[What is Your Color?] Brave – Vignette

Brave

Brave

 

Storyline by hinatsu

With Jeon Jungkook of BTS and other minor cast(s)

Vignette|Hurt/Comfort, Friendship|PG-15

I own nothing except the plot.

Happy reading!

 

.

Kata orang, lambang keberanian itu merah. Tapi untukku, dedaunan jauh lebih berani daripada bara api.

.

Kembali ke dunia nyata, aku mengerjap. Seluruh tubuh serta badan mobil ini bergoyang kala menapak jalan terjal. Bisu menghias suasana, tak ada satu pun dari mereka yang ingin memulai percakapan.

 

Aku mendengar kalimat yang diteriakkan seseorangㅡ jauh dalam ingatan. Seperti hal yang melebur di udara. Dekat, namun tak pernah terjamah.

 

“Senior,” panggilku entah pada siapa. “Bagaimana… perasaanmu?”

 

Semua yang ada dalam mobil menggeleng, tenggelam pada diri sendiri. Kelam menyelimuti bagai aura gelap. Walau semua terlihat baik, tak bisa dipungkiri bahwa semua makhluk di sini kacau.

 

Aku pun begitu: berharap agar semua amanat yang kuemban dapat diampuni.

 

Hening berlanjut begitu lama, aku tak dapat memastikan. Kendati jam digital terpampang jelas di monitor mobil, rasanya semua begitu samar.

 

Badanku terdorong ke depan seiring berhentinya laju kendaraan. Seniorkuㅡyang sedari tadi mengatup bibirㅡberanjak turun sambil memanggul tas berat.

 

Tenda-tenda hitam berdiri di atas bukit. Di depan kamp kami, sebuah benteng berdiri agung tanpa takut diterjang badai.

 

“Jeon.” Salah seorang senior menghampiriku. Ia menunjuk dua batang kayu yang berdiri tegak tepat di tengah kamp.

 

Berpayah-payah aku menyembunyikan panik yang menelusup. “Itu…”

 

“Aku tahu, Jeon.” Ia menepuk pundakku. “Kita akan lalui ini bersama. Aku, kau, juga lainnya.”

 

Frasaku tercekat di tenggorokan. Berusaha membersihkan suara, aku berseru, “saya belum siap, Senior Kim!”

 

Kim Taehyung tersenyum hingga matanya menghilang; menyisakan tiga garis lengkung terlukis di wajah. “Tak ada yang siap untuk ini, Jeon.”

 

Ia menepuk pundakku dan pergi begitu saja. Aku menatap bumi tempat berpijak. Demi Tuhan, aku ingin pergi dari sini sekarang.

 

“Jeon Jungkook! Cepat bersiap, kita akan segera memulai latihannya!”

 

Gestur hormat spontan kulontarkan, dengan teriakan tegas yang entah kenapa kali ini terdengar palsu.

 

Oh, ayolah.

 

Menarik napas dalam-dalam tak membantu. Yang ada, malah membuat dadaku penuh dan sesak.

 

‘Kau bisa, Jeon Jungkook.’ Kuyakinkan diri dalam hati.

 

Tak ada satu pun dari kami yang siap akan hal ini.

 

.

 

Malam menyapa kala kami menyelesaikan serangkaian kegiatan hari ini. Aku nyaris melupakan fakta bahwa kami dikirim ke sini untuk sesuatu yang berada di luar akal sehat.

 

Setelah aku menyelesaikan makan malamㅡbukan makanan layak, persediaan khas militerㅡlekas aku beranjak ke tenda. Kim Taehyung telah mengganti seragam hijau tuanya dengan kaus gelap dan celana panjang.

 

Aku meletakkan telapak tanganku ke pelipis untuk menghormatinya, namun ia malah tersenyum. “Tak usah melakukannya di sini. Aku ingin melupakan sejenak urusan tentara seperti itu.”

 

Manggut-manggut, aku memilih tak membantahnya. Segera saja aku mengobrak-abrik tasku, menemukan pakaian yang sekiranya nyaman digunakan.

 

“Mereka tidak datang.”

 

“Mungkin mereka sudah pasrah akan takdir.”

 

“Sudahlah, berhenti menggosip. Kita terlihat seperti sekumpulan gadis.”

 

Aku mendengar beberapa orang bercakap tentang amanat kami. Memasuki bilik toilet yang kosong, aku melepas seragam dan menggantinya dengan kaus berlengan panjang.

