[Ficlet] Of Falling Petals, Growing Up, and Fading Memories

parksibs

of falling petals, growing up, and fading memories

a ficlet by tsukiyamarisa; part of An Ode to Youth series 

BTS’ Park Jimin and OC’s Park Minha

930 words | AU, Life, Family | 15

.

“Mengapa Kakak selalu tahu cara menarikku keluar dari lubang-lubang gelap di dalam pikiranku?”

.

.

.

.

 

“Kamu baik-baik saja?”

Jimin tak bisa menahan dirinya untuk tak melontar kalimat tersebut, seraya dirinya melangkah mendekat dan ikut berjongkok di samping sang gadis. Tatap penasaran terarah begitu saja, sedikit tercengang kala ia melihat rupa saudarinya yang sedikit muram. Padahal, keduanya sedang berlibur dan berjalan-jalan ke daerah pinggiran kota. Berhenti sejenak di dekat hamparan padang bunga, berniat untuk mengambil beberapa foto sampai Minha tiba-tiba melangkah mendekati sekuntum bunga dan malah melamun di sana.

“Minha-ya, kamu baik-baik saja?”

Diikuti dengan tepukan di pundak, Jimin mengulang tanya itu perlahan. Menunggu sampai saudari kembarnya menoleh, tatap bertemu selama beberapa sekon dalam keheningan. Mereka seolah sedang berkomunikasi tanpa kata—kendati kali ini, Jimin gagal untuk menangkap maksud di balik tatapan dan ekspresi sang adik.

“Bunganya…”

Hm?

“Sudah layu dan….” Minha mengambil jeda, lantas mengulurkan jemari untuk menyentuh setangkai mawar yang sudah berwarna kecokelatan. Memegang kelopaknya, lantas dengan mudah menariknya hingga terlepas. “…akan mudah sekali bagi mereka untuk jatuh berguguran.”

Kali ini, Jimin tak langsung berkomentar. Ia memilih untuk merangkul adiknya mendekat, menunjukkan bahwa ia siap untuk mendengarkan—seperti biasa. Memahami Minha, Jimin selalu mengerti bahwa gadis bersurai sebahu itu pasti punya sejuta makna di balik rangkaian kata yang terdengar sederhana. Benaknya senantiasa penuh dengan berbagai hal yang mengejutkan—terkadang susah dimengerti, susah diselami, namun juga indah dan diwarnai berbagai perspektif baru.

“Aku takut kalau tumbuh besar akan terasa seperti itu.”

Nah kan, Jimin benar.

“Maksudmu, keindahan hidup akan berkurang seiring bertambahnya umur?”

“Semua yang indah dan bahagia akan hilang seiring berjalannya waktu,” timpal Minha, setengah membenarkan tetapi juga menegaskan di saat bersamaan. “Memori-memori yang indah, segala kesenangan yang ada… lama-lama semua itu akan terasa pudar dan semu. Lalu, lama-kelamaan….”

Suara Minha kini mengecil, sebelum akhirnya menghilang bersama desau angin. Tinggalkan Jimin yang perlahan menggerakan telapak tangan untuk mengusap puncak kepala sang adik, berpikir sejenak sebelum bergumam, “Rasa takutmu kembali lagi?”

“Apakah ini rasa takutku, ataukah ini realita, Kak?” Minha berucap lamat-lamat, memandang beberapa tangkai bunga lain yang juga telah layu dan siap menjatuhkan kelopaknya. “Bukankah masa muda memang seperti itu? Indah; tetapi ketika telah tiba saatnya bagi kita untuk menjadi dewasa, semua kesenangan itu harus pergi. Kita akan dipaksa untuk melupakan, kita diharuskan untuk hidup dalam kemonotonan. Padahal—“

“Kakak tahu kalau kamu takut melupakan.” Jimin menarik napas dalam-dalam, menarik Minha untuk menjauh dari padang bunga itu. Lupakan bunga-bunga yang mulai layu, selagi ia melanjutkan, “Kakak juga tahu kalau kamu merindukan hal-hal yang telah lalu.”

Minha memberikan satu senyum sendu sebagai jawaban.

“Tapi….”

“Kak Jimin?”

“Kenapa lagi?”

“Mengapa Kakak selalu tahu cara menarikku keluar dari lubang-lubang gelap di dalam pikiranku?”

Pertanyaan itu sederhana, atau itulah yang Jimin pikirkan ketika ia lekas membuka bibir untuk menjawab, “Karena aku kakakmu.”

“Semudah itu?”

“Memang apa lagi?” Jimin melempar tanya, mengembalikannya kepada Minha. “Nah, mau tahu jawabanku atau tidak?”

Sang adik memberikan satu anggukan, tanpa ragu mengiakan tawaran itu selagi ia menautkan jemari dengan Jimin dan menunggu kakaknya untuk berkata-kata. Dengan sepenuh hati memberikan atensinya pada Jimin, semata-mata karena ia yakin bahwa kembarannya itu pasti bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.

“Tidak apa-apa jika kita tumbuh besar, tidak apa-apa pula jika beberapa memori menjadi terlupakan.” Jimin memulai, menggerak-gerakkan telunjuk tanda mengingatkan kala Minha hendak membuka mulut untuk mendebat. “Hei, kita ini manusia. Dan manusia memang seperti itu. Lupa adalah hal wajar.”

