[BTS FF Freelance] Lose You (Vignette)

lose

Title

Lose You

Author

Anggita YG

Cast

Kim Seok Jin

Jung Hye Ra (OC)

Min Yoon Gi

Genre

Romance, Hurt, Angst, OOC

Rate

T, PG-15

Lenght

Vignette (± 1600 words)

Disclaimer

Story and OC are pure mine

Summary

“…Jangan menjadi bodoh hanya karna kau mencintaiku. Kalau salah satu dari kita ada yang meninggal, yang lainnya harus tetap melanjutkan hidupnya.” – Kim Seok Jin

***

“Aku baik-baik saja, Hye Ra. Kamu tidak perlu khawatir.” Kim Seok Jin, pemuda itu mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Dia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Padahal sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Baik-baik saja bagaimana, Seok Jin? Kau..” Balasku tertahan. Air mataku sudah tumpah ruah sejak tadi. Sejak dia menyodorkan amplop berwarna coklat dengan logo rumah sakit di salah satu sudutnya. “Aku takut kehilanganmu, Jin”

“Aku baik-baik saja, Hye Ra. Jangan takut” Dia kembali meyakinkanku. Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa setegar itu. Bagaimana dia masih bisa tersenyum saat dia tahu penyakit mematikan bersarang di tubuhnya

“Seok Jin..”

“Harapan itu akan tetap ada, Hye Ra. Sekecil apapun kemungkinannya” Seok Jin merengkuh bahuku lalu mengecup keningku. Ia biarkan kepalaku bersandar didadanya.

***

Aku percaya hidup itu misteri. Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi pada jam, menit, bahkan detik selanjutnya yang akan kita hadapi. Tuhan menyusun skenario apik dengan alur yang tak pernah kita duga. Akan selalu ada kejutan untuk kita. Yang bisa kita lakukan hanya bersiap-siap untuk mendapat kejutan itu.

Aku tak pernah menduga semua akan berubah drastis. Hari-hari yang awalnya aku dan Seok Jin jalani dengan sangat menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Tak ada lagi pergi ke tempat-tempat favorit kami. Hanya taman rumah sakit yang bisa kami kunjungi untuk menghabiskan waktu berdua. Ini berawal dari saat itu, ketika kondisi Seok Jin semakin memburuk.

Tubuh Seok Jin ternyata tak sekuat harapannya. Seok Jin selalu bilang kalau harapan itu akan tetap ada sekecil apapun kemungkinannya. Tapi tidak dapat dipungkiri kalau penyakit itu mulai menggerogoti tubuhnya dan membuatnya terpaksa tinggal dirumah sakit untuk waktu yang lama, entah sampai kapan.

“Kalau kau lelah, kau tidak perlu menemaniku setiap hari. Sudah ada ibuku yang menemaniku” ujar Seok Jin.

“Memangnya siapa yang lelah?? Asalkan bersamamu, aku tidak akan merasa lelah”

“Aku menyayangimu” Seok Jin menggenggam tanganku erat. “Rasanya aku ingin hidup selamanya. Supaya aku bisa selalu melihatmu, menggenggam tanganmu, memelukmu..”

“Kalau begitu, berjuanglah untukku. Untuk orang tuamu, untuk sahabat-sahabatmu, untuk semua orang yang menyayangimu. Berjuanglah untuk tetap hidup, Seok Jin” pintaku lebih seperti berharap. Aku tahu penyakit itu akan membawanya pergi dariku. Entah kapan, tapi itu pasti. Aku pasti kehilangannya. “Rasanya aku juga ingin kau terus menatapku, menggenggam tanganku dan memelukku.”

***

Hamparan ilalang menari bersama hembusan angin didepan kami. Akhirnya kami bisa kembali lagi ke tempat ini setelah memaksa dokter memberikan izin agar Seok Jin bisa keluar dari rumah sakit. Aku sangat merindukan tempat ini. Seok Jin juga begitu. Beberapa waktu lalu kami terpaksa melupakan tempat ini, sulit sekali mendapat izin dari dokter. Beruntungnya kami dokter mengizinkan hari ini, walau hanya sebentar.

“Aku senang kita bisa kesini lagi, semoga besok kita bisa kesini lagi ya” Ujar Seok Jin tanpa mengalihkan pandangannya dari sekumpulan ilalang dihadapannya. “Besok kalau kita kesini lagi, harus aku yang menyetir mobilnya. Cukup kali ini saja kau menyetir”

“Iya..” Aku menyandarkan kepalaku dibahunya dan mengamit lengannya.

“Erggh..” erang Seok Jin lirih.

“Kau kenapa?” Aku menegakkan kepalaku.

“Aku baik-baik saja, jangan khawatir” Kali ini dia merangkulku. Aku kembali bersandar dibahunya. “Aku bangga, saat aku bisa menjadi tempatmu bersandar.”

“Ya, kau harus selalu jadi tempatku bersandar. Tidak hanya untuk kepalaku, tapi juga hatiku.” Balasku.

