[What is Your Color?] My Blue Rose – Oneshot

v ff

Title        : My Blue Rose

Author   : Cho So Hee

Genre     : Sad, AU, Friendship, Angst/tragedy

Length    : Oneshot

Rating     : PG – 15

Cast         :

  • Kim Taehyung (BTS’s member),
  • Jung Sohee (OC’s),
  • Han Junhoo (OC’s),
  • Kim Seokjin (BTS’s member),
  • Support cast

Disclaimer :

Pemain dalam ff ini adalah milik Tuhan dan orang-orang yang berhak. Kecuali untuk OC yang merupakan nama saya dan seseorang.  FF ini murni milik penulis.Warning! TYPO membayangi! Karena ini adalah pengalaman pertama saya di bidang ini. Dan maaf jika tidak ngena sesuai genre utamanya. Karena kebiasaan mikirin cerita action. Jumlah words bagian isi keseluruhan tanpa judul-summary. Karena peraturannya berkata isinya saja maks 5000. Terbiasa nulis sampai 10rb lebih. Jadi susah buat 5000 words. Jujur lebih susah oneshot daripada part. Bisa sih oneshot tapi maks versiku 10rb word lebih. Hehehe . Maaf ceritanya ngebosenin.

Summary :

“Kau yang memutuskanku, tapi kau juga yang meminta maaf memintaku kembali. Apa maksudmu? Kau pikir aku bodoh? Aku tak akan pernah jatuh hanya karena seorang wanita meninggalkanku.”

 

***

 

Rose…

Berlambangkan cinta? Ah kurasa tidak,bunga itu adalah lambang perpisahan, kematian dan penyiksaan untukku. Ini karena dia. Gadis itu…

Aku tak tahu bahwa selama ini dia ingin melindungiku… Maafkan aku…

 

***

October 9th 2018,

Los Angeles, 22.15 pm

Derapan langkah terdengar mengalun di jalan kecil yang terapit oleh bangunan-bangunan tua kokoh dari  luarnya. Langkah sendiri yang ditimbulkan oleh sepatu kets yang beradu dengan aspal mengiringi suara rintikan hujan yang melanda pinggiran kota LA.

Hembusan nafas lelah baru terdengar saat laki-laki berwajah Asia berdiri tepat di depan rumah yang menjadi tempatnya tinggal di Negara Paman Sam. Tangannya mengeluarkan kunci dari dalam saku coat sepanjang lutut yang membungkus tubuhnya. Berhasil membuka pintu, yang dipikirkannya hanyalah tidur menutup mata.

Kim Taehyung, lebih akrab dipanggil Vicky selama di LA. 5 tahun dirinya hidup di tengah kota besar tanpa orang tua dan teman yang berarti. Sejak meninggalkan kota lahirnya, dia hanyalah seorang lelaki penyendiri yang terasingkan. Setiap hari yang dilakukan tidak lebih dari tidur, bangun, mandi, makan, bekerja, dan kembali pulang.

Jemari panjang itu tergerak mengacak asal rambut cokelat tua yang akan berwarna sedikit keemasan kalau terkena cahaya. Membuat beberapa tetes air jatuh dari helaian rambutnya yang sedikit basah.

Dilepasnya coat cokelat terang dari tubuhnya, diikuti kaos hitam di badannya. Menggantinya dengan kaos oblong polos yang diambilnya asal di lemari. Langkah lebar mengarah ke ranjang terhenti saat ponsel di nakas meja menyala bergetar menapilkan sebuah nama. Lelaki itu menyentuh tombol hijau dan menggesernya, mendekatkan ponsel ke telinganya.

Hyung?”  satu kata terkesan datar terucap ketika seseorang yang menjadi lawannya mengatakan ‘Halo’.

“….”

Dahi Taehyung mengkerut mendengar balasan di seberang ponselnya.  “Berita apa?”

“….” Senyum kecil mengembang dari bibir tebal dengan sentuhan merah muda alami yang mempertegasnya.

Ah, congrats.”

“….”

Haha, lalu aku harus apa lagi?”

“….”

Hadiah? Apa aku harus memberimu hadiah, Hyung?”

“….”

Baiklah, apa hadiah yang kau inginkan? Jangan bi…” Taehyung mengajak kakinya ke pinggiran sebuah ranjang kecil dekat jendela yang mengarah tepat di jalanan penuh manusia.

“….”

“Sudah kuduga kau akan memintanya. Aku tidak mau!”

“….”

“Bukan. Ini bukan karena gadis itu.”

“….”

“Baiklah. Aku akan pulang selama satu minggu. Kau puas?”

Taehyung dengan cepat menggeser layar ponselnya tanpa menunggu jawaban orang di seberang. Berdecak kesal atas hyungnya itu. Kim Seokjin, nama Hyungnya, dia akan menikah tiga hari lagi dari sekarang. Taehyung merentangkan tangan dan jatuh berbaring di tempat tidur. Kepalanya tiba tiba penuh dengan resiko dari keputusan yang baru dibuatnya.

Pulang ke tanah kelahirannya memang bukan hal buruk. Tapi, dia sudah terlalu nyaman disini. Dengan keterasingannya. Entah kenapa hatinya merasa tak siap saat mengingat Negara Gingseng itu, ada sesuatu yang membuatnya memilih pergi dari sana mengasingkan diri di kota besar LA.

Tapi hyungnya… Baiklah, dia akan pulang ke sana dan tinggal untuk satu minggu saja, demi keluarganya. Hyung kesayangannya.

