[BTS FF FREELANCE] The Winter in Our Home – Ficlet

the winter in our home

 

The Winter in Our Home

 

a fanfic by Rainyday

 

ficlet || untuk semua usia || family, child, AU, sad, ||

Jeon Jungkook and Girl (as you)

 

 

 

Salju turun lamat lamat, serpihan seputih kapas menutupi pucuk pucuk pohon pinus dan cemara yang tumbuh disisi jalan, Asap mengepul dari atas cerobong sebuah pondok kecil yang terletak

diujung jalan setapak, cuaca jadi lebih dingin dari semalam,

Sebagian jalan dan rumput tertutup Salju,

 

Tidak jauh dari sana ,

Seorang anak laki laki tengah menghadap lurus kearah pohon pinus besar, tangan kecil yang terbalut sarung rajut coklat mengepal ngepal salju menjadi bola bola kecil.

Dan melemparkanya kepohon pinus tadi, hingga hancur dan berjatuhan, kemudian mengulangi hal yang sama terus menerus, seperti sesuatu yang menyenangkan dari menikmati kue jahe dan coklat panas,

tapi tidak dengan gadis kecil yang sedang berlutut diantara rimbunya pohon arbei, memetik Arbei ,

Buah kecil berwarna merah ranum, rasanya manis, apalagi jika dikeringkan. Akan jadi camilan yang nikmat dengan secangkir teh hangat, Arbei memang sanggup bertahan di musim salju seperti saat ini,

 

“kau tidak ingin pulang?

 

gadis kecil itu berkata sambil terus memetik arbei dan memasukanya satu persatu kedalam keranjang dipangkuanya,

 

” apa kau mengusirku ?

Jungkook tidak berpaling, masih dengan kesibukanya melempari pohon pinus dengan bola bola salju.

sebenarnya dia hanya kesepian , tiap kali ayahnya pulang, selalu larut malam, jika dia bangun terlalu pagi biasanya akan meminta sang ayah untuk menemaninya menonton kartun kesukaanya, tapi yang terjadi suara tv hilang, seolah lenyap dengan suara dengkuran sang ayah yang tertidur lelap disampingnya,

atau jika ayahnya sedang tidak pulang, dia akan meminta kakak lelakinya Jin menemaninya, memang tidak ada suara dengkuran keras, hanya saja Jin juga tertidur pulas sambil memengang smartphone yang sangat berisik, mulai dari  alaram, pesan dari kekasihnya, atau notification dari grup grup ski yang sangat mengganggu.

ibunya terlalu pagi untuk sibuk didepan komputer, hanya nyonya Han yang memasak sambil menemani Jungkook mengobrol didapur.

 

 

“kita sudah bermain dari pagi, kau tidak ingin pulang, orang tua mu pasti mencarimu,

Kali ini dia bangkit dan berdiri dibelakang Jungkook.

 

“bermain ? kita belum bermain dari tadi, aku hanya melihatmu makan kue jahe dan coklat panas bersamaku, kemudian pergi kebelakang pondok mu dan mengumpulkan kayu bakar untuk perapian, setelah itu menyirami salju dengan garam dan menyingkir kanya dari jalanan pondokmu, memasukan arbei kering kedalam belasan toples dan sekarang kita disini memetik arbei lagi, huh ! ini yang kau sebut bermain ?

 

Gadis kecil itu masih terdiam, mendengarkan setiap kekesalan Jungkook yang ia luapkan padanya, memang dari pagi mereka melalukan semua itu, dia tidak pernah meminta bantuan Jungkook, tapi laki laki kecil itu yang tiap hari datang ke pondoknya, walau selalu mengomel, tapi tetap saja dia mau melakukanya. Jika tidak memungut buah oak biasanya mereka akan bermain kereta luncur di sisi pondoknya, atau membuat boneka salju , tapi dua hari ini gadis itu lebih sibuk dan jarang mengajaknya bermain lagi.

 

 

Gumpalan asap terhembus dari bibir mereka, hawa dingin semakin menusuk disela sela Jaket yang mereka kenakan.

Jungkook masih berdiri membelakangi gadis itu, dia sudah berhenti melempari pohon pinus tadi.

Hening, hanya suara angin yang mencoba menyelinap diantara mereka,

 

“sebaiknya cepat pulang, salju turun semakin lebat, aku yakin pasti ibumu cemas”

 

“benarkah ? mereka bahkan tidak pernah dirumah, mereka selalu sibuk, bagaimana mencemaskan ku, lagi pula aku sudah meminta izin dengan nyonya Han akan kerumahmu, jadi tidak masalah, aku pulang kapan saja”

 

Gadis itu tau betul jika Jungkook sedang berbohong, dia tidak izin akan kesini, Nyonya Han itu wanita yang mengasuh Jungkook dari kecil, Jungkook juga punya radang paru paru , baru seminggu yang lalu dia keluar dari rumah sakit. keadaanya belum baik.

 

“jangan berbohong, nanti orang tuamu marah dengan nyonya Han, kau belum sehat kan ?

 

” tidak akan , mereka tidak dirumah, mereka pergi, siapa bilang ? aku sudah sehat kok”

tangan nya menghempas salju yang berjatuhan diatas lengan nya yang terbalut jaket tebal.

 

 

“pasti menyenangkan duduk didepan perapian dengan ayah dan ibu, kemudian menikmati kue jahe dan coklat panas yang dituang kedalam gelas kesayangan, lalu mendengar ayah bercerita”

 

Bibir gadis itu bergetar, barusan seperti sebuah curhatan, atau bukan dirinya yang berbicara, suaranya tercekat, seperti menahan bongkahan es yang mencair

 

“mungkin kita sama sama kesepian, tapi setidaknya kau bisa melihatnya, memeluknya”

Gadis kecil itu menatap buah arbei didalam keranjang nya

 

Jungkook masih tetap diposisinya, tanpa bergeming sedikitpun,

diam diam mata nya yang bening berkaca kaca, ada sesuatu yang perih didalam hatinya.

 

“kau tahu, mereka disana bekerja untukmu, seharian bahkan orang tuamu bisa berada jauh darimu hingga berhari hari, ingat jika kau ingim sesuatu, atau pergi ketempat yang ingin kau kunjungi ? mereka bekerja untuk mewujudkan semua keinginanmu”

 

Jungkook berbalik tanpa berani menatap mata coklat milik gadis yang berdiri tepat didepanya, wajahnya tetap menunduk.

 

“seharusnya kau bersyukur, kau bisa mengucapkan ” aku mencintai mu ayah, ibu” tiap hari. Dan kau bisa memeluknya atau menciumnya, sudah memang bilang terimakasih buat mereka ? kau beruntung, kau masih bisa melakukanya”

 

bongkahan es yang menggunung seketika mencair,

ada rasa sakit yang terlepas bersama dengan butiran bening yang terjatuh ketanah yang tertutup salju.

 

“kau bisa melakukanya juga !

Jungkook menatapnya nanar, raut wajah mungil nan cantik didepanya, tampak ketenangan di bola mata coklatnya,

 

“tentu saja aku selalu melakukanya, dalam doa”

gadis itu tersenyum

 

seperti ada gemuruh didalam dadanya,membuatnya terasa sesak dan sakit yang teramat sangat.

Jungkook terbatu batuk sambil memgangi dadanya dia jatuh terduduk ditanah.

 

“sebaiknya cepat pulang, ayo”

gadis itu panik melihat Jungkook dia berharap, Sakit Jungkook tidak kambuh,

 

“aku baik baik saja”

Jungkook menepis tangan gadis itu,

tapi dia melihat darah segar keluar dari hidung Jungkook

 

Tanpa memperdulikan penolakan dari Jungkook, gadis itu memapah tubuh Jungkook menuju pondok, semoga nenek sudah menyiapkan sup hangat,

 

“kau baik baik saja ?

Gadis itu sudah duduk disamping tubuh Jungkook yang berbaring diatas sofa merah didepan perapian,

syukurlah , sakitnya tidak kambuh, hanya hipotermia ringan, jika sudah hangat dia akan sehat kembali.

 

Jungkook menyandarkan tubuhnya perlahan disisi sofa dan gadis itu membantunya,

matanya mengedar kesetiap sudut ruangan, perapian yang hangat, diatasnya terdapat beberapa figura foto foto gadis itu dengan seorang wanita cantik, dan disebelahnya ada foto laki laki mungkin seumur dengan ayahnya dan wanita cantik seperti di figura pertama tadi dan bayi mungil dipangkuanya,

 

Ayah nya meninggal dalam kecelakaan tunggal empat tahun lalu, dan ibunya meninggal saat dia berumur 4 tahun,

 

Ibunya seorang penulis, beliau sangat menyukai ketenangan,  saat setelah menikah mereka berkunjung ke tempat ini, mereka langsung jatuh hati dan memutuskan untuk tinggal disini, dan membangun pondok kecil yang nyaman diantara lebatnya hutan pinus ,

Dibelakang nya terdapat danau yang disekelilingnya tumbuh pohon maple, dan bunga azalea tumbuh disela sela Pohon Maple, jika sedang musim gugur daunya akab berubah warna menjadi jingga, serta berguguran,

dimana saat paling bahagia, ketika minggu pagi bisa memancing disana dengan ayah juga ibu,

 

Dia tidak setegar ini, dulu, saat pertama kali bertemu Jungkook di acara lomba ski tahunan,

ayah gadis itu seorang sheriff dan orang tua Jungkook pemilik villa villa cantik didaerah ini,

saat itu Jungkook melihatnya terdiam tanpa banyak ekspresi ketika banyak anak kecil lain sibuk dalam kecerian.

 

Jungkook hanya ingin berteman dengan nya, pernah sekali mereka berkunjung kerumah gadis itu, sewaktu ayahnya masih ada,

Jungkook melihatnya duduk terdiam di depan tv sambil memeluk boneka rusa,

sampai setelah kepergian ayahnya pun gadis itu masih dingin dengan semua orang,

Sering Jungkook berkunjung dengan ditemani kakak laki lakinya Jin, walaupun awalnya tidak ditanggapi, tapi Jungkook tidak menyerah, kadang Jungkook berbicara dengan boneka kelincinya , tertawa sendiri, sampai dia bisa menangis sendiri, pada akhirnya gadis itu mau menanggapinya juga,

 

Tapi sayang, setelah itu Jungkook harus pindah ke kota, karena sakit radang paru parunya semakin parah, selama 2 tahun tidak bertemu, baru sebulan yang lalu Jungkook melihatnya lagi,

dan semuanya sudah berubah. Ulang tahun ke 10 nya membuatnya menjadi sedewasa ini.

 

 

 

“ini ,, sebaiknya kau makan sup jamur buatan nenek, mumpung hangat”

 

Gadis itu menyodorkan semangkuk sup yang mengepulkan asap kehadapan Jungkook.

 

” aku sudah menelopn nyonya Han akan mengantarmu, sekalian nenek akan mengajaku berbelanja”

 

“hah ?

oh .. hehe terimakasih sudah menolongku”

Jungkook tersenyum kikuk,

 

“tapi aku tidak merepotkan kalian kan ? aku masih boleh kesini ?

 

” tentu saja, kau harus kesini, nenek akan membuat snow cake isi kacang merah dan itu sangat lezat”

 

gadis itu berbisik ditelinga Jungkook tapi suara nya terdengar oleh seorang wanita paruh baya yang sedang mengaduk aduk sup didapur, dan tersenyum mendengar mereka membicarakanya.

 

“haha, baiklah, dan  bagaimana kalau kita mengeringkan buah buah arbei yang sudah kau petik tadi ?

 

Jungkook tersenyum sambil menunjuk sekeranjang buah arbei di atas meja dekat dapur,

 

” baiklah”

gadis itu tertawa melihat tingkah Jungkook.

 

Nyonya Han dan gadis kecil itu benar, Jungkook tidak boleh seegois itu pada mereka, toh merela melakukan semua ini untuk kebaikanya juga,

Mereka yang selalu ingin memberikan segala yang terbaik untuk keluarga, walau jalanya seperti ini, seharusnya Jungkook bersyukur masih bisa bertemu mereka, walau jarang, setidaknya ketika Jungkook menangis selalu ada tangan halus nan hangat yang menghapus air matanya, dan memeluknya kala dingin membuatnya rapuh.

 

Rumah selalu jadi tempat mu kembali,

 

Jangan Lupa, bilang terimakasih ayah, ibu atas semua kerja keras kalian dan aku cinta kalian ❤

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] The Winter in Our Home – Ficlet

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s