[BTS FF Freelance] Your Happiness is My Happiness Too (Oneshoot)

happines

 

Your Happiness is My Happiness Too

by Orchidious

Park Jimin (BTS) and Kim Gyuri (OC)

with others

Length Oneshot | Genre Sad, Friendship, Hurt/Comfort | Rating T

I just own the plot and some OC

.

Karena melihatmu bahagia sudah cukup membuatku senang

.

~~~

Pagi yang cerah.

Secerah senyum Jimin yang sedang membawa sebuah kotak kado berukuran sedang. Kotak kado berwarna merah jambu itu dipegangnya erat, takut-takut rusak ataupun jatuh. Gyuri yang berjalan di sampingnya tak begitu tertarik. Sudah tahu pastinya, siapa penerima kado itu pun alasan mengapa Jimin membawanya hari ini.

Ini baru hari pertama musim semi dan Jimin yang tersenyum tak ubahnya seperti matahari cerah bagi Gyuri. Sudah cukup, ia tak akan bertanya lebih banyak atau mengajak bincang-bincang pemuda itu. Cukup melihat ia tersenyum seperti ini, ia sudah paham.

“Kira-kira ia akan menyukainya tidak ya?”

“Ia pasti akan menyukainya. Ck, jangan ragu begitu dan cepat berikan padanya! Aku tunggu disini,” jawab Gyuri ketika kini mereka telah sampai di sekolah. Lebih tepatnya di depan kelas Kim Hyungmi, gadis pujaan hati Jimin. Jimin meringis dan segera memasuki kelas itu. Gyuri memilih untuk menunggunya di samping pintu. Mengamati para murid yang berseliweran di depannya. Banyak pasangan yang lewat di hadapannya membuat ia sedikit muak.

‘Heu, apa musim semi, musim orang pacaran? Ck.’

Tak lama kemudian Jimin keluar dari kelas itu dengan senyum sumringah. “Dia menerimanya! Ah, sepertinya ini semua akan berjalan lancar. Kajja!” Merangkul bahu Gyuri, Jimin mulai berjalan dengan gadis itu disampingnya. Gyuri mengulum senyumnya sambil mengangkat kepalanya untuk melirik Jimin yang sedikit lebih tinggi darinya.

“Wah, jadi sebentar lagi teman chubby-ku ini akan segera punya pacar, eoh? Kau harus mentraktirku nanti, Jim,” ujar Gyuri. Jimin terkekeh. Diacaknya surai kecoklatan milik Gyuri. “Makanya cepatlah mencari pacar juga. Nanti kita bisa melakukan double date bukan?” balasnya. Gyuri hanya menggumam sebagai jawaban.

“Aku sedang tak ingin mempunyainya dulu. Lagipula, kan masih ada kau.”

“Nanti kalau aku sudah jadian dengannya akan sulit, Gyuri. Hah, aku harus membagi waktuku untuk kalian berdua. Aku bisa mati kecapaian..” Gyuri tertawa mendengarnya. Masih dengan raut muka yang dibuat-buat, Jimin melanjutkan celotehan konyolnya. Tawa-tawa mereka berdua berderai di sepanjang koridor.

Namun mungkin tak ada yang sadar—pun dengan Jimin. Kalau tawa Gyuri sebenarnya terdengar hambar.

~~~

“Kim Jinhwan, berikan pulpen itu! Aku harus menyelesaikan ini sekarang juga.”

Jinhwan menatap Gyuri aneh. Ia menggeleng dan menunjukkan kelima jarinya, mengisyaratkan kalau ia masih menggunakannya. Gyuri mendecak. Pria pendek satu ini memang sedikit menyebalkan. Selalu lupa membawa pulpen dan Gyuri lah yang akan menjadi sasaran peminjamannya.

“Hain, kau sudah selesai? Aku mau pinjam pulpenmu.”

Hain menggeleng. Tangannya masih cekatan menulis di kertas folio yang diberikan guru Oh setengah jam yang lalu. Tugas kali ini, membuat karangan cerita. Dan kertas milik Gyuri masih kosong tanpa coretan tinta sedikit pun. Salahkan hal itu pada Jinhwan, pria itu tak kunjung usai menulis tugasnya sendiri.

