[BTS FF FREELANCE] 2 Sides of Love (Part 8)

2 sides of love (pt. 8)

 

[Chaptered] 2 Sides of Love (Pt. 8)

Author: Pinkchaejin
Rate: PG 15+
Length: chaptered
Genre: angst, brothership, romance, sad, school life
Cast:
-> Kim Seok Jin (Jin of BTS)
-> Han Chae Young (Pinkchaejin’s OC)
-> Kim Yong Jin (Yongjin/OC/Seokjin’s twins)
Other cast:
-> Han Chae Ra (OC)

-Happy Reading-

Kala kakak beradik itu tengah berbincang-bincang di belakang, Seokjin tak mengeluarkan suara. Ia tak peduli seberapa seru topik yang tengah dibahas oleh kedua sejoli tersebut. Sesekali, iris keabuannya mengerling ke arah kaca spion dalam mobil, memandangi adik Chaeyoung yang bernama Han Chaera tersebut. Entahlah, gadis berseragam SMA tersebut dapat membuat rasa rindunya pada Chanrin sedikit terobati.

Lalu lalang kendaraan roda dua maupun roda empat menyapu pandang. Sepanjang perjalanan, Seokjin tak bersuara. Ia cukup beruntung karena detik ini ada sosok Chaera yang membuatnya dapat menghindari kontak mata dengan Chaeyoung. Cukup satu kali ia dikaruniai demam hanya karena ciuman Chaeyoung. Sungguh, ia ingin segera berhenti berhubungan dengan gadis itu, namun apa daya ia masih harus berakting sebagai Kim Yongjin.

“Kak Yongjin, aku dengar dari Kak Chaeyoung, kau menggemari pelajaran Sains terutama kimia, bukan?” Gadis lugu itu kini mengajukan pertanyaan padanya. Seokjin hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan Chaera tanpa basa-basi apapun.

“Dia bukan hanya pintar kimia. Di SMA dulu, dia juga sangat pintar fisika. Aku tahu, PR fisika-mu banyak, bukan?” sela Chaeyoung yang masih merujuk pada pertanyaan Chaera.

‘Tidak, jangan memintaku untuk membantu PR itu!’ umpat Seokjin dalam hati.

“Ah, benar! Guru fisika yang kejam itu selalu menyuguhkan puluhan soal setiap memberikan PR. Untungnya, hari ini ia tidak masuk, jadi aku tidak sibuk hari ini!” seru Chaera yang melegakan perasaan Seokjin.

“Kalau ada tugas yang berkaitan dengan kimia atau fisika, apa aku boleh meminta bantuan Kak Yongjin?” ujar Chaera.

“Ba… bantuanku?”

“Jangan panik begitu, Kak Yongjin. Mengajariku itu tidak sulit, kok. Jangan khawatir, mahasiswa yang tak pernah tergeser dari urutan pertama di kelas jurusan kimia seperti kakak akan membuatku menjadi lebih pintar dengan segala ilmu tersebut,” kata Chaera.

Seokjin hanya menanggapinya dengan seulas senyum. Ia tak ingin berkata ‘ya’ karena memang dirinya sendiri tak mampu, namun tak juga berkata ‘tidak’ karena posisinya adalah Kim Yongjin. Kala rumah kediaman keluarga Han mulai tampak, Seokjin menghela napas lega. Ia pun menghentikan mobil di depan gerbang rumah itu. Tanpa perintah, Chaeyoung pun segera membuka pintu mobil, kemudian ia dan Chaera pun segera turun dari mobil Seokjin.

“Aku dan Chaera masuk, ya. Hati-hati di jalan!” ujar Chaeyoung.

“Sampai jumpa, Kak Yongjin!” sambung Chaera sembari melambaikan tangan ke arah Seokjin.

“Ya, sampai jumpa!” balas Seokjin singkat sembari mengulas senyum.

***

Three weeks later…

Seokjin terperangah kala memandang lembaran soal yang diberikan oleh sang dosen. Uji kompetensi secara mendadak dilakukan. Seperti biasa, hasilnya akan ditempel di pintu sesuai dari urutan nilai tertinggi hingga terendah. Ini adalah kali pertama ia menjalani uji kompetensi konyol yang rutin dilakukan sang dosen sebulan sekali tanpa pemberitahuan kapan dan tanggal berapa diadakannya.

