[BTS FF Freelance] HELLO – ONESHOT

COVER H 1

Title                : HELLO

Author            : Valleria Russel/Heni Kurniyasari

Cast                :    Soyeon ‘T-ara’ as Kang Eumji

  • Jeon Jungkook as himself
  • Vernon ‘Seventeen’ as Vernon Hawkins

Genre             : Romance, Drama, Alternate Universe

Length            : Oneshoot

Rated              : Teens-15

Disclaimer      : Cerita ini murni dari pemikiran saya sendiri. Jangan mengkopi apapun tanpa izin ya. Semua yang ada di cerita ini adalah milik saya kecuali tokohnya 🙂 kalo ada waktu luang boleh kunjungi blog saya www.valleriarussel.blogspot.com ada ff juga di sana. Terima kasih dan selamat membaca ya semua!!

 

 

 

―Aku ingat melihat dunia sederhana yang kubangun untuk diriku sendiri selama lima tahun, runtuh di bawah kakiku begitu saja.

 

 

“Ya Tuhan, apa yang kau lakukan? Aku tidak menyuruhmu meletakkan lemari itu di sana. Jika kau tidak bisa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang kuperintahkan, kau tahu aku akan mencari tukang lain! Kau seharusnya memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Kau butuh uangnya untuk hidupmu kan! Dasar kau ini!”

“Maaf, Nyonya. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Jadi dimana lemari ini harus diletakkan?”

“Disebelah sana saja! Ayo, cepatlah! Kita masih memiliki setumpuk pekerjaan lagi yang harus diselesaikan dan adikku akan segera tiba dalam beberapa menit.”

“Di sini?”

“Tidak-tidak. Geser sedikit! Nah, disitu! Sempurna. Sekarang kau letakkan kacanya di sebelah sana. Di situ! Ya di situ! Bagus. Baiklah, kamar utamanya selesai. Kita harus melihat bagaimana orang-orang lain bekerja di dapur, ruang tamu dan ruang keluarganya. Ayo!”

 

Aku melangkah masuk ke dalam kamar yang sebentar lagi akan kutempati bersama dengan suamiku tepat setelah Aaralyn menyelesaikan ocehannya pada si tukang. Aaralyn adalah kakak iparku, dia saudara suamiku, putri sulung di keluarga Hawkins. Aaralyn Lee Hawkins. Ibu mertuaku adalah seorang wanita perfeksionis yang berasal dari Korea, dari Seoul. Ayah mertuaku Robert Hawkins lahir di Seattle. Dan aku menikahi putra bungsu mereka sebulan yang lalu.

Kami baru saja pulang dari bulan madu yang menyenangkan selama tiga minggu di Bora-bora dan Maldives dengan pesawat pribadi keluarga Hawkins serta fasilitas yang mereka milikki di sana. Jadi bisa dibayangkan betapa kayanya keluarga suamiku itu. Aaralyn membalikkan tubuhnya menghadapku dan senyuman cemerlang dengan gigi-gigi putihnya muncul saat melihatku.

“Ya ampun, Adik ipar! Kalian sudah sampai? Lebih cepat dari dugaanku. Kebetulan sekali, aku baru saja selesai menata kamarmu. Bagaimana? Jika ada sesuatu yang tidak kau suka, kau bisa langsung mengatakannya padaku ya. Jangan sungkah! Kau adalah istri dari adik kesayanganku itu sekarang dan kau juga pasti tahu jika ini adalah kesenanganku, kuharap kau tidak akan merusaknya,” katanya.

Aku tersenyum padanya. “Tidak, Kakak. Aku tidak akan merusak kesenanganmu. Aku dan Vernon sudah menyerahkan urusan ini padamu dan kami akan menyukai apapun yang kau lakukan,” balasku.

Dia terkikik dengan anggun. “Kalian adalah yang terbaik. Kalau begitu aku akan melanjutkan pekerjaanku. Kau dan suamimu bisa istirahat sekarang. Aku jamin tidak akan ada yang mengganggu kalian berdua,” ujarnya, lalu melimbai meninggalkanku.