“Ini, pakai pulpenku saja, Gyuri-ah,” kata Jimin sambil menyodorkan pulpennya. Ia sudah menyelesaikan tugasnya, terlihat dari kertas folionya yang sudah penuh. Gyuri menerima pemberian Jimin itu sambil meringis. “Gomawo, Jim.” Jimin tersenyum dan kembali menghadap ke depan. Diam-diam, Gyuri menatap lekat punggung Jimin yang duduk tepat di hadapannya.

‘Setelah ini, mungkin aku akan sangat mengingat bantuanmu, Jim.’

~~~

“Kau tak jadi jalan dengan Hyungmi?”

Jimin menggeleng lemas. “Dia pulang dengan Bobby katanya. Mungkin besok,” ujarnya lirih. Entahlah, tapi Gyuri senang mendengar hal itu. Artinya, hari ini ia akan pulang bersama Jimin seperti biasa. Tapi, rasa senang sesaat itu pudar ketika sudut matanya tak sengaja menangkap raut kecewa di wajah si sahabat. Gyuri merasa tak enak. Bagaimana bisa ia merasa senang sedangkan Jimin terlihat sendu begitu?

“Jim, ada penjual gulali tuh! Kubelikan satu mau?”

Jimin yang awalnya tertunduk mengangkat kepalanya. Mengikuti arah telunjuk Gyuri. Ia bahkan tak sadar kalau mereka sudah berjalan ke arah taman. Ditatapnya Gyuri yang masih setia menunjukkan senyumnya. Jimin akhirnya ikut tersenyum dan mengangguk. Gyuri yang sudah mendapatkan persetujuan pun segera berlari menuju penjual gulali yang dipenuhi anak-anak itu. Melihat Gyuri yang tampak berebutan dengan anak-anak itu membuat Jimin tertawa kecil.

“Nah begitu dong Jim. Jangan cemberut seperti tadi, kekeke…” ujar Gyuri seraya memberikan satu tangkai gulali padanya. Jimin mengambil pemberian Gyuri sambil menunjukkan senyum lebarnya kembali.

“Kau tahu apa yang kubutuhkan, Gyuri-ah. Gomawo, ne?” ucapnya dengan mulut setengah terisi kembang gula. Gyuri terkekeh. “Tak apa. Aku lebih senang melihatmu begini, Jim. Tetaplah tersenyum, oke?” Jimin mengangguk. Dengan setangkai gulali di tangan masing-masing, keduanya kembali melanjutkan perjalanan. Samar, celotehan Jimin kembali terdengar. Juga tawa ceria milik Gyuri. Jika saja senja bisa tersenyum, maka ia pasti akan tersenyum lebar melihat mereka yang tertawa riang di bawah biasan sinarnya.

‘Karena aku tak ingin kau terlihat sedih. Jika kau sedih, maka begitu juga denganku. Namun jika kau senang, aku akan merasakan dua kali lipat kesenanganmu itu, Jim.’

~~~

Seseorang yang menyukai sahabat sendiri adalah hal klise di dunia awam. Lalu si sahabat yang ternyata juga menyukainya dan berlanjut pada hubungan yang lebih serius selalu menjadi ending-nya. Namun hal seperti itu sama sekali tak berpihak pada Kim Gyuri. Lima tahun bersahabat dengan Jimin hingga kini mereka duduk di bangku kelas dua sekolah menengah atas, membuat perasaan aneh itu muncul dalam dirinya. Perasaan yang lebih dibandingkan sahabat. Rasa nyaman saat ia bersama pemuda itu, ucapan konyolnya yang sangat ia sukai, pun surai kehitaman miliknya yang entah sejak kapan menjadi favoritnya. Gyuri pikir, Jimin mungkin akan memiliki perasaan yang sama dengannya melihat bagaimana perlakuan pemuda itu padanya. Jauh berbeda ketika ia memperlakukan gadis lain. Senyum dan tangis yang tak pernah ia tunjukkan pada orang lain, hanya pada Gyuri lah, pemilik marga Park itu menunjukkannya. Juga keluh kesahnya yang selalu ia curahkan pada gadis bersurai kecoklatan itu.

Tetapi, dua bulan yang lalu, semuanya berubah.