‘Sial, sebagian besar aku tak bisa menjawabnya,’ batin Seokjin.

Sesekali, ia memijit pelipis. Lembar Jawaban Komputer miliknya baru terisi delapan nomor dari tiga puluh nomor yang tertera. Sungguh, ia tak ingin nama Yongjin berada di peringkat paling bawah mengingat Yongjin tak pernah tersingkir dari peringkat satu. Namun ia tak bisa lari dari kenyataan, kenyataan bahwa hingga kini ia masih terus menyamar menjadi seorang Kim Yongjin.

“Sssst… Hei, Kim Yongjin!” seseorang berbisik di belakangnya. Seokjin pun menoleh sebab merasa merasa terpanggil. “Nomor tujuh belas apa?” sambungnya.

Seokjin hanya menggeleng kecil, “tidak tahu,” ucapnya singkat. Ia pun kembali menghadap depan dan meraih soalnya kembali.

“Dasar pelit.”

‘Bukan pelit, tetapi aku benar-benar tak tahu,’ batin Seokjin.

“Kali ini, setelah kalian selesai mengerjakan akan langsung saya scan di tempat ini juga karena saya membawa laptop, infocus, dan alat scan. Jadi kalian bisa melihat langsung berapa peringkat dan nilai yang diperoleh. Walau begitu, hasil tetap akan dipajang,” ujar sang dosen.

Serentak, seluruh mahasiswa yang ada di ruangan itu pun bersorak kecewa. Seokjin menelan salivanya, ia tak siap jika satu kelas akan melihat nilainya yang pasti sangatlah buruk mengingat di SMA ia sering mendapat nilai C- untuk mata pelajaran kimia.

Seokjin kembali berkutat dengan lembaran soal miliknya. Dalam hati, ia berharap untuk kali ini saja ia bisa memperoleh nilai bagus. Mungkin ia tak bisa seperti saudaranya yang tak pernah absen dari nilai sempurna, yakni A. Tetapi ia tetap harus memperoleh nilai yang enak dipandang mata seperti A- ataupun B+. Kali ini ia harus benar-benar membuang jauh-jauh bayangan nilai C- untuk mata pelajaran ini.

‘Semoga aku bisa mengerjakan uji kompetensi ini dengan baik. Aku mungkin tak bisa mendapatkan peringkat satu, tetapi aku harus mempertahankan nama Yongjin di sepuluh besar.’

Empat puluh lima menit pun berlalu. Seluruh Lembar Jawaban Komputer kini telah terkumpul dan alat scan tengah bekerja. Suasana kelas hening, seluruh wajah tampaknya tegang, takut jikalau layar infocus tersebut akan menampilkan nilai-nilai mereka. Seokjin meremas kedua tangannya yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Hati dan mental telah ia persiapkan untuk menerima gunjingan dari manapun asalnya.

Kala Seokjin mengangkat wajah, ia beranikan diri untuk menatap layar infocus yang berada di hadapan. Kalkulasi tengah berjalan hingga urutan nilai pun tersusun rapi di depan sana. Seokjin menelan ludah, irisnya memandang satu per satu nama yang tertera.

  1. Cho Kyu Hyun = 3.87 (A)
    2. Song Yun Hyeong = 3.85 (A)
    3. Bae Soo Ji = 3.83 (A)
    4. Kim Joon Myeon = 3.76 (A-)
    5. Im Yoon Ah = 3.72 (A-)
    6. Nam Tae Hyun = 3.66 (A-)
    7. Han Chae Young = 3.61 (A-)
    8. Seo Joo Hyun = 3.52 (A-)
    9. Kim Yong Jin = 3.39 (B+)
    10. Krystal Jung = 3.36 (B+)
    11. Kim Han Bin = 3.30 (B+)
    12. Park Chan Yeol = 3.28 (B+)
    13. Moon Ga Young = 3.23 (B+)
    14. Jung Yong Hwa = 3.20 (B+)
    15. Choi Soo Young = 3.15 (B)
    16. Kim Hee Chul = 3.12 (B)
    17. Do Kyung Soo = 3.07 (B)
    18. Jackson Wang = 3.03 (B)
    19. Choi Yu Jin = 3.00 (B)
    20. Lee Ji Eun = 2.92 (B-)
    21. Choi Seung Hyun = 2.64 (B-)
    22. Tiffany Hwang = 2.43 (C+)
    23. Mark Tuan = 2.36 (C+)
    24. Byun Baek Hyun = 2.00 (C)
    25. Oh Se Hun = 1.87 (C)

