[BTS FF FREELANCE] Trapped in a Marriage – Chapter 7b

Trapped In A Marriage 7b

 

Title

Trapped in a Marriage

Author

Yoohwanhee

Main Cast

Jung Hyerin [OC]

Jeon Jungkook [BTS]

Kim Hanbin [iKon]

Kim Taehyung [BTS]

Ryu Sujeong [Lovelyz]

Genre

Romance, Marriage-Life, Comedy, School-Life,AU

Length

Chaptered

Rating

PG-17

Summary

Resiko dalam sebuah pernikahan adalah: Masalahmu, masalahku juga. Itu karena kita harus melengkapi satu sama lain, jangan biarkan sesuatu tersembunyi diantara kita. Kalaupun ada yang kau sembunyikan, izinkan aku untuk mengetahuinya.

Disclaimer

BTS dan cast lainnya milik orangtua, agensi, dan Army, kecuali OC adalah milik author. Cerita murni hasil pemikiran author, so DO NOT PLAGIATOR. Jika ada kesamaan plot, tokoh, judul, dll adalah ketidak sengajaan.

SORRY FOR TYPO and HAPPY READING

 

Note:Cast dan rating bisa berubah disetiap chapternya.

WARNING!Banyak flashback nya 😀

 

Chapter sebelumnya:

“Selamat datang, teman lamaku” sapa presdir Jeon yang kemudian diikuti oleh senyum ramah dari Tuan dan Nyonya Jung.Yang dimaksud teman lamanya disini adalah Tuan Jung —Jung Hyungjoon—, mereka telah berteman sejak bangku kedua sekolah menengah.

“Jadi, ada apa anda mengundang kami ke rumah secara tiba-tiba begini?” tanya Nyonya Jung pada presdir Jeon. Orang yang ditanya hanya tersenyum tipis kemudian berucap “Ada yang ingin kami bicarakan—”

“—mengenai Jungkook”

***

“JUNG HYERIN!” Serunya saat melihat air di laut itu sudah datar, tidak ada lagi tanda-tanda bahwa ada orang disana. Wajah Jungkook berubah pucat. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang ada pada pikirannya sekarang adalah—

—Hyerin telah tenggelam dan dia harus segera menolong gadis itu, sekarang!

DRAP DRAP DRAP!!

BYUR!

Jungkook langsung melompat begitu ia sampai di kedalaman yang sepertinya sudah cukup untuk menyelam disana. Ia pun menerawang didalam laut, dan yang benar saja, Jung Hyerin melayang bebas di air sekarang. Dengan kedua mata yang tertutup, dan hidungnya yang sudah tidak lagi mengeluarkan karbondioksida, sudah membuktikan bahwa gadis itu telah berada dalam posisi seperti ini semenit yang lalu.

Langsung saja, Jungkook berenang mendekati tubuh gadis itu dan mengangkatnya keatas. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa sekarang, ia harus menyelamatkan gadis itu. Sebab dirinyalah yang menjadikan Hyerin sampai tenggelam seperti sekarang.

Kumohon..Aku tidak ingin kejadian seperti dulu terjadi lagi…

 

//Trapped in a Marriage//

 

-Acara ulang tahun Sekolah Elioxe (2/2)-

 

//Trapped in a Marriage//

 

FLASHBACK

Sehari sebelum acara ulang tahun Sekolah Elioxe….

“Apa kau mengingat Joo Hwayeon?”

Jungkook tertegun. Tak bisa berkata apa-apa lagi begitu mendengar nama seseorang yang juga sebenarnya nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Ia bingung. Apa yang harus dijawabnya sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa itu Joo Hwayeon yang dikatakan Hanbin.

Dirinya menatap bingung kearah Hanbin. Namun, sedetik kemudian, sesuatu menjalar dari telinganya sampai ke kepala bagian atasnya. Sedikit menusuk sehingga membuat Jungkook mengerang kesakitan. Itu benar-benar sakit sampai-sampai ia tidak bisa lagi menahan suara dengungan itu. Suara dengungan itu terlalu keras dan menusuk untuk bisa ditahan olehnya sehingga yang bisa ia lakukan sekarang adalah memejamkan matanya kuat serta menutup kedua telinganya.

“Akhh!”

Seolah-olah tidak peduli, Hanbin didepannya tak bergeming sama sekali dan hanya menatap lelaki itu lurus, tanpa ada sorot tersendiri. Ia seperti menganggap apa yang terjadi pada Jungkook sekarang adalah kejadian biasa dan tidak perlu dilebih-lebihkan.

Karena memang ia sudah tahu ini akan terjadi.

“Akh!!!” Erangan Jungkook menggema jelas di indra pendengaran Hanbin. Lagi-lagi dengungan yang memekakkan telinga itu menghantamnya, membuat Jungkook terus-terusan meringis kesakitan. Bersamaan dengan datangnya dengungan panjang nan memekakkan telinga itu, beberapa bayangan masa lampau terputar kembali dan menggantikan warna hitam pekat yang tadinya menghiasi penglihatannya.

Masa-masa itu terulang lagi…

Bahkan yang baru saja terjadi beberapa hari lalu juga terputar kembali tepat didepan matanya —yang sebenarnya sedang tertutup itu— sekarang.

Saat-saat dimana ia berkelahi dengan Taehyung hanya karena kesalah pahamannya, disaat ia berada di bus yang sama dengan Sujeong, dan disaat ia menikah dengan gadis yang bernama Jung Hyerin itu.

Semuanya terputar kembali layaknya sebuah video dokumentasi.

Dan seketika, saat itu juga, seluruh rasa sakitnya hilang. Tergantikan dengan wajah bingung yang kini menghiasi wajah lelaki itu. Bukan karena bingung dengan apa yang barusan dirasakannya, melainkan bingung karena sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya kini sudah bermain liar didalam kepalanya. Seolah-olah menuntut Jungkook untuk menerawang lebih dalam tentang apa yang berada didalam benaknya itu.

Bahkan masa-masa SMP nya —yang sempat terlupakan oleh dirinya sendiri— kini bisa diingatnya kembali. Kejadian-kejadian yang lima tahun lamanya juga kini sudah terputar sendiri di ingatannya.

Namun yang paling membuatnya tertegun seperti sekarang ini adalah—

—gadis itu… gadis yang selama ini muncul di mimpinya… kini juga muncul di ingatannya.

Joo Hwayeon.

Jungkook menatap lurus kedepan, tetap diam dalam posisinya itu. Untuk beberapa detik, ia masih diam tak bergeming. Kedua tangannya yang sedari tadi bergetar itu mulai mengepal. Kepalan itu semakin kuat, seolah-olah menjadi pertahanannya saat ini. Sementara kedua matanya sudah dipenuhi oleh cairan bening yang sudah tak bisa lagi dibendung oleh dirinya sendiri sehingga cairan bening itu jatuh membasahi pipinya.

Ia menangis.

Air matanya mengucur deras tapi ia diam dan tak bersuara. Kesedihannya tak bisa dibendung lagi. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Bibirnya bergetar disela-sela tangisnya, bersamaan dengan jatuhnya kedua lutut Jungkook diatas tanah ini. Kedua tangannya kini diarahkan ke dadanya sendiri dan memukulnya pelan dan tak beraturan. Dadanya terlalu sesak untuk kembali menerawang segala masa lalunya yang pernah terlupakan. Seberapa banyak dirinya mencoba untuk berhenti menangis tapi nihil, ia sudah terlanjur kalah dengan rasa sakitnya yang baru sekarang dapat diingatnya.

Ia tidak sekuat itu…

Mengingat saat-saat dimana ia bersama dengan gadis itu, gadis yang di cintainya, membuat Jungkook tak bisa berhenti menangis. Saat-saat ia menemani gadis itu setiap detik, disaat ia menggenggam erat tangan gadis itu, dan disaat ia memeluknya hangat. Mengingat semua itu, air mata Jungkook kembali mengucur deras. Dirinya membiarkan air mata itu mengalir dengan derasnya agar tidak ada lagi rasa sesak yang menghantam dadanya.

“Jadi, sekarang kau menangis?”

Suara Hanbin menggema ditelinganya. Namun Jungkook sama sekali tidak ambil pusing, ia hanya ingin menangis sekarang. Kesedihannya yang pernah dilupakan ingin ia luapkan sekarang juga. Karena mungkin kedepannya ia tidak bisa lagi menangis seperti sekarang.

Hanbin yang sempat meneteskan setitik air mata itu kini menghapus pelan air matanya itu. Ia lalu mendongakkan wajahnya keatas, mencoba menahan agar ia juga tak menangis. Sedetik kemudian ia tersenyum, tersenyum miring kearah Jungkook “Setelah selama ini… baru sekarang kau menangisinya?”

“Dia bahkan sudah tidak ada didunia ini lagi”

Seketika, Jungkook terdiam dan berhenti menangis. Jungkook tertegun lalu bangkit perlahan. Menghapus seluruh air mata yang turun dari pelupuk matanya cepat. Iris cokelatnya lurus menatap Hanbin tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu.

Dia bahkan sudah tidak ada di dunia ini lagi’

Jadi… maksud dari perkataan Hanbin barusan adalah—

—gadisnya itu telah… meninggal

***

“Selamat datang, teman lamaku” sapa presdir Jeon yang kemudian diikuti oleh senyum ramah dari Tuan dan Nyonya Jung.Yang dimaksud teman lamanya disini adalah Tuan Jung —Jung Hyungjoon—, mereka telah berteman sejak bangku kedua sekolah menengah.

“Jadi, ada apa anda mengundang kami ke rumah secara tiba-tiba begini?” tanya Nyonya Jung pada presdir Jeon. Orang yang ditanya hanya tersenyum tipis kemudian berucap “Ada yang ingin kami bicarakan—”

“—mengenai Jungkook”

Datangnya seorang pelayan yang mengantarkan minuman membuat pembicaraan antara mereka terpotong sejenak. Dengan begini, sudah dapat dipastikan bahwa ini adalah pembicaraan yang sangat serius, yang tidak boleh diketahui oleh siapapun itu. Sebuah rahasia besar!

Sesaat setelah kepergian pelayan yang tadi mengantarkan cangkir teh itu, Presdir Jeon kembali melanjutkan pembicaraan “Jadi, sebenarnya… ini adalah sesuatu dari anakku yang perlu kau ketahui. Sebagai orang tua dari menantuku, kalian juga harus mengetahui ini agar tidak terjadi salah paham kedepannya”

Tuan dan Nyonya Jung sempat bingung dengan apa yang dikatakan Presdir Jeon. Keduanya saling bertatapan sebentar kemudian kembali mengarahkan pandangan mereka pada Presdir dan Nyonya Jeon. Tatapan mereka terlihat seperti sedang bertanya ‘apa maksudmu?’.

Nyonya Jeon mengambil nafas panjang kemudian angkat suara “Jungkook… telah kehilangan sebagian ingatannya saat kecelakaan tiga tahun lalu”

Pernyataan itu sukses membuat Nyonya dan Tuan Jung membelalak. Pasalnya, apa yang barusan dikatakan nyonya Jeon itu sama sekali tidak diduga oleh keduanya. “Dia… amnesia sejak umur empat belas tahun?” respon Nyonya Jung dengan nada sedikit tidak percaya dengan barusan. Presdir Jeon mengangguk pelan sebagai jawabannya.

“Tapi… bagaimana bisa?” Pertanyaan Tuan Jung membuat Presdir Jeon menghela nafasnya berat. Dilihat dari raut wajah beliau, sepertinya sulit untuk dijelaskan. Namun, akhirnya beliau menjelaskannya juga.

“Saat itu, Jungkook tengah mengejar temannya yang akan berangkat ke Kanada. Temannya itu memiliki penyakit jantung sehingga harus dibawa ke Kanada untuk dirawat disana. Namun, Jungkook bersikeras untuk pergi bersama temannya itu sampai-sampai pergi mengejarnya dengan bermodalkan sepeda kecil miliknya. Ahh, mengingatnya membuatku ingin tertawa sekaligus menangis. Bagaimana bisa sepeda itu mengejar lajunya mobil? Anak itu benar-benar…”

Selang beberapa detik kemudian, Nyonya Jeon menyambung cerita suaminya itu yang sempat tertunda “Disaat ia mengejar mobil yang membawa temannya itu, sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju dan menyambar sepeda Jungkook sehingga membuat anak itu terlempar jauh karenanya. Bahkan ia hampir terperosot jatuh kedalam jurang. Namun untung saja ada seorang anak yang membantunya sehingga ia pun selamat dari kecelakaan itu walaupun sebagian ingatannya hilang karenanya” jelas nyonya Jeon panjang lebar.

“Aku harap dengan menceritakan ini kepada kalian, kalian sebagai orang tua Hyerin bisa mengerti dengan keadaan Jungkook sekarang. Jika anak itu menyebut nama seseorang di dalam tidurnya, atau bahkan jika ia tiba-tiba ingin bertemu dengan seseorang yang juga kalian tidak ketahui siapa orang itu, tolong pahamilah bahwa dia sedang dalam masa penyembuhan amnesianya” sambung nyonya Jeon. Tuan dan Nyonya Jung mengangguk pelan mendengarnya.

“Kadang ingatan masa lalunya akan muncul tiba-tiba dan itu berdampak pada apa yang dilakukannya. Misalnya jika ia teringat akan masa lalunya, ia akan berusaha bertemu dengan orang yang diingatnya itu meskipun ia tidak tahu dimana orang itu berada. Jadi, jika Jungkook kembali dari luar dan kalian bertanya dari mana saja dirinya, kemungkinan ia akan menjawab ‘Memangnya aku kemana?’ dan seolah-olah tidak mengingat tempat yang barusan ia kunjungi”Mendengar itu, Tuan dan Nyonya Jung terlihat mengangguk untuk kesekian kalinya. Mencoba mengerti dengan apa yang dijelaskan nyonya Jeon pada mereka.

Presdir Jeon kini ikut angkat suara untuk menjelaskan apa yang terjadi pada anaknya itu “Oleh karena itu, karena sifatnya yang seperti itu, kami jadi memperketat penjagaan pada dirinya. Sampai-sampai menyuruh orang suruhan kami untuk menjaga anak itu agar tidak berbuat yang aneh-aneh diluar jika ingatannya muncul tiba-tiba. Tapi, tenang saja, kata dokter proses penyembuhannya sudah hampir selesai. Sejak beberapa bulan lalu, ingatannya tidak lagi datang tiba-tiba jadi ia sudah tidak perlu dijaga ketat lagi”

“Alasan kami membicarakan hal ini dengan kalian yaitu—” Presdir Jeon memotong sejenak pembicaraannya lalu mengambil nafas panjang.

“—untuk memohon pada kalian agar menjaga rahasia ini dari Jungkook. Karena anak itu, sama sekali tidak tahu jika ia kehilangan sebagian ingatannya”

FLASHBACK END

***

“JUNG HYERIN!” Serunya saat melihat air di laut itu sudah datar, tidak ada lagi tanda-tanda bahwa ada orang disana. Wajah Jungkook berubah pucat. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang ada pada pikirannya sekarang adalah—

—Hyerin telah tenggelam dan dia harus segera menolong gadis itu, sekarang!

DRAP DRAP DRAP!!

BYUR!

Jungkook langsung melompat begitu ia sampai di kedalaman yang sepertinya sudah cukup untuk menyelam disana. Ia pun menerawang didalam laut, dan yang benar saja, Jung Hyerin melayang bebas di air sekarang. Dengan kedua mata yang tertutup, dan hidungnya yang sudah tidak lagi mengeluarkan gelembung udara, sudah membuktikan bahwa gadis itu telah berada dalam posisi seperti ini semenit yang lalu.

Langsung saja, Jungkook berenang mendekati tubuh gadis itu dan mengangkatnya keatas. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa sekarang, ia harus menyelamatkan gadis itu. Sebab dirinyalah yang menjadikan Hyerin sampai tenggelam seperti sekarang.

Kumohon..Aku tidak ingin kejadian seperti dulu terjadi lagi…

FLASHBACK

Siang itu langit begitu cerah. Sangat cocok untuk dijadikan hari liburan. Karena memang pada saat itu matahari bersinar dengan indahnya dan di temani awan putih yang senantiasa menghiasi langit biru pada hari itu.

“Yeon-ah!!”

Seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur empat belas tahunan itu berlari kearah seorang gadis yang sedang berdiri di pinggir pantai. Gadis dengan rambut pendek sebahu itu terlihat sedang bermain-main dengan air pantai. Mengepak-ngepakkan tangannya di atas air dengan senyuman diwajahnya. Kelihatannya ia sangat riang, sampai-sampai ia berani berjalan masuk kedalam air tanpa ragu-ragu.

“Jungkook-ah! Ayo, main denganku! Airnya sejuk sekali..” ajak gadis itu seraya berlari-lari masuk kedalam air. Dress biru mudanya terlihat basah sampai lutut dan itu tidak lagi di pedulikannya. Ia hanya ingin menikmati waktunya di pantai sekarang. Karena mungkin, untuk kedepannya ia tidak akan bisa lagi untuk melihat indahnya pantai di pulau Jeju ini.

Lelaki yang tadi diajaknya —Jungkook— lalu berlari menghampiri gadis itu. Dengan senyum bahagia diwajahnya ia berlari di atas pasir putih pantai ini. Melihat gadis —yang notabene adalah pacarnya— itu tersenyum membuatnya juga ikut tersenyum. Pasalnya, baru kali ini ia melihat senyum gadisnya itu secerah ini.

Ini seperti mimpi baginya, melihat gadisnya itu tertawa riang seperti itu benar-benar terasa seperti mimpi bagi Jungkook. Sebuah kilas balik tentang hubungan mereka sejak kelas satu sekolah menengah kembali terputar di benaknya. Pada saat itu, gadis itu tidak pernah tersenyum seperti ini padanya. Yang ada hanyalah gumaman ‘Iya’ dan ‘tidak’ yang menghiasi hubungan mereka dulu. Bahkan saat itu sebuah senyuman tipis pun tak pernah di perlihatkan gadis itu padanya.

Sampai akhirnya ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya yang terpendam selama satu tahun lamanya. Sejak saat itu, gadis yang Jungkook kenal sebagai seorang gadis pendiam kini menjadi lebih ceria saat bersamanya. Ia juga tidak percaya bahwa lelaki sepertinya akan menjadi pacar seorang gadis pendiam.

Dan mulai saat itu juga, Jungkook berpikir bahwa… ‘Hanya aku yang bisa membuatnya tersenyum. Oleh karena itu, aku akan menjaga senyumannya itu sebisa mungkin’.Mengingat kilas balik mengenai hari pertama mereka kencan, membuat Jungkook mengulas senyum tipis diwajahnya.

Sampai akhirnya Jungkook mengedarkan pandangannya kearah laut, ia terdiam. Senyuman tipis tadi itu hilang seketika dan tergantikan dengan wajah panik.

“D-dimana Hwayeon?” Gumamnya kemudian berlari-lari masuk kedalam air sementara kedua obsidiannya terus memandangi lautan yang sudah datar itu. Ini tidak beres. Ini gawat!

“Joo Hwayeon! Joo Hwayeon!” Panggil Jungkook ke seluruh penjuru pantai. Namun, nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.

BYUR!

Langsung saja, Jungkook melompat masuk kedalam air. Berenang dengan netranya yang siap menjelajahi isi laut itu sekarang. Matanya dengan jeli bergerak ke kiri dan ke kanan mencari gadisnya. Sementara kedua tangan dan kakinya sibuk mendorong tubuhnya untuk berenang lebih dalam lagi.

Sampai akhirnya, ia dapat melihat gadisnya yang kini sudah melayang di dalam air dengan wajah pucat. Langsung saja, Jungkook segera berenang mendekatinya kemudian mengangkat gadis itu keatas. Kumohon bertahanlah, Joo Hwayeon.

Dengan sekuat tenaga, ia berenang keatas, sampai akhirnya cahaya luar menghantam penglihatannya. Tanpa berpikir panjang lagi, lelaki itu segera berlari menuju daratan. Karena ia tidak mau gadis yang di sayanginya itu tidak akan bangun lagi. Kedua tanganya ia arahkan kedepan dada gadis itu kemudian memompanya pelan tapi pasti. Dengan sesekali menyelipkan doa disetiap pompaannya. Doa agar gadis itu kembali membuka matanya.

FLASHBACK END

Akhirnya, kedua insan itu keluar dari air dengan Hyerin yang tergeletak tak berdaya diatas lengan Jungkook. Mata gadis itu tertutup rapat, seolah tidak ada celah baginya untuk melihat keadaan di sekitarnya. Dengan cepat, Jungkook membawanya ke daratan kemudian membaringkannya diatas pasir putih pantai ini.

Tanpa berkata apa-apa lagi, lelaki itu langsung saja memompa cepat dada gadis itu seperti apa yang dilakukannya pada Hwayeon dulu. Berusaha agar gadis itu sadar secepatnya. Ini akan menjadi salahnya jika gadis itu tidak akan bangun untuk beberapa waktu lamanya.

“Satu, dua, tiga… satu dua, tiga..” Gumaman Jungkook beriringan dengan pompaannya di dada Hyerin. Raut wajah lelaki itu terlihat khawatir, khawatir dengan apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian jika pompaan yang dilakukannya itu tidak akan berhasil.

Mendengar sesuatu dari arah kiri, guru Park mengarahkan pandangannya ke sumber suara. Mata beliau membelalak disaat ia melihat salah seorang siswanya tergeletak tak berdaya diatas pasir bersama Jungkook yang kini terus membantu jalannya pernafasan gadis itu.

“Apa yang terjadi?!” Seru Guru Park seraya berlari-lari kearah Jungkook. Mendengar itu, semua siswa dan guru yang tadinya sedang sibuk dengan permainan bola voli yang baru saja mulai itu langsung ikut berhamburan menghampiri Jungkook dan Hyerin.

“Satu dua tiga… satu dua tiga…” Tanpa memperdulikan pertanyaan-pertanyaan dari guru Park dan yang lainnya, Jungkook terus memompa dada Hyerin tanpa rasa letih sekali pun. Merasa tidak berhasil dengan pompaannya itu, Jungkook meraih pipi tirus gadis itu kemudian memajukan wajahnya cepat. Seolah tidak ada lagi waktu untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.

Dia pun menempelkan bibirnya tepat diatas bibir pulm gadis itu dan meniupkan nafasnya kedalam rongga mulut gadis itu.

Heol! Jeon Jungkook memberi nafas buatan pada Hyerin!”

Daebak! Ini benar-benar luar biasa!”

“Jeon Jungkook melakukan hal itu? Yang benar saja!”

Bisikan-bisikan dari para siswa mulai terdengar, mengusik Jungkook yang sibuk menyelamatkan Hyerin. Setelah mencoba untuk memberikan nafas buatan kepada gadis itu, ia kembali memompa dada Hyerin. Sementara keadaan di sekitar sudah mulai berisik dengan bisikan-bisikan para siswa.

Guru Park yang tadinya sedang memanggil tim medis kini datang kemudian mengambil tempat Jungkook “Guru akan menggantikanmu, kau pergi bukakan pintu kamar Hyerin di hotel. Guru dan tim medis lainnya akan menyusul” perintah guru Park seraya memberikan sebuah kunci kamar hotel yang tak lain adalah kunci kamar milik Hyerin. Jungkook pun mengangguk kemudian meraih kunci tersebut lalu segera beranjak dari tempatnya.

***

FLASHBACK

Jungkook yang tadinya masih tidak percaya dengan perkataan Hanbin mengenai gadisnya yang telah meninggal itu kemudian berjalan mendekati Hanbin. Tatapan tajam mengiringi setiap langkahnya untuk menghampiri Hanbin.

Langkah kaki itu kini semakin cepat saat Jungkook mulai menggumamkan sesuatu “K-kau..”

BUGH!

Tepat disaat ia sudah berdiri didepan Hanbin, Jungkook memukul lelaki itu. Membuat Hanbin terjatuh karenanya. Pukulan keras itu benar-benar seperti ‘mesin penggeser rahang’. Hanbin yang terkejut karena pukulan tiba-tiba itu kemudian berdiri dan bersiap untuk membalasnya dengan mengepalkan tangan kirinya kuat “Kau gila?!!”

SEET!

BUGH!

Belum sempat Hanbin memukul Jungkook, tangan kiri Jungkook menahannya sementara tangan kanannya di arahkan tepat di pipi kiri Hanbin.

Hanbin terhuyung jatuh. Bagaimana tidak? Pukulan kali ini benar-benar sangat kuat. Hanbin bahkan berpikir mungkin rahangnya akan ikut terjatuh juga. Rasa perih di kedua sisi rahangnya dapat dirasakan olehnya.

“Ini yang aku benci darimu, brengsek!” Lelaki itu lalu bangkit kemudian mengarahkan tangan kanannya untuk balas memukul Jungkook.

BUGH!

“Argh!” Kena sasaran! Pukulan itu mendarat tepat di perut Jungkook, membuat lelaki itu mundur empat langkah ke belakang karena tidak bisa menahan rasa sakit yang kini menjalar ke semua bagian tubuhnya. Kemudian ia terhuyung dan jatuh.

Beberapa detik, lelaki itu mengambil nafas seraya tersenyum remeh, di ikuti dengan cairan bening yang menetes dari salah satu pelupuk matanya “Kau hebat juga” ucap Jungkook “Hebat untuk membunuh gadisku sendiri” lanjutnya dan diikuti oleh layangan tangan kiri nya di udara.

“KAU MEMBUNUHNYA!”

BUGGH!!

“Akkh!” Hanbin meringis disaat ia merasakan ujung bibirnya mulai mengeluarkan cairan merah pekat. Ia menyentuh pelan ujung bibirnya itu “Membunuh, ya? Kau kira aku yang membun-”

BUGH!

“Diam, brengsek!”

BUGH!

“Lalu bagaimana bisa Hwayeon mati? Katamu dia sudah tidak ada di dunia ini, kalau bukan mati, lalu dimana dia sekarang, hah?!!”

Mendengar itu, Hanbin yang kini sudah terkapar diatas tanah itu hanya bisa tertawa remeh. Sedetik kemudian, ia menatap Jungkook tajam, setajam lelaki itu menatapnya “Siapa aku sampai harus membunuhnya? Tidak ingatkah kau mengenai kecelakaan waktu itu?”

DEG!

Jungkook terdiam. Mencoba berpikir, mencerna setiap kata yang dikeluarkan oleh Hanbin.

Kecelakaan… Ya, kecelakaan.

Kejadian yang waktu itu ada pada mimpinya.

Sepeda, mobil hitam, dan cahaya-cahaya yang datang dari mana saja.

“K-kecelakaan?”

Hanbin bangkit kemudian mengelap pelan bibirnya yang sudah dipenuhi oleh darah miliknya sendiri “Dia, Joo Hwayeon, meninggal saat kecelakaan mobil”

Jungkook masih dalam posisinya. Ia terus saja diam. Kedua iris cokelat miliknya menatap lurus lelaki yang ada didepannya itu. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Ini memang benar tidak bisa dipercaya olehnya.

Itu berarti, mimpinya mengenai ia mengejar seorang gadis itu adalah memorinya?

“H-hwayeon..” gumamnya pelan. Ini benar-benar tidak bisa dipercaya. Jungkook bahkan tidak tahu itu. Ia tidak tahu bahwa akhirnya akan seperti ini. Ini terlalu sulit bagi dirinya untuk menerima kenyataan ini begitu saja. Bahkan sulit sekali.

Menerima kenyataan bahwa gadis yang telah dicintainya sejak dulu itu meninggal tidaklah semudah itu. Disaat seluruh ingatannya mengenai masa-masa dirinya dengan Hwayeon kembali, malah ia harus menghadapi kenyataan pahit ini. Disaat seluruh rasa cinta dan kasih sayangnya yang telah dilupakan bertahun-tahun lamanya kini kembali, ia harus segera melupakannya dan menggantikan dengan kenyataan bahwa—

—seluruh ingatan dan kenangan yang kembali itu tidaklah berarti untuk saat ini. Karena Joo Hwayeon, telah tiada.

Ingin sekali Jungkook menahan air matanya untuk keluar, namun sepertinya tidak bisa. Perasaan sedihnya tidak bisa dibendung lagi. Kesedihan yang dialaminya begitu menyakitkan. Dada lelaki itu sesak, menyuruhnya untuk memukul pelan dadanya sendiri.

PUK!

Jungkook memukul-mukul dadanya, berharap rasa sesak di dadanya itu akan hilang dengan cara tersebut. Tetes-tetes air mata tidak bisa berhenti untuk tidak membasahi pipi lelaki itu.

Hwayeon-ah… izinkan aku bertemu denganmu sekali saja. Kumohon…

FLASHBACK END

“B.I oppa! Kenapa diam saja? Apa yang kau katakan padanya?”

Hanbin yang sedaritadi melamun lalu kembali tersadarkan dengan suara seorang perempuan di ponselnya. Ia lalu mendesah pelan “Apa?”

“Oh Geez. Kau barusan bercerita tentang dirimu yang membawa Jungkook ke tempat kejadian Hwayeon”

“Ah, itu.. Sampai dimana tadi?”

“GOSH! B.I oppa, Kau benar-benar mengesalkan sekarang, huh. Setelah Jungkook menangis, lalu apa yang kau katakan padanyaaa?”

“Sudah, hanya sampai disitu ceritaku. Kembali ke pembicaraan awal kita!”

Terdengar suara desahan malas dari seberang sana “Baiklah.. Ngomong-ngomong, aku ingin tanya mengenai Joo Hwayeon”

“Apa benar gadis itu telah meninggal?”

Hanbin terdiam, memandang lurus kaca jendela didepannyasebelum akhirnya menjawab “Aku… tidak tahu”

“Mwo?!! Jadi kau membohongi Jungkook… dan aku? Are you kidding me?”

“Bukan ‘membohongi’, tapi itu memang kenyataannya. Gadis itu sudah tiada” ucap Hanbin dengan nada yang sedikit ragu.

“Menghilangnya dia belum tentu bahwa gadis itu telah meninggal, oppa!Astaga, bisa-bisanya kau mengatakan Hwayeon meninggal. Bukankah kau juga menyukainya dulu?….. Wait, oppa. Ah, yes, sir?……… Ok, i will send it again… Ah, oppa, ada yang harus kukerjakan. Ku tutup yaa”

TIIT! TIIT!

Sambungan telepon itu terputus seketika. Hanbin yang menyadarinya hanya bisa mengumpat pelan. Bisa-bisanya gadis itu menutup teleponnya sembarangan, padahal yang mereka bicarakan itu adalah hal serius. Memang, tidak ada gunanya menggunakan gadis itu sebagai orang suruhannya.

Hanbin hanya mengeluarkan nafas berat kemudian berjalan keluar dari kamar hotelnya itu.

TAP! TAP!

TAP!

Langkah kakinya terhenti saat mengingat kembali pertanyaan yang dilontarkan Rachel padanya. Pertanyaan yang tidak ingin didengar Hanbin…

“Apa benar gadis itu telah meninggal?”

Baiklah, untuk pertanyaan ini sepertinya agak sulit baginya untuk menjawab. Ia juga tidak tahu dimana tepatnya gadis itu berada. Seluruh hal yang diketahuinya dari Hwayeon—keluarganya dan rumahnya— seperti tidak berniat untuk membantunya sama sekali. Rumah keluarga gadis itu katanya sudah lama telah dijual, sedangkan keberadaan orang tua gadis itu juga sama sekali sudah tidak ada jejaknya. Hanbin sudah menyerah sejak saat itu.

Tapi, sebenarnya ia juga tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa Hwayeon telah meninggal.

***

Sujeong terlihat berjalan keluar dari toilet wanita. Walaupun sebenarnya di dalam kamar ‘ruang kesehatan’ ada kamar mandi beserta toilet, namun ia tidak bisa menggunakan toilet yang ada didalam kamar ‘ruang kesehatan’ itu. Jika bukan karena Taehyung yang sedang mandi didalamnya, pasti Sujeong tidak harus turun ke lantai satu untuk menggunakan toilet wanita umum.

Untung saja, hari ini adalah hari dirinya bisa keluar dari ‘ruang kesehatan’ itu. Setelah mendapat persetujuan dari tim medis Elioxe, Sujeong dan Taehyung sudah bisa ikut berpartisipasi dalam acara. Jadi, sekarang Sujeong berencana untuk pergi menyusul yang lainnya di pantai Hyeop Jae.

Namun, sepertinya sudah tidak ada gunanya lagi dirinya menyusul ke pantai itu. Buktinya sekarang seluruh siswa sudah berkeliaran di sekitar lobby. Mungkin acaranya sudah selesai, begitu pikir Sujeong. Jadi, gadis itu pun berbalik dan bergegas untuk kembali ke kamarnya.

TAP..TAP…

“Jeon Jungkook menolongnya? Heol, yang benar saja!”

“Aku tidak berbohong, ini benar-benar terjadi tadi. Tanyakan saja pada Seulhan”

Eum, dia tidak berbohong. Jungkook benar-benar menolong Hyerin tadi. Aku melihatnya berenang ke arah Hyerin yang sudah hampir tenggelam dan membawa gadis itu ke daratan. Wah, sungguh tidak bisa dipercaya, sisi heroiknya muncul saat itu juga!”

TAP!

Langkah kaki Sujeong terhenti setelah percakapan itu tertangkap jelas oleh telinga kanannya. Ia pun menoleh kearah tiga perempuan yang sedang bergosip ria itu “Mwo? Katakan sekali lagi. Ada apa dengan Jungkook dan Hyerin?”

Salah satu gadis dengan rambut panjang ikal yang berdiri di tengah kemudian menjelaskan “Kau tidak tahu? Jung Hyerin hampir tenggelam di laut dan Jungkook menolongnya. Hyerin sekarang sedang dibawa ke ‘ruang kesehatan’ untuk di istirahatkan disana” jelas gadis itu.

Baru selesai gadis berambut ikal menjelaskan, gadis disamping kirinya langsung menyahut “Ya, ya, jangan lupa dengan bagian pentingnya. Jeon Jungkook….. memberi nafas buatan pada Hyerin”

DEG!

Sujeong terdiam. Tidak peduli lagi dengan teriakan-teriakan genit dari ketiga gadis didepannya itu. Ia hanya bisa mematung dengan pandangan kosong. Mendengar perkataan gadis itu membuatnya seperti tersihir oleh sesuatu yang sudah pasti sangat menyakitkan. Rasa sakit itu terus mendatanginya, membuatnya terus diam sampai akhirnya dadanya terasa sesak.

TAP TAP!

Sujeong pun memberanikan diri untuk berjalan pergi dengan langkahan yang berat. Namun, langkahan berat itu berubah menjadi larian disaat dirinya melupakan tentang nafas buatan yang diberikan Jungkook pada Hyerin. Ia sadar, yang harus dikhawatirkan sekarang bukanlah tentang nafas buatan itu, melainkan temannya sendiri.

Jung Hyerin…

DRAP DRAP DRAP!

***

“Kita akan berada disini dua hari lagi. Hari ketiga langsung pulang ke Seoul” jelas Jin yang diikuti oleh anggukan Yoongi dan Taehyung didepannya. Kemudian lelaki berbahu lebar itu menyuapkan sesuap nasi pada mulutnya sendiri dan mengunyahnya pelan, tidak peduli dengan apa reaksi dari kedua temannya yang duduk berhadapan dengannya itu.

“Ckck…” decakan pelan terdengar dari Yoongi. Lelaki yang sedang memegang sebuah bungkusan hotdog itu lalu menggelengkan kepalanya pelan “Pantas saja kau dipanggil gembul oleh Raena. Ah, iya, hubunganmu dengannya bagaimana?” tanya Yoongi seraya memasukkan roti panjang berisi sosis itu ke dalam mulutnya sendiri.

Jin hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Yoongi yang dianggap kurang bermutu itu. Sudah tahu dirinya dengan Raena—gadis yang sempat diberi gelar kekasih pertama seorang Jin— itu sudah putus kontak sama sekali, masih saja ditanya.

Mendengar tidak ada jawaban, Yoongi lalu melemparkan tatapan tajam kearah Jin “Ya! Kau kira aku adonan kue yang harus didiamkan selama beberapa menit? Jawab pertanyaanku!”

“Oh, Hyejin!”

Sapaan Taehyung pada seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari meja makan mereka langsung saja membuat Yoongi diam sekejap. Lelaki itu lalu berbisik pelan pada Taehyung disebelahnya “Mau ku gunduli kepalamu? Kenapa kau menyapanya?”

Waeyo? Lagipula dia pasti tidak akan datang kesini”

Ucapan Taehyung memang benar, gadis itu tidak berjalan kearah tempat makan mereka dan malah ikut duduk di tempat lainnya yang kosong. Wajar saja dia tidak ingin berada satu meja dengan mereka, karena ada Yoongi disana, musuh bebuyutannya sejak tiga bulan yang lalu.

“Ah, iya!” Jin tiba-tiba berseru seraya meraih gelas air kemudian meneguknya pelan, lelaki berbahu lebar itu lalu melanjutkan kembali perkataannya yang terpotong itu “Kau sudah dengar berita tentang Jungkook dan Hyerin?” Tanya Jin dengan kedua netranya yang berfokus pada Taehyung.

DEG!

Kedua pandangan mata Taehyung seperti menanyakan ‘apa?’ pada Jin. Ia tidak ikut acara tadi sehingga ia tidak bisa mengetahui dengan jelas apa yang dimaksudkan Jin.

Jin yang mengira Taehyung sudah tahu langsung memberikan tatapan tidak percaya pada Taehyung “Kau tidak tahu? Jung Hyerin bertukar tempat dengan kau dan Sujeong” ucap Jin dengan mulutnya yang masih mengunyah daging itu.

“Maksudmu?” respon Taehyung, masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan temannya itu.

“Dia tenggelam saat acara tadi dan Jungkook menolongnya, sekarang gadis itu sedang berada di ‘ruang kesehatan’ bersama guru Park dan guru Hyun”

SREET!

DRAP DRAP DRAP!

Kedua insan yang berada di meja makan itu hanya bisa melongo saat melihat Taehyung sudah  melengos pergi  begitu saja dan meninggalkan makanannya yang baru saja dimakannya itu “Ada apa dengannya?” Tanya Yoongi pada Jin yang hanya di tanggapi dengan bahu Jin yang terangkat menandakan bahwa lelaki itu tidak tahu.

“Hyejin-ah! Ayo gabung, gantikan tempat Taehyung!”

“Kau gila, Kim Seokjin?!”

“Panggil aku pakai ‘hyung’, bodoh! Aku lebih tua tiga bulan darimu!”

***

CKLEK!

Pintu ruangan itu terbuka, menampakkan sesosok gadis bersurai hitam kecoklatan yang kini berjalan masuk menghampiri sebuah ranjang yang ditempati seseorang itu. Ia melangkah dengan hati-hati, takut membangunkan temannya yang sedang tertidur —atau mungkin sedang dalam kondisi tidak sadar— itu.

Ia lalu duduk di sebuah kursi yang terletak tepat di samping ranjang itu dan memandangi wajah damai temannya itu.

Tiba-tiba, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata gadis itu. Entah kenapa perasaan menyesal kini menyelimutinya. Sujeong merasa sangat menyesal dengan sikapnya tadi yang hanya mementingkan Jungkook saja, dan tidak mementingkan temannya yang sedang dalam kesulitan seperti ini.

Ia merasa dirinya sudah keterlaluan. Apalagi disaat melihat wajah Hyerin yang sedang tertidur lelap dan damai seperti sekarang ini, menambah rasa menyesalnya. Dalam pikirannya, bagaimana bisa ia melupakan temannya yang sedang dalam keadaan seperti ini? Ia terlalu egois. Ya, dia pun tahu itu.

“Maafkan aku..” ucapnya kemudian menunduk dalam. Tetesan air mata penyesalan itu turun perlahan, membasahi pipi tembamnya. Namun, seketika ia mendongakkan kepalanya untuk tidak menangis lagi kemudian menghapus air matanya

Gadis itu lalu berdiri. Sejenak, ia melihat temannya yang kini terbaring lemah diatas ranjang putih itu lalu akhirnya berbalik. Ia tidak ingin berlama-lama disini dan ketahuan sedang menangis hanya karena hal sepele. Jadi ia memilih untuk keluar untuk saat ini, karena sepertinya waktu ini juga bukanlah waktu yang tepat untuk menjenguk temannya itu.

CKLEK!

Sujeong melangkahkan kakinya keluar kemudian menarik gagang pintu yang baru saja dibukanya itu. Tungkainya bergerak untuk melangkah lebih jauh, meninggalkan ruangan sepi itu.

***

TOK TOK!

Pintu ruangan milik Presdir Jeon lalu terbuka, menampakkan sesosok wanita dengan kaca mata berjalan masuk ke dalam ruang kerja itu. Presdir Jeon yang sibuk memeriksa dokumen-dokumennya hanya melihat wanita —yang notabene adalah asistennya itu— sekilas dan menggumamkan kata “Ada apa?”

“Barusan Asisten Jung datang dan memberitahu bahwa Heera akan datang kesini dalam jangka waktu beberapa hari lagi” jelas wanita berkaca mata yang memiliki name tag ‘Lee Soohee’.

Mendengar itu, Presdir Jeon yang tadinya sama sekali tidak ingin menoleh pun kini mendongakkan kepalanya ke hadapan asistennya itu “Apa??”

Untuk beberapa detik, asisten Lee hanya bisa menunduk dan diam, tak berkata apapun sampai disaat Presdir Jeon berdiri “Apa dia sudah gila? Memangnya ada urusan apa dia sampai harus datang kesini?”

“Saya tidak-“

“Hubungi CEO Hyun untuk memblokir penerbangan-“

“Tapi, Heera sudah sampai dari dua hari yang lalu” potong Asisten Lee.

Presdir Jeon yang mendengarnya langsung menekukkan alisnya dan menatap asistennya itu dengan tatapan tidak percaya. Perlahan beliau terduduk diatas kursi miliknya itu seraya menghembuskan nafasnya kasar. Kedua obsidiannya menatap lurus dokumen-dokumen diatas mejanya, masih dengan wajah marah.

“Hhh… Dia bisa saja menjadi biang suatu masalah yang sangat besar. Aku tidak ingin dia menghancurkan perusahaan ini jadi… suruh seseorang untuk memantaunya”

***

Kedua kelopak mata Jungkook tiba-tiba saja terbuka. Menampilkan suasana ruangan yang berisikan rak-rak dan beberapa obat serta buku disana. Ah, rupanya ia sudah tertidur di ‘ruang kesehatan’.

Ruangan itu masih sama seperti beberapa menit yang lalu, tetap sunyi dan sepi. Begitu pula gadis yang sedang tertidur di atas ranjang putih itu. Hyerin masih saja belum bangun setelah Jungkook menunggunya selama dua puluh menit lamanya.

Dia sebenarnya tidak ingin menunggu gadis itu bangun seperti ini, tapi entah kenapa mengingat kejadian tadi ia merasa sangat bersalah telah membuat Hyerin tenggelam seperti tadi. Dirinya baru ingat mengenai apa yang dikatakan Nyonya Jung padanya, Hyerin sama sekali tidak bisa berenang.

Dan Jungkook merasa sangat menyesal karena itu. Untuk membayar rasa bersalahnya, Jungkook rela menunggu di samping gadis itu, menunggu gadis itu untuk bangun agar ia bisa mengatakan permintaan maafnya sampai-sampai dirinya juga ikut tertidur saking lamanya gadis itu bangun.

Kejadian tadi benar-benar persis dengan kejadian dirinya dengan Joo Hwayeon karena itulah ia ingin meminta maaf. Ia takut perbuatannya itu akan membuat seseorang menderita lagi seperti Hwayeon dulu. Sungguh, ia benar-benar lemah jika berhadapan dengan kejadian yang mirip dengan dirinya dan Hwayeon dulu. Ditambah lagi, ingatannya belum sepenuhnya muncul dan hanya beberapa ingatan mengenai Hwayeon saja.

Bicara tentang Hwayeon, Jungkook saat ini masih terus mencoba mengingat kembali mengenai gadisnya itu. Mengenai seluruh memorinya bersama Joo Hwayeon. Karena sampai detik ini juga, ia belum bisa mengingat semuanya, termasuk mengenai kecelakaan yang dikatakan Hanbin.

Jujur saja, dia sama sekali tidak ingat apa-apa tentang kecelakaan itu. Entah itu kecelakaan mobil atau apa, ia masih tidak tahu. Tapi sebelum itu, Jungkook sudah yakin kali ini bahwa kecelakaan itu adalah kecelakaan yang muncul pada mimpinya. Karena pada mimpi itu juga, Joo Hwayeon muncul disana. Entahlah…

Kedua mata bulat milik lelaki tampan itu terus saja tertuju pada wajah Hyerin yang sedang tertidur pulas. Ia ingat betul bagaimana wajah gadis itu tadi saat baru saja keluar dari air. Begitu pucat layaknya mayat. Tapi syukurlah sekarang wajah gadis itu sudah membaik, masih sedikit pucat tapi tidak terlihat buruk. Entah sekarang ini Hyerin sedang tertidur atau belum sadarkan diri, Jungkook tidak tahu. Tapi kata Yoongi, Hyerin sempat sadar setelah ditangani Guru Park saat di pantai tadi. Jadi, kemungkinan sekarang dia sedang tidur.

Setiap inci dari wajah gadis itu diperhatikannya dan sesekali tersenyum karenanya. Wajah gadis itu terlalu cantik untuk tidak membuatnya betah memandanginya seperti ini. Kelopak matanya yang besar, hidung mancung, dan bibir tipisnya seperti satu kesatuan yang membentuk keindahan yang luar biasa.

“Engh.. Ibu…”

Suara dari gadis yang sedang terbaring di atas ranjang putih itu membuat Jungkook sontak menghentikan aktivitas melamunnya lalu memperbaiki posisinya. Matanya lurus menatap wajah gadis itu yang masih saja terlelap. Mungkin Hyerin benar-benar sangat lelah sampai mengingau seperti tadi. “Kurasa dia memimpikan ibunya” gumam Jungkook pelan, agar tidak membangunkan gadis itu.

CKLEK!

Bunyi pintu yang terbuka sontak membuat Jungkook menoleh ke belakang dan mendapati Taehyung yang sudah berdiri di ambang pintu dengan nafas yang tidak beraturan. Sepertinya lelaki itu berlari untuk bisa sampai kesini. Itu sudah jelas dari wajahnya yang kelihatan lelah dan keringat dimana-mana.

“Hah, hah—Apa dia—hhh—baik-baik saja?” Tanya Taehyung dengan nafas yang masih tersenggal-senggal. Lelaki itu memandang Jungkook yang juga memandangnya bingung. Apa dia tersengat sesuatu sampai harus buru-buru berlarian kesini hanya untuk menanyakan kabar gadis ini?, begitu pikir Jungkook.

Anggukan dari Jungkook menjadi jawaban bagi pertanyaan Taehyung tadi “Eo, dia baik-baik saja dan-“

“Kau keluarlah!”

Mendengar itu, Jungkook mengerutkan alisnya lalu berucap “Mwo?!”

Apa-apaan dia? Dengan seenaknya menyuruh Jungkook keluar tanpa alasan. Dia tidak tahu, Jungkook sudah rela menunggu bermenit-menit agar gadis itu bangun dan ia bisa meminta maaf pada gadis itu. Tapi Taehyung dengan sesuka hatinya menyuruh Jungkook untuk menyingkir dari tempat itu tanpa tahu betapa sakitnya punggung Jungkook duduk disini demi menunggu gadis itu bangun.

“Aku yang akan menjaganya, jadi.. kau keluarlah” ujar Taehyung lalu berjalan sedikit gontai kearah tempat duduk yang diduduki Jungkook sekarang. Sementara itu Jungkook hanya bisa diam dan melihat datangnya Taehyung ke arahnya. Dirinya benar-benar tidak mengerti, kenapa Taehyung bersikap aneh seperti ini? Ini membuat Jungkook sempat heran seketika melihat Taehyung yang sudah menatapnya seperti mengisyaratkan untuk keluar dari tempat itu sekarang juga.

SREET!

Lelaki itu akhirnya berdiri dan melangkah pergi setelah melayangkan tatapan tajamnya pada Taehyung. Sungguh, ia tidak mengerti kenapa Taehyung tiba-tiba bersikap begini. Seolah-olah Hyerin tidak bisa disentuh ataupun dijaga oleh orang lain selain dirinya.

BLAM!

Pintu ruangan itu tertutup rapat setelah mengeluarkan bunyi yang cukup keras itu. Taehyung yang mendengarnya hanya memandangi pintu itu sekilas dan menghembuskan nafasnya pelan. Tidak peduli dengan perginya Jungkook dengan tatapan tajam itu. Toh dirinya sudah meminta Jungkook untuk keluar, tidak dengan menyeretnya, kan? Taehyung hanya ingin waktu sebentar untuk menemani Hyerin.

Ia lalu duduk di kursi yang tadi di duduki Jungkook seraya meraih tangan Hyerin, menggenggamnya erat seperti tidak ingin pergi lepas dari genggaman itu. Ia memandangi wajah teduh gadis itu lalu menundukkan kepalanya. Untuk beberapa detik, lelaki itu terdiam dan menarik nafas panjang.

Jujur saja, banyak hal kini berkecamuk didalam pikirannya. Dan semua hal itu tentu saja berhubungan dengan Hyerin. Salah satunya, kejadian disaat Hyerin tenggelam tadi. Dirinya merasa sangat menyesal karena tidak dapat mengetahui hal itu lebih dulu dari Jungkook dan harus mendengarnya dari teman-temannya.

Oh ayolah Kim Taehyung, kau bahkan telah ditolak.

Mengingat penolakan Hyerin kemarin, membuat Taehyung sempat terdiam sejenak. Ini memang tidak benar, dia tidak benar. Kim Taehyung telah salah dalam mengambil keputusannya kemarin untuk menyatakan perasaannya pada Hyerin. Jung Hyerin adalah istri Jungkook. Apa dia gila sampai berani memacari istri orang?

Taehyung diam. Dirinya berpikir sejenak. Sungguh, jika saja Taehyung boleh jujur saat ini, ia akan berkata bahwa dirinya tak bisa melupakan gadis ini. Dari sejak mereka bertemu di upacara penyambutan siswa baru di Elioxe tahun lalu, sampai pada detik ini juga, perasaan itu masih sama. Dirinya sangat menyukai Hyerin.

Tapi apa boleh buat, mengingat Hyerin sudah terlanjur memiliki ikatan yang begitu erat dengan temannya sendiri membuat dirinya harus memendam seluruh perasaan itu dan mencoba untuk menguburnya dalam-dalam.

“Kenapa harus Jungkook?” Ucap Taehyung pelan dengan pandangan yang diarahkan pada Hyerin yang masih terlelap.

Sebenarnya untuk apa Taehyung bertanya hal yang tidak berguna seperti itu? Toh disini memang dirinya yang salah. Kenapa tidak menyatakan perasaannya dari awal? Kenapa baru sekarang? Disaat Hyerin sudah menikah dengan orang lain, kenapa dirinya berani mengutarakan perasaannya sementara waktu-waktu yang telah dilewati sebelumnya begitu banyak.

Dirinya merasa bodoh. Sangat bodoh.

SREET!

Lelaki itu melepas genggamannya pada Hyerin kemudian beranjak dari tempatnya. Sepertinya tidak ada guna ia duduk disini dan menunggu Hyerin bangun, karena sudah pasti Hyerin akan mengacuhkannya sama persis ketika dirinya menyatakan perasaannya kemarin. Ia tahu itu.

***

Matahari yang tadinya masih bersinar terang kini sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Menyisakan warna langit yang terlihat kuning kemerah-merahan namun masih tetap indah untuk di pandang. Membuat gadis bersurai cokelat ini betah duduk di depan jendela besar itu hanya untuk memandangi pemandangan yang benar-benar indah itu.

Ya, kau seharusnya lebih hati-hati lagi, mengerti? Jangan sampai kau mengalami kejadian yang sama lagi. Lagipula, sebenarnya untuk apa kau masuk ke air padahal kau tak tahu berenang sama sekali”

Omelan dan nasihat Sujeong entah kenapa tidak ada yang masuk dalam otak Hyerin sekarang. Wajah Hyerin yang sedang menatap keadaan luar terlihat kosong, tanpa ekspresi. Seperti sudah terhipnotis akan keindahan matahari yang sudah menghilang itu. Sementara garpu yang digunakannya untuk mengangkat buah apel yang disediakan Sujeong pun hanya menganggur begitu saja tanpa dimakannya.

Sujeong yang menyadari itu hanya bisa menghembuskan nafas, berusaha sabar. Oh ayolah, mulutnya sudah lelah mengatakan ini dan itu sementara orang yang diajak bicara hanya diam dan tidak mendengarnya sama sekali. Sujeong juga tahu indahnya detik-detik matahari tenggelam itu bagaimana, tapi menurutnya ini sudah kelewat aneh. Hyerin memang terlihat sedang memandangi pemandangan luar biasa itu, tapi kelihatannya gadis itu tidak begitu menikmati peristiwa itu. Mana ada orang yang melihat matahari tenggelam dengan wajah kosong begitu. Dia malah cenderung terlihat sedang melamun, bagaimana bisa Sujeong tidak merasa ada yang aneh?

Ya, Jung Hyerin! Sadarlah!” ujar Sujeong seraya melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah temannya itu.

Eoh? Ada apa?” Dan sepertinya itu berhasil juga.

“Kau benar-benar ingin mati, eoh?! Bagaimana bisa kau tidak mendengar-“

SREET!

TAP TAP!

Sujeong mendesah malas disaat dirinya melihat Hyerin yang pergi begitu saja tanpa mendengarkan dulu apa yang ingin dikatakannya “Kau mau kemana? Ini sudah malam!” ujar Sujeong dengan nada yang cukup tinggi. Sebenarnya apa mau gadis itu? Sudah cukup dirinya mengabaikan Sujeong yang sedang berbicara tadi, dan sekarang dia malah ingin keluar.

“Aku harus menemui seseorang, tidak akan lama!” Teriak Hyerin lalu membuka pintu ruangan setelah dirinya menggunakan sandalnya dengan sempurna. Kemudian terdengar suara yang sedikit keras dari arah pintu menandakan bahwa pintu itu sudah tertutup rapat sepenuhnya.

Yak! Kau harus istirahat!!”

Percuma saja, teriakan Sujeong tidak akan dapat didengar oleh gadis keras kepala sepertinya. Gadis bersurai cokelat kehitaman itu hanya bisa mendesah pelan kemudian menarik nafasnya panjang. Sepertinya memang tidak ada yang bisa melawan sifat Hyerin yang keras kepala itu.

***

SRAAK! SREK!

Suara langkahan kaki Hyerin benar-benar jadi lebih berisik karena adanya dedaunan di sepanjang jalan yang dilewatinya. Ah, entah sekarang sudah musim gugur atau apa, tapi saat ini begitu banyak daun berwarna kuning kecoklatan di sekitar hotel ini. Sesekali gadis itu mendengus kesal begitu disadarinya bahwa orang yang dicarinya sama sekali tidak ditemukannya sampai sekarang.

TAP!

Langkah kaki Hyerin terhenti tepat di depan pagar taman kecil yang berada di belakang hotel itu. Ia tertegun sesaat setelah dirinya melihat apa yang ada di depannya sekarang. Perlahan, senyumnya mengembang disaat dirinya memandangi pemandangan yang sangat indah itu.

Begitu banyak lampu di taman ini. Berwarna-warni, layaknya sebuah wilayah bagi para peri atau tokoh-tokoh dongeng yang ada. Tak hanya itu, air mancur berukuran sedang yang berada di belakang ayunan menambah keindahan taman itu pada malam hari dengan lampu  warna-warni yang menghiasi air mancur itu. Wajar saja Hyerin terpaku begitu melihatnya, terlalu indah untuk tidak di kagumi.

TAP! TAP!

Gadis itu lalu melangkah mendekat kearah taman kecil itu seraya mengagumi beberapa patung pahatan yang terpajang di sekitar pagar taman itu. Benar-benar sangat detil namun juga sangat indah. Hyerin paling suka benda-benda seperti ini, yang berwarna-warni dan juga terkesan unik.

“Ah, aku lupa membawa ponselku. Ish…” dengus gadis itu kesal disaat ia menyadari bahwa ia tidak membawa ponselnya kemari. Benar juga, Hyerin kemari hanya ingin mencari seseorang bukan untuk memotret taman kecil ini. Tapi, meski begitu Hyerin merasa menyesal karena tidak membawa ponselnya sekarang. Lagipula ini adalah hari terakhirnya untuk bisa bermalam disini jadi kemungkinan besok malam ia tidak bisa lagi melihat pemandangan seperti ini lagi karena besok jam tiga sore mereka sudah harus berangkat kembali ke Seoul.

“Sayang seka-“

Perkataan Hyerin terhenti kala melihat seseorang yang sedang berdiri di depan ayunan itu. Sebenarnya kenapa orang itu tidak duduk meskipun tahu bahwa ada ayunan di belakangnya?, begitu pikir Hyerin.

Tapi, matanya memicing begitu melihat sosok orang itu dari samping. Ditambah pencahayaan taman itu yang begitu terang sehingga Hyerin bisa melihat dengan jelas siapa lelaki itu.

“J-jeon Jungkook?” sapa Hyerin pada lelaki itu seraya mengambil dua langkah untuk mendekat. Orang yang dicarinya rupanya berada disini. Hyerin lalu menghela nafas lega menyadari itu.

Tapi beberapa detik kemudian, Hyerin menekuk alisnya. Sepertinya benar, orang itu adalah Jungkook. Tapi kalau itu benar Jungkook, kenapa tidak ada respon sama sekali dari orang itu setelah Hyerin menyapanya? Seperti tidak kenal saja.

Hyerin pun berjalan untuk lebih mendekat, mencoba menyapanya di jarak yang dekat, mungkin lelaki itu tidak mendengarnya. Langkah kaki gadis itu berhenti disaat ia merasa sudah berdiri di jarak yang cukup dekat dengan Jungkook, sekitar setengah meter?

Dan disinilah Hyerin sekarang, berada setengah meter di samping Jungkook. Sebenarnya ada yang ingin disampaikannya pada Jungkook, tapi entahlah apa dirinya bisa menyampaikannya atau tidak. Mengingat situasi sekarang begitu canggung hanya karena Jungkook yang terus saja diam sedari tadi. Parahnya, Hyerin juga ikutan diam karena lelaki disampingnya itu hanya diam. Ahh, apa ini pembicaraan melalui hati ke hati? Kenapa tidak ada satu pun di antara mereka yang berbicara?

Akhirnya, setelah berpikir cukup lama mengenai konsekuensi jika ia berbicara dengan Jungkook, Hyerin pun mendongakkan kepalanya yang tadi sempat tertunduk sebentar. Ia sangat tahu, konsekuensi jika ia berbicara dengan Jungkook hanyalah dua, didiamkan atau ditinggal pergi. Tapi entahlah, konsekuensi itu menurut pemikiran Jung Hyerin sendiri.

Setelah mengumpulkan keberanian yang  cukup, gadis itu lalu berusaha berbicara“Jeon Jungkook, aku ingin-“

SREET!

DEG!

Hangat. Hanya itu yang dapat mendefinisikan keadaan saat ini. Hyerin benar-benar tidak pernah merasakan tubuhnya sehangat ini sebelumnya. Apalagi bagian pipinya, begitu panas rasanya ingin meledak. Seluruh bagian tubuhnya serasa tidak dapat di kontrol oleh dirinya sendiri.

Bagaimana tidak? Tindakan Jungkook saat ini benar-benar membuat Jung Hyerin jadi lepas kendali. Tiba-tiba saja lelaki itu menarik kedua bahunya untuk mendekat ke dada bidangnya. Sungguh, Hyerin tidak bisa melakukan apa-apa lagi saat dirinya merasakan kedua tangan Jungkook sudah merangkul hangat tubuhnya.

“J-jungkook…”

Bukannya dilepaskan, pelukan itu menjadi semakin erat disaat Hyerin memanggil nama lelaki itu “Sebentar, hanya sebentar saja” gumam Jungkook pelan, seakan-akan membisikkan itu pada telinga Hyerin yang bersebelahan dengan pipi kanannya.

“Aku hanya perlu waktu sebentar. Ini terlalu menyiksaku” ucap lelaki itu lalu menenggelamkan wajahnya di pundak Hyerin. Meneteskan beberapa air mata disana kemudian terisak pelan.

 

-To Be Continue-

 

Haii~~ Maapkeun chapter ini agak membingungkan. Enggak kan? Kalian nggak bingung kan bacanya? /semoga aja/

Chapter ini sengaja dibuat samar-samar konfliknya Hanbin-Jungkook. Tapi ada yang ngerti ga sih? Aku takutnya readers pada ga mudeng bacanya, soalnya belibet :v

Disini aku mau jawab dulu pertanyaan readers di chap 7a.

Q: Kenapa lama update?

A: Seminggu kemarin aku lagi ada UKK/UAS di sekolah jadi ga bisa ngelanjutin ff ini untuk seminggu penuh. Maaf ya udah buat kalian nunggu (T_T  )

Q: Fanfic ini udah mau end?

A: Ya belum dong say, kira-kira end nya chapter — atau chapter — (sengaja disensor :v tapi kurang lebih chapt belasan gitu)

Q: Moment TaeJeong nya banyakin boleh ga?

A: Eum, kalo untuk momentnya TaeJeong adanya di chapter 8 ching, kalo di chapt ini… maap belum bisa di masukin momentnya karena masih berfokus dulu ke konfliknya Jungkook ^^

Q: Moment nya HyeKook banyakin!

A: Ini sementara diproses say 😉 tenang ae, HyeKook banyak kok momentnya di chapt 8 sama 9

 

Okeh, itu aja dari aku. Chapter ini belum aku edit jadi mungkin ada salah-salahnya dikit gapapa kan yakk.. okeyy, Sampai jumpa di chapter selanjutnya ~

Next Chapter:

Mwo?! Appa tidak suka aku pulang? Cih- katakan pada beliau bahwa aku pulang hanya karena merindukan ibuku dan… kakakku yang ‘tercinta’ itu”

“Kalian akan dinikahkan”

NE?!”

Oppa, dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Hwayeon eonni! Dia juga sudah tahu bahwa Hwayeoneonni telah meninggal. Jadi hentikanlah!”

“Tidak! Aku harus membuatnya menyesal seumur hidup karena telah membuat Hwayeon meninggal”

 “Jika kusebarkan video ini, kira-kira apa ya reaksi seluruh murid di sekolah?”

“Kau… brengsek!”

“Mulailah menyukaiku….”

“Karena aku menyukaimu”

 

Trapped in a Marriage: Chapter 8

 

Advertisements

44 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Trapped in a Marriage – Chapter 7b

  1. Wuuaaaahhhhh !!! Daebak ! Sampai ga bisa berkomentar lagi, saking bagusnya ff ini.
    Btw aku disini hyekook shipper ! *ga ada yg nanya*

    Like

  2. Udah hampir lumutan nunggu critanya gk di update 2, bukan lumutan lgi mungkin hampir lupa alur critanya, padahal bagus lo

    Like

  3. sampe jamuran nungguin ini cerita gk update2
    udh gk sabar pengen cepet tau lanjutannya 😉😉
    Uhuhuu, semangat deh buat adek yg nulis ni cerita🙌🙌

    Like

  4. Next chapter kapan d update ching???. Udah lama ditunggu nih tiap hari ngecek mulu 😂😂
    Cepetan di up yah min ff nya buagusssss bangettt..!!!
    Figthing!!😊😁💪

    Like

    1. Next chapter jadwalnya bisa di lihat di freelance verification. Udah di kirim kok chap 8 nya, tinggal d tnggu aj 😉 Makasih yaa udah baca /pelukcium/ /ditabok/ :”v

      Like

  5. Huhhhh konflik jungkook bikin baperapalagi pas lagi meluk hyerin huhhhf romantis banget next yha yang cepet uptade yha

    Like

  6. Aaaaa… suka bget sama Fanfic nyaaa… smpe”ga sabar nunggu post Chapter 8 T.T
    Keren bget, Lanjut yaaaaa…
    Banyakin Moment si Hyerin sama Jungkook 😍
    Thanks

    Like

  7. Maaf ya thor aku ninggalin jejaknya ngga di setiap part. Soalnya komennanya bakalan sama.
    Ff-mu daebak, bahasa dan cara penulisannya dan juga penjelasannya aku suka bgt.
    Btw, kelanjutannya kapan di publish lg thor? Udh ngga sabar ama next part.
    Berasa nonton drama, soalnya pas bgt buat penempatan TBCnya.
    Jgn lama2 ya thorr. Semangattt

    Like

  8. Kmren2 udah nulis komen, tp ternyata ga masuk. Itu nyes bgt😂
    Jujur rada bingung soalnya banyakan flasbacknyaaa huhu. Tpi ga apalah di coba utk mengerti(?) Haha.
    Ditunggu yg selanjutnya thorrr

    Like

  9. tiap hari nunggu postingan ff ini 😭😭😭
    greget plus gemess bgtt sm jungkook hyerin…. jd GR sendiri /padahal bukan gue -___-/
    SEMANGAT NULISNYA THOR~~ SUKA SAMA ALURNYA DAN BAHASANYA RINGAN BGT ENAK DIBACA~~💕💕💕

    Like

  10. Aaaaaaa semakin bikin penasaran ceritanya…. Maaf baru bisa komen di chapt ini… Baru baca 😀
    next chapternya jangan kelamaan ya chingu… Sangat2 ditunggu lanjutannya…. Makasih udah buat ff semenarik ini 😀 *fighting

    Like

  11. wadau…….. ceritanya daebak bwanget penasaran cpt berikutnya, ditunggu, baca ff ini kayak naik roller koster dekdekan critanya bagus dan bener-bener bikin penasaran

    LANJUTKAN

    FIGHTHING

    Like

  12. Aku dah baca dari hari kamis kemarin pas chapter in keluar, tapi baru sempat comment sekarang hehe^^.Tambah keren ceritanya… aku bakal tunggu chapter selanjutnya. Fighting…!!! 🙂

    Like

  13. Aku baru di sini. Aku suka sama ff kamu, chingu *lah. Udah cuma mau ngomong itu aja. Anyway, good job chingu fighting!!!

    Like

  14. Yuhu~ suka banget end chapt ini. Huhu kookie TT itu nextchaptnya yg ngomong “mulailah menyukaiku..”
    syp kah? Jungkook?

    Like

  15. aaaaaa.. daebakkk. . alurnya kerenn bgt thor. . rumitt tapi beneran bkin ikutan deg degan.. semoga jungkook sama hyerin banyak romance.nya wkwkwkw.. kasiaan taehyung jga tapi.. pokoknya ditnggu thor nextnya.. fighting. …

    Like

  16. FFnya bikin panas dingin ae :v 😁,feelnya dapet banget.Pokoknya the best lah,btw authornya berapa tahun ?.Momen HyeKooknya banyakan ya 😍,deg-degan gitu pas Jungkook ngasih napas buatannya :v *padahalbukanoweyangdikasihnapasbuatan*
    “Mulailah menyukaiku…”
    “Karena aku mulai menyukaimu”
    Etdah makin panas dingin aja,lope lope deh pokoknya buat ff ini 💕💕💕.Sampe aku print FFnya 😁.Chapter 8nya jangan lama-lama ya,Fighting!!! 😊😉

    Like

  17. Tadi udah comen tp kok gak muncul ya ? padahal udah spanjang jalan kenangan nulis nya 😂 ywda deh gpp ngomen lg aja , ini ff makin ke sini makin nyes aja , td nya milih hanbin sma hyerin , tp kok skrg lbh nge feel sma hyekook ya ? 😅 tau ah, buat romantis dong momen hyekook nya yg rada hot dikit *smirk (otak yadong kumat)*eh , jgn end dulu ya say , update nya buruan dong udah gak sabar ni 😁 semangat ya saeng keep spirit nulis nya 👊👊👊 *98line😂😂😂

    Like

  18. Astaga, perkiraanku selalu meleset dan mungkin akan selalu meleset :v
    Kapan jimin nya d masukkin? *wink* akyu ingin jimin masuk d sni, wlapun hnya cameo (?) :v
    Dengan mengenyampingkan keinginanku d atas, aku cuma mau blg ff nya tmbah kren dan sukses buat akunya pnasaran dn tmbah kevo :v fighting thor :* lopyuuu~~

    Nb: ntar kLo mslnya udh mau end, bisa buatin season 2 nya gak 😂😂 tp klo gbisa ya gpapa :3

    Like

  19. Sangat jahat ya. Mengapa sampai segitu Hanbin pada Jungkook jangan salahkan ia yang hilang ingatan tak taukan ia
    Bahwa sangat berat bagi jungkook harus seperti itu menjalani hidup yang berat.
    Semoga Hyerin bisa membahagiakan Jungkook dan rumah tangga mereka harmonies.
    Next chapternya ya

    Like

  20. Keren banget ceritanya, tapi sayang kurang panjang. Update nya jgn lama2 ya thor, ditunggu nex chapternya!
    Hwaiting!!

    Like

  21. wahh akhirnya di next, tiap hari ngecek ff ini min:”
    tpi hasilnya memuaskan bgt min, moment HyeKook nya omaigattt😱😱 bikin nge fly /? apalagi endingnya dohh jungkook yg kasar tiba2 meluk Hyerin
    chapter ini jg bikin terharu min, apalagi bagian hanbin jungkook:”
    baca chapter ini campur aduk rasanya min, lebay ya? Wkwk
    next min, secepetnya ya tp gausah dipaksain jg kok min^^
    fighting

    Like

  22. Makin seru thor😆, makin penasaran jga, siapa ya yg bilang mulailah menyukaiku? 😆😄 Oke, jgn lama2 ya thor chap 8-nya and keep writing!

    Like

  23. Pengen liat library nya kok kosong min? Biar gampang gitu liatnya. Minta link yg bisa diakses dong min 🙂 mkasih 🙂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s