 

Saat kembali ke kamp, Senior Kim melambaikan tangan padaku. Aku bergegas menghampirinya, kalau-kalau ada instruksi yang terlewat saat aku berganti pakaian.

 

“Kau sudah dengar, Jeon? Mereka berdua tidak datang,” ucap Kim Taehyung. Aku mengangguk cepat dan melipat seragam tentara dengan asal sebelum melemparnya ke pojok tenda.

 

“Jangan kau perlakukan seperti itu.” Nada Senior Kim naik beberapa oktaf. Ia mengambil seragamku dan meletakkannya di atas tumpukan baju miliknya. “Seragam ini berharga, tahu.”

 

“Maaf.”

 

Kuakui aku tak sopan, namun Senior Kim harus benar-benar bersyukur karena otakku serasa digerogoti oleh kegilaan sekarang.

 

“Jeon, aku suka warna hijau.” Frasanya memecah canggung yang tercipta. “Kupikir hijau itu lambang keberanian.”

 

Deg!

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun kepalaku mendadak berdenyut. Tengkorakku serasa ingin meledak bersama dengan pecahnya semua organ di dalam sana.

 

“Tunggu, Senior.” Butuh banyak energi untuk mengatakannya, namun Kim Taehyung berhasil mendapatkan maksudku dengan baik. Ia beringsut mendekatiku dan memeriksa denyut nadi pada pergelangan tanganku.

 

“Apa yang terjadi denganmu, Bocah?!” jeritnya panik.

 

Aku mengatur napas, bulir keringat membasahi pipi. “Maaf, Senior. Maaf. Aku tidak apa-apa.”

 

Sedikit bohong memang, tapi kurasa semua tak akan menjadi baik dalam sekejap bila aku mengatakan kebenaran. “Tolong lanjutkan.”

 

Ia menarik oksigen dalam-dalam, menatapku bingung. Setelah memastikan aku mampu bertahan hidup, ia melanjutkan kalimatnya.

 

“Seragam tentara berwarna hijau tua. Duapuluh empat tahun yang lalu, aku menangisi kematian Ayahku karena perang Korea.” Ia mengatakannya tanpa melepas atensi dariku, seperti aku bisa mati kapan saja saat ia mengalihkan pandangan. “Tapi sesaat kemudian aku sadar, Ayah tidak mati sia-sia. Walau kita masih belum damai, tapi, yah…”

 

Aku mengangguk mengerti. Kupikir sakit kepalaku makin parah, ditambah akan kalimat-kalimat yang dilontarkan pengajar spiritual kami.

 

“Tidurlah. Kau terlihat seperti zombie,” katanya. Ia mengambil selimut dan menutup tubuhku dengan kain tebal itu. “Selamat malam, Jeon. Jangan lupa untuk bangun dan tetap hidup.”

 

Ia menggumamkan beberapa kata lagi, namun aku tak menangkapnya dengan jelas. Alam bawah sadar menarikku terlalu cepat, dan aku terlelap dengan tenang.

 

.

 

Esoknya, latihan dimulai seperti biasa. Sebelum fajar menggantung di cakrawala, aku sudah bermandi peluh. Hingga saatnya sarapan pagi, kupikir aku sudah melaksanakan seribu push-up dalam dua hari terakhir.

 

“Mereka tidak datang lagi,” bisik Senior Kim. Aku melempar hormat lalu mengedikkan bahu.

 

Aku menatap benteng kokoh di hadapanku. Di masa lalu, bangunan agung menjadi saksi bisu kematian para pejuang untuk kemerdekaan negara. Namun saat ini, ia adalah tempat bernaung seluruh penjahat kelas kakap yang menanti hukuman berat.

 

“Suga,” ucapku. “Itu ‘kan namanya? Suga.”

 

Senior Kim mengangguk. “Ia bersikukuh tak mau menyebutkan nama aslinya. Hebat sekali.”

 

“Maaf, Senior. Tapi saya tidak mengerti kenapa membunuh orang lain dikatakan hebat. Anak mereka, Park Jimin, masih seorang mahasiswa tingkat ketiga,” seruku keras. Aku tak paham setan apa yang merasukiku hingga otot di leherku menegang.

 

Senior Kim memutar bola matanya. “Kedua orang tua Park Jimin pernah menyakitinya, Jeon. Kalau kau mengkhianati negara, toh Komandan Jung juga tak akan sungkan menembakmu tepat di jantung.”