Sebagian mahasiswa bersorak dan sebagian lagi terlihat mengeluh kecewa. Sementara itu Seokjin mematung, tak percaya bahwa dirinya bisa mendapatkan nilai B+ yang jauh dari perkiraannya. Orang-orang mungkin mengira bahwa ia mematung karena tak mendapatkan peringkat satu, padahal ia tengah berbangga diri atas nilai B+ yang diperolehnya.

“Kim Yongjin….” Sang dosen pun angkat suara. Sepertinya ia sedikit kecewa melihat nilai yang diperoleh mahasiswa kesayangannya. “Ada apa denganmu belakangan ini? Mengapa nilaimu tak sesempurna biasanya?” sambungnya.

Seokjin menunduk, tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin Yongjin bosan mendapat peringkat satu, Pak. Jadi ia memberikan peringkatnya pada saya,” sahut Kyuhyun sembari menahan tawa.

“Aku pun tak percaya peringkatku naik secara drastis begini,” celetuk Yunhyeong.

“Ah, mungkin Yongjin tengah berbaik hati pada kita sampai-sampai ia rela duduk di peringkat sembilan,” ucap Yoona. “Pertama kalinya aku merasa bangga menduduki peringkat lima mengetahui si raja kimia berada di peringkat sembilan,” sambungnya.

“Kalau dia peringkat satu pasti konversinya 4.00, selalu sempurna. Jika tak sempurna pun ia biasanya mendapatkan nilai sekitar 3.96 atau 3.98. Ah, Cho Kyuhyun, kau harus bisa meraih nilai 4.00 jika ingin benar-benar mengalahkan Yongjin,” sambung Sooyoung.

“Aku tak harus meraih nilai 4.00, yang penting hari ini aku mengalahkannya hanya dengan nilai 3.87,” jawab Kyuhyun.

“Kurasa mengalahkan Yongjin satu kali saja itu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Ah, setidaknya nilai Yongjin adalah nilai tertinggi di kalangan kami yang mendapatkan nilai B+,” sahut Hanbin.

“Nilai A- saja ia tak meraihnya, mungkin kau butuh belajar lebih rajin lagi, Kim Yongjin,” sindir Baekhyun.

“Ah, peringkat dua dari belakang lebih baik diam saja!” balas Kyungsoo menanggapi Baekhyun.

“Yak, kau—”

“Sudah selesai bergunjing? Untung saja Yongjin sedang tutup mulut kali ini. Kalian seperti tak tahu saja bagaimana kalau Yongjin marah,” sela Chaeyoung menengahi.

“Kalau kekasihnya sudah angkat bicara, aku tak ingin berurusan lagi,” umpat Baekhyun kala Chaeyoung mengeluarkan suara.

“Hei, sudahlah! Masalah nilai saja kalian bisa ribut seperti ini,” tegur sang dosen. “Terutama kau, Byun Baekhyun. Perbaiki nilaimu terlebih dahulu, barulah kau boleh menasihati orang lain,” sambungnya.

“Saya hanya bercanda, Pak,” ucap Baekhyun membela diri.

Seokjin hanya bisa bungkam. Ia tak seperti Yongjin yang mudah terpancing emosi. Tentang nilai, ia cukup puas mengetahui bahwa dirinya tak lagi meraih nilai C- seperti di SMA dulu. Namun ada rasa bersalah di hatinya tatkala mendengar gunjingan di sekitarnya mengenai nilai B+ yang diraihnya itu. Ia merasa bersalah pada Yongjin karena tak mampu mempertahankan peringkat satu yang selalu didapatkannya.

