[What is Your Color?] The Red Balloon – OneShoot

The Red Balloon

 

The Red Balloon

Angst – Hurt – family

Oneshoot [1851 Words]

PG-13

All member BTS – Nyonya Kim [OC] – Kim Yujin [OC]

Hanya ini yang bisa ku persembahkan untuk terakhir sebelum aku mulai fokus pada UN ku – Yoo!!! FF ini murni hasil karyaku, dilarang keras bro buat ngeCopas!! – Maafkan daku jika ada perkataan atau ketidaksukaan dalam cerita ini, juga atas kesamaan nama atau (mungkin) ide cerita.

 

Mataku buta, karena hanya abu-abulah yang dapat kulihat. Ke daun telingaku seolah-olah Tuhan memberikan jentikan, kini aku tuli tak pernah bisa mengerti apapun yang di pikirkan orang lain. Bahkan kurasa kelumpuhan tengah bersinggah pada pita suaraku, yang kini membuatku diam membisu.

.

.

.

.

RSCM

Present

Senja basah oleh rinai hujan ketika sebuah pertarungan kecil diantara kami terjadi. Rintikan gerimis yang mengalir di pelipis wajah beserta bulir merah yang diam-diam terlukis di sudut bibir.

Sebuah tangis yang tenggelam di dalam derasnya hujan diiringi rintihan kemarahan begitu jelas kudengar darinya. Lelaki dengan rambut orange itu tak henti-hentinya memukul wajahku, tergambar jelas garis amarah pada wajahnya.

Hanya diam membuatku terlihat sebagai seorang pengecut atau mungkin memang itu benar adanya. Tetapi membalas beberapa pukulan darinya, akan membuatku semakin terlihat menyedihkan. Karena puluhan bahkan ratusan pukulan pun tak kan bisa merubah arah lorong gelap pikiranku yang telah buntu tersumbat jutaan rasa sesal ini.

Jimin—teman terbaik yang pernah kumiliki—menghentikan pukulan miliknya, menarik kerah bajuku kasar serta menusuk mataku dengan segenap rasa sakit miliknya. Bulir bening yang telah lama di pendamnya itu pun terus berlari keluar melintasi setiap lekuk pada wajahnya yang sendu, seolah rasa sakit yang dimilikinya tak kan pernah berhenti menyiksanya.

Neo!!!” teriaknya marah memekakkan bendungan telinga yang tampak jelas dari gejolak api kemarahan pada matanya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini?!” kini ia mengguncang tubuhku kasar memaksa membuka mulutku, atau mungkin juga hatiku.

“Kau tau betapa putus asanya diriku, Taehyung-ah. Melihatmu seperti ini, aku tak tau lagi apa yang harus kulakukan…” berhenti, kau hanya perlu berhenti untuk mengkhawatirkanku Jimin-ah. Aku juga melihatnya, rasa keputus-asaanmu akan diriku. Jadi kumohon berhenti—.

“…tapi” ia semakin menarik kerah bajuku menunduk perlahan membenamkan wajah di balik tangannya.

“Aku takkan pernah mungkin bisa meninggalkanmu…” kulihat tubuhnya bergetar hebat, meski ia berusaha bersembunyi di balik tangannya. Tapi aku bisa melihatnya, rasa sakit itu.

“…oleh karena itu komohon…” suara seraknya itu pun kini melemah, “kumohon padamu, Taehyung-ah…” samar-samar kudengar suara miliknya yang tenggelam akan siraman gerimis yang membasahi kami.

“…berhentilah melukai dirimu”

.

.

“berhentilah, Taehyung-ah…”

.

.

“…Taehyung-ah”

.

.

“TAEHYUNG-AH!!!”

Kelopak mataku perlahan terbuka, silau abu melesat masuk menusuk kornea bening mataku. Buram, samar-samar kulihat seseorang tengah berdiri tepat di depan pintu. Seorang wanita paruh baya yang amat berharga di hidupku, seorang wanita paruh baya yang ku panggil Ibu.

Ia menatapku dengan wajah paniknya yang dengan cepat melesat menghampiriku, jemari lembutnya yang mulai mengkeriput itu menyumbat dalam derasnya cairan pekat dengan sebuah handuk yang kini di penuhi rembesan noda merah.

