[BTS FF Freelance] 95’lines Diary 2 – Long Time No See (Part 01)

95-lines-diary-kangharastory

Title : 95’lines Diary 2

Subtitle : 01. Long Time No See  

By : Kangharastory

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG – 17

Lenght : Series (2.804 words)

Credit : selviakim-Poster Channel

Cast : Kim Taehyung (BTS), Park Jimin (BTS), Song Jihyun (OC), Kim Nayeon (OC)

Note : Author tidak bisa move on dari cerita ini T_T

1. Long Time No See

Kisah cinta ini berawal dari sebuah persahabatan yang berlabel pada sebuah saksi bisu yang sudah usang di makan waktu dan tidak pernah di anggap lagi keberadaannya.

Cerita ini membosankan. Tentang empat manusia yang mengakui dirinya berpegang teguh pada sebuah persahabatan yang sekian lama di elu-elukan namun berakhir pada kisah cinta bak drama-drama romantis pada masanya. Kini, buku persahabatan yang pernah menjadi saksi bisu dari perjalanan mereka hanya tinggal kenangan.

Waktu telah membuktikan bahwa ternyata persahabatan mereka telah tersapu oleh zaman. Tapi waktu belum membuktikan apakah mereka akan tetap tinggal atau membiarkan segala kenangan itu terbuang sia-sia. Tidak. Tidak seorangpun di antara mereka yang menginginkan hal itu terjadi. Mereka tetap mempertahankan bagaimana persahabatan itu tetap berjuang meskipun waktu telah merubah statusnya.

Keduanya telah mengungkapkan cinta, namun tak tau kapan kepastian akan datang. Ditengah gemuruhnya dunia ini, cinta memang tak bisa hilang dari genggaman. Di setiap waktu, di setiap tempat, bahkan di setiap tatapan tersirat, cinta dapat tumbuh tanpa alasan, tanpa saling mengenal dan tanpa memandang akal.

Persahabatan adalah awal dimana teman menjadi musuh, teman menjadi cinta atau bahkan teman menjadi tempat berlindung –diukur dari bagaimana orang-orang memandangnya. Ketika statusnya telah berubah menjadi cinta, tak ada satu orangpun yang dapat memandangnya dengan akal, mereka akan tertawa dan berkata bahwa itu adalah omong kosong. Karna sejatinya, tak pernah ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Tak bisa di pungkiri, cinta dapat merubah segalanya.

Dua tahun telah berlalu, tanpa ada komunikasi yang jelas dan mereka berjalan dengan arah tujuan yang tak lagi sama. Masing-masing pihak masih gigih memegang prinsip dan pihak lainnya memegang kendali atas kepercayaan yang sudah mereka bangun bertahun-tahun lalu.

Bergulirnya waktu tak urung membuat mereka bersatu lagi, justru membuat mereka semakin renggang dan tak ubahnya seperti burung yang kehilangan barisannya, mereka menepi sendiri-sendiri. Atau, mungkinkah mereka berusaha untuk tidak terlihat?

Dua tahun telah berlalu, sejak Nayeon menjadi parasit bagi Park Jimin –entahlah kapan lebih tepatnya, kini gadis itu membiasakan diri menjalani hidup tanpa Jimin, dia bahkan melupakan bahwa mereka pernah bersahabat. Dua tahun telah berlalu, sejak Jihyun mencoba untuk menjadi lebih dekat dengan Taehyung seperti Jimin dan Nayeon, tetapi hal itu malah tak pernah terjadi. Sungguh, tidak ada yang menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Dan sekarang mereka sadar bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini.

Menjalani hidup masing-masing mungkin adalah pilihan terbaik. Tanpa harus mengawasi, memberi perhatian kepada orang lain dan mengatasi masalah yang cukup membuat kepala pusing tak karuan. Mungkin seharusnya mereka memang tak pernah memulai hubungan itu.

Kala itu hujan cukup deras. Taehyung yang barusaja keluar dari lift di perusahaan milik ayahnya itu berjalan dengan cepat. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal hingga pucat warnanya. Kelihatannya dia sedang marah. Berkali-kali pula para staff yang berpapasan dengannya membungkuk sopan memberi salam tetapi laki-laki berambut cokelat tebal yang sudah menjadi salah satu bagian dari pemegang saham perusahaan itu mengacuhkannya dan terus berjalan sembari menatap lurus ke depan. Tak lama setelah itu, pintu lift kembali terbuka dan dari kejauhan seorang gadis berparas cantik mengejarnya.