‘Maafkan aku, Yongjin. Kurasa nilai B+ ini adalah nilai yang tak pernah kau dapatkan. Aku tahu kau selalu mendapatkan nilai A dan tak pernah kurang dari itu. Kau pasti kecewa sekali padaku,’ batin Seokjin.

“Baiklah, pembelajaran selesai sampai di sini. Kalian boleh pulang.”

Bagaikan aba-aba, seluruh mahasiswa yang berada dalam ruangan tersebut pun segera bubar hingga hanya tersisa Chaeyoung dan Seokjin di dalamnya. Seokjin merogoh saku kala merasakan getar ponsel menggelitiknya, kemudian ia meraih benda berbentuk persegi panjang tersebut lalu menggeser tombol hijau yang tertera. Ada telepon masuk rupanya.

“Halo, ibu?” Seokjin memulai percakapan.

“Yongjin-ah, Seokjin sudah sadar!” balas suara di seberang sana.

“Benarkah itu, ibu?” ujar Seokjin dengan air muka bahagia.

“Ibu serius! Kemarilah sekarang!”

“Baiklah, aku akan berangkat ke rumah sakit sekarang juga.”

Percakapan pun berakhir, Seokjin menyimpan kembali ponselnya.

“Seokjin sadar, kau mau ikut aku ke rumah sakit?” tanya Seokjin pada Chaeyoung.

“Benarkah? Kebetulan aku belum pernah menjenguknya. Aku ikut denganmu,” balas Chaeyoung.

“Ayo, ikut ke mobilku!”

***

Langkah demi langkah, kedua insan tersebut menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang terasa begitu panjang. Genggaman Seokjin pada tangan Chaeyoung mengerat. Chaeyoung merasakan tangan itu mulai berkeringat dingin, entah mengapa. Tangan ‘Yongjin’ terlalu sering mengeluarkan keringat dingin belakangan ini tatkala tangan itu tengah menggenggam tangannya. Kala Seokjin menghentikan langkah di sebuah ruang rawat, Chaeyoung pun ikut berhenti. Seokjin memutar knop pintu, kemudian mengajak Chaeyoung ikut serta ke dalamnya.

“Akhirnya kau datang juga. Ibu harus pulang, barusan ayah menelepon ibu. Katanya ada dokumen yang tertinggal di rumah dan ia meminta ibu untuk mengantarkannya. Kau jaga Seokjin, ya. Ibu pergi dulu,” ujar Nyonya Kim.

“Baik, bu. Hati hati di jalan,” balas Seokjin sembari tersenyum tipis.

Sepeninggal Nyonya Kim, Yongjin sibuk memandangi tangan Seokjin yang menggenggam erat tangan Chaeyoung. Ia tak berkata apa-apa, namun tetap saja rasa cemburu tengah menjalarinya. Hanya menunggu Seokjin sadar akan apa yang tengah ia pandang, Yongjin tetap tak akan mencairkan keheningan ini.

“Bagaimana keadaanmu?” Akhirnya Seokjin-lah yang mencairkan suasana.

“Baik,” balas Yongjin singkat dan dingin, namun pandangan juga tak lepas dari pemandangan semula.

Seokjin sedikit mengernyitkan dahi kala merasakan keanehan dari diri Yongjin. Yongjin tak pernah berucap sedingin itu padanya. Kala Seokjin menyadari kemana arah pandang Yongjin tertuju, Seokjin pun segera melepas genggaman pada tangan Chaeyoung. Hal itu membuat Chaeyoung sedikit terkejut, namun ia tak ingin ambil pusing.

“Aku keluar sebentar, ya. Aku lapar, ingin membeli makanan. Kalian berbincang-bincanglah, pasti kalian merasa canggung karena aku ada di sini,” ujar Chaeyoung sembari menyunggingkan senyum. “Aku pergi sebentar, ya?”

“Ya,” balas Seokjin dan Yongjin serentak.

Chaeyoung pun keluar dari ruang rawat tersebut. Seokjin duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh ibunya. Sejenak ia menarik napas, hendak mengucapkan sebuah kalimat. Takut-takut jika saudara kembarnya itu marah karena hal tadi.

“Kau tidak marah, kan?” tanya Seokjin memastikan.

“Aku bukan marah. Tetapi aku cemburu, bodoh!” jawab Yongjin.

“Maaf kalau begitu. Kau ini, baru saja sadar sudah emosi,” ujar Seokjin.

“Kau ‘kan tak tahu bagaimana rasanya melihat kekasihmu sedang pegang-pegangan tangan seperti tadi. Ah, omong-omong semua sandiwara ini berjalan dengan lancar, bukan?” Yongjin mengalihkan topik pembicaraan.

“Lancar, hanya Kakek Jung yang mengetahuinya. Kau tahu sendiri ‘kan kalau ia sangat mudah membedakan kita?” jelas Seokjin.

“Hmmm, kau mengunjunginya?” respon Yongjin.

“Bersama Chaeyoung lebih tepatnya,” ujar Seokjin.

“Eh? Untuk apa kalian pergi ke sana?” balasnya sembari mengernyitkan dahi.

“Ada sebuah insiden. Pokok yang paling penting, saat itu ia marah padaku. Yang aku tahu, perempuan sangat menyukai hal-hal romantis. Untuk itu, aku mengajaknya ke atas bukit di dekat rumah Kakek Jung, di sanalah aku meminta maaf,” jelasnya.

“Ah, aku tak terima. Padahal aku pernah berencana hendak mengajak Chaeyoung ke sana, tetapi sudah keduluan olehmu,” protes Yongjin.

“Anggap saja aku mewakilimu saat itu,” tanggap Seokjin.

“Ah, iya! Bagaimana hidupmu ketika berkisar di kelasku? Uji kompetensi belum dilaksanakan, bukan?” Tiba-tiba saja Yongjin mengingat kuliahnya.

“Baru saja dilaksanakan tadi,” ujar Seokjin takut-takut. Kalau menyangkut tentang kuliah dan nilai, tentu Yongjin sangat sensitif.

“Apa?! Lalu, kau mendapat peringkat berapa? Jangan bilang kau mendapatkan nilai C- lagi seperti SMA dulu! Jangan bilang juga kalau kau mendapatkan peringkat terakhir! Ah, aku bisa gila. Seharusnya kau itu membawa contekan, atau kau—”

“Aku mendapat peringkat sembilan, nilaiku bukan C- tetapi B+.” Seokjin berucap dengan datarnya hingga Yongjin menatap Seokjin tak percaya.

“Kau? Peringkat sembilan? Nilai B+? Kau sedang tidak berbohong padaku, bukan?” Yongjin memandang Seokjin tak percaya. Ia butuh kepastian untuk ini.

“Aku serius, Yongjin. Sekalipun aku tak pernah membohongimu, kau tahu itu, bukan? Ah, temanmu yang bernama Cho Kyuhyun itu menyebalkan juga, ya. Ia menjadi besar kepala saat mengetahui namamu berada di peringkat sembilan dan namanya berada di peringkat satu. Apalagi Byun Baekhyun, sungguh aku ingin melemparinya dengan kursi, ia bagaikan tong kosong nyaring bunyinya,” ucap Seokjin mencurahkan segala kekesalan yang sedari tadi dipendamnya.

“Ah, dua orang itu memang sangat menyebalkan. Tapi tak apa, yang penting kau sudah berusaha. Aku tahu kau pasti banyak bekerja keras selama hampir satu bulan masa komaku.” Bibir pucat Yongjin pun menyunggingkan seulas senyum yang ditujukan untuk Seokjin

“Sedikit demi sedikit aku mulai mengerti dengan pelajaran kesukaanmu itu. Tetapi tetap saja, kimia akan selalu menjadi pelajaran yang paling kubenci,” ujar Seokjin sembari tertawa kecil.

“Dan aku juga benci bernyanyi, lebih tepatnya aku benci kesenian. Hahaha, mengapa bidang kita sangat berbeda? Padahal wajah kita sama-sama tampan dan kau hanya lebih tua tiga menit dariku,” kata Yongjin sembari terkikik.

