~~~~

“Arghhh!” teriak Jaesuk frustasi. Ia menangis sejadi-jadinya— perasaannya campur aduk. Ia tak mau percaya jika dirinya bukan cucu orang yang selama ini ia anggap kakek.

Jaesuk mengacak-ngacak rambutnya frustasi “Kim Taehyung?! Lee Jaesuk?! Siapa diriku sebenarnya?! Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?! Kenapa takdir sangat senang mempermainkan hidup ku?!”  Batin Jaesuk yang tak henti merutuk.

Jaesuk menatap pantulan dirinya dalam pecahan cermin yang tergeletak dilantai “Siapa kau sebenarnya?!” tanya’nya lirih. Bahkan pantulan bayangan itu terlihat sedang menertawakan dirinya yang menyedihkan.

Jaesuk merebahkan tubuhnya yang lelah begitu saja di lantai— kepalanya terasa sangat sakit. Dan mulut’nya tak henti bergumam dengan lirih, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya?

“Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Aku sudah tak sanggup lagi menanggung semua penderitaan ini? Aku ingin mati!” racau Jaesuk sampai dirinya tertidur karena kelelahan.

………………..

Jaesuk kembali melihat anak laki-laki yang biasa ia lihat— Jaesuk berjalan mendekati anak laki-laki itu, tapi langkahnya harus terhenti ketika melihat sebuah pedang ditangan anak laki-laki itu dan seseorang yang tergeletak tak berdaya di hadapan anak itu.

“Ampun Kim Taehyung.”

Jaesuk mendengar orang yang tak berdaya itu memohon pada anak laki-laki itu yang dia dipanggil dengan sebutan Kim Taehyung. 

Tapi anak laki-laki itu tak menghiraukan’nya dan mengayunkan pedangnya ke udara— dengan cepat pedang itu menghujam perut orang yang tak berdaya itu. Darah segar mengalir dari perut yang tertusuk pedang itu. 

Jaesuk spontan menutup mulutnya kaget— ketakutan menjalar keseluruhan tubuhnya dan tanpa ia sadari matanya barair— Ketakutan menguasai dirinya sekarang. Ia sungguh ingin pergi dari tempat ini dan berharap tidak pernah menyaksikan pembunuhan keji itu.

Anak laki-laki itu memutar tubuhnya melihat kearah’nya. Kabut tebal yang selalu menghalangi’nya untuk melihat wajah anak laki-laki itu perlahan-lahan menghilang.

Mata Jaesuk membulat kaget melihat wajah anak laki-laki itu dengan jelas. Wajah yang selama ini membuat’nya penasaran, sekarang terlihat jelas. Wajah itu yang sangat mirip dengan dirinya, tanpa ada celah untuk membedakannya.

Anak laki-laki itu menyeringai pada’nya dan berlalu pergi sambil mencabut Perang dari perut orang yang sudah tak bernyawa di kakinya itu tanpa belas kasihan.

“Tidak mungkin!”  ujar Jaesuk tak percaya.

………..

“Tidak!”

“Jaesuk.” panggil Jaeha khawatir dari balik pintu kamar Jaesuk yang terkunci.

“TIDAKKK!” teriak Jaesuk yang terjaga dari mimpi buruknya.  Tubuhnya gemetar hebat.

Brakkk..

Terpaksa Jaeha mendobrak pintu kamar itu— ia sedikit kaget melihat keadaan kamar Jaesuk yang selalu rapi sekarang berantakan.

Jaeha berlari kearah jaesuk dan memeluk tubuh adiknya yang gemetaran— mencoba menenangkan’nya “Aku takut Hyung.” gumam Jaesuk yang sudah bermandikan keringat dan Jaeha dapat merasakan betapa panasnya tubuh Jaesuk.

“Tidak mungkin! Itu bukan aku! Bukan. Aku bukan pembunuh. Bukan!” racau Jaesuk ketakutan dalam dekapan Jaeha.

“Tenanglah, Hyung disini.” ujar Jaeha lembut. Tak dipungkiri hatinya terasa sakit melihat orang yang disayangi’nya menderita seperti ini.

