[FICLET-MIX] The Things with Zodiac

bts-korean-kpop-bangtan-boys-Favim

The Things with Zodiac

a birthday-fic special for alphastee
by
darkchocobee and echaminswag~

[BTS’] Park Jimin with [alphastee’s OC] Kang Eunbi
| Genres: Fluff, School Life | Length: 2 Ficlets | Rating: G |

Rules: No Plagiarism!

.

Tentang si libra dan si gemini.

.

.

[1st Ficlet]

People born under the sign of Libra hate being alone.”

 

Jimin merasa hidupnya hampa.

(Jangan dipercaya. Ini cuma omong kosong yang dilebih-lebihkan.)

Ditemani dengan secangkir kopi pahit yang dibencinya–ia sendiri juga heran kenapa memesannya–Jimin duduk sendiri di sebuah kafe dekat rumahnya, memandangi jalan yang ramai akan kendaraan dari balik jendela. Tetesan hujan menampar keras kacanya, memberi pertanda bahwa takkan ada yang datang untuknya.

Hatinya semakin sakit tatkala melihat angka ‘1’ yang tidak kunjung hilang dari pesan yang dikirimnya beberapa jam yang lalu. Rasanya ingin menenggelamkan diri saja.

(Dirinya pun bertanya-tanya, sejak kapan ia jadi sedramatis ini?)

Namun, sungguh, ia merindukan presensi gadis itu di sisi.

Bermula dari rasa sepi yang menghampiri. Kedua teman serumahnya–Jungkook dan Taehyung–tengah pergi untuk mengurus urusannya masing-masing yang Jimin tidak ketahui. Tahu-tahu saja keduanya telah pergi, meninggalkan Jimin dengan sebuah pesan bahwa ada urusan yang belum terselesaikan.

Beberapa temannya yang lain tengah sibuk dengan pacarnya masing-masing, mengingat hari ini adalah hari libur.

Senior yang dekat dengannya–Yoongi dan Namjoon–pun tidak bisa dihubungi. Jimin menerka tidak aktifnya ponsel kedua senior itu ada hubungannya dengan lagu mereka yang belum terselesaikan.

(Atau bisa jadi Namjoon sedang sibuk dengan urusan lain dan Yoongi tengah bermesraan dengan guling dan bantal.)

Hoseok tentu tidak dapat dihubungi. Jimin tahu hari ini adalah jadwal pemuda itu mengajar di sebuah kelas tari dekat kampusnya. Seokjin juga tidak bisa dihubungi. Hari libur begini, pemuda itu pasti sibuk dengan eksperimen masak-memasaknya.

Sesungguhnya, yang terpikir pada awalnya adalah Kang Eunbi. Biasanya, gadis itu merespon pesan-pesannya dengan cepat. Keterlambatan balasannya adalah sesuatu yang baru bagi Jimin.

Ataukah takdir sedang mempermainkan perasaannya hari ini?

Jimin menghela napas kasar, akhirnya memutuskan untuk menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengan, lelah dengan kondisi yang memaksanya untuk bersedih.

(Lagi, mohon jangan mencemaskan seorang Park Jimin. Ia hanya sedang berlagak dramatis hanya karena tidak ada yang menemaninya.

Tolong, cemaskan kewarasannya saja.)

Ketika Jimin tengah meratapi nasibnya, seseorang tengah terkikik geli melihat kelakuan pemuda bermarga Park itu. Menggerutu sendiri, mengacak rambut kesal, juga mengecek ponselnya sembari mencebik lucu hanya karena tidak ada balasan. Kang Eunbi bisa apa kalau Jimin sudah bertingkah menggemaskan?

Eunbi datang lima menit sebelum Jimin datang, tetapi pemuda itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Jimin berjalan ke tempat duduknya tanpa melihat Eunbi yang sudah duduk di meja seberangnya, sibuk menggerutu kepada diri sendiri.

Gadis itu merasa tingkahnya lucu, jadi tidak ada salahnya untuk mengamati Jimin sejenak, kan?

