[BTS FF Freelance] IT’S HARD TO LET YOU GO 1ST SEASON (ONESHOOT)

IT'S HARD TO LET YOU GO 1

 

TITLE        : IT’S HARD TO LET YOU GO 1

AUTHOR    : CHEON YOON, AHN

GENRE    : ROMANCE

MAIN CAST    : MIN YOON GI (BTS SUGA)

         KIM NAM JOON (BTS RAP MONSTER)

         KANG SOO JIN (OC)

         KIM HA NA (OC)

RATING     : PG/15+

LENGTH    : ONESHOOT

“Kau sudah mengakhiri hubunganmu dengannya?” Tanya Soo Jin pada sahabatnya, Ha Na.

Saat itu, café memang tidak terlalu ramai hingga Soo Jin yang memang bekerja paruh waktu disana dapat mendengarkan keluh kesah Ha Na tentang kekasihnya Yoon Gi yang sekaligus merupakan sahabat Soo Jin sejak kecil.

“Dan sekarang aku benar-benar menyesalinya.” Ujar Ha Na dengan mata sembabnya. Soo Jin yakin sahabatnya sudah menangis semalaman setelah putus dengan kekasihnya.

“Kau benar-benar terlihat mengerikan sekarang.” Soo Jin bergidik ngeri dibuatnya. “Segera pulang dan kompres matamu!”

“Tidak mau! Kalau aku sendiri, kenangan tentang pria brengsek itu pasti akan membuatku menangis lagi dan lagi.”

“Sejak awal aku sudah memperingatkanmu tentangnya.” Ujar Soo Jin menegaskan.

“Ku pikir, ia tak seburuk yang kau katakan.”

“Yah, keburukannya hanya sifat playboy-nya. Pada dasarnya Yoon Gi Oppa pria yang baik.”

Soo Jin melirik ke arah jam di dinding café yang menunjukkan pukul 20.55. “Ha Na-ya, maaf sepertinya aku harus segera bersiap-siap untuk pulang. Kau pulanglah duluan, berbahaya kalau kau pulang terlalu malam.” Ujar Soo Jin khawatir mengingat Ha Na adalah gadis yang ‘rawan kejahatan’.

“Baiklah, lagi pula aku sudah meminta adikku untuk menjemputku. Sampai jumpa disekolah, Soo Jin-ah!” Pamit Ha Na sambil berlalu pergi.

©∞©∞©∞©∞©

Soo Jin berdiri didepan café, menunggu kekasihnya Nam Joon datang menjemputnya. Tidak seperti biasa, pria itu membiarkannya menunggu cukup lama. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, sudah terlalu larut bagi gadis seusianya untuk pulang sendiri. Matanya menyipit untuk memperjelas penglihatannya ketika seorang pria berlari menghampirinya.

“Yoon Gi-Oppa?” Tanya Soo Jin heran. Mengapa bukan Nam Joon yang menjemputnya?

“Kau terlihat sangat kecewa.” Goda Yoon Gi. “Pakailah, udara diluar sangat dingin.” Yoon Gi melilitkan syal putih yang ia kenakan pada Soo Jin. Soo Jin tersenyum, baginya Yoon Gi memang pria baik. Gadis itu melingkarkan lengannya di lengan Yoon Gi, seperti yang biasa ia lakukan.

“Ayo pulang, Oppa!” Ujar Soo Jin.

“Kau tidak bertanya kenapa Nam Joon tidak menjemputmu?” Tanya Yoon Gi heran dalam perjalanan pulang. Ia sengaja mengurangi kecepatan motornya agar suaranya dapat didengar oleh Soo Jin. Seoul memang kota yang sangat indah dan semakin indah saat malah hari, hembusan angin malam yang seakan membelai lembut rambut Soo Jin benar-benar menciptakan suasana romantis. Akan sangat menyenangkan kalau saja saat ini yang disamping Soo Jin adalah kekasihnya yang salalu saja disibukkan oleh pekerjaannya sebagai ketua OSIS.

Soo Jin menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Yoon Gi. “Untuk apa menanyakan pertanyaan yang sudah ku tahu jawabannya. Hal itu malah akan membuatku terlihat bodoh.” Jawabnya. “Oppa, terima kasih karena sudah bersedia menjemputku. Lain kali aku pasti akan mentraktirmu!”

“Tidak perlu, aku juga baru pulang dari kegiatan klub-ku. Lagi pula rumah kita searah.” Tolak Yoon Gi halus.