“Kim Taehyung!”

Tak menggubris, Taehyung malah semakin mempercepat langkahnya hingga sampai di pintu lobi dan dia berdiri disana sembari menaikturunkan kedua bahunya. Kedua tangannya berkacak pinggang selagi matanya menatap nanar hujan yang belum reda dan memaksanya berhenti disana.

“ayo kita bicara.”

Taehyung menepis kasar tangan gadis itu yang berusaha ingin menggenggam lengannya. Tak sampai disitu, gadis bernama Shinji itu dibuat terkejut karna Taehyung merampas payung milik salah seorang staff dan berlalu begitu saja. Mau tak mau Shinji menyusul Taehyung dan berusaha menyamakan langkah Taehyung agar dia tidak kehujanan.

“Taehyung-ah, aku tau kau marah. Tapi bisakah kita bicara dulu?”

Shinji berusaha untuk terus mencairkan hati Taehyung. Nyatanya Taehyung memang laki-laki yang tidak mudah di bujuk siapapun. Laki-laki itu masih sama seperti dulu.

Langkah Taehyung yang lebar membuat Shinji kewalahan, di tambah lagi dengan hujan yang masih cukup deras, membuatnya terus merapat kearah Taehyung dan tak tau kemana Taehyung akan pergi sementara kakinya yang beralaskan heels setinggi lima belas centi meter itu membuatnya terasa pegal. Kedua tangan Shinji juga memeluk tubuhnya sendiri yang hanya menggunakan minidress dan membuatnya kedinginan.

“Taehyung-ah aku kedinginan. Bisakah kau berhenti sebentar.”

Oh Tuhan, Taehyung baru ingat kalau gadis ini sangat manja. Kali ini Taehyung menuruti gadis itu. Dia menghentikan langkahnya di sisi jalan dimana ada banyak toko-toko disana termasuk minimarket. Dia kemudian menatap Shinji yang sudah setengah basah yang membuatnya sedikit terenyuh. Ya ampun bagaimana bisa dia setega ini terhadap kekasihnya, benar-benar.

“jangan marah lagi.”

Rengek Shinji sembari mengayunkan lengan Taehyung seperti anak kecil. Kalau sudah begini Taehyung sudah pasti akan mencair, dia paling tidak tahan melihat Shinji merengek.

“aku bisa memahamimu. Kalau kau belum bisa menikah dalam waktu dekat, aku akan menunggumu.”

Taehyung menundukkan kepalanya, kemudian tak lama setelahnya dia mengangguk.

“aku minta maaf, aku memang belum bisa menikah untuk sekarang ini. Aku masih harus fokus untuk kuliahku. Mungkin satu tahun lagi, aku akan memikirkannya setelah aku lulus.”

Ucap Taehyung yang diberi anggukan oleh Shinji. Taehyung kemudian memindahkan gagang payung yang sejak tadi berada di genggamannya ke tangan Shinji, kemudian dia melepas jas yang dipakainya dan memakaikannya ke tubuh mungil Shinji dan setelah itu ia kembali merebut gagang payung yang berada di tangan Shinji. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut mereka berdua bahkan setelah Shinji melingkarkan kedua tangannya di perut Taehyung. Laki-laki itu hanya bisa tersenyum sembari melihat ke sekelilingnya, takut ada yang melihat adegan romantis mereka.

Rupanya ada. Tepat di depan minimarket. Seorang gadis berambut panjang yang tengah memegang sekotak susu yang barusaja di teguknya itu hanya menatap lurus ke arahnya tanpa berkedip. Pipinya yang merona dan juga bibirnya yang terlihat pucat itu membuat Taehyung terpana. Wajah itu sangat familiar baginya. Jantungnya mulai memberontak seakan-akan memanggil memori yang pernah terjadi dimasa lalu. Bahkan desiran darahnya masih sama seperti dulu ketika dia berhadapan dengan gadis itu. Sudah berapa lama waktu menyembunyikan perasaan ini? Perasaan yang hanya ada untuk Song Jihyun. Iya, gadis itu adalah Jihyun. Sahabatnya, dan juga tempat dimana hatinya berlabuh. Tiba-tiba dia merasa takut jika gadis itu menyadari sesuatu tentangnya.