 

***

 

“Kim Taehyung!” suara bass dari pria berumur 25 tahun terdengar kala Taehyung tengah berbicara dengan teman sekolahnya dulu. Taehyung mengarahkan pandangannya ke samping dan senyum lebar terbentuk saat matanya menangkap tiga pria berbadan tegap lengkap dengan setelan jas dan dasi yang rapi. Tak ada bedanya dengan penampilan pria lain di sini.

Tentu semua pria di sini memakai kemeja jas rapi lengkap dengan dasi, karena ini adalah hari besar keluarga Kim. Pernikahan telah usai. Dan kini, hanya untuk basa basi dengan para tamu undangan.

“Hei, apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu. Bagaimana LA?” Yoongi, pria dengan setelan jas biru pepsi yang menutup tubuhnya dengan kemeja hitam kelam dan dasi merah hati melingkari lehernya dan jatuh di depan dada.

“Aku baik. LA tetap saja LA. Tidak akan bisa berubah menjadi Jepang, benarkan hyung?” Tawaan ringan dari keempat pria beda usia itu tercipta.

“Kau memang jahat, tiba-tiba keluar Negeri tanpa memberi tahu kami. Teman apa kau ini.” Kekehan dari Taehyung menjawab pertanyaan hyungnya yang satu itu. Dan terus berlanjut dengan candaan, mengundang minat gadis tamu di sana. Mereka berempat – Kim Namjoon, Min Yoongi, Jung Hoseok, Kim Taehyung – di tambah dengan Seokjin memang dekat, layaknya saudara kakak beradik, semua masa selalu dipecah dan dirasa bersama.

“Maaf, apa aku mengganggu?” kekehan Taehyung lenyap mendengar suara seorang gadis di sampingnya. Yang ia lakukan hanya menatap lurus gelasnya. Ia tak berani menengok, ia tahu betul siapa itu.

Hello Sister.Lama tak berjumpa. Kau juga jadi jarang menghubungi kami.” Namjoon angkat bicara setelah tercipta keheningan beberapa detik.

“Maafkan aku karena jarang menghubungi kalian. Aku sibuk mengurus butik.” Senyum sesal terpampang indah di wajah V line gadis dengan dress biru gelap selutut yang dilengkapi bulu hitam besar yang dibentuk sedemikian rupa di pundaknya. Leher yang terhiasi liontin berbentuk tetesan air menambah kecantikannya. Dress sederhana tak mencolok yang tetap menampilkan kesan bahwa pemakainya dari kalangan tinggi.

“Ah tidak apa apa, kami tidak mepersalahkannya.” Perkataan pria bermarga Jung sukses diikuti oleh anggukan kedua teman yang mengapitnya, Yoongi dan Namjoon. Dan senyum gadis itu berganti dengan senyum lebar lembut. Matanya melirik seorang pria yang terdiam.

“Sebenarnya aku ingin meminjam Taehyung sebentar, kalian tak keberatan?” ketiga pria sekawan itu terdiam saling melirik satu sama lain yang finalnya tertumpu pada pria yang sedari tadi tak berkutik dengan tangan memegang gelas kaca berisi cairan yang menyeruakkan aroma manis.

“Emm, lebih baik kau bicara padanya saja langsung.” Yoongi mengedikkan dagunya ke arah Taehyung, yang langsung dibalas dengan decakan malas pria itu.

“Ikut aku.” Tanpa menoleh, Taehyung melangkahkan kakinya ke arah kolam berenang luas milik resort yang menjadi tempat kakaknya melangsungkan pernikahan.

Taehyung berdiri membelakangi tepat tiga langkah di depan Sohee. Tenangnya air tak dapat mengusik keadaan canggung di antara mereka.

“Rasanya lama sudah tak bertemu, kan?” Taehyung tetap diam tak menjawab, matanya memandang tanpa ekspresi ke birunya air kolam. Mengerti dengan respon yang ia dapat, Sohee menghembuskan nafas lelahnya.

“Maafkan aku. Aku merindukanmu, Kim. Kemana kau selama ini?” suara lembut itu terdengar menyayat pelan dirinya. Tangan Taehyung mengepal merasakan perasaan itu kembali padanya.  ‘Kim’ nama yang digunakan gadis itu memanggilnya. Nama marga yang selalu Taehyung banggakan karena gadis itu menyuarakannya setiap saat, dulu. Bohong jika Taehyung tidak rindu pada gadis ini. Jika dia bisa, dia ingin memeluknya seerat mungkin dan tak akan melepasnya. Tapi, Taehyung masih waras untuk melakukan hal itu. Merasa mampu mengendalikan emosinya, Taehyung berbalik menatap Sohee.

“Itu bukan urusanmu. Lebih baik kita jangan bicara lagi. Kembalilah ke dalam, suamimu pasti panik mencarimu.” Taehyung melangkahkan kakinya pergi. Tepat saat melangkah di samping gadis itu, lengannya tertahan oleh tangan lembut yang lebih kecil dari tangannya. Tangan yang dulu setia berada di genggamannya. Taehyung bahkan masih tak percaya jika tangan ini kini telah berpindah ke tangan lain.