“Jung Hye Ra..” panggilnya. Dia mengalihkan pandangannya padaku.

“Iya?” Aku menatapnya.

Seok Jin hanya tersenyum jahil. Aku suka kalau dia tersenyum seperti itu. Itu adalah senyum yang Seok Jin berikan saat pertemuan pertama kami dulu.

“Lihat sebelah sana!”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang Seok Jin tunjuk. “Tidak ada apapun, Jin” Aku memalingkan wajahku ke arah wajah Seok Jin.

Seok Jin melengos. “Huh! Padahal aku baru saja mau menciummu. Tapi kau malah menengok”

“ahaha.. kau belum beruntung”

Secepat kilat, Seok Jin mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. “Siapa bilang? Bahkan aku jauh lebih beruntung dari yang aku duga”

Aku meraba bibirku. Aku yakin saat ini wajahku sudah memerah. Mataku mengerjap beberapa kali. Ini terlalu mengejutkan untukku. Tapi aku suka. “Seok Jin..”

“Aku suka melihatmu malu-malu seperti itu.. wajahmu memerah” goda Seok Jin.

“Aku tidak ingin kehilanganmu..” Aku memeluknya. “Jangan coba-coba meninggalkanku.”

“Aku berusaha untuk berjuang. Kalaupun aku harus mati, hatiku akan tetap disini bersamamu. Kau tidak perlu takut kehilanganku.”

“Kau harus berjanji, kalau kau tidak akan berhenti berjuang.”

“Aku berusaha bertahan. Aku tidak akan berhenti berjuang. Tapi Tuhan bisa menghentikan aku. Kau harus siap.. Aku tahu kau gadis yang kuat”

“Kau bilang kau tidak akan menyerah tapi…”

“Aku memang tidak akan menyerah. Harapan itu akan selalu ada. Tapi aku juga tahu akan ada saatnya Tuhan mengambil nyawaku. Entah karena penyakit ini atau bukan.” Seok Jin mengusap puncak kepalaku. “Kau harus siap kehilangan aku. Aku juga harus siap kehilanganmu. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti.”

“Bagaimana kalau kita mati bersama saja? Aku tidak perlu kehilanganmu dan kamu pun tidak perlu kehilangan aku.” Aku melepas pelukanku. Seok Jin hanya menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa mati bersama?” tanyanya.

“Kita bisa bunuh diri berdua. Nanti aku bisa menjatuhkan mobil ke jurang. Kita juga bisa meminum racun berdua, atau gantung diri berdua..”

Seok Jin malah tertawa geli mendengarnya. Tapi setelah itu wajahnya berubah menjadi sangat serius. “Jangan gila, Hye Ra. Jangan menjadi bodoh hanya karna kau mencintaiku. Kalau salah satu dari kita ada yang meninggal, yang lainnya harus tetap melanjutkan hidupnya. Kau mengerti?”

“Ayo kita pulang. Sebelum Dokter marah” Aku berdiri.

“Aku tidak ingin pulang. Bagaimana kalau nanti kau benar-benar menjatuhkan mobil ke jurang?”

“Kim Seok Jin..!!” seruku sebal. “Kau pikir aku sebodoh itu hanya karena aku mencintaimu?”

“Bagus. Kau sudah belajar.”

“Aku bisa bunuh diri sendiri nanti dirumah”

Mata Seok Jin terbelalak. “Jangan coba-coba..”

“Iya. Ayo cepat masuk ke mobil sebelum aku berubah pikiran”

***

‘Lepaskan Seok Jin, Hye Ra..’

‘Biarkan dia pergi..’

Kata-kata itu terus saja terngiang di otakku. Melepaskan Seok Jin, membiarkannya pergi, bagaimana aku bisa melakukannya? Bagaimana kau bisa membiarkan Seok Jin kehilangan harapannya? Bagaimana aku bisa merelakan lelaki yang aku cintai pergi untuk selamanya?

Seok Jin masih punya harapan, dia sedang berjuang.. Tapi mereka ingin menghentikannya. Dokter bilang, kemungkinan Seok Jin bangun sangat kecil bahkan mungkin tak ada. Mereka putus asa. Dokter, orang tua Seok Jin.. Bagimana bisa semudah itu mereka menyerah?? Apa mereka tidak melihat bagaimana Seok Jin berjuang keras selama ini untuk bertahan? Aku pikir mereka sudah gila.

“Hye Ra..” aku menoleh ke sumber suara. Yoon Gi yang berdiri disana. Dia menghampiriku.

“Dari mana kau tahu tempat ini?” tanyaku. Setahuku, hanya aku dan Seok Jin yang tahu tempat ini.