Baru kusadari ketika aliran darah segar yang tak henti-hentinya jatuh menitikkan nodanya di lantai yang tengah banjir tersiram oleh derasnya air, lagi-lagi aku melakukannya. Ketika kurindu akan spectrum di dalam cahaya sempurna yang memperindah objek pandangan mata, karena silau abu-abu yang menumpuk menghambatnya masuk di mataku.

Abu-abu.

Ketika semua yang kulihat hanyalah abu-abu, tanpa kusadari lagi tubuhku memberontak dengan sendirinya. Melukai, menghancurkan, serta menyakiti. Tak pernah bisa kucegah seolah tubuh ini bukanlah milikku lagi.

Kulihat ibu dan adikku yang kini tengah sibuk merangkulku, membantu membawaku ke kamar. Adikku memberikan sebuah selimut tebal untuk menghangatkan tubuhku. Sedangkan ibu, aku hanya bisa melihat ia menelepon seseorang dari balik punggung kurusnya yang bergetar tanpa bisa memastikan ekspresinya.

Kau menangis, bu?

Gempa kecil pada tubuhnya pun kini terhenti, selang semenit ia terdiam kemudian berbalik menatapku. Jelas sudah, sembab menghias kantung mata indahnya.

Kini ia menghampiriku, menatapku dalam seolah ia tak kan pernah bisa melihatku lagi. Memelukku erat, begitu erat seolah tak  ingin melepaskanku.

Ibu, ada apa denganmu?

Aku masih di sini, aku tak akan pernah meninggalkanmu. Jadi kumohon, jangan menangis lagi.

Ibu merenggangkan pelukannya, kembali menatapku. Sebuah senyum pahit terhias pada bibir tipisnya, ia kemudian membelai pelan rambutku, menatap penuh arti setiap lekuk wajahku. Sebelah tangannya menggenggam erat lenganku, hingga ia tersadar.

“Kau bisa masuk angin, tunggu sebentar eomma akan mengambilkan bajumu.”  Ujarnya dengan wajah sendunya.

Jujur, melihatnya begitu membuatku merasa amat berdosa. Melihatnya membendung tangis di siang hari dan menumpahkannya pada malam hari, membuatku terlihat begitu kejam, bahkan di mataku sendiri.

Selang lima belas menit setelah aku berganti pakaian, ada yang datang membunyikan bel rumahku. Kulihat ibu dengan cemas membuka pintu rumah, kemudian sibuk berdebat dengan seseorang di balik daun pintu.

Oppa…” aku menoleh mendapati adikku Kim Yujin tengah menatapku, tatapan yang sama ketika ibu menatapku tadi.

Ia kemudian menarik tanganku mebantuku berdiri dan membawaku bersamanya. Semakin dalam semakin tak kumengerti, ia membawaku berjalan keluar rumah. Kini ku dapati beberapa orang yang tadi berdebat dengan ibu, mereka yang tak ingin kulihat lagi.

Yoongi-hyeong, Hoseok-hyeong, Namjoon-hyeong, Jungkook, serta sahabatku Jimin. Kulihat lagi ibu yang berada diantara mereka, semuanya yang kini menatap nanar diriku.

Apa maksud dari semua ini?

Ada apa dengan kalian semua?

Tiba-tiba saja dua orang yang baru kusadari keluar dari sebuah mobil putih mendekatiku. Aku menoleh bingung kearah mereka yang saat ini menahan kedua lenganku.

Apa-apaan ini? apa yang kalian lakukan padaku? lepaskan!!

Aku berusaha melepaskan genggaman kuat mereka pada lenganku, aku semakin bingung karena mereka bahkan tak mengidahkan perkataanku.

Lepaskan!! KEPARAT!! Apa yang kalian lakukan!!

Tubuhku meronta kuat, berusaha lepas dari cengkeraman kuat mereka. Rasa takut menyelimuti jiwaku, rasa panas memupuk bendungan di mataku. Sekilas ku lihat mereka yang hanya diam menatapku.

Apa yang kalian lihat? Cepat bantu aku!!

Tapi mereka bahkan tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Aku sangat takut. Lalu kulihat lagi seseorang yang sangat kuharapkan menolongku.

Ibu? Apa yang sedang kau lakukan?

Menangis? Apa kau pikir dengan menangis maka orang-orang ini akan melepaskanku?

Oh Tuhan! Cobaan macam apa ini yang kau berikan padaku? Orang-orang yang sangat kusayangi kini justru menjerumuskanku?