Apalagi orang itu pernah menyelamatkan nyawanya.

Jaeha menggendong Jaesuk yang masih menggigil di punggungnya— membawa adiknya itu ke kamarnya. Dengan penuh kasih sayang Jaeha membersihkan tubuh Jaesuk yang sudah bermandikan keringat bercampur darah dan mengobati luka Jaesuk.

Ia berjanji tak akan meninggalkan Jaesuk lagi dan akan selalu melindunginya dari orang-orang yang ingin membuat Jaesuk menderita. Ia tak akan segan-segan melakukan hal yang lebih kejam pada orang yang membuat hidup Jaesuk menderita. Itu sumpahnya!

Dan dua nama sudah dalam daftar itu!

Jaeha merasa lega melihat Jaesuk kembali tertidur setelah meminum obat. Daripada melihat Jaesuk yang memberikan tatapan kosong dan terus menggigil ketakutan.

Jaeha kembali ke Korea setelah mendapat kabar dari Sekretaris Choi tentang keadaan Jaesuk yang mengurung diri dalam kamar setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia tau Jaesuk akan sangat terpukul mengetahui kenyataan tersebut. Ia tak mau jika penyakit Jaesuk kambuh dan itu bisa berakibat fatal.

“Apa rencana Tuan Jaeha sekarang?” tanya Sekretaris Choi memecahkan keheningan dalam ruangan itu.

Jaeha menghela nafas panjang “Seperti wasiat Kakek. Mungkin ini yang terbaik untuk menebus kesalahan yang kita lakukan pada Jaesuk.” jawab Jaeha dengan tatapan khawatir yang tak lepas dari Jaesuk.

“Maksud Tuan Jaeha, kita akan mengirim Tuan muda ke Menara Bayangan?” tanya Sekretaris Choi.

“Bukan mengirim Sekretaris Choi. Itu seakan-akan kita tak menginginkan kehadiran Jaesuk. Kita akan mengembalikan ingatan tentang dirinya yang sengaja kita tutup-tutupi. Ya, dengan cara Jaesuk atau Taehyung kembali ke Menara Bayangan!” jelas Jaeha. Sekretaris Choi mengangguk paham.

“Tapi aku tak bisa mengantarkan Jaesuk kesana, setelah apa yang telah aku lakukan dulu.” Jaeha mengalihkan tatapannya pada Sekretaris Choi “Bisakah kau yang menemani Jaesuk kesana?” pinta Jaeha. Sekretaris Choi mengangguk.

“Tapi Tuan Jaeha, apa kita tak sebaiknya membicarakan masalah ini dengan Jaesuk dulu?”

Jaeha mengangguk setuju dengan usul Sekretaris Choi.

….@_@…..

-10:00. 1 Juli 2015. Menara Bayangan.

Gemericik air terus mengalun lembut mengikuti arus dan terpaan angin. Gemerisik dedaunan tertepa angin dan kicauan burung menyempurnakan suasana tenang itu. Betapa pun tenang suasana alam disekitarnya, tetap saja perasaan tak menentu begitu bergelayut di hatinya.

Satu tahun telah berlalu sejak peperangan besar pecah di Menara Bayangan. Satu tahun pula perasaan bersalah terus membelenggu’nya atas hilangnya sahabatnya di dalam Circle Magic. Andai saja ia bisa lebih berani dan lebih cepat, mungkin sahabatnya itu masih tertawa bersamanya sekarang.

“Maaf Tae. Kalau saja aku lebih cepat, kau tak harus menjadi tumbal lingkaran —Circle Magic— sialan itu.” ujar Jungkook menatap Kepingan Salju dan Kunci yang diberikan Taehyung padanya.

Cairan bening perlahan-lahan turun dari pelupuk matanya— isak’kan kecil keluar dari mulutnya menyesali kesalahan yang dilakukannya.

“Kau bodoh Jungkook! Kau pengecut! Kau pecundang!” mulutnya tak henti merutuki dirinya sendiri.

“Arggggg!” teriak Jungkook frustasi.