“Aku minta maaf Kim. Kumohon jangan pergi karena aku. Bukan maksudku untuk meninggalkanmu dulu. Tapi aku…”

“Aku tahu. Aku pergi bukan karenamu. Aku pergi karena aku ingin melanjutkan sekolah. Asal kau tahu.” Mata bulat berwarna Cokelat almond  itu menatap pria di sampingnya sendu. Ingin bibirnya terbuka mengucapkan kata yang telah mengganjal di hatinya selama lima tahun ini. Tapi melihat ekspresi yang di tunjukkan pria ini, Sohee mulai disergap kebimbangan. Matanya kembali menatap lurus ke depan.

Nafas berat dari Taehyung membuat Sohee mengalihkan pangdangannya ke samping, menatap pria yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah kejadian itu.

“Kurasa setelah kejadian lima tahun lalu, kita tak lagi punya hubungan. Lagi pula kau juga sudah mepunyai suami, kan? Jadi untuk apa aku berhubungan denganmu?” mata itu beralih menatap Sohee tajam. Melihat wajah gadis itu yang merona entah karena dingin atau menahan tangis. Cengkeraman di lengannya juga menguat. Dia tidak bisa seperti ini. Taehyung merasa harus pergi sebelum melewati batas.

“Kau yang meninggalkanku, tapi kau juga yang meminta maaf dulu untuk memintaku kembali. Apa maksudmu? Jangan kau pikir aku bodoh. Karena aku tak akan pernah jatuh hanya karena seorang perempuan meninggalkanku. Jadi kumohon menjauhlah atau aku berbuat kasar padamu.” Kalimat dingin meluncur dengan mudahnya dari mulut Kim Taehyung. Taehyung menghempaskan tangan yang menahannya dengan keras yang berakibat sedikit olengnya tubuh dengan kaki jenjang yang terhiasi oleh hills warna hitam Kristal. Taehyung melangkahkan kakinya cepat masuk ke dalam ballroom yang penuh dengan tamu, meninggalkan gadis itu sendiri di sana.

Sepeninggal Taehyung mata cokelat almond itu menatap kosong ke depan. Kepalanya dipaksa memutar kembali ucapan pria yang menjadi kekasihnya lima tahun lalu. Kalimat itu terasa menusuk kulitnya mengalahkan gigitan dinginnya angin malam ini yang jelas jelas telah memasuki musim dingin. Matanya terasa kian memanas, bibir plumnya bergetar pelan. Jemari lentik tanpa nail art itu mengepal erat. Sohee merasa kakinya melemas tak kuat menahan beban tubuhnya. Sebelum kemudian dirinya jatuh terduduk di pinggiran kolam.

Satu tetes bening menyeruak keluar dan mengalir sebelum akhirnya menyentuh pijakan Sohee. Disusul dengan lainnya yang makin mengalir deras di pipi tirusnya. Gigitan keras pada bibir bawahnya terlepas kala Sohee merasakan cairan asin dalam mulutnya. Darah dari bibirnya menyebar dan membuat warna bibir itu tercampur dengan merahnya darah. Ini salahnya. Tak seharusnya ia melepaskan prianya. Pria yang mengenalkannya pada kebahagiaan yang berarti. Tapi ia juga tak bisa apa-apa saat kenyataan pahit itu menghampiri kehidupannya dan membuatnya memilih melepaskan pria itu. Bahunya berguncang pelan mengiringi laju air mata. Bibirnya bergerak pelan menggumamkan kata maaf yang nyatanya hanya terdengar olehnya.

 

***

 

“Hei, dari mana saja kau?” Kim Seokjin mengangkat alisnya heran meihat Taehyung masuk ke dalam rumah keluarga Kim dengan keadaan kusut. Sedangkan yang ditanyai malah tak menjawab dan terus melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.

Langkah besar membawanya ke hadapan adik kesayangannya. Tak dipungkiri, dia merasa khawatir pada laki-laki itu. Perasaannya bilang, baru beberapa jam tadi adiknya selalu tersenyum hangat menyambut tamu, lalu kenapa sekarang pulang dengan membawa air hujan yang menetes dari tubuhnya?.

Dahi pria berumur hamper mencapai kepala tiga itu makin mengernyit dalam melihat pintu kamar adiknya. Ia merasa ada yang tak beres di dalam sana.

 

***

 

Tak disangka, tadi dia berani mengucapkannya pada gadis yang telah mengisi hatinya dulu. Hatinya berdenyut sakit menatap mata itu meredup. Tak dipungkiri rasa itu masih tetap melekat di hatinya. Taehyung melangkah ke arah ranjang dan duduk di pinggirannya. Di samping, ada sebuah meja kecil dengan satu laci.

Tak pernah ada yang masuk kamarnya tanpa seizin Taehyung sendiri. Dan ia percaya keluarganya tak pernah menyentuh kamarnya, kecuali pelayan yang membersihkan ruangan ini. Tapi tetap saja, pelayan itu tak berani mengusik benda-benda yang ada kecuali ranjangnya.

Untuk pertama kali dalam lima tahun, tangannya menyentuh kembali laci itu. Mengeluarkan satu lembar kertas tebal persegi dengan ukuran kecil yang terhiasi oleh gambar dua orang pemuda berbeda jenis. Di sana, sang pria tersenyum lebar menampakkan giginya sambil merangkul erat seorang wanita yang juga tersenyum sampai ke mata. Taehyung tersenyum miris melihat tanggal yang tertera.

“Pilihan terberatku adalah menuruti perintaan untuk meninggalkanmu.” Gumaman tak jelas secara tak sadar keluar dari mulutnya. Sepasang matanya beralih menatap jendela yang jaraknya dua meter di depan. Menatap banyaknya rintikan hujan yang menabrak kaca jendela.

