[BTS FF Freelance] LOVESTRIKES : For The First Time (Chapter 2) – [Chaptered]

love-strikes-1-2jpg

LOVESTRIKES | by: namgiyea | MULTICHAPTERED

 Main casts: BTS Jeon Jungkook, BTS Park Jimin, OC Lee Nichan, OC Choi Nara| Rating: PG-15| Genres: School life, friendship, romance, comedy.

Remake from my old fic, Pure mine, No plagiarism.

SUMMARY: Cinta itu tidak memandang usia, bukankah begitu? Itulah yang dialami oleh Jeon Jungkook yang menemukan cintanya. Ia merupakan murid akselerasi di Hanyoung yang tenarnya selangit dan mampu memikat hati jutaan wanita sekali tatap. Sudah tampan, cerdas, ia juga jago bermain basket!

 Sssst… Namun sepertinya ada seorang gadis tidak menyukai sosok perfeksionis Jungkook?

Belum lagi cerita seru tentang sahabat karibnya, Park Jimin.

Temukan cerita cinta dan persahabatan yang manis di fiksi ini!

 

 

 

Bisakah aku mendapatkan kesempatan kedua?

 

 

LOVESTRIKES

For the first time (Chapter 2)

 

 

 

Jimin memasuki kelas yang masih kosong karena saat itu masih sangat pagi sehingga murid-murid belum berdatangan. Ia  menduduki bangku di barisan pertama dipojok kanan. Tanpa perasaan bersalah ia menduduki bangku itu , meskipun tempat itu biasanya sudah ada yang menempati.

Tak biasanya Jimin memilih tempat di paling depan, apalagi saat keadaan kosong seperti itu. Ia dan Jungkook biasanya akan memilih tempat paling belakang agar bisa tidur saat pelajaran.

Tak lama sang pemilik tempat duduk pun datang memasuki kelas langsung terheran melihat Jimin yang sudah duduk manis di bangkunya. Tidak dibuat pusing ia langsung memilih tempat duduk lain.

“Eh tunggu tunggu, Nichan-ah!” Jimin memanggil sang pemilik tempat duduk Lee Nichan yang sudah duduk di kursi lain.

Sebenarnya tujuannya duduk di kursi Nichan adalah agar ia dapat duduk berpasangan dengan Nichan hari itu. Penyebabnya adalah karena hari ini Jungkook absen.

Nichan tampak menggunakan earphone jelas tak mendengar suara Jimin yang menyerunya. Ia pun datang menghampiri Nichan untuk memberitahukan tujuannya yang sebenarnya agar rencananya berhasil.

“Nichan-ah.. yeogi..” Jimin mulai bicara dengan gugup. Nichan langsung melepas earphonenya saat Jimin menghampirinya.

“Ah tidak apa-apa kok! Aku bisa duduk disini” ucap Nichan sambil mengibaskan tangannya, menebak-nebak maksud Jimin.

“Bukan itu. Aduh” Jimin menepok jidatnya karena nichan tidak ‘peka’ dengan apa yang ia inginkan.

“Lalu apa?”

“Nichan-ah, mau duduk sama aku?”

“Mwo?” Tanya Nichan terheran dengan tingkah teman sekelasnya itu yang tiba-tiba dan tidak biasa.

“Jungkook hari ini tidak akan masuk sekolah. Kau duduk sama aku ya? Jebal..” Jimin memohon-mohon pada Nichan. Akhirnya Nichan mengerti alasan mengapa ia tidak bersama Jungkook sahabat sehidup matinya itu.

“Hmm ayo deh kalau begitu” Nichan langsung membawa ranselnya dan duduk satu bangku dengan Jimin.

Jimin langsung tersenyum gembira saat rencananya berhasil dan membuat kepalan tangan tanda keberhasilannya. Itulah untuk pertama kalinya Jimin di kelas 2 duduk sebangku dengan orang selain Jungkook yaitu Nichan.