Jihyun

Dua tahun telah berlalu, sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat, mendengar dan merasakan setiap kehadirannya. Tidak ada yang berubah darinya. Namun tatapannya membuatku sulit untuk menarik udara di sekitar tempatku berada, padahal waktu itu hujan sedang turun cukup deras dimana angin juga menerpa wajahku tanpa ampun.

Aku tidak bisa bergerak. Tatapan itu seakan-akan mengunci tubuhku untuk tidak pergi kemanapun. Tak berkedip, aku merasa mataku berlinangan air mata –oh, ini pasti karna angin yang cukup kencang sehingga membuat mataku terasa perih, dan sedikit menutupi pandanganku darinya –atau, karna aku melihatnya begitu mesra dengan orang lain? Entah kenapa perasaan ini menggebu. Detak jantungku menggila seperti tengah memangil-manggil namanya di tengah kerinduan yang kupendam ini.

Tapi –dia sudah bersama orang lain, membuatku sadar bahwa aku pernah mengabaikannya dimasa lalu. Dan sekarang, aku tak  punya keberanian untuk menyapanya. Bukankah ini sangat bodoh? Aku hanya berdiri, membiarkannya menatapku cukup lama yang membuatku tak tahan untuk tidak menangis.

Masih ingatkah dia –tentangku? Tentang semua yang pernah kita lewati? Tidak. Dia mungkin sudah melupakannya. Dia bukanlah orang yang mau susah payah menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak berguna. Ahh, aku memang tidak berguna. Aku telah membuangnya sia-sia padahal aku sangat membutuhkannya. Sekarang aku bertanya-tanya, apakah dia benar-benar menginginkanku waktu itu? Kalau iya, kenapa dia menghilang? Kalau iya, kenapa dia tidak bertahan?

“jadi kau menolak menikah dengan Shinji?”

Jimin terbelalak ketika mendengar Taehyung menolak untuk menikah dengan Shinji, pasalnya, Shinji adalah kekasih Taehyung. Hal ini memang tidak bisa di terima oleh akal Jimin.

“aku belum memikirkan hal itu untuk sekarang ini. Sudahlah kita bahas yang lain saja.”

Ucap Taehyung yang membuat Jimin mengerutkan dahinya.

“sebenarnya, kau mencintai Shinji kan?”

Taehyung terperangah. Punggung yang tadinya sedang bersandar pada punggung kursi itu kini memberikan jarak dan tangan kanannya meraih cangkir kopi di meja yang isinya tinggal setengah.

“aiihh lihatlah. Kau – ayolah kau bukan lagi remaja berumur sembilan belas tahun.”

Jimin nampaknya tak sabar dan juga merasa kesal dengan Taehyung yang sekarang ini menjadi sangat tertutup terhadapnya. Bahkan laki-laki itu sangat tidak suka jika membicarakan Shinji pada Jimin yang notabene adalah sahabat dekatnya.

“aku tidak tau.”

Taehyung mendesah, membuat Jimin terbahak jika saja mereka tidak berada di tempat ramai.

“bagaimana kalau dia tau jika kau berhubungan dengannya hanya untuk membuat perusahaannya merapat ke perusahaanmu dan menaikkan sahammu. Kau bisa membuatnya sakit hati.”

Taehyung mengangguk kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar dan kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Laki-laki itu nampak tak bersemangat. Di tambah lagi dengan keinginan ayahnya yang memaksa Taehyung untuk segera menikah dengan Shinji.

“tapi hal itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi perusahaan sebelum aku menikah dengannya.”

Ujar Taehyung seraya mengacak rambutnya. Sementara itu Jimin yang melihat Taehyung semakin tak bersemangat merasa kasihan. Beruntungnya dirinya yang tak memiliki masalah serumit Taehyung.

“kalau merasa tersiksa karna hal itu, lebih baik kau menikah denganku saja.”