Terdiam beberapa menit, ketukan pelan dari luar kamar tertangkap indranya. Menatap kepala yang menyembul dari balik pintu polos bercat putih.

“Boleh aku masuk?” sudah Taehyung duga keadaannya akan mendapat perhatian dari kakaknya. Tanpa perlu ia suruh dan menjawab,kakaknya sudah terlihat duduk di kursi tanpa lengan di sampingnya. Menatap intimidasi ke arahnya dengan tangan yang disilangkan di depan dada. Sepertinya ia salah karena percaya tidak akan ada yang berani mendekati kamarnya.

“Bisa kau bercerita padaku apa yang salah hari ini?” Taehyung terdiam polos ke arah seokjin yang baru selesai dengan pertanyaan perhatiannya. Entahlah, Taehyung merasa ia terlalu lelah mengekspresikan wajahnya. Seokjin hanya mendengus pelan dengan jawaban yang ia dapat. Matanya tanpa sengaja menangkap tangan kanan adiknya yang berada di atas paha, memegangi sebuah potret dua anak remaja yang masih memakai seragam sekolah kebanggaan Korea Selatan.

Kepalanya terpaksa berpikir, mengira-ngira apa yang baru saja terjadi. Apa adiknya terlibat sesuatu yang berkaitan dengan gadis masa lalu itu? Apa ada yang terlewat di pesta tadi? Apa ini salahnya karena mengundang gadis itu?

 

***

 

Mata sembab yang menghiasi wajah cantik dari gadis berkulit putih pucat tengah menatap ke rak buku besar di perpustakaan rumahnya. Tetesan-tetesan air dari gaun malamnya jatuh membasahi karpet merah gelap di bawahnya. Dengan pelan jemarinya menelusuri buku-buku di barisan rak kelima dari bawah.

Di rumah yang terbilang besar ini, dia hidup sendiri. Suami? Dia tak pernah mempunyai suami di hatinya, jika suami SAH di atas kertas ada. Lalu dimana dia? Laki-laki itu terlalu sibuk mengurusi dokumen menumpuk di sebuah bangunan tinggi dengan dominasi dinding kaca ternama se-Korea Selatan. Bangunan menjulang itu terletak di jantung kota Seoul, dan membutuhkan waktu yang dapat membuatmu jengah di perjalanan dari sini. Karena itu, suaminya memilih hidup di apartemen dekat tempatnya bekerja.

Jari telunjuk lentiknya terhenti pada sebuah buku tebal layaknya sebuah album, di pojok bawah kanan tercetak indah tulisan Vicky latin yang di bawahnya terdapat angka 2010 yang berarti tahun. Membawa buku itu ke pelukannya dan berjalan ke arah meja baca lengkap dengan lampu dan single sofa berwarna hitam.

 

***

 

Suara erangan tercipta menemani suara sunyi yang ada di rumah mewah kawasan Seoul Gangnam. Tangan pucat seputih kertas menggenggam erat sprai putih bersih yang menyebabkannya menjadi tak beraturan. Serpihan kaca tersebar di beberapa titik memenuhi kamar. Tubuh lemahnya bergerak cepat mengatur nafasnya yang tak stabil. Ia kesakitan. Sakit yang telah menggerogoti tubuh dan batinnya. Rasa mual tak tertahan kembali menyergap badannya yang telah lemas. Ia berlari pincang ke arah kamar mandi sebelum tubuhnya jatuh ke pijakan lantai kamar miliknya yang langsung membuat lubang kecil untuk kesekian, darah yang keluar dari tubuhnya semakin banyak melapisi kulit yang nyatanya pucat. Kakinya berdarah karena terlalu sering menginjak pecahan kaca. Tapi itu tak berarti apa-apa baginya.

Serpihan kecil di bawah telapak tangan itu makin kian masuk ke dalam ketika sang pemilik menggenggamnya erat , menyalurkan kesakitannya. Mata yang telah redup kehilangan cahayanya kembali menumpahkan muatannya. Untuk kesekian kalinya ia menangis. Dan untuk kesekian kalinya ia berharap bisa membalikkan waktu dimana dia belum menerima penyakit ini. Menikmati masa lebih lama dengan seseorang yang membawanya kebahagian kepadanya. Kim Taehyungnya.

Tak jauh dari keterpurukan gadis dengan marga Jung, tergeletak mawar dengan kekuatannya mempertahankan warna biru tua yang makin menghitam di ujungnya. Bunga yang dengan setia menjdi saksi selama 5 tahun ini. Hingga akhirnya sepasang mata itu kembali menemukan keberadaannya.

Untuk sekali lagi batang duru yang telah mengering itu tersentuh oleh cairan berbau anyir. Dengan pelan dan pasti, kelopak bunga itu terseret mendekati majikannya. Dengan keadaan meringkuk bak anak kecil sendiri yang ketakutan akan petir, Sohee memeluk bunga yang menjadi temannya. Bunga terakhir darinya. Dia.

Flashback on

Sepasang tangan berkulit putih lembut bergetar pelan memegangi surat yang ditunggunya sejak satu minggu lalu. Setelah menyiksa dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban pasti, dia tahu ini adalah akhir dari segalanya. Otaknya mendadak kosong. Tenggorokannya terasa cepat mengering. Belum cukup kertas itu menjawab pertanyaan yang bersarang di kepalanya selama satu minggu. Dokter di hadapannya malah menjelaskan dengan dan sampai sedetail mungkin. Membuatnya berpikir jika dokter itu senang di tengah kesakitannya. Membuatnya merasa harus pasrah menyerah dan berganti menanti waktu kedepannya.

