[Ficlet-Mix] It’s Cold Outside

its-cold-outside

it’s cold outside

a ficlet-mix by tsukiyamarisa

BTS’ Kim Namjoon, Min Yoongi, and Kim Seokjin with OC’s Claire Jung, Park Minha, Lee Yein

Ficlet-Mix | AU, Fluff, Friendship, Romance, Marriage-life | 15

.

“Di luar dingin, ya.”

.

.

.

.

1st: Kim Namjoon x Claire Jung

.

“Cepat sedikit dong, Joon! Di luar dingin!”

Claire hanya bisa mengentakkan kaki tanda kesal, tatap memicing tajam ke arah Namjoon yang baru saja melangkah keluar dari studio. Tadi, lelaki itu menyuruhnya untuk menunggu di luar saja, berkata kalau ia hanya akan mengambil beberapa lembar lirik serta file lagu. Oh, bukan karena Namjoon tak punya perasaan, tentu. Hanya saja….

“Aku tahu mood-mu sedang buruk karena si Kim-pendek-sialan itu, Claire,” ujar Namjoon, mendengus tak suka saat nama pacar sang gadis nyaris terlontar. “Dan sungguh, ikut masuk ke dalam studio akan memperburuk mood-mu.”

“Kamu bukan sengaja mau menyiksaku, bukan?”

“Ada Yoongi Hyung dan Minha yang sedang berkencan.” Namjoon membalas cepat, menaik-naikkan alis dengan lagak menyebalkan. “Atau kamu lebih suka melihat mereka pamer kebersamaan sementara kamu tampak mengenas—“

“Oke, cukup.” Claire mendelik, seraya Namjoon mengeluarkan kekeh sebagai respon. “Kamu ingin kusumpal dengan sepatu atau kita batal jalan-jalan saja, nih? Udaranya sedang dingin—“

“Bilang saja kalau butuh pelukan, Claire Jung.”

“Hah?”

“Atau mungkin rangkulan?” Namjoon mengedikkan bahu, lantas sekonyong-konyong sudah beringsut mendekati Claire dan menyampirkan lengannya di pundak gadis itu. “Katanya kamu kedinginan, kan? Tenang saja. Aku ini orangnya peka, kok. Tidak seperti—“

Kelanjutan ucapan Namjoon tak terdengar, lantaran Claire sudah lebih dulu mendorong sahabat lelakinya itu menjauh dan menginjak kakinya keras-keras. Lengkap dengan umpatan yang meluncur tanpa beban, selagi Namjoon memasang rupa sememelas mungkin—yang tidak berguna mengingat Claire sudah kebal, omong-omong.

“Jangan macam-macam, Joon! Yang tadi itu bukan kode minta peluk!”

“Tapi kamu kedinginan—“

“Memang udaranya dingin, Bodoh!”

“Nanti kamu sakit, Claire.”

Tak mau peduli lagi, Claire memilih untuk langsung berjalan dan meninggalkan Namjoon begitu saja. Biarkan sang lelaki mengejarnya, yang lantas diikuti dengan omelan kala Namjoon mencoba merangkulnya lagi. Sahabat lelakinya itu memang mengesalkan, amat sangat menyebalkan malah. Tetapi….

“Setidaknya, Claire Jung yang marah-marah lebih baik dari Claire yang cemberut karena urusan cinta, tahu.”

…oh, mau tak mau Claire harus mengakui ini.

Karena kalau bukan karena Kim Namjoon, mana bisa ia melupakan semua masalah serta kekesalan yang sedang menderanya? Sahabatnya itu selalu ada untuknya, dalam kondisi apa pun juga. Dan Claire bersyukur atas itu, terlebih karena Namjoon jarang sekali mengeluh kendati ia harus mendengar curahan hati Claire yang kadang kelewat tidak penting. Jadi….

“Sudah tidak dingin, kan?”

Alih-alih rangkulan, kali ini Claire bisa merasakan jaket milik Namjoon menyelubungi bahunya. Hadirkan kehangatan serta aroma parfum yang khas, membuat sang gadis bersurai panjang hanya mampu diam dan lekas-lekas memalingkan muka. Sembunyikan perasaaan yang campur aduk, selagi Namjoon mengulum senyum dan mengajak gadis itu untuk membeli jajanan.

Well, nyatanya, memiliki Namjoon sebagai sahabat tak buruk-buruk amat, bukan?

.

.

.

2nd: Min Yoongi x Park Minha

.

“Di luar dingin, ya.”

Sebut saja Min Yoongi itu tidak peka, lantaran ia hanya mengangguk-angguk mengiakan dan kembali mengalihkan fokus pada layar laptop. Tatap sama sekali tak menangkap rupa Minha yang cemberut, mengingat dirinya beranggapan bahwa gadis itu juga sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Toh, tujuan Minha datang ke studio hari ini adalah untuk menumpang mengerjakan tugas. Sudah sepantasnya jika Yoongi tak mengganggu, bukan?

