[BTS FF Freelance] Guardian Angel (Chapter 2 / End)

guardian angel 2

 

Guardian Angel

a story by

riria ly

Starring:

TWICE’s Nayeon a.k.a Im Nayeon

BTS’s Jungkook a.k.a Jeon Jungkook

 

Genre: Romance, Hurt, Family| Rating: PG 15 | Length: Twoshots

 

Nayeon sama Jungkook punya Tuhan, ortu sama agensinya. Plot milik saya 😀

Author’s note: chapter ini pake sudut pandangnya Nayeon yaaa

 

===========================

“Mulai sekarang… jangan mencampuri urusanku lagi. Kau bukan siapa-siapaku.”

***** Guardian Angel Pt. 2 End *****

Siang itu Seoul National University Hospital  tampak penuh dengan hiruk pikuk orang yang berlari kesana-kemari tak terkendali . Beberapa orang yang terbaring penuh darah diranjang baru saja memasuki tempat itu. Seorang perempuan cantik dengan rambut coklat bergelombang yang diikat kuda tampak sibuk mengecek satu persatu dari orang-orang itu, ada bercak noda darah pada jas dokternya.

“Ada berapa korban kecelakaan itu?” tanyanya pada seorang suster perempuan.

“Dua belas Im Songsaenim dan sepertinya kita kekurangan Dokter, ada beberapa operasi besar hari ini.”

“Pasien ini kekurangan banyak darah.” Ia berganti pada pasien lain, yang tengah melenguh kesakitan.

Ahjumma akan baik-baik saja,” katanya lembut. “Lakukan X-ray pada pasien ini Suster!”

Ia mendekati seorang pria yang berpakaian sama sepertinya. “Kim Songsaenim apa yang terjadi padanya?” tanyanya.

“Kesadarannya baru saja hilang dan kakinya terluka parah Nayeon-ah.” pria tadi memperlihatkan kaki kanan pasien membuat perempuan yang baru saja dipanggil Nayeon itu meringis. “Kupikir ini harus segera di amputasi.”

Nayeon mengangguk. “Semoga beruntung Taehyung-ah.” ia baru saja akan mendekati seorang pasien lain sebelum sebuah tangan kecil menarik jas dokternya.

Songsaenim tolong Eomma ku, dia kesakitan”, ucap seorang anak laki-laki, Nayeon menyamakan tubuhnya.

“Dimana Ibumu?” anak laki-laki itu menarik tangan Nayeon sampai menuju ke sebuah ranjang pasien yang di atasnya terdapat perempuan paruh baya yang terlihat susah bernafas.

“Tarik nafas yang dalam Ahjumma!” sebelum menuruti perintah Nayeon, pasien itu sudah kehilangan kesadaran, membuat Nayeon otomatis langsung memeriksa nadinya. Untuk meyakinkan diagnosanya ia memeriksa pergelangan kaki perempuan paruh baya itu yang nampak bengkak.

“Suster Min pasien ini terkena gagal jantung cepat siapkan ruang operasi dan hubungi Dokter Choi”, ia menyuruh seorang suster disampingnya.

“Dokter Choi sedang diruang operasi, begitupula dengan Dokter Nam.”

“Bagaimana ini? Dia harus segera dioperasi.” Wajah imut Nayeon terlihat khawatir.

“Kau saja yang mengoperasinya kalau begitu.” Nayeon memandang kearah asal suara dan menemukan seorang pria yang sangat dikenalnya.

“Kau gila Jungkook-ah, aku ini masih dokter residen di sini.”

“Memangnya kenapa? Selama kau bisa kenapa tidak?”

Nayeon berkutat dengan pikirannya, ia belum pernah menjadi dokter utama dalam operasi sebesar ini. Ia takut sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi. Ia kemudian menatap anak kecil tadi, masih terisak kecil dengan menyebut-nyebut Ibunya. Ia meyakinkan hatinya.

“Suster Min siapkan ruang operasi, hubungi dokter yang bebas, aku yang akan mengoperasinya.” Suster tersebut mengangguk dan berjalan secepat kilat, sebagai hadiahnya Nayeon mendapat senyuman semangat dari Jungkook.

“Siapa namamu adik manis?” dia merengkuh pundak anak kecil itu, menghapus air mata yang membasahi wajahnya.