Bagaimana pun caranya mencoba melupakan kejadian itu, tetap saja ia tidak bisa. Lari menyelamatkan diri sendiri dan meninggalkan sahabatnya yang mungkin sangat butuh pertolongan saat itu.

Jungkook bangkit dari duduk dan merajut langkah meninggalkan sungai— dimana sahabatnya biasa menghabiskan waktu. Langkahnya menuntun nya kelapangan Menara Bayangan dimana Circle Magic berada.

Dari luar pagar besi yang mengelilingi Circle Magic, ia  dapat merasakan Energi yang selalu bergejolak di tengah-tengah lingkaran itu. Energi milik sahabatnya, Taehyung!

Pasca kembali aktifnya Circle Magic yang disebabkan oleh Kekuatan Taehyung yang terbelenggu bersama Pedang miliknya yang tertancap di tengah-tengah Circle Magic.  Dan tak ada yang dapat mematikan atau melumpuhkan Energi dahsyat itu.

Dari Pedang itu lah Kekuatan Taehyung menyembur. Pada malam hari yang dingin, Kekuatan Api Biru yang terlihat keluar dari Pedang itu. Dan saat siang hari dengan matahari terik, maka Kekuatan Ice yang terlihat.

Namun saat hujan dan salju turun, maka dua Kekuatan itu yang akan keluar membentuk spiral. Tak ada yang tau maksud dari Kekuatan itu. Diperparah Kekuatan itu bisa menggila tak terkendali dan menyerang apa saja di sekitarnya kapan saja.

Untuk mengantisipasi murid-murid mendekati Circle Magic atau tak sengaja menginjak pola Circle Magic yang bisa berakibat fatal— sekolah memasang pagar mengelilingi lingkaran itu.

Indah, namun Berbahaya!

Tatapan Jungkook tertuju pada Pedang Taehyung di tengah-tengah Circle Magic. Satu kakinya terangkat melewati pagar besi dan ketika kakinya satu lagi hendak melewati pagar besi, tangan seseorang mencengkeram bahunya dengan kuat.

Jungkook mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun cengkeraman orang itu semakin kuat di bahunya “Kau mau apa Jeon Jungkook?! Jangan gila!” bentak orang itu.

Jungkook mengalihkan tatapannya ke orang yang mencengkeram bahunya “Aku hanya ingin bertemu Taehyung. Bisa lepaskan cengkeraman mu, Jimin? Aku mohon.” jawabnya lesu sambil memaksa mengukir senyuman dibibir’nya.

Tak mau terjadi sesuatu pada Jungkook, Jimin menarik paksa tubuh Jungkook keluar, sehingga tubuhnya jatuh menghantam tanah. “ Maaf Kook. Kau tak apa?” tanya Jimin khawatir karena merasa tarikannya terlalu kuat.

Bukannya menjawab pertanyaan Jimin, Jungkook melihat sesuatu dibawah telapak tangan kanannya yang terasa pecah. Air matanya jatuh saat melihat Kepingan Salju yang diberikan Taehyung padanya pecah menjadi tiga bagian.

Jimin yang melihat Kepingan Salju itu pecah merasa bersalah “Maaf. Aku tak bermaksud membuatnya pecah.” sesal Jimin.

Seakan akal sehatnya tak bekerja, Jungkook mengumpulkan pecahan Kepingan Salju itu dan mencoba kembali masuk ke Circle Magic. Dengan sigap Jimin menahan tubuh Jungkook dan menguncinya pergerakannya sebelum melewati pagar besi pembatas Circle Magic.

“Berhenti berbuat bodoh! Kau bisa mati masuk kedalam lingkaran itu! Kau ini kenapa?!” teriak Jimin kesal.

“Lepaskan aku!” Jungkook terus memberontak “Aku hanya ingin Taehyung kembali. Mungkin dengan aku mencabut Pedang itu, Taehyung bisa kembali. Lepaskan aku!”

Jimin masih tak mau melepaskan Jungkook “Jangan gila! Tidak ada yang bisa mencabut pedang itu! Tidak ada!” bentak Jimin.