“Kamu tidak kedinginan?”

Kalimat kedua, berupa tanya, terlontar beberapa sekon setelahnya. Mau tak mau membuat Yoongi memandang hoodie yang ia kenakan, lantas bergerak untuk melepas benda itu dari tubuhnya. Tanpa banyak kata mengulurkannya ke arah sang gadis, diiringi dengan ucapan, “Pinjam saja kalau mau.”

“Yoongi—“

“Katanya dingin?”

“Iya, sih.”

“Ya, sudah.” Yoongi meletakkan hoodie itu di pangkuan Minha, kemudian berdecak kala sang gadis sama sekali tak bergerak untuk memakainya. “Pakai saja. Aku tidak apa-apa, kok.”

Lamat-lamat, Minha pun mengeluarkan desah panjang kemudian bergerak untuk memakai hoodie milik Yoongi. Agaknya enggan untuk membuka perdebatan atau berusaha menarik atensi sang lelaki lagi, terlebih karena yang bersangkutan sudah kembali memandangi software pembuat lagu di layar. Yoongi yang sedang seperti itu sama sekali tak bisa diganggu—Minha paham benar soal itu. Maka, alih-alih mengeluh, ia pun memilih untuk membenamkan diri pada kehangatan yang ditawarkan hoodie milik Yoongi. Lengkap dengan aroma khas sang lelaki yang samar-samar menguar, juga bau deterjen yang sudah amat Minha kenali. Nyaman memang, tetapi bagi Minha yang sudah merasa penat dan malas melanjutkan tugasnya….

Tidak boleh begitu, Park Minha!

Menegur dirinya sendiri, Minha bergegas mengusir pemikiran itu. Tangan bergerak untuk mematikan laptopnya, sebelum ia beranjak untuk duduk di salah satu sofa. Kalau ia lelah, ia bisa beristirahat sebentar di sana, kan? Ia tak perlu mengganggu atau merepotkan Yoongi, pun mengiriminya sinyal-sinyal tanda ingin bercengkerama. Memangnya mereka ini apa, anak SMA yang sedang dilanda virus kasmaran nan picisan?

Menggelikan.

Berpegang pada pemikiran itu, maka Minha pun bergegas mencari cara untuk mengisi waktu istirahatnya. Punggung disandarkan pada bantalan sofa, jemari bergerak lincah di atas layar ponsel untuk memainkan game. Hanya sekali saja ia melirik ke arah Yoongi yang masih setia di tempatnya, bertekad bahwa ia tak akan mengeluh apa pun yang terjadi.

Dan Minha memang tak mengeluh.

Menit demi menit berlalu, yang akhirnya menjelma hingga setengah jam. Sang gadis masih saja sibuk dengan ponselnya, kali ini seraya tertawa-tawa kecil karena ia sudah menemukan hiburan baru. Obrolan di chatroom yang ia lakoni bersama kedua kawannya sedang seru, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Yoongi sudah berpindah tempat ke sisinya.

“Minha-ya.”

“Bisa-bisanya Kak Claire—“

“Park Minha.”

“—eh, maaf, aku mengganggu, ya?”

Bertukar tatap, Minha bisa melihat Yoongi yang sudah menempel erat di sampingnya. Diikuti dengan aksi beringsut mendekat dan merangkul sang gadis, selagi Minha hanya bisa menjungkitkan alis. Bingung dengan perubahan sikap Yoongi, sampai akhirnya lelaki itu buka mulut dan bergumam:

“Kamu benar.”

“Apa?”

“Di luar dingin.”

“Lalu?”

Min Yoongi menarik diri. Kedua tangan terulur untuk mencubit pipi Minha dengan gemas, kemudian bergerak untuk menunjuk hoodie-nya yang masih dipakai oleh sang gadis. “Lepaskan hoodie-nya.”

“Tapi aku kan kedinginan dan—“

“Sekarang ada aku di sini,” ujar Yoongi, diikuti dehaman sembari ia membuka kedua lengannya lebar-lebar. Jelas memaksudkannya sebagai undangan, menunggu agar Minha-lah yang lebih dulu bergerak memeluknya. “Kalau seperti ini, sudah cukup kan, Park Minha?”

.

.

.

3rd: Kim Seokjin x Lee Yein

.

“Hujannya deras sekali. Pantas udaranya dingin.”

Mengucapkan kalimat itu tanpa maksud apa-apa, Yein melempar pandangnya ke arah jendela. Menatap derai hujan yang makin mengganas, disertai dengan embusan angin yang mampu membuat ia bergidik. Pukul empat di sore hari, dan Yein terpaksa membatalkan acara jalan-jalannya lantaran cuaca sama sekali tidak mendukung.

