[BTS FF Freelance] Gone – (Oneshoot)

Gone

Gone

Park Chanra.

starring. Jung Hoseok (BTS) & Jae (OC).

genre. angst, hurt/comfort.

disclaimer. Just own the plot & poster.

duration. Oneshoot ; +1.200 words.

.

.

.

Even when you’re gone, I will still love you.

.

.

.

 

“Hoseok.”

Laki – laki bernama Hoseok itu melirik kesamping, mendapati gadisnya yang berdiri tidak jauh darinya. Kedua sudut bibirnya merekah, senang akan kehadiran sosok yang telah lama ditunggu – tunggu.



“Hai, Jae.”

Gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa – apa. Gadis itu menunduk, mencoba menghindari adanya kontak mata dengan lelaki itu. Senyuman yang telah dipasang Hoseok memudar seketika, digantikan dengan keningnya yang mulai mengerut dalam. Ada apa dengan gadisnya yang selalu ceria?

“Jae – ya, ada apa denganmu, hum?” Tanya Hoseok.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

“Jae?”

Hoseok masih menunggu jawaban dari Jae. Dapat Hoseok lihat, jemari kurusnya mulai meremas rok yang sedang ia kenakan dengan kuat, membuat buku – buku  kukunya mulai memutih. Sekon kemudian, manik matanya menuju tepat di kedua netra Hoseok, membuat lelaki itu meremang seketika. Walaupun begitu, Hoseok tetap memasang senyum cerianya, senyum yang selalu ia tunjukkan untuk Jae.

“Aku ingin kita berpisah. Mulai dari sekarang.”

Hoseok terdiam. Tarikan pada sudut bibirnya mengendur, digantikan dengan sebuah garis yang terlihat kaku. Gurauan macam apa yang sekarang dilemparkan gadisnya sekarang? Tetapi, tatapan yakin dari Jae membuat Hoseok melempar jauh – jauh atas pemikiran bodohnya.

“Begitukah?” Hanya kata itu yang dapat dilontarkan dari bibir Hoseok. Pandangan pria itu mulai kabur, terhalangi cairan asin yang menggumpal di balik kedua netranya. Ia seorang pria, dan seorang pria tidak pantas untuk meneteskan air matanya di depan seorang gadis, begitulah persepsi Hoseok.

Tubuh Jae mulai bergetar, melihat pria yang sangat ia cintai hancur karena dirinya. Iya, Hoseok begini karena Jae. Karena Jae! Teriak hatinya. Tetapi Jae tidak memperlihatkan kelemahannya, ia harus kuat. Sedikit lagi, sedikit lagi.

“Baiklah, jika itu maumu. Kau boleh pergi.” Ujar Hoseok. Ucapan Hoseok itu membuat hati Jae hancur berkeping – keping, tidak ada sisa sama sekali. Dengan terlontarnya kalimat itu, Jae mulai menjalankan tungkainya, meninggalkan Hoseok sendirian berdiri disana, bergumul dengan pikirannya.

***

“Ini memang jalan yang terbaik.”

Jae meremas lembaran putih yang berada di genggamannya, sambil menahan air matanya yang mendesak keluar.

Kanker hati.

Ia di periksa sejak satu tahun yang lalu, dan kematian meraup hidupnya sedikit demi sedikit. Ia tidak mau melihat wajah Hoseok dipenuhi air mata karenanya. Ia tidak mau Hoseok yang sedih karenanya. Ia mau Hoseok menemukan perempuan yang sehat, yang dapat membuat Hoseok menarik kedua sudut bibirnya, yang lebih baik darinya. Maka dari itu, ia mengambil jalan yang akan membahagiakan Hoseok, meskipun jalan yang ia ambil juga akan menyakiti dirinya sendiri.

Dalam lamunannya, suster Choi memasuki ruangannya. Seakan menyadari kehadiran seseorang, gadis yang berusia 21 tahun itu pun menghapus jejak air matanya, siap mendengar perkataan sang suster.

