[BTS FESTA] Calculation of Love

Calculation of Love

a fanfiction by darkchocobee

.

Jungkook [BTS] ft. 95z

and mention of Mingyu [Seventeen]

.

Ficlet | failed!Comedy, Friendship, College!AU | PG-13

.

prompt by echaminswag~

“Asal kamu tahu, ahli Matematika pun tak dapat memecahkan rumus cinta sejati.”

.

Jungkook pikir cinta itu hanya masalah kalkulasi dan prediksi.

Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan ia yang notabene seorang anak Jurusan Ilmu Matematika Murni, pun dengan otaknya yang lebih senang berkecimpung di dunia angka dibandingkan memikirkan masalah romansa yang tiada akhirnya.

(Kim Mingyu–teman seangkatannya dari Jurusan Teknik Sipil–pernah bilang ia sudah tidak normal lagi, tetapi Jungkook menolak mengakuinya.)

Ini juga tidak ada hubungannya dengan kesukaannya pada anime, membuatnya menghabiskan waktu senggangnya dengan menonton ulang Haikyuu! ditemani sekantung besar keripik kentang rasa rumput laut.

Dari luar, Jungkook tampak seperti pemuda tampan nan menawan, kok.

(Hanya dari luarnya saja. Jangan tertipu penampilannya, ya, guys.)

Sejatinya, berhubungan dengan perempuan itu nyaris sama dengan bermain dating sims–sebuah game berisikan gadis-gadis anime yang tujuan utamanya adalah membuat mereka jatuh cinta kepadamu.

Jungkook berpendapat bahwa kamu hanya perlu menganalisa tipe-tipe perempuan yang sedang kauincar, kemudian melontarkan beberapa kalimat yang sekiranya dapat membuatnya tertarik kepadamu.

Itu saja. Mudah, kok.

(Kecuali fakta bahwa beberapa kalimat tersebut ada di antara milyaran lainnya.)

Maka, ketika kedua senior yang menjadi teman dekatnya meributkan masalah cinta beberapa waktu yang lalu, Jungkook hanya memutar bola mata sembari memainkan PSP kesayangannya.

(Sekadar memberi informasi, ketiganya sudah berteman dari masa SMA.)

Aku ragu apakah ada yang akan menyukai Jeon Jungkook,” ujar Jimin sembari menggelengkan kepala perlahan.

Taehyung hanya mengangkat bahu. “Aku, sih, tidak ragu. Carikan saja yang sama-sama menggilai anime. Beres, kan? Begini-begini tampangnya lumayan, kok.

Itu, sih, kalau si perempuan tahan dengan sifatnya. Kalau tidak?

Jungkook menghela napas panjang. “Terimakasih, aku sama sekali tidak tertarik.

Wow, Jeon.” Jimin bertepuk tangan tanpa suara, kemudian menoleh ke arah Taehyung. “Anak ini bisa melajang selamanya, bung.”

Taehyung mengusap air mata imajinernya. “Aku tahu, bro. Sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan.

Kala itu, Jungkook hanya mendecih kesal. “Aku masih di sini, tahu. Lagipula, sudah kubilang, kan? Cinta dan tetek bengeknya hanya masalah kalkulasi dan prediksi saja.

Jangan bicara sembarangan, Jeon. Asal kamu tahu, ahli Matematika pun tak dapat memecahkan rumus cinta sejati.

Jungkook memutar bola matanya. “Aku bisa mendapatkan pacar kalau aku mau. Mau bukti?

Sesungguhnya, seringaian jahat yang terpampang di wajah kedua senior-nya itu tadinya membuatnya ragu. Kalau sudah begini, pasti mereka sudah memikirkan hal yang sama usilnya.

Benarkah? Kalau begitu, coba dekati Reina Kim dari Jurusan Sastra Korea.

Maka, di sinilah Jeon Jungkook berada–di hadapan seorang gadis berkucir kuda yang tengah menatapnya penuh rasa ingin tahu.

Rasanya ia ingin mencekik kedua senior kurang ajar yang membuatnya berakhir di sini.

Bukan karena takut ditolak, melainkan karena tugas “mendekatkan diri” ini merepotkan. Waktu-waktu yang bisa dihabiskannya dengan menonton waifu-nya–Erza Scarlet–dari layar komputer dapat terbuang sia-sia.

(Lagipula, siapa, sih, yang dapat menolak pesona seorang Jeon Jungkook?)

Sunbaenim, ada apa mencariku?” tanya Reina memecahkan lamunannya.

Jungkook terdiam sejenak sembari mengamati Reina Kim lekat-lekat.