Itu menurut Gyuri. Karena dua bulan lalu, seorang gadis bernama Kim Hyungmi yang merupakan sepupu teman karib Jimin–Kim Taehyung–, datang menyambangi sekolah mereka. Menjadi murid baru yang langsung memikat perhatian, ah tidak, seluruh perhatian Jimin. Atensinya saat ini hanya berfokus pada gadis itu. Walau mereka berbeda kelas, Jimin tak pernah absen mengunjungi gadis itu. Mulai sedikit melupakan Gyuri. Membiarkan gadis itu mencari kesibukan sendiri. Tak tahu, kalau sebenarnya Gyuri melakukan itu untuk bisa menghindari Jimin. Gyuri tak ingin, ia menjadi ketergantungan akan kehadiran pemuda itu.

“Melamun lagi, eoh?”

Gyuri tersentak ketika satu tepukan pelan mendarat di atas bahunya. Ia menoleh dan mendapati teman sebangkunya, Lee Hain, tengah menatapnya heran. Gyuri menggeleng seraya membenarkan duduknya yang semula condong ke arah jendela yang ada di samping tempat duduknya. Hain mendecak pelan. “Ck, kau masih berharap padanya? Kuberitahukan ya nona Kim, ada banyak lelaki lain yang jauh lebih tamp—”

“Jimin lebih dari itu semua. Apa aku harus mengatakan itu seribu kali, Hain-ssi?” Gyuri memotong ucapan Hain sarkastis. Hain memutar bola matanya malas. Ini juga sudah keseribu kalinya ia mendapati temannya itu seperti ini. Melamun sambil menatap jendela yang mengarah ke halaman sekolah. Aneh, karena sepanjang mengenal Gyuri selama kelas satu, ia tak pernah melihat Gyuri yang seperti ini. Gadis itu anak yang aktif, bukannya penggalau di pagi hari begini.

“Aku bukannya tak mendukung perasaan sahabatku sendiri. Namun kau lihat kan? Dia hanya menganggapmu sebagai sahabat, tak lebih. Akan lebih baik kalau kau menyerah saja, Gyuri-ah.” Gyuri menggeleng. Ia tak akan menyerah. Bagaimanapun juga, ia tetap akan mempertahankan perasaan ini. Entah sampai kapan, mungkin hingga Jimin benar-benar membalas perasaannya itu.

~~~

“Kau mau pulang dengannya hari ini, Jim?”

Jimin mengangguk mantap. Kedua sudut bibirnya terangkat hingga membuat matanya menyipit. Ia terlihat begitu bahagia saat ini. Melihat Jimin seperti itu, tanpa sadar membuat Gyuri merasakan perasaan yang sama.

“Ah, kalau begitu aku akan pulang dengan Hain saja. Selamat berkencan, Ddochi! Kekeke…” Mereka berdua tertawa renyah sebelum akhirnya Gyuri melangkahkan kaki menjauh sambil melambaikan tangannya.

‘Whatever reason of your happiness, I will feel happy too.’

~~~

Kencan.

 

Nonton.

 

Dinner.

 

And two months later.

 

“Gyuri-ah! Gyuri-ah!”

Atensi seluruh penghuni kelas mengarah pada Jimin yang berlari tergesa-gesa menuju bangku Gyuri. Jangan lupakan juga teriakan hebohnya tadi itu.

“Ada ap–”

“Hyungmi menerimaku!! Dia menerimaku, Gyuri! Tadi pagi! Ah, ini benar-benar tak dapat dipercaya!!!” Jimin berseru heboh sementara Gyuri yang mendengarnya hanya menanggapi dengan senyum hangat. “Chukkae! Wah artinya Ddochi harus mentraktirku nanti siang, eoh?” Jimin menunjukkan ibu jarinya mengisyaratkan ‘oke’ pada Gyuri. “Mie atau ramyeon?”