Tidak sesuai dengan ekspektasinya yang menginginkan bicara banyak dengan Nichan. Nichan hanyasibuk  mengerjakan tugas dari guru tanpa berbicara dengan Jimin. Pemandangan yang sangat tidak biasa selama ini. Biasanya teman satu bangkunya, Jungkook yang dapat ia ajak berbicara non-stop sampai jam pulang sekolah. Tak jarang bahkan hingga tertawa terpingkal-pingkal dan membuat kegaduhan siswa lain.

Lain dengan Nichan yang merupakan murid teladan dan akan mengerjakan semua yang diperintahkan guru.

“Nichan-ah tahu tidak aku itu dulu pernah menjuarai kompetisi dance“ Kata Jimin mencoba mengajak Nichan bicara yang sedang menulis.

“Ah geuraeyo?”  Nichan menjawab dengan matanya yang masih terfokus pada buku yang ia tulis. Jimin semakin percaya diri untuk mengajak Nichan bicara, agar lebih akrab dan menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

“Iya! Dulu sebelum aku jadi pemain basket aku juga pernah aktif di futsal dan bisa sedikit bulu tangkis, eh renang juga aku bisa” cerita Jimin dan ia mulai menceritakan hal macam-macam..

“Aku sangat suka makan ttokpoki ayo makan bersama” setelah sekian lama Jimin bercerita akhirnya Nichan memilih untuk diam karena fokus dengan tugasnya.

“Nichan-ah kalau kamu cita-citanya apa?”

“Mianhae Jimin-ah nanti saja ya ceritanya, aku sedang mengerjakan tugas nih ” Ujar Nichan sambil membuat jarinya mengerucut simbol permintaan maaf. Sebenarnya konsentrasi Nichan terganggu sedari tadi  Jimin membicarakan berbagai macam hal. Ia sedikit merasa bersalah pada Jimin walaupun biasanya ia akan langsung mendamprat siapa saja yang mengganggunya saat mengerjakan soal.

 

Seketika kapur mendarat tepat  di dahi Jimin. “Ya Park Jimin, Lee Nichan! Mengapa ribut terus?” Jung seonsaengnim yang sedang menjelaskan di depan kelas melemparkan kapur yang ia pakai untuk menulis ke arah Jimin. Jimin merasa dongkol pada guru musuh abadinya itu.

“Mianhae saem” Ucap Nichan langsung menduduk. Jimin sebenarnya tak masalah namun merasa sangat bersalah pada Nichan. Atas perlakuannya lah Nichan dimarahi guru. Mungkin itulah  kali pertama Nichan dimarahi guru. Jimin benar-benar menyesali perbuatannya.

Setelah sekian lama ia memilih diam. Ingin mengerjakan tugas namun tidak bisa mengerjakan satu pun. Perasaan bersalah, omongan Jung seosaengnim yang tak satu pun ia mengerti, dan keheningan ini buatnya gila. Ia tidak tahan diam terlalu lama karena rasanya mau mati karena saking bosannya.

Akhirnya ia pun mengirimkan pesan pada sahabatnya Jungkook.

“Jungkook, aku merindukanmu”

 

 

*****

“Maaf, tapi kita tidak bisa berpacaran”

 

Kalimat itu masih terngiang ditelinganya tiada henti. Semua perkataan, ingatan tentang hari kemarin seakan tak mau pergi meskipun ia berharap untuk melupakan semuanya, bahkan kalau bisa ia ingin menghapuskan ingatan tentang Nara.

Kali itulah pertama kalinya Jungkook patah hati karena perempuan. Kali pertamanya juga ia mengalami penolakan. Rasanya sakit, namun tak ada satu cara pun yang ia temukan untuk mengobati sakit hatinya. Matanya membengkak dan air matanya terkuras habis karena sesosok kaum hawa. Ia terkulai lemas di ranjang merasa putus asa.

 

Kemarin Nara menolaknya mentah-mentah.

“Maaf, tapi kita tidak bisa berpacaran” katanya begitu.

 

Wae?” Jungkook terkejut bukan main. karena menurutnya persentase keberhasilannya nyaris 98%. Apalagi Nara selalu meresponnya dengan positif dan seolah memberi rambu untuk segera memperjelas hubungan mereka.

