[BTS FF Freelance] Beautiful Liar – (Oneshot)

beautiful.pic

Beautiful Liar

by Orchidious

Kim Taehyung (BTS) and Revalline Choi (OC)

with others

an Oneshot fic labeled as General with Angst, Sad and Hurt/Comfort genres

Remember that the OC and the plot are still mine. If there are other story with same plot it’s unintentional.

Some words are basically the translation of the song

Inspired by : VIXX LR’s Beautiful Liar

~~~

“Taehyung, kau sudah dengar beritanya?”

Aku yang tengah melamun menatap rintik hujan dari sekat jendela menoleh. Menggulirkan pandang pada rekan kerjaku, Park Jimin. Sedikit kerut muncul di dahiku. Berita apa? Aku sepertinya sudah terlalu menyibukkan diri akhir-akhir ini, sampai tidak terlalu update tentang berita terbaru. “Berita apa? Dosen Ahn pensiun?” tanyaku sambil mengulangi pertanyaan di benak. Jimin memandangku datar. “Ck, bukan itu. Kau tidak diberi tahu oleh Revalline? Kalian kan masih berhubungan. Aku bahkan melihat kalian kemarin sedang berjalan di Hongdae,” terang Jimin. Aku hanya menggeleng. Revalline—-kekasihku—-kemarin memang tak ada mengatakan apapun. Kami hanya berkencan biasa dan kulihat ia tampak baik-baik saja dengan senyum manisnya yang selalu meluluhkanku.

“Dia tak ada mengatakan apapun, jadi cepatlah ceritakan. Jangan makin membuatku penasaran, Jim.” Aku belum mendengar jawaban dari Jimin. Ia masih sibuk rupanya, melayani pengunjung cafe—-tempatku dan dia bekerja part time—-di kasir. Omong-omong, aku dan Jimin memang masih kuliah. Namun, karena aku datang kesini sebagai perantau sedang Jimin memiliki keluarga yang kurang mampu membuat kami berakhir disini sepulang kuliah. Walau sebetulnya, keluargaku tak jauh beda dengannya. Tetapi tekad dan nyaliku cukup besar hingga memilih untuk merantau ke ibukota dibanding menetap di desa kelahiranku. Aku ingin merubah hidup keluarga dan juga diriku.

Setelah menyungging senyum dan ucapkan terima kasih pada pelanggan barusan Jimin akhirnya menoleh padaku. “Kemarin Gyuri bilang kalau Revalline akan dijodohkan dan pertunangan mereka akan berlangsung bulan depan. Kukira kau sudah tahu.” Ucapan Jimin tersebut keluar dengan mudahnya tanpa beban. Tak tahu, kalau hatiku tengah mencelos mendengarnya. Sebisa mungkin aku tetap mempertahankan senyum selagi menatap lurus padanya. “Oh, begitu. Revalline memang tak ada mengatakannya semalam. Ia pasti tak ingin menyakitiku.” Aku berujar tenang. Yah, tak ada gunanya berseru heboh lalu kemudian mengamuk tak jelas dan berakhir mabuk. Sia-sia saja melakukannya. Aku tak mungkin menentang keputusan yang sudah pasti dibuat oleh orang tuanya itu. Karena sebenarnya, hubungan kami pun tak direstui. Aku masih ingat betul, bagaimana perkataan ayah Revalline dua bulan yang lalu. Ketika aku bertandang ke rumahnya, mencoba memperkenalkan diri. Awalnya mereka masih menyambutku hangat, namun ketika aku mulai menceritakan latar belakang hidupku, semua berubah.

“Jadi, kamu hanya anak perantau dari desa? Lalu bagaimana kau bisa menghidupi putriku ini? Tidak, kalian tak boleh bersama lagi. Kim Taehyung, angkat kakimu dari sini. Aku tak bisa menerimamu.”

Lalu dengan senyum pahit aku keluar. Meninggalkan rumah besar itu dengan Revalline yang terus mencoba menahan kepergianku. Ia bilang, ayahnya memang seperti itu. Kata-katanya memang sering kali pedas, jadi ia memintaku untuk memaafkannya. Aku yang awalnya ingin menolak akhirnya memberi anggukan. Seperti biasa, menutupi segala perasaan dengan senyum bodoh. Mengatakan kalau aku baik-baik saja. Dan itu memang benar, karena esoknya di kampus, kami masih bisa bersama. Lupakan kejadian kemarin, kami menghabiskan waktu sambil bersenang-senang.

“Aku selalu mencintaimu, Tae. Jangan pikirkan ucapan ayahku itu, selama kita masih bisa seperti ini.” Itu yang ia ucapkan dengan jemari yang menggenggam erat tanganku. Kembali, topeng senyum itu terpasang dan aku hanya bisa mengiyakan. Begitulah, aku memang selalu seperti itu, kendati sebenarnya, aku menolak. Seharusnya aku bisa lebih tegas, menolaknya lalu mengakhiri hubungan ini. Karena aku tahu, cepat atau lambat, hubungan kami pasti akan berakhir juga.

Cafe kembali ramai setelah aku berbincang dengan Jimin. Kami berpisah. Aku yang mulai mengerjakan tugasku sebagai waiter dan Jimin yang mulai sibuk dengan kasirnya. Setidaknya, dengan terus tersenyum dan melayani para pengunjung itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit hatiku.