“Lalu apa yang harus aku lakukan, agar Taehyung kembali? Apa?” ujar Jungkook sendu. Jimin tak tau lagi harus berbuat apa, supaya Jungkook bisa menerima kenyataan ini?.

Adegan itu menjadi tontonan semua murid pada jam istirahat itu— begitu pun dengan keempat teman mereka —Jin, Yoongi, Hoseok dan Namjoon— yang juga hanya melihat. Sebenarnya mereka berempat sudah muak dengan sikap Jungkook yang berlebihan.

Mereka semua juga merasa sedih menerima kenyataan jika Taehyung menjadi tumbal Circle Magic. Terutama kedua orang tua Taehyung yang bahkan kehilangan separuh jiwa mereka.

Tapi, mereka semau mencoba menerima kenyataan pahit ini— tak ada gunanya menyesali yang telah terjadi, itu juga tak akan mengembalikan Taehyung ketengah-tengah mereka.

Namun sebaliknya dengan Jungkook, dia terus mengukung dirinya dalam rasa bersalah, penyesalan dan kesedihan yang berlarut-larut. Yang mungkin hanya membuat Taehyung merasa sedih disana.

“Jangan berdiri saja disana! Bantu aku membawa Jungkook menjauh dari sini —Circle Magic—.” teriak Jimin pada keempat temannya yang hanya melihat tanpa berniat membantu.

Hoseok menghela nafas panjang “Kenapa kau harus susah-susah? Bukankah dia tak mau mendengarkan mu selama ini. Kau hanya buang-buang tenaga” ujar Hoseok yang tak bergeming dari tempatnya berdiri.

“Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau! Dia tak pernah mau mendengarkan kita.” timpal Yoongi.

Jimin menatap keempat tak percaya jika mereka bisa berbicara seperti itu— Ya. Diakui Jimin yang mereka katakan semua itu benar adanya. Namun bagaimana pun ia tak bisa membiarkan Jungkook melakukan sesuatu yang bisa membahayakan keselamatannya sendiri.

“Jika kalian tak mau membantu, jangan pernah berbicara seperti itu.” desis Jimin kesal.

“Walaup aku tak membenarkan sikap Jungkook hyung. Tapi aku tak akan berbicara seperti itu pada orang yang kehilangan sahabatnya!” sindir Natsu pada keempat seniornya dan berjalan kearah Jimin. Keempat seniornya itu hanya terdiam.

Natsu membantu Jimin membawa Jungkook ke asrama menjauhi Circle Magic. Dalam kamar Jungkook hanya menatap kosong Kepingan Salju yang pecah di tangannya. Satu, dua tetes air matanya jatuh membasahi Kepingan salju di tangannya “Maaf Tae. Aku minta maaf!” gumam’nya pelan.

…..@_@…..

-15:00. 1 Juli 2015. Seoul.

#Kediaman Lee Sungmin.

Jaesuk masuk ke ruang kerja Jaeha tanpa mengetuk pintu dan tanpa salam.  Jaeha tersenyum kecil melihat Jaesuk masuk, namun Jaesuk menatap Jaeha kesal dan marah.

“Apa maksud Hyung minta surat pindah dari sekolah ku? Kenapa Hyung melakukannya?!” tanya Jaesuk kesal.

“Bukankah masalah ini sudah kita bicarakan tadi pagi? Kenapa kau menanyakan’nya lagi?” jawab Jaeha tenang dan malah bertanya balik.

“Sudah aku bilang aku tak mau pindah kesana! Kenapa kau memaksa ku?”

“Aku bukan memaksa mu. Aku hanya ingin menebus kesalahan yang pernah kami lakukan padamu. Aku hanya ingin kau kembali jadi dirimu sendiri dan tak terjebak dalam kehidupan orang lain”

“Bagaimana bisa aku yakin jika yang kau ceritakan dan yang ditulis kakek itu bukan sebuah kebohongan? Tunjukkan satu bukti bahwa aku benar Kim Taehyung!” Jaesuk menatap tajam Jaeha.