“Yang pertama, aku tidak pernah seumur hidupku berpacaran dengan junior. Ini kali pertamanya aku dekat dengan  junior”

“Kedua, selain dekat denganmu aku juga dekat dengan Kim Seokjin. Ia temanku satu sekolah dan ia benar-benar tipeku terlebih lagi ia sangat populer dan tidak ada gadis yang tidak menginginkannya”

“Ketiga, yang paling utama dan membuatku kesal, aku merasa kau telah membohongiku. Aku pikir kita hanya beda satu tahun. Nyatanya kau dan aku berbeda tiga tahun. Maaf tapi aku tidak bisa berpacaran dengan anak ingusan sepertimu.” Ucapnya mantap dan menjadi penutup dari tiga alasannya yang menyakitkan.

Hatinya terasa tersayat-sayat oleh pisau yang tajam mendengar pernyataan Nara tadi, ia tidak percaya Nara yang ia kenal bisa mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu tanpa memikirkan perasaannya terlebih dahulu.Terlebih lagi ia tidak pernah ada niatan untuk membohongi Nara. Ingin rasanya Jungkook berteriak sekencang-kencangnya. Namun ia hanya terdiam mengepal tangannya menahan emosi yang bergejolak di dada.

Setelah menyatakan ingin menjadi pacarnya, Jungkook memang memberi tahukan jarak usianya. Ia mengira Nara akan menerimanya apa adanya mencintai semua kelebihan dan kekurangannya. Karena usia bukanlah suatu hal yang berarti baginya.

Noona tapi sebelumnya, aku ini kelahiran 1997. Aku murid akselerasi. Jadi seharusnya aku masih kelas 3 SMP. Tidak masalah kan?” Ia berkata seperti itu sebelum insiden penolakan itu .

Tanpa meminta maaf atau setidaknya berpamitan, ia langsung beranjak dari kursinya setelah mengatakan tiga kalimat pedas itu. Ia yakin betul alasan yang sebelumnya hanya omong kosong dan alasan sebetulnya adalah alasan yang ia ucapkan urutan ketiga.

 

Jungkook terus mengurung dirinya di kamar enggan untuk memakan satu suap nasi pun dan enggan melakukan aktivitas lainnya. Kondisi fisiknya terus menurun membuat ibunya khawatir . Memang Jungkook sudah tampak dewasa seperti teman-teman seangkatannya, namun secara psikis jelas ia belum dewasa.

Terdapat beberapa pesan dari teman-temannya yang mengkhawatirkan keadaannya, ia tak membalas apapun.

Yang ia inginkan sekarang adalah waktu untuk sendiri.

****

“Nichan-ah, mianhae untuk yang tadi, kau tidak marah kan?” Tanya Jimin hati-hati setelah ia tak berani lagi bertanya pada Nichan.Nyatanya ia masih merasa tidak enak dan semakin canggung.

“Tidak kok, santai saja. Tapi ya kau harus tahu kalau aku tidak bisa diganggu kalau jam pelajaran“ Jawab Nichan. Ia pun langsung bersyukur karena Nichan sepertinya tidak terlalu memikirkannnya

Walaupun ia  menyukai jika duduk dengan Nichan tapi memang paling nyaman duduk dengan Jungkook meskipun ia sudah bosan juga lihat wajahnya yang pecicilan itu setiap hari.

Guru fisika pun datang ke kelasnya diawali dengan pembagian kelompok. Jimin langsung otomatis menutup mulutnya begitu guru itu datang sesuai dengan kesepakatannya dengan Nichan.

Ia menjelaskan kalau akan ada tugas kelompok yang akan dikerjakan berpasangan dan waktu pengerjaannya selama satu bulan. Selama satu bulan itu akan diberi satu paket soal setiap minggunya yang jumlahnya tidak sulit dan cukup sulit dan harus dikumpulkan setiap minggunya. Agar tidak begitu berat, dapat dibagi dan didiskusikan bersama pasangannya dan pada pertemuan terakhir.