Tumor otak stadium tiga. Satu kalimat itu terus beterbangan di kepalanya menjawabi beribu pertanyaan. Mengapa ia lebih sering pusing? Mengapa tiba-tiba pandangannya mengabur tanpa alas an? Mengapa ia merasa ada yang tak beres? Dan masih banyak lagi. Memang bukan meyeramkan karena bukan stadium akhir. Tapi itu adalah awal dari kehancurannya. Ia teringat dengan prianya, pikirannya berdebat akan mengatakan pada prianya apa memendamnya sendirir?

Tapi seketika itu juga sekelebat bayangan kaan memorinya melayang tanpa tujuan di kepalanya. Senyum lebar dengan tangan penuh hangat seseorang tercetak jelas di kepalanya.

Sekalipun ia tahu bahwa penyakitnya bisa disembuhkan, tapi ini adalah penyakit stadium tiga yang bisa kembali lagi. Dan pernyataan itu mendorongnya berpikir bahwa dia bukan seseorang yang baik bagi pria itu. Pernah sekali waktu ia harus berada di rumah penuh obat karena kecelakaan yang dialaminya, dan kecelakaan itu disebabkan oleh sakit kepala hebat yang tiba-tiba menyerangnya. Saat dirinya berada di titik lemah terbaring di sebuah bangsal VVIP rumah sakit.

VVIP rumah sakit, lelaki itu ada di sana, menggenggam tangannya erat. Mata lembut itu menatapnya khawatir. Melihat mata prianya berbohong tak menangis, Sohee berjanji tidak akan pernah membuat kekasihnya merasa khawatir sampai menangis hanya karena dirinya.

Dan inilah awal dari sebuah kehancuran. Dia harus –terpaksa- menikahi seseorang yang mengaku dirinya amat mencintai Sohee dan akan membunuh pria yang dipanggilnya Kim jika Sohee tidak mau menikah dengannya. Selama hampir seminggu uring-uringan dengan hal itu, ia memilih pilihan yang dicapnya sebagai pilihan terberat. Dia menerimanya. Dan malam itu, Taehyung dengan kaku menunduk membawa bunga mawar biru tua samudra yang dijadikan satu dengan lapusan kertas buket bunga di depan rumahnya, di tengah gerimisnya langit. Matanya memanas mengingat potongan memori bahwa mereka bahagia. Di tengah sibuknya melihat memori, suara bisikan tertangkap ‘buat dia sakit hati dengan keputusanmu, sekarang. Kau sudah janji meninggalkannya, ingat itu!’ Sebelum setelahnya orang bermata tajam bergaris elang bergerak dari sisi Sohee, ke sisi mobilnya. Sohee bisa melihat langkah tegas pria itu terantarkan oleh tatapan tak suka dari Taehyung dan dibalas tatapan sinis.

Tersingkir dari itu, Sohee berpikir ‘apa aku bisa mengatakannya? Apa aku kuat untuk patah hati? Apa aku bisa terlepas dari sosoknya?’ Air liur yang ia telan terasa berat,membuatnya memilih diam terus melangkah menyusul pria yang akan menjadi calon suaminya. Selangkah berhadapan dengan Taehyung, Sohee terhenti karena tubuh besar yang menghalangi lajunya. Menatap Sohee antara sakit, kecewa, dan tak mengerti. Sedangkan dirinya? Ia terlalu bingung dan memasang wajah sedatar jalanan. Matanya melihat pergerakan tangan kiri Taehyung yang memegang bunga, mengangkatnya agak tinggi sampai pinggang. Menyodorkannya pada Sohee.

“Kau bercanda kan? Berita itu tidak benar dan kau tidak akan menikah dengannya, benar  bukan?” Kim Taehyung, Taehyungnya kecewa karenanya. Kim kesayangannya hancur karenanya. Ingin Sohee berteriak tidak, karena Sohee amat sangat mencintai orang di depannya. Tapi lain di luar, jemari lentiknya mengambil sebatang mawar biru, merenggutnya dari ikatan rapi sang penjual bunga. Melihat meneliti dan berkata

“Itu benar, aku mencintai pria itu. Kami bahkan telah lama kenal. Kau datang setelah dia datang. Aku bersamamu karena dia berada di luar Negeri. Karena sekarang dia telah kembali, aku ingin kita berhenti karena pada nyatanya aku tak mencintaimu Kim Taehyung.”

Detik berikutnya, bunga sendiri itu jatuh mencium tanah basah karena hujan yang tiba tiba deras. Dengan langkah berat namun terlihat pasti, Sohee meninggalkannya dalam kesakitan. Masuk, menghampiri pria yang telah duduk nyaman di belakang kemudinya. Mobil berjalan pelan, Sohee menyempatkan diri melirik kaca spion. Dan yang ia lihat adalah, sebuket bunga yang dirangkai indah terhempas dengan amat keras karena pemiliknya memabantingnya ke tanah, menyusul sang bunga sendiri. Sohee memejamkan matanya erat sambil menyatukan genggaman tangannya. Dalam hati terus terucap kata maaf yang berakibat lolosnya setitik Kristal dari matanya. Maaf Kim Taehyung.