“Mungkin gen yang diturunkan ayah dan ibu berbeda. Aku mendapatkan gen resesif dan kau dominan. Ah, tidak-tidak… Gen resesif terlalu jelek. Mungkin saja kita berdua mendapatkan gen intermediet.”

“Wow! Aku tak menyangka kau membawa pembahasan kita pada biologi. Apa kau sudah menggilai Sains sekarang?” Yongjin terkekeh pelan.

“Ah, aku mungkin mulai tertular olehmu.”

Senyum Yongjin mengempis. Dipandangnya tangan kiri yang dihiasi oleh tempelan infus dengan ibu jari yang dijepit oleh pulse oksimetri. Ribuan vonis menghujamnya, mengancam kehidupannya. Ia ingat betul ucapan dokter saat dirinya baru tersadar tadi. Leukimianya hampir menaiki stadium akhir, namun masih terhitung stadium tiga. Hanya donor sumsum yang dapat menyelamatkannya. Selain itu, ia hanya tinggal menunggu malaikat kematian menjemputnya dan membawanya menuju suatu titik yang akan mengantarkannya menuju keabadian.

“Yongjin-ah? Hei! Kau melamun?”

Ia pun beralih pandang kala Seokjin bersuara. Yongjin menggelengkan kepala menjawab ucapan Seokjin.

“Aku lelah, Seokjin-ah. Apa aku akan selamanya seperti ini?” Yongjin menghela napas berat, sesekali meneguk saliva kala vonis dokter tengah menghantuinya.

“Kau akan sembuh, Yongjin. Yakinlah akan hal itu,” balas Seokjin sembari tersenyum miris.

‘Andaikan kita benar-benar bertukar posisi, bukan hanya bertukar nama untuk sementara. Aku rela menjadi dirimu. Lebih baik kau sehat dan aku sakit, bukan sebaliknya. Hidupku tak tentu arah, bahkan ayah sendiri membenciku. Apakah kita sedang diuji? Aku pun lelah dengan segala tekanan batin ini, dengan sikap ayah yang sepertinya tak akan pernah memaafkanku,’ batin Seokjin.

“Maaf, aku selalu membebanimu. Aku tahu, lambat laun sandiwara ini pasti akan terbongkar, entah kapan waktunya. Dengan berjalannya sandiwara ini, aku akan menyebabkanmu berada dalam masalah lagi, seharusnya sebutan anak pembawa sial yang diucapkan ayah itu lebih menjurus padaku, bukan padamu. Aku sangat bodoh, Seokjin. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku terlalu khawatir jika ayah, ibu, maupun Chaeyoung mengetahui hal ini sampai-sampai memintamu bertukar posisi denganku tanpa memikirkan sebab dan akibat kedepannya. Hari ini aku baru menyadarinya bahwa ini semua akan berakibat fatal untukmu. Sungguh, aku benar-benar egois,” ujar Yongjin lirih.

“Berhenti menyalahkan dirimu, Yongjin. Aku akan menerima segala konsekuensinya, aku sudah siap. Tenang saja, aku sudah biasa dibenci ayah. Kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja.” Seokjin tersenyum simpul.

“Kau terlalu banyak berkorban untukku. Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Di lubuk terdalam hatimu, ada rasa risau yang menghantuimu. Semua ini sudah terlanjur dan aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, akulah parasit yang patut disalahkan. Kau harus melaporkan kesalahanku pada ayah jika sandiwara ini terbongkar, karena ini bukan salahmu, tetapi salahku,” ucapnya.

Seokjin hanya menggeleng pelan. Sebisa mungkin, ia mengulas senyum walau perih hati menusuknya. Mereka pun mengakhiri percakapan tatkala Chaeyoung kembali sembari membawa sebuah kotak stereofoam yang berisi kimchi, makanan yang paling dibenci Yongjin sekaligus makanan kesukaan Seokjin.

“Yongjin-ah, ini aku membelikan makanan untukmu. Kau makan ya!” Chaeyoung menyodorkan benda yang ia tenteng itu pada Seokjin.

“Aku tidak lapar, kau saja yang memakannya,” balas Seokjin hambar.