Tangisku kini pecah, rasa sakit menjalar hingga ke otakku. Panas rasanya hati ketika semua orang tak lagi menganggapku. Tubuhku diam, patuh pada orang-orang yang akan menyiksaku. Aku menurut masuk ke dalam mobil mereka, masuk ke sebuah benda yang akan membawaku ke tempat penyiksaanku. Hanya duduk diam di dalamnya, membiarkan semuanya berlalu.

Lagi-lagi aku menoleh ke arah mereka, hanya untuk terakhir kalinya. Di sanalah aku melihat sesosok bayangan yang amat dalam ku rindukan, seseorang yang merubah warna sekitarku menjadi silau abu-abu.

Hyeong, benarkah itu kau?

***

 

Mataku terbuka menatap nanar sinar abu-abu mentari yang memaksa masuk, menusuk kornea hingga menyentuh halus pupil mataku. Sejauh mataku memandang, semuanya masih sama.

Bersandar di sebuah ruangan bersudutkan empat dengan fasilitas apa adanya, sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah tempat tidur yang kini ku tempati. Akan tetapi itu semua hanyalah sebuah hiasan tak berwarna bagiku.

Mataku buta, karena hanya abu-abulah yang dapat kulihat. Ke daun telingaku seolah-olah Tuhan memberikan jentikan, kini aku tuli tak pernah bisa mengerti apapun yang di pikirkan orang lain. Bahkan kurasa kelumpuhan tengah bersinggah pada pita suaraku, yang kini membuatku diam membisu.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Ketika orang yang amat sangat berarti di hidupku, orang yang selalu bisa kepercaya kapanpun, dan orang yang amat kurindukan kini telah pergi meninggalakn jutaan bekas dalam angan.

Ketika semua orang yang kupercaya tak kan pernah menyakitiku, justru menjatuhkanku dalam sebuah siksaan.

Lalu siapa yang kupunya?

Siapa yang harus kupercaya?

***

 

Kakiku melangkah menelusuri tiap jejak abu-abu di hadapanku. Tak lagi di kawal oleh penjagaan ketat 24/7 seperti biasanya, bebas melangkah selama masih di dalam penjara putih ini.

Kini aku berdiri diam, terpaku akan sesuatu yang tak pernah kupercaya akan datang. Sekilas kulihat ia datang, membawa sebuah balon merah.

Merah?

Mataku membulat tak percaya, bulu romaku bahkan bergeming. Seakan menusuk ulu hati membuat ngilu di dadaku. Samar-samar warna kembali menghias pandanganku, selang detik kemudian kembali abu-abu.

Otakku masih tak mengerti bahkan di selimuti rasa tak percaya. Aku menunduk menatap kedua telapak tanganku, abu-abu. Semuanya kembali abu-abu.

Kedua telapak tanganku bergetar mengakibatkan gempa kecil yang menjalar pada punggung lebarku. Rahangku mengeras, kedua tanganku tak kalah mengepal kuat hingga kurasakan kukuku menusuk kulitku.

Ku angkat kepalaku, bersama dengan mata yang siap mencari bayangnya. Tak lagi kudapati dia di hadapanku. Menoleh ke segala arah, menelusuri setiap mata memandang tapi masih tak kutemukan.

Hyeong, kau dimana?

Sekilas ekor mataku menangkap sebuah baying merah, tanpa pikir panjang kakiku melangkah mengejarnya. Tak mengidahkan adanya penjagaan di sekitarku, aku berlari melesat mengejar mereka—Hyeong dan balon merah itu.

Kakiku terhenti, napasku tersenggal membuat debar hebat pada aorta jantungku. Lagi dan lagi, aku kehilangan jejak mereka.

“Taehyung-ah…”

Samar terdengar suara yang amat ku rindukan, sontak membuat kepalaku menoleh dan tepat mendapati sekilas bayangan merah itu. Kaki yang tak perlu ku suruh itu pun dengan gesitnya melangkah, berusaha mengekor jejak bayang merah itu.

Gelap.

Tanpa ku sadari, langkahku membawaku ke sebuah tempat yang gelap. Sulit ku jejakkan kaki ketika pandangan yang ada hanyalah silau gelap tak bermakna, hingga ku temukan sebuah titik putih di ujung sana. Samar-samar mataku dapat memandang karena silaunya yang menusuk kornea.

