[What is Your Color?] Une Autre Vie – Oneshoot

Poster FF Une Autre Vie

Judul                :  Une Autre Vie

Nama Author   :  HChra

Cast                 :  Min Yoongi-BTS, Kwon Haneul-OC

Genre               :  Romance-Sad

Length              :  Oneshoot

Rating               :  PG-15

Credit Poster    :  Hra @IFA

Disclaimer        :  Semua ide cerita adalah murni hasil pemikiran author sendiri dengan sedikit imajinasi dan permainan kata-kata. Selamat membaca untuk semuanya ^^ Comment and feedback are allowed.

Summary          : Yoongi terjebak diantara dirinya sendiri, Kwon Haneul, dirinya yang lain, dan kehidupan yang dia sendiri tidak tahu di mana dia berada.

***

 

Haneul menatap wajah datarnya di cermin. Kalau saja saat ini dia menangis, dia yakin kedua matanya akan berubah menjadi hitam akibat make upnya luntur. Tidak apa. Dia lebih rela riasannya luntur—walaupun dia harus bangun dari jam dua pagi sampai jam sembilan pagi hanya untuk mempersiapkan riasannya—daripada harus menghadapai hari ini.

Yoongi masih belum kelihatan. Haneul berharap pria itu datang dan menyelamatkan dirinya. Tidak perlu membawanya kabur seperti drama kolosal yang setiap hari ditonton ibunya. Cukup dengan mengatakan satu kalimat saja.

Aku ingin membatalkan pernikahan ini.

Harapan Haneul pupus lantaran mendengar suara ibunya dari luar. Dari nadanya Haneul tahu Yoongi sudah datang dan Haneul tidak suka itu. Seluruh anggota keluarganya merasa senang hari ini karena melepas anak gadis mereka untuk memulai hidup baru. Mereka tidak tahu kalau di dalam hati, anak gadis mereka meraung tidak karuan memohon untuk dibebaskan dari penjara waktu ini. Karena sekalipun berpikiran untuk kabur, Haneul tidak sanggup melakukan itu ketika melihat senyum yang terpancar di wajah orangtuanya. Dia hanya tidak ingin dua orang itu kecewa.

Di sini Haneul berakhir. Dia merasa raga dan jiwanya tidak lagi menyatu ketika tiga jam kemudian dia resmi menyandang nama keluarga Min. Haneul sudah mengganti pakaiannya dan duduk menatap jendela. Tatapannya kosong. Dia tidak mencintai Yoongi sama sekali. Mirisnya, dia hanya bertemu dengan pria itu semalam sebelum pernikahan ini terjadi dan itu hanya berlangsung selama dua jam.

Haneul mendengar bunyi pintu itu terbuka dan yakin kalau Yoongi masuk. Haneul bisa mendengar suara berat itu memanggil namanya dan entah mengapa seluruh tubuhnya merinding ketika mendengar suara berat pria itu memanggil namanya.

“Kwon Haneul, kau belum makan sejak pagi tadi. Turunlah agar kau bisa makan. Aku sudah menyiapkan semuanya.”

Haneul masih tidak bergeming. Dia seakan tuli dan tubuhnya tidak mau merespon. Yoongi masih menatap punggung wanita itu selama beberapa detik sampai akhirnya memutuskan untuk turun dan menunggu istrinya di bawah.

Yoongi juga tidak ingin berada dalam kondisi seperti ini. Hanya saja keadaan yang membuat dirinya menjadi seperti ini. Mana ada suami yang tidak merasa lebih sakit ketika sang istri tidak mau menatap wajah suaminya. Bahkan di cermin sekalipun tidak mau. Yoongi juga merasa sakit hanya saja dia tidak ingin menunjukkan hal tersebut.

Yoongi duduk menunggu Haneul turun untuk makan bersamanya. Tidak apa kalau Haneul tidak mau melihatnya. Setidaknya makan bersama saja sudah cukup. Yoongi sesekali melihat ke arah tangga berharap mendengar bunyi derap langkah Haneul. Tapi Yoongi tidak mendengar apapun. Kedua telinganya masih terlalu mudah untuk divonis tuli. Yoongi memang tidak mendengar langkah Haneul turun ke bawah. Dia bahkan tidak melihat ada bayangan Haneul di puncak tangga. Yoongi masih berharap Haneul akan turun sebentar lagi. Harapan itu terus tumbuh di dalam hatinya sampai dia sadar bahwa Haneul tidak akan turun untuk makan bersamanya.

Tidak akan pernah.

***

Yoongi baru saja melingkari angka 20 di kalender bergambar pantai.

