[What is Your Color?] Difference Between Blue – Oneshot

difference between blue

“Difference Between Blue”

Written by Leesinhyo Genre sad , hurt Length │Rating general

starring by Kim Seokjin and Kim Ae bi (OC) │

Disclaimer: I only own the plot and oc, jin is army’s  

Summary:

“Presepsi birumu dan biriku berbeda jauh,

bertolak belakang tepatnya.

Terlalu indah untukmu dan terlalu pilu untukku.”

 

“Mau mendengar ceritaku?”

Seorang dokter tengah bercengkrama dengan pasien spesial yang memiliki berjuta cerita. Entah itu cerita penuh makna, cinta, tawa ataupun tak bermakna, Seokjin tetap suka tanpa harus dipaksa mendengarnya. Gadis pengguncah tawa yang membuat Kim Seokjin tak melepas sedetik sia-sia untuk tak membalas senyumnya. Bukan orang asing, Kim Ae Bi adalah adik kandung dokter kepercayaan rumah sakit di dataran Seoul ini. Terlahir dengan manik hazel yang bukan main memikat, serta rona pipi yang menagih untuk dicubit. Berbaur tawa dalam sejuknya pekarangan belakang St Mary Seoul ̶ salah satu rumah sakit terbaik disini. Dua makhluk itu tengah berbaring menikmati cipta beludru biru yang membentang di angkasa luas. Gemericik air yang mencipta ketenangan menjadi salah satu lantunan yang mengisi waktu kala itu. Lelaki berjas putih dengan senyum simpul menjawab singkat.

 

“Tentu.”

 

Gadis itu menarik napas dan berkata sekali hempas. “Kok jawabnya jadi singkat-singkat begitu sih?” Protesan Ae Bi menimbul senyum pada wajah dokter disampingnya, megucal rambut Ae bi yang susah payah disisirnya, kemudian mengeluarkan sedikit deham tawa.

“Sekarang kenapa kakak tertawa?” Gadis itu mendengus lagi, membuat Seokjin tak tahan menghujami pipi apelnya dengan sekali dua kali cubit.

“Baiklah, kan kujawab yang panjang untuk adik yang sangat kucintai ini. Seharusnya kau tak bertanya cinta, kau kira daritadi aku mendengar apa? Bukankah sejak setengah jam yang lalu kau bercerita tanpa hentinya? Berceritalah, aku akan mendengar semuanya.” Kali ini Ae Bi tidak mendengus melainkan terbahak mendengarnya, setelah itu kembali bercerita.

“Aku akan serius kali ini.” Seokjin membenahi posisi tidurnya, tak lagi memerhatikan langit, dan menyerong menghadap wajah Aebi yang sudah bukan main seriusnya.

“Jangan lihat kesini, pandang saja langitnya!” Kembali pada posisi awal lelaki itu mendengus, ada saja maunya anak satu ini, ulas benaknya sembari terkekeh.

“Aku belum pernah cerita bukan kalau aku sangat suka memandang langit?” Seokjin mengangguk. “Langit favoritku itu yang sekarang terbentang, warnanya biru. Tak sebiru laut, tapi menenangkan hingga mampu membuatku kalut. Hampir tiap siang aku memandangi langit di jendela kamar, kau tau kenapa?” Jeda cukup lama menunggu jawaban sang dokter, tetapi Ae Bi tetap menunggu hingga ia berkata, “Karena kau suka warna biru?” Dengan itu Ae bi tertawa.

“Kau itu dokter macam apa? Tentu saja kalau yang itu, yang lainnya bodoh. Sungguh mutlak kalau jawabannya seperti itu.” Seok Jin berpikir lagi, Ae bi menunggu kembali.

“Karena biru itu menentramkan hati bukan?” Tebaknya kali ini agak percaya diri  merasa bahwa jawaban keduanya agak berbobot. “Bisa dibilang begitu.” Kali ini Ae Bi menghargai jawaban kakaknya sekalipun belum seratus persen tepat di hatinya.

“Saat aku melihat langit, aku merasa tidak apa-apa, seperti tidak terjadi apa-apa. Sekalipun aku masih cukup muda, aku selalu merasa lebih muda ketika melihatnya. Entah mengapa, birunya langit menghempas semua ornamen yang membebani otakku, seperti meraup racun yang terbenam di ulu hatiku. Aku merasa sangat baik-baik saja. Selama masih ada penenang diatas sana, langit berpendar cahaya sang surya aku akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir soal apa-apa.”

