[BTS FESTA] Relapse

Relapse - tsukiyamarisa

relapse

written by tsukiyamarisa for BTS Festa

starring Jeon Jungkook with Kim Seokjin, Park Jimin, and Min Yoongi

17 | Dark, Life, Psychology, slight!Thriller | Vignette

.

based on prompt by feyrefly

.

“Aku ingin kembali ke pertengahan Juni, untuk membunuhmu sekali lagi.”

.

Kala itu malam terlampau kelam. Jeon Jungkook mengucek kelopaknya dengan sebelah tangan, lantas menyeret tungkai keluar dari kamar tidurnya. Sebelah tangan meraba-raba dinding yang ada, berusaha mencari tombol lampu agar penglihatannya menjadi sedikit lebih baik. Ia tak pernah suka gelap, omong-omong. Kegelapan selalu membuatnya kehilangan arah, kegelapan tak mengizinkannya untuk mengetahui keadaan sekitar.

Ditambah lagi, ia punya sedikit pengalaman buruk dengan kegelapan.

Satu bunyi “klik” menandakan bahwa dirinya sukses menemukan saklar, diikuti dengan nyala terang lampu yang ada di pusat ruangan. Tampakkan ruang tengah apartemen yang kosong-melompong, sepi dari penghuni selain dirinya. Kim Seokjin—sang lelaki yang berbagi tempat tinggal dengannya—pastilah belum pulang. Bukan hal baru, mengingat lelaki itu memang punya pekerjaan yang menuntut waktu tidur serta kerahasiaan sebagai bayaran. Profesi yang juga berakhir menyatukan keduanya, mengingat waktu itu Seokjin-lah yang sudah banyak membantu Jungkook.

“Setidaknya malam ini aman.”

Berusaha meyakinkan dirinya, Jungkook melangkah menyeberangi ruang tengah dan menuju dapur. Tangan meraih gelas kosong yang ada di atas meja, lantas mengisinya dengan air sebelum mereguknya lamat-lamat. Seakan ia sedang berusaha meredakan kecemasan yang ada, ketika faktanya ia sama sekali jauh dari merasa tenang. Malam memang menjadi waktu yang senantiasa Jungkook benci, lantaran pada jam-jam inilah, ia selalu gagal menghalangi kegelisahan untuk tak datang berkunjung.

“Sialan.”

Seraya mengumpat pelan dan menggulirkan maniknya—entah untuk yang keberapa kali—demi mengecek keadaan, lelaki berusia sembilan belas tahun itu akhirnya memilih menjatuhkan bokong di atas sofa. Memastikan lagi bahwa ia benar-benar sendiri, sebelum embusan napas panjang terdengar mengiringi. Terlihat bodoh memang, tetapi jika itu bisa membuatnya merasa lebih aman, ia harus bagaimana lagi?

Maka, hanya duduk termenunglah yang akhirnya Jungkook lakukan di sepanjang malam. Masih dengan sorot yang awas, meskipun beberapa kali ia sempat terkantuk-kantuk dan nyaris jatuh tertidur. Kendati demikian, Jungkook tetap berusaha mempertahankan kesadarannya. Berharap agar sosok si pemilik apartemen segera muncul, sekali lagi datang untuk mengatakan padanya bahwa….

.

.

Cklik!!

.

.

“Hei, tidak bisa tidur lagi?”

Diiringi bunyi debam ringan, Jungkook lekas tersentak sadar. Kepala ditolehkan ke arah pintu, menunggu lelaki yang lebih tua itu untuk melepas sepatunya dan melangkah masuk. Sebuah rutinitas kecil yang selalu ia sukai, mengingat Seokjin pasti akan mendengar segala kecemasannya dan tak menertawakan dirinya yang berpolah ketakutan. Segalanya akan baik-baik saja—

“Maaf kalau aku berantakan. Ada sedikit masalah di tempat kerja hari ini dan….”

Kelanjutan ucapan Seokjin tersebut tak terdengar. Tidak karena Jungkook sudah terlanjur bangkit berdiri; tahu-tahu mengucapkan sumpah-serapah tanpa henti, diikuti dengan tudingan telunjuk ke arah si lelaki bermarga Kim. Seakan kehadirannya tak lagi diharapkan, seakan dalam tempo waktu sepersekian menit saja Jungkook telah menggantikan rasa hormatnya dengan dendam tak berkesudahan.

“Jungkook?”

“Kau….”

“Jungkook, ada apa?”

.

.

BRAAAKK!!

.

.

“Dasar pembunuh!!”

.

-o-

.

Jeon Jungkook bisa merasakan darah.

Kala itu, malam juga terlampau kelam. Ia terbangun pada pukul dua pagi, ditemani suara jeritan keras yang memekakkan telinga. Sukses membuat keringat dingin lantas membasahi tubuhnya, selagi ia berjingkat keluar dari kamar dan menyadari bahwa semuanya tak lagi sama.

