[BTS FESTA] Berbeda

Berbeda

Berbeda

naya | BTS’ Jung Hoseok, Jung Hyejin (OC), Song Minhye (OC) | Family, AU, Slice of life | PG-12 | Vignette |

~just own the awkward plot~
.

Based on confusing(?) prompt; “Wah, mana kutahu kalau akhirannya bakal begini?” –from aurora
.

“Bagaimanapun juga, aku tetap Putri Belle-mu, ‘kan?”

***

 

Tempias merata di permukaan kaca jendela yang sejak tadi kupandangi. Mengaburkan pandangan memang, tapi hey, bukankah itu indah? Bunga-bunga cantik yang belakangan terlihat lesu sudah percaya diri lagi. Dan bau tanah basah adalah aroma favorit sepanjang usiaku.

Lamat-lamat aku kembali meneguk teh hijau dalam genggamanku. Ini juga kesukaanku, walau aku akan lebih menyukainya jika Hyejin yang menyeduhnya. Dulu, dulu sekali ia menyuguhkan teh hijau setiap hari, lalu menemaniku duduk di ruang tamu sambil menatap panorama kegemaranku; lembayung.

“Yah …”

Aku menoleh. Kini bukan Hyejin lagi yang menemaniku. Walau begitu, baik Hyejin maupun wanita ini, aku menyukai keduanya. Dulu, dulu sekali saat Hyejin mengerti kata ‘sibuk’, wanita ini yang akan menemaniku. Toh sebelum Hyejin muncul, wanita ini yang selalu melakukannya.

“Barusan Hyejin menelepon …”

“Uh?”

“Dia tidak bisa bicara banyak. Tapi ia sangat merindukanmu.”

Hanya senyum yang kupunya sebagai tanggapan. Kata ‘rindu’ itu sudah terlalu sering menjadi garam dalam hidupku. Aku lebih ingin mendengar jika Hyejin ingin bertemu. Memang aku tak bisa mengukur seberapa besar rasa rindunya, tapi milikku jauh, jauh lebih besar. Sebab Hyejin adalah kesayanganku.

***

“Aku pulang.”

Sepi. Bukan hanya netraku, tapi hidung dan telingaku juga tidak menerima rangsangan apapun. Hey, alat-alat indraku masih berfungsi ‘kan? Rasanya aneh sekali menemui kondisi rumah yang tak biasa ini.

Aku melepas sepatu dan membiarkannya tergeletak, kemudian menyampirkan jasku sembarangan di sandaran sofa–aku tahu Minhye akan marah tapi biar saja. Tanpa berniat berganti pakaian lebih dulu, aku menuju dispenser dan meminum segelas air. Barulah saat aku membuka pintu kamar, aku tahu bahwa fungsi indraku belumlah rusak.

Dor!”

Serius, aku kaget. Sesosok makhluk bertubuh mungil tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar dan melompat ke arahku. Rupanya ia cukup kuat sehingga sanggup membuatku terjungkal dan kini ia menduduki dadaku.

“Angkat tangan!” Ia menodongkan senapan plastik.

Aku pura-pura mengerang. “Ayah kalah … Ayah kalah …”

Kemudian sosok mungil itu tertawa–mungkin agar terlihat garang tapi justru suaranya begitu menggemaskan. Dengan cepat aku mengangkat tubuh kecilnya kemudian mengambil posisi duduk sambil mendekapnya erat-erat.

“Sekarang Hyejin yang tertangkap! Jangan bergerak!”

Hyejin meronta, berusaha melepaskan diri. Ia menendang, memukul tanganku, namun tentu saja itu tak ada apa-apanya. Kemudian dia mengeluarkan jurus terakhirnya yang membuatku melolong keras; gigitan.

Dengan lincahnya, Hyejin melompat turun dan mengambil senapannya yang tadi terjatuh. Bak tokoh pahlawan yang berhasil membekuk musuhnya, mulut mainan itu ia tempelkan pada dahiku.

“Ayah kalah! Dor!

Dan aku harus pura-pura mati, kecuali aku ingin melihat bocah ini menangis malam-malam.

“Hyejin-ah, ayo tidur.”

Itu suara Minhye yang baru keluar dari kamar mandi. Ia langsung menarik Hyejin dalam gendongannya, namun tentu saja gadis kecil itu melakukan perlawanan.

