[BTS FF Freelance] I AM YOURS – Chapter 1

ImYours

I AM YOURS (1)

A fanfiction by; coolbebh_

Cast : Min Yoongi, Park Narin (OC)

Genre : School life, Semi Comedy.

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Author note’s : Hai. Ini author baru nih yang masih belajar, butuh bimbingan dari kalian semua. Makasih udah pingin buka FF ini walaupun kalian males bacanya /hikss. Semua yang saya sajikan adalah dari pikiran saya tanpa unsur plagiat hehe.. dan member BTS adalah milik saya bukan BIGHIT /plaaak!

.

.

.

Happy Reading~

 

Sinar surya mulai menghangatkan alam yang tengah terasa dingin ke sekujur tubuh mereka dibalutan selimut tebal. Cahayanya menelusup menembus tirai berwarna hijau tosca. Menghangatkan ruangan disertai kenaikan suhu secara berangsur-angsur secara alami tanpa bantuan manusia, hanya Tuhan-lah yang melakukan semua ini. Matanya yang masih terpejam tak mengindahkan panggilan buatannya sendiri yang sempat ia rencanakan otomatis tadi malam. Ia meraba-raba nakas disebelahnya mencari sebuah jam weker kesayangannya itu, sayangnya bohong. Segera mencari tombol  ‘OFF’  untuk menghentikan ocehan yang memuakkan telinga. Tanpa ia sadari, ia membuka mata sekaligus memfokuskan indra penglihatannya pada jam dinding dekat rak buku di depannya itu.

 

Untuk saat ini ia masih mengumpulkan nyawanya dengan mendengkur pelan yang masih tercekat di sela-sela kerongkongan. Gelengan kepalanya secara cepat itu menyadarkan kembali si arwah sadarnya itu. Ia bergegas beranjak dari kasur dengan mengambil sebuah handuk yang lusuh dengan robekan-robekan kecil dimana-mana. Tanpa memperdulikan jam dinding yang tengah menunjukkan angka 06.34 KST. Tungkainya itu mengantarkan jiwanya yang memang setengah sadar ke tempat kamar mandi. Oh, dasar pemalas!

 

Setelah melakukan acara pembersihan tubuhnya secara santai namun singkat. Dengan sigap membereskan buku-bukunya untuk materi pelajaran saat ini, sungguh ia tahu bahwa ia bukanlah murid yang rajin, sok berlaga pintar di hadapan orang lain. Tidak, itu bukan dirinya.

 

****

Aku melangkahkan tungkaiku sendiri pada tumpuan lantai putih nan dingin ini. Menyusuri koridor  yang berjejerkan kelas yang tampak di gandrungi anak muda seumuranku. Mereka menatapku dengan sinis, mungkin. Dan aku tak perduli akan hal itu. Itu hak mereka, karena.. persepsi  orang ‘kan beda-beda. Bukan begitu? Aku bukanlah seorang lelaki special disini, menyandang status orang penerima  beasiswa yang menguntungkan bagiku, walau kadang ‘sih. Mungkin ini adalah penyebab mereka menjauhiku tanpa sebab dan akibat. Well, aku memang anak.. miskin? Kentara bahwa orangtuaku adalah seorang …

 

Bosan rasanya jika hidup monoton seperti ini, tak mempunyai arah hidup yang memadai tanpa cita-cita yang jelas. Aku adalah seseorang yang sedang melupakan masa kelamku dimana mereka selalu disampingku tanpa aku panggil. Saat ini aku berjuang dalam keadaan sedikit mengenaskan –merapihkan semua serpihan remuk hatiku  yang ingin aku tata kembali tanpa hancur tertiup dengan kekosongan. Tidak. Itu tak boleh terjadi.

 

Ketika diriku tengah  dibaluti pikiran yang  melayang kesana kemari, terbesit di memori otakku tentang – Ah,sudahlah. Hidupku memang mengenaskan melebihi zaman jajahan ratusan tahun yang lalu.

 

BRUGH

“Akh!”

Tubrukan yang membuat diriku terpental dan membuat dirinya terjatuh dalam berserakan buku dihadapannya kini membuat diriku terpaku sesaat tanpa memperdulikannya yang menatapku dengan perangaian tak suka.

“Ya! Yoongi-ssi. Kau akan terus berdiam diri disana tanpa membantuku, huh?” Aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi yang memadai. Tanpa uluran tangan ataupun hal yang lainnya. Tubuhku mendadak melengos begitu saja tanpa memperdulikan dirinya yang mengoceh. Dasar gadis cerewet!