“Jaehyun”

“Nah Jaehyunie Ibumu akan baik-baik saja.”

*****

Nayeon menghela nafas lega begitu keluar dari ruang operasi, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya –hal yang tidak bisa ia lakukan selama hampir 2 jam. Ia sangat bersyukur operasi tadi berjalan dengan lancar. Ia berpesan pada seorang suster untuk membawa pasien tadi ke ruang ICU.

Ia mengedarkan pandangannya, dan melihat perpaduan yang aneh.

“Sekarang akur nih dengan anak kecil?” tanyanya pada Jungkook yang tengah menyuapi Jaehyun sebuah kimbab, pria itu tak menjawab –hanya menatapnya dengan tajam.

Mendengar suara Naeyon, Jaehyun langsung melompat dari kursinya dan hampir saja jatuh jika Jungkook tak memeganginya. “Yakk pelan-pelan”, sentak pria itu.

Songsaenim, bagaimana Eomma?” tanyanya was-was.

“Jaehyunie Ibumu akan segera bangun,” kata Nayeon lembut seraya memeluk tubuh kecil itu.

Gomawo Songsaenim.” Wajah anak itu cerah sekali, jika saja ia gagal ia pasti akan merasa berdosa karena menghancurkan masa depan anak itu. Seorang suster datang dan mengambil Jaehyun, ia berkata bahwa Ayah anak itu yang bekerja di Busan sudah datang.

“Ada perlu apa kemari?” ia berganti pada Jungkook.

“Memangnya harus ada alasan bagiku untuk datang kemari?” pria itu balik bertanya.

“Kantin rumah sakit jika begitu, aku harus kembali ke kantor untuk berganti baju.”

Nayeon sejenak melihat Jungkook berjalan menjauhinya sebelum melangkahkan kakinya menuju kantornya. Kini pria itu telah sukses menjadi seorang Detektif Pembunuhan, tidak dipungkiri dia memang memiliki otak yang kelewat encer –sehingga walaupun usianya masih terbilang mudah ia sudah masuk tim elit di Kepolisian Seoul. Pertumbuhan pria itu benar-benar pesat, Nayeon hanya sebatas bahunya sekarang. Tubuhnya lebih kekar dan berotot, dan warna kulitnya agak gelap karena sering keluar ruangan. Sementara dirinya dengan susah payah mendapatkan title dokter dan kini tengah  menjalani pendidikan spesialis jantung dan pembuluh darah tahun ketiga, sembari praktek di sebuah rumah sakit. Pada awalnya ia mengira dirinya salah besar memilih menjadi seorang dokter, tapi kini ia sangat menikmati profesinya itu. Siapa yang tidak bahagia saat mendapatkan uang sekaligus menolong orang.

Ia membuka pintu kantor tim bedahnya dengan malas, mendapati salah seorang sahabatnya.

“Hei Nayeon-ah mau ku atur kencan dengan seseorang lagi?” anggota satu timnya itu bertanya.

“Jangan pernah lagi Momo-ya”, kata Nayeon ngeri membayangkan ‘kencan’ yang diatur oleh sahabatnya beberapa minggu yang lalu.

Waeyo? Ada temanku yang tertarik padamu.”

“Pokoknya tidak.” Nayeon mengambil baju gantinya kemudian masuk ke sebuah ruangan. Momo –teman satu perjuangannya itu memang tengah gencar-gencarnya mencarikan pasangan untuknya. Semenjak putus dari pacar pertamanya saat kuliah dulu, lalu diselingkuhi oleh pacarnya saat akan wisuda Nayeon belum pernah lagi berpacaran dan lebih memilih fokus pada studi dan profesinya. Bukan karena dia tak laku atau apa, karena ada saja orang yang tertarik padanya dan mencoba untuk mendekatinya. Nayeon merasa sudah sangat nyaman dengan hidupnya yang sekarang. Mempunyai orang tua yang selalu mengerti dirinya, ada Jungkook yang selalu melindunginya –pria itu bahkan rela mendapat hukuman berat karena menghajar mantan pacar Nayeon saat ketahuan selingkuh, lalu punya sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesahnya dan juga lingkungan kerja yang nyaman.

“Kau menyukai Jungkook, ‘kan?” tanya Momo penuh selidik begitu Nayeon keluar dari ruangan ganti.

