[Ficlet] Dia dan Interpretasinya Mengenai Hujan

Dia dan Interpretasinya Mengenai Hujan

by Naulia Kusuma

[BTS’] Jeon Jungkook & [feyrefly’s OC] Kim Nao

Angst, slight!Friendship, School-life, AU! • Ficlet • Teen

Disclaimer: Just own this plot.

.

.


Kolaborasi simfoni sederhana yang tak kalah merdu dari gubahan Frédéric Chopin−telah mencairkan kepenatan yang berjam-jam menghablur dalam benaknya; bunyi kecipak dari sepasang tungkai yang meliuk di antara kubangan likuid berlumpur, frekuensi bulir-bulir hujan yang makin meningkat, desing angin yang menyelundup lewat sekat-sekat formasi pohon elm, serta antukan jemari yang bertemu permukaan bangku. Semuanya memproduksi ritme yang menenangkan di kuping; bersua dengan lempengan dirinya yang sedari tadi tersasar dalam lingkupan hening. Adalah Jungkook, pemuda jangkung dengan kacamata tebal berbingkai metalik, yang kelewat sabar untuk menjinakkan sewujud perempuan bertempramen tinggi−Kim Nao−satu-satunya sahabat yang ia punya sejak taman kanak-kanak.

Sungguh, pemuda beriris jelaga itu tak habis pikir, bagaimana bisa Nao menyeretnya untuk tetap duduk manis di dalam kelas? Sementara, perempuan berperawakan mungil itu dengan entengnya tak mengacuhkan presensinya. Bahkan, Nao betah berlama-lama menyetor tubuhnya untuk digempur amukan hujan; terlalu asyik mengaplikasikan tarian kontemporer yang barusan resmi ia rilis sendiri. Tentu saja, ini bukan jenis tarian eksklusif hasil eksperimennya dengan sang kakak beberapa minggu lalu. Katanya, sih, ini gerakan dadakan untuk menyongsong hari berhujan di tengah deraan kemarau panjang. Dasar cewek aneh!

Barangkali, sekarang mereka sudah melesat ke kediaman masing-masing dan terlelap tanpa beban, atau malah terbenam dalam aliran euforia yang tak kunjung padam. Ya, hari ini tepat digelarnya upacara kelulusan SMA, yang berarti mereka boleh menanggalkan balutan seragam dengan kemeja putih lengan pendek dan bawahan biru kotak-kotak, plus sematan emblem emas pada saku jas bagian atas−emblem kebanggaan sekolah Astoria.

Jujur saja, belakangan Jungkook kerap merasa sentimentil menjelang hari-hari terakhirnya menjadi murid kelas tiga. Terlalu banyak hal-hal menarik yang membumbui masa remajanya−sayang sekali bila harus menggerombol jadi kenangan. Meski begitu, kabar baik tetap ada; Jungkook telah berhasil mengungguli dua kompetitor beratnya−Kim Yugyeom dan Kim Nao−dengan pencapaian skor yang patut membuatnya membusungkan dada. Dan, seketika pujian tulus tak henti-hentinya digembar-gemborkan oleh kebanyakan murid perempuan. Mungkin, itulah mengapa Kim Nao bertransformasi menjadi perempuan bengis kembali, dan memilih menyapa suatu entitas bernama hujan ketimbang melontarkan ucapan selamat pada sang sahabat. Atau…mungkinkah Nao sedang cemburu?

Mungkin. Kini Jungkook tak mungkin tahu. Ia hanya berupaya menelurkan beberapa dari sekian macam premis yang mengisolasi pikirannya.

“Nao.” Jungkook memvokalkan satu silabel; tidak begitu lantang, tidak juga begitu lirih. Tapi, cukup mengoyak atensi sang sahabat−meski sempat tersaputi kabut yang tak mudah ditembus.

“Apa?” respons Nao singkat dan datar, tanpa embel-embel nada suara bermelodis tinggi seperti biasa. Gerakan tangannya yang seolah merengkuh kelebat hujan, otomatis terhenti.