Hari ini adalah hari ke-285. Dan hasilnya masih sama saja. Yoongi tidak tahu apa yang membuat dirinya bisa bertahan selama hampir sepuluh bulan ini. Sampai detik ini, Haneul masih belum mau berbicara dengannya. Komunikasi antara mereka hanya sebatas anggukan dan gelengan. Bahkan Haneul pernah memberi kode kepada Yoongi agar tidak mendekatinya ketika tangan wanita itu terluka kena pisau.

Itu semua masih bisa diterima Yoongi kecuali satu hal. Haneul tidak mau menatapnya bahkan meliriknya pun enggan. Entah apa yang Yoongi perbuat di masa lalu sehingga dia harus menerima semua perlakuan ini.

Pernah pada suatu malam Yoongi mendengar Haneul menangis. Yoongi ingin sekali masuk dan menenangkan wanita itu dengan menanyakan apa yang membuat wanita itu sampai meneteskan airmatanya. Kejadian itu sekitar sembilan bulan yang lalu. Terhitung tiga kali Haneul menangis. Setelah itu, Yoongi tidak pernah lagi mendengar Haneul menangis.

Hari ini Haneul tidak ada di rumah. Gadis itu pergi mengunjungi ibunya di Daegu untuk pertama kalinya setelah mereka menikah. Awalnya Yoongi ingin menawarkan diri untuk mengantar Haneul sekalian berkunjung juga, namun tepat ketika Yoongi membuka matanya pagi ini, sosok Haneul sudah tidak ada di rumah itu dan hanya meninggalkan sepiring pancake blueberry favoritnya tanpa catatan apapun.

Setidaknya Yoongi bersyukur karena Haneul masih sempat membuat sarapan untuknya mulai bulan kedua pernikahan mereka. Yoongi menikmati keping demi keping pancake tersebut. Walaupun ada beberapa bagian yang sedikit hangus, Yoongi menyantap sarapannya dengan senang hati.

Yoongi memutuskan untuk pergi ke kamarnya setelah sarapan. Hari minggu membuat Yoongi menjadi malas untuk keluar dari zona amannya. Yoongi memandang langit-langit kamarnya. Kosong. Setiap kali dia melihat atas, dia selalu teringat dengan Haneul. Dia masih tidak tahu bagaimana membuat Haneul menerima dirinya. Setidaknya dengan mulai tersenyum atau pun menjawab pertanyaannya.

Cukup dengan mengatakan ya atau tidak.

***

Haneul baru saja pulang. Dia meletakkan sepatu yang dia pakai di rak sepatu sebelum masuk ke dalam rumah. Yoongi yang sedari tadi di rumah saja  hanya diam dan duduk di meja makan. Haneul membuang tasnya ke sembarang arah di kursi menuju dapur. Dia mencuci tangannya lalu berjalan menuju meja makan. Haneul membuka penutup makanannya dan menemukan sepiring pancake yang dia buat tadi pagi. Pancake itu sudah dingin dan saus blueberry sudah jatuh ke dasar piring semua. Haneul duduk dan mulai makan pancake itu.

Yoongi hanya menatap Haneul dalam diam. Tidak ada sepatah katapun bisa keluar dari mulutnya saat itu walaupun pikirannya terus mencecar untuk diberikan penjelasan atas semua yang tidak dimengerti olehnya.

Suapan terakhir pancake itu membuat Haneul beranjak dan membersihkan piring itu. Haneul memutuskan untuk diam saja walaupun Yoongi meminta untuk diberikan penjelasan. Yoongi masih duduk sampai memutuskan untuk bangkit mengikuti Haneul yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

Haneul tidak memberikan komentar apa-apa ketika Yoongi berjalan mengikutinya dari belakang. Haneul membukapintu kamarnya dan menutupnya kembali. Yoongi tidak ikut masuk. Dia hanya berdiri melihat pintu kayu berwarna cokelat itu seperti sedang mengejeknya yang tidak berani masuk.

Beberapa menit kemudian, Yoongi bisa mendengar suara isakan Haneul. Seberat itukah dirinya menanggung semua ini? Apakah wanita itu begitu menderita karena terikat dalam sebuah hubungan resmi dengan dirinya? Pertanyaan itu selalu menemani Yoongi setiap hari sejak hari pertama pernikahannya.

Yoongi secara refleks mundur beberapa langkah ketika pintu kayu itu terbuka dan Yoongi bisa melihat kedua mata Haneul masih merah bekas airmata yang keluar begitu hebatnya. Rasanya Yoongi ingin menghapus airmata itu kalau saja Haneul mau menatap dirinya.

