[Ficlet] A Bottle of Solitary

yoongi

a bottle of solitary

a ficlet by tsukiyamarisa; part of An Ode to Youth series 

BTS’ Min Yoongi

580 words | AU, Life | 17

.

“Kesenyapan dan kesendirian tidaklah sama dengan kesepian.”

.

.

.

.

 

Min Yoongi ingin tahu apa yang salah dengan dirinya.

Memejamkan kelopak, sang lelaki bisa merasakan sebuah kata berpusar cepat di dalam benaknya. Satu kata yang sudah akrab ia dengar semenjak dulu, yang selalu ia anggap sebagai identitas serta bagian dari dirinya. Kendati demikian, ada kalanya pula ia menganggap kata itu layaknya sebuah kutukan.

Introvert.

Yoongi tidak mengerti apa yang salah dengan cap itu, tetapi terkadang, ia amat membencinya. Ia benci bagaimana orang-orang di sekitarnya enggan untuk mengerti, betapa mereka menganggap sifatnya itu sebagai suatu kesalahan yang harus dibenarkan. Oh, ayolah, memang apa sih salahnya menjadi seseorang yang lebih suka diam dan menikmati kesunyian? Apa sih salahnya menjadi seseorang yang hobi memperhatikan alih-alih mengeluarkan ribuan omong kosong?

Yah, Yoongi tidak menganggap itu salah, tentu saja.

Tapi, bagaimana dengan orang-orang di dalam lingkup kehidupannya?

“I don’t really give a shit, ya’ know?”

Berbicara pada dirinya sendiri, Yoongi mengangguk-angguk puas seolah ia baru saja menjadikan kalimat itu sebagai sebuah pegangan. Lengkap dengan tangan yang lantas bergerak untuk menyambar sebuah botol, kemudian mereguk alkohol di dalamnya tanpa rasa ragu. Bagaimanapun juga, sebotol minuman beralkohol adalah teman baiknya di kala kegelisahan dan kesepian melanda.

My life is fucked up, huh?”

Satu dengusan lagi, seraya Yoongi mendadak teringat pada kata-kata ayahnya sewaktu ia kecil dulu. Pun dengan guru-gurunya, juga dosen yang sempat mengajarnya di bangku kuliah. Mereka semua selalu menekankan hal yang sama: jangan jadi pemalu; bicara sajalah; tunjukkan keberadaanmu; jangan bertingkah seperti orang bodoh. Lalu, jika kau bisa berlaku semacam itu, maka nilai baik serta pujian akan dipastikan datang menghampiri. Abaikan fakta bahwa apa yang terucap dari bibir mereka si anak extrovert terkadang tak memiliki arti—lantaran hanya keberanianmu untuk pamer sajalah yang seringnya akan dinilai.

Entah siapa yang membuat standar seperti itu, Yoongi juga tak tahu. Yang jelas, satu yang senantiasa terpatri di dalam ingatannya, adalah ketika gurunya semasa ia duduk di Sekolah Dasar dulu berkata:

“Kalian yang diam saja pasti tak mengerti pelajaran ini, bukan? Jangan diam saja! Kalian akan menjadi orang bodoh dan tidak akan sukses kalau seperti itu!”

Well, Yoongi kecil kala itu hanya bisa diam dan menunduk. Masih enggan membuka mulut karena ia malas berdebat dengan guru ataupun teman-teman sekelasnya, tetapi dalam diam merutuk mengingat sesungguhnya ia paham dengan materi yang diajarkan. Namun, apa boleh buat? Seperti itulah sikap Yoongi sejak dulu; satu yang sering dicemooh orang-orang dan dianggap sebagai kegagalan besar.

Lantas, hari ini pun….

“Pergi sajalah ke pesta itu! Kau bisa mempertunjukkan musikmu, dan semua pasti akan menyukainya! Ayolah, apa gunanya juga berdiam diri di flat dan merenungi lembaran lirikmu yang tak laku-laku itu?”

Hanya amarah yang bisa Yoongi rasakan, sembari ia membanting pintu di hadapan muka teman-teman kuliahnya. Mereka yang mendadak berpolah sok akrab serta mengajaknya pergi ke pesta, berkata bahwa “teman yang baik” tidak akan membiarkan kawan mereka tenggelam dalam kesendirian. Padahal, dibandingkan keramaian yang tak berguna, Yoongi jauh lebih suka dengan kesendirian itu.

Sendiri yang mendefinisikan hidupnya, sendiri yang kadang tidak ia sukai.

Tetapi, di atas semua itu, Yoongi tetap tak bisa melepaskan keinginan untuk sendiri dari dalam benaknya. Kesenyapan dan kesendirian tidaklah sama dengan kesepian. Bagi Yoongi, itu adalah hidupnya. Hal-hal yang senantiasa membuatnya merasa bahagia dan nyaman, yang telah menjadi prioritas utama layaknya jantung memompa darah. Min Yoongi mencintai semua itu, sehingga tak peduli seberapa pun kerasnya kau memaksa—

“Aku akan berhasil dengan caraku sendiri.”

—maka, kau sendirilah yang akan terlihat seperti orang idiot.

.

.

Lagi pula, siapa suruh menjadi orang yang tak bisa memahami perbedaan, hah?

.

fin.

a.n.