“Hyejin mau tidur sama Ayah!” rengeknya. “Hyejin mau dengar cerita-cerita Ayah!”

Aku tertawa, lalu menerima Hyejin yang dioper oleh Minhye. Minhye tidak mengatakan apapun, tapi matanya sarat akan makna; setelah Hyejin tidur ayo bicara. Aku hanya meringis tanpa dosa dan membawa Hyejin ke kamarnya.

“Hyejin mau Ayah cerita apa?”

“Putri Belle!”

“Kemarin ‘kan sudah. Kemarinnya lagi juga Ayah cerita itu. Bagaimana kalau cerita lain?”

Hyejin menggeleng kuat-kuat sambil menarik selimutnya sampai menutupi dagu.

“Ayah punya cerita tentang angsa yang lucu. Atau Hyejin mau dengar tentang Putri Salju dan kurcaci?”

“Tidak mau! Hyejin mau Putri Belle!”

Sebenarnya meniru siapa anak ini? Begitu keras kepala dan akan merajuk jika keinginannya tak dituruti. Maka aku kembali mendongenginya dengan kisah klasik itu. Kisah favorit Hyejin, takdirnya, dan konsekuensi yang harus kutanggung.

***

Awalnya Minhye tak setuju, tapi Hyejin terlanjur menyukainya.

Hyejin dibesarkan dengan dongeng-dongeng klasik, yang kadang kuberi bumbu racikan sendiri. Itulah sebabnya Hyejin suka tidur denganku, rela menungguku pulang sampai larut malam. Dan malam-malam seperti itu harus kulewati dengan celotehan Minhye yang intinya sama saja.

“Jangan lembur lagi, Yah. Kau tahu di umurnya yang sekarang Hyejin tak boleh tidur terlalu malam.”

Itu saat Hyejin masih sekolah dasar. Saat Hyejin sudah memakai seragam, kalimat Minhye berubah.

“Jangan terlalu sering mendongeng pada Hyejin. Ia butuh belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.”

Tapi Hyejin tidak pernah protes. Ia selalu menyukai cerita-cerita itu, walau khusus setiap Minggu malam adalah jadwal bagi Putri Belle untuk diceritakan. Hyejin membenci hari Senin, jadi cerita tersebut menjadi penyemangat baginya. Putriku benar-benar pandai beralasan, seperti ibunya.

Memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kebiasaan ini menjadi terbalik; Hyejin yang rajin bercerita. Bukan kisah-kisah fantasi, melainkan tentang kehidupannya sebagai remaja menuju masa dewasa. Dan caranya bercerita benar-benar seperti pendongeng profesional.

“Yah, padahal katanya ia menyukaiku. Katanya aku disuruh menunggu. Tapi aku tak mengerti apa maksudnya,” katanya suatu malam. “Apakah Ayah dulu juga seperti itu?”

Tapi sebelum aku memberikan jawaban atau tanggapan, Hyejin sudah bicara lagi.

“Ah! Dan Jooyeon pernah berkata kalau ia menyukai pemuda itu! Apa yang harus kulakukan? Jooyeon ‘kan sahabatku! Eh, tapi tenang saja. Aku kan tidak tertarik pada lelaki itu. Jadi kami tak perlu saling cemburu, benar ‘kan?”

Walau ritual antara ayah dan anak ini berubah, ada beberapa hal yang sulit untuk dihindari. Pertama, Minhye masih sering protes, bicara soal Hyejin yang harus les dan mempersiapkan diri masuk universitas. Kedua, proses bercerita dan mendengarkan ini hanya terjadi antara aku dan Hyejin. Ketiga, Hyejin masih menjadikan cerita Putri Belle (sekarang ia menyebutnya Beauty and the Beast) sebagai kesayangannya.

Satu hal lagi, kesukaanku terhadap senja mendarahdaging. Pada hari libur mingguan, kami akan bercengkerama di ruang tamu, bersama dua cangkir teh hijau.

***

Ini tentang Hyejin.

Waktu seperti berselancar di atas padang es, dalam sekejap mata ia sudah berkeluarga. Ia memiliki suami yang mencintainya dan seorang anak lelaki yang sangat mirip dengannya. Keluarga kecil itu tinggal di Seoul, meninggalkan tanah kelahiran Hyejin di Ulsan.