Haneul berlalu begitu saja di depan Yoongi tanpa mengucapkan satu abjad pun. Dan malam itu, Haneul memutuskan untuk tidur di sofa ditemani hanya dengan sebuah selimut tebal. Yoongi tidak mungkin tidur di ruang tamu juga hanya karena ingin menemani Haneul. Hal ini sama saja menambah poin minusnya di mata Haneul dan berhubung wanita itu tidak ingin melihat wajahnya, Yoongi memutuskan untuk tidir di kamar sendirian.

Rasa penasaran Yoongi muncul ketika tidak sengaja melihat laci di kamarnya tidak tertutup rapat. Yoongi bisa nelihat ada sesuatu dengan tali berada dalam laci itu. Perlahan, Yoongi membuka laci itu dan melihat sebuah kamera biasa berwarna biru denga  lensa depannya yang retak. Yoongi yakin ini adalah milik Haneul.

Membuka dan memainkan barang milik orang lain tanpa izin pemiliknya adalah tidak baik. Namun, Yoongi harus melanggar salah satu ajaran orangtuanya itu saat ini karena rasa penasarannya. Yoongi menyalakan kamera itu dan mulai melihat isi berupa foto-foto yang diambil oleh Haneul. Foto itu dimulai dengan foto Haneul dengan seragam SMA. Haneul sangat menyukai fotografi ternyata. Segala macam pemandangan yang menarik dimatanya dia abadikan dalam mesin itu termasuk piramid yang terbuat dari kartu.

Tatapan Yoongi lalu menjadi serius kemudian. Foto-foto selanjutnya adalah foto Haneul dengan seorang pria yang tidak kelihatan wajahnya karena tertutupi oleh tangan. Apakah dia kekasih Haneul waktu SMA dulu? Hanya itu pertanyaan yang ada dipikiran Yoongi saat ini.

Semakin ke belakang, foto Haneul dengan pria itu semakin banyak sampai sebuah foto di sebuah halte yang menunjukkan wajah pria itu membuat Yoongi kaget setengah mati. Hampir saja dia menjatuhkan kamera itu dan membuat Haneul bangun kalau refleks tangannya buruk. Segera dia meletakkan kembali benda itu di tempat semula.

Kepala Yoongi terasa sakit tiba-tiba. Dia seperti mengingat sesuatu yang tidak pernah dia lupakan. Dia seperti bisa membayangkan dalam pikirannya suatu kejadian dan mendengar suara ditelinganya. Matanya terasa berat hanya untuk melihat langit-langit kamarnya. Beberapa detik kemudian kedua matanya sudah menutup diiringi pikirannya yang masih bekerja.

Dia tidak salah melihat wajah pria di foto itu. Rasanya dia ingin mengatakan itu mustahil namun bukti itu sudah ada didepan matanya. Dia masih ingat pertama kali mengenal Haneul adalah sehari sebelum pernikahan itu terjadi. Dan beberapa menit yang lalu, dia melihat dirinya berdiri di halte bersama dengan Haneul dengan menggunakan seragam SMA.

***

Anak laki-laki itu tidak menyangka kalau lemparan bola kasti itu akan mengenai gadis kecil yang sedang membangun istana impiannya dari pasir. Karena lemparan itu, dia harus rela mendengar omelan gadis itu dan berakhir membangun kembali istana pasir yang runtuh tertimpa tubuh gadis kecil itu.

“Aku ingin ujungnya bergerigi bukan lurus. Dan juga itu, aku sudah bilang kalau aku ingin ada jendela berbentuk persegi bukan berbentuk bulat sebesar tusukan telunjukmu.”

Bocah itu menghela nafasnya berat. Sial apa hari ini sampai dia harus menghancurkan istana pasir milik gadis itu. Telinga Suga tidak tahan mendengar suara cempreng anak itu. Suaranya mirip seperti Donald bebek. Bahkan lebih parah dari bebek parau itu.

Akhirnya setelah menghabiskan waktu hampir sejam-mungkin lebih-dia selesai membangun istana itu dengan hadiah tangan dan sepatunya masuk pasir. Anak itu bangkit untuk memberitahu kalau istana itu sudah jadi. Tubuh kecilnya diam untuk beberapa detik ketika satu cone es krim rasa vanila berada tepat dihadapannya. Bahkan hidungnya bisa mencium aroma susu dari es krim itu.

“Ini makanlah. Anggap sebagai ucapan terima kasih dariku karena kau telah membangun kembali istanaku. Sebenarnya salah kau juga, tapi melihat kerja kerasmu dan aku tahu kau mengumpat di dalam hati katena suaraku, jadi aku membelikan es krim ini.”