Jimin langsup berharap dalam hati agar sekelompok dengan Nichan karena ia pasti akan membantu banyak karena Nichan termasuk murid yang rajin dan cerdas di kelasnya.

****

Bel pulang pun mengakhiri penderitaan Jimin selama di kelas. Menderita karena hari itu ia mengikuti kelas tanpa membolos satu pelajaran pun, tidak ada teman berbicara selama di kelas dan yang paling jarang ia lakukan adalah mengerjakan tugas. Semua yang ia lakukan semata-mata demi menarik hati yang sekarang ia sedang sukai, Lee Nichan.

“Nichan, siapa pasanganmu untuk fisika nanti?” Jimin bertanya pasangan fisika Nichan yang dikocok tadi saat mereka berdampingan keluar dari kelas.

“Sial sekali aku dapat Jeon Jungkook” ucap Nichan dengan wajahnya yang tampak tidak puas. “Eh, maaf. Aku lupa” Nichan tak menyadari kalau ia sedang berbicara dengan sahabat karib Jungkook yang tidak bisa terpisahkan itu.

“Ah tidak apa-apa tenang saja. Dia memang pemalas seperti aku, tapi otaknya wah.. lancar selancar-lancarnya” ucap Jimin tetap dengan membanggakan temannya itu.

“Kau sendiri dengan siapa?” Nichan balik bertanya.

“Sayangnya aku dapat dengan Mark” ucap Jimin dengan ekspresi sedih.

Wae? Dia kan ranking 1 lho di kelas. Pasti sangat membantu”

“Tapi dia tidak cantik. Aku ingin dengan yang pintar dan cantik agar semangat!”

“Pakaikan saja dia wig, pasti cantik!” Canda Nichan sambil terkekeh.

“Tidak, orangnya hanya Lee Nichan yang seperti itu” gombal Jimin membuat Nichan terbatuk saking terkejutnya.

“Ah iya..” Nichan pun salah tingkah dengan pernyataan Jimin yang membuatnya menjadi sedikit grogi.

“Ah Nichan! Kau pulang dengan siapa?” Tanya Jimin mengalihkan topik akibat kecanggungan diantara keduanya.

“Aku pulang sendiri”

“Mau aku antar?” Tawar Jimin dengan penuh harap Nichan akan bersedia.

“Ah tidak perlu, aku ada beberapa urusan dulu”

“Ah iya, aku juga lupa hari ini ada kumpul basket!” Jimin tiba-tiba sadar akan janjinya dengan timnya.

“Tapi tidak apa-apa kan?” Tanya Jimin lagi merasa tidak enak seolah-olah ia memberi harapan palsu.

“Iya tidak apa-apa kok!” mendengar pernyataan dari Nichan ia memberhentikan langkahnya, melihatnya Nichan ikut memberhentikan langkahnya dan sedikit terheran.

Jimin langsung menempelkan tangannya di dahi Nichan. Ia sedikit khawatir dengan kejadian kemarin dan memastikan keadaannya sekarang tidak apa-apa.

Wajah Nichan merah padam, gugup bukan main. Waktu serasa berhenti saat itu juga. Aliran darah yang kini naik ke wajahnya .

“Kamu agak panas ya, tuh merah juga wajahnya!” Kata Jimin tampak khawatir pada Nichan yang suhu badannya tiba-tiba meningkat dan wajahnya jadi memerah.

“Ah tidak.. tidak, aku duluan ya. Bye!” Nichan langsung membalikkan badannya berlari kencang karena ia malu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.

****

Sepulang sekolah Jimin langsung mencari-cari album foto masa kecilnya. Ia  memandangi foto demi foto yang menarik perhatiannya.

Ia terhenti pada salah satu foto yang sudah sedikit usang termakan oleh waktu langsung membuatnya merekahkan senyuman. Di dalam foto itu terdapat seorang anak lelaki yang merupakan dirinya dan seorang anak perempuan sedang tersenyum riang berdua. Mereka sedang duduk bersama di taman bermain kompleks yang ukurannya tak begitu luas namun terdapat banyak permainan seperti perosotan, ayunan, jungkat-jungkit yang menjadi latar belakang foto itu.