~~~

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Jika melihat diriku yang sekarang, sungguh, orang pasti tak akan mengenaliku. Wajah pucat pasi tanpa senyum yang semestinya selalu terukir di bibirku.

Apa ini pilihan yang tepat?

Apa kau akan bahagia jika aku melepasmu?

Bisakah aku tetap baik-baik saja?

Semua pertanyaan itu berputar di kepalaku. Memang, ini bukan keputusan yang mudah. Aku bukannya tak mencintai Revalline. Tidak, aku sangat mencintainya. Hidupku baru akan terasa lengkap dengannya. Seperti peribahasa, bagai sayur tanpa garam. Ia pelengkap hidupku, belahan jiwaku. Walau kami memang baru kenal dan berpacaran selama setahun terakhir, namun itu sudah cukup. Aku mengenalnya dengan baik, pun begitu sebaliknya. Satu tahun yang kami lewati bersama, penuh dengan berbagai kenangan yang manis pula pahit. Lalu, bagaimana bisa aku melepasnya?

“Argh!”

Aku menggeram sambil mencengkeram tepi wastafel yang berada di bawah cermin. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Mulai meloloskan diri bulir demi bulir. Aku tak bisa. Ini rumit. Tapi, aku harus tetap melakukannya. Kulempar pandang kembali pada cermin. Benar, aku tak bisa tetap mempertahankanmu. Kau harus pergi, lalu bahagia. Mungkin, selama denganku pun kamu selalu bahagia, tapi aku yakin. Melepasmu dan membiarkanmu pergi adalah pilihan terbaik. Walau ini merupakan kebohongan paling menyakitkan bagimu aku tak peduli. Biarkan aku melakukannya.

~~~

Akhirnya aku menjalankan rencanaku. Hari ini Minggu, jadi aku bisa bebas mengajak Revalline berkencan hingga akhir hari karena tak ada kelas dan aku memang selalu izin kerja setiap hari libur. Yah, aku juga butuh istirahat dan waktu dengan Revalline bukan? Karena kerja part time-ku, kencan kami acap kali batal atau berakhir di tengah malam. Aku tahu, membawanya pergi hingga dini hari memang terdengar tak baik, namun itu bukan keinginanku. Ia, yang selalu mendatangiku sepulang kerja dan mengajak jalan—-walau sering kularang juga kutolak. Benar-benar gadis keras kepala.

“Tae, ke game center ya? Sudah lama kita tak main kesana.” Revalline menarik ujung jaketku, menunjuk-nunjuk game center di hadapan kami. Anggukan kuberikan sambil menggandeng tangannya menuju kesana.

Kami bermain hingga lelah. Tak apa, uangku harus sedikit terkuras hari ini. Karena ini hari terakhir kami, setelah ini aku yakin kita tak akan lagi bertukar sapa atau bahkan jalan bersama seperti sekarang.

Kencan kami berakhir di taman. Berjalan bergandengan setelah mengahabiskan hari dari pagi hingga sore. Sarapan pagi bersama, main ke game center, mencicipi jajanan kaki lima, dan terakhir sebelum ke sini, aku sempat mengajaknya makan es krim sebentar. Terasa menyenangkan memang, namun sebenarnya menyedihkan untukku. Kau masih belum tahu rupanya, bahkan senyummu masih terpeta jelas.

“Tidak merasa lelah? Kita sudah bermain seharian ini. Ah, rasanya dompetku yang tadinya seperti buku kamus sekarang terlihat seperti buku tanpa halaman.” Revalline tertawa. Semakin mengeratkan genggaman tangan dan menyandarkan kepalanya pada bahuku. “Aku tak akan pernah merasa lelah jika bersama orang yang kusayangi. Semua akan terasa menyenangkan selagi bersamanya.” Aku tersenyum pahit. Tiba-tiba saja, rencana yang sudah kusiapkan semalaman kemarin terasa ingin menghilang. Aku berusaha tegar. Iya, aku harus bisa. Siapkan topengmu, Kim Taehyung.

“Rev, ada yang ingin kubicarakan.” Aku menghentikan langkah begitu juga dengannya. Kuputar posisi tubuhku hingga menghadap ke arahnya. Mataku menatap lekat padanya. Revalline hanya menunjukkan ekspresi bingung, yang terlihat sangat manis di mataku. Oh Tuhan, dia itu sungguh cantik.

“Ada apa, Tae? Kenapa wajahmu berubah begitu?” tanya Revalline. Mencoba meraih wajahku namun langsung kutepis. Menurunkan tangannya, aku lantas menabrakkan tatapan tajamku dengan netranya. Membuatnya diam seketika.

“Aku sudah tahu tentang perjodohanmu.”

Revalline terdiam. Ia memalingkan wajah, menghindari tatapan mataku.