Celetuk Jimin yang sontak membuat Taehyung terbahak. Di saat seperti ini Jimin memang moodmaker yang cukup baik.

“untung saja perusahaan kita sudah menjalin kerjasama bahkan sejak kita masih SMA dulu, jadi kita tidak perlu menikah.”

Ucap Taehyung. Keduanya terbahak tak karuan yang membuat beberapa pengunjung yang tengah makan siang di cafetaria itu memandang mereka dengan tatapan aneh, adapula yang ikut tertawa meskipun tidak tau apa yang mereka bicarakan.

“jika aku bertemu lagi dengannya akan aku pukul wajahnya.”

Nayeon menggigir bibir bawahnya, takut kalau Jihyun tiba-tiba melempar barang-barang yang ada di dekatnya dengan kasar. Yang dia tau, semenjak kejadian dimana Taehyung mengungkapkan perasaannya pada Jihyun, gadis itu hidup dalam penyesalan yang amat dalam dan juga membuat Jihyun menjadi sangat emosional. Apa mungkin persahabatan juga bisa merubah sifat dan kepribadian seseorang? Dan hari ini Nayeon mendengar cerita bahwa Jihyun kemarin melihat Taehyung bersama seorang gadis. Sungguh, Nayeon benar-benar tak habis pikir dengan kejadian tersebut. Sekecil apa memangnya dunia ini?

“apa kau yakin gadis itu kekasihnya? Kau jangan selalu percaya dengan apa yang kau lihat.”

Jihyun menatap Nayeon dengan datar, merasa malas membicarakan laki-laki bernama Taehyung itu.

“mereka terlihat sangat –sudahlah, aku tau sebenarnya dia tidak pernah mencintaiku seperti yang pernah dia katakan dulu. Lagipula kejadiannya sudah lama –“

“kalau begitu kenapa kau merasa kesal? Aku tau kau menunggu dia selama ini.”

Jihyun melempar tubuhnya ke atas ranjang setelah mendengar ucapan Nayeon. Gadis itu terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata,

“entahlah –hhh, padahal masih banyak yang harus aku kerjakan. Aaaahhh, aku mau tidur.”

Jihyun mengacak rambutnya sembari menggeliat di atas tempat tidur dan membenamkan tubuhnya di balik selimut. Sementara itu Nayeon yang sejak tadi duduk di kursi rias milik Jihyun itu menaikkan kedua kakinya ke atas kursi dan memeluknya.

“Jihyun-ah.”

“mmm.”

“Jihyun-ah.”

“ada apa!?”

Pekik Jihyun sembari menyibak selimutnya dengan kasar.

“kau tidak lupa mengunci pintu kan? Aku tidak mau melakukannya.”

Jihyun menghela nafas, kemudian bangun dari posisinya yang tengah berbaring dan berjalan menuju ke ruang tengah sembari menghentakkan kakinya. Pintu apartemen baru miliknya itu memang tidak otomatis, sehingga membuatnya kadang lupa untuk mengunci pintu dan juga dirinya sering bertanya-tanya bagaimana Nayeon bisa ada di apartemennya ketika dia bangun tidur di pagi hari.

“kau harus menyewa tempat yang lebih aman, untung saja aku yang selalu menemukan apartemenmu tidak terkunci, bagaimana kalau orang lain? Aku rasa kau perlu memiliki hewan peliharaan untuk menemanimu.”

Nayeon bangkit dari duduknya, dan berbaring di kasur tepat di samping Jihyun yang juga barusaja merebahkan tubuhnya disana.

“orang tuaku berada di luar negeri, dan aku harus mengurus diriku sendiri. Kau tau, mencari tempat tinggal itu sulit. Jadi diamlah.”

“kau kan bisa tinggal di rumahmu, kenapa kau harus menyewa tempat?”

“aku sudah menjualnya.”

Nayeon menganga. Gadis itu bahkan sampai memiringkan kepalanya untuk menghadap Jihyun.

“Song Jihyun kau serius?”

“aku serius.”

“apa orangtuamu tau?”

“tidak.”

“apa mereka juga tidak tau kalau kau menyewa tempat tinggal?”

“tidak.”

Nayeon menghela nafas. Dia merasa benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.