“Lalu apa yang aku dapatkan jika aku bisa membuktikan bahwa kau Kim Taehyung?” Jaeha mencoba membuat kesepakatan dengan Jaesuk.

Jaesuk mendengus kesal “Aku akan pindah kesana!” jawab’nya asal. Menurut’nya Jaeha tak akan bisa.

“Anting yang kau pakai itu berasal dari sana. Anting itu hanya bisa dilepaskan oleh dua orang, aku dan orang bernama Kyu Jong, kau akan bertemu dia disana.” jawab Jaeha santai.

Jaesuk memegang Anting yang memang terdapat ditelinga kiri’nya. Jaesuk mencoba melepaskan Anting itu, tapi semakin ia mencoba menariknya telinganya terasa sakit— seakan-akan Anting itu menyatu dangan telinganya.

Jaeha menahan tangan Jaesuk yang masih mencoba melepaskan Anting dari telinganya— bahkan ia tidak peduli jika telinganya sudah berdarah “Percuma kau paksa, Anting itu tak akan lepas!” ujar Jaeha

“Ini bukan bukti, Anting seperti ini banyak dijual  di pasar!” bantah Jaesuk.

“Jika itu masih belum bisa membuat mu yakin. Kau bisa melihat pola yang terukir di kedua bola mata mu, pola itu hanya bisa dilihat oleh diri mu sendiri. Kecuali kau sedang dikendalikan olah amarah mu!”

Jaeha menggambarkan dua buah pola di atas kertas dan menyuruh Jaesuk melihat pola sama di bola matanya. Jaesuk merebut kertas itu kasar dan berlalu pergi.

Jaesuk berdiri di depan cermin— matanya menatap tajam kedua mata dalam cermin itu. Ia berharap tidak melihat pola yang sama dibola matanya dengan pola yang digambarkan Jaeha.

Jika ia melihat pola itu di bola matanya— berarti kehidupan seseorang yang  ia lihat dalam mimpi dan dalam koma’nya adalah kehidupan masa lalu’nya yang menurutnya sangat kelam.

Jaesuk menatap bola mata’nya dalam cermin takut-takut— semakin dalam ia melihat, pola —Circle Magic— itu terlihat jelas terukir di kedua bola matanya. Spontan Jaesuk memejamkan mata’nya— ia tak mau melihat lagi.

“Bagaimana? Apa kau melihatnya?” suara Jaeha menerpa pendengarnya. Jaesuk membalik badan menghadap Jaeha dan menatap kakaknya itu tajam.

“Tidak!” jawab Jaesuk singkat. Sekarang ia benar-benar takut harus ke sekolah itu —Menara Bayangan—. Bagaimana jika ia harus mengulang kehidupan yang mengerikan itu?!

Walau awalnya ia sempat sangat ingin pergi ke tempat bernama Menara Bayangan itu, namun sekarang ia tidak ingin. Bahkan ia takut harus kesana.

Jaesuk berlutut didepan Jaeha “Aku mohon Hyung, aku benar-benar tak ingin kesana. Aku mohon.” ujar Jaesuk memohon pada Jaeha.

Jaeha menghela nafas pelan— sebenarnya ia tak tega melihat Jaesuk seperti ini. Jika tidak karena permintaan terakhir orang yang sudah merawatnya selama ini —Presdir Lee—, ia akan membiarkan Jaesuk hidup dalam sebuah kebohongan jika itu bisa membuat Jaesuk bahagia.

“Maaf Jae. Aku hanya ingin memenuhi permintaan terakhir kakek. Hanya itu.” jawab Jaeha  dan berlalu pergi meninggalkan Jaesuk. Ia tak akan melihat Jaesuk lebih terpuruk lagi.

Dan mungkin ini hanya ketakutan sesaat yang dirasakan Jaesuk, karena dia belum mengingat semuanya. Jaeha sangat yakin Jaesuk atau Taehyung akan lebih bahagia dikelilingi orang yang menyayangi’nya. Terutama orang tuanya.

Ya! Sudah cukup selama ini Taehyung berpisah dengan orang tuanya.