“Kau gila ya, dia itu sudah seperti adikku sendiri.”

Momo mendengus sebal. “Berhenti mengatakan dia adikku. Aku melihatnya Im Nayeon, aku melihat kau memandangnya lebih dari seorang adik. Berhenti mengelak.”

Biasanya Nayeon jarang kalah berdebat dengan Momo, tapi kini walaupun mulutnya terbuka tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Momo tak salah, dia memang menganggap Jungkook lebih dari sekedar adik.

Terbukti saat ia yang begitu lemas dan kesepian jika Jungkook tak nongol di rumah sakit atau jarang mampir kerumahnya hanya sekedar untuk makan –karena sibuk dengan tugas detektifnya. Ia juga menjadi tak bersemangat saat Jungkook mengatakan tak bisa menjemput atau mengantarnya ke rumah sakit. Gadis bermarga Im itu juga selalu menunggu telepon dari Jungkook jika sedang berada di luar kota, dan ia akan merasakan sesak yang mendalam didadanya saat melihat Jungkook berinteraksi dengan perempuan lain.

Apa semua itu yang dirasakan oleh Sang kakak kepada adiknya? Awalnya Nayeon berpikir iya, tapi lama-kelamaan ia mengetahui bahwa itu salah.

“Kau ngomong apasih? Makan saja sana, otakmu ‘kan kurang beres jika lapar.”

“Yakk Im Nayeon!”

Nayeon tak menggubris Momo dan memilih untuk keluar dari ruangan itu.

*****

Nayeon membuang rasa bosannya dengan bermain ponsel saat tiba-tiba beberapa dokter perempuan mendekatinya.

Annyeonghaseyo Sunbaenim.” Nayeon hanya mengangguk dan kembali fokus dengan ponselnya, tapi tiga dokter yang tengah menjalani koass itu tidak juga pergi malahan duduk disebelahnya.

“Kau pasti lelah Sunbae, ini minumlah.” Dengan wajah kebingungan Nayeon menerima minuman itu, kebetulan dia memang haus. Tak lupa dia juga menggumamkan terimakasih.

“Hmm… begini Sunbae… kami.”

“Bicara saja.” Benar dugaannya, mereka pasti menginginkan sesuatu.

“Ini… soal adikmu.”

“Adik?” Dahi Nayeon mengernyit bingung. “Aku ini anak tunggal.”

“Ah maksud kami, Detektif yang sudah kau anggap sebagai adik itu. Kalau tak salah namanya Jungkook.”

Wajah ramah Nayeon sontak berubah menjadi wajah tak berminat yang dibuat-buat. “Lalu?”

Orang yang duduk disebelah kirinya menggeser lebih dekat. “Bisakah Sunbae… memperkenalkannya pada kami?”

“Dia sudah punya pacar.”

“Siapa yang sudah punya pacar?”

Omo omo!” tiga dokter muda itu berjingkat kaget akan kehadiran seseorang yang tiba-tiba.

“Kenapa kau di sini?” Ayolah Im Nayeon, tidak ada pertanyaan yang lebih berkualitas lagi.

“Menjemputmu lah.” Jungkook menatapnya aneh.

Annyeonghaseyo Jeon Hyeongsanim.” Ketiga junior Nayeon itu kompak berkata.

“Ah ne annyeonghaseyo.”

Nayeon tidak bisa membiarkan ini. Ia kemudian menarik tangan Jungkook dan mengucapkan salam perpisahan mendadak kepada juniornya itu. Dari situ dia bisa mendengar bisik-bisik mereka tentang betapa menawannya penampilan Jungkook.

“Kau kenapa sih?” Jungkook bertanya saat keduanya memasuki mobil.

“Aku lapar, kenapa lagi memangnya?” balas Nayeon ketus.

“Kenapa nada suaramu begitu?”

“Jangan bertanya lagi, aku mau tidur.”

Nayeon mengalihkan pandangan kesamping kirinya, meringis ngeri. Omongannya makin lama makin aneh. Mobil yang dikendarai Jungkook tiba-tiba menepi.

“Kenapa berhenti?” ia bertanya tanpa menatap Jungkook.

“Katanya kaulapar, aku akan membeli sesuatu.” Tanpa melirik, Nayeon tahu Jungkook tengah melepas seatbeltnya.