“Yoongi! Hei!” Ku dengar ia berteriak memanggil namaku dengan keras membuat semua orang yang menatapku berbisik ngeri. Ia memang gadis pengundang kesialan dan kerusuhan. Aku tak tahu olahan pikirannya itu, dimana aku ada, disana batang hidungnya pun muncul tanpa diundang. Ketukan sepatunya terdengar cepat menghampri indra telingaku, ia berlari sangat kencang tak memperdulikan apa yang dilakukannya saat ini.

“Hei! Bisa tidak kau lebih menghormati wanita?”

Aku memberhentikan jalanku,  tanpa  menolehkan wajahku seinci pun. Menghela napas sebentar dan berlalu meninggalkannya lagi.

“Yoongi-ssi. Apakah kau tuli, huh?” getaran hatiku terbangun sudah menguarkan panas yang membara di jiwaku. Dan itu membuatku menghentikan lagi perjalananku ke kelasku yang sudah terpampang mata.

“Ada apa?”

“Minta maaflah kepadaku, karena kau sudah menubruk tubuhku sampai sesakit ini.”

“TIdak mau. Kau yang tak melihat jalanan tadi sehingga kau terjatuh. Mengerti?” ia berdecak pelan, memutar bola matanya malas. Tungkainya itu menghampiriku yang berjarak beberapa meter dengan kepalan di tangannya.

“Apa kau bilang? Dasar anak–“ bibirnya bergetar mungkin menahan amarah yang meluap karena sikapku padanya. Oh hei, bukankah ini salahnya? Dasar wanita, menyusahakan saja hidupku.

Ku akui, aku memang egois terhadap orang lain, benteng yang dulu hilang terbangun kembali di jiwaku ini karena suatu hal. Termasuk keadaan yang kini dunia tak mau bersahabat lagi denganku.

 

+++

Tenggorokanku serasa tercekat untuk mengucapakan sesuatu padanya, dia benar-benar laki-laki yang tak tahu diri dan tak berpendidkan rupanya. Aku baru tahu di dunia ini ada sedingin itu melebihi es. Mentang-mentang dia pintar, seenaknya begitu? Sinting! Ku lihat dia melangkahkan lagi tungkainya menuju kelas yang memang sekelas denganku. Amit-amit. Berlagak sok’ keren membuatku muak. Lebih kerenan Taehyung si ‘anak kelas sebelah’ yang memang rupawan. Uuuu… mantap, bisa-bisa memanjakan mata setiap hari. Andai dia sekelas denganku, mungkin.. diriku bisa rajin belajar tanpa disuruhpun, tapi itu bohong!

Min Yoongi. Menyebutnya saja sudah ingin muntah, aku tak bisa memangggil namanya jika terpaksa. Kalau tidak.. tenggorokanku seketika batuk kronis. Mungkin sih. Ku pandang dia dari ambang pintu dengan  mataku yang memanas. Ia hanya berlaga santai tak memikirkan kejadian tadi yang hampir membuat kakiku terkilir. Tidak lucu ‘kan seorang putri dari kayangan sakit karena hal sepele? Itu.. terdengar tak lucu. Eaaaaaaa

Yoongi menatapku kala diriku menatapnya tanpa kedipan sedikitpun padanya, jangan berpikir bahwa diriku menyukainya ya? Cinta klasik takkan terjadi di kehidupanku dengan dirinya, kecuali.. si pangeran tampan sekolah ‘Taehyung’. Owh.. membayangkan saja sudah melayang semua jiwaku ini, benar-benar yaa..

“Heh, gadis gila! Kau tersenyum dengan siapa? Makhluk halus? Atau kau.. Jangan-jangan kau menyukaiku, iya ‘kan?”

Apa? Menyukainya? Itu tidak mungkin. Tipe idealku bukan anak yang kucel bin kumel seperti dia. Sudah sipit, pucet lagi.Dia seperti tak pernah membersihkan diri seperti diriku, minimal seperti diriku–luluran, gitu. ‘kan biar lucu…

Aku menghampiri dirinya yang tengah mendengarkan musik dengan sambungan earphone putihnya itu. Dasar si mata sipit, kulit pucat seperti pocong. Makluk dingin!

“Coba sekali lagi Yoongi katakan!” ia bergeming, menggumam sesuatu lagu yang di dengarnya. Diriku yang pusing karenanya membuat tanganku refleks mencopotkan earphone-nya yang menggantung  bebas di telinganya secara kasar.

“Aw..! apa yang kau lakukan bocah tengik?”

“Apa kau bilang? bocah–“

“Hei! Bisa diam tidak ‘sih? Kalian setiap hari selalu begitu saja, seperti Tom & Jerry saja. Awas, lho. Bisa-bisa kalian saling suka.”