“Aku tidak tahu kamu sebegini menderitanya sampai tidak melihatku, Park.”

Jimin mendongak, hanya untuk mendapati gadis bermarga Kang yang tengah memasang senyuman di bibirnya. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah kurva yang sedari tadi tak terlihat di wajahnya.

“Kamu dari mana saja? Pesanku tidak dibalas. Kupikir sedang sibuk,” ujar Jimin.

Eunbi terkekeh. “Sedari tadi di sini. Kamu saja yang tidak menyadarinya.”

“Kamu tidak memberitahu.”

“Kamu juga tidak bertanya.”

Jimin terdiam atas balasan sang gadis. Iya, sih, dia tidak bertanya, tetapi, kan, seharusnya Eunbi memberitahunya. Apakah menyenangkan melihatnya menderita begini?

Tampaknya, Eunbi menyadari kekesalan Jimin terhadapnya. Diacaknya surai hitam pemuda itu sembari tersenyum.

“Kamu tahu aku benci ditinggal sendiri.”

Eunbi mengangguk tanda mengerti. “Iya, iya.”

“Jangan ulangi lagi kalau kamu tidak benar-benar sibuk.”

“Iya, Tuan Park.”

“Hari ini kita kencan. Kamu tidak boleh protes.”

“Buat apa aku menghampirimu di sini kalau ingin protes?”

Cengiran lebar terpampang nyata di wajah Jimin, menampakkan gigi-gigi putihnya yang menggemaskan, membuat matanya tenggelam oleh pipi tembamnya.

“Oke! Hari ini jadwalmu berkencan denganku seharian. Tidak ada penolakan.”

Eunbi kembali terkekeh geli melihat kelakuan kekasihnya satu itu.

Memang, sih, kelakuannya saat ditinggal sendirian tanpa ada yang menemani itu menggemaskan. Namun, Eunbi rasa ia takkan mengerjainya seperti itu lagi.

Karena Jimin benci sendiri dan Eunbi akan selalu ada untuk pemuda Park itu.

(Tapi Eunbi takkan pernah mengatakannya. Bisa seharian diejeknya bila kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri.)

 

 

[2nd Ficlet]

People born under the sign of Gemini is so talkactive.”

 

Jimin bukanlah tipikal yang suka mendengarkan orang lain berbicara. Seringkalinya, ia akan menguap atau bahkan terlelap dalam suatu kesempatan―terlebih tatkala Taehyung atau Nayeon menceritakan hal-hal tak berguna yang terjadi selama sepekan. Jimin kerap mendapat jitakan keras dari dua karibnya itu karena dianggap tak mengapresiasi apa yang telah mereka ceritakan.

Namun hal berbeda terjadi ketika Jimin bertemu dengan Kang Eunbi. Gadis berparas cantik yang resmi menyandang status sebagai kekasihnya itu sangat suka berbicara. Seperti saat ini contohnya; mereka tengah duduk di salah satu meja kafe dengan dua gelas kopi yang telah dingin sembari Eunbi yang tak henti-hentinya membicarakan berbagai hal; tentang perjalannya bisa sampai kemari, tentang hal-hal yang terjadi pagi tadi, dan tentang suasana sekolahnya.

“Jim, kautahu ‘kan gadis bernama Josie itu. Kurasa dia dikucilkan di kelasnya. Tak ada satupun yang mau bicara dengannya. Saat aku bertanya ke salah satu siswi dari kelas 2-4, mereka bilang Josie tidak mau bergaul dengan siapa pun. Ia hanya mau berbicara dengan kakak laki-lakinya saja. Lalu segerombolan anak perempuan suka sekali menjahilinya.”

Dua jam telah berlalu, namun Eunbi tak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri ceritanya. Membiarkan Jimin duduk diam di depannya tanpa menyahut apa-apa. Anehnya, Jimin menikmati itu tanpa memberi protes berupa kuap kantuk atau menyela kata-kata gadisnya.