“Tidak perlu-“’ Jungkook memotong. “Kau aneh jika lapar.” Kemudian terdengar suara pintu ditutup.

Selanjutnya kaki Nayeon menendang-nendang lantai mobil, sementara tangannya bertugas untuk mengacak-acak rambutnya, demi merutuki sikapnya yang tidak jelas tadi.

Oh ya ampun, Jungkook pasti akan menganggapku aneh. Bagaimana jika dia langsung menjauhiku karena hal ini. Tidak mungkin, dia sudah melihat tingkah anehmu sejak kecil Im Nayeon.

Telinganya mendengar nada panggilan masuk. Itu bukan nada ponselnya berarti itu milik Jungkook. Ia mencari-cari dan terpampanglah nama Chou Tzuyu begitu ia berhasil menemukan ponsel tersebut.

Bukan nama Korea, tetapi itu nama perempuan. Pacarnya kah? Nayeon menggeleng-geleng atas tebakan tersebut, Jungkook bilang dia sudah putus dari pacarnya yang paling baru –siapa ya namanya Sujeong? Sejeong? ah entahlah dia tak perduli –yang terpenting Jungkook sendiri sekarang.

Sebelum Nayeon menekan tombol jawab, panggilan itu berhenti. Kemudian sebuah pesan masuk.

Sunbae kau ada di mana? Pestanya akan dimulai sebentar lagi. Cepatlah kemari– Isi pesan itu, dan yang membuat Nayeon berang adalah emoticon-nya. Bagaimana bisa seorang perempuan mengirim pesan dengan emoticon seperti itu kepada seorang pria.

Nayeon cepat-cepat menaruh ponsel Jungkook di tempatnya saat melihat pria itu mendekati mobil.

“Makanlah.” Dia menyerahkan plastik berisi kimbab instan dan air mineral pada Nayeon.

“Sepertinya ada pesta yang kau lewatkan”, kata Nayeon memulai sesi mengorek informasi.

“Pesta? Ah kantor menyelenggarakan pesta karena berhasil menyelesaikan kasus pembunuhan itu.”

“Chou Tzuyu memintamu untuk datang.”

“Bagaimana kau bisa tahu dia?”

“Dia mengirimu pesan tadi, menyuruhmu untuk cepat datang.” Jungkook hanya manggut-manggut. “Dia cantik, ‘kan?”

“Tentu saja, dan dia sangat tinggi.” Jungkook mengatakan itu sembari melirik Nayeon, gadis itu tahu bahwa tinggi badannya tengah dipermasalahkan sekarang.

“Wahh kau pasti betah di kantor ya.” Nayeon menelan kimbabnya setengah hati.

“Hmm”

Cih” Nayeon tanpa sadar mendecak.

“Kenapa balasanmu seperti itu?”

“Tanya saja pada rumput yang bergoyang.” Nayeon membuang muka sebal. Aku hari ini sudah di cap aneh, kenapa tidak sekalian saja?

****

“Nayeon-ah apa besok kau ada acara?”

Waeyo?” Nayeon memandang seniornya penuh tanya.

“Mau dinner denganku?” Benar tebakan Momo, anak pimpinannya itu memang tertarik padanya –tapi sayangnya dia sama sekali tidak tertarik pada pria itu.

Mianhae Sunbaenim, besok Ibuku ulang tahun –aku harus makan malam di rumah”, balas Nayeon sopan.

“Bagaimana kalau esok harinya?”

“Aku ada tugas jaga malam.”

“Kalau besok laginya?”

Tidak bisakah dia berhenti. “Momo meminta ditemani belanja.” Nayeon menjawab ditambahi dengan bumbu-bumbu menyesal.

“Berhenti sok jual mahal.” Nada bicaranya kini berubah kasar.

Ne?” tanya Nayeon tak mengerti.

“Apa yang kau mau agar mau dinner denganku? Dokter tetap? Uang?”

Mworago?”

BUGH

    Selanjutnya kejadiannya begitu cepat, anak Direktur rumah sakitnya itu terkapar di lantai dan yang memukulnya adalah Jungkook.

    YAKK BEGITUKAH CARAMU BICARA DENGAN PEREMPUAN”, kata Jungkook bersungut-sungut.