“Jadi kau sudah tahu rupanya. Maaf tidak memberi tahumu lebih dulu,” ucapnya penuh penyesalan. Kukenakan topeng senyumku selagi tanganku memegang bahunya.

“Tak perlu merasa bersalah. Aku tak apa.”

“Bagaimana bisa kamu bilang ‘tak apa’ dengan mudah begitu?! Ini menyakitkanmu bukan?”

Ia berkata dengan nada sedikit tinggi. Bisa terlihat, pipinya mulai sedikit basah akibat aliran air mata yang sudah tak terbendung. Aku mengulurkan tangan, menghapus jejak-jejak air mata tersebut. “Aku bersungguh, Rev. Aku tahu, kau pasti tak menginginkannya juga, tapi ini sebenarnya yang kuinginkan, tepat sejak dua bulan yang lalu. Kita akhiri saja hubungan ini.”

Revalline mendongakkan kepalanya. Menatapku tak percaya. “Kau bilang apa, Tae? Putus? Jadi, kau sudah mempersiapkan ini sejak dua bulan yan lalu, eoh? Hentikan! Don’t say something nonsenses like that!” Aku bergeming sementara tangismu makin pecah. Ini memang berjalan sesuai rencana dan aku tak perlu terkejut dengan hal ini.

“Kau harus hidup lebih baik, berjanjilah padaku.”

Shireo!”

Kau membentak. Bahkan kau tak sempat menghapus air matamu, membiarkannya terus leleh membasahi wajah cantikmu. Sial, ini sungguh membuatku makin terluka. Namun aku harus bisa. Aku harus melepasmu, sebagaimana seharusnya. Kau mesti pergi, meninggalkanku.

“Tinggalkan aku, please.”

Gelengan keras kau berikan. Menghapus air matamu kasar, kau coba kembali bertanya kalau semua yang kukatakan bohong adanya.

“Kau tidak serius kan? Katakan padaku kalau kau sedang berbohong, Tae!”

“Iya, aku memang sedang berbohong padamu.”

Tak ada suara dariku. Kata-kata itu pun, hanya tersimpan dalam hatiku. Tak ingin kuutarakan meski hati memaksa. Karena sebenarnya aku tak ingin, namun aku harus. Walau aku begitu mencintaimu, aku tetap akan melakukannya.

Kau mengulurkan tangan, mendekati wajahku dan mencoba menyentuhnya. Tapi kutolak. Aku menepis tanganmu. Kembali memasang senyum, aku mencoba menahan bulir-bulir air mata yang hendak tumpah.

“Pergi dan berbahagialah. Aku akan baik-baik saja,” ujarku tenang dengan senyum palsu. Kau menurunkan tangan lalu menunduk. Sedetik kemudian kau berbalik. Lantas berlari di bawah pohon sakura yang tengah mekar di musim semi. Musim yang seharusnya manis kini menjadi pahit.

Ini sakit.

Tapi aku lega.

Setidaknya, kau percaya. Membiarkan kenohongan ini merusak hubungan kita. Tanpa kusadari, topeng itu terlepas. Memberikan celah untuk melihat air mata yang mulai sedikit menggenangi pelupukku.

Aku senang, kau percaya. Aku yakin kau pasti bahagia.

Karena sebetulnya, aku tahu maksud dibalik perjodohan itu.

.

.

Pria yang dijodohkan padamu itu, adalah cinta pertamamu.

.

.

It’s alright if you leave me. I want you to be happy. Although, it’s a beautiful pain, don’t worry about me. Yes, I haven’t imagined a life without you yet, but—-

—-please be happy (VIXX LR – Beautiful Liar)

end

Fiuh lesei juga ff-nya, yehet… ((kembali lagi dengan Sad genre)) ((reader pada bosen))

Amburadul mah ini :v

Maapkeun kalo ceritanya beda dengan maksud lagunya, namanya juga ide sendiri /plak/

Advertisements

6 thoughts on “[BTS FF Freelance] Beautiful Liar – (Oneshot)

  1. Aaaaaaaaaaa…. kesel sama Taehyung. Klw emng cinta knp gak dipertahanin? Knp nyerah, Tae? *Jambak2Taehyung* ugh. Kan jd ikutan nyesek nie.huhuhh

    Like

  2. Bingung mau kasian sama Taehyung atau sama Revallinenya😯 kejam banget ah ayahnya revalline kasian Taenya diusir gitu tapi kasian juga sama Revallinenya baru aja habis kencan eh malah diputusin. Kalo udah kayak gini Tae buat aku aja ya😃😃😋😋Thor sebenernya aku gatau loh lagunya ini, tapi yah gapapa yg penting masih ngerti sama ceritanya. Keren Thor👍

    Liked by 1 person

  3. Bingung mau komen apaa /plak
    Huhuhu taehyungi kasian amat lu nak, sini sama aku aja haHa
    Jujur thor, aku gatau lagu ini, cuman aku suka banget ceritanya, cocok lah sama potongan lagu yg ada di akhir itu, sad ending emang bikin baper😔

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s