“Sebelum Seok Jin membawamu kesini, dia menunjukkan tempat ini padaku” jelas Yoon Gi dengan tatapan menerawang. “Waktu itu dia bilang, ini akan jadi tempat favoritnya bersama gadis yang dia cintai, kau. Lebih tepatnya hanya kau saja”

Aku menghela nafas. “Yoon Gi.. apa kau tega alat-alat itu dilepas? Kau tahu kan, Seok Jin punya harapan yang sangat kuat untuk sembuh.”

“Ini sangat berat bagiku, Hye Ra. Aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku. Tapi aku tidak bisa membiarkannya terus tersiksa seperti itu.” Mata Yoon Gi mulai berkaca-kaca, bibirnya juga bergetar. “Aku tahu Seok Jin punya harapan luar biasa. Aku tahu dia kuat. Tapi bagaimana kalau dia memang harus berhenti walaupun dia belum ingin berhenti?”

“Jadi kau setuju alat-alat itu dilepas? Itu sama saja kau membunuh Seok Jin! Kau sahabat macam apa?!”

“Aku tahu ini berat untukmu. Ini memang tidak mudah. Tapi kau tidak bisa egois seperti ini, Hye Ra. Seok Jin tersiksa, apa kau tahu itu? Dia sudah berjuang keras..” Yoon Gi menggenggam jemariku. “Aku mohon padamu.”

“Aku tidak bisa, Yoon Gi! TIDAK AKAN BISA!!!” aku membentak pemuda itu. “Aku tidak bisa kehilangan Seok Jin, aku tidak bisa.”

“Aku mohon, Hye Ra. Lepaskan Seok Jin, apa kau tega membiarkan Seok Jin menanggung rasa sakit lebih lama lagi? Tolong, jangan egois, jangan jadi sebodoh ini..”

“Bodoh?” Perkataan Yoon Gi berhasil membuatku mengingat percakapanku dengan Seok Jin waktu itu. Aku ingat betul apa yang Seok Jin katakan padaku.

“…Jangan menjadi bodoh hanya karna kau mencintaiku. Kalau salah satu dari kita ada yang meninggal, yang lainnya harus tetap melanjutkan hidupnya.”

“Aku memang tiak akan menyerah. Harapan itu akan selalu ada. Tapi aku juga tahu akan ada saatnya Tuhan mengambil nyawaku. Entah karena penyakit ini atau bukan, kau harus siap kehilangan aku. Aku juga harus siap kehilanganmu. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti.”

Seok Jin.. sekarang aku harus bagaimana? Ini sangat sulit untukku. Aku belum siap.. aku belum siap kehilanganmu.

“Tolong, Hye Ra.. Aku mohon.” kali ini Yoon Gi menangis. “Kasihan Seok Jin.. biarkan dia bebas dari rasa sakitnya, Hye Ra. Apa aku harus bersujud di kakimu, suapaya kau…”

“Tidak perlu” potongku. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan”

***

Aku tahu ini pasti terjadi. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menerimanya. Kejutan dari Tuhan yang mungkin akan merubah hidupku. Aku akan kehilangan banyak hal setelah ini. Banyak sekali. Aku tahu. Seharusnya aku juga sudah mempersiapkan diri.

Ya, Seok Jin pergi. Bahkan sebelum alat-alat yang menopang hidupnya itu dilepas. Dia pergi saat aku bersama Yoon Gi dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia pergi tanpa mengucap salam atau pesan-pesan terakhir, tanpa memberi firasat, tanpa meninggalkan surat atau apalah itu yang ia siapkan ketika ia merasa kepergiannya semakin dekat, seperti yang ada di film dan novel. Tapi dia meninggalkan senyumnya bersama raganya yang tak lagi bernyawa. Dia pergi dengan damai, dengan sangat tenang.

Kepergiannya membuat banyak orang yang menyayanginya terpukul. Tidak menyangka pemuda yang mengagumkan itu pergi secepat ini. Sebenarnya ini juga sangat menyakitkan untukku, rasanya aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Tapi Aku harus kuat untuk Seok Jin, aku tidak boleh egois. Aku harus tetap melanjutkan hidupku, seperti yang pernah Seok Jin katakan.

“Selamat jalan, Seok Jin. Berbahagialah disana. Ini menyakitkan, tapi aku berjanji aku tidak akan melakukan hal bodoh hanya karena aku kehilanganmu. Aku tidak akan mengecewakanmu, jangan khawatir. Tetaplah tersenyum seperti itu, disana” Aku meninggalkan setangkai mawar merah dalam lemari kaca itu. Ini kali pertama aku memberikan bunga untuknya, sayangnya dihari terakhirnya. Sebelum pergi, aku mencium permukaan lemari kaca itu, berharap itu akan sampai padanya. “Aku akan jadi gadis yang lebih kuat dari dugaanmu, Kim Seok Jin”

***

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Lose You (Vignette)

  1. Ya ampun, suamiku diapain T_T ngenes huweee T_T suer deh coba lebih panjang lagi, pasti feelnya nyes nyes banget :3 kayak gini aja meweknya ada, gimana kalo lebih panjang lagi :v

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s