[Ficlet] Why People Are Broken

taetae

why people are broken

a ficlet by tsukiyamarisa; part of An Ode to Youth series 

BTS’ Kim Taehyung

600 words | AU, Life | 17

.

“Sebenarnya, siapa yang merusak siapa, hah?”

.

.

.

.

 

Ia bisa melihat bagaimana mereka yang berlalu-lalang memandanginya.

Mendengus, Kim Taehyung sadar benar bagaimana penilaian orang-orang itu terhadap dirinya. Seorang anak SMA yang mengenakan seragam tak rapi, berkeliaran dengan sebatang rokok terselip di antara bibir. Padahal jam sekolah belum berakhir, pertanda bahwa apa yang tengah Taehyung lakukan kini jelas-jelas dapat dimasukkan ke dalam kategori “pelanggaran dan kenakalan remaja”. Namun, tahu apa sih, mereka-mereka yang tengah menilainya secara sepihak itu?

Mengembuskan asap yang pekat dengan nikotin, Taehyung memutar bola matanya. Langkah terajut ke sebuah gang sempit yang jauh lebih sepi, semata-mata karena ia mulai merasa muak dengan semua tatap yang ada. Oh, ya ampun, cara mereka memelototinya itu sama saja dengan cara orang-orang terdekatnya berpolah. Selalu saja merendahkan dan menganggapnya sebagai barang rusak—yang bisa didorong-dorong, dibanting, atau dibuang begitu saja.

Sebenarnya, siapa yang merusak siapa, hah?

Bertanya dengan sarkastis; itulah yang sedang Taehyung lakukan pada dirinya sendiri. Ditemani dengan tangan yang terangkat setiap beberapa menit sekali, mendekatkan ujung lintingan tembakaunya agar dapat diisap. Ia melakukan itu semata-mata dengan harapan agar pikirannya dapat teralihkan—kendati yang terjadi malah sebaliknya.

Well, Kim Taehyung mungkin memang bukan ahli dalam merenungi atau memberi nasihat soal hidup. Tapi, ia tahu satu hal. Ia tahu bahwa tak ada seorang pun yang mau dengan sukarela diberi cap rusak. Ia tahu bahwa dirinya menginginkan hidup yang jauh dari kata kekerasan atau ejekan. Dan ia juga tahu bahwa orang-orang di sekitarnya terlampau enggan untuk mengabulkan permintaan tersebut.

Mendesah panjang, Taehyung membuang puntung rokoknya yang tersisa sepanjang satu inci dan menginjaknya. Jemari kemudian bergerak untuk meraih sebatang lagi, namun lekas berhenti kala ia merasakan nyeri di lengan atasnya. Ah, sungguh, ini semua gara-gara guru sialan yang telah memukulnya saat jam pelajaran pertama tadi. Hanya karena Taehyung tak mengerjakan tugas dan menolak disuruh keluar, lalu—

Anak-anak zaman sekarang memang tak bisa dididik! Perlu merasakan sakitnya dipukul dulu, hah?!”

Begitu saja, dan sebuah pukulan yang menghadirkan memar mendarat pada tubuhnya. Praktis membuat Taehyung berjengit, diikuti dengan emosi yang mendidih serta derap langkah keluar dari ruang kelas. Masa bodoh dengan semua seruan dan peringatan yang diberikan, lantaran ia sudah keburu sakit hati serta takut pada sosok yang menjulang dengan lagak penuh kuasa di hadapannya. Tangannya saat itu bahkan bergetar hebat, sesuatu yang susah-payah ia sembunyikan agar orang-orang tidak mengatainya lemah.

Lagi pula, apa sih yang mereka tahu soal dirinya?

Kim Taehyung yang tampaknya memiliki orangtua penuh kasih sayang, padahal mereka adalah orang-orang yang mewarnai pertumbuhan sang lelaki dengan ancaman. Hal-hal seperti “jangan nakal atau kau akan dicubit”, “diam atau Ibu kunci di kamar”, dan segala jenis perkataan yang serupa. Taehyung mengenal itu semua dengan amat baik, sehingga alih-alih menurut, rasa ingin menantang itu malah timbul di dalam dirinya.

Kalau mereka boleh berbuat seperti itu, mengapa aku tidak?

Itulah yang Taehyung tanamkan di dalam benaknya semenjak belia, yang menjadi pemicu dari semua keonaran yang ia perbuat. Biarlah, begitu pikirnya. Biarkan saja, karena toh ia selalu bisa menyalahkan lingkungannya atas segala yang ia lakukan. Sekali lagi, bukan ia kan, yang meminta jalan hidup seperti ini?

Ini memang hidupnya, tetapi ini bukan hidup yang diinginkan Taehyung.

Karena siapa pun—termasuk Kim Taehyung yang tampaknya berantakan sekalipun—tak ingin memiliki hidup yang rusak.

Orang-orang lainlah yang merusaknya. Yang membuat Taehyung berkontemplasi sedemikian panjang pada pukul sebelas di pagi hari, ditemani dengan sekotak rokok serta bau tembakau yang membawa hawa ketenangan. Orang-orang itulah yang lebih dulu tidak peduli kepada dirinya, sampai-sampai satu tanya yang tak akan pernah bisa dijawab pun menyeruak muncul di dalam benaknya.

.

.

Kalian adalah alasan di balik kerusakan yang ada.

.

.

Jadi, mengapa kalian berpikir bahwa merendahkan kami adalah hal yang benar untuk dilakukan?

.

fin.

a.n.

another one in two days, and I hope I can get the message across with this fic *cross finger*

okay, some of you might already got the hint, or maybe even familiar with this topic. so yes, this piece of fiction is based on that one viral news, about the elementary school student and his teacher and all of those things that got blow up. and as usual: no, I don’t ask you to choose side.

neither I say that what Taehyung did was right.

the point of this story is about how we educate and treat others. about how people, especially child, will act like how others act to them. blaming one side will only add the fuel into the fire, making the destruction even bigger.  and that, in fact, is what we do right now.

okay, I’ll stop the rant here.

last but not least, I’ll drop my favorite life-quote here:

“Do unto others, as others do unto you.”

Gnight and have a nice day ahead! ❤

Advertisements

7 thoughts on “[Ficlet] Why People Are Broken

  1. Yeah ini bener bgt.. Kita ga tau apa yg terjadi sma org dan asal judge, melabeli atau semacamnya.. Ngerasa dia yg ‘memang seperti itu’ padahal lingkungan sekitarnya lah yg bikin dia seperti itu..
    Nice kak, ini bagus pesan moralnya.. Bikin kita lebih paham kehidupan org lain dan ga asal nilai org dari covernya :))

    Like

  2. Pingback: [Challenge] An Ode to Youth – Chamber of Fiction and Fantasy

  3. kidokei

    Kerennnn, pesan moralnya ngena bangett, semua itu berawal dari didikan orang tuanya sendiri seperti apa. Jadi semoga aku dan yang baca ini ga akan dengan mudah menilai seseorang tanpa tahu alasannya deh kedepannya hehehe
    Nice fic, keep writing kak amer!

    Like

  4. A

    tbtb inget pelajaran sosiologi tentang ‘labeling’. seringnya gitu ya, ngelabel org ‘berantakan’ cuma karena tampang luar. padahal kalo mau ngintip di lain sisi, pasti ada alesan knp org jd kya gitu. mirip sama kasus kriminal yang pelakunya punya gangguan jiwa yah? mereka dicap jahat, padahal orang awam gatau alesan pastinya. nah, kan jadi inget pelajaran pkn jugaa wkwkwk

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s