[BTS FF Freelance ] Dream (Vignette)

POSTER DREAM

 

Title

Dream

Author

Anggita YG

Main Cast

Min Yoon Gi, Min Hyeon Gi (OC)

Genre

Sad

Rate

T, PG-13

Lenght

Vignette (±1300 words)

Disclaimer

OC and story are pure mine

A/N

Sejujurnya ini FF udah dari jaman baheula. Nggak sengaja ketemu dan tiba-tiba kepikiran Suga. Walhasil saya remake lah FF ini. Maaf jika FF ini absurd, membosakan, typo everywhere, dan lain-lain. Selamat membaca, dan mohon tinggalkan jejak berupa kritik saran dan komentar karena saya masih perlu banyak belajar.. Terimakasih! XD

Summary

“Sampai kapan kau mau seperti ini? Sampai kapan kau menyakiti dirimu sendiri?Bukankah sangat menyakitkan, membenci hal yang sangat kita cintai?” – Min Yoon Gi

***

Aku menatap punggung gadis berkuncir kuda yang sedang duduk ditepian kolam renang. Hari ini, hari kesekian aku kehilangan sosoknya yang ceria. Hanya wajah murung ia perlihatkan setiap hari. Rasanya matahari tak pernah bersinar sejak senyum gadis itu menghilang. Parahnya, aku yang menyebabkan senyum itu pudar.

 

Aku ingat betul bagaimana wajah cerah ceria itu seketika berubah mendung setelah membaca surat dari amplop coklat yang diberikan dokter padaku. Ketika ia bertanya apa itu osteosarcoma yang tertulis dalam kertas itu. Melihat air matanya jatuh lebih menyakitkan dari osteosarcoma yang melumpuhkan tubuhku. Hidupku hancur, namun aku tahu hidupnya juga hancur.

 

Osteosarcoma atau kanker tulang. Penyakit yang tak hanya akan membunuhku tapi juga membunuh mimpiku. Kakiku tak lagi mampu menopang tubuhku sendiri, bahkan anggota gerakku yang lain terancam lumpuh. Kalau sudah begini aku tidak bisa menyentuh dunia yang selama ini aku cintai lagi. Duniaku dengan si kulit bundar berwarna oranye, basket.

 

Sejak saat itu, semua berjalan dengan sangat menyedihkan. Aku tidak lagi melihatnya menyentuh bola basket miliknya. Dia punya mimpi yang sama sepertiku. Aku pikir hanya sebatas itu, tapi ternyata tidak sesederhana itu. Ketika aku memutuskan untuk tidak menyentuh basket lagi, ia juga melakukan hal yang sama. Dia melupakan mimpinya untukku. Dan itu membuatku merasa sangat jahat. Aku sudah merenggut tawa dan senyumnya, lalu aku juga yang merenggut mimpinya.

 

Aku menjalankan kursi rodaku untuk menghampirinya. “Hyeongi ah..” panggilku.

 

Hyeon Gi menoleh. Dia menunjukan ekspresi datar seperti biasanya. “Hn?”

 

“Lusa ada seleksi pemain untuk turnamen tingkat SMA se-Daegu. Itu turnamen yang kau tunggu-tunggu kan?” tanyaku. Wajah Hyeon Gi yang sudah sendu berubah semakin sendu. Gadis itu menundukkan kepalanya. “Hyeongi ah..”

 

“Jangan bahas itu.” tukasnya tanpa menatapku. Dari nada bicaranya aku tau kalau dia ingin menangis saat ini. “Aku tidak akan nyentuh dunia itu lagi..”

