[BTS FF Freelance] Evening Breeze (Vignette)

koper

 

A gabang fanfic

From Plural Keulleus

Evening Breeze

. A Vignette . Teen . Au, psychology, friendship .

.Bts’s Kim Taehyung here with You.

I own the plot!

Kau ingin memikirkan apa yang ia pikirkan, tertawa apa yang ia tertawakan, menangis apa yang ia tangisi, dan merasakan apa yang ia rasakan. Kau bisa melakukan itu sehingga ia takkan merasa tersingkirkan.

You know, it’s hard to keep this secret for my self.
And  laughing  was curing me even if it just for a while.

 

Dia tidak pernah kehilangan selera humor. Yah, paling tidak ketika mood-nya benar-benar buruk, matanya tak pernah menunjukkan kesedihan yang dirasakannya; eye smile-nya takkan pernah padam apapun yang terjadi.

Memang kau tidak pernah tahu kapan mood cowok itu naik, dan kapan turun. Mood-nya memang tidak stabil, selalu berubah-ubah. Meski begitu, kau tahu gejala yang menandakan dia akan  berulah kembali.

Pertama, dia diam sambil memerhatikan orang lain bercerita. Kedua, suaranya yang memekik semakin meredup. Ketiga, cowok itu keseringan tidur.

Kau selalu menemukan dia berulah ketika bolpoin kesayangannya tak ditemukan, sampai ketika pujaan hatinya tak datang ke club. Namun kembalilah ke konteks awal tadi, selera humor takkan pernah sirna dari  pandangannya.

“sepeda Taehyung sudah rusak gara-gara ia menabrak tiang telepon dulu. Kau tahulah, kebiasaannya benar-benar tak dapat diubah.” ujarmu tiba-tiba.

Pagi itu, ketika umurmu sepuluh tahun, dan umur dia dua belas tahun, kau benar-benar tak tahan untuk tidak menceritakan kejadian memalukan cowok itu tahun lalu. Alhasil keenam kawanmu tertawa terbahak-bahak, sambil mengubah atensi mereka pada dirinya. Namun apa?

Sahabatmu itu; dia, ikut tertawa sampai matanya berair.

Namun kau tahu bahwa tawa itu telah terbuang bukan pada tempatnya; menyisakan kegelisahan ‘ada apa’ dalam dirimu terhadap dirinya.

 

    When i was alone, i was afraid if many terrify things  emerging  from my self.
    It always makes me glad, but now i knew that it was wrong.
    It damaged my self.

Malam itu memang tak pernah bisa kau lupakan; usiamu tujuh belas tahun, dan dia sembilan belas tahun; ketika dia sendiri di rumahnya, dan kau bersedia menemaninya; waktu kau tahu akan segalanya.

Badai salju tak kunjung reda bahkan saat kau sudah setengah jam duduk menonton tv bersama cowok itu. Kalian sama sekali belum berbicara sejak dia menyuruhmu untuk duduk bersamanya di atas karpet Lion King-nya.

Kau tahu sahabatmu itu tidak fokus pada serial kartun yang disuguhkan salah satu saluran televisi tersebut, tawanya bahkan beberapa menggema saat kejadian tak lucu ditampilkan; kebiasaan memang, namun kau tahu dia akan bereaksi berlebihan lebih dari malam itu.

“kau nonton apa sih sebenarnya, Tae?”

Kau pun akhirnya bertanya pada dia, setelah beberapa kali berdebat dengan batin. Netramu terkunci pada sosoknya, mengikuti gerak-gerik cowok itu. Namun dia hanya menoleh, menjawab apa-adanya, “Larva bodoh.”

Cengirannya yang biasa masih tak lepas ketika kau mengecilkan volume televisi, “oh, Taetae, ayolah! Ada apa?”

Dia beranjak, bilang tidak apa-apa, kemudian pergi ke dapur setelah pamit untuk mengambil beberapa camilan.

Cowok itu berbohong, dan kau tahu hal itu. Buat apa dia meneleponmu malam-malam, dan memohon untuk ditemani  di rumahnya?

Kakimu ikut berdiri setelah lama menunggu cowok itu, kau tentu tidak tahan akan semuanya, jadi kau memutuskan untuk menyusulnya ke dapur, dan memutuskan untuk mendesak sahabatmu itu.

.

.

.

Dia di sana.

Meringkuk di lantai, bersakit perut menggeliat tak karuan.

Dia sakit?

Kau bertanya dalam batin, kalau-kalau dia benaran sakit.

.

.

.

Tidak, dia tidak sakit.

Dia menangis. Bergumam tidak jelas saat sudah kembali duduk.

Kau tahu dia tak menyadari keberadaanmu.

Sahabatmu itu berkata apakah camilan ini sudah basi atau belum.

Namun kau heran, bertanya-tanya dengan siapa dia berbicara.

Kau tahu itu benar-benar ada dalam dirinya. Beberapa kali kau menemukan sahabatmu menggeliat di lantai seperti malam itu. Dan beberapa kali juga dia kalang kabut karena kau pergoki.

    Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya.

    Seperti memeluk angin malam, nyaman namun tak pernah bersahabat untukmu.

    Aku tahu ini salah.

    Salah untuk berpura-pura tak ada yang salah dari diriku.

    Namun nyatanya aku menciptakan banyak masalah.

    Kau tahu itu, sementara aku terus-terusan melakukannya.

    Meski aku membenci itu,

    Mengapa aku tetap kembali memeluk angin malam ini?

 

End.

 

-MD : Maladaptive daydream: suatu kondisi psikologi di mana seseorang dapat melamun berjam-jam setiap harinya karena terjebak dalam khayalannya sendiri, sampai-sampai dia dapat berbicara, tertawa, menangis sendiri. Pada umumnya, para pengidap MD melakukan ini karena kesepian, atau karena terbawa alunan musik, atau film yang baru saja ditonton.

   

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Evening Breeze (Vignette)

  1. sweetpeach98

    Taehyung-a!!! akh ceritanya keren banget thor aku suka aku bisa merasakan ituuu >< itu tae berasa cam lagi jadi larva :3

    bagus cuma mungkin lupa ngasi italic di 'eye smile' nya overall nice fic~

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s