Setengah jam berlalu dengan menemani pria yang akan sah menjadi suaminya membeli gaun pernikahan mereka. Menapakkan kakinya di depan gerbang dengan jarak setengah kilo meter dari pintu utama rumahnya. Terserah dengan lelaki yang mengantarnya, kakinya melangkah cepat  semakin dalam. Seketika Sohee berhenti, menatap kumpulan kelopak bunga berhamburan di tanah. Semuanya hancur, meningalkan batangnya sendiri. Sohee menelan liurnya pahit. Memutuskan masuk ke dalam rumah. Dua langkah tercapai, kakinya kembali terhenti. Pelan, tubuhnya turun berjongkok menyentuh batang dengan duri yang di ujungnya masih lengkap dengan rangkaian kelopaknya yang biru menua.

Melihatnya, mata sayu Sohee mewakili pikirannya untuk menukar beberapa kekayaan miliknya untuk ditukar dengan kaca pelindung khusus agar bunga ini tetap hidup bertahan dengannya.

Flashback off

Dalam gelap, Sohee menangis membasahi kelopak rapuh sang bunga mendekapnya erat dan meringkuk takut dengan alas lantai penuh kaca.

 

***

 

Kelopak pelindung mata seorang pria pemilik tinggi 178 cm dengan refleknya terbuka. Layaknya terseret keluar alam mimpi dalam satu tarikan. Masaih dalam keadaan terbaring terlentang di atas kasur king size, mata itu memandang kosong terkejut ke langit langit kamar. Sampai setelahnya tersadar, bola mata hitam itu bergerak gelisah tak teratur. Entah mengapa perasaanya tak nyaman. Dan Taehyung tak menyukai hal itu. Kepalanya terasa pening. Seolah ada yang tak beres sedang dialami orang terdekatnya. Tapi siapa? Kedua orangtuanya? Temannya? Atau.. Soheenya?

 

***

 

“Sudah ku bilang, seharusnya kau memeriksakan diri lagi. Bisa saja tumor itu lebih ganas dari yang lalu.” Seokjin menumpukan beratnya pada meja, ia tak habis pikir dengan jalan pikiran orang yang telah ia anggap sebagai adik kecilnya. Seokjin terlalu menyayanginya. Dia yang memegang seluruh rahasia manis dan pahit gadis itu.

“Tidak penting aku akan bulan madu atau apa. Kau harus kuperiksa. Kita harus melakukan perawatan padamu. Melakukan CT Scan dalam waktu dekat dan merundingkan hasil MRI-nya bersama.” Seokjin mulai jengah dengan keras kepalaan lawan bicaranya. Ia mengurut keningnya pelan, pusing memikirkan rencana yang akan ia lakukan untuk orang di seberang ponselnya. Seumur hidupnya menangani pasien, tak pernah ada yang menyerah pada penyakitnya. Termasuk gadis ini,tapi itu beberapa tahun lalu. Dan baru-baru ini hal hebat itu kembali, gadis ini memilih menyerah.

“Nona Jung Sohee, kau harus melakukan perawatan secepatnya. Di bawah pengawasanku langsung. Dan jangan pikirkan istriku, dia mengerti dengan masalah ini. Dia penjaga rahasia yang baik, percaya padaku.” Pria yang baru melepas masa lajangnya ini maju selangkah untuk menghampiri masakannya yang mulai matang, mengaduknya pelan dengan tetap bertelepon ria. Istrinya tengah menjadi menantu baik yang menemani ibunya berbelanja.

 

***

 

Kim Taehyung, pria berkulit putih Asia sedikit kecokelatan menghentikan langkahnya, mengerutkan kening mendengar sang kakak yang berbicara serius dengan seseorang lewat ponselnya. Taehyung berniat menghampiri Seokjin hyung yang membelakanginya, andai saja tidak ada nama yang sempat terucap dari kakaknya yang menyatakan dengan siapa dia berbicara. Dia berganti terdiam kaku, mendengar rentetan kalimat yang keluar. Jiwanya seperti direnggut paksa. Menatap tak percaya kakaknya yang tetap sibuk tanpa tahu dirinya. Oksigen di sekitarnya terasa menipis, matanya kosong ditinggal oleh pikiran yang melayang tanpa arah. Dia kesulitan tanpa dirinya?

“baiklah, aku tutup dulu. Ingat, aku harus kuperiksa minggu ini. Awas jika kau tidak datang.” Tangan Seokjin meletakkan ponselnya kembali ke saku celana setelah mendengar sambungan diputus oleh orang yang ia hubungi. Seokjin menggosok tangannya sebelum mematikan kompor dan mengangkat sepanci penuh berisi makanan berkuah dari seafood. Badannya tergerak untuk berbalik membawa panci itu ke meja makan, namun pemandangan yang tertangkap matanya menghentikan langkahnya. Seokjin tercengang menatap sosok adiknya berdiri kaku menatapnya balik meminta penjelasan.

“Ada yang mau kau jelaskan hyung?” Seokjin menelan ludahnya gugup. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia harus menceritakan rahasia selama 5 tahun antara dia dan Sohee diketahui oleh adiknya?

Seokjin menghembuskan nafasnya pasrah. Lagipula sudah saatnya adiknya tahu. “Ya,banyak yang ingin kujelaskan.” Seokjin melepas sarung tangan dan melangkah ke balkon rumah.

