[BTS FESTA] Once Upon A Time At The King’s Magazine

The Kings Magazine

Once Upon A Time At The King’s Magazine

.

a fanfiction based on an amazing prompt by Ivyjung

Berhenti bermain-main dengan rok mini! Kautahu, aku cukup berbahaya.”

.

BTS’s Kim Taehyung & OC’s Lily O’Brian | office!AU, friendship, slight!fluff, slight!comedy | vignette 2.746 words | Teen

.

®snqlxoals818

.

“Aku suka Conan.”

Saat itu, halte bus di depan kantor The King’s Magazine kebetulan sedang sepi. Hanya ada Lily dan seorang pria yang baru saja berucap seperti tadi. Namanya Kim Taehyung. Mereka berada di kantor yang sama—bagian redaksi, di lantai lima, dan berbeda beberapa kubikel jauhnya. Lily dan Taehyung hampir tidak pernah bertegur sapa. Ya, hampir. Karena awal musim panas kemarin, Taehyung pernah meminta Lily untuk memastikan pendingin ruangan di dekatnya berfungsi dengan baik atau tidak.

Apa alat itu mati?

Tidak. Alat itu baik-baik saja.”

Tapi aku berkeringat.”

Itu karena kau memakai syal di musim panas.”

Oh, kau benar. Maaf.”

Percakapan mereka berhenti sampai di situ. Setelahnya, mereka tidak pernah mengobrol lagi. Dan sekarang, Taehyung berlagak seolah dia dan Lily bersahabat sejak bayi yang selalu berbagi rahasia tentang kesukaan masing-masing.

“Kau tidak percaya?” tanya Taehyung saat Lily tidak meresponsnya. Taehyung menggeser bokongnya mendekati Lily. Badannya mencondong ke depan dan kepalanya menoleh ke arah gadis itu. Spasi di antara kedua alis tebalnya berkerut. Matanya masih belum lepas dari mengamati wajah Lily ketika dia kembali berkata, “Ey, kautahu aku suka Conan. Benar, kan?”

Seketika tubuh Lily menegang. Meski Lily selalu berharap Taehyung mau bicara dengannya, seperti duduk di dalam sebuah kafe sambil menyesap kopi hangat, tapi jika Taehyung mengetahui perbuatan ‘kotornya’ selama ini, Lily lebih memilih pergi jauh-jauh darinya sekarang juga.

Perbuatan kotor… well, itu julukan yang diberikan Park Jimin, editor bagian rubrik ramalan bintang dan penghuni kubikel di sebelah Lily.

Diam-diam selalu memerhatikan seorang Kim Taehyung itu perbuatan kotor.”

Aku hanya memerhatikan. Bukan memikirkan hal yang aneh.”

Kau seperti ingin melakukan hal aneh dengannya.”

Astaga. Itu menggelikan!

“Ha! Kau memikirkannya sekarang!

Aku memikirkan bagaimana cara membunuhmu, tahu!

Lagi, kata Jimin, Kim Taehyung juga tidak pantas diam-diam diperhatikan. Dia pria yang aneh. Pekerjaannya selalu selesai tepat waktu dan sisa jam kerjanya yang lain dipakai untuk bermain Pinball. Atau sekadar duduk menopang kakinya di atas meja dan semenit kemudian tertidur pulas. Kim Taehyung tidak pernah peduli pada Lily—peduli kalau Lily sering sengaja berkeliaran di sekitarnya.

Tapi, Lily tidak menghiraukan komentar Jimin. Biar saja Taehyung tidak tahu siapa dirinya. Lily tetap suka memerhatikan Taehyung. Pria itu punya gigi putih yang rapi, cengirannya terlalu lebar (termasuk cengiran yang lucu, bukan psikopat!), dan suara besarnya ketika menertawakan Kim Namjoon—pemimpin redaksi—yang terpeleset di depan kamar mandi wanita.

Seperti yang dituduhkan Taehyung (bukan tuduhan juga, sih, karena Taehyung bicara yang sebenarnya), Lily tahu Taehyung suka tokoh kartun Conan. Di kubikelnya ada satu patung kecil Conan dan di lacinya (Lily tidak sengaja melihatnya. Sungguh!) ada semua seri komik Detective Conan. Setiap hari Senin dan Kamis, Taehyung selalu pakai dasi merah yang sama persis seperti yang dipakai Conan.

Jimin bilang Taehyung kekanakan.