Seokjin tak tau lagi pembicaraan ini arahnya kemana. Semenit sebelum gadis itu mengungkap rentetan kata penuh tanya itu, ia tengah bercerita soal lelucon yang menggeledah humor tinggi milik lelaki bermarga Kim ini. Tetapi di menit berikutnya gadis itu membuat ia berpikir seribu kali mengenai makna yang terselubung dalam ucapan adik manisnya. Kini hening tercipta, Ae Bi bukan menunggu respon, melainkan bersiap diri melanjutkan opininya mengenai langit yang ia elu-elukan namanya.

“Kau tak akan bosan melihat langit sekalipun hamparan biru itu kadang menampakan hal yang sama saja setiap jengkalnya.” Hazel gadis itu bergerak menyusuri langit tak berlekuk, tersenyum kemudian menarik napas dalam-dalam, membiarkan paru-paru menghempas karbon dan mengganti dengan sang oksi. Seokjin menatap lekat gadis berperawakan lugu yang masih tak dapat melepas senyumnya, membuat ia ikut terbawa suasana. Sungguh tenggelam dalam cinta, lelaki di jagat raya mana yang akan mendapatkan Ae Bi sang dewi permata?

“Langit kausa kita selalu bersama kak, meskipun aku jauh entah dimana dan kau disini entah sedang apa, langit tetap menyatukan kita, dan oh ya ̶

“Kau itu sebenarnya bercerita apa? Aku bingung dengan permasalahan ceritamu kali ini, apa kau tengah menceritakan riddle dengan pilihan diksi yang sangat membuta eoh?”

Gadis itu tertawa lagi, agak menggulingkan tubuhnya kekanan dan kekiri membuat lelaki bernotabene “oppa” disebelahnya mendekap gadis itu dalam pelukan yang ia tak tau hangat atau tidak. Namun demi Ae Bi, sang kakak akan mengusahakan kehangatan dalam pelukan tersebut, bagaimanapun caranya.

“Kau petakilan sekali sih.” Seokjin mempererat pelukannya, membuat Ae Bi bergerak memposisikan tubuh munggilnya senyaman mungkin. Tak memprotes, gadis itu diam berharap sekon berhenti, berharap waktu tak lagi ada. Biarkan Kim Seokjin dan Kim Ae Bi menikmati masa tak terkira. Tak usah pikir panjang sedetik lagi akan ada apa, mereka hanya ingin berpelukan erat dan selalu bersama. Sialnya, Ae Bi tak dapat menahan napas lebih lama, ia benci wangi lavenderia khas kakaknya.

“Kalau saja parfummu kau ganti, aku akan lebih betah disana.”

Protesan adiknya menimbulkan Seokjin mendengus tubuhnya sendiri. Ia rasa wangi lavenderia baik-baik saja, sangat menyejukan malah. Tapi sepertinya sejak segumpal darah, Ae Bi sudah tak dapat mentolerirnya.

“Mari berdoa agar kita selalu dapat melihat langit biru bersama! Aku akan merindukannya. Apa operasi itu berjalan lama?” Kembali pada kenyataan awal bahwa mereka tengah menunggu jadwal operasi berlangsung, Seokjin berdeham.

“Maksimal enam jam, sesudahnya kan kutemani kau melihat langit biru esok hari. Jangan lupa berdoa cuaca besok penuh sinar mentari.”

Kini sunyi kembali tercipta, hanya tarikan napas dari keduanya yang terdengar. Pekarangan halaman belakang rumah sakit memang santapan wajib penghuninya. Seperti kata Ae Bi,kau akan merasa, “ tidak apa-apa, baik-baik saja.”

Dimenit berikutnya Seokjin mengambil posisi duduk setelah kurang lebih sejam berbaring menemani sang pencinta langit biru. Hazel milik gadis itu tertangkap obsidian Seokjin, mengulas sebongkah senyum yang Ae Bi harap akan ia selalu bisa lihat.

“Walaupun bibir mu tidak biru seperti langit, tapi sama persis menenangkan sepertinya. Setelah langitu biru, senyum mu kedua favoritku. Setelah itu senyum ibu, sayang sekali dua tahun ini hanya dapat melihatnya lewat figura. Bagaiamana kabar ibu ya? Ayah pasti tengah merindu di ruang kerjanya. Setidaknya kita semua terhubung sebab langit biru favoritku ini. Tidak salahkan aku memilihnya dibanding senyum mu kak?” Diakhiri tawa, Seokjin mengisyaratkan Ae Bi untuk mengambil posisi duduk. Kemudian lelaki itu mundur beberapa kali untuk mendapati punggung Ae Bi dalam pandangannya. Memijat bahu gadis itu pelan, membuat sang empunya merelaksasikan tubuh mencari kehangatan. Sungguh momentum yang rasanya ingin Ae Bi ulang berkali-kali jika ada waktu senggang.