Gadis itu menyodorkan es krim ditangannya semakin mendekati wajah bocah itu. Dia mengambil es krim itu dengan masih menatap gadis di depannya.

“Mengapa kau membelikanku rasa blueberry?”

“Karena kau adalah Suga yang memiliki rambut berwarna biru. Sama seperti warna es krim itu. Mulai saat ini aku akan memanggilmu dengan sebutan itu jika kita bertemu lagi.”

“Tapi namaku bukan itu.”

Gadis kecil itu hanya tersenyum sambil mengirimkan bahasa tubuh agar Suga segera makan es krim yang mulai mencair itu. Suga-nama panggilan dari gadis kecil itu untuk bocah laki-laki itu-yang merasa tangannya basah mulai memasukkan es krim itu ke dalam mulutnya. Suga melihat gadis kecil itu tersenyum. Gadis itu lalu berbalik dan berjalan pulang. Tidak. Suga adalah seorang pria yang tidak akan begitu saja menerima es krim dari seorang gadis kecil tanpa melakukan apa-apa.

“Setidaknya kau harus memberitahu namamu, pemilik istana pasir. Kau bahkan dengan seenaknya memanggilku dengan bukan namaku.”

Gadis kecil itu berbalik mendengar Suga berteriak cukup kencang. Gadis kecil itu hanya tersenyum sambil menunjuk langit. Lalu dia melambaikan tangannya berbalik dan berjalan pulang.

Mulai saat itu, bocah laki-laki berumur enam tahun itu menyukai segala makanan dan minuman yang berhubungan dengan blueberry. Suga tidak peduli lagi pada es krim blueberry yang mulai menetes memenuhi tangannya. Rasa lengket susu di tangannya menghilang ketika dia melihat kepangan gadis itu berayun-ayun dipunggungnya. Suga lalu menatap langit sambil tersenyum. Tanpa sadar dia menggumamkan sesuatu.

“Haneul.”

 

***

Yoongi berlari tidak karuan di sepanjang lorong itu. Dia tidak peduli sudah berapa banyak orang yang dia buat kesal karena tubuhnya menabrak dengan keras tubuh orang lain. Kedua matanya terus mencari orang yang membuat detak jantungnya saat ini menajdi tidak karuan. Dia hanya ingin meminta maaf pada jantungnya yang mungkin sudah lelah memompa darah ke seluruh tubuhnya.

Langkahnya berhenti ketika melihat dari kejauhan Haneul duduk sambil menutup seluruh wajahnya. Untunglah kalau wanita itu baik-baik saja. Yoongi baru saja ingin menghampiri Haneul kalau saja wanita itu tidak bangkit dan masuk dalam ruangan rawat.

Dalam hatinya Yoongi bertanya-tanya siapa yang dirawat di dalam sana. Perlahan Yoongi berjalan memasuki ruangan tersebut dan melihat Haneul sedang duduk sambil mengenggam erat tangab seseorang yang tengah terbaring lemah. Yoongi merapatkan tubuhnya lagi ke pintu untuk melihat siapa yang terbaring di sana.

Ketika Haneul bangkit untuk membenarkan tirai jendela dalam ruangan itu, barulah Yoongi bisa melihat dengan jelas wajah orang yang tengah berbaring itu. Yoongi membeku seketika ketika melihat wajah orang itu. Rasanya dia ingin sekali memeriksa matanya ke dokter mata di rumah sakit itu. Apakah fungsi dari matanya sudah mulai berkurang di usianya yang hampir menginjak seperempat abad tersebut?

Tidak. Yoongi menundukkan kepalanya dan memastikan sekali lagi apa yang dia lihat tadi. Matanya tidak rusak. Matanya masih baik-baik saja. Yoongi membalikkan tubuhnya dan seketika itu juga tubuhnya ambruk. Nafasnya terasa seperti mencekiknya. Dia terengah-engah melihat apa yang baru saja matanya rekam. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Semuanya terasa rancu.

Hari ini adalah hari ke – 315 pernikahannya tepat pukul tiga sore lewat dua puluh dua menit sebelas detik. Yoongi melihat dirinya sendiri terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

***

“Kau selalu menghancurkan apa yang aku buat.”

“Kau selalu membelikanku es krim blueberry setelah itu.”

Haneul mendengus sebal sambil menyerahkan es krim blueberry ditangannya kepada Suga. Suga dengan cekatan mengambil es krim tersebut dan mulai memakannya. Baru saja sepuluh menit yang lalu telinga Suga panas mendengar ocehan Haneul hanya karena tumpukan kartu yang sudah dia susun menyerupai piramida roboh setelah ditimpa tubuh Suga yang tidak sengaja didorong Namjoon.