Jimin suka ketika Eunbi banyak bicara.

“Oh ya Tuhan, Jim, aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di kepala mereka. Mengapa di zaman serba modern seperti ini masih ada hal-hal kekanakan seperti itu? Mereka ‘kan satu kelas, seharusnya mereka bersahabat baik. Bukan saling mengucilkan begitu. Mereka harusnya melindungi yang lemah, bukannya justru menghakimi. Aku kasihan padanya. Bagaimana pendapatmu, Jim?”

Dan pada akhirnya, ada saat di mana Eunbi diam sejenak lantas mengangkat cangkir kopinya demi meneguk kafein di dalamnya. Bulu matanya yang lentik bergerak naik turun dengan manis tatkala sorotnya bersitatap dengan manik Jimin yang sedari tadi tak lepas darinya. Ada beberapa jenak tercipta sebelum Eunbi menyenggol kulit ari si pemuda demi menyadarkan lamunannya.

“Kau mendengarku ‘kan, Jim?”

“Tentu.” Sahutnya cepat.

“Lantas, bagaimana pendapatmu?”

“Aku setuju. Apapun yang kaukatakan aku menyetujuinya. Lagi pula, anak-anak klub basket yang kauceritakan memang sangat tampan. Dan aku tak mungkin dapat―”

“Park Jimin.” Eunbi mengerucutkan bibirnya. “Kauyakin telah mendengar ceritaku dengan benar?”

“Iya, Eunbi-ya, aku mendengarnya.” Jimin bersikeras, bahwa yang dikatakan dan yang didengarnya adalah hal yang sama. Namun saat ia menemukan Eunbi melayangkan tinju pada lengan kirinya, sesuatu terasa tidak benar di sini. Terlebih saat gadis itu berteriak dengan volume yang mampu membuat orang-orang di sekitar menoleh ke arah mereka, Jimin menyadari bahwa ia tak pernah bisa mendengarkan dengan benar orang-orang yang tengah membagi cerita padanya.

“AKU BICARA TENTANG GADIS YANG DI-BULLY DI KELAS 2-4, BUKAN ANAK-ANAK KLUB BASKET YANG KAUBICARAKAN, PARK JIMIN!”

 

 

 

.fin.

HAPPY BIRTHDAY KAK TANTY~ WE LOVE YOU! ❤
((maaf kemaleman kak, wifi ngadat /plak/))

Advertisements

4 thoughts on “[FICLET-MIX] The Things with Zodiac

  1. BENTAR, YANG BIKIN INI TOLONG TANGGUNG JAWAB. AKU DIABETES ADUH MAS JIM NGALIHO MAS, AKU UDAH PUNYA OM YIPAN /?

    [1] gatau kenapa ini karakternya Eunbi aku banget /padahal oc Eunbi itu buat temenku wkwk/. But, itu chim tolong dong, kalo masih punya kewarasan jangan sengenes itu juga. Ke rumahku aja kalo kesepian, untung om Wu belum balik dinas /jadiin pembantu dirumah/ /gak/. Ini bikinannya Aya kan ya? Iya kan? Ya, ngaku deh :3 /maksa/

    [2] Gatau ini kalian stalk masa laluku atau kalian nyempet2in tanya mantanku, fict kedua ini persis banget sama aku dan mantanku dulu -tapi yang diomongin beda wkwk. Atau semua cewek cerewet pernah diginiin? Aduh, aku ada temennya :’) itu 2 jam ngomongin topik yang sama, bahas apa ajaaaaa 😂 p.s buat mbak eunbi: udah siram aja jimin pake kopi, sianidain aja sekalian, aku rela kok /? Yang ini kak echa kan? /kumau nebak2 hwhw/

    Anywaaay, makasih bangeet kadonyaaaaa~ ini manis bangeeeet, semanis es teh pas buka puasa :’) Makasih dekay, kak echa~ /send virtual kisses/ 😚

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s