Omong-omong waktu senggang, Ae Bi bersyukur bisa punya urusan dengan dokter Seok Jin satu ini. Tak harus dijelaskan bukan? Sebetapa sibuknya lelaki berparas cantik ini? Tak ambil jam rumah sakit disatu tempat, melainkan dimana-mana, ditempat orang membutuhkannya. Bersyukur Seokjin lekas pulang dari Somalia yang berada di Tanduk Afrika, menemui adik tercinta untuk jadi dokter pribadinya. Sungguh merindu Ae Bi padanya kala ia harus mendiami Afrika yang panasnya seberang panci menguak luka bakar. Sungguh khawatir bukan main tiap jamnya Ae Bi menelpon soal keadaan sang kakak. Tapi syukurlah, Seokjin baru saja memeluknya tanda mereka tak hanya disambungkan oleh bentang langit biru kesukaan gadis Kim, melainkan bersama menikmatinya, dalam satu bentang rumput, dalam pandang yang sama. Ae Bi bersyukur tak terhingga, setidaknya masih ada Seok Jin yang akan menemaninya selepas enam jam diruang operasi untuk menikmati langit biru kala esok hari.

“Dokter Kim, ruang operasi sudah siap. Hendaknya kita mulai sekarang agar sterilisasi alat masih benar-benar fresh.” Seorang suster menghampiri kedua makhluk itu. Seokjin menyudahi pijitannya, mengulurkan tangan untuk membantu bangkit sang adik.

Fighting!” Ae Bi memekik, membuat Seok Jin bergidik, cempereng sekali gadis satu ini.

“Kau juga!”Seokjin membalas singkat.

Pintu yang keduanya sama-sama resahkan, pintu ruang operasi. Dokter berharap cemas, serta pasien yang berpasrah lemas. Setidaknya Ae Bi tak harus menimbun khawatir tinggi-tinggi berkat sang dokter yang akan menanganinya bukan orang asing, melainkan kakanya sendiri, Kim Seokjin. Keduanya memakai busana yang sama, biru pastel, warna langit favorit Ae Bi, tapi kali ini ia agak bergidik mengenakannya. Memutuskan berbaring terlebih dahulu kala para suster yang akan ikut serta menanganinya berbenah, ia menarik napas kembali, mencoba menghilangkan ketegangan yang mencekiknya.

“Sesuai keinginanmu, bius total.”

Seokjin mengacungkan suntik yang dulu kala berumur tiga tahun Ae Bi takuti. Tapi diumurnya kini, suntikan sudah jadi sahabat karibnya. Ae Bi berucap, sebelum sang dokter memberikan sinyal akan segera menyuntik, “Kalau operasinya sudah selasai kau harus cerita apa makna biru bagimu kak. Jangan lupa janjimu melihat langit biru bersamaku ya?” Seokjin menjawab dalam balut maskernya.

“Pasti Bi, Pasti.” Setelah itu gadis dalam ranjang berpendar cahaya lampu itu hilang kesadaran, dan operasi dimulai.

-o0o-

“Kim Seokjin, gagal melakukan transplantasi jantung untuk Kim Ae Bi. Kau sudah berusaha keras, jantung pendonor adalah sebab dari kegagalan operasi ini. Semoga pasien dapat beristirahat dengan tenang, sebagai pimpinan saya turut berduka cita atas kepergian pasienmu.”

Seharusnya enam jam adalah waktu maksimal operasi ini berlangsung. Tak dapat Sekojin terka, kala jantung baru tersemat dalam tubuh Ae Bi, bukannya berdetak, namun detaknya sirna sekejap saja. Dua jam kemudian ia mengerahkan kemampuan yang ia bisa untuk membuat jantung baru itu berdetak, namun tepat pada waktu yang telah delapan jam terhitung, air matanya bergulir deras. Kala para suster mencoba menghentikan aksi sang pimpinan operasi bahwa operasi telah selesai dengan hasil gagal. Sungguh mengenaskan.

“Dia bukan sekedar p ̶ pasienku. D ̶ dia adikku..”

Sungguh rasanya Seokjin ingin mati, mengganti posisi adik yang ia cintai. Ia merasa menjadi dokter terbodoh di dunia yang tak bisa menangani pasiennya. Tak seharusnya Ae Bi ditanganinya, tak seharusnya ia mengambil resiko besar ini, resiko kehilangan. Sekalipun Seokjin tau ini bukan kesalahan totalnya, tapi memang takdir yang ada, dan operasi tak selalu berbuah hasil gembira, tapi ia ingin mati rasanya. Mati ditangannya, Seokjin menahan tangis kala menutup jahitan sang adik, ketika harus kembali kepada realita bahwa pasien yang ia tangani sudah tak lagi mendenyutkan nadi.