“Ada apa, Sus?” Tanya Jae. Suaranya yang serak itu bergetar, masih merasakan kesedihan yang sangat amat mendalam.

“Anu, nona. Ada kabar baik untuk anda. Kami menemukan donor hati yang rela memberikan hatinya untuk anda dan kami akan segera melakukan operasi dalam 8 hari mulai sekarang.” Jelas suster Choi, membuat kedua netra Jae membesar.

Sepercih harapan mulai muncul di dalam diri Jae. Dapat ia bayangkan Hoseok yang sedang melompat kegirangan, dan mereka akan hidup bahagia selamanya bagaikan cerita dalam dongeng. Tak henti – hentinya Jae memasang wajah cerianya. Air matanya mulai menetes, dan dengan segera ia mengucapkan rasa syukurnya kepada yang maha kuasa. Suster Choi mengulas senyum, senang dapat melihat pasiennya yang selalu termenung dapat kembali ceria. Perempuan itu lantas mulai menjalankan kedua tungkainya, meninggalkan Jae sendirian di dalam kegembiraannya.

“Kalau boleh saya tahu, siapa yang mendonorkan hatinya untuk saya, sus?”

Suster Choi menghentikan langkahnya. Perempuan yang mencapai kepala 3 itu membalikkan tubuhnya, melontarkan kalimat yang cukup mengecewakan Jae.

“Nona, orang itu tidak ingin identitasnya diketahui. Jadi maaf, saya tidak dapat memberikan jawaban. Akan saya berikan pada saat operasi anda berhasil. Saya permisi.”

Setelah terlontarnya kalimat itu, suster Choi segera pergi, meninggalkan Jae yang duduk di kasur rumah sakit dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam benaknya.

***

36 jam telah berlalu.

Jae terbangun dari tidur panjangnya. Sekujur tubuhnya merasakan kesakitan yang tidak dapat didefenisikan. Secara perlahan, Jae mulai membuka kedua netranya, merasakan terangnya sinar yang mulai memasuki indra penglihatannya. Setelah benar – benar sadar, Jae terduduk di kasurnya, mengamati setiap bagian yang ada di dalam tubuhnya dengan tatapan tidak percaya.

Ia mulai dengan menyentuh surainya yang berwarna cokelat legam terlebih dahulu.

Warna yang disukai Hoseok.

Dari situ, ia memperhatikan kesepuluh jemarinya yang ia gerakkan.

Jemari yang selalu digenggam oleh Hoseok.

Dan yang terakhir, menyentuh dadanya, dimana hatinya berada.

Hati yang menolongku untuk hidup bersama Hoseok.

Jae segera menekan tombol bel dan beberapa sekon kemudian, suster Choi datang sambil terengah – engah. Melihat keadaan pasiennya, suster Choi menunjukkan senyum kecilnya.

“Selamat, nona. Kau telah berhasil menjalankan operasi dengan baik. Rasa sakit yang sekarang anda rasakan akan segera menghilang seiringnya waktu berjalan.” Ungkap suster, membuat Jae semakin tidak sabar bertemu dengan Hoseok.

“Kalau begitu, siapakah orang yang mendonorkan hati ini?” Tanya Jae sambil menyentuh dadanya.

Suster Choi terdiam. Hening melanda kamar berwarna putih bersih itu. Kesal dengan situasi seperti ini, Jae mendecak.

“Sus, anda telah berjanji untuk memberitahu, bukan?” Desak Jae.

Suster Choi menghela nafas. Cepat atau lambat Jae akan segera mengetahuinya. Suster Choi mengambil remote, dan segera menekan tombol – tombol yang tidak diketahui Jae. Beberapa detik kemudian, monitor di depan Jae berubah menjadi berwarna putih lengkap dengan tanda play di tengah monitor.