Sejemang, Jungkook melirik arloji yang melilit pergelangan tangan, seraya membetulkan posisi kacamatanya. “Sudah jam enam sore. Pulang, yuk!”

“Tidak! Kalau mau pulang, ya pulang saja. Jangan ajak-ajak aku!,” sahut Nao sarkartis, kemudian membekuk sang sahabat dengan tatapan runcing serta alis yang sengaja dibuat asimetris.

Kedua manik Jungkook membola secara simultan; sebentuk reaksi keterkejutan akan tawarannya yang ditolak mentah-mentah. Baginya, serentetan kalimat pedas yang menguar dari mulut Nao bagai sebilah pedang yang mencacah ulu hati. Well, ia terlalu sering mencicipi kombinasi perasaan tak mengenakkan ini. Namun, ia tak menyangka niat mulianya berakhir percuma; seperti sebuah fatalitas total ketika menghunjam cawan berisi madu pekat dengan gula.

Pemuda itu mengesah pelan, lalu menjejali kedua bilik paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya. “Aku cuma mau menyelamatkanmu, itu saja. Aku khawatir kamu sakit kalau terlalu lama di bawah guyuran hujan.”

Seraya menenteng sepasang sepatunya yang telah lama ia campakkan di tepi lapangan, Nao mulai mencetak langkah-langkah pasti, meski kini segenap sistem di tubuhnya melaung kedinginan−akibat terkena sengatan hawa dingin.

Tahu-tahu, Nao sudah berdiri beberapa senti di hadapan Jungkook−persis di bawah kanopi kelas−tempat sang sahabat mengobservasi segala tindak-tanduknya tadi.

Kontan, pemuda itu bergidik samar; ini adalah bagian paling krusial−beradu langsung dengan salah satu fitur yang paling mencolok di wajah Nao−manik almond-nya.

Sekerat senyum terbalur di bibir Nao; bukan jenis senyuman yang benar-benar sukarela, hanya senyuman artifisial yang menampakkan keengganan.

Tanpa basa-basi, Nao mengepung Jungkook dengan kata-katanya yang tak terduga. “Hei, coba kutanya, lebih sakit mana dipukul hujan atau menenggak kenyataan pahit bahwa kedua orang tuamu tidak bisa hadir dalam acara paling esensial di hidupmu? Padahal, kamu hafal betul rutinitas mereka, sibuk bekerja dengan alasan memperbaiki keadaan finansial keluarga. Tapi, di balik itu semua, kamu kerap juga mendapati mereka berdebat kusir, dari mulai hal-hal yang sepele sampai berkembang menjadi perselisihan alot. Dan, kamu cuma bisa tertegun di posisi semula, kamu cuma bisa jadi penonton tanpa berhak menginterupsi sedikit pun.”

Ada spasi di sana sekurang-kurangnya satu menit, sebelum Nao melanjutkan bertutur. “Jung…, hujan tidak akan sanggup menyakitiku. Lagi pula, pukulan hujan tidak seberapa bila dibanding dengan pemandangan kurang sedap yang biasa aku konsumsi di rumah; adu mulut, bunyi melengking dari perabot yang dibenturkan ke lantai, dan tidak jarang suara tangisan Mama mengiris-iris kupingku. Asal kamu tahu, aku sudah paham bagaimana cara berkawan dengan hujan. Cukup dengan menghargai kehadirannya, bukan malah merutuk tak keruan cuma gara-gara perciknya menodai ujung sepatu. Aku mengasosiasikan hujan sama halnya dengan penawar bagi luka-lukaku yang terlanjur menganga. Karena hujan seakan paham kapan ia harus luruh, tahu kapan masa-masa terburukku.”