Sudah banyak pasien yang gagal ia selamatkan jika membahas dinasnya ke Somalia. Tapi kali ini ia menangani adiknya, entah Korea mengalahkan panasnya Tanduk Afrika, hati Seokjin bak dipanggang, matanya bak diusap besi panas, ia menangis tak terkira.

“Seokjin-ah , kau adalah pria dewasa, tak patut kau menangis seperti orang gila. Ayah sudah bangga kau ada ketika ia membutuhkanmu, sekalipun hasilnya tak sesuai keinginan. Namun tuhan sudah menata semuanya, jangan buat Ae Bi sedih. Kau itu lelaki jantan yang adikmu kenal bukan eoh?”

Giliran ayahnya mengucap sederai kata, menahan tangis sebisanya. Pertama ibu, kemudian satu-satunya wanita dikeluarga juga ikut pergi meninggalkan dua lelaki itu. Berarti, sang penggeledah tawa yang seharusnya sisa satu, Kim Ae Bi, sekarang tak ada lagi. Tak ada lagi tawa dirumah, hanya Seokjin dan ayah yang sibuk dalam ruang pikir masing-masing.

Menelan kenyataan pahit bukanlah keahlian lelaki satu ini. Jas hitam rapi terpatri, ia yakin Ae Bi akan memekik kegirangan kala ia meneganakannya. Langkah pilu tercipta dalam kelabu, hari itu tak seperti doa mereka tempo lalu. Sinar mentari tak mau berseri, kini hujan membasahi. Guntur bising yang menguak lebih dalam luka sang pria yang tengah memandang lekat gadis bergaun putih dalam kotak kayu yang ia benci namanya. Jika saja hanya dapat disebut peti, Seokjin tak harus menelan saliva dalam-dalam untuk mengucapakan kata keduanya ̶ mati, ya, peti mati. Pemakaman bukanlah diksi yang asyik untuk didengar tetapi Seokjin tengah melakukannya, bukan mendengarnya, maka ia harus pergi kesana. Teramat lambat sekon bergerak, seperti tercekat dalam putaran, waktu tak mau bergerak. Sungguh tak dapat diajak kompromi oleh hati, Seokjin kini hanya ingin mati.

Rinai hujan masih merintik halus, menyebabkan tetesnya terlekat rapih pada kaca café yang tengah lelaki itu diami. Tiga jam lalu dipekaman bak bertahan kelaparan selama tiga minggu lamanya. Syukur setelah pemakaman tadi sang mentar kembali seusai doa Ae Bi. Seokjin tak lagi meniti air mata, berusaha setegar mungkin menancapkan wajah tak apa-apa. Ingat perkataan manis Ae Bi “selama masih ada langit biru yang membentang..” Ya, Seokjin tak apa. Ia akan baik-baik saja.

Menarik secarik kertas pada tas hitam legamnya, mulai mencoreh pena dari kantongnya. Kertas itu bagai hati pria yang usai mengurus surat resign-nya itu, ia mengungkap semua rasa, semua tanya, semua pilu yang tengah melanda. Ia harap setelah ini ia baik-baik saja. Ia menjawab pertanyaan adiknya.

Panggil saja aku bajingan yang gagal menyelamatkanmu.

Hai Bi, baru kehilangan mu saja aku sudah ingin mati saking rindunya. Korea lebih panas daripada tanduk Afrika sebab kau yang hilang begitu saja.

Soal presepsi biru bagiku, biar kujawab agak panjang kali ini ya? Biru bagiku sangat berbau kedokteran, setelah semua ini terjadi aku benci menjadi dokter, bisa kau simpulkan bahwa ini adalah penyesalan. Aku membenci baju ruang operasi, benci tirai UGD yang semuanya dilingkup nuansa biru. Bantal, seprai, semuanya biru. Sebab biru bagiku tak sama denganmu. Setelah kau hilang aku membenci biru, kecuali langit biru sebab kau menyukainya. Biru bagiku adalah pilu Bi, sumpah ngilu aku dibuatnya. Aku tak lagi menjadi dokter Bi, jadi pengamat langit saja sepertimu, kan kutulis buku soal gadis pecinta biru, tokohnya tentu saja kamu.

Maaf panjang lebar begini Bi, aku sangat rindu padamu. Tadi siang aku melihat langit biru, sekarang sudah ungu. Kurasa kau juga melihatnya kala biru, aku merasa ada deham tawa disebelahku , eoh apa aku gila? Sepertinya ya. Biru jadi pilu tanpamu. Aku rindu, sumpah rindu.

“Iya Bi, Biru jadi pilu tanpamu..”

END

Cuap : Gak tau mau ngomong apa, tapi yang nulis bahkan didn’t got the feel, ugh am I that bad at writing? Fine. Thanks whoever read this, I love you ^^

 

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Difference Between Blue – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s