“bagaimana bisa kau –“

Jihyun terkikik kemudian memejamkan kedua matanya dan membiarkan Nayeon memikirkan tentang hal tersebut semalaman.

Nayeon ingat jika Jihyun sangat menyukai kelinci, jadi dia berinisiatif membelikan Jihyun kelinci dihari ulang tahun sahabatnya itu. Ah, tapi Nayeon juga ingat kalau Jihyun juga menyukai kucing dan anjing, bahkan kura-kura, dan juga ikan hias, sehingga membuatnya bingung harus membelikan hewan apa untuk Jihyun.

“aishh, aku rasa kecoa pun dia suka.”

Nayeon mendesis sembari mengatur langkahnya di trotoar yang masih banyak tergenang air, karna semalaman hujan turun cukup deras. Waktu barusaja menunjukkan pukul sembilan tepat, dan dia barusaja berpisah dengan Jihyun setelah mereka keluar bersama dari apartemen Jihyun. Nayeon berdalih ingin mengambil buku yang tertinggal dirumahnya sementara itu Jihyun pergi ke kampus. Hari ini Nayeon berbohong pada Jihyun karna dia ingin membelikan kado spesial untuk sahabatnya itu.

“ah aku harus cepat ke halte bus sebelum bus datang.”

Gadis itu mempercepat langkahnya. Namun dari kejauhan dia melihat ada seekor anak anjing yang tengah berlari persis di persimpangan jalan. Suasana kala itu cukup sepi sehingga ia menghampiri anak anjing tersebut tanpa memperhatikan jalanan.

“lucunya~ Hey apa kau kabur dari majikanmu?”

Nayeon berjongkok, kemudian mengelus kepala anjing yang menggemaskan itu sebelum menggendongnya dan membawanya ke sisi jalan. Namun tak berapa lama, seseorang berteriak dengan lantang yang membuatnya menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria tengah berlari ke arahnya.

“hey!! Kembalikan!”

Nayeon bergeming menyadari bahwa pria tersebut adalah bukan orang asing baginya.

“Park Jimin.”

Gumamnya tak sadar sembari membelalakkan kedua matanya. Bulu kuduknya serasa meremang dan kakinya tiba-tiba merasa lemas ketika Jimin yang tengah berlari menatap wajahnya. Dari kejauhan Nayeon bisa melihat bahwa laki-laki itu juga terkejut melihatnya.

“Park Jimin.”

Gumamnya lagi, merasa tak percaya bahwa orang tersebut adalah benar Park Jimin yang tidak pernah bertemu dengannya lagi selama dua tahun ini. Entah kenapa dia merasa enggan untuk bertemu dengan laki-laki itu, jadi dia putuskan untuk berlari.

Eh tunggu. Berlari?

Jimin yang melihat Nayeon berlari dengan membawa anjing kecil miliknya itu kebingungan. Namun laki-laki itu tetap mengejarnya meskipun harus berhadapan dengan mobil yang hampir saja menabraknya.

“ya! Jangan lari!! Kembalikan anjingku!”

Bus barusaja lewat dan memperlihatkan dua sosok manusia yang tengah duduk di halte dalam diam ditemani rintik hujan yang sedang turun. Sementara itu seekor anak anjing yang duduk di pangkuan si pria hanya menatap hujan yang jatuh ke tanah dengan tatapan innocent, berbeda dengan kedua manusia yang tengah duduk disana dengan perasaan canggung dan juga duduk dengan jarak yang lumayan jauh. Keduanya menerawang, seperti tak ingin berpisah satu sama lain namun dengan cara saling mengulur waktu.

Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah kejadian memalukan –bagi Park Jimin dua tahun yang lalu dan juga kejadian yang paling mengerikan bagi Kim Nayeon di kala itu.