“Aku bosan.”

Mendapati notifikasi ponselnya yang kosong-melompong untuk kali kesekian, Yein lantas melempar benda putih itu ke atas sofa dengan asal. Tangan kemudian beralih mengambil novel yang baru separuh terbaca, berniat untuk membacanya demi mengisi waktu. Lagi pula, apa yang bisa ia lakukan? Acara televisi tak ada yang menarik, pun dengan Seokjin yang duduk di seberangnya dan juga memilih untuk membaca buku. Lelaki itu tampak tak terganggu, tak peduli kendati Yein kembali melancarkan gumam-gumam bernada keluhan seiring dengan berjalannya waktu.

“Seok—“

“Sebentar, ya.”

Tanpa disangka-sangka, usaha Yein untuk mengajak Seokjin mengobrol lesap begitu saja. Lelaki itu tiba-tiba sudah bangkit berdiri, kemudian melangkah pergi tanpa menoleh atau melirik Yein barang sedikit pun. Sukses membuat sang gadis yang baru beberapa hari resmi menjadi istrinya itu kebingungan, lantaran Seokjin biasanya akan menyambut ajakan untuk mengobrol atau melewatkan waktu bersama dengan penuh semangat.

Oh, ya, ada satu hal lagi yang aneh.

Berdasarkan pengalaman Yein setelah bertahun-tahun mengenal Seokjin, lelaki itu biasanya akan menanggapi ucapan semacam “udaranya dingin” dengan senyum penuh arti. Senyum yang kemudian akan menjelma menjadi usaha untuk memberikan pelukan, padahal Yein sudah berulang kali mengingatkan Seokjin kalau ia tidak suka kontak fisik berlebih. Namun, kali ini….

“Maaf kalau aku lama.”

Tersentak kaget, Yein bisa merasakan tubuhnya bergeming kala ia merasakan Seokjin sudah berdiri di belakangnya. Kata-kata terkumpul di ujung lidah, siap untuk mengomel kalau-kalau lelaki itu memberikan backhug atau semacamnya. Tetapi, alih-alih lengan Seokjin, Yein malah mendapati selembar selimut yang kini tersampir dengan lembut di bahunya.

“Jangan sampai sakit, ya.”

Diiringi dengan kalimat itu, Seokjin lantas meraih novel yang ada di tangan Yein dan meletakkannya di atas meja. Menggantikannya dengan segelas cokelat hangat yang ia bawa, lengkap dengan beberapa potong kukis yang tersaji di atas nampan. Seulas senyum terukir di bibirnya—praktis membuat Yein tergagap dan memerah lantaran ia tak biasa diperlakukan seperti ini.

“E-eh, Seokjin-a….”

“Suasananya sedang nyaman,” gumam Seokjin, mengambil tempat di samping Yein seraya menyeruput cokelat hangat miliknya sendiri. “Dan aku malas menimbulkan keributan.”

Yein hanya bisa terdiam, tak membalas selagi diam-diam mengulum senyum. Senang karena untuk sekali ini Seokjin memahami dirinya, sehingga ia pun tak keberatan untuk sedikit bergerak mendekat dan merangkul lengan Seokjin sebagai balasan. Sekilas saja memang, tetapi Yein bisa merasakan hawa dingin yang tadi hadir lenyap dan digantikan dengan aura hangat yang menguar di ruang keluarga itu.

Trims, Seokjin-a. Sering-sering seperti ini, ya.”

.

fin.

seharusnya belajar buat ujian tapi butuh dosis fluff jadi yaudah nulis saja ((jangan ditiru))

dan tadinya plot hanya untuk ManRi, eh malah keterusan couple lain yasudahlah

sampai jumpa lagi setelah ujian selesai! ❤

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet-Mix] It’s Cold Outside

  1. Wah wah… Ff Manri bertebaran nih 😂😂
    Ciee yg peka.. Ciee yg lagi bingung.. Ciee yg main rangkul… Lagi putus ama Jinan ya? (kabur sebelum digiles kak kleri)

    Oke yg ini aku diabetes… Parah, ini manis aedd semanis muka Yoongi /plak
    Kapel satu ini as always… Fluff fluff story… ><

    Ah, kemarin masih pacaran skrg dah nikah aja /plak
    Duh duh.. Manis ya abis nikah.. Ku juga mau dong gt sma Hobi /.\ (menggelinding)

    Like

  2. Manri dimanamana… huwaaaaahhh… hahahahha

    btw ini kenapa manis banget 33nya astagaaaa… puasapuasa bawaannya pen jejeritan ginilah.. mana di temoat kerja juga lagi dingin banget… trus aku kudu ngode kesiapaaaaaa ???? hiks TT.TT

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s