….@_@….

-07.00. 3 Juli 2015. The Tower Magic of Shadow/ Menara Bayangan.

“Baiklah. Aku akan pindah kesana, tapi dengan satu syarat. Aku tetap memakai nama Lee Jaesuk. Aku ingin lihat, apa yang Hyung ceritakan pada ku itu kebenaran atau sebuah kebohongan? Aku juga ingin lihat, apa mereka mengenali ku?”

“Setuju.”

Jaesuk menghela nafas panjang— akhirnya ia akan menginjakkan kaki juga di tempat yang tak ingin ia datangi. Sekarang ia harus mengakui— ia tak akan menang berdebat melawan Jaeha dan ia juga harus akui pendirian Jaeha tak mudah digoyahkan.

Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti mulus dihalaman Menara Bayangan. Hampir semua mata tertuju pada mobil yang baru masuk itu— mereka penasaran anak pengusaha mana lagi yang akan bersekolah disini.

Jaesuk Pov

Hufff…. Entah sudah berapa kali aku hanya bisa menghela nafas berat — seberat kakiku untuk menginjakkan kaki disini. Tempat yang awalnya sangat ingin ku datangi, namun sekarang aku menjadi takut untuk menginjakkan kaki di tempat ini.

Dengan berat hati aku keluar dari mobil— hembusan lembut angin langsung menerpa ku memberikan rasa sejuk. Desiran dedaunan yang tertiup angin memberikan rasa nyaman. Di sempurnakan oleh kicauan burung di pagi hari yang memberikan suasana tenang. Seakan-akan itu semua menyambut kedatangan ku.

Membuat tempat ini tak semengerikan yang aku pikirkan.

Tunggu!

Aku tak boleh seperti ini. Aku tak boleh terbuai oleh tempat ini, yang hanya akan mengurung ku.

Aku harus mencari cara agar di keluarkan dari sekolah ini— dengan begitu Jaeha Hyung tak akan memaksa ku lagi ke tempat ini. Dan melupakan kehidupan masa lalu ku jika benar aku Kim Taehyung. Dan memulai kehidupan baru ku sebagai Lee Jaesuk.

Oke, Lee Jaesuk! Kita lihat apa yang bisa kau lakukan? Kau akan bersenang-senang disini. Anggap saja ini sebuah permainan, kau hanya perlu mencari celah atau pintu keluar. Dan kau tak perlu lama berada di tempat ini. Hmm..

Aku melangkah mantap, mengikuti Sekretaris Choi yang berjalan didepan. Walau aku sedikit risih dengan tatapan setiap murid yang ku lewati, yang menatap penuh selidik. Aku mencoba tidak memperdulikan tatapan mereka. Di dalam pikiran ku sekarang mencari cara agar di keluarkan dari sini.

Mungkin dengan melanggar peraturan yang ada! Sudut bibir ku terangkat ke atas membentuk seringai kecil. Sekarang otak ku mulai menyusun rencana demi rencana yang akan membawa ku keluar dari sini.

Langkah ku mulai ringan mengikuti Sekretaris Choi menuju ruang Kepala Sekolah. Namun langkah ku terhenti oleh seseorang yang tiba-tiba memeluk ku. Sontak saja aku mendorong orang itu.

“Yak!” bentak ku pada orang itu. Dia seorang murid namja dengan perawakan tinggi dengan kulit putih.

Dia menyeka air mata yang jatuh di sudut matanya. “Aku tau kau akan kembali Tae.” ujarnya dengan suara serak.

Tae? Apa yang dimaksud’nya, Taehyung? Apa Taehyung mengenalnya? Ah. Maksudku, apa aku mengenal’nya sebelumnya? Tapi, siapa dia?

Pertanyaan itu terus berputar di otak ku. Mataku terus memperhatikan orang dihadapan ku ini dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Tetap saja aku tak ingat. Siapa dia? Siapa aku sebenarnya?

“Kau salah orang!” jawab ku dan berlalu meninggalkan’nya.