Alhasil, Namjoon kabur meninggalkan Suga sebagai korbannya. Tanpa diberi aba-aba lagi laki-laki yang saat ini duduk di bangku menengah atas mulai mendirikan kembali piramida kartu itu dengan bantuan lem kertas dan tiupan angin. Hasilnya hanya dalam beberapa menit piramida itu jadi.

“Hari ini kau sedang gusar nampaknya.”

Haneul menatap Suga dengan meminta penjelasan maksud perkataan tersebut. Suga hanya menggedikkan bahunya dan menatap langit. Saat itu langit sedang cerah dengan matahari tepat di atas kepala mereka. Beberapa detik kemudian awan menutupi matahari yang membuat mereka bisa melihat birunya langit tanpa takut terkena sinar matahari.

“Entahlah. Aku hanya merasa sedikit aneh hari ini. Aku tidak tahu mengapa.”

“Sudahlah. Kalau kau terlalu banyak berpikir, kau bisa jadi gila.”

Haneul menatap Suga dengan tajam seolah ingin memukul laki-laki itu. Kalau saja Haneul tidak memikirkan besok mereka akan mengambil gambar untuk upacara kelulusan, Haneul tidak akan segan membuat beberapa tato tangan di wajah Suga.

“Aku rasa kalau kita bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada kita di masa depan akan menyenangkan.”

Haneul menatap Yoongi heran.

“Kalau kita sudah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan nanti, akan terjadi dua hal pada kita. Pertama, kita menjadi tidak termotivasi untuk menghadapai masa depan kita itu kalau ternyata masa depan kita baik-baik saja sedangkan kalau masa depan kita tidak sebaik yang kita harapkan kita akan menjadi kecewa di masa sekarang dan menjadi tidak punya motivasi dalam menjalankan hidup kita sekanjutnya. Kedua, kalau kau melakukan hal itu, kau berarti menyalahkan takdir yang telah dituliskan dalam kehidupanmu sejak kau lahir. Jangan berbicara yang macam-macan. Kau tahu kalau setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa jadi harapan yang akan menjadi kenyataan.”

Suga hanya menghela nafasnya sembari mengangguk paham. Namun, dalam hatinya dia masih memikirkan bagaimana kalau seandainya dia bisa tahu apa yang terjadi di kehidupan dia selanjutnya. Tentang menjadi apa dan siapa nantinya.

“Ayolah kita pulang. Kau tidak ingin ketinggalan bus terakhir, kan?”

Haneul menepuk roknya beberapa kali sampai meyakini debu bekas beton yang dia duduki tidak menempel lagi di roknya. Suga sudah siap dengan tas punggunggnya. Kebetulan rumah mereka searah dan hanya dipisahkan oleh tiga rumah jadi mereka sudah biasa pulang bersama.

“Siapa yang terakhir sampai ke halte akan membayar ongkos busnya.”

“Oke.”

Haneul memasang senyum liciknya dan berencana mengerjai Suga hari ini.

“Baiklah hitungan ketiga. Satu, dua, ti… Kau yang akan membayar hari ini.”

Haneul sudah berlari terlebih dulu sambil menjulurkan lidahnya ke arah Suga yang masih berdiri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Haneul tidak melewatkan momen ini. Tangannya sigap memegang kamera berwarna birunya dan membidik Suga yang mulai berlari mengejarnya. Haneul masih sibuk membidik sambil berlari mundur ke belakang perlahan.

Haneul sudah sampai terlebih dulu di halte bus dan melihat Suga hanya berjalan santai. Haneul rasa uang jajan Suga hari ini banyak lebihnya. Biasanya laki-laki itu tidak akan mau mengalah hanya demi naik bus gratis. Haneul masih sibuk membidik Suga dengan kameranya. Sesekali dia melihat hasilnya sambil tersenyum puas.

Baru saja Haneul ingin mengabadikan gambar Suga, sosok laki-laki itu tidak ada lagi dihadapannya. Kini pemandangan itu digantikan dengan keramaian yang membentuk lingkaran kecil. Bus mereka sudah datang tapi Haneul tidak memperdulikan hal itu.

Saat ini dia hanya ingin melihat Suga. Perlahan kaki Haneul membawa dirinya semakin dekat dengan kerumunan tersebut. Jantungnya berdebar kencang. Tidak. Dia tidak boleh memikirkan yang lain. Saat dirinya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai ke kerumunan itu, Haneul kaget setengah mati ketika pundaknya ditepuk dari belakang.