Kalau dilihat-lihat–dan dari apa yang didengarnya dari kedua senior sialan yang notabene sahabat-sahabatnya–Reina ini tipe orang yang akan menyukai cowok jujur dan blak-blakan, seseorang yang jelas mengutarakan tujuannya. Entah untuk berteman atau sesuatu yang lebih.

Jadi, Jungkook melontarkan senyum yang dapat membuat hati para gadis meleleh.

“Kau ada waktu?” tanya Jungkook kepada gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu.

“Eh? Ada apa, sunbae?”

Jungkook tersenyum. “Aku menyukaimu dari dulu, jadi aku mengajakmu berkencan. Apa kurang jelas?”

Dan Reina Kim akan tersipu malu dan mengiyakan ajakannya.

Itu, sih, apa yang diimajinasikannya.

Nyatanya, Jungkook bergeming berhadapan dengan seorang gadis semanis Reina. Tubuhnya membeku tanpa alasan, tidak dapat digerakkan. Senyumnya pun terkesan dipaksakan.

(Kamu tahu bagaimana tersenyum sembari menahan diri dari pergi ke toilet? Nah, begitu senyumnya.

Kalau tidak tahu, mohon dibayangkan sendiri.)

Sejujurnya, inilah alasan sesungguhnya kenapa Jungkook tidak ingin repot-repot mendekati seorang gadis.

Dia malu.

Tertawakan saja ia karena berlagak angkuh, mengandalkan wajah dengan ketampanan di atas rata-rata miliknya. Namun, sesungguhnya Jungkook gugup berhadapan dengan seorang gadis.

Kalkulasi dan prediksinya tidak pernah meleset.

(Menurutmu siapa yang membantu Jimin dan Taehyung mendekati pacarnya yang sekarang?)

Masalahnya hanya terletak pada dirinya. Ia tidak bisa melakukan hal-hal yang ada di pikirannya.

Sunbaenim?”

“Aku cuma–kencan–tunggu, itu tidak benar. Mengajakmu?” gumam Jungkook tidak jelas. “Akumenyukaimudaridulujadiakuinginmengajakmukencanapakaukeberatan?”

Reina hanya mengerutkan dahi.

“Maaf, tadi sunbae bilang apa?”

Jungkook sudah nyaris sesak napas tatkala Reina ingin ia mengulang pertanyaannya.

“Aku cuma–” Reina menatapnya lekat-lekat, membuatnya semakin gugup.

“Ya, sunbae?”

Jungkook meneguk ludah kasar.

“Tidakjadimaafmembuangwaktumu!”

Lalu, Jungkook berlari meninggalkan Reina begitu saja, membuatnya terpaku sembari menatap punggung Jungkook yang semakin menjauh.

.

.

.

Jungkook pikir cinta itu hanya masalah kalkulasi dan prediksi.

Kalkulasi dan prediksinya tidak pernah meleset, tentu saja.

Namun, buat apa kalkulasi dan prediksi ketika ia tidak bisa mempraktikkannya?

(Jungkook mengumpat dalam hati setelah insiden memalukan itu. Ia sudah bisa mendengar tawa mengejek dari Taehyung dan Jimin selama beberapa minggu ke depan.)

Ah, sungguh sial nasibnya.

Terkutuklah ia dan sifat malu-malunya yang terpendam.

.end.

Notes:

 

  • Dating sims (or dating simulations) are a video game subgenre of simulation games, usually Japanese, with romantic elements
  • Erza Scarlet itu karakter dari anime Fairy Tail

 

Sumber: Wikipedia dan Wiktionary

A/N: Halo. Yha. Gatau mau ngomong apa. Ini kenapa prompt bagus-bagus jadinya sehancur ini ;;-;; maafkan aku, Kak Echa. Dan maaf banget buat yang baca. Aku tau banyak kekurangannya, tapi …

HAPPY 3RD ANNIVERSARY, BTS!

Yaudah. Itu aja. Semoga nggak ancur-ancur amat, lah, ya. Oke. I’m out. X))

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FESTA] Calculation of Love

  1. kyaaaaaaaa jungkuki, jadi gemaaaas sama kamu /.\
    mau copas komennya kak didi ae; muka songong tapi cemen wkwk XD XD XD /keplakin kuki sampe besok/

    aya-chaaan ini berhasil kok prompt-ficnya aku sukaaaaa~~ manis, gemas, pokok kiyowo banget dengan sifat pemalunya jungkuk dan duo iblis yang anjay kenapa kalian muncul dimana-manaaa??
    sini, echa mau peluk aya dulu~~

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s