Kakiku melangkah pelan memasuki ruangan yang sekarang sudah menjadi milikku dan Vernon. Ya, dia adalah suamiku. Aku menikahi bujangan paling diminati di Seattle. Awalnya memang kami tinggal di Seattle, tapi kami sudah membahas tentang pindah ke Manhattan ketika kami di Maldives. Perusahaan cabang dari Hawkins Group yang dipimpin oleh Vernon ada di Manhattan dan keputusan ini sudah disetujui oleh ayah dan ibu mertuaku.

Aaralyn mengurus perusahaan induk di Seattle besama ayah. Wanita itu adalah wanita yang sibuk dan sangat bersemangat. Dia juga seorang kakak yang baik.

Aku senang akhirnya aku bisa menjadi bagian dari keluarga terpandang dan berpengaruh. Setelah begitu banyak hal yang terjadi dulu, akhirnya aku sudah benar-benar mendapatkan apa yang kata mereka tidak akan pernah kudapatkan di hidupku. Kehormatan, kebahagiaan dan penghargaan.

Semuanya sudah berubah, tepat setelah orang-orang itu mempermalukanku, menghancurkan harga diriku. Sudah tidak ada lagi Eumji yang lemah, yang mudah dihancurkan. Eumji yang dulu sudah mati. Sekarang hanya ada Eumji Kang Hawkins, dia adalah seorang wanita sosialita dengan berbagai macam kegiatan sosial bersama dengan beberapa mentri dan ibu Negara. Dia adalah wanita perfeksionis dengan barang-barang branded yang diimpikan oleh nyaris setiap wanita yang hidup di dunia ini. Dia adalah wanita dengan trend fashion terbaik dua tahun berturut-turut.

Kang Eumji yang dulu tidak akan pernah memakai barang-barang mahal, tidak mengenal fashion sama sekali. Kang Eumji yang dulu hanyalah seorang pengurus rumah salah satu orang paling terkenal yang ada di Seoul. Ya dia juga berasal dari sana, kota yang sama yang melahirkan wanita mulia yang kini berstatuskan sebagai ibu mertuanya.

Wanita itulah yang mempertemukannya dengan Vernon. Dia mengubah hidupku 180°. Dia mengenalkanku pada dunia fashion, dia membawaku kemana-mana dan memperkenalkanku sebagai calon menantunya. Padahal aku waktu itu hanya membantunya melepaskan diri dari preman yang hendak merampoknya ketika dia ada di Seoul dua tahun lalu.

Hari itu, Tuhan mempertemukanku dengan seorang malaikat yang mengangkat kembali harga diriku. Dia membawaku pergi dari sana dan aku masih ingat perkataannya saat aku menolak untuk pergi karena aku tidak punya apa-apa untuk memulai hidup di kota asing yang begitu jauh dari Seoul.

“Kau adalah gadis yang kuat dan baik hati, tapi kenapa matamu terlihat begitu rapuh dan terluka? Apa yang sudah terjadi, Nak? Apa ada seseorang yang sudah menyakitimu? Hari ini kau sudah menyelamatkan hidupku dan aku juga akan melakukan hal yang sama padamu, tinggalkan tempat ini dan ikutlah denganku.”

Tentang hal yang membuatku lari, itu sudah lama berlalu meski sejujurnya setiap kali aku memejamkan mataku, kejadian-kejadian menyakitkan itu masih menghantuiku. Luka dan rasa bersalahku padanya masih tersisa dan tersimpan dengan rapi di sudut hatiku yang paling dalam. Kenangan-kenangan masalaluku itu sudah menjadi momok untuk hidupku selama dua tahun lebih ini.

Dulu, ada seorang pria. Dia sangat angkuh, sangat menyebalkan, sangat konyol, dan penakut. Tapi dibalik keangkuhan dan sikap menyebalkannya, ada seorang pria biasa yang baik hati, yang setiap malam akan mengendap ke kamarku untuk menyanyikan sebuah lagu sebelum tidur dan mengecup dahiku, yang membelikanku cokelat di setiap hari kasih sayang, yang selalu mengatakan padaku jika dia akan menikahiku suatu saat nanti, yang selalu mengatakan padaku jika aku adalah gadis paling cantik yang pernah ia temui, yang selalu berbisik ditelingaku ketika aku akan tidur jika dia menyayangiku, yang memintaku untuk tidak meninggalkannya apapun yang terjadi, yang tidak akan membiarkan aku tersakiti, yang berteriak dibawah hujan mengatakan jika dia mencintaiku.