Haneul rasanya ingin berteriak sampai dia berbalik dan melihat Suga dibelakangnya. Perasaan lega segera menyelimuti dirinya. Haneul lalu melihat kerumunan itu mulai bubar. Terlihat seseorang sedang membawa anjing yang tidak sengaja tertabrak pengantar pizza tadi.

“Hei, kau tidak ingin pulang jalan kaki, kan?”

Haneul kembali mengalihkan perhatiannya ke arah Suga. Haneul menggeleng sambil membulatkan kedua matanya melihat Suga sudah berdiri di depan pintu masuk bus. Tinggal selangkah lagi dan akan berakhir Haneul yang membayar ongkos hari ini.

“Kau! Jangan berani menapakkan kakimu lebih dulu. Aku yang datang ke sini lebih dulu.”

“Lalu mengapa kau tidak masuk duluan, Nona?”

“Salahkan dirimu yang tiba-tiba menghilang.”

“Aku sudah berada di sebelahmu sekitar dua menit ketika kau masih sibuk mengagumi pose tampanku di kameramu itu.”

Wajah Haneul memerah seketika. Dia tidak tahu apakah dia harus marah atau kesal atau maulu dengan banyak mata yang melihatnya akibat mulut Suga yang terlalu lancar berbicara. Beberapa detik kemudian suara Haneul berteriak memenuhi halte itu.

Bukan karena Suga yang masuk ke dalam bus. Tapi karena suara ambruk tubuh manusia membentur beton tempat dia berpijak. Haneul berlari menuju Suga yang sudah tidak sadarkan diri. Haneul berusaha membuat Suga sadar dengan mengguncangkan tubuh laki-laki itu. Dia tidak peduli lagi dengan lensa kameranya yang retak akibat benturan keras dengan beton karena refleksnya tadi. Haneul tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Suga. Yang sekarang ada dipikirannya adalah meminta bantuan.

Haneul benar tentang firasatnya hari ini kalau ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi.

***

Pernikahan ini tidak pernah terjadi.

Yoongi sekarang tahu mengapa tidak ada satupun foto pernikahan yang tergantung di rumah ini.

Yoongi sekarang tahu mengapa Haneul tidak pernah menatapnya dengan mata hazel wanita itu.

Yoongi sekarang tahu mengapa Haneul tidak pernah berbicara dengannya.

Yoongi sekarang tahu kalau dia tidak pernah makan pancake buatan Haneul itu setiap pagi.

Yoongi sekarang tahu kalau hari itu Haneul bukan pergi ke Daegu untuk bertwmu orangtuanya.

Yoongi sekarang tahu apa alasan Haneul menangis dikamarnya.

Dan sekarang Yoongi tahu yang dia hitung selama ini bukanlah lama pernikahannya.

Dia menghitung sudah berapa lama dia koma di rumah sakit.

Jadi siapa sebenarnya dia sekarang? Atau lebih tepatnya apa yang sekarang dia alami? Apakah dia masih bisa kembali ke tubuhnya dan bertemu dengan Haneul lagi?

Dia tidak pernah muncul di kehidupan Haneul sebagai Yoongi yang hidup selama hampir setahun ini. Dia hanya muncul sebagai pikiran dirinya sendiri yang berkelana. Dia dalam keadaan setengah hidup dan setengah mati. Besar harapan dia akan tetap hidup dan besar juga kemungkinan dia akan mati.

Pertanyaannya adalah apakah dia ingin kembali atau menjadi seperti ini selamanya dan melihat Haneul seperti ikan yang hidup di daratan. Suara pintu terbuka dan Haneul masuk ke dalam ruangan itu. Ini kali ketiga Haneul datang mengunjungi Yoongi hari ini.

Yoongi berdiri di samping tubuhnya sendiri dan menatap Haneul yang membawa kamera biru miliknya. Haneul lalu dudukdi kursi dekat tepi ranjang itu. Bunyi alat pembaca detak jantung dan tetesan air infus terasa nyaring sekali di ruangan itu. Haneul menatap sebentar wajah Yoongi yang seputih salju lalu memegang kameranya. Satu per satu Haneul menunjukkan foto-foto hasil bidikannya ke arah Yoongi. Haneul tidak peduli apakah Yoongi bisa melihat foto itu atau tidak. Yang dia inginkan saat ini adalah pria itu harus segera membuka matanya.

“Kau jahat.”

“Aku tahu.”

“Kau bahkan tidak mau membuka matamu sekarang.”

“Bukan karena aku tidak mau.”