“Kau selalu menolak ajakkanku. Padahal, dulu kau yang selalu mengekoriku.” Ujar Soo Jin kesal. Ya, ini memang bukan kali pertama Yoon Gi menolak ajakannya. Sebenarnya Soo Jin takut, takut sosok yang selalu dianggapnya kakak itu semakin jauh darinya. Karenanya ia selalu menciptakan suasana agar mereka bisa kembali akrab seperti dulu.

“Kapan aku melakukannya?”

“Seharusnya itu pertanyaan yang tak perlu ku jawab tapi sekedar mengingatkan, sesaat yang lalu kau melakukannnya.” Jawaban ketus Soo Jin membuat Yoon Gi tertawa terbahak-bahak.

“Aku putus dengan Ha Na.” Ujar Yoon Gi tiba-tiba.

Soo Jin terdiam, ia tak tahu bagaimana harus bersikap atau sekedar memberikan respon atas pernyataan Yoon Gi. “Aku tahu. Ha Na sudah lebih dulu memberi tahuku. Matanya terlihat sembab, mungkin dia menangis semalaman.”

“Kenapa dia menangis? Dia yang memutuskanku. Harusnya aku yang menangis.” Tanya Yoon Gi sambal menahan tawanya.

Soo Jin memukul punggung Yoon Gi kesal karena pertanyaan bodoh yang dilontarkannya, membuat Yoon Gi meringis kesakitan.

“Ya! Sakit! Aku sedang menyetir bagaimana kalau kita sampai celaka?!” Omel Yoon Gi.

“Dia melakukannya karena dia yakin kau tak akan melakukannya, bodoh! Kau benar-benar pria brengsek dan kejam. Kau bahkan tak pernah menyadari perasaan orang yang benar-benar tulus menyayangimu. Dan terlalu sibuk berganti pasangan.” Soo Jin segera menutup mulutnya. Ia tak habis pikir kata-kata kasar itu akan ia lontarkan pada Yoon Gi. Pria itu menghentikan motornya tepat didepan rumah Soo Jin. Gadis itu segera turun begitu Yoon Gi mematikan mesin motornya.

Oppa… maafkan aku.” Ujar Soo Jin tertunduk sambil memegang erat sweater yang dikenakan Yoon Gi seakan tak berniat membiarkan Yoon Gi pergi sebelum pria itu memaafkan kata-katanya yang ia akui memang sudah kelewatan.

Yoon Gi tersenyum hangat melihat tingkah Soo Jin. Pria itu membelai lembut kepala Soo Jin. “Gwenchana, Soo Jin-ah. Masuklah, udara diluar tidak baik untuk kesehatanmu.” Soo Jin tersenyum senang begitu melihat senyum Yoon Gi. Ia melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam rumahnya dan menghilang dari pandangan pemuda itu.

©∞©∞©∞©∞©

Soo Jin tetap merasa bersalah atas ucapannya kemarin. Gadis itu masih bisa melihat goresan luka walaupun Yoon Gi tersenyum padanya kemarin. Terlebih, pemuda itu tak mengangkat panggilan atau bahkan hanya membalas pesan dari Soo Jin.

“Kenapa? Kau terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu.” Tanya Ha Na penasaran pada apa yang mengganggu sahabatnya.

Soo Jin menggeleng cepat. Berusaha meyakinkan sahabatnya bahwa tak ada satu hal pun yang perlu dikhwatirkan. Ha Na jelas tau ada yang disembunyikan Soo Jin hanya saja ia tak ingin memaksa sahabatnya buka mulut kalau Soo Jin memang tak menginginkannya.

Ponsel Soo Jin berdering menandakan ada pesan masuk. Ia segera membukanya berharap ada balasan dari Yoon Gi. Wajahnya terlihat kecewa begitu mengetahui pesan itu dari Nam Joon kekasihnya, bukan dari orang yang memang ia tunggu balasannya.

Ku tunggu kau di atap. Nam Joon.

Ha Na tersenyum sekaligus iri dengan keharmonisan hubungan sahabatnya. Sudah hampir 2 tahun sahabatnya menjalin hubungan dengan si ketua OSIS. Sejak masuk SMA, Soo Jin sudah menjadi bulan-bulanan para siswi karena kedekatannya dengan Yoon Gi yang merupakan incaran nomor satu gadis-gadis disekolahnya. Disaat wajah Soo Jin nyaris babak belur dihajar penggemar Yoon Gi, Nam Joon datang menolongnya. Itulah pertama kalinya Soo Jin bertemu dengan Nam Joon, berbeda dengan Nam Joon yang sajak awal sudah memperhatikan Soo Jin karena selalu saja mendapat perlakuan yang mengerikan dari para siswi. Melihat hal itu tumbuh keinginan di hati Nam Joon untuk melindungi gadis itu. Beberapa hari sejak pertemuannya Soo Jin menyatakan perasaannya pada Nam Joon, pemuda itu terkejut tak menyangka Soo Jin akan menyatakan perasaannya lebih dulu saat pemuda itu sedang mencari waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Bagaimanapun, perasaan mereka saling bersambut. Itulah awal dari hubungan mereka.