“AISHH SIAPA KAU BERANI-BERANINYA MEMUKULKU?” Anak pimpinan rumah sakit itu jauh lebih murka, dia berdiri dan mencoba memukul Jungkook yang berhasil menghindar dengan mudahnya.

“KU INGATKAN SEKALI LAGI JANGAN PERNAH MENGGANGGUNYA!” Mereka sepenuhnya menjadi objek perhatian orang-orang disekitarnya.

“Jungkook-ah keumanhae.” Nayeon mencoba menarik lengan Jungkook. “Jeseonghamnida Lee Songsaenim, dia adik saya.” Dia kemudian menunduk ke arah dokter laki-laki itu.

“Ah pantas saja, tidak kakaknya tidak adiknya kelakuannya aneh.”

YAKK!” Sekuat tenaga Nayeon menahan tubuh Jungkook dan menariknya menerobos keramaian orang-orang yang menonton mereka.

 

“Apa dia selalu seperti itu?” Jungkook bertanya menuntut jawaban, saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil.

“Tidak. Dan seharusnya kau tidak boleh bertindak seperti tadi Jeon Jungkook”, balas Nayeon serius.

Wae? Kau takut dipecat dari rumah sakit itu?” Nayeon tidak suka nada bicaranya.

“Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya-“ Jungkook memotong. “Apa jangan-jangan kau senang digoda oleh anak bosmu itu?” katanya mengejek.

“Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Aku tak salah kan. Dia seorang anak Direktur, jika kau berpacaran dengannya karirmu pasti akan cepat menanjak.”

PLAKK

Nayeon menatap Jungkook tak percaya, apa benar pria di sampingnya itu Jungkook yang ia kenal.

“Aku…. tak percaya kau bisa seperti ini.” Nayeon menggeleng-geleng tak percaya, bulir-bulir air mata mulai mengaliri wajahnya.

Jungkook tak membalas, pria itu memegang kemudi mobil erat-erat.

Nayeon menghapus air matanya kasar. “Mulai sekarang… jangan mencampuri urusanku lagi. Kau bukan siapa-siapaku.” Kemudian membuka pintu mobil dan berlari sejauh-jauhnya.

****

 

Cukup sudah. Nayeon sudah tidak bisa menahannya lagi kali ini, dan ia pun ambruk di atas berkas-berkas pasiennya.

“Ah jebal Im Nayeon berhenti melakukan itu, kau hanya perlu menelponnya dan masalah beres.” Dari balik mejanya Momo berkata.

“Kau tidak mengerti situasinya Momo-ya, dia pasti sudah sangat membenciku sekarang.” Semenjak pertengkaran di mobil, Jungkook tak pernah mengabari sekalipun selama dua minggu ini. Nayeon tahu ucapannya yang terakhir terlalu kasar terlebih lagi dia telah menampar pria itu, tapi Jungkook seharusnya tidak boleh berkata seperti itu padanya.

“Cah.” Momo menyodorkan ponselnya dan yang membuat Nayeon kaget adalah tampilan di layarnya.

“Kau gila ya.” Nayeon melotot pada sahabatnya itu.

“Kau yang akan lebih gila jika aku tak melakukan ini. Ah dia mengangkatnya.”

Nayeon menggigit bibirnya sebelum menempelkan ponsel ketelinganya.

Yeoboseyo”, ujar di seberang sana, tetapi bukan suara berat Jungkook yang terdengar –melainkan suara lembut seorang perempuan. “Ini Chou Tzuyu, junior Jungkook Sunbae.”

“Jungkook eodisseo?

Ah Sunbae sedang tugas di lapangan, dia meninggalkan ponselnya.”

“Baiklah kalau begitu.” Nayeon mengakhiri panggilan itu, kepalanya kembali ambruk di meja kerjanya.

“Kenapa?” Momo bertanya penasaran.

“Dia bahkan meninggalkan ponselnya pada perempuan itu.”

Pintu kantor terbuka dengan keras, nampak seorang suster dengan wajah khawatir.

“Ada pasien gawat darurat, ia menderita luka tembak dan ada dua peluru di dalam tubuhnya yang harus cepat dikeluarkan.”

Tanpa berpikir panjang baik Nayeon maupun Momo berlari ke ruang gawat darurat.