Hmm! Siapa dia? Siapa aku? Bagaimana masa lalu ku? Sekarang aku tak peduli! Yang aku tau sekarang, aku Lee Jaesuk dan akan hidup sebagai Lee Jaesuk. Bukan Kim Taehyung yang diperkirakan sudah mati dalam perang seperti ceritakan Jaeha Hyung!

Dan biarkan seperti itu!

Kim Taehyung sudah mati!

Dan aku Lee Jaesuk!

Jaesuk Pov end

Jungkook Pov

Hmm! Entah sudah berapa lama aku duduk di sini, diatas bangunan Menara Bayangan? Tempat yang sekarang menjadi favorit ku menunggu kedatangan Taehyung. Dari sini aku bisa melihat semua orang yang keluar masuk melalui Gerbang Utama.

“Sampai kapan kau akan duduk disini? Sampai kapan kau akan menunggu sesuatu yang mustahil?”

Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Jimin yang sekarang duduk disamping ku. Sahabat ku satu ini akan mengucapkan apa yang dipikirkannya, tanpa perduli apa perkataannya akan menyakiti orang yang mendengarnya?

Bagiku itu sudah biasa. Aku mengenalnya, jadi aku tak terlalu menanggapi serius ucapannya.

“Sampai aku tak perlu menunggu lagi!” jawabku enteng. Jimin hanya tersenyum tipis menanggapi jawabanku.

Setelah itu hanya keheningan diantara aku dan Jimin, tatapan kami sama tertuju ke Gerbang Utama. Aku sudah pasti menunggu kedatangan Taehyung yang akan melewati Gerbang itu. Tapi, entah bagi Jimin? Entah apa yang dipikirkannya sekarang?

Aku melirik jam tangan ku sekilas, 07.00. Ada 20 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.

“Jungkook, kenapa kau begitu yakin jika Taehyung masih hidup dan datang kesini melalui Gerbang itu?” tanya Jimin memecah keheningan diantara kami. Tatapannya yang tak lepas dari Gerbang Utama, menjelaskan semuanya— bahwa ia juga berharap yang sama dengan ku.

Aku juga tak mengerti kenapa aku begitu yakin Taehyung masih hidup di suatu tempat? Jauh dari Menara Bayangan. Hanya tali takdir akan membawanya kembali kesini. Ketengah-tengah kami.

“Mimpi.” jawabku. Jimin mengalihkan tatapannya padaku dan meminta penjelasan.

“Ya. Saat kita koma beberapa hari pasca perang, Taehyung datang dalam mimpi ku. Dia berkata padaku ‘Tunggu aku di Menara Bayangan!’. Karena itu aku selalu duduk disini menunggu’nya.” jelasku.

“Walau itu butuh waktu lama? Dan tak menutup kemungkinan hal itu mustahil terjadi?” tanya Jimin. Dan aku menjawab dengan anggukan mantap.

Ya. Aku akan menunggu sahabatku itu sampai dia datang. Walau itu harus memakan waktu bertahun-tahun dan mungkin sampai aku tak sanggup lagi untuk membuka mata.

Tatapan kami kembali beralih pada Gerbang Utama— sampai sebuah mobil mewah berwarna hitam melewati Gerbang itu. Ada dua mobil masuk dan berhenti di halaman depan Menara Bayangan.

Dilihat dari mobil saja sudah dapat dipastikan jika orang yang berada dalam sana dari golongan atas.  Sepertinya sekolah ini sudah menunjukkan taring. Sudah membersihkan namanya yang pernah ternodai. Terbukti banyak anak dari pengusaha di Negara ini mempercayai anak mereka bersekolah disini.

Empat orang berseragam rapi berwarna hitam keluar dari mobil pertama yang masuk— mereka menuju mobil kedua dan membukakan pintu sebelah kiri mobil kedua.

Melihat pemandangan itu, aku pastikan anak yang akan bersekolah disini anak manja. Buktinya pintu mobil saja harus dibukakan. Tapi bisa jadi juga itu sudah tugas mereka melayani Tuan mereka.