Gyuri menatap lurus ke manik Jimin. Seakan dapat membaca pikiran masing-masing keduanya berseru,

Ramyeon!!!”

~~~

Mereka tak pernah pulang bersama lagi. Penjual gulali yang menjadi langganan mereka mengira bahwa sejoli itu sudah putus. Pun dengan senja yang tak bisa menunjukkan senyumnya lagi. Jika saja—lagi–, senja mampu berbicara, ia akan bertanya, “Kemana gerangan kedua sejoli yang selalu tertawa bersama itu?”

“Kemana perginya mereka berdua yang selalu membuat senja tersenyum?”

Tapi senja hanyalah semburat jingga. Ia tak mampu menanyakan hal itu, pun pada si penjual gulali. Mereka hanyalah saksi, saksi atas persahabatan yang sepertinya akan renggang itu.

“Aku beli satu, ahjussi.”

Penjual gulali yang sedang kesepian pembeli itu tersenyum lebar mendapati seorang gadis baru saja datang ke kiosnya. Penjual itu menatap lamat si gadis, dan benar saja. Itu adalah gadis yang dulu sering sekali kemari untuk membeli gulalinya.

“Kau tak kemari bersama temanmu itu?” Gyuri menggeleng lemas. Tak ada jawaban yang meluncur dari mulutnya. Si penjual kemudian memberikan gulali buatannya pada Gyuri setelah menerima beberapa lembar uang dari gadis itu. Gyuri lantas berjalan menuju bangku taman. Pandangannya menerawang pada senja hari ini. Senja masih sama, menunjukkan bias jingga indahnya. Namun Gyuri merasa, senja kali ini berbeda. Ia sekarang sendiri. Tak ada celotehan konyol Jimin. Tak ada tawa terdengar. Tak ada lagi kehadiran pemuda bersurai hitam itu.

‘Bahkan gulali yang biasanya manis menjadi pahit. Jim, bisakah kita pergi kesini lagi dan membeli gulali sambil menikmati senja?’

Sambil mencomot gulali di tangannya, Gyuri kembali melamun. Memperhatikan sekeliling taman yang ramai. Ya, tetap saja, seramai apapun taman ini, tak akan ramai tanpa Ddochi bukan?

Hei, tunggu dulu!

Itu Ddochi bukan?

Ah, dengan Hyungmi rupanya. Ddochi tampak tersenyum lebar. Sesekali, si pipi chubby itu tertawa. Juga gadis di sampingnya yang tertawa bersama si Ddochi.

Melihat senyum Jimin membuat Gyuri kembali mendapatkan senyumnya. Gulali itu pun kembali terasa manis. Dan senja, kembali terasa menyenangkan baginya.

Ah, benar.

‘Sebagaimanapun rasa sakit ini mendera, akan selalu terobati saat melihat senyummu, Jim. Tetaplah tersenyum seperti itu. Karena melihatmu bahagia sudah cukup membuatku senang.’

.

.

.

end.

p.s : Ddochi adalah nama lain Jimin sewaktu sekolah

a/n

Absurd sumpah +_+

Holla! Aku kembali bawa ff MinRi kesini /plak

Masih dlm tahap belajar, jadi mungkin alurnya agak kecepetan dan agak garing/?

Anyway, thank you for reading ^^

Advertisements

7 thoughts on “[BTS FF Freelance] Your Happiness is My Happiness Too (Oneshoot)

  1. Lisa Kim

    Loh kok ini yang nyesek jd aku yaa.. kan seharusnya Gyuri.
    Gyuri terlalu baik…. Jimin gak peka ihhh….ngeselin….u.u

    Ahh, Mian, br sempet mampir dilapakmu, dek.huhuh

    Like

  2. 😭😭😭 kadang manusia engga tau kalau ada seseorang yang mencintainya dengan tulus dan lebih memilih orang lain #eaaaaa😆😆, aku sering ngebayangin cerita kaya gini dan ternyata ada juga yang ngepost hehehe, bagus thor tapi nggantung harus ada lanjutannya nih thor, keep writing ya thor😄😄😄♡♡♡

    Liked by 1 person

    1. RT, bener tuh.. Sering ada kejadian begitu ㅋㅋㅋ
      Wah seneng deh bisa merealisasikan pemikiran kamu >< Padahal ini ide mendadak /plak
      Padahal aku mikir ini langsung selesai ceritanya eh ternyata butuh sekuel wkwk.. Ditunggu aja, ya.. Blm nemu ide ㅋㅋㅋ
      Makasih udh baca dan komen ^-^

      Like

  3. naomi azzachra

    Wahh, kalau aku jadi Gyuri malah nangis thor lihat senyum Jimin untuk Hyungmi😢😢😢. Jadi penasaran sama nasib Gyuri. Buat kelanjutannya dong, thor. Hehe😆

    Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s