(((lempar saja amer karena sudah tiga hari menyampahi beranda)))

Jadi, tanpa bermaksud menjatuhkan para ekstrovert, ini adalah antara curhatan sama kenyataan. Kalau dipikir-pikir, dari kita kecil (well, dalam kasusku), anak pendiam selalu dianggap jelek. Padahal belum tentu dia itu bodoh atau pemalu, cuma terkadang bicara dan ribut-ribut itu bukan sesuatu yang nyaman buat dia aja. Tapi nyatanya? Hampir kebanyakan orang (bahkan dosen saya) sikapnya menekan mereka yang diam tapi bisa. Bahkan sampai dikasih nilai jelek cuma karena lebih sedikit ngomong di kelas pun ada, ketika sebenarnya dalam hal materi dia lebih paham dari anak lain (ini curhat *uhuk*)

The point is, I hope people can start to understand each other. And as an introvert, we only need others to talk or to ask our opinion nicely. Respect us, then we will respect you.

Well, see you next week, then! 

9 thoughts on “[Ficlet] A Bottle of Solitary

  1. Yash, diem itu emas /nahlo
    Maksudnya ya meski ada orang yg diem aja bukan berarti dia ga bsa, ga mampu atau ga pinter.. Pas bag guru sd yg bilang “kalau diam saja kamu tidak akan sukses” itu aku ga suka.. Ga bener, karena memang spt yg kak amer bilang, ada org yg lebih suka diem, memperhatikan dan ga suka rame2.. Tapi dibalik semua itu, mereka jg punya alasan tersendiri.. Bukan berarti bodoh/semacamnya..
    Sekali lagi kak, ini niceuuuu~~ Aku pribadi memang bukan introvert tapi baca ini, dpt ngena jg karena sbg org yg kadang punya perbedaan cara berpikir/bertindak dgn yg lain itu rasanya sesuatu /gaje/

    Like

  2. Tbh aku orang yang kayak gitu kak xD
    Gak percaya ya? Jangan dibilang dedek yang jadi tukang rusuh di gc ini orangnya bakalan ruame di dunia nyata.
    Eh, emang rame sih di dunia nyata, tapi ke orang2 tertentu aja. Bahkan ke temen2 sekelas atau ekskul, dedek masih tergolong pendiam.

    Gak suka aja gitu sama suasana yg rame, apalagi rame gegara yg gak penting (aku jadi ingat left group angkatan sma wkk), jadi ya mending diem aja kan ya kamer.

    (Review macam apa ini /emot flips table/)

    Like

  3. Mewakili para introvert bgt ya Kaak, aku juga sampe dikasih pesen buat ngomong sama ibu sendiri pas mau pergi.
    Ya…saking diemnya.
    Lagian diem itu lebih nyaman sih, trus jg suka dikira ga bisa cuma gara2 diem aja

    Like

  4. Kaka… /sksd banget sumpah/ /maaf waktu itu eh beberapa jam lalu ngomen ff kaka di ifk tapi ga like, soalnya on dihape. Sekarang mah onnya di laptop jadi bisa ngelike /ga penting pula /abaikan.

    Aku readers baru kaka :v wkwk, panggil aja Arr. Sebelumnya emang kemarin-kemarin kaka nyepam fict di beranda wp, tapi aku belum baca karena… aku termasuk orang yang baca ff liat dari cast /digampar /kebetulan Min Yoongi biased:( /kakecha mohon jangan merasa tersaingi:( /apasih.

    Btw, ffnya keren ih. Emang iya ih bener introvert tuh bukan jadi penghalang GAK PAHAM suatu maksud. Meskipun sering dianggap begitu. Aku juga sebagai seorang yang memegang prinsip; “live as you like” a.k.a careless a.k.a heartless sering digituin-_- belum lagi ditambah ke-introvert-anku yang udah melambung tinggi sampe orang kira aku gabisa ngomong saking pendiemnya. Lol. /abaikan sumpah kenapa curhat ah elah:(

    POKONYA INI FFNYA MEWAKILI INTROVERT PISAN LAH UDAH LOPE❤❤

    Like

  5. Kak amerrrr, lagi2 aku setuju sama fic kak amer. Kalo yang ini aku sendiri yang alami. Bener banget apa yang dikata di tulisan ini, dan apa yang dibilang kak amer di footnote. Orang pendiam mungkin karena dia nyaman begitu, dan harusnya orang lain (terutama ekstrovert) nyoba mengerti sifat dia yang kayak gitu.
    Bagi aku (karena aku moody dan random jadi ga tentu introvert), diam itu menghindari gosip dan masalah yang sepele sebab omongan yang sekiranya nyentil orang lain, apalagi aku ini orangnya gasuka cari masalah dan cinta damai hahaha.
    Ya jadiii, intinya aku setuju banget sama fic kak amer ini, semoga yang di luar sana bisa lebih ngertiin para introvert ini yaaa huhu;;
    Keep writing kak amer!❤

    Like

  6. yah bener juga terkadang diem itu lebih baik daribpada gerunyingan sama hal-hal yang gapenting. bener juga orang yang diam itu bukan berarti bodoh, kalau kata peribahasa: semakin padi berisi semakin merunduk. Ini yang bikin presepsi orang pendiam itu bodoh kurang dikasi sedikit edukasi(?) yah intinya gitu 😄
    Baca ini serasa baca realita kak amer sama kek fic yang kemaren-kemaren jadi berkaca sama diri sendiri yang lebih memilih diam karena satu hal dan hal yang lain……(lah?)(kenapa malah curhat….)(itu lain cerita, ji!)(gorok daku kak amer….ㅠㅠ)

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s