Keduanya memiliki perasaan yang sama kala itu, namun salah satu dari mereka tak mau mengaku karna merasa berdosa dengan persahabatan mereka. Padahal waktu itu Nayeon bisa saja berubah pikiran tetapi Jimin sudah menghilang. Membuatnya bertanya-tanya apakah laki-laki itu benar-benar serius dengan perkataannya atau hanya kebohongan belaka, karna dirinya tau Park Jimin adalah seorang playboy kelas kakap. Mungkin saja selama dua tahun ini laki-laki itu sudah mengencani banyak gadis di waktu yang bersamaan, atau mungkin Jimin juga sudah errr –tidur dengan banyak gadis di hotel. Yah, siapa yang tau. Nayeon sangat paham, hormon yang di miliki Jimin sebagai seorang laki-laki melebihi batas normal seperti yang dimiliki Taehyung dan kadang sangat mengerikan. Ah! Kenapa Nayeon malah memikirkan hal itu disaat mereka barusaja bertemu!

“kurasa dia belum bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.”

Nayeon melirik anak anjing yang barusaja di bicarakan Jimin. Gadis itu tersenyum dan berusaha untuk menetralkan suasana, dan menganggap bahwa tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka sebelumnya.

“maaf, tadi aku tidak bermaksud untuk membawanya pergi.”

Ujar Nayeon sembari menggaruk pelipisnya.

“tidak apa-apa. Aku hanya takut dia hilang, karna pemiliknya percaya padaku untuk menjaganya.”

Pemiliknya? Haaah, benarkan. Itu berarti, selama ini hanya aku yang terus menunggunya.

Tanpa sadar Nayeon mencebikkan bibirnya. Sementara itu Jimin yang melihatnya hanya tersenyum. Bukan karna dia tau apa yang ada di pikiran Nayeon, tetapi karna dia tau bahwa gadis itu tidak berubah sama sekali.

Hari ini hujan. Aku duduk bersama dengan seorang pria yang baru aku sadari bahwa aku memendam perasaan besar kepadanya. Pria yang sudah membuatku menunggu hingga diriku merasa lelah karna tak pernah tau alasannya kenapa dia menghilang.

Aku pernah bahagia. Disaat aku menjadi parasit yang terus menempel padanya namun tanpa sebuah status yang lebih dari seorang sahabat. Aku pernah terluka. Disaat dia memutuskan untuk menghilang, dan membuatku dilemma dengan ucapan manisnya yang katanya pernah menginginkanku. Aku juga pernah menangis. Disaat dia tidak pernah kutemukan keberadaannya sehingga aku berpikir untuk melepaskannya. Dan sekarang, aku kecewa. Karna dia kembali bukan untukku, melainkan untuk seekor anak anjing yang di titipkan padanya dan sialnya sangat menggemaskan.

TBC

 

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] 95’lines Diary 2 – Long Time No See (Part 01)

  1. Sama, aku jg gak bisa move on dr ff ini, thor.kekekek…

    Kisahnya Jimin sama Nayeon ngegemesin. Klw Jihyun sama Taehyung mengharukan.huhuhu

    Nextnya ditunggu thor.

    Like

  2. Yaampun ada lanjutnya?? Ah seneng bgt, pas waktu itu end kurang puas hehe kenapa jimin, taehyung menghilang dr hadapan jihyun, nayeon? Toh perasaan mereka tetep sama. Lanjut ya 😀

    Like

  3. Hollaa kak ;))
    Pertama tama aku mau kenalan dulu, Saya Risma dari garis 01 :))
    Awalnya pas baca cerita ini, agak gak ngeh sama jalan ceritanya. Trus aku coba nyari di kolom search. Ternyata oh ternyata mungkin aku udah ketinggalan banyak cerita hikss.. sedihnya daku 😩😢 .
    Banyaaakkkk banget kesan yg aku dapet pas baca ceritanya dari awal sampe akhir . Btw maaf cuma biaa kasih review di part ini mwehehe 😁

    Pertama, aku greget sendiri pas bagian Jimin sama Jaekyung. Bawaannya pingin tereak pakek toak(?) itutuhh Jimin playboy bikin aku “kyaaa” “aaaaaa” sendiri loh kak seriussss ><

    Terakhir, aku ngerasa pas baca ini kayak ada emosi dari mereka yang tersirat sampe nyentuh banget gitu . Itu bagusnya cerita kakak .

    Sekian dari saya Salam hangat.

    Like

  4. lanjut lanjut lanjut… Ah, cinta banget deh sama ini ff. dalem banget. Diterusin ya thor, dan semoga (baca: harus) happy end.

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s