“Kau harus memiliki keinginan untuk itu. Kau harus sadar. Lihatlah kita bahkan tidak memiliki foto berdua yang bagus sejak kau memberiku kamera ini.”

“Aku tidak suka foto dengan menampilkan wajahku secara keseluruhan.”

“Aku tahu kau tidak suka foto seperti itu.”

Yoongi merasa jawaban yang dia berikan sama seperti angin lewat. Haneul bahkan tidak akan dan tidak bisa mendengarnya. Lagi-lagi Yoongi harus kalah dengan perasaannya. Haneul kembali menitikkan airmatanya. Dia ingin sekali bangun tapi dia tidak bisa. Ada sesuatu yang membuat dia tidak bisa kembali. Dia tidak tahu apa.

“Kau harus bisa. Aku rindu memanggilmu dengan sebutan Suga, Yoongi. Aku ingin membelikanmu es krim blueberry lagi. Aku ingin kau membuatkan piramid kartu lagi. Aku ingin kita berlari menuju halte. Aku ingin mengisi kameraku dengan semua kenangan itu. Aku ingin kau cepat sadar. Kau tahu sudah berapa lama kau membuat aku menunggu. Kau tahu kalau aku bahkan tidak bisa mengantri selama lima menit hanya untuk mendapatkan tiket nonton film. Kau tahu itu. Karena itu kau harus bangun.”

Haneul membenamkan wajahnya. Dia tahu dia terlihat menyedihkan saat ini. Bahkan kalau Yoongi melihatnya saat ini, dia yakin pria itu akan tertawa mengejek dirinya yang terlihat lemah.

“Maafkan aku, Han.”

Haneul mengangkat wajahnya dan melihat kalau tidak ada tanda-tanda kalau Yoongi akan sadar hari ini. Yoongi hanya menatap Haneul dan dirinya dalam diam. Dia tidak tahu apakah dia masih bisa kembali atau tidak. Tapi dalam hatinya yang paling dalam, dia ingin sekali kembali dan mengisi sampai penuh kamera milik Haneul dengan kenangan indah yang tidak akan terlupakan.

Bersamaan dengan itu, Yoongi merasa kalau tubuhnya terasa ringan sekali. Pandangan menjadi kabur. Bukan karena gelap, melainkan ada seberkas cahaya terang dan meyilaukan masuk ke indera penglihatannya. Yoongi berusaha menghindari sinar itu tapi tidak bisa. Saat itu juga, Yoongi berpikir kalau kemungkinan dia untuk kembali sangatlah mustahil.

***

Yoongi membuka matanya secara perlahan. Dia bisa merasakan udara sore memenuhi paru-parunya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tidur karena saat ini dia merasakan keningnya seperti dihantam benda keras dan itu membuat dia menjerit kesakitan.

Awhhhhh….. Apa yang kau lakukan? Kau tahu itu sakit.”

“Bagus kalau kau tahu itu sakit. Siapa yang menyuruhmu tidak mengisi perutmu sejak pagi tadi dan beraninya makan es krim dengan perut kosong. Karena pemikiran cerdasmu itu, kau baru saja membuat tubuh beratmu itu ambruk di halte.”

Yoongi masih meraba keningnya yang masih sakit sambil melihat Haneul meluapkan amarahnya. Tapi Yoongi tahu dari mata gadis itu kalau ada kekhawatiran yang mendalam.

“Syukurlah kalau kau sudah bangun. Aku tidak ingin pergi ke upacara kelulusan sendirian besok. Jadi kau harus segera keluar dari tempat ini.”

Yoongi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tatapannya kini beralih pada kamera berwarna biru yang tergantung di leher Haneul. Lensanya retak. Yoongi mengambil dan memeriksa kamera itu. Masih bisa digunakan.

“Kita harus mengambil satu foto berdua sebelum kita membetulkan lensanya. Kau tidak punya foto kita berdua dengan pose yang bagus bukan?”

Haneul mengerjapkan matanya berkali-kali terkejut. Bagaimana Yoongi bisa tahu?

“Apakah kau secara diam-diam menyelinap ke rumahku dan mengecek kameraku?”

“Sudahlah. Tidak penting aku tahu darimana. Ayo cepat ambil fotonya.”

“Aku tidak berharap latar tempatnya adalah tempat ini.”

Dan akhirnya kamera itu menyimpan foto pertama Haneul dan Yoongi bersama. Haneul tersenyum puas dengan hasil jepretannya. Yoongi yang melihat hal itu juga merasakan hal yang sama. Kepalanya masih terasa sakit. Bukan karena pukulan dari Haneul melainkan apa yang dia alami selama beberapa jam dia pingsan. Rasanya seperti lama sekali.