Dari mobil kedua— dari pintu kanan keluar seorang laki-laki paruh baya memakai kacamata. Dari pintu kiri keluar seorang anak seusia ku mungkin— berpostur tubuh tinggi dan rambut agak ikal, berwarna bronze dirty.

Dan satu ajaib dari sekolah ini— setiap orang yang menginjakkan kaki di Menara Bayangan akan disambut desiran angin, kicauan burung —jika itu masih pagi—, gemerisik dedaunan yang membentuk untaian nada. Semua itu seakan-akan menghipnotis semua yang datang, membuat mereka enggan pergi dari Menara Bayangan.

Sangat berbeda dengan suasa The Mystic dulu yang membuat siapa saja enggan berlama-lama. Itu dulu! Sekarang The Mystic telah kembali menjadi bagian Menara Bayangan.

Anak itu menyapu pandangannya ke sekeliling Menara Bayangan. Tak terkecuali ke atas bangunan Menara Bayangan. Saat tatapan aku bertabrakan dengan tatapan anak itu— semuanya  perasaan menyeruak dalam kalbu ku.

Taehyung?!

Taehyung kembali!

Secepat mungkin aku berlari turun mengejar Taehyung. Begitupun dengan Jimin yang menyusul ku dibelakang. Sesekali aku menyeka air mata yang turun dari sudut mataku, menunjukkan bertapa bahagianya aku bertemu kembali dengan sahabatku. Walau dia sangat menyebalkan.

Aku bahkan tak perduli dengan teriakan murid lain yang ku tabrak di koridor. Lari ku semakin cepat ketika melihat sosok sahabatku itu yang hanya beberapa meter lagi didepan ku.

Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya— bahkan auranya masih kuat seperti dulu. Tak ada yang berubah dari sahabatku ini.

Bahkan cara dia membentak dan mendorong tubuhku. Karena aku tau sahabatku ini tak suka dipeluk oleh seorang Namja. Dengan cepat aku menyeka air mataku yang jatuh— aku tak mau dia marah melihat ku menangis.

“Aku tau kau akan kembali Tae.” hanya kata-kata itu yang mampu ku ucapkan.

Tapi harapanku harus hancur oleh jawabannya “Kau salah orang!” dan nama yang tertulis di nametag’nya, Lee Jaesuk.

Dia berlalu begitu saja meninggalkan ku dan kerumunan murid yang melihat kami. Tanpa ia berniat menoleh ke belakang sedikitpun.

Kenapa dia memiliki aura yang sama dengan Taehyung? Kenapa dia memiliki wajah mirip dengan Taehyung? Dan kenapa aku menyakini bahwa dia Taehyung?

Tapi, kenapa aku tak merasakan Energi Kekuatan dalam tubuhnya?! Hidup tanpa Energi Kekuatan dalam tubuh keturunan Klan, apa itu mungkin bisa terjadi? Walaupun aku yakin itu sangat mustahil terjadi!

Aku harus mencari tau siapa dia sebenarnya. Ya. Harus!

Jungkook Pov end

….

To be continue/ TBC.

Advertisements

106 thoughts on “[BTS FF Freelance] The Tower Magic of Shadow (Epilogue / Chapter 2)

  1. Dillayak

    Lanjutt dong kak
    Fav banget sama ff yang satu ini
    Udah lebih dari 10× dan ga pernah bosen buat baca ff yang satu inii
    Semangat yaa kakak💪💪
    Ditunggu kelanjutannya💕💕

    Like

  2. chyanidhewii69351

    Semangat lanjutin lagi yhh cinggu…

    Always… Menanti lanjutan ceritanya ching…
    Kepo apa phi bakal inget ma temen2 and sineornya.. And apa phi akan tetep jadi phi yg jenius and cool kyak yg dulu… Hemmm

    Ndaksabar nunggu niii!!!

    Like

  3. nurnie

    Kk kemana sih kok gak dilanjut TTMOS nya , masa gantung gitu aja. ,padahal udah ditunggu dri tahun lalu lohh kak 😁 .
    Ayo kk dilnjut lg ffny, jeballl😭😭😞

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s