Ia beruntung atas satu hal: bahwa jeritan sang ibu tadi cukup untuk membangunkan tetangga dan menyelamatkan nyawanya. Juga cukup untuk membuat satu sosok berdarah dingin kabur dari sana, menyisakan Jungkook sebagai pihak yang selamat dari sebuah pembantaian berdarah. Seluruh anggota keluarganya tewas malam itu, semua kecuali dirinya yang hanya bisa duduk gemetaran di jok mobil polisi hingga pagi menjelang.

“Kau boleh tinggal bersamaku untuk sementara.”

Namanya Kim Seokjin, dan ia adalah kepala detektif yang bertugas menangani kasus keluarga Jeon. Ialah yang memberi rasa nyaman pada Jungkook, yang bertanggung jawab atas segala sesuatunya selama masa pemeriksaan berlangsung. Namun, kedekatan mereka ternyata bertahan lama. Satu tahun berlalu, dan penyelidikan masih tak membuahkan hasil. Jungkook sendiri juga sudah dinyatakan tidak punya sangkut-paut dengan kasus pembunuhan yang terjadi—kecuali fakta bahwa ia adalah korban di sini.

Korban yang, tentu saja, tak akan semudah itu melupakan dendamnya.

Jeon Jungkook amat membenci kegelapan setelah peristiwa itu terjadi, tetapi ia lebih benci pada dirinya yang belum bisa menemukan sang pelaku dan membalas semua perbuatannya. Keinginan lelaki itu hanya satu: untuk kembali menghadirkan darah sementara ia tertawa penuh kemenangan. Mata untuk mata, nyawa untuk nyawa. Itulah prinsip yang dipegang Jungkook, tak peduli kendati ia tinggal bersama seorang detektif seperti Seokjin. Lagi pula, apa ruginya membunuh satu psikopat yang telah mencabut nyawa banyak orang seperti itu? Tidak ada, kan?

Jadi, demi mendiang keluarganya, Jeon Jungkook pun bersumpah.

“Aku akan membuatmu merasakan penderitaan itu berulang kali.”

.

-o-

.

“Dokter Min! Ia… ia berulah lagi!”

Pukul dua malam, dan Park Jimin seratus persen yakin bahwa masa internship-nya di Departemen Psikiatri akan dihabiskan dengan penuh ketegangan. Lelaki itu kini tengah berpacu di sepanjang koridor, menghampiri ruang jaga sang dokter yang menjadi mentornya. Tangan lantas menggedor pintu yang ada dengan tak sabaran, menanti sampai si lelaki berkulit pucat pemilik ruangan melangkah keluar.

“Ya?”

“J-Jeon Jungkook… i-ia….”

Jimin tak perlu menyelesaikan kalimatnya, lantaran Min Yoongi sudah mengangguk mengerti dan langsung bergerak sigap. Tanpa banyak kata berlari menuju ruang gawat darurat, tempat di mana pasiennya tengah berada sekarang. Menurut Jimin, lelaki itu berhasil melarikan diri dari kamarnya lagi dan tengah membuat kerusuhan di sana.

“Dia terus-menerus menggumamkan kalimat yang sama—”

.

.

BRAAAAKK!!

.

.

Menghentikan penjelasannya, Jimin lekas mengeluarkan kesiap kaget. Manik membelalak lebar, sementara Yoongi meminta perawat untuk menyiapkan obat bius. Tepat di hadapan mereka, ada sosok Jungkook yang tengah memegang gunting—agaknya ia menyambar alat tersebut dari rak peralatan medis terdekat. Tangan mengacung-acungkannya ke segala penjuru, selagi salah seorang petugas paramedis yang berlumuran darah terlihat ketakutan.

“Kami tidak akan melakukan apa-apa padamu, Jungkook.”

“Aku ingin kembali ke pertengahan Juni, untuk membunuhmu sekali lagi.”

“Jungkook, bukan kami yang ingin kaubunuh.”

“Aku ingin kembali ke pertengahan Juni—

“Hei, hei, Jungkook-a….”

Melangkah mendekat, Jimin lekas melontarkan kalimat-kalimat itu sembari mengawasi Jungkook. Kedua tangan terangkat untuk menunjukkan bahwa ia tak membawa apa-apa, sedikit demi sedikit berusaha untuk menenangkan sang pasien. Butuh bermenit-menit lamanya sampai ketegangan itu sedikit mereda; Jimin melangkah makin dekat dengan senyum menenangkan, Jungkook yang akhirnya berhenti meracau, dan Yoongi yang diam-diam beringsut untuk menusukkan jarum suntik berisi obat bius.

“Kau pem—“

“Kami bukan pembunuh, Jungkook-a,” desah Yoongi lelah, seraya ia menyaksikan pasien di hadapannya mulai kehilangan kesadaran. Sebelah tangan mengisyaratkan Jimin untuk membantunya, memastikan bahwa Jungkook benar-benar tak akan membuat ulah lagi sebelum menambahkan, “Lama-lama, kita harus mengikatnya kalau dia begini terus.”

“Dokter Min?”

“Hm?”