Kesalahan terbesarku adalah jatuh cinta padanya. Hidupku sudah penuh dengan masalah sebelum aku bertemu dengannya. Aku adalah putri yang tidak diinginkan, kedua orangtuaku sudah membuangku sejak aku bayi. Aku melanjutkan hidup seolah tidak terjadi apapun. Pria itu, dia adalah orang pertama yang membuatku merasa berharga, membuatku merasa dicintai, disayangi dan diinginkan. Begitu mudahnya, aku jatuh cinta padanya.

Dia adalah putra sulung keluarga Jeon. Keluarga tempatku bernaung. Aku adalah pembantu di rumahnya. Aku tidak pernah memperkirakan akan jatuh cinta pada seseorang yang bagaimana, itu terjadi begitu saja. Tiba-tiba ketika aku mendengarnya mengatakan dia mencintaiku, hatiku menjawab jika aku mencintainya juga. Aku tidak tahu kapan dia merebut hatiku, aku tidak tahu kapan dia mengukir namanya di sana. Tapi begitu aku tersadar namanya sudah terukir di sana, bahkan mungkin masih sampai sekarang.

Kami tahu hubungan ini akan ditolak oleh semua orang. Tidak akan ada yang setuju. Tentu saja, Jungkook adalah putra sulung pemilik Jeon Inc. dan dia akan segera memimpin perusahaan itu setelah menyelesaikan kuliahnya sedang aku, aku hanyalah seorang pembantu, pengurus rumahnya. Latar pendidikanku buruk, tidak memiliki apapun untuk dibanggakan dihadapan orang-orang yang suka mencemooh.

Jeon Jungkook seperti seorang pangeran untukku. Kesalahannya adalah jatuh cinta pada seorang upik abu macam diriku dan kesalahanku adalah jatuh cinta pada seorang pangeran padahal aku seharusnya tahu di dalam dunia khayal sekalipun tidak akan pernah ada seorang pangeran yang menikah dan hidup bahagia dengan seorang upik abu. Seorang pangeran pasti akan menikah dengan seorang putri yang cantik, yang berasal dari kalangan bangsawan juga.

Betapa bodohnya aku saat menyetujui permintaannya untuk menjadi kekasihnya. Saat itu, kami masih begitu muda, aku baru saja mendapatkan angka delapan belas dan dia dua puluh. Harusnya aku tahu, dengan mengatakan ‘ya’ padanya itu sama saja aku mempertaruhkan semua yang kumiliki dalam hidupku, tapi aku mencintainya. Aku tidak bisa kehilangan dia begitu saja.

Hubungan sembunyi-sembunyi yang kami jalani awalnya baik-baik saja, sampai seorang pelayan lain melihat Jungkook menciumku di ruang penyimpanan anggur. Dia melaporkan kejadian itu pada Nyonya Besar. Ayah Jungkook sudah meninggal sejak dia kecil. Saat itu, dia sedang ada di Autralia. Dia pulang saat itu juga ketika mendengar laporan gila yang mengancam keselamatanku.

Jungkook tidak ada di sana saat aku dipanggil menghadap ibunya. Wanita kejam itu, menatapku dengan tatapan berapi dan melecehkan. Ketika itu, aku tahu, semuanya akan berakhir di sini. Yang aku tidak tahu adalah caranya mengakhiri kisah cinta kami.

“Apa kau sadar tentang perbuatanmu ini, Kang Eumji?”

“Aku mencintainya, Nyonya.”