Memicingkan mataku berusaha melihat jelas pemandangan di depanku. Sangat jelas, mataku membulat melihatnya.

Hyeong tersenyum menggenggam balon merah itu, sebelah jemarinya seolah memanggilku. Tanpa pikir panjang lagi, ku langkahkan segenap tenagaku berlari mengejarnya. Walau silau terang yang dengan cepatnya lagi menusuk pupil mataku, sangat terang membuatku tak bisa melihat apapun.

.

.

.

Perlahan…

…silau itu menghilang. Perlahan pula buram yang menyelimuti pelupuk mataku meredam. Perlahan tapi pasti aku bisa melihat jelas semuanya.

Kau benar, semunya.

Bulir bening tanpa kusadari menampakkan diri di ujung mataku. Rasa tak percaya menggebu riuh mengalir dalam nadiku menusuk masuk ke dalam aorta jantung hingga menghasilkan beribu dentuman keras yang bahkan dapat kudengar dengan telingaku. Sesak menjalar di cabang paru-paru, rasa tak percaya ini mungkin bisa membunuhku.

Baru ku teringat akan spectrum merah yang membawaku ke sini. Ku tolehkan mataku memandang sekelilingku, dan lagi tanpa diduga aku berada di sebuah atap yang tinggi.

Hyeong, kau dimana?

Mataku masih mencari, hingga akhirnya ku temukan bias merah itu.

Sebuah balon merah.

Ku langkahkan kaki mendekatinya. Perlahan. Seolah tak ingin bersamaku, balon itu berjalan mengikuti angin.

Hingga membawa langkahku ke ujung beton pembatas, mataku masih tak lepas darinya. Balon merah itu terus berjalan bersama angin tak mengidahkan keberadaanku.

Kini aku terdiam berdiri di atas beton pembatas, hanya memandang balon merah yang semakin lama semakin menajauh. Terbang tinggi hingga hilang di balik senja.

***

 

“Taehyung-ah…”

“Nae, hyeong?”

“Jika saja… suatu hari nanti hyeong lebih dulu pergi ke surga menyusul appa, apa kau akan baik-baik saja di sini tanpaku?” tanya Jin kepada adiknya yang masih berumur lima tahun.

Hyeong akan pergi bertemu appa? Benarkah?! Bolehkah aku ikut, hyeong? Aku sangat merindukan appa…!!” seru Taehyung kegirangan dengan wajah polosnya.

Jin menatap Taehyung nanar, kedua sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum tegar mendengar celoteh polos milik adiknya itu. Rasa takut semakin menyelimutinya, jika saja suatu hari nanti adiknya harus merasakan hal yang sama seperti dirinya kini.

Tangannya menyentuh pucuk kepala Taehyung, mengacak pelan helaian rambutnya. Sebuah senyum getir lagi-lagi terhias di wajah sendunya. Tak mudah memang, kehilangan seseorang yang amat disayang di usianya yang masih terbilang amat muda. Ditambah lagi ia adalah anak lelaki tertua dalam keluarganya, mau tak mau ia harus mulai membantu ibunya menggantikan ayahnya.

“Taehyung-ah…” ujar Jin pelan menatap Taehyung penuh arti.

“Hm?” gumam Taehyung dengan pipi bulatnya yang dipenuhi angin serta bibir tipisnya yang sibuk meniup sebuah balon berwarna merah.

“Jika hyeong pergi menyusul appa…” Jin menarik balon merah yang berusaha ditiup Taehyung lalu mengambil sebuah pompa angin dari dalam sebuah kotak, memasukkan ujungnya ke dalam bibir balon.

“…kau harus berjanji padaku satu hal” ujarnya mengikat ujung bibir balon yang sudah penuh terisi angin kemudian melilitkannya dengan sebuah benang.

“berjanjilah kau tak kan pernah menyusulku pergi sebelum saatnya tiba…” Jin memberikan balon merah itu kepada Taehyung.

“…dan ingatlah aku akan selalu menjadi kekuatanmu”.

FIN

Advertisements

2 thoughts on “[What is Your Color?] The Red Balloon – OneShoot

  1. aput

    aku suka… tapi??? aku bingung dengan ceritanya? taehung di bawa kerumah sakit/ rsj? trus akhirnya taehyung dia terjun apa nggak?

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s