Anak lelaki Hyejin sangat mirip dengan ibunya; ia menyukai cerita. Ia hanya bisa tidur setelah sebuah dongeng dibacakan, dan hanya mau melakukan sesuatu setelah diiming-imingi cerita. Namun sayangnya, Jung Hyejin tak seperti Jung Hoseok.

Hyejin baru menyesali kisah-kisah fiksi itu saat ia akan naik ke altar.

Jauh, jauh sebelum itu, Hoseok dipindahtugaskan oleh perusahaan tempat ia mengais rezeki. Karena tak memakan waktu lama, ia tak ingin membawa keluarganya. Tentu saja ini menuai protes keras dari Hyejin. Maka sebagai pelipur, Hyejin meminta satu hal; pulang tepat waktu.

Namun Hoseok tidak bisa memegang janji kembalinya. Ia terlambat pulang akibat berbagai isu dan bencana alam yang terjadi pada saat itu. Untuk mempersingkat, Hoseok harus mengorbankan berbagai hal untuk bertahan hidup.

Dan Hyejin dengan bekal nekat serta izin setengah hati dari ibunya pergi menyusul Hoseok. Dia sudah cukup dewasa untuk itu.

Saat ingin membawa pulang ayahnya, mereka ditahan oleh sesosok pria buruk rupa. Bukan rupa parasnya, tapi hatinya. Bukankah ini jauh, jauh lebih sulit untuk sekedar disembuhkan dengan air mata?

Tapi takdir dari langit siapa yang tahu? Mereka menikah. Hyejin meninggalkan Hoseok; ia benar-benar menjadi Putri Belle.

***

Sejak itu, sampai sekarang, Hyejin tak pernah menemaniku menonton lengsernya matahari. Ruang tamu rumah ini terasa hampa.

Di usia senjaku, dengan fungsi organ yang mulai menurun, aku tak mengharapkan banyak hal. Termasuk menepis jauh-jauh harapanku untuk kembali bercengkerama dengan Hyejin.

Tapi hari itu ternyata datang. Hyejin datang bersama hari yang indah itu.

“Ayah …” panggil Hyejin pelan. Aku tak sanggup menahan diri mendengar suaranya yang amat lembut, amat kurindukan. “Bagaimanapun juga, aku tetap Putri Belle-mu, ‘kan?”

Tangan lembut Hyejin mengelus punggung tanganku yang keriput. Melihatnya bicara seperti ini lagi, membuatku teringat akan masa kecilnya.

“Ayah, pernahkah Ayah memikirkan tentang pangeran tampan yang menikahi Cinderella? Seandainya Cinderella tak menjatuhkan sepatu kacanya, akankah mereka menikah? Atau tentang angsa yang buruk rupa. Jika angsa itu terlahir dengan cantik, bukankah hidupnya akan membosankan?”

Aku tersenyum, mengerti jika Hyejin tak berharap pertanyaan-pertanyaan itu dijawab.

“Kadang aku juga berpikir tentang Pinokio yang menjadi manusia. Apabila hidungnya tak memanjang saat berbohong, bisakah semua perkataan Pinokio dipercaya?”

Entahlah.

“Seperti Belle, Yah. Tak pernah diceritakan dalam dongeng jika Belle kembali pada ayahnya usai menikah. Tapi bagaimanapun juga, Belle tetap anak ayahnya ‘kan?” Hyejin menggenggam tanganku erat. “Yah, aku bukan Putri Belle. Ayah tak perlu menyesal. Bagaimanapun juga, aku akan tetap kembali kepada Ayah.”

Benar. Hyejin tak pernah menjadikan dongeng-dongeng klasik itu sebagai panutannya. Jung Hyejin adalah Jung Hyejin, putri kesayanganku. Dan akan selalu seperti itu.

“Aku juga tak menyangka, Hyejin-ah,” ucapku serak. “Wah, mana kutahu kalau akhirannya bakal begini?–kalau akhirnya ternyata seindah ini?”

 

– Finish –

Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca /tebar cinta/ dari proses berpikir sampai finishing semuanya serba kilat jadi mohon maaf atas segala khilaf yang bertebaran. Have a nice day {xoxo}

 

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FESTA] Berbeda

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s