Keduanya lalu pulang dari rumah sakit setelah berbicara kepada dokter tadi. Yoongi memutuskan untuk menyimpan ceritanya itu sendiri. Dia akan memberitahu kepada Haneul nanti secara bertahap. Dia tidak ingin kalau apa yang dia alami selama tidak sadar tadi benar-benar menjadi kenyataan.

“Kau tahu tadi aku bermimpi. Kau dan aku menikah.”

“Iya. Itu memang hanya akan terjadi dalam mimpimu.”

Rasanya Yoongi benar kalau dia tidak menceritakan apa yang dia alami itu kepada Haneul. Gadis ini memiliki hati sekeras baja. Entah apa yang merasuki dirinya dulu bisa tahan bersama dengan gadis ini.

Ckrekkk

Haneul berhasil mengabadikan ekspresi Yoongi yang sedang kesal sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kau memang berbakat jadi model, Yoongi-ah.”

“Suga. Aku ingin kau memanggilku dengan sebutan itu.”

Haneul menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti mengapa tiba-tiba Yoongi berubah menjadi dramatis seperti ini. Apakah ini akibat dari kepalanya yang membentur beton halte tadi? Apakah dia perlu membawa Yoongi kembali ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang?

Haneul tidak menanggapi permintaan Yoongi tadi dan sibuk mencari pemandangan bagus untuk dia abadikan. Yoongi hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan mengikuti gadis itu dari belakang. Apakah Haneul yang saat ini berada dihadapannya akan melakukan hal yang sama dengan Haneul yang berada di pikiran tidak sadarnya itu? Walaupun sikap Haneul sangat berbeda dengan Haneul yang satunya, Yoongi yakin kalau Haneul yang dia kenal akan selalu berada disampingnya dan dia akan menjaga Haneul untuk tetap berada disampingnya apapun yang terjadi.

Mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan tidak seburuk yang sebagian orang pikirkan. Karena mulai dari sekarang kita bisa memperbaiki apa yang menjadi kesalahan kita di masa sekarang yang berdampak di masa depan dan mempertahankan apa yang akan membuat kita bahagia di kehidupan selanjutnya.

***

“Bagaimana kau bisa membelikanku kamera ini? Berapa banyak uang yang kau habiskan? Cepat kembalikan ke tokonya dan minta uangmu kembali.”

“Aku memberikanmu ini sebagai kado ulang tahunmu. Aku tidak pernah memberikanmu kado selama ini, jadi kau harus menerima kadoku kali ini. Anggap saja ini akumulasi kado sejak ulang tahunmu yang keenam.”

“Kalau berbicara akumulasi kau seharusnya memberikanku sebuah kapal pesiar yang mewah karena akumulasinya sudah sebelas tahun ditambah dengan ini. Baiklah aku anggap kamera ini sebagai jaminan atas kapal pesiar itu.”

Haneul menggantungkan kamera itu dilehernya sambil menjulurkan lidahnya ke arah Yoongi. Yoongi hanya tertawa saja mendengar apa yang diucapkan Haneul. Yoongi bukannya tidak tahu kalau Haneul sedang girang dalam hatinya. Kamera itu sudah lama Haneul incar dan Haneul harus menelan pil pahit ketika ingin membeli kamera itu ternyata sudah habis di mana Yoongi adalah pelaku yang mengatakan kalau benda itu tidak akan berguna. Hal itu  membuat Haneul kecewa sampai gadis itu tidak pernah membelikan eskrim vanila untukknya selama dua minggu.

Nyatanya, Yoongi tidak ingin membuat Haneul membelinya sendiri. Yoongi ingin memberikan kamera itu kepada Haneul. Bukan tanpa alasan Yoongi memberikan kamera itu. Yoongi yakin kalau Haneul akan membawa lamera itu kemanapun dia pergi. Karena itu, Yoongi ingin Haneul terus mengingatnya setiap saat dimanapun gadis itu berada ketika gadis itu melihat kamera itu.

***END***

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Une Autre Vie – Oneshoot

  1. Hyeri17

    Aku baca ff ini untuk kedua kalinya. Terakhir kali aku baca sekitar bulan Mei dan ff ini aku save karna aku mau baca lagi suatu hari dan hari ini tepatnya. Aku kaget masa ff sebagus ini gaada yg. Comment 😦 ini bagus banget! Aku suka jalur ceritanya dan gabanyak orang yang kepikiran buat ff ini. Kalimatnya juga enak dibaca. Maaf thor baru meninggalkan jejak. Keep writting ya thor! Good luck! 🙂

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s