“ITU TIDAK MUNGKIN, BANTET!” dia terperangah kaget karena memang kami membentaknya dengan keras, membuat seisi kelas ini memandangku dengan sinis. Aku  dan Yoongi menatapnya tajam dengan mengepalkan tangan di sejajar paha. Dia benar-benar tak punya akal, sembarangan berbicara saja. Tanpa mencerna kembali. Huh.

“Itu buktinya. Berbicara saja berbarengan. So sweet…”

“Ya! Jimin, awas saja jika kau berbicara lagi seperti itu akan kucekik kau tanpa ampun.” Ujar Yoongi menghamprinya yang tengah menyalin buku catatan seseorang. Ia bungkam. Menatap Yoongi ngeri, takut-takut jika dia benar-benar melakukannya. Memangnya Yoongi punya keberanian seperti itu? Ku rasa tidak.

Kali ini adalah hari tersialku di sejarah kehidupanku. Aku lelah, lebih baik mendudukan kursiku dengan punggung di letakkan pada penyangga di belakangku tanpa memperdulikan Yoongi yang masih meremas kerah Jimin ‘si Pendek’ itu. Kasihan juga sih. Yahh.. walaupun katanya Yoongi hanya berbeda satu senti saja dengan Jimin. Kapten basket kok bekek. Ppppfffttt!

“Ya! Ampun Yoongi. Aw.. sakit. Aku minta maaf, itu hanya bercanda jangan dimasukkan ke hati.” Suara aduhan dari mulut Jimin terdengar lagi dan membuat ruangan kelas riuh menghampiri mereka di belakang dekat loker. Membuat aku menoleh ke belakang tempat Yoongi tengah mengepalkan tangannya bersiap-siap melayangkan pukulan telak. Ku kira dia tak benar-benar me–APA?

“Ya! Yoongi! Apa yang kau lakukan?”

Suara itu berasal dari ambang pintu yang di gebrakan tanpa basa-basi. Membuat mataku terpaku sesaat dan mengedipkan mataku tanpa henti. Malaikat penolong sudah datang rupanya. Dia.. berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Yoongi yang memang tak memegang kerah Jimin lagi.

“Taehyung…” semua murid perempuan di kelasku memanggil dia dengan kagum, terhiuk-hiuk merdu bak’ siulan burung dalam pagi hari. Pandangan mataku terasa berbinar ketika melihat punggung Taehyung yang kekar tak lupa sembulan otot bisepnya dibalik almamater hitamnya. Uuuu… seksi, bro!

“Ikut aku!”

“Apa urusanmu denganku, Kim Taehyung? Cari masalah denganku?” Yoongi dengan lantangnya berbicara seperti itu, menghapus semua jaraknya dengan rahang yang sedikit menengadah ke atas. Tatapan sipitnya itu membuat Taehyung terdiam. Yang pasti Yoongi mendecakkan lidahnya terdengar samar di indra pendengaranku.

“Pecundang!” Yoongi melengos begitu saja dengan tubrukan bahu kanannya pada Taehyung. Perangnya gak rame ah.. Ya, minimal ada saling jengut-menjengut gitu, kan’ keliahatan lucu.

“Yoongi!” ucapku.

“Apa?”

“Kau mau kemana?”

“Bukan urusanmu!” Kembali ke kenyataan bahwa ia memang dingin seperti es. Mereka semua menghampri Taehyung, kecuali aku. Yang kenyataannya memang aku hanya menatapnya dari bangkuku saat ini. Tatapannya itu lho yang kasian. Dug ser-dug ser gitu. Nanar pokoknya.

*****

AUTHOR POV

Angin sepoi-sepoi mengalunkan jiwa  dengan tenang. Helaan napas beratnya membuat embun mulutnya menguar pada permukaan di sekitarnya. Ia memasangkan kembali earphone-nya yang masih tersimpan pada saku celananya. Tempat ini yang membuat dirinya  tenang, walaupun tak setenang di surge nanti. Toh ia lebih mementingkan ketenagan daripada suasana objeknya. Semua masalahnya tak mebuat terhapus begitu saja dengan uluran detik. Butuh waktu yang panjang untuk mengubur kenangan tadi yang mengusik kehidupannya.

“Aku tak percaya lagi padamu, Kim Taehyung. Seorang pecundang kelas kakap.”

Ucapannya itu membuat menimbulkan guratan kecil di sebelah bibirnya. Ia kemudian mendengarkan lagi slauan music yang dirinya tengah di putar. Rooftop membuat dirinya bebas tak terganggu oleh oranglain. Seperti saat ini yang memang dia sedang mengendalikan diri dari emosi. Tak perduli bahwa dirinya kembali membolos di jam pertama atau selanjutnya, yang terpenting kepenatannya berangsur menghilang.