Taman bermain itu merupakan tempat paling mengesankan dan dimana cerita masa kecilnya terukir.

Go Chanhee, seorang gadis kecil yang keluargnya baru saja pindah ke kompleks mereka. Ia memiliki wajah cantik putih pucat dengan rambut panjangnya yang dikepang. Ia sering berada di taman itu namun selalu menyendiri diam bahkan terkadang menangis di ayunan taman.

Tampilannya sedikit tampak menyeramkan karena disekitaran badannya terdapat banyak lebam. Tak satu pun ada yang mengajaknya bermain. Selain karena mereka semua laki-laki mereka juga merasa seram melihat Chanhe yang menurut mereka lebih terlihat seperti hantu.

 

“Sini kuobati, jangan protes. Ini pasti sakit” Jimin merasa prihatin dengan kaki indah Chanhee yang penuh lebam itu. Ia ingin mengobati luka di lutut Chanhee dengan peralatan P3K yang ia ambil dari dirumahnya. Jimin mengobati Chanhee dengan teliti sesuai dengan yang diajarkan oleh kakaknya. Chanhee sendiri terkejut namun terkesan dengan apa yang Jimin perlakukan padanya.

Itulah kali pertama Jimin mengajak ngobrol Chanhee setelah ia memang penasaran dengan sosok Chanhee yang misterius itu.

Sejak saat itulah, Chanhee mulai berteman dengan  Jimin juga teman-temannya. Tidak seperti yang mereka bayangkan, Chanhee merupakan anak yang seru dan menyenangkan. Ia bahkan tak keberatan untuk bermain sepak bola bersama teman laki-laki lainnya. Mereka pun semakin akrab dan tak bisa terpisahkan, bermain bersama di taman merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu saat mereka pulang sekolah.

 

“Chanhee-ya!” Ujar Jimin sambil duduk dengan Chanhee di bangku taman.

“Mwo?” jawab Chanhee dengan mulutnya berlepotan es krim.

“Ayo menikah!” Ujar Jimin kecil dengan polosnya, yang ia maksud adalah ‘main nikah-nikahan’.

“Ayo!” Balas Chanhee langsung mengiyakan tak kalah antusiasnya dengan Jimin.

“Aku sudah membawa cincinnya! Aku mendapatkannya dari bonus snack  yang terbaru lho!” Jimin menunjukkan kedua cincin mainan dari plastik itu dengan bangganya.

Ia memberikan satu pada Chanhee dan satu untuknya. Jimin dan Chanhee memelakukan proses tukar cincin seperti yang  mereka biasa lihat di televisi dengan serius. Jimin benar-benar menikmati proses ‘nikah-nikahan’ itu terlebih lagi dengan gadis yang disukainya, Chanhee.

“Fotografer tolong foto kami!” Jimin memerintah temannya, Yook Sungjae yang berperan sebagai fotografer kala itu. Sungjae sengaja membawa kamera milik orang tuanya.karena diperintah Jimin untuk menjadi fotografer  pernikahan bohongan Jimin dan Chanhee itu.

“Beres!” Sungjae mulai memotret mereka berdua yang saling merangkul dengan v-sign ditangan mereka dan senyum cerah dari keduanya.

Wajah Chanhee yang belepotan es krim dan baju Jimin yang terkena lumpur menjadi bukti kepolosan mereka berdua, namun sangatlah menyenangkan.

 

Jimin berbisik pada telinga Chanhee saat mereka selesai berfoto, “Psst Chanhee-ya, janji ya kau akan menikah denganku beneran di masa depan” Chanhee balas mengangguk antusias.

Tak lama berteman dengan mereka , Go Chanhee tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Itu semua yang membuat teman-temannya sedih dan merasa kehilangan, terutama Jimin. Jimin selalu berharap agar Chanhee kembali atau memberi tahukan dimana dirinya sekarang dan bagaimana kabarnya maka dari itu Jimin selalu menunggu di taman itu sampai malam menunggu Chanhee menemuinya.

Chanhee pergi tanpa ada kata perpisahan dari pertamanan mereka yang singkat itu.