“Tekan tombol ini dan lihatlah.” Lirih suster Choi sambil menyerahkan remote tersebut kepada si gadis.

Suster Choi segera meninggalkan ruangan itu, membuat Jae menaikkan kedua alisnya. Mencoba untuk tidak peduli, gadis itu mengendikkan bahu, tidak memperdulikan tingkah laku suster yang termasuk ke dalam golongan ceria itu. Rasa penasarannya sangatlah tinggi, dan menurut Jae ini sudah mencapai puncaknya. Dengan perasaan yang tak menentu, Jae menekan tombol play.

Ba!

Teriakan kecil itu membuat Jae menaikkan  kedua alisnya. Lho? Bukankah itu..

Good evening, my sunshine!

Sebuah wajah yang pucat pasi dengan kedua matanya yang berwarna kuning menyembul dari monitor. Jae membulatkan kedua matanya, tidak percaya dengan indra penglihatannya. Tidak.. Tidak mungkin!

Seakan – akan melihat reaksi Jae, pria itu terkekeh, sambil menunjuk – nunjuk kamera.

Mungkin, sekarang kamu sedang membulatkan kedua matamu, ya? Masih imut saja kamu. Don’t worry, aku baik – baik saja asalkan kamu juga dalam keadaan baik.

Tangannya mulai bergetar, cairan asin sudah menggumpal di pelupuk matanya.

Ughh. Kamu jangan meneteskan air matamu, dong. Kamu terlihat jelek, kamu tahu itu? Baik, aku akan langsung kepada intinya saja.

Aku tahu kamu mempunyai penyakit kanker hati. Tanpa kamu ketahui, aku pernah menemukan kertas hasil check – up mu, dan aku merasa sangat dikhianati saat itu karena kamu tidak pernah memberitahuku tentang hal sepenting ini. Tetapi aku tahu, kamu melakukan ini demi aku, agar aku tidak terluka saat kamu pergi nanti.

Tapi aku tidak kuat jika kamu meninggalkanku disini, sendirian di dunia kelam nan jahat ini. Maka dari itu kuputuskan, aku saja yang pergi.

Jaga hatiku baik – baik, ya? Dimana hatiku berada, disitulah aku berada.

Mungkin setelah ini kamu akan membenciku dalam seumur hidupmu. Dan itulah yang kuharapkan. Lupakanlah aku, temukanlah lelaki yang jauh lebih baik daripadaku. Biarkan aku menjadi kenangan di dalam hidupmu. Karena hanya satu hal yang perlu kamu ketahui.

Aku sangat mencintaimu. Jung Hoseok mencintai gadis ceroboh yang bernama Jae. Dari awal hingga maut memisahkan kita.

Click.

Video terhenti, disitulah tangisan Jae mulai pecah. Gadis itu mulai berteriak histeris sembari menarik surainya. Air matanya mulai membasahi wajah rupawannya. Jae mendongak keatas, menatap kosong langit – langit kamar berbentuk kotak persegi itu.

Makasih, Jung. Aku memaafkanmu. Kan ku rawat hatimu dengan baik. Tapi kurasa, aku takkan mencari lelaki lain. Karena tidak ada lelaki lain yang dapat menggantikanmu, even when you’re gone.

                                                                                             fin.

A/N : sungguh aku merasa gagal dengan fic ini iya ga sih :(. Angstnya juga ga terlalu kerasa, mianhae :(. By the way, kalau kalian berbaik hati, aku ada ikut lomba, nih. Fictionnya Jimin. Tolong di like yaa!

Link : http://line.me/R/home/public/post?id=plq4408h&postId=1146398204007077939

Thank youu!

Regards,


Chanra.

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Gone – (Oneshoot)

  1. Oh my gosh!!!! Ini keren kak! Kata siapa ini gagal fic?? Huhuhuhu, Hoseok…. Sebaik itukah kamu? Hikss 😦 😦 btw, ini first time ngomen kan?? Dapet THR dong :v

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s