 

***

 

“Hei sayang, maaf membuatmu lama menunggu.” Yang Sohee rasakan sebuah bibir tebal ,milik pria yang tak lebih dari seorang pemaksa menempel di keningnya. Dengan santai biasa, pria yang telah terlambat lima belas menit duduk di depannya dan membuka buku menu kebanggaan restaurant yang menjadi icon di negeri ini.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan, sayang?” Masih bertahan dengan senyuman dan mata yang terfokus pada kata yang menunjukkan banyak jenis makanan dan minuman berkelas dari seluruh penjuru dunia yang tersedia di restaurant ini.

“Aku ingin kita berpisah.” Bodoh jika pria di depannya tidak mengerti maksud perkataannya. Tapi dia adalah CEO termuda, yang berarti kepintarannya tak diragukan. Apalagi setelah dua detik menyelesaikan ucapannya, pria itu mendongak menatap tajam yang menghunus mata Sohee yang berada di seberangnya. Sohee membalasnya tatap menantang tak takut. Cukup lima tahun Sohee merasa tersiksa dengan batinnya.

 

***

 

Berjalan di pinggiran kota seperti orang hilang tak pernah terpikirkan olehnya. Kosong. Itu yang terlihat di mata cokelat tua dengan warna hitam mendekati pupil. Berjalan tanpa arah yang jelas semenjak pagi. Memikirkan bodoh sebodohnya ia karena memilih hal salah, seharusnya ia mengikuti kata hatinya untuk tak pergi meninggalkan gadis itu.

Seharusnya ia mendengarkan penjelasan gadisnya ketika di kolam renang milik resort yang jadi tempat pernikahan kakaknya berlangsung. Seharusnya ia tak membuat gadisnya menangis. Seharusnya ia sadar dengan janji yang dulu pernah terucap. Seharusnya…

Taehyung tersenyum miris memikirkan beribu kalimat yang bersarang di kepalanya. Itu hanyalah setumpuk kalimat dengan awalan ‘seharusnya’. Jadi untuk apa ia sesali? Toh dengan adanya kalimat itu, tak akan bisa mengembalikan masa-masanya dengan Jung Sohee.

Aroma harum sebuah toko di sisi kanannya tercium. Bau itu merambat memenuhi seluruh ruang pikirannya. Hingga menyebabkan gerakan berhenti pada kedua kakinya. Bau itu…

“Terima kasih. Sampai jumpa lagi.” Senyum bahagia seorang wanita tercipta setelah menerima beberapa lembar kertas bertuliskan angka sebagai bayaran member sebuket bunga dengan rangkaian indahnya ke seseorang. Seusai wanita penjaga toko masuk, Taehyung tetap terpaku melihat bunga yang mekar indah. Bunga mawar dengan kemampuan warna birunya yang mengikat. Terasa jantungnya kembali bergetar hebat setelah sekian lama tak melihat bunga itu. Sewaktu dia di LA, tak dapat menjumpai bunga itu. Warna yang menyiratkan, ah bukan. Tapi menggambarkan warna iris mata yang dulu menemaninya setiap saat. Warna yang ikut menjadi salah satu favoritnya karena itu adalah warna sepasang bola mata milik gadisnya. Jung Sohee.

Sempat terpikir olehnya, bahwa untung saja gadis itu memakai softlens berwarna cokelat tua untuk menyamarkan warna biru gelap dengan bingkai kehitaman pada matanya. Karena jika tidak, mungkin Taehyung tidak bisa menahan rasanya pada gadis itu.

Tak mau kembali terjebak dalam luka dalamnya, Taehyung melangkahkan kakinya lagi untuk menuju entah kemana. Yang terpenting ia menjauh dulu dari orang orang yang mengkhianatinya. Ia tak ingin mendengar penjelasan apapun sebelum dapat memaafkan dirinya sendiri dan mampu memperlihatkan wajahnya di depan gadis itu. Menangis? Itu sudah ia lakukan tadi.

“Tuan, lampu masih merah.” Suara diiringi tangan melintang di depan dada Taehyung menghentikan fantasi kesalahan yang terngiang. Taehyung menatap seorang remaja dengan seragam dan tasnya menatap dirinya mengingatkan. Sedikit tersenyum dan menunduk atas kesalahannya, Taehyung mengangkat pandangan ke tiga lampu beda warna yang tergantung di sebuah tiang besi.

***

Dimana kau Kim?’ beribu nama tempat memenuhi kepalanya. Memutar kembali memori tempat yang biasa didatangi prianya. Dia ingin menemukan prianya, menjelaskan semua. Terlebih utamanya Sohee mau menyelamatkan prianya dari psycho sialan Han Junhoo. Setelah tadi  tak sengaja ia melihat memo kecil Junhoo yang bertuliskan akan membunuh Taehyung.

Tangan tanpa polesan di kuku merah muda alami Sohee memegang kuat kemudinya, matanya senantiasa mengamati jalanan kota penuh manusia. Gadis itu menghela nafas panjang saat kendaraan bermesin dengan label Lamborghini berhenti di depan penyeberangan jalan karena lampu yang terpasang berwarna merah.

Tunggu! Bukankah itu Junhoo? Sosok yang memakai baju dan celana berbahan yang harganya melampaui harga batas normal pasar? Lelaki psycho itu menatap tajam ke depan. Kenapa? Sohee mendelik heran pada pria yang berdiri tegap menunggu dengan sebuah kain rajutan hitam atau Beanie, sebagai penutup rambut berwarna cokelatnya, membuat rambutnya terlihat sebagian. Sohee tertarik melihat apa yang dilihatnya. Hampir 150 derajat putarannya, matanya yang telah lepas dari softlens menangkap siluet orang yang dicarinya selama hampir 5 jam di tengah jalanan kota padat melangkah pelan menundukkan kepalanya. Membuat berhelai rambut jatuh menutupi sebagian wajahnya. Kim! Sohee mematung di kursi kemudi mobilnya, matanya mengikuti langkah Kim yang dirindukannya.