Go Chanhee, cinta pertamanya.

 

“Lee Nichan, kau itu Go Chanhee yang dulu kan?”

*****

Nichan benar-benar dibuat frustasi karena sudah tiga hari Jungkook yang notabenenya satu kelompok fisika dengannya belum kunjung hadir di sekolah. Nichan yang tidak ingin bebannya semakin bertumpuk akhirnya mendatangi kediaman Jungkook yang ia dapatkan  dari walikelasnya. Nichan baru sempat datang kesana malam hari setelah ia mengikuti ekskul. Sampailah ia di depan apartemen Jungkook di daerah Gangnam-gu. Berbekalkan kertas yang diberi oleh wali kelasnya ia menaiki lift dan sampailah di depan pintu rumah Jungkook.

Nichan memencet bel rumahnya namun tak kunjung ada yang membukanya. Setelah menunggu sebentar ia memencetnya untuk beberapa kali secara berulang karena ia yakin Jungkook ada di dalam.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya dibukakan pintu itu. Kalau Nichan boleh melakukannya, ia akan tertawa sekencang-kencangnya saat itu juga. Yang membukakan pintu Jungkook sendiri dan penampilannya hari itu benar-benar kacau. Rambutnya acak-acakan kesana kemari, matanya sembab hampir bengkak, wajah dan bajunya kotor dikotori sisa saus. Nichan jadi berpikir apa yang telah terjadi padanya.

Nichan yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya melepas tawanya yang tertahan itu.

“Sekarang aku sedang tidak ingin jumpa penggemar karena aku sedang tidak mood” Ucap Jungkook yang sedikit merasa terhina karena Nichan menertawainya dan hendak menutup kembali pintu itu.

“Tunggu, tunggu jangan ditutup!” Nichan menahan pintu yang hendak ditutup Jungkook.

“Lepaskan, cepat kamu pergi sasaeng fans!” Jungkook masih terus mencoba menutup pintunya dan juga Nichan masih mencoba untuk tetap membuka pintunya. Jungkook terus mencoba mengusir Nichan. Kekuatan super Nichan akhirnya bisa memenangkannya dari Jungkook.

“Ya! Dengar ya, aku bukan sasaeng fansmu dan itu tidak akan pernah terjadi. Aku kesini hanya untuk tugas sekolah!” Nichan melipat tangannya kesal karena pernyataan Jungkook yang terlalu percaya diri tadi.

“Kau pernah melihatku mengerjakan tugas?” Tanya Jungkook.
“Bukan itu, masalahnya kita satu kelompok maka dari itu kita harus mengerjakan dalam tim lalu..” Jelas Nichan  namun belum selesai bicara ia sudah dipotong oleh Jungkook.“Kau kerjakan saja sendiri” Balas Jungkook buat Nichan geram.

“Aku sudah banyak mengerjakannya sendiri selama kau tak ada. Mau ku laporkan pada seonsaengnim?” Ancam Nichan membuat Jungkook akhirnya menyerah.

“Ya sudah.. Ya sudah cepat masuk” Jungkook yang tak mau ambil pusing pada akhirnya menyuruh Nichan untuk masuk ke rumahnya.

Di rumahnya malam itu kebetulan sedang ada dirinya sendiri. Kalau sedang ada ibunya mungkin Nichan akan ditanya macam-macam dan akan dikira pacarnya dan Jungkook berharap itu tidak akan pernah terjadi.

Jungkook sebenarnya malas untuk menerima tamu namun kalau ia sampai tidak dapat nilai itu bisa gawat. Jungkook langsung menucuci wajahnya asal dan mendiamkan Nichan yang sudah duduk di sofa. Terlalu malas baginya untuk menyuguhi Nichan sang tamu tak diundang.

Nichan mulai mengeluarkan buku fisika yang ia bawa dari rumahnya. Jungkook pun menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Kau jangan bilang pada siapa-siapa tentang wajahku” Ucap Jungkook mengingatkan.

“Siapa juga yang mau menyebar-nyebarkan!” Balas Nichan yang memang tak tertarik.

 

Sialnya tiba-tiba listrik padam dan sekitar pun  menjadi gelap sebelum mereka mengerjakan apapun.

Jungkook paling membenci saat seperti itu. Ia mengidap phobia akan kegelapan. Jungkook memang selalu panik dan serasa tak bisa bernapas apabila ia  didalam gelap.Ia pun mulai panic dan ketakutan saat sekitarnya menjadi gelap.

“Lee Nichan cepat ambil lilin! Ambil lilin!” Nichan yang juga  tak bisa melihat apa-apa karena terlalu gelap hanya bisa mendengar suara Jungkook yang sedari tadi terus berteriak kepanikan dan terus menarik-narik tangannya.

“Aku tidak tahu dimana lilin. Ini kan rumahmu kau saja yang ambil!” Balas Nichan, Jungkook terus berteriak panik seperti perempuan

“Ah ottokhae.. ah jebal.. eomma cepatlah pulang!” Jungkook terus berujar kepanikan dan tidak mau diam menarik-narik Nichan.

“Cepat ambilkan!”

“Dimana?” Nichan tambah kesal karena Jungkook hanya memerintahnya tanpa memberi tahunya. Apalagi ini adalah rumahnya.

“Kau kalau membenciku jangan bertingkah seperti ini dengan mematikan aliran listrik”

“Aku tidak melakukannya!”
“Kenapa kau lama sekali sih?”

“Karena kau terus bicara macam-macam tanpa memberi tahukan dimana letaknya” Telinga Nichan terasa sakit dan badannya terus-menerus ditarik Jungkook membuatnya pegal.

Mereka terus berdebat dalam gelap. Nichan mencoba meraba-raba tempat dan hendak beranjak dari kursinya mencari sesuatu yang dapat meneranginya dan menghentikan si Jungkook yang kepanikan itu. Saat Nichan hendak berbalik tiba-tiba..

 

Cuup

 

Sesuatu yang lembut dan basah mengenai bibirnya. Nichan hanya terheran bingung dengan benda apakah itu yang menyentuh  bibirnya. Lama-lama Nichan mulai menyadari sesuatu.

 

“APA YANG BARU SAJA TERJADI??!!”

 

To Be Continued

 

A/N: Yeee! Akhirnya chapter 2 rilis juga dan ini bagian kesukaan aku karena… ya begitu dehh. Sebenernya ff ini belum aku edit banyak Cuma aku udah kebelet gitu pengen nge-post! >< semoga kalian suka yaa, dan semoga tambah suka! Jangan lupa tinggalkan jejak! Love you readers~

Advertisements

13 thoughts on “[BTS FF Freelance] LOVESTRIKES : For The First Time (Chapter 2) – [Chaptered]

  1. Ceritanya bagus bgt^^ d funny moment NY jg,to kl bisa penulisan Katanga diperbaikia lg^^ kl Mau baku,baku skalian j,tp kl mau menggunakan bahasa yg tidal Baku,y tidal Baku skalian j
    Kyk cerpen info gtu^^
    Ahh INI sekedar Saran j^^

    Like

    1. aaah iya gapapa kok dear biar aku bisa belajar lebih baik buat chapter selanjutnya 🙂
      cuma emang iya ini kurang editing banget karena authornya kebelet buat ngepost hehehehe soon semoga bisa lebih baik yaaa. terimakasih untuk sarang membangunnya yaaaa, jangan bosen bosen baca lovestrikes!:)

      Like

  2. Micky Jungie

    Gue ngakak masa :v palagi bagian Jimin sama Nichan waktu kecil moment keliatan bocahnya dan gue bayangin itu :v
    Thor cepet di update chapter selanjutnya! ><

    Like

    1. hihihihi aku juga suka banget sama adegan itu! truthfully itu sebenernya cuma tambahan biar agak panjang lho tapi justru yang bikin greget ya? hahaha syukurlah.
      aku emang suka banget bikin cerita yang ada cerita masa kecilnya yang lucu lucu gitu hahaha.
      makasih udah simpen jejak yaa, karya selanjutnya ditunggu okee!

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s