“Wah, cinta ya. Karena cinta bodohmu itu, kau melupakan status dan derajatmu! Kau lupa darimana kau berasal! Kau lupa siapa dirimu! Kau lupa seperti apa hidupmu! Kau lupa jika kau tidak akan menang melawan seluruh dunia untuk cintamu! Dan kau lupa dengan siapa kau berhadapan saat ini! Jika aku mau, mudah saja untukku menghancurkanmu. Bagaimana kau bisa melakukan hal sekejam ini padaku, Eumji? Bagaimana bisa?”

“Aku mencintainya. Aku mencintainya.”

“Apa kau pernah berpikir tentang bagaimana jadinya hidupmu jika kau kutendang keluar dari rumahku? Apa kau benar-benar merasa pantas bersanding dengan putraku? Apa kau pernah melihat dirimu di cermin dan apa yang ditangkapnya itu adalah seorang gadis yang akan mendampingi putraku? Jangan bermimpi terlalu tinggi untuk menjadi seorang putri, Kang Eumji! Ini bukan kisah dongeng! Jangan pernah kau lupakan jati dirimu! Kau hanyalah seorang gadis rendahan yang kupungut di jalan dan kuberikan pekerjaan untuk hidup! Kau sama sekali tidak pantas untuk bersanding dengan putraku, Kang Eumji! Kau sama sekali tidak pantas! Coba kau pikir, jika aku tidak berbelas kasihan padamu dan tidak memungutmu dari jalanan lima tahun yang lalu, mungkin sekarang kau sudah menjadi seorang pelacur. Harusnya kau tidak pernah melupakannya, jika kau hidup dibawah belas kasihanku. Setelah semua kebaikan hatiku, kau malah meminta putraku juga. Tidak akan, Eumji. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat yang lebih jauh lagi dari ini! Sekarang pergi! Kemasi barang-barangmu! Aku tidak ingin melihatmu lagi di rumahku!”

 

Aku ingat seberapa besar perkataannya merasuk ke jiwaku. Aku ingat rasa sakit seperti apa yang ia berikan padaku. Lebih dari sekedar memisahkanku dengan putranya dia juga telah merenggut semua hal kumiliki. Aku ingat melihat dunia sederhana yang kubangun untuk diriku sendiri selama lima tahun, runtuh di bawah kakiku begitu saja.

Setelah mendengar semua ucapan tajamnya, aku pergi dari sana. Tanpa membawa apapun, hanya membawa uang tabunganku. Air mata tidak pernah berhenti mengalir dari mataku. Jiwaku terasa hampa, kosong, dan menyedihkan.

Jungkook datang tepat saat aku membuka pintu rumahnya, dia terkejut melihat keadaanku ketika itu. Dia menyeretku kembali ke dalam, tapi ketika sampai di ruang tamunya aku berhasil menahannya. Mataku penuh dengan air yang siap untuk tumpah lagi, pandanganku kabur ketika melihat kemarahan di matanya.

“Tidak, Kookie. Jangan menyakitiku lebih dari ini. Aku tidak bisa menanggungnya lagi. Kumohon, biarkan aku pergi. Ibumu benar, harusnya aku tidak bermimpi terlalu tinggi. Kita tidak akan pernah bisa bersama-sama. Biarkan aku pergi, Kookie. Kumohon!”

“Eumji, apa yang kau katakan? Aku mencintaimu, aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau tidak boleh pergi. Kau tidak boleh meninggalkanku.”

“Semuanya sudah berakhir, Kookie. Cinta kita sudah tidak berarti lagi. Aku telah disadarkan hari ini, jika selama beberapa bulan ini aku telah lupa diri. Sekarang, aku sudah sadar. Ini sudah cukup menyakitkan untukku, Kookie. Tolong, biarkan aku pergi. Aku tidak bisa berada di sini lagi! Lupakan semuanya! Diantara kita, tidak pernah ada cinta. Tidak pernah ada apapun diantara kita. Lupakan semuanya, Kookie.”

“Kau sudah gila! Kau mau meninggalkanku begitu saja? Kau tidak mau memperjuangkan cinta kita?”

“Melawan seluruh dunia? Kau yang gila! Kita tidak akan menang. Apa yang kita miliki? Hanya sebuah perasaan, Kookie. Semua alasanku untuk memperjuangkan sudah direnggut hari ini. Jika kau tidak ingin melihatku hancur lebih dari ini, kumohon biarkan aku pergi! Lepaskan tanganku, Kookie!”