“Wajar, ya?”

Yeah. Tapi, tahukah kamu apa yang tidak wajar? Yang tidak benar, tidak seharusnya dilakukan meskipun waktu berlalu?”

“Apa?”

“Tumbuh dewasa dan sengaja melupakan segalanya,” balas Jimin mantap, menepuk-nepuk dadanya seraya ia menambahkan, “Beberapa hal akan memudar, tetapi yang lainnya pasti akan tetap tersimpan. Ada hal-hal penting yang akan tetap ada di dalam sana, di dalam benak dan dirimu. Itulah yang perlu kamu jaga, semua yang menjadikan dirimu… well, kamu.

“Seperti apa? Sikap kekanak-kanakanku?”

“Menurutku itu penting.” Jimin mengedikkan bahu, mencubit pipi adiknya sekilas. “Terkadang itu bisa membuatmu melupakan masalah yang ada, membuatmu bisa berlaku layaknya dirimu sendiri. Bagaimana?”

“Yah….” Minha berpikir sejenak, sesungguhnya setuju dengan kata-kata Jimin kendati ia belum mengungkapkannya secara langsung. Bagaimanapun juga, masih ada satu perkara kecil yang mengganggunya. Bayang-bayang bunga yang telah layu tadi, yang seolah sedang menggambarkan betapa kenangan yang hilang memang tak akan pernah kembali utuh lagi. Sang gadis masih tak bisa menghilangkan kecemasannya, sehingga wajar saja jika ia sekonyong-konyong berkata, “Lalu, bagaimana dengan semua yang layu dan pergi? Yang tak akan bisa menjadi indah lagi—“

“Gampang.” Jimin menjentikkan jarinya, menjungkitkan ujung-ujung bibirnya selebar mungkin. “Lihat yang satu itu?”

Mengikuti arah pandang sang kakak lelaki, Minha bisa melihat sekuntum bunga yang tampaknya baru saja mekar. Mungil dan terlihat indah, seakan menggambarkan harapan yang muncul di tengah keputusasaan. Sebuah kehidupan yang baru, yang bisa membuat siapa pun melupakan segala kesedihan yang bertandang.

“Masih indah dan segar.”

“Sama artinya seperti liburan yang kita jalani saat ini,” tambah Jimin, mengangguk-angguk puas ketika ia melihat mimik ceria kembali terbentuk di rupa saudarinya. “Beberapa kenangan yang lalu mungkin memang memudar, tapi kita selalu bisa menciptakan sesuatu yang baru, kan?”

“Optimis sekali seperti biasa.”

“Tentu saja.” Jimin tergelak, mengayun-ayunkan tangan mereka yang berada dalam genggaman. “Karena itulah gunanya seorang kakak, bukan?”

Minha menahan tawa, seolah sudah bisa menebak bahwa konversasi mereka akan berakhir seperti ini. Bagaimanapun juga, ini bukan kali pertama ia mendengar kata-kata macam itu. Jimin selalu saja berpolah kelewat percaya diri, membangga-banggakan dirinya sebagai seorang kakak. Kendati demikian, untuk sekali ini, Minha akan dengan senang hati mengakui kebenaran tersebut. Terlebih, siapa lagi yang bisa membantunya untuk menumbuhkan kuntum-kuntum kenangan baru tersebut selain Park Jimin?

“Baiklah, kakakku memang yang paling hebat.”

 Minha rasa, jawabannya hanya satu.

.

.

Tidak ada.

.

Itu gunanya saudara, bukan?

.

fin.

Advertisements

11 thoughts on “[Ficlet] Of Falling Petals, Growing Up, and Fading Memories

  1. Baru baca dih telat bgt /.\
    Pas bgt ya lagi mikirin ttg tumbuh dewasa ketemu ini.. Menginspirasi sekali kak… /yehet/
    Kadang kita takut pisah ama temen lama, takut kenangan2 indah itu ga terulang lagi.. Tapi pas ketemu temen baru, kita ttp bisa membuat kenangan2 indah lagi kan? (kok malah curhat /pffft)
    Nice kak.. Nyentuh bgt sma akunya ㅋㅋㅋ

    Like

  2. Pendek tapi banyak makna ya😄😄, mengajarkan banyak pelajaran hidup, pengen punya kakak kaya jimin yang bijak dan optimis gitu, ganteng pula #aww. Pesannya harus diingat tuh, memang ada kenangan yang memudar tapi kita bisa buat kenangan baru👍👍 sangat menginspirasi😢

    Like

  3. Kak amer, jiminnya buat aku ajaa, pengen bgt punya kakak cowok kyk gitu. Tpi, kalau dipikir-pikir para kakak itu hebat, bisaa aja bikin hati adiknya adeem /hugmasista/

    keren Kak, seperti biasa pesannya nyampe 🙂

    Like

  4. Wahh, Minha membuatku iri. Aku anak tunggal dan pengen punya kakak kaya Jimin😭. Diksinya bagus banget, thor. Jalan ceritanya juga memotivasi. Sukak, deh!😍
    Keep writing!❤❤❤

    Like

    1. yah komenku terpotong kak…..

      manalagi itu jimin jadi teguh gitu…….minha varokah banget hidupnya dikerumuni oleh lelaki tampan nan mapan XD
      kalau udah kak amer yang buat, sudah pasti bagus >< keep writing kakkk~~~!

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s