Lily setuju, tapi Taehyung juga lucu.

Kau gila, Lily.”

Tidak, Jimin. Aku hanya sedang menyukai Taehyung.”

Kau gila karena menyukai Taehyung.”

Lily yakin dia tidak gila. Dia masih waras. Dia masih bisa menyunting cerita fiksi kiriman dengan baik untuk diterbitkan di rubrik ‘The Fabulous Lily (Little Story)’ setiap minggunya. Lily masih tetap mengabaikan Jeon Jungkook, mahasiswa magang yang menjadi fotografer, jika lelaki itu menggodanya. Lily tidak suka anak kecil, itu yang menandakan dia masih waras.

“Hei, Lily? Kenapa melamun?” tanya Taehyung lagi. Kali ini diiringi sebuah tepukan. Bukan tergolong lembut layaknya seorang pria jantan menepuk pundak seorang gadis. Tapi tepukan seperti kau menepuk nyamuk yang sedang nikmat-nikmatnya menyedot darah di kulitmu.

Rasanya sakit. Harusnya Lily marah. Balas menepuk atau menampar Taehyung sekalian. Tapi gadis itu malah tersenyum kikuk dan menggeleng pelan. “Maaf. Aku hanya teringat harus membeli Nutella di minimarket.”

“Aku juga suka Nutella!” pekik Taehyung. Maniknya berbinar dan dia bertepuk tangan heboh seperti anjing laut. “Aku suka mengoleskan Nutella di atas Cadbury.”

Lily mengerutkan pucuk hidungnya. “Tapi mereka sama-sama cokelat.”

“Dan mereka sama-sama lezat. Aku suka.”

Taehyung mendongak menatap langit. Mungkin dia sedang membayangkan mengunyah Cadbury berlapis Nutella yang katanya lezat. Lily akan mencatat hal ini di jurnalnya. Lain kali Lily bisa menarik perhatian Taehyung dari matanya yang terpusat pada permainan Solitaire dengan membawa kantung plastik transparan berisi dua batang Cadbury dan sestoples Nutella.

Ide ini jauh lebih baik ketimbang ide konyol yang diutarakan Park Jimin di hari Selasa.

Jimin kesal setengah mampus saat mendengar ‘klik’ berulang-ulang dari kubikel Lily. Menggeser kursi berodanya, Jimin melihat Lily menopang dagu dan terus menekan tetikus abu-abu miliknya di lembar kosong Microsoft Word. Lily tampak seperti perawan tua yang gagal menikah tujuh kali. Mengenaskan.

Klik. Klik. Klik.

“Aku bisa berteriak pada titisan monyet itu, ‘Hei, Tae. Lily mau mengajakmu nonton Finding Dory sambil makan seember popcorn keju!’ sekarang juga kalau kau tidak keberatan.”

“Aku tidak keberatan akan mencincangmu sekarang juga kalau kau berteriak seperti itu.” Klik!

“Kau tidak punya pisau daging.”

“Aku bisa membelinya online.” Klik. Klik!

Psycho.”

“Bukan. Aku Lily O’Brian yang menyedihkan karena Kim Taehyung sama sekali tidak tertarik padaku.” Klik. Klik. Klik.

Park Jimin bersedekap. Menggeleng. Berdiri. Mengamati sekitar—kubikel Taehyung kosong, Yoongi tertidur di dekat mesin fotokopi, Namjoon membaca majalah yang-membuatmu-bergidik-ngeri (eew!) di ruangannya, Jungkook sedang mencetak foto ditemani ceracau dari Hoseok, dan Seokjin sedang berbicara dengan kepala bagian produksi. Jimin duduk lagi. Menyambar keyboard hitam milik Lily setelah menyingkirkan tangan gadis itu dari tetikusnya.

Park Jimin mengetik sesuatu.

“Aku yakin Taehyung akan melirikmu kalau kau melakukan ini,” kata Jimin sambil mengetuk ujung kukunya ke layar komputer. Senyumnya terkembang lebar seolah Park Jimin baru saja memecahkan misteri Segitiga Bermuda.

Lily melongo. Dia menggeleng cepat. Tidak mau melakukan hal gila itu tapi tatapan Jimin tampak sangat meyakinkan. “Aku tidak….”

“Percaya padaku!”

Lily melakukannya. Lily mengikuti ide konyol Jimin. Lily percaya pada temannya. Dan Lily berakhir demam tinggi di hari Kamis karena memakai rok mini ke kantor saat berita ramalan cuaca mengatakan suhu di Seoul mendekati minus lima derajat.