“Aku duluan, ya.” Pamit Soo Jin membuyarkan lamunan Ha Na yang kemudian hanya tersenyum mengiyakan.

©∞©∞©∞©∞©

Soo Jin terkejut setengah mati sebelum membalas pelukan hangat Nam Joon yang tiba-tiba saja memeluknya begitu ia tiba di atap.

“Soo Jin-ah, aku benar-benar merindukanmu.” Ujar Nam Joon.

“Pembohong, kau bahkan lebih mencintai tugas-tugasmu dari pada aku.” Soo Jin pura-pura kesal. Membuat Nam Joon serba salah. Gadis itu sangat menyukai ekspresi kekasihnya saat tak tau apa yang harus ia lakukan. “Kau selalu memikirkan yang tak seharusnya kau pikirkan. Bodoh! Aku hanya bercanda, Oppa.” Ujar Soo Jin sambil tersenyum nakal sambil mencubit pipi Nam Joon gemas.

“Bagaimana kalau kita kencan akhir pekan ini?” Ajak Nam Joon malu-malu. Bagaimanapun, ia ingin merayakan 2 tahun hari jadi mereka.

“Baiklah, aku akan menunggumu di taman kota tepat pukul 19.00.” Ujar Soo Jin gembira. “Oh ya, apa kau melihat Yoon Gi-Oppa?” Tanya Soo Jin.

“Kau tahu aku benar-benar cemburu saat nama pria lain keluar dari mulutmu.” Nam Joon melipat tangannya di depan dada walau setengah bercanda hal itu tak dapat menutupi raut cemburu dari wajah pemuda itu.

“Ayolah, Oppa. Kau kan teman sekelasnya. Aku benar-benar merasa bersalah padanya.” Bujuk Soo Jin dengan memasang wajah aegyo-nya yang membuat siapapun tak terkecuali Nam Joon luluh karenanya.

“Selain di kelas aku jarang melihatnya. Mungkin dia sibuk dengan kegiatan klubnya.”

“Baiklah Oppa, terima kasih atas informasinya. Ah! Sebentar lagi aku harus bekerja.” Soo Jin terkejut begitu melihat jam tangannya.

“Umm, pergilah. Hati-hati, jangan lupa akhir pekan di taman kota pukul 19.00.” Seru Nam Joon, mengantar kepergian Soo Jin dari pandangannya,

©∞©∞©∞©∞©

Ha Na menopang dagu dengan kedua punggung tangannya. Ia sudah menunggu Soo Jin sejak tadi. Kadang Soo Jin tak habis pikir, kenapa tak sekalian saja Ha Na bekerja paruh waktu di café ini mengingat gadis itu bahkan selalu datang lebih awal darinya.

“Ku dengar kau mencari Yoon Gi?” Tanya Ha Na to the point, dari nada bicaranya Nampak jelas kalau gadis itu sangat penasaran dibuatnya.

Soo Jin memaki Nam Joon dalam hati sekaligus mengutuk kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa kalau Nam Joon adalah kakak dari gadis dihadapannya. “Ah itu… aku melakukan kesalahan yang kurasa sangat menyakitinya.”

Ha Na mengangguk mengerti. “Dan kau sama sekali tak bisa menghubunginya?” Tanyanya. “Kau tak perlu bertanya dari mana akau tahu karena sikapmu selama ini sudah menjelaskan semuanya.”

Soo Jin tersenyum ia lupa kalau sahabatnya sangat peka terhadap keadaan disekitarnya. “Beberapa temanku sering melihatnya di pinggir Sungai Han. Entah apa yang dilakukannya disana.”

“Kenapa kau mengatakannya padaku?”

“Karena kau mencarinya. Aku tak ingin saat kau ada disamping Nam Joon-Oppa pikiranmu di hantui perasaan bersalah pada Yoon Gi. Karena itu aku ingin masalah di antara kalian segera berakhir dan entah mengapa aku merasa masalah itu ada hubungannya denganku. Hanya satu yang aku pinta, jangan sakiti kakakku.” Ujarnya tegas.

Ha Na sebenarnya adalah gadis yang lembut, tapi ada saat dimana ia bisa menjadi tegas. Hal itu lah yang kadang membuat Soo Jin tak habis pikir pada sahabatnya. “Eoh, gomawo Ha Na-ya.”