“Aku sudah makan tadi. Baiklah kalau begitu, aku yang akan menyuapimu,” ujar Chaeyoung sembari menyendokkan sayur-sayuran tersebut.

‘Gila! Padahal dia paling tahu kalau aku benci kimchi dan jenis sayuran lainnya. Mengapa dia malah membelikan kimchi untuk Seokjin?’ batin Yongjin.

“Buka mulutmu, aku tahu kau lapar,” ujarnya. Seokjin tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya membuka mulutnya, membiarkan gadis itu menyuapinya.

“Enak, bukan?” Seokjin hanya mengangguk.

“Senangnya bisa melihatmu mulai menyukai sayuran….” katanya.

“Tidak juga,” elak Seokjin kala menyadari Yongjin memandangnya aneh.

“Ah, itu… Ada yang menempel di bibirmu.” Chaeyoung pun menyeka bekas kimchi yang menempel di bibir Seokjin.

Seokjin mematung, gejolak dada yang bergemuruh mulai berpacu. Tangan itu menjelajahi bibirnya yang bercelemotan. Ia hanya memandangi Chaeyoung dengan canggung, siapa sangka Chaeyoung membalas tatapannya. Lama sekali, keduanya saling pandang-memandang, membuat Yongjin ingin sekali melempar bantal ke arah mereka.

“Ehm!” Yongjin berdehem, namun mereka masih berada di posisi yang sama.

“Ehm!” Yongjin sedikit mengeraskan volume suaranya, namun tak juga berhasil.

‘Sial kau Han Chaeyoung, kau membuatku patah hati,’ umpat Yongjin dalam hati.

“Ah, kepalaku!” Yongjin memegang kepalanya, merintih kesakitan. Sontak Seokjin dan Chaeyoung pun menoleh.

“Hei, kau kenapa?” Seokjin menghampiri Yongjin, terlihat jelas raut kekhawatiran terlukis di wajahnya.

“Aku akan memanggil dokter,” ujar Chaeyoung.

“Ti… tidak usah,” sahut Yongjin sembari menarik lengan Seokjin. Lalu ia pun berbisik di telinga Seokjin, “aku tidak sakit, tetapi aku cemburu, bodoh! Berhentilah bermesra-mesraan di sini,” ujarnya.

“Kau membuatku khawatir setengah mati barusan,” balas Seokjin yang juga berbisik. “Chaeyoung-ah, tidak apa-apa. Ia baik-baik saja,” ujar Seokjin pada Chaeyoung.

“Syukurlah….” sahut Chaeyoung.

Kala itu, seorang suster pun memasuki ruang rawat Yongjin sembari membawa nampan berisi makanan pasien.

“Permisi, makan siang untuk pasien,” ujar suster tersebut. Seokjin pun mengambilnya, kemudian mengucapkan terima kasih pada suster itu.

“Chaeyoung-ah, lebih baik kau menyuapi Seokjin. Aku akan melanjutkan makan siangku sendiri. Ini, ambilah.” Seokjin menyodorkan nampan tersebut pada Chaeyoung.

“Eh, tapi….”

“Aku bukan anak balita, aku bisa makan sendiri,” ujar Seokjin sembari menyunggingkan senyum. Ia pun meraih kimchinya yang tergeletak di atas meja, kemudian duduk di sofa sembari menikmatinya.

“Aku tidak mau sayurnya,” ujar Yongjin.

“Tapi sayur itu sehat, Seokjin-ssi,” celetuk Chaeyoung.

“Sedikit saja, jangan terlalu banyak.”

“Ya, buka mulutmu….”

Sesekali, Seokjin memandangi keduanya. Entah mengapa, rasa sesak menjalari hatinya, seakan tak rela melihat Chaeyoung bersama Yongjin.

‘Ada apa denganku? Mengapa rasanya sakit melihat Chaeyoung bersama Yongjin? Tidak, bagaimanapun caranya aku tak boleh jatuh cinta pada Chaeyoung. Ia adalah kekasih Yongjin, bukan kekasihku,’ batin Seokjin.

TO BE CONTINUED….

Advertisements

One thought on “[BTS FF FREELANCE] 2 Sides of Love (Part 8)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s