 

“Lalu bagaimana dengan mimpimu? Aku tau kau mencintai basket  lebih da…”

 

“Lalu bagaimana dengan Oppa?? Apa kau tidak mencintai basket?? Aku juga tahu kalau kau yang paling mencintai basket” potong Hyeon Gi. Dia masih menundukkan kepalanya. “Aku bermain basket karena aku melihatmu. Saat Oppa berhenti, aku tidak punya alasan untuk melanjutkannya”

 

“Tapi kenapa kau berhenti hanya karena aku? Hyeongi ah, aku bukan berhenti, aku hanya tidak bisa melanjutkannya saat ini. Aku masih ingin bermain basket, bertanding di lapangan bersama yang lain, aku juga masih ingin mewujudkan mimpiku. Aku juga masih mencintai basket lebih dari apapun. Aku juga bukannya menyerah pada penyakit sialan ini.. tapi aku juga harus tahu diri dengan kondisi seperti ini”

 

Hyeon Gi tak menjawab. Kepalanya masih tertunduk.

 

“Min Hyeon Gi! Sampai kapan kau mau seperti ini? Sampai kapan kau menyakiti dirimu sendiri? Bukankah sangat menyakitkan, membenci hal yang sangat kita cintai?” tanyaku. Kulihat buliran bening mulai membasahi pipi Hyeon Gi. Bahunya naik turun karena isakannya. “Kau tahu.. aku ingin sekali melihatmu bertanding, menjadi yang paling hebat diantara yang lain. Aku ingin, baik kau dan aku, mewujudkan mimpi kita.”

 

“Yoongi oppa..” Hyeon Gi berdiri dan langsung memeluk leherku dari belakang. “Oppa harus duduk ditribun paling depan kalau aku turnamen nanti.”

 

***

 

Hari ini adalah kebahagiaan yang tak akan pernah aku lupakan. Ini yang aku tunggu sejak lama, turnamen basket antar SMA se-Daegu. Harusnya hari ini aku tidak hanya duduk di tribun penonton , tapi ikut berlaga bersama tim kebanggaan sekolahku. Tapi tidak masalah bagiku. Melihat mereka bertanding saja sudah cukup bagiku.

 

“Kalian harus menang ya!” ujarku memberi semangat pada Seok Jin, Nam Joon, Ho Seok, Tae Hyung, dan Ji Min.

 

“Kau tetap kapten kami, Min Yoon Gi” ujar Seok Jin. Dialah yang menggantikan posisiku sebagai kapten sekaligus point guard tim basket putra sekolah kami. “Kami akan membuatmu bangga”

 

“Oppa!! sebentar lagi aku main!!” seru Hyeon Gi sumringah sambil melambaikan tangan dari tempatnya berdiri. Senyumnya yang sempat hilang telah kembali, matahariku bersinar kembali. Aku lega sekarang, bisa melihatnya tersenyum seperti itu lagi. Rasanya begitu menyiksa ketika senyuman itu tak pernah kutemui, apalagi aku yang jadi penyebabnya. Aku tidak ingin Hyeon Gi kehilangan senyumnya lagi.

 

“Semangat ya!!!” teriakku membalas lambaian tangannya.”Ingat, kau adalah adik Min Yoon Gi!!”

 

“Pasti!” Hyeon Gi mengacungkan jempolnya. Selanjutnya ia memakai handband putih milikku yang telah aku berikan padanya dan berlari menuju lapangan karena pertandingannya akan segerai dimulai.

 

***

 

“Aku berhasil Oppa!! Kami masuk final!” seru Hyeon Gi dengan air mata yang sudah tumpah ruah. “Bertahanlah lebih lama lagi, akan kuperlihatkan piala itu padamu. Aku berjanji padamu, Oppa. Aku berjanji!”

 

Saat ini aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Rasanya sulit sekali mengeluarkan suara. Tenggorokanku tercekat dan dadaku sesak sekali. Aku ingin memeluknya dan mengucapkan selamat. Aku ingin mengatakan padanya kalau aku sungguh bangga memiliki adik sepertinya. Tapi tubuhku rasanya sangat sakit. Kabel-kabel yang menempel ditubuhku ini sangat menyiksa.