 

Betapa hancurnya hati Nayeon saat menyadari siapa orang yang terbujur penuh darah di sebuah ranjang yang ditujunya itu. Ia nyaris saja terhuyung jatuh jika Momo tak menangkapnya.

“Detak jantungnya sangat lemah”, kata seorang Dokter.

Yakk Jeon Jungkook sadarlah, kenapa kau seperti ini eoh.” Nayeon menepuk-nepuk wajah yang nampak pucat itu, ia kemudian menerima uluran defibrilator dari Momo.

“150 joule, clear, shoot.” Air matanya bercucuran saat meletakan alat tersebut di dada Jungkook. “Jebal buka matamu Jungkook-ah.”

“Tekanan darahnya semakin menurun.”

“200 joule, clear, shoot.”

Garis melengkung pada bedside monitor berubah membentuk garis-garis lurus. Tangan Nayeon menyerahkan defibrilator  kepada seorang suster dan berganti menekan dada Jungkook.

Ah jebal.” Suasana hatinya semakin kacau. Ia belum siap menerima segala kemungkinan buruknya. “Jungkook-ah tatap aku.”

“Detak jantungnya tak juga kembali.”

“Jungkook-ah jebal.”

    “Keumanhae.”

Aniyo, kau tidak boleh seperti ini Jeon Jungkook.”

“Im Songsaeng.

“Buka matamu, kumohon.”

Ya Im Nayeon!” Momo menarik tangannya dan memeluknya erat, tangisnya pun pecah.

Dan disitulah keajaiban terjadi. Entah kenapa Jungkook tiba-tiba batuk kecil dan memanggil Nayeon pelan.

“Kau sudah sadar?”

Jungkook meringis sebelum menjawab, “Kenapa… kau menangis?”

Rasa khawatir dan sedih itu tiba-tiba pecah. “Kenapa kaubilang”, kata Nayeon tak percaya.

Jungkook mengerang kesakitan lagi. “Kita harus cepat mengeluarkan peluru di dalam tubuhnya”, seru Momo.

Saranghae.” Dalam keadaan normal mungkin Nayeon akan melonjak senang saat kata sederhana itu keluar dari mulut pria yang disukainya tanpa sadar.

“Tutup mulutmu, kau bisa saja mati sekarang.” Bersama beberapa suster dan Momo, dia mendorong ranjang ke arah ruang operasi.

“Tak apa aku mati, yang penting aku sudah menyatakan perasaanku.”

“Jangan berani-beraninya”, ancam Nayeon, melotot pada Jungkook.

“Wah kau masih saja galak di saat aku… sekarat seperti ini.” Jungkook terbatuk lagi. “Sudah kubilang kan tutup mulutmu itu”, semprot Nayeon di tengah kekhawatirannya, gadis itu benar-benar tak menyangka Jungkook masih bisa tersenyum di saat seperti ini.

Keundae, apa pembunuhnya tertangkap?”

YAKK!

Aishh bisakah kalian berdua tenang”, gerutu Momo.

Mereka sudah sampai di ruang operasi saat ini, Nayeon melepaskan pegangannya pada ranjang dan bersiap-siap menjelang operasi super dadakan itu. Tetapi Jungkook menarik tangannya, dan menaruh sesuatu entah apa di telapaknya.

“Bagaimana… jawabannya?

Nayeon membuka telapak tangannya dan menemukan sebuah kalung dengan bandul sayap-sayap kecil. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

Ia memakai kalung tersebut di leher jenjangnya, kemudian menatap Jungkook dengan segala jenis perasaan yang berkecamuk dalam dirinya.

“Itu tergantung seberapa kuat kau bertahan dari siksaanku.”

 

***FIN***

Author balik bawa chapter duanyaaa

Gimana gimana??? Maapin kalo ada salah di istilah kedokterannya ya maklum anak ekonomi 😀

Makasih yang udah komen di chapter kemaren, jangan lupa tinggalin jejak lagi yaaa ☺

Annyeong 😀

 

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Guardian Angel (Chapter 2 / End)

  1. Pingback: [BTS FF Freelance] Guardian Angel (Chapter 2 / End) | ririalystoryland

  2. Ariefania

    Jadi? Jungkook selamat kan? Aku bingung nih? Jika ada yg tau tolong kasih tau 😭 Semoga jungkook selamat.. Ya ampun bacanya, sakit n sedih bgt

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s