“Chagiya,”

“Selamat tinggal, Kookie.”

“Eumji.. Eumji..”

“Biarkan dia pergi, Jeon Jungkook. Atau kau akan mendapatkan masalah yang lebih buruk dari ini.”

“Ibu! Tolong, jangan biarkan dia pergi. Aku mencintainya, ibu! Aku berjanji padamu akan melakukan apapun yang kau mau, tapi jangan biarkan dia pergi. Dia tidak memiliki siapapun di luar sana.”

“Tidak! Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi di rumah ini!”

Aku pergi meninggalkan rumah itu. Sepanjang jalan, aku menangis, aku tidak tahu harus pergi kemana. Aku tidak memiliki siapapun, benar-benar tidak ada siapapun. Ketika itulah, Tuhan mempertemukanku dengan ibu mertuaku dan segera setelah itu aku memulai hidup baruku di Seattle. Mereka memperlakukanku seperti putri mereka sendiri. Vernon adalah pria yang tampan dan baik, dia bilang jika dia menyukaiku dan menerima usul ibunya untuk menikahiku. Katanya dia tahu, ibunya tidak akan pernah salah memilih orang.

Jadilah sekarang, aku memiliki nama belakang Hawkins. Meski dulu aku sempat berpikir aku akan memiliki nama Jeon bersama dengan namaku. Walau bagaimanapun juga Jungkook adalah pangeran impianku, dulu. Sekarang, satu-satunya pria yang ada di hatiku hanyalah suamiku.

Semua tentang Jungkook telah lama berlalu dan aku sudah meletakkan itu sebagai bagian dari masalaluku. Aku sudah melupakan semuanya dan sudah menerima kenyataan jika impian untuk bersanding dengannya, hanya akan menjadi sebatas impian untukku yang sekarang sudah kukubur jauh-jauh.

Semua kenangan bersamanya, sekarang sudah tidak lagi terlalu menyakitiku. Dulu, aku selalu beranggapan jika pelukannya adalah rumah untukku, tapi itu sudah tidak berlaku lagi sekarang. Meski sejujurnya, setelah semuanya berlalu, setiap kali mengingatnya aku masih merasakan sedikit rasa sakit, tapi itu sudah tidak membuatku menangis lagi.

Kookie, apa kabarmu? Ini aku, Eumji Hawkins. Ya, aku sudah bukan Kang Eumji-mu lagi. Kau tahu, setelah semuanya berlalu aku pikir waktu secara perlahan telah menyembuhkan rasa sakitku dan mungkin rasa sakitmu juga. Kookie, apa kau bisa mendengarku? Kuharap semuanya sudah membaik sekarang. Aku bahkan sudah lupa bagaimana semuanya berjalan dulu sebelum duniaku yang kubangun untuk diriku sendiri runtuh tepat diatas kakiku. Kookie, sangat sulit rasanya untukku membicarakan tentang hidupku sekarang. Aku berharap semuanya baik-baik saja di sana. Semua orang tahu, jika aku telah melarikan diri dari semua rasa sakit itu. Kookie, aku telah mencoba berbagai macam cara untuk menghilangkan rasa bersalahku padamu. Aku ingin meminta maaf untuk semua hal yang telah kulakukan. Kookie, aku minta maaf karena telah menyakitimu dulu, tapi sekarang aku yakin, semua hal tentang kita sudah tidak akan menimbulkan air mata lagi.

 

Sepasang lengan kekar melingkari pinggangku dengan erat dan aku tersadar dari lamunanku. Dihadapanku ada pemandangan indah gedung-gedung tinggi di Manhattan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melamun.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada, hanya menikmati pemandangan.”

“Kita baru saja mendapatkan undangan pernikahan dari temanmu yang ada di Seoul,” ujarnya didekat telingaku.

“Siapa?”

“Disini tertulis Jeon Jungkook & Choi Hwi Ji.”

 

 

 

 

 

 

TAMAT~

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s