 

Saat pertandingan tim basket putri berlangsung tadi, penyakitku kambuh hingga aku tak sadarkan diri. Dan disinilah aku sekarang. Ruangan serba putih dengan bau obat-obatan menyengat. Aku benci harus kembali lagi kesini. Dan lebih benci lagi melihat semua orang yang ada didalam ruangan ini memandangku iba. Ada Hyeon Gi, Ibu, Ayah, Seok Jin, Nam Joon, Ho  Seok, Tae Hyung dan Ji Min. Ingin sekali aku memaki mereka, meminta mereka untuk menyembunyikan raut wajah sedih seperti itu.

 

“Hyeongi ah..” lirihku. Entah terdengar atau tidak. Aku sangat terganggu dengan masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungku tapi aku tidak bisa menyingkirkannya. “Aaarrrggh!!” erangku, Tiba-tiba saja rasa sakit itu kembali. Lebih sakit dari yang sebelumnya. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi menahannya.

 

“Oppa, kau harus kuat! Kau ingin melihatku menang kan?? Oppa..” Hyeon Gi menggenggam tanganku erat sekali. Tapi aku tidak bisa apa-apa. Penglihatanku mulai mengabur. Rasa sakit ditubuhku semakin terasa menyakitkan. Apa ini waktunya aku menyerah pada osteosarcoma??

 

Aku tidak tau kenapa sulit sekali mengeluarkan suara dan menggerakan tubuhku. Aku hanya ingin meminta mereka berhenti memasang wajah sedih didepanku. Aku tidak suka! Kalaupun aku harus pergi, mereka tidak boleh bersedih seperti itu.

 

Ibu mendekatkan wajahnya kearah wajahku lalu mengusap puncak kepalaku lembut. “Kami semua menyayangimu. Kalau Yoongi sudah tidak kuat lagi, Yoongi boleh berhenti. Kami tidak akan menahan Yoongi lagi. Yoongi tidak perlu mengkhawatirkan kami. Jadilah bintang dilangit supaya kita bisa saling memandang meski kita berjauhan.” ungkap Ibu. Selanjutnya ia menciumi wajahku seoerti saat aku kecil dulu. Aku bisa merasakan kehangatan kasihnya. Rasanya damai sekali mendengar suaranya..

 

***

 

PROLOG – Author P.O.V

 

“Oppa, aku menepati janjiku..” Dengan senyuman yang mengembang dibibirnya, Hyeon Gi meunjukkan sebuah piala, juga medali yang berhasil ia dapatkan. “Apa kau senang?”

 

    “Tentu saja”

 

    Hyeon Gi menoleh ke sumber suara.Ada Seok Jin yang berdiri di ambang pintu sambil membawa  setangkai mawar putih. Pemuda itu memberikan senyumannya lalu menghampiri Hyeon Gi.

 

    “Kakakmu pasti sangat senang” ujar Seok Jin. “Iya kan, kapten?” Seok Jin memasukkan mawar putih yang ia bawa tadi ke dalam lemari kaca, Menyandarkannya pada bingkai foto seorang pemuda yang menenteng sebuah bola oranye di tangan kiri dan tangan kanan-nya mengangkat sebuah piala. Senyum pemuda dalam foto itu begitu lepas hingga matanya yang kecil itu tinggal segaris.

   

    “Oppa, aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Tinggalkan mimpi itu disini, bersamaku. Aku yang akan menggenggamnya” Hyeon Gi menempelkan telapak tangannya pada lemari kaca itu. Ia tatap lekat-lekat foto Yoon Gi sang kakak. Andai senyum itu masih bisa ia lihat secara langsung, hatinya akan lebih lega lagi sekarang. Sayangnya tubuh Yoon Gi tidak sekuat impiannya, ia harus mengalah pada osteosarcoma yang terus menggerogoti tubuhnya.Yoon Gi pergi sebelum pertandingan babak final itu.

 

    “Kau hanya ingin menggenggamnya?” timpal Seok Jin

 

    Hyeon Gi menggeleng. “Aku akan menjaga dan mewujudkannya. Aku tidak akan membenci hal yang sangat kita cintai.. Beristirahatlah dengan tenang, Oppa. Kami menyayangimu…”
FIN

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance ] Dream (Vignette)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s