“Yoongi!” Merasa terpanggil oleh sesorang di belakangnya tak membuat dirinya itu menolehkan kepala seinci pun. Dirinyalah tak ingin terganggu oleh siapapun, dan mengapa seseorang yang telah menghnacurkan hatinya itu kembali menyapanya disela-sela detik penenangan. Tanpa terbesit sedikitpun bahwa dirinya harus membalas semua omongan kosongnya itu. Takkan pernah percaya lagi.

“Persepsimu itu salah besar, Yoon..”

“Dan aku percaya bualanmu?! Sinting!” Kali ini ia membalas percakapannya dengan sinis. Tatapannya itu mengundang aura panas di sela-sela atsmosfernya. Yoongi tersenyum miring padanya, meremehkan semua penjelasannya yang dianggap haluan biasa. Tanpa ia sadari –lawan bicaranya- menatapnya dengan nanar dari segala responnya. Semua yang ada di dalam pikiran Yoongi adalah salah besar. Ia tak melakukan hal itu, hal yang membuat sahabat lamanya tak meras empatik lagi padanya.

“Jangan bahas lagi masa lalu, aku lelah. Pergi dari sini, jangan pernah menyapaku dari detik ini juga. Kita, aku dan kamu adalah sepasang musuh!”

“Yoon..”

“PERGI!!!”

Oke kali ini ia harus menuruti semua perintahnya. Tak ingin memperkeruh suasana yang telah ia buat sendiri. Yoongi yang keras kepala, Yoongi yang tak berperasaan muncul kembali setelah ia usik. Salah, ia memang salah.

“Jangan lupakan kita masih bersahabat, Yoon.. Aku pergi.”

Gemuruh di dadanya membuat tubuhnya bergetar. Yoongi lemah akan hal ini, semua memorinya kembali terngiang bak’ film yang sedang di putar. Ia mengusak rambutnya dengan kasar merenggut semua rambutnya yang akhir-akhir ini rontok. Pikiranlah yang membuat dirinya seperti orang gila. Kentara seperti itu ia masih waras.

“Yoongi.”

“Apa?!”

Oh.. Yoongi terlalu tenggelam dalam lautan kelam. Ia kira bahwa orang dibelakangnya itu seseorang yang telah memulaikan percakapan beberapa detik yang lalu. Tatapannya yang datar tak dapat mengindahkan semua suasana sepi sunyi saat ini.

“Guru Jung–“

“Aku tahu. Pergilah.”

“Jika tidak kau di skors, Yoon–“

Yoongi menghela naps sebentar dengan tatapannya yang kesal sekaligus terganggu. Ia menatapnya tajam yang tak membuat lawan jenisnya merasa takut.

“Jangan pedulikan aku. Apa jangan-jangan kau ada maksud, huh?”

“Tidak.”

“Bohong. Buktinya kau bisa tahu aku sedang ada disini.”

“Kim Taehyung yang memberitahu padaku bahwa dirimu ada disini. So.. jangan keGE-ERAN.”

Dadanya mulai naik turun mendengar sebuah nama yang terucap oleh bibirnya itu. Ia benar-benar merasa bahwa dirinya tengah terpojok seolah-olah dia adalah makhluk lemah, butuh bantuan orang lain. Tidak Yoongi tak seperti itu. Ia kuat. Ia tangguh.

“Bilang padanya jangan mengumbar ketenanganku!” ucap Yoongi sinis.

“Siapa?”

“Dia.”

“Siapa?”

Lagi-lagi ia mendelik, benar-benar tak mengerti ucapannya itu, huh? Sialan. Dan lawan bicaranya hanya menampakkan kedataran yang membosankan. Terlihat ‘kamseupay’ eww..

“Ya! Yoongi, siapa?” Yoongi melengos berebalik berjalan menuju pintu rooftop, tak memperdulikan ocehannya yang tak berguna. Lebih baik menenangkan diri di belakang sekolah dekat taman. Atau.. di ruangan kesehatan juga boleh, pikirnya.

“Yoongi! Tunggu aku.”

 

TBC

Halo maaf garing, author abal-abal beraksi melatih tulisannya yang absurd naudzubillah /hoeeekkk/ minta krisarnya pemirsahhh… Yuhuuuu! Untuk lebih lanjut boleh hubungi aku di akun twitter @coolbebh_ di follow yaaa ARMY! LOVE YA

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] I AM YOURS – Chapter 1

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s