 

Aku hendak menyanggah, tapi letusan pistol menandakan kami harus berbaris untuk pelatihan spiritual. Oh, demi Neptunus. Percayalah, walau berjuta kata motivasi dilontarkan padaku, masih ada keraguan untuk mengangkat senapan pada satu target.

 

Aku tidak berbicara soal perang, di mana pilihanmu hanya membunuh atau terbunuh. Dalam kondisi itu, kau bisa menghilangkan nyawa seseorang bahkan sebelum menyadarinya.

 

Aku berspekulasi tentang manusia yang dipercaya untuk sebuah tugas besar: mengeksekusi terdakwa dengan hukuman paling beratㅡmeregang nyawa.

 

.

 

Kalau hijau melambangkan keberanian, kenapa aku masih bertingkah seperti pengecut?

 

Hawa panas api unggun tersisa di permukaan terluar kulitku. Aku melewatkan sesi makan malam; tak punya cukup nyali untuk menelan sesuap nasi.

 

Aku menyahut seragam dan meremasnya. Atas nama militer, aku harus menghabisi dua orang. Mati-matian aku mengatakan pada diri sendiri bahwa mereka pantas untuk semua ini, namun itu membuatku merasa seperti psikopat saja.

 

Memoriku melayang ke delapan tahun lalu, saat pertama kali memasuki gerbang akademi. Pasukan khusus yang berseragam hijau tua membuatku bergairah ingin segera mengenakannya. Tapi, sekarang aku berharap agar pakaian dinas ini musnah saja.

 

“Jeon.” Senior Kim muncul dari balik kain tenda. “Baik saja?”

 

“Tidak,” kataku singkat. Bahkan aku lupa tata krama militer yang kupelajari di akademi. “Bagaimana bisa baik saja…”

 

“Kim Namjoon dan Suga,” kata Senior Kim. “Mereka yang akan kita habisi besok malam, di sini.”

 

Aku tertawa kecilㅡtingkah yang makin membuatku terlihat tidak waras. “Aku tahu, Senior. Mereka tidak pernah datang pada pelatihan spiritual tersangka.”

 

Makin lama, aku benar-benar merasa seperti seekor bayi kanguru yang bersembunyi di kantong ibunya. Rasa sesal datang padaku seperti serpihan kaca terbang, menusuk dada. Mungkin aku harus membunuh Komandan Jung yang telah memilihku.

 

Tunggu. Barusan aku berpikir untuk membunuh? Tuhan, tolonglah. Ada makhluk lain yang tengah menggerayangi kewarasanku sekarang.

 

“Selama kau ada dalam balutan seragam itu, itu tandanya kau berani,” ujar Kim Taehyung seraya menumpuk pakaian untuk dijadikan bantal. “Percaya padaku, Jeon. Aku pun gemetar saat Komandan Jung menunjukku.”

 

Senior Kim Taehyung menggulung lengan kausnya hingga mengekspos lengan atas. Segaris luka mengerikan tampak. Aku tak membayangkan benda apa yang mengoyak epidermisnya.

 

“Alasanku untuk masuk militer,” katanya kalem. “Anak buah Kim Namjoon merusak lenganku dua puluh tahun  lalu dan membunuh wanita hamil yang kebetulan lewat di hadapan kami. Sejak itu aku bertekad untuk melindungi mereka yang lemah demi negara.”

 

Bayangan seorang Kim Taehyung versi delapan tahun melawan pria dewasa berkelebat di otak. Aku menggeleng pelan. “Tapi saya tidak sekuat Senior.”

 

Ia mengangkat bahu sekilas. Lalu telunjuknya diarahkan ke seragam yang tengah kupangku. “Seragam itu menggambarkan keberanian. Termasuk keberanian untuk bertanggung jawab atas ucapanmu.”

 

“Tapi, Seniorㅡ”

 

“Ini tugas negara, Jeon. Kita dilatih untuk itu.” Ia berbaring dengan tumpukan kain sebagai bantalan. “Aku tidak tahu apa yang terjadi di kepala kecilmu, tapi jika kau memohon pada dirimu untuk siap, kau tak akan pernah bisa. Aku pun tak siap, walau dendam masa lalu kubiarkan menguasai.”

 

Menelan ludah, aku melihatnya memejamkan mata. “Shit,” rutukku pada diri sendiri, pada mental lemah yang selalu ingin dilindungi.

 

Hijau melambangkan keberanian.

 

Dengan keyakinan penuh atas pernyataan itu, aku mencoba mengabaikan perang batin yang mengganggu. Aku turut berbaring, menyamakan posisi dengan Senior Kim yang sudah terlelap.

 

Aku akan membunuh atas nama militer. Jadi, Tuhan, tolong biarkan kegilaan mengambil alih tubuhku sesaat kala aku melakukannya.

 

.

 

Keindahan dewi malam hari ini tak kuhiraukan. Bahkan saat kesempatan melihat rasi bintang tersaji di depan mata, aku memilih menatap bumi.

 

Sepatu boots gelap dan bawahan hijau tua tampak di mata. Beberapa senior mengerubungi meja dengan tumpukan senapan.

 

“Aku bangga pada kalian yang ada di sini.” Suara Komandan Jung memecah suasana. “Aku percaya tak ada dari kalian yang tega melakukan ini, namun ini demi negara. Kita tak punya pilihan lain.”

 

Hening. Tak ada yang menanggapi pidato pimpinan kami. Semua tenggelam dalam keraguan masing-masing: khas pengecut.

 

Aku menangkap bayangan Senior Kim di depan, menunduk melihat tanah. Ia tak bergeming walau frasa Komandan Jung menguar di udara, berusaha membangkitkan semangat kami.

 

Gratak!

 

Aku nyaris melompat dari raga saat kusadari itu suara pintu benteng yang terbuka. Dua orang digelandang oleh rekan lain yang menjadi pasukan pengantar.

 

Satu tubuhnya tegap dan tinggi, sementara yang lain pendek dan kecil. Dilihat dari lengan mereka, tidak hanya postur tetapi warna kulit mereka juga berbeda. Si pria tegap dengan kulit kecokelatan terbakar mentari sedang si pendek itu… punya kulit putih susu; seolah ia mengidap albino.

 

Sebelum pertanyaan mulai menguasai benakku, kami telah berbaris. Aku berada di baris terdepan, menghadap langsung dua insan yang akan mati di tangan kami.

 

“Tenang. Tenang dan lakukan tugasmu, Jeon,” bisik Senior Kim di sebelahku.

 

“Kalian ingin melihat saat ajal menjemput atauㅡ”

 

“Buka.”

 

Belum sempat Komandan Jung menyelesaikan kalimatnya, si pendek memotong kata-kata. “Aku Suga. Buka kain gelap memuakkan ini.”

 

Seorang rekan melepas kainnya, dan ia menyeringai lebar padaku. Walau pandanganku tak jelas akibat keremangan cahaya obor, ia jelas-jelas ingin meremehkanku. Rambutnya sewarna daun mint, bukan hal yang wajar. Kueratkan pegangan pada pelatuk AK-47, bersiap menariknya kapan pun.

 

“Tutup saja milikku. Barangkali itu Kim Taehyung, karena suara napasnya sama dengan dua puluh tahun lalu.”

 

Aku merasakan aura ketegangan di sekeliling kami. Senior Kim mengatupkan rahangnya dengan paksa seperti menahan diri untuk tidak berlari dan mencekik tersangka.

 

“Ada kata-kata terakhir?” tanya Komandan Jung dengan suara tegas.

 

Aku mengambil posisi siaga, menunggu aba-aba untuk meluncurkan timah panas.

 

“Tidak.” Kim Namjoon berkata di balik topengnya. “Kutunggu kalian di neraka.”

 

Sementara si kecilㅡSugaㅡmasih bisu. Ia tetap menatap obsidianku, mencoba menggali jiwaku lebih dalam.

 

“Beri aku waktu untuk memikirkannya, Komandan. Satu menit, dan kau bisa memerintahkan anak buahmu untuk menghujaniku dengan peluru.”

 

Aku tak tahu pasti berapa detik yang terbuang dalam sepi. Suara Komandan Jung yang menggelegar marah menjadi penanda waktu habis. “Cukup main-mainnya, Suga! Tembak pada tiga…”

 

Aku menarik napas dalam, membiarkan kegilaan menguasai otak. Semuanya terasa fana sekarang, yang ada di hadapan hanyalah wajah si pendek yang penuh seringai.

 

“Dua…”

 

Jariku sudah siap di ujung pelatuk. Bidikanku sudah pasti tepat mengincar jantungnya. Tinggal membiarkan diri meluncurkan peluru dan sesaat kemudian pria itu akan mati.

 

“Hijau melambangkan keberanian, ‘kan, Jungkook-ie?

 

“Satu!”

 

Hening menyergap kala aku sadar ia menyebut namaku. Pertanyaan berkelebat di sudut tengkorak, dan aku merasa sengatan sakit yang luar biasa menyerang kepala.

 

Aku berharap masih punya waktu untuk bertanya, namun kenyataan menyadarkanku.

 

Pelatuk sudah tertarik, dan pria bersurai hijau muda itu telah terbaring bersimbah darah.

 

 

“Hijau melambangkan keberanian? Apa-apaan itu?”

 

Seorang anak kecil, usianya tak lebih dari lima tahun, mengernyitkan alis tak setuju. Dahinya berkedut seperti tengah berpikir keras.

 

“Kau tahu rumput, ‘kan? Ia tak takut untuk diinjak demi menghijaukan bumi,” seru lawan bicaranya.

 

Anak kecil itu mengedikkan bahu. “Kau aneh, ah, Kak Yoongi! Tidak ada hubungannya, tahu!”

 

Sang lawan bicara yang tadi disebut Yoongi memberengut. Ia sedikit lebih tua, sekitar sepuluh tahun.

 

Mereka sedang berjalan menyusuri trotoar di tengah musim gugur. Yoongi melepaskan syal dan melingkarkan benda itu di leher temannya.

 

“Pakailah, Jungkook-ie.”

 

Anak kecil itu mendecih. “Hijau? Warna keberanian? Jadi sekarang Kakak menantang dingin demi aku?”

 

Yoongi tertawa tanpa niat. “Tidak tahu, sih.”

 

“Aku pulang dulu, Kak Yoongi! Mama menyuruhku membantuㅡ”

 

Detik berikutnya Jungkook telah berlari, jauh dari pandangan. Yoongi berusaha mengejarnya, namun bocah itu telah luput dari iris gelapnya.

 

BRAAK!

 

Masa bodoh tentang bunyi bising itu. Ia memaksa tungkai kurusnya untuk terus berlari menerobos keramaian. Sesaat kemudian ia tercekat kala melihat asal suara.

 

Jungkook di sana, dengan darah mengalir dari kepala. Sementara pemilik mobil sport  yang kemungkinan besar barusan menabrak temannya hanya menatap tubuh Jungkook bingung.

 

Yoongi mencoba berlari mendekati anak lelaki itu, namun tangan seorang wanita paruh baya menghalanginya. Beberapa saat kemudian, ia melihat kendaraan mewah itu memutar balik kemudi dan lenyap dari pandangan.

 

Ia meraungㅡmengumpat pada pengemudi yang telah meninggalkan Jungkook di sana. Ia melihat darah merembes di syal hijau yang melingkari leher Jungkook.

 

Beberapa orang berteriak memanggil satu marga: Park. Sementara insan lain heboh dengan tubuh temannya yang tergolek di sana. Wanita-wanita sibuk menenangkan Yoongi yang meracau tiada henti.

 

Entah Yoongi yang terlalu lelah, atau keributan membuat kepalanya pening. Ia melihat sirine merah dan suara ambulans meraung di udara, tapi otaknya seolah lumpuh.

 

Ya, hijau lambang keberanian. Yoongi berdoa Jungkook masih berani untuk bertahan hidup walau ancaman maut mendekat padanya.

 

‘Kau pasti hidup, Jungkook-ie,’  batin Yoongi tanpa mampu berucap. Tenggorokannya kering karena sedari tadi berteriak.

 

‘Kau harus berani. Seperti rumput yang tak pernah takut terinjak, seperti hijau syal yang melingkar di lehermu, Kook-ie.’

 

-end

 

Ehm, halo. Saya mau mengucapkan terima kasih untuk staff BTSFFI yang sudah memberikan kesempatan untuk berkarya:)

 

And special thankyou for Carameltsuga! I really really really thanked you for helping me with this fic♥

 

Dan para pembaca yang keren-keren, sudikah mengoreksi saya apabila ada kesalahan?

 

See ya on comment box!

Advertisements

One thought on “[What is Your Color?] Brave – Vignette

  1. aku bru bca ff nya.
    menrt aku, cerita nya bagus..
    sebnr nya suga ga jahat kn??
    jd, yg d bunuh sma suga tu, org tabrak kookie kn??
    tp akhir nya, kookie malah tembak mati suga.. 😦

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s