Sial. Sesuatu yang menyerupai sensasi merinding mendadak teraktivasi dalam diri Jungkook. Serumpun kalimat sangkalan yang terakumulasi sedemikian rupa di dalam serebrumnya, kini harus terevaporasi sia-sia. Jungkook tak pernah tahu bila selama ini Nao menyimpan masalah kompleksnya rapat-rapat, ia juga tak tahu bila Nao hanya berpretensi di balik sifatnya yang dingin. Ternyata, itu hanya trik untuk mengusir jauh-jauh terkaan orang-orang tentang siapa ia yang sesungguhnya. Kim Nao punya sisi rapuh seperti hujan ketika mendapat perintah untuk berguguran, namun juga kuat seperti hujan yang menempa daratan dengan daya yang tak dapat ditakar.

Kedua sahabat itu membiarkan hening mengisi ruang-ruang hampa di antara mereka. Dan, keduanya hanya bisa melakukan satu hal; bertukar kesedihan saat mendaki level telepatik.

.

.

[end]


Cuap-cuap penulis:

  • HAALOOO…! Aku akhirnya kembali setelah hiatus selama sebulan beberapa hari, dan membawa fic-super-absurd ini -__- /katakalanlah begitu, karena ini terkesan memaksakan/
  • Ini fic pertamaku dengan cast Kim Nao /maapin aku ya, dek fey, ini Nao jadi cewek aneh di sini huhuhu ;__;
  • Dan nama sekolahnya adalah Astoria…. itu gara-gara kita bahas soal dia tadi pagi wkkwwkk :v
  • Maapin kalo bahasaku makin kaku, gegara udah lama gak nulis.
  • Hemm…selamat mengapresiasi! ^^

 

XOXO,

Nau

 

Advertisements

17 thoughts on “[Ficlet] Dia dan Interpretasinya Mengenai Hujan

  1. Aku lupa komen wkwkwk (digorok) pokoknya aku udah bombardir kakak di chat ya jadi aku gamau baca ulang lagi, baper kak, baper :’)
    Jungkook jangan baik baik jadi temen, ntar nao baper beneran kan repot. Makasih ya kanauuuuu❤💋

    Liked by 1 person

    1. Naulia Kusuma

      tadinyaa sempet kepikiran itu nao lgsug digeret aja, gapake acara manggil lembut2an wkwkwkk, cuma jungkuk kasian aja sih 😀

      Like

    1. sweetpeach98

      Ih apaan ini komentarku kepotong……. 😦

      Aku kira Nao iri sama Jungkook, eh, dia punya masalah lain rupanya padahal baru semalem aja Ji debat sama Nao……(ini gaada yang nanya)

      Kak selama ini aku jd siders kakak dan aaakk tulisan kakak bagus bgt><

      Liked by 1 person

      1. sweetpeach98

        Wkwkwk nanti di lanjut lagi perihal maz xu jidat ngablar ji juga ketiduran wkwk(dalam kondisi telinga tersumbat hetset…….)

        Like

  2. AKU HARUS JUJUR. MESKI SEMUA KARYAMU SELALU KECE BADAI HALILINTAR TOPAN DAN TEMAN-TAMANNYA. AKU SUKA YG INI.. KEREN BANGET!!!
    KENA GITU.BAHASANYA MASIH BERBOBOT TAPI RINGAN GA MUSTI MIKIR GILA GUE.
    OMAYGAT!!! REQUEST POKOKNYA!! HELLEN-JEHOP 😂😂😂😂
    MUACH..MUACH..UNTUKMUUUU

    Liked by 1 person

    1. Naulia Kusuma

      WUUUIIHHH…. KAADEL ((ikutan nginjek caps))
      wkwkkwkk….aku juga suka gaya menulisku yg ini, hehe. entah kenapa.
      Okeee…. rikuesannya ditampung yaa…
      tengs udah berkunjung, padahal aku cuma bilang ini ditonton aja jgn DIBACA, karna nantinya anda eneg sendiri dlm kebaperan (?)

      /lope-lope balik buat kaadell/

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s