Sialnya lagi, Taehyung sama sekali tidak melirik Lily!

Bravo!

Terkutuklah ide konyol Park Jimin!

.::.

“Lily? Kau masih demam?”

Astaga, Lily lupa ada Taehyung di sebelahnya! “Kurasa, ya. Sedikit.”

“Itu gara-gara rok mini. Jangan pakai lagi,” kata Taehyung dengan mimik muka serius. Taehyung tidak pernah serius kecuali jika sedang bermain Solitaire. Dia bahkan tidak serius saat menjawab pertanyaan-pertanyaan masalah percintaan para remaja di rubrik ‘Ask Mr. MonTae’ (MonTae, kependekan dari Monkey Taehyung, julukan yang dengan senang hati dia usulkan kepada Namjoon sebagai judul rubriknya).

Ya ampun, Lily senang sekali mendengar larangan Taehyung. Itu artinya Taehyung menyadari Lily yang memakai rok mini. Taehyung peduli padanya. Oh, Tuhan, Park Jimin harus tahu ini. Lily harus mentraktir Jimin sekotak penjepit kertas!

“Aku mendapat surat peringatan gara-gara rok minimu.”

“Hah?! Apa maksudmu, Tae?” Apa korelasi antara surat peringatan dan rok mini? Apa kemarin Taehyung ke kantor pakai rok mini lalu Namjoon yang melihat itu tersedak majalah yang-membuatmu-ingin-segera-memusnahkannya, jadi Seokjin memberikan surat peringatan?

Taehyung membuka mulutnya. Seolah ingin membongkar peristiwa apa yang terjadi di hari Kamis saat Lily tidak masuk kerja, namun dia mengurungkan niatnya. Taehyung meletakkan kedua tangannya di pundak Lily, memutar badan gadis itu agar menghadapnya.

“Lily O’Brian.” Taehyung berdeham. Dia tampak gugup. “Berhenti bermain-main dengan rok mini! Kautahu, aku cukup berbahaya.”

Tawa Lily meledak seketika. Entah kenapa, ancaman Taehyung terdengar tidak seperti ancaman. Disebut gertakan juga tidak pantas. Apa ini sejenis lelucon baru dengan tipe ancaman-bukan-ancaman?

Berdiri, Taehyung berkacak pinggang di depan Lily. Sorot matanya setajam pinggiran kertas. Harusnya Lily takut. Tapi ekspresi Taehyung terlalu lucu. Seperti anak kecil yang melarang ibunya untuk tidak bergosip di pinggir jalan. Yah, tahu sendiri, kan bagaimana hebohnya sekumpulan ibu-ibu kalau sedang bergosip?

“Aku serius, Lily O’Brian. Aku berbahaya.” Taehyung bersikeras. Mau tak mau Lily mengangguk setelah meredakan tawanya. “Aku bisa tiba-tiba berubah menjadi Hulk, tahu.”

Taehyung tidak benar-benar menjadi Hulk. Di hari Kamis, dengan dasi merah, Taehyung melangkah besar-besar memasuki ruang redaksi. Bukan menuju kubikelnya, Taehyung menghampiri Jimin yang baru saja meletakkan mantel hitamnya di sandaran kursi. Dan tanpa basa-basi, Taehyung mendorong punggung Jimin sampai pria itu tersungkur mencium mejanya.

“Hei, Bung! Apa-apaan ini?!” Setelah memastikan tidak ada darah di ujung bibirnya dan gigi depannya masih utuh, Jimin balas mendorong Taehyung.

Taehyung dan Jimin tidak pernah bertengkar secara fisik. Mereka hanya sering berdebat atau melontarkan ejekan satu sama lain. Kalau adegan saling memiting hingga mereka terlihat seperti benang kusut, itu juga pernah. Alasannya karena berebut hadiah Natal. Itu pun diiringi gelak tawa. Jadi, tidak bisa dikategorikan berkelahi secara harfiah.

Sekarang pun, Hoseok ragu menyebut aksi dorong-mendorong pundak yang mereka lakukan bisa dikatakan sebagai berkelahi. Yah, demi keselamatan isi kubikel di sekitar mereka (dan akuarium kesayangan Seokjin), Jung Hoseok, selaku copy editor merangkap sebagai pembela kebenaran yang mencintai perdamaian, memukul puncak kepala Taehyung dan Jimin dengan penggaruk punggung.

Hyung!” teriak Taehyung dan Jimin bersamaan. Keduanya melayangkan tatap melotot ke arah Hoseok. Tak pedulikan jika pria berseragam olahraga berwarna biru dengan rambut berantakan di hadapan mereka adalah seorang senior yang seharusnya ditakuti. (The King’s Magazine membebaskan karyawannya dalam hal berpakaian.)

“Apa?!” Hoseok balas berteriak. Dia mengacungkan ujung penggaruk punggungnya di depan hidung Taehyung. “Kau. Kembali ke kandangmu. Shoo.”

Taehyung mendengus sebal. Dia berbalik dan mengentak-entakkan kakinya menuju… oh, dia menuju ruangan Namjoon. Bukan berarti kandang Taehyung itu ruangan si pemimpin redaksi. Hanya saja, Taehyung punya sedikit urusan pribadi dengan Kim Namjoon.

“Taruhan,” kata Hoseok merangkul pundak Jimin. “Taehyung akan keluar dengan kemeja yang basah dan selembar surat.”

Jung Hoseok benar. Seratus persen benar. Tak ada lima menit, Taehyung keluar. Mukanya masih terlihat kesal, kemejanya basah bebercak cokelat muda, dan dia menenteng kertas.

Rupanya, di dalam tadi, Taehyung marah-marah. Dia sampai mengumpat dan mengatai Namjoon mesum (seluruh penghuni ruang redaksi agaknya tahu hal ini). Namjoon yang sedang menyesap kopi sampai menyemburkannya pada Taehyung. Dan pertemuan singkat itu berakhir dengan Kim Taehyung yang mendapatkan surat peringatan.

Alasan kenapa Taehyung mendorong Jimin dan marah-marah pada Namjoon yaitu karena (1) Jimin mengusulkan Lily supaya pakai rok mini, dan (2) menurut pengamatan Taehyung, Namjoon terus-menerus mengamati kaki jenjang Lily yang berlalu-lalang di depan ruangannya. Taehyung tidak suka itu. Tidak suka Lily O’Brian menjadi pusat perhatian, terutama perhatiannya Kim Namjoon.

Hari di mana Lily memakai rok mini adalah hari terburuk bagi Kim Taehyung. Konsentrasinya bermain Feeding Frenzy buyar seketika. Ikan kecil berwarna merah mudanya dimakan hiu dan Taehyung tidak bisa ke level selanjutnya meski sudah mencoba dua belas kali. Itu buruk sekali! Bencana! Musibah!

Taehyung hanya kesal pada Jimin dan Namjoon. Min Yoongi terlalu sibuk melakoni tidur panjangnya di kolong meja. Jung Hoseok memilih menjelajah ke lantai dua bagian pemasaran dan menggoda wanita-wanita cantik di sana. Jeon Jungkook, syukurlah, bocah itu ada jam kuliah di hari Kamis. Sedangkan Kim Seokjin menenggelamkan wajahnya di balik tumpukan naskah-naskah yang harus diperiksa sembari mengingat pacarnya yang super galak. Mereka berempat selamat dari kekesalan Kim Taehyung.

.::.

“Jadi,” kata Lily menarik atensi Taehyung, “kau bisa berubah menjadi Hulk?”

“Kau tidak suka Hulk, ya?”

Lily menggeleng. Menepuk ruang kosong di sebelahnya, Lily mengisyaratkan Taehyung untuk duduk lagi. “Aku lebih suka Peri Kumbang,” kata Lily. Matanya mengerling jenaka.

“Peri Kum—Astaga!” Taehyung menjerit. Dia menutup wajahnya menggunakan tas tangan Lily. “Kenapa kautahu aib terbesarku?”

“Aku punya narasumber terpercaya,” jawab Lily.

Ugh, Park Jimin!”

Pesta Halloween tahun lalu, saat Lily belum bergabung menjadi tim redaksi The King’s Magazine, Taehyung memakai kostum Peri Kumbang. Dress merah bertotol hitam setengah paha (Taehyung memakai celana pendek selutut di baliknya), lengkap dengan tongkat juga sayap. Taehyung juga pakai lipstik merah. Imut sekali. Lily langsung jatuh hati saat melihat fotonya yang disodorkan Jimin. Dan komentar Jimin saat itu adalah….

Lily O’Brian punya selera pacar yang buruk.”

Bukannya marah, pipi Lily malah bersemu merah. Sejak itulah Lily selalu memerhatikan Taehyung. Lily bahkan sudah menyukai rubrik ‘Ask Mr. MonTae’ jauh sebelum dia mengenal siapa itu Mr. MonTae. Pikirnya, jawaban Mr. MonTae unik, meski terkadang dia menjawabnya dengan candaan atau lelucon.

Seperti rubrik yang terbit di minggu kedua bulan Januari 2013.

.

“Mr. MonTae, belakangan saya bosan dengan pacar saya dan saya melirik daun muda. Apa yang harus saya lakukan?”

.

“Cobalah lirik daun tua. Dijamin pacarmu tidak akan marah. Atau kau bisa coba daun teh. Bisa sekalian membuat teh hangat. Cocok diminum berdua.”

.

Setiap jawaban yang diberikan, Taehyung selalu membubuhkan gambar monyet buatannya sendiri di ujung kalimat. Unik, kan?

“Lupakan foto itu.” Taehyung menyerahkan kembali tas tangan Lily. “Itu sangat, sangat memalukan.” Taehyung bergidik. Dia merapatkan mantel cokelatnya.

“Menurutku itu lucu.”

Oops! Lily keceplosan!

Lily jadi takut untuk menoleh ke kiri. Maka dia memutuskan untuk membuang muka ke arah kanan. Mengamati tempat sampah yang tertutup salju. Lily tidak tahu di sebelahnya Taehyung sedang tersenyum lebar.

Kim Taehyung datang terlambat ketika seorang pegawai baru di bagian redaksi menempati kubikel kosong di samping kubikel Jimin. Gadis itu berwajah tidak seperti orang Korea pada umumnya. Lily O’Brian, yang memiliki nama Korea Lily Hwang, adalah seorang blasteran. Ibunya orang Korea sedangkan ayahnya keturunan Eropa. Lily gadis yang manis. Rambutnya sewarna madu pekat, kulitnya putih, dan iris matanya seperti warna langit di malam hari. Taehyung tidak pernah bisa memulai percakapan dengan Lily. Dia sengaja bertanya soal pendingin ruangan di musim panas lalu hanya untuk menarik perhatiannya dari percakapan seru yang dia lakukan bersama Park Jimin. Mereka kedengaran sedang berbincang tentang ramalan bintang yang ditulis Jimin, juga tentang artikel ulasan sebuah film terbaru dari Seokjin.

Katakanlah, Taehyung cemburu. Benar, dia cemburu. Kim Taehyung menyukai Lily O’Brian sampai-sampai dia malu untuk sekadar melirik atau bertegur sapa dengan gadis itu.

“Kau sungguh payah, Hyung,” kata Jungkook di suatu siang saat Taehyung mengakui bahwa dia menyukai Lily. “Ungkapkan saja seperti pria sejati.”

“Tidak semudah itu, Kook.” Taehyung mengembuskan napas panjang. “Lily selalu bersama Jimin. Bagaimana kalau Jimin suka pada Lily atau sebaliknya?”

“Makanya cepat tembak Lily. Susah sekali, sih bilang, ‘Lily, aku menyukaimu. Pacaran, yuk?’ begitu saja, Hyung.”

Mengutarakan rasa suka itu tidak semudah apa yang dikatakan Jungkook. Lebih sulit dari menyusun kartu di permainan Solitaire. Taehyung belum siap kalau Lily menolaknya. Itu lebih buruk daripada tidak mendapat gaji di akhir bulan.

Tapi sekarang, melihat Lily merona pipinya saat Taehyung sengaja menyenggol pundaknya, Taehyung seakan melihat pintu hati Lily terbuka lebar untuk menyambutnya. Ah, picisan sekali. Menggelikan.

Lily mengabaikan busnya pergi. Dia tidak tahu harus berkata apa sebagai salam perpisahan. Sebaiknya dia menunggu Taehyung pergi duluan. Meskipun Lily berharap Taehyung tidak cepat-cepat pergi. Tapi udara semakin dingin.

“Lily.”

“Ya?” Lily masih tidak mau menoleh.

“Jangan pakai rok mini lagi, ya?” Taehyung mengulurkan jari kelingkingnya. Lily menoleh sedikit. Mengamati jari itu lalu sekilas melirik Taehyung. “Janji?”

“Memangnya kenapa?” tanya Lily sedikit gugup.

Taehyung menggeram pelan. Dia mengusap wajahnya yang dingin. “Aku tidak suka. Dan aku lebih tidak suka cara Namjoon Hyung menatapmu saat memakai rok mini. Rasanya seperti… kedua bola matanya mau keluar begitu saja. Mengerikan. Pokoknya aku tidak—”

“—aku suka.”

“Apa katamu?”

“Aku suka caramu tidak menyukai aku yang memakai rok mini.”

Lily tersenyum. Astaga, senyumnya manis sekali. Lebih manis dari teh madu buatan ibu Taehyung. “Oh, begitu. Ya, bagus. Terima kasih.” Kali ini Taehyung yang gugup.

“Terima kasih kembali.”

Keduanya terdiam. Bus yang seharusnya dinaiki Taehyung, baru saja pergi.

Mungkin sekarang waktunya. Taehyung menoleh ke kanan-kiri. Memastikan masih tidak ada orang lain selain mereka.

“Lily.” Taehyung mulai beraksi. “Aku suka Conan.”

“Kau sudah mengatakannya, Tae.”

“Tapi ada yang belum kukatakan,” sahut Taehyung. Dia berdeham, meredakan gugup. Taehyung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Lily. Tangan mereka sama-sama dingin. Jadi lebih hangat kalau berpegangan tangan seperti ini.

“Taehyung?”

“Dengarkan aku dulu, oke?”

Lily mengangguk canggung.

“Aku suka Conan, tapi ada yang lebih aku sukai. Yaitu, kau, Lily O’Brian.” Taehyung mengeratkan genggamannya. “Aku rela kehilangan semua seri komik Detective Conan-ku, tapi aku tidak rela melihatmu bersama dengan Jimin.”

Lidah Lily kelu. Beku. Dia mengerjap memandangi mata besar Taehyung. Lily tidak tahu kalau Taehyung cemburu pada Jimin. Lily memang tidak punya teman dekat selain Jimin. Itu karena bagian redaksi belum lagi merekrut pegawai baru—terutama seorang perempuan. Lily harus protes pada Namjoon besok Senin.

Lily menunggu.

“Aku menyukaimu, Lily O’Brian. Aku menyukaimu lebih dari aku menyukai Conan dan Cadbury campur Nutella. Lily, bolehkah aku, Kim Taehyung, menjadi pacarmu?”

Aw, itu perumpamaan yang paling manis yang pernah Lily dengar. Mana mungkin Lily menolaknya, kan? Jadi, Lily mengangguk dan tersenyum.

Di halte bus ini, Taehyung memeluknya erat. Sangat erat.

“Aku juga menyukaimu, Peri Kumbangku.”

“Oh, kumohon. Jangan itu lagi.”

.

.

.

.

“Jadi… mereka saling menyukai?”

Yep,” jawab Jungkook dan Jimin bersamaan.

“Lily menyukai Taehyung? Lily O’Brian?” tanya Namjoon, lagi. Dia menggeleng-geleng takjub.

“Luar biasa.” Seokjin bertepuk tangan. Saat Yoongi melintas, baru dari kamar mandi mencuci mukanya, Seokjin menyuruhnya bergabung bersama mereka mengintip dari kaca lobi. “Lihat. Lily dan Taehyung sekarang berpacaran.”

Min Yoongi melirik sebentar. Dia meregangkan kedua lengannya ke atas dan menguap lebar. “Lily? Dan Taehyung?”

Jimin, Jungkook, Namjoon, dan Seokjin mengangguk.

Yoongi menyipitkan matanya. Lalu berkata dengan santai, “Siapa itu Lily?”

“MIN YOONGI!”

.

.

fin.


Happy 3rd Anniversary Our Lovely Bangtan~

Doanya cuma satu, semoga selalu bertujuh sampai ulang tahun yang berikutnya, berikutnya, dan selamanya ‘/\’

Untuk fic ini, maaf banget kalau melenceng jauh dari prompt-nya (maafkan aku ivyjung-nim /.\) Dan thanks to amer yg udah kasih judul dan kasih pertanyaan buat Mr. MonTae XD

Sekali lagi, selamat ulang tahun Bangtan-deul~

.

yeni

Advertisements

17 thoughts on “[BTS FESTA] Once Upon A Time At The King’s Magazine

  1. Pingback: When Chaos Ensues | the fallen petals.

  2. Pingback: [Vignette] An Advice to Proper Date – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Vignette] Of Magazine Layout, Coffee, and Sudden Date – BTS Fanfiction Indonesia