©∞©∞©∞©∞©

Pukul 18.00 satu jam lagi sebelum Soo Jin bertemu dengan Nam Joon di taman kota untuk merayakan hari jadi mereka. Soo Jin berdandan secantik mungkin, rambut panjangnya ia biarkan tergerai di punggungnya. Hari ini ia mengenakan dress putih sedikit diatas lutut dengan blazer dan wedges dengan warna senada.

Mata Soo Jin tertuju pada sebuah syal putih yang ia ingat dipinjamkan oleh Yoon Gi saat menjemputnya.

Aishhh, bagaimana ini aku lupa mengembalikannya.” Ia segera memasukkan syal putih itu kedalam tas-nya dan bergegas menuju rumah Yoon Gi yang terletak diseberang rumahnya.

Tapi saat gadis itu mau mengetuk pintu, pintu rumah itu terbuka lebih dulu. Ia mendapati wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan segar yang ia kenal sebagai ibu Yoon Gi berdiri dihadapannya. “Annyeonghaseyo, Ahjuma.” Sapa Soo Jin sopan sambil membungkuk formal.

“Soo Jin-ah, sudah lama sekali sejak terakhir kau kemari.” Ujar wanita itu ramah. “Tapi, Yoon Gi sedang tidak dirumah.” Sambungnya merasa tak enak.

“Tak apa, aku hanya ingin mengembalikan ini.” Ujar Soo Jin sambil mengeluarkan syal-nya.

Aish… bagaimana ini aku ada janji.” Sela ibu Yoon Gi panik begitu melihat jam tangannya. “Soo Jin-ah, kau taruh saja langsung dikamar Yoon Gi, eoh?” Pinta Ibu Yoon Gi. Belum sempat Soo Jin angkat bicara, ibu Yoon Gi sudah lebih dulu menghilang dari hadapannya.

Soo Jin melangkahkan kakinya memasuki rumah yang hampir dua tahun tak didatanginya. Aroma yang sama, aroma yang shampoo yang selalu melekat di rambut Yoon Gi. Dulu mereka sangat akrab sampai-sampai Soo Jin menganggap ini adalah rumah keduanya begitu pula Yoon Gi yang menganggap rumah Soo Jin sebagai rumah keduanya. Yoon Gi memang anak tunggal, ayahnya sudah meninggal sejak Yoon Gi berusia 5 tahun. Karena itu, Yoon Gi sering dititipkan dirumah Soo Jin.

Gadis itu melangkahkan kakinya, menaiki tangga yang langsung menuju kamar Yeoon Gi. Tak ada yang berubah dari penataan rumah ini sejak dua tahun lalu. Ia segera masuk ke kamar Yoon Gi. Banyak foto yang terpampang di dinding kamar. Yoon Gi memang tampan, tak heran sahabatnya itu memiliki banyak penggemar. Foto-foto mereka saat kecil memenuhi hampir sebagian besar ruang di dinding kamar. Ia bahkan tak ingat kapan dan siapa yang mengambil gambar mereka. Soo Jin tersenyum melihat foto-foto masa lalu mereka. Itulah kenapa ia ingin kembali masa lalu, ia dapat melihat Yoon Gi tertawa lepas tanpa terlihat sedikitpun luka disenyumannya.

Ia mengedarkan pandangannya keseluruh kamar, matanya tertuju pada kotak kayu. Yoon Gi selalu berkata bahwa hal-hal yang berharga akan ia masukkan kedalamnya. Hal itu membuat Soo Jin selalu terkekeh geli dan Yoon Gi selalu kesal dibuatnya.

“Eh, sejak kapan ada ruangan ini?” Tanya Soo Jin pada dirinya sendiri. Sebuah ruangan dengan pencahayaan remang yang berhubungan langsung dengan kamar Yoon Gi. Didorong rasa penasaran ia memasuki ruangan tersebut. Gadis itu terkejut mendapati foto-fotonya tergantung memenuhi ruangan itu. Soo Jin tahu bahwa Yoon Gi memang masuk klub photografi. Tapi menjadikannya sebagai model? Gadis itu bahkan tak pernah menyadarinya.

Op…pa..?” Soo Jin terkejut melihat Yoon Gi yang sudah berdiri diambang pintu. Ini bahkan kali pertama Soo Jin melihat Yoon Gi berwajah sekacau itu. Panik? Marah? Takut? Entahlah, Soo Jin sama sekali tak dapat mengartikannya. Tanpa sepatah katapun pemuda itu segera pergi meninggalkan Soo Jin yang serba salah dibuatnya.

Terlambat, gadis itu tak berhasil mengejarnya. Yoon Gi sudