[FICLET-MIX] Masterchef In Love

Seokjin Yein

Kim Seokjin – Lee Yein

A Ficlet Mix by Ivyjung, Joonisa and Tiarachikmamu

Special for snqlxoals818 Birthday

Genre: Romance, Fluff

Rating: PG – 13

.

.

Tentang kisah mereka yang tak biasa; tentang Kim Seokjin dan Lee Yein

.

.

[1st]

Shopping Competition

.

.

Jika disuruh menilai antara satu sampai sepuluh, Lee Yein tak akan segan memberi nilai nol untuk kapabilitas Seokjin dalam menepati janji. Bukan perkara Seokjin yang selalu ingkar janji. Lelaki itu masih bisa diharapkan kok kalau masalah tautan jari kelingking yang dibarengi ikrar serta tatap awas-saja-kalau-sampai-bohong dari Yein. Seokjin juga bukan tipe berengsek yang suka kabur setelah menabur kalimat manis, terlebih pada Lee Yein—gadis yang mati-matian ia kejar dan akhirnya takhluk juga setelah penolakan demi penolakan tak terhitung ia terima sebelumnya.

Meski begitu, Yein menganut sistem ‘jangan pernah berharap lebih pada seorang Kim Seokjin’. Daya ingatnya yang sudah rapuh terkikis usia membuat otaknya sering kali tidak tersinkronisasi dengan baik. Ujungnya, usaha permintaan maaf—dengan berbagai pola dan inovasi mutakhir—menjadi penutup tak apik dalam setiap acara janji-berjanji mereka.

Tak terkecuali untuk hari ini.

Lima menit lagi.

Tunggu sebentar, ya?

Pesan singkat dari Seokjin baru saja diterima. Yein meremas ponselnya. Ia berani bertaruh lima menit yang Seokjin janjikan memiliki definisi berbeda dengan lima menit sebenarnya. Bisa jadi, lima menitnya Seokjin sama dengan lima juta tahun bagi Yein. Oh, maaf. Yein memang suka hiperbola kalau sudah ditempatkan dalam keadaan yang paling dia benci sedunia; menunggu. Menunggu lelaki pikun yang (sialnya) sangat ia cintai.

Hei, apa kau marah?

Lima menit, Lee Yein.

Aku berjanji tidak akan terlambat kompetisi itu.

Serius!!!

Yein memutar bola matanya. Tak tahu lagi harus mengumpat atau bersyukur sekarang. Setidaknya, Seokjin masih ingat bahwa mereka janjian untuk kepentingan lelaki itu sendiri, bukan Yein. Sungguh, jika saja ia tak ingat hari ini adalah hari spesialnya, gadis itu lebih pilih mencekik Seokjin hingga mati alih-alih menyanggupi ide konyol kekasihnya itu; mengikuti shopping competition.

Ew!

“Lima menitmu beranak dua kali lipat, omong-omong.”

Seokjin berpolah tuli ketika Yein menyentilnya dengan sarkasme. Senyum secerah matahari, juga gigi seputih susu dipamerkan tanpa henti. Entah karena sekarang adalah hari ulang tahun Yein, atau malah karena event bodoh yang akan mereka sambangi sebentar lagi.

.

Singkat cerita, Seokjin benar-benar membawa Yein pada satu tempat yang bahkan tidak pernah terlintas di otaknya. Shopping competition. Yein sudah membayangkan uang segepok di tangan, timer, serta berbagai item brand terkenal berlabel diskon yang harus dilahap sebelum akhirnya ditentukan siapa sang pemenang. Iya, mungkin gadis itu terlalu banyak menonton reality show hingga syaraf otaknya seolah menolak bahwa mereka tak berada di mall terkemuka melainkan pasar tradisional.

Tak ada kamera, tak ada panitia, tak ada banner ataupun tanda-tanda bahwa tempat itu sedang menyelenggarakan kegiatan kompetisi. Lantas…

“Seokjin?”

Yein menatap lelaki di sampingnya itu.

“Ya?” balas Seokjin tenang.

“Kim Seokjin… kau benar-benar tak ingin menjelaskan apapun? Shopping competition? Mana? Ini pasar tradisional dan sejauh pengamatanku, semua orang beraktivitas dengan normal.”

“Memang begitu seharusnya.”

“Lantas? Hei, kau tidak sedang berdusta ‘kan? Demi Neptunus, Kim Seokjin aku akan menghabisimu jika sekarang kau mengangguk!”

Lee Yein mendelik, terlebih ketika ancamannya disambut dengan anggukan berkali-kali tanpa dosa. Seokjin mengakui kejahilan yang baru saja ia lakukan dengan ringannya. Astaga.

“Aku ingat kemarin kau menggerutu tak punya waktu untuk membeli kebutuhan dapurmu. Jadi, yeah—tidak ada salahnya, ‘kan?”

Well, Yein memang suka tempat ini—ketimbang menghabiskan voucher belanja di hypermarket hanya untuk membeli seikat sawi kualitas super seperti yang biasa Seokjin lakukan. Pemborosan. Tapi bukan berarti Yein harus dihadiahi berjalan-jalan cantik di pasar tepat pada hari ulang tahunnya. Bukan. Dalam hati, Yein bahkan sudah berharap sesuatu seperti candle light dinner atau apapun normalnya sepasang kekasih menghabiskan hari spesialnya. Oh, bodoh sekali. Kan sudah dibilang, jangan pernah menaruh harapan terlalu tinggi pada Kim Seokjin, ingat?

“Lee Yein?” siku Seokjin menyudut rusuk Yein, membuyarkan lamunan si gadis. “Kenapa? Apa kau tak suka? Maafkan aku tidak memberimu kejutan seperti pasangan lain di luar sana. Kau pasti kecewa, ya?” ujarnya, sukses membuat gadis itu meringis.

Oh, apa ekspresi  wajahnya terlalu kentara?

“Bu-Bukan begitu.”

Mengabaikan kegugupan Yein yang mencuat tiba-tiba, lelaki itu menggenggam jemarinya erat. Tersenyum hangat sebentar, lantas—

“Makan malam dengan dikelilingi lilin-lilin redup sudah terlalu biasa. Ayo kita lakukan yang lain. Berbelanja, memasak makanan yang enak, lalu habiskan semuanya dengan nikmat. Aku berjanji akan melakukan seromantis mungkin untukmu.”

—kerlingan jahil mengakhiri kalimat proklamatisnya, sukses mencipta rona kemerahan menjalari pipi Yein saat itu juga.

.

.

[2nd]

Cooking Contest

.

.

“Toko buku itu manajemennya benar-benar payah! Kau tahu tidak, aku sudah melakukan pre-order buku itu dari dua bulan yang lalu dan mereka dengan mudahnya mengatakan ‘maaf, kami kehabisan stok bukunya.’! Yang benar saja? Apa-apaan itu?”

“Yang penting kan uangmu dikembali – “

“Bukan masalah uangnya!” Seokjin spontan menjauhkan telinga kanannya karena teriakan Yein, “tapi aku sudah berharap akan mengudap habis semua buku itu malam ini. Aroma buku baru, sensasi merobek plastik sampulnya, ikut bertualang bersama cerita di dalamnya – “

“Tapi sekeras apapun kau berteriak, buku itu akan tetap ada minggu depan.”

Yein mendelik sadis ke arah Seokjin yang dibalas pria itu dengan sebuah senyum menenangkan. Ia tahu betul bagaimana Yein menyukai novel serial yang terkenal di seluruh dunia itu, bagaimana gadis itu memilih untuk menahan diri agar tidak membeli novel lain padahal setiap pulang kuliah mereka selalu melewati toko buku yang etalasenya selalu dipajang novel-novel baru. Seokjin juga sudah paham betul kalau Yein selalu menolak saat Seokjin menawarkan diri untuk sekadar membelikannya satu novel dengan alasan ia tidak ingin menipiskan dompet sang kekasih.

Dan karena itu pula Seokjin juga mengerti kalau senyumnya hanyalah sia-sia belaka karena Yein pasti akan tetap merajuk.

“Pokoknya aku mau komplain ke pemilik toko buku itu! Kalau perlu ke CEO Mall ini! Tidak mau tahu!”

Seokjin mengembuskan nafas panjang, tanda kalau ia sudah menyerah dan tak ingin meneruskan perdebatan. Seokjin akhirnya memilih menyandarkan tubuhnya di tiang besar dekat eskalator dan membiarkan Yein menghujaninya dengan tatapan marah.

Silakan bagi muda-mudi yang berada di sini untuk berpartisipasi dalam lomba memasak di lantai dasar BUMJOO Mall! Pendaftarannya gratis dan berhadiah seperangkat peralatan memasak untuk juara pertama dan novel serial terbaru dari pengarang Mega Best Seller JK.Rowling plus tanda tangan asli untuk juara kedua! Menggiurkan sekali hadiahnya, bukan?”

Seokjin lekas menolehkan kepalanya ke panggung yang ada di lantai dasar begitu pengumuman di speaker besar dekat tempatnya berdiri selesai. Ternyata Yein juga melakukan hal yang sama di sebelahnya.

“Seokjin kau dengar itu?” tanya Yein dengan mata berbinar-binar.

“Iya, aku dengar.”

“Itu pasti novelku yang sudah mereka gunakan untuk menjadi hadiah di kompetisi!”

Seokjin menggulirkan bola matanya, “astaga Yein, yang benar saja! Jangan berprasangka buruk seperti itu!”

“Itu bukan prasangka tapi fakta!” Yein menekankan setiap kata-katanya pada Seokjin, “Seokjin, tolong bantu aku ya. Kumohon menangkan lomba itu untukku, ya?”

Seokjin menghela nafas, lalu mengembuskannya dengan berat dengan memasang ekspresi seolah berpikir keras. Yein mengatupkan kedua telapak tangannya seraya mengerjapkan mata beberapa kali, mengisyaratkan kalau permintaannya kali ini bagaikan permintaan terakhirnya untuk Seokjin. Gadis itu jarang sekali meminta sesuatu pada Seokjin dan seharusnya lelaki itu dapat menganggukkan kepalanya dengan mudah. Apalagi yang diminta berkaitan dengan keahliannya dalam memasak, tentu itu hanya permintaan kecil untuk Seokjin.

Namun rupanya Seokjin ingin menjahili Yein lebih dulu sebelum benar-benar mengiyakan permintaanya.

“Baiklah, aku akan ikut. Dengan satu syarat.”

Wajah Yein kontan berubah dari bersemangat menjadi lesu.

“Kenapa? Tidak mau? Kalau kau tidak mau, ya sudah,” Seokjin melipat kedua tangannya di depan dada. Langkahnya pun ia rajut pelan-pelan seolah benar-benar akan meninggalkan Yein di tempat dan hal itu sukses membuat Yein menahan lengan Seokjin.

“Katakan.”

Sambil menahan kikik tawa, Seokjin mendekatkan wajahnya ke telinga Yein.

“Saat aku memasak nanti, kau harus teriak ‘SEOKJINKU, SEMANGAT YA! AKU CINTA PADAMU!’ sambil mengangkat tanganmu ke kepala membentuk tanda hati.”

“Apa katamu?! Seokjin … ku? SEOKJIN-KU?”

“Dua kali!” tambah Seokjin yang tak peduli dengan wajah merah padam milik Yein.

“Seokjin, kau benar-benar – “

“Mau–atau–tidak?”

Yein memijit pelipisnya. Seumur hidup ia tidak pernah melakukan hal-hal yang akan menarik perhatian banyak orang semacam itu karena hal tersebut sama sekali bukan bagian dari kepribadiannya. Lagipula apa yang diminta Seokjin itu benar-benar konyol. Jangankan menyatakan kalimat bernada gombal seperti itu di depan khalayak ramai, saat berduaan dengan Seokjin saja ia tidak ingat kalau pernah mengucapkannya.

Tapi demi novel terbaru serial kesayangannya … yang bahkan sudah ia sayangi lebih dulu sebelum Seokjin turut mengisi hari-hari gadis itu…

“Baiklah.”

Yein menyerah.

.

.

“START!”

Seokjin dan sembilan peserta lain mulai meracik bahan-bahan yang sudah mereka ambil dari pantry yang telah disediakan oleh panitia. Seokjin terlihat piawai dalam memainkan pisau di atas talenan. Secercah rasa kagum lantas hadir di benak Yein karena , well, kemampuan Seokjin terlampau bagus dari dirinya yang notabene seorang perempuan.

“Seokjin-ssi , selamat siang,” seorang MC dari kontes memasak itu menghampiri Seokjin, “aroma dari masakanmu sungguh menggoda.”

“Ah, iya. Aroma bawang putih yang ditumis memang yang terbaik,” jawab Seokjin diiringi tawa kecil.

“Ngomong-ngomong hadiah apa yang paling kau incar dari kontes ini?”

Tiba-tiba Seokjin melempar tatapannya ke arah Yein yang duduk di baris ketiga bangku penonton, lalu tersenyum lebar hingga menunjukkan gigi-giginya yang putih. Yein yang sedari tadi menatapnya cukup terkejut lantaran Seokjin melakukannya secara mendadak.

“Besok pacarku ulang tahun, tapi dia sendiri bahkan melupakannya karena beberapa hari belakangan yang ada di pikirannya hanya novel JK.Rowling yang mulai dijual hari ini. Jadi aku mengincar hadiah novel itu.”

“Wah! Dia sampai lupa ulang tahunnya sendiri?”

“Dia bahkan melupakanku, omong-omong,” Seokjin melempar lelucon pada MC itu sambil sesekali melirik Yein yang tengah menutup wajahnya dengan sebelah tangan saking malunya. Penonton yang ada di sana tertawa riuh setelah mendengar jawaban Seokjin, membuat Yein ingin mengubur diri hidup-hidup.

“Yang mana, sih, gadis beruntung yang menjadi pacarmu?”

Tanpa ragu Seokjin menunjuk Yein yang tengah menatap ubin dengan sodet kayu miliknya. Dengan lincahnya sang MC pun menghampiri Yein meskipun Yein sudah pura-pura memasang ekspresi tidak-kenal-siapa-Kim-Seok-Jin-itu-makhluk-apa.

“Pacarmu manis sekali ya. Siapa namamu, Nona?”

“Lee Yein,” jawab Yein dengan perasaan malu setengah mati.

“Pacarmu sedang berjuang di sana demi mendapatkan novel terkenal itu untukmu. Ada yang ingin kau sampaikan padanya?”

Yein menatap MC itu, lalu kemudian menatap Seokjin yang sedang sibuk mengaduk spageti aglio olio di atas wajan. Ini saat yang tepat, pikir Yein.

“SEOKJINKU, SEMANGAT YA! AKU CINTA PADAMU!”

Teriakan penonton berlangsung riuh setelah mendengar teriakan dari Yein. Seokjin lantas menoleh, kemudian mengulum senyumnya.

“Kau ngomong apa,sih? Aku tidak dengar.”

Menahan emosi dengan menggigit bibirnya kuat-kuat, Yein pun mengulang teriakan memalukannya sambil merutuk dalam hati–

“SEOKJINKU, SEMANGAT YA! AKU CINTA PADAMU!”

Ya Tuhan tolong tenggelamkan Kim Seokjin sekarang juga!

.

.

[3rd]

Noddle Eaters

.

.

            “Kau yakin?” Seokjin mengangkat sebelah alisnya, memastikan kalau keputusan Yein benar-benar mantap kali ini.

“Kalau kau takut, katakan saja.” Yein hanya mengedikkan bahu seraya mendekatkan mangkuk sterofoam pertamanya.

“Bukannya begitu,” Seokjin membuka plastik pembungkus mangkuknya. “aku hanya memastikan kalau kau bisa menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada.”

Alih-alih menjawab, Yein malah melempar tatap tajam pada pemuda di hadapannya itu. Urusan nanti kalau hubungannya dengan Kim Seokjin jadi acakadut. Pokoknya, ia tidak boleh kalah dari Seokjin kali ini. Apapun alasannya.

“Bersiaplah menghabiskan uang sakumu, Kim Seokjin.” Ancam Lee Yein. Tangannya mantap memegang sumpit, siap bertarung dan memenangkan taruhannya dengan Kim Seokjin, pria dua puluh empat tahun yang status hubungannya dengan Yein masih di awang-awang.

“Baiklah. Terserah kau saja.” Jawab Seokjin meremehkan. “Tidak masalah kalau uang sakuku habis untuk mentraktirmu. Toh, biasanya aku memang selalu mentraktirmu.” ucap Seokjin lantas mengangkat bahu. “Tapi kalau kau yang kalahㅡ”

“Berhentilah gertak sambal.” ucap Yein malas. “Mari kita mulai.”

TING!

Seokjin buru-buru menyumpit mi hitam di hadapannya, sedang Yein langsung memasukkan sesumpit penuh mi hitam ke dalam mulutnya. Urusan nanti soal orang-orang sekantin menatap kerakusannya ngeri. Urusan nanti soal ciri Seokjin yang selalu makan cantik. Keduanya kini cuma memikirkan taruhan konyol yang entah siapa pencetusnya.

Hanya dengan lima sumpitan, sstu mangkuk Yein berhasil ditandaskan. Gadis itu buru-buru membuka bungkusan mangkuk yang keduaㅡmasih sambil susah payah mengunyah satu sumpitan penuh mi yang berada di mulutnya. Dua menit setelahnya, sumpitan ketiga dari mangkuk kedua Yein sudah berhasil ditelan, disusul sumpitan keempat.

Seokjin yang masih mengunyah cantik sumpitan kelima mangkuk pertamanya mulai menatap was-was. Ia tidak tahu kalau seorang Lee Yein bisa benar-benar jadi serakus sekarang. Seingatnya, Lee Yein akan selalu mengunyah nasi atau mi sebanyak minimal dua puluh kali, daging ayam lima puluh kali, dan daging sapi delapan puluh kali. Mana mungkin Lee Yein yang di hadapannya saat ini asal menelan saja makanannya?

“Ya! Lee Yein!” Alih-alih mempercepat tempo kunyahannya, Seokjin malah mendadak berseru. “Kunyahlah makananmu sebelum menelannya!”

Tapi bukan Lee Yein namanya kalau dia berakhir mengindahkan kalimat Seokjin. Bukannya menilik sesaat, Yein malah mempercepat makannya. Pokoknya, ia tidak boleh kalah!

“Lee Yein! Pelan-pelan!” Kali ini, Seokjin memperingatkan tanpa ada maksud mengacaukan konsentrasi Yein. Ia mulai khawatir kalau-kalau nanti Yein malah sakit perut atau, “Awas tersedㅡ”

“UHUK!”

Belum selesai Seokjin bicara, mukanya sudah kena sembur helai-helai mi hitam. Ewh….

“UHUK! UHUK!”

“Kan, sudah kubilang untuk pelan-pelan!” Seokjin buru-buru membukakan sebotol air mineral. “Minum dulu!”

Yein menepuk-nepuk dadanya, masih sambil terbatuk-batuk. Hingga….

“UHUK!”

Yein merasakan ada sesuatu yang perlahan keluar dari lubang hidung kirinya. Sesuatu yang basah, kenyal, dan berlendir. Sedang Seokjin yang mulanya panik mendadak terdiam menatap Yein. Hening. Keduanya hanya saling menatap selama beberapa saat.

“Berikan aku tisu!” Yein buru-buru menutup hidungnya dengan sebelah tangan, sedang tangannya yang lain tersodor di hadapan Seokjin.

Bukannya memberi tisu seperti yang diminta, Seokjin malah terpingkal-pingkal.

“Buka, buka!” Tangannya malah menggenggam lengan Yein, memaksanya membukanya demi melihat Yein yang dikenal sebagai wanita paling jaim kini tampak memalukan dengan mi hitam yang keluar dari lubang hidungnya.

Begitu terbuka, Seokjin makin tertawa bukan main. Ya ampun, lucu sekali, sih, Lee Yein ini?

“Sialan kau, Kim Seokjin!” Lee Yein buru-buru menyambar tasnya, lantas pergi entah ke mana. Ke kamar mandi, mungkin?

Sedang Seokjin masih tertawa puas, lantas mendadak mengulum senyum yang entah apa artinya. Tangannya yang tadi sempat menggenggam milik Yein didekatkan pada hidungnya. Aroma vanila, cream butter favorit Yein. Seokjin tersenyum simpul.

Kapan lagi bisa menyentuhmu, Yein? Kkk~

.

.

FIN

 

A/N:

Yeniiiiiiiii met ultah yaaaaa

HBD, Happy Milad ya. Umur kita sama hehehe. Wish U All The Best pokoknya. Semoga awet ya sama Nazin Abqari *pffft*

.

Habede mbaYeniii. Maafkan Tiara dan para senpai yang menistakan OC-nya:””) Semoga makin sukses, langgeng sama mas Sukjin (Sukjin Running Man ya mba tapi😆😆 /dibuang/), dan makin jago nulis fic yang xetar membahana *bukantypo* semoga awet juga di BTSFFI:” 생일 축하!🍰🍰

.

Selamat ulang tahun, Kak Yeni, Lee Yein, Seokjin’s wifeu….Langgeng-langgeng sama masseok, ya kaaaaaak…..

(Cassie Kim-22th; istri muda Kim Seokjin) (menggelundung)

 

 

Advertisements

5 thoughts on “[FICLET-MIX] Masterchef In Love

  1. Demiapah aku senyum senyum sendiri kaya jones gini baca ficmix ini… duh siapapun ini yang buat ((terutama yang kedua, yang bikin orang pengen terbang)) kalian biasa diluarrrrrrr~~~~~ ((plok))

    Sukakkkk yang pertama. Bayangannya kan ada candle candle tapi anggaplah candle candle itu berubah jadi lampu kuning 5 watt ala pasar tradisional di malam hari ((plok))

    Fav yang keduaaaa!! Duh plis mas seokjin mau aja ditumbalin demi novel. Ah ngakak itu yang kalimat terakhirnya. KIM SEOKJIN AKU MENCINTAIMU whahahahahahah pake love sign yang gede pula. Huff tolong aku ga ngerti harus apa kalo jadi mbak yein huhuhuuuu

    Lucuuuukkk yang ketiga!! Rasanya mau tenggelem di laut mati aja kalo lagi compete makan ternyata keselek dan mienya keluar dari hidung. Duhhh mas seokjin juga sih mau aja taruhan ((lhaa kok masjin yang salah))

    Oke. Selamat ulangtahun ya kak yeinnnnn ((oke ini telat)) moga panjang umur, sehat selalu, dan selalu bisa menghibur dengan ficficmu yang indah ituuuuu ((love sign))

    Like

  2. Wah ada fic spec birthday kak Yeni.. Hbd kak! (sok kenal) (padahal ga tau kpn habedenya /plak)

    [1] “Daya ingatnya yang sudah rapuh terkikis usia…”
    ^Entah kenapa, aku ngakak baca ini .. Emangnya Jin udh kakek2 sampe pikun gt bwahahahaha 😂😂😂
    Ah, knp di ff manapun Seokjin jadi cowok begini/? Wkwk… Suka ingkar janji tapi ujung2nya malah bikin melting >< Sweet nih, cieee.. /plak

    [2] Wkwk, btw kasian bgt jadi Jin, keknya serba salah mulu XD Udh ngomong baek2 ttp salah jg 😂
    BUMJOO MALL
    (tiba2 flesbek pinokio :v)
    Authornya suka ama pinocchio kali ya /plak (digiles authornya)
    Bwahaha.. Akhirnya Yein mau jg ngomong gt ㅋㅋㅋ
    “SEOKJINKU, SEMANGAT YA! AKU CINTA PADAMU!” (ikut semangatin Seokjin) (ditendang kak Yein)

    [3] Ngakak terus nih baca ni ficlet mix, astaga XD
    Kak Yein, kalo maka pelan2 ya.. Kesedek(?) gt lagi parah loo… /plak Bwahaha 😂😂 Mi-nya bisa keluar dari hidung gt bwahaha XD XD (ngakak gelundungan) (ditendang kak Yein pt2)

    Sumpah ni ficlet mix isinya yaampun, bikin ketawa2 sendiri 😂😂😂 Nice fic! Salam cinta buat author sma yg lagi habede ㅋㅋㅋ ❤❤

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s