Melewati pertengahan jalan dengan cat hitam putih, Han Junhoo melangkah mantap lebih dekat pada korbannya dengan memasang seringaian yang terlalu digilai banyak gadis. Pikiranya mendadak mengirim sinyal, Han adalah psycho. BODOH! Orang itu…

.

.

Brukk..

.

Suara hempasan berat terdengar dengan warna merah gelap terang merambat cepat terserap kain putih pembungkus tubuh gadis yang baru merasakan benda dengan kilat tajamnya di dalam tubuhnya. Menusuk tepat livernya. Han Junhoo..

Taehyung, pria yang menatap shock ke depan berhadapan langsung dengan pria yang tak jauh keadaan matanya dengan tatapan milik Taehyung. Junhoo menatap kosong dengan wajah shocknya sedangkan tangan kebanggaannya mulai bergetar pelan memegangi pisau yang mengacung dengan gagah dengan pegangan yang terhiasi batu Kristal sebiru mata wanitanya.

Nafas Taehyung memburu, pikirannya ingin menyangkal kejadian yang baru lewat. Berapa lama tadi? Taehyung bahkan belum menatap langsung tepat di mata biru itu…

Tersadar dengan keadaan karena tetesan air mengalir lembut di pipinya, Taehyung merunduk pelan sebelum akhirnya terduduk keras melukai lututnya tertabrak kerasnya aspal. Tak peduli puluhan klakson menghujaminya. Beberapa manusia hanya menatap iba padanya. Ia tak butuh itu! Ia butuh menyelamatkan gadisnya. Tapi, kenapa raganya harus sekaku ini? Hanya menatap tubuh yang tergeletak lemas di depannya? Dia hanya bisa menangis pilu karenanya, bahkan sulit rasanya berteriak minta tolong.

‘Han Junhoo! Apa yang kau lakukan Bodoh! Sohee .. wanitamu.. yang menyayangimu dan mau hidup denganmu.. kau malah membunuhnya’. Suara aneh terngiang di kepalanya. Dahinya menyerit sakit karena suara itu. Dia melihat ke sekeliling dan menemukan ia yang ditatap sinis tak percaya oleh beberpa orang yang melihatnya dari pinggir jalan, karena lampu masih hijau dan kendaraan tak mau mengalah berhenti.

Junhoo menatap ngeri pisaunya. Apa yang baru saja ia lakukan? Dengan pelan pria itu menggeleng tidak dan mengambil langkah mundur sembari menatap pisau dengan darah yang mulai merambat menyentuh kulit tangannya.

Junhoo dengan keadaannya yang tak berubah dan menatap nanar gadisnya yang mulai pucat membiru tetap melangkah mundur menjauhi kenyataan. Masih tak percaya dengan perbuatannya. Bahkan sebelum tergeletak, gadis itu menatap penuh kecewa ke arahnya. Suara aneh itu makin keras terngiang, saling menyalahkannya. Sebelum pada akhirnya suara sebuah klakson yang menyadarkannya bahwa dia berada di jalanan kota padat. Junhoo menatap kosong putus asa mobil yang tetap membunyikan klaksonnya lantang dengan terus melaju cepat.

Suara tabrakan mesin dengan tubuh terdengar keras. Membuat beberapa orang berteriak kaget. Tubuh kekar dengan selimut hitam melayang beberapa saat sebelum terhempas dengan tak hormat di jalanan ramai kota Seoul. Darah mengalir deras dari pelipis dan bagian yang tertutup kain hitam ketat itu. Mata tajam yang biasa menatap dingin kini kosong tanpa jiwa. Meninggalkan raganya. Dalam sesaat Junhoo menatap pria yang tetap menangis pilu meratapi jasad wanitanya. Suara mobil ambulance terdengar tepat sedetik sebelum ia memejamkan mata.

***

 

October 16th 2018,

Seoul, South Korea.

Bunga mawar dengan warna biru menjadi pemeran utama dalam sebuah pemakaman yang terlaksana hari ini. Taehyung, pria dengan jas hitam dan kemeja putih berdiri tegak melihat dari jauh sebuah batu nisan dimana nama gadisnya tersemat. Pemakaman sudah sepi,tapi entah kenapa Taehyung masih tak ingin beranjak sejak 1 jam lalu. Tanah yang menggunung menyembunyikan jasad gadisnya. Dia masih tak mau menerima. Tapi dia yakin gadisnya akan bahagia…

Taehyung memilih menatap nisan itu untuk terakhir kalinya dan seketika menegang melihat sosok gadis bertubuh mungil membawa mawar biru meghampiri nisan gadisnya. Bibir merahnya mencium lembut batu nisan itu. Menaruh bunga di atas tanah diikuti sebuah bingkai besar dengan foto. Mata Taehyung membulat. Di foto itu wajah gadisnya ada dua.. saling merangkul dan tersenyum. Dengan jelas Taehyung melangkah melihat tulisan yang ada lebih jelas setelah perginya gadis itu. Matanya melebar tak percaya.

Maaf adikku. Aku akan menjauhi mereka. Terima kasih membawa bebanku. Selamat jalan.’

 

-END-

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s