  4. kirito

    AHHH TAEHYUNG WHY YOU SO CUTE MABOYY ARGHH I CAN’T STOP LAUGHING.. FIX INI TAE BIKIN BAPER WKWK SUKA PAKE BGT… btw di akhir yonggi-ya kok bikin pingin dicekek yah… untung lucu lu bang.. namjoon bikin taetae marah yah wkwkw lucu ihhh suka suka suka..😂😂😂

    Like

  5. Kak Yeni…..
    TANGGUNG JAWAB KAK, AKU NGAKAK SEPANJANG JALAN INI FF… 😂😂😂
    (oke maaf kepslok jebol)
    Cadburry campur Nuttella, Ikan Feeding Frenzy dimakan hiu, Peri Kumbang, Mr. MonTae, majalah Namjoon, Yoongi yg always tidur, Aquarium Seokjin… (capek nulisnya, segini aja:v)
    Anjir ini perut sma rahang kram gegara ni ff (Kak Yeni tanggung jawab Pt2.)
    But abis ngakak kesana kemari/??/ akhirnya endingnya… Uh sweet fluff gula madu sirop (ga ush jualan jg tih)
    Tapiiii…. ITU MIN YOONGI KEBANYAKAN TIDUR YETH, AMPE GA TAU LILY /plak/ Bang Gula ah tidur nya jg ga elit, masa di samping mesin fotocopy sma kolong meja, njir…..
    Kece kak, zekece Icy (mulai eror)
    /ngacir/

    Like

  6. TOLONG AKU NGEKEK SEPANJANG JALAN BACA FF NYA. YA ALLOH GELINDINGAN DI TEMPAT KERJA ((gak ada yg nyruh baca di tempat kerja, cu))

    NO COMMENT LAGI, POKOKNYA MAU NGEPLAK KEPALA NAMJUN SI MESUM DAN MINYUNGI YANG YASALAM,,,

    /ngekek lagi/

    /ngilang/

    WAAKKAKAKAKAKAKAK

    Like

  7. TOLONG..TOLONG..SIAPAPUN YENI.. KAMU PENULIS JENIUS YEN.. GA CUMA CERITA CERITA KEREN YANG BIKIN KENING KERUTKERUT.. TAPI INI YANG FULL LAWAK PUN BISA SANGATAMATSANGAT MEMBUATKU NGAKAK…

    demi apapun bangtan kenapa banget harus cocok di pake cast buat cerita ginian…. aku pengen banget pelukin satusatu… dan tiap 1 paragraf aku kudu ngekek dulu baru siap lanjut… XD XD XD

    YENI NOMU DAEBAK !!! ^^d

    Like

  8. Kak Yen, ini luar biasa bikin gemes ceritanya Kaaak…
    Taehyung si manusia bulan eh, peri kumbang atau apa pun itu kenapa dia keliatan keremes(keren gemes/maksa bgt/) gitu siih?
    Senin-kamis pake dasi merah, udah kyk puasa sunah aja 😀
    jimin, yaampuun sarannya luar biasa yaa menyesatkan.
    Aku malah ketawa pas endingnya, jdi selama ini Yoongi kemana aja?
    Pokoknya, keren Kaak ^^

    Like

  9. yaallah gemes banget D”””: suka banget penulisan, penggambaran suasananya disini huhuh apalagi momen2nya kayak…. segemes itu??? ah pokoknya suka banget ♡♡♡♡♡♡♡ (btw belakangan ini aku lagi gemes banget sama taehyung dan nama asliku lily, makanya udah nyaris sekarat aja aku baca ini huhuhuh)

    Like

  10. echaminswag~

    KAYEEEEEN, MAAF UDAH NYOLONG START BACA DULUAN SEMALEM XD TRUS SEKARANG MAU MERUSUH JUGA DI SINI HIHIHI

    kerasa banget yha taehyung keren, ganteng, tapi serada oon 😀 sempet ngakak ae kak cadbury campur nutella itu rasanya gimana wkwkwk /keplakin taehyung sampe besok/
    trus endingnya berubah ya kak? /plak/ tapi tetep kereeeen~

    DAN, AKU PALING DEMEN LIAT POSTERNYAAAAA! UHUHU SIALAN KIM TAEHYUNG TAMPAN BAT DI SITU /.\
    bhay kayen bhay, mau keplakin taehyung lagi 😀

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s