“Sebenarnya, apa yang terjadi pada pemuda itu?”

Memandang Jungkook yang sekarang sudah dibaringkan dan dibawa kembali ke kamarnya, Jimin mengutarakan tanya tersebut. Tatap ingin tahu terarah pada Yoongi, yang kini sedang memijat-mijat pelipisnya sambil menarik napas dalam. Ia terlihat lelah, dan Jimin bisa lekas memahami alasan di balik rasa frustasi itu kala Yoongi tahu-tahu bergumam, “Jungkook membunuh seorang detektif kepolisian, bulan Juni tahun lalu.”

“Apa?”

Mengedikkan kepalanya ke arah paramedis yang berlumuran darah tadi, Yoongi lantas berkata, “Dia terluka karena Jungkook?”

Jimin menggeleng. “Setahuku, ia baru saja menolong korban kecelakaan. Lalu Jungkook melihatnya saat berkeliaran dan tiba-tiba….”

“Itu dia jawabannya,” timpal Yoongi cepat, kali ini sembari mengajak Jimin untuk melangkah ke ruang rawat inap Jungkook demi mengecek keadaannya. “Darah. Setiap kali ia melihat seseorang yang berlumuran darah, ia akan menganggap orang itu sebagai pembunuh. Dengar-dengar, dulu ia menjadi saksi pembunuhan orang tuanya sendiri.”

Mereka telah tiba di kamar inap milik Jungkook kini, menatap sang lelaki yang lelap di bawah pengaruh obat. Ia tidak lagi terlihat berbahaya, namun Jimin tak bisa menahan dirinya untuk tak bergidik sementara Yoongi mendaratkan tepukan singkat di pundaknya.

“Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk sekarang, Jimin-a. Kesembuhan hanya akan datang ketika pasien yang bersangkutan benar-benar memiliki niat untuk itu. Kau paham, kan?”

Hanya anggukan singkat yang bisa Jimin berikan, selagi ia mendengarkan Yoongi yang menyuruhnya untuk menjaga Jungkook serta kembali memberinya obat penenang saat sadar nanti. Lelaki itu lantas memilih untuk duduk di samping tempat tidur Jungkook, menatap si pasien yang—kendati berumur lebih muda darinya—telah menghadapi lebih banyak kengerian dalam hidup ini. Ia mungkin bisa bersimpati, tetapi ketika ia mendengar Jungkook mengigau di tengah ketidaksadarannya, Jimin mendadak sadar bahwa rasa takutnya tak mungkin akan hilang begitu saja.

Karena Jeon Jungkook masih terus menggumamkan satu kalimat terkutuk itu….

.

.

“Aku ingin kembali ke pertengahan Juni, untuk membunuhmu sekali lagi.”

.

.

…dan karena tak seorang pun dapat memperkirakan kapan nafsu membunuh itu akan datang lagi.

.

.

.

fin.

 

a.n.

HAPPY 3RD ANNIVERSARY TO OUR BOYS ❤ ❤

I don’t have anything much to say except thank you. Thanks for being Bangtan, thanks for being my inspiration, and thanks for being my youth.

And sorry for the super-absurd-and-this-lame-fic, really! Sorry to Fey too, since I’m not really good at making thriller fic /.\

Last but not least, for all BTSFF’s staff and readers, I love you all! Thanks for reading, and thanks for being here with me!

With much love,

tsukiyamarisa

Advertisements

11 thoughts on “[BTS FESTA] Relapse

  1. Pingback: [Challenge] Break The Stigma – Chamber of Fiction and Fantasy

  2. YEOKSHI KAKAMER YOU DE REAL MVP!!! Aku menganga bacanya astaga… jauh-lebih-bagus-dan-keren-dari ekspetasiku pas nulis prompt itu….. karena yg kebayang sebelumnya itu tentang bunuh membunuh perasaan (krik) tapi serius aku ga kebayang bakal gini jadinya :’) Keren lah kak, keren banget!

    Like

    1. FEEEEEEY AMPUNI AKU YANG BIKIN FIC GANTUNG GINI HUHUHU
      Aku lega banget baca komenmu bilang lebih dari ekspektasi abis ini tuh ditulisnya di sela2 ujian gitu (((curhat)))

      Ehehe makasih feeey :* makasih juga buat prompt kecenyaa ♡♡♡

      Like

  3. sweetpeach98

    Kak……..
    Seokjin pulang-pulang berlumuran darah terus di bunuh sama jungkook, gitu?
    Orang tuanya jungkook di bunuh bulan juni, gitu?

    Aku semacam garela jin yang di bunuh masa jungkook kamu kejam ;—-;

    Like

    1. Benar sekali………
      Jadi kuki ortunya mati bulan juni, dan di otak dia semacam uda kesetel kalo dia ketemu seseorang yg keliatan berlumuran darah itu adalah pembunuhnya… terus gitu deh… /.\

      Ehehe iya ya seokjin kenapa ngenes terus nasibnya di ffku /krik

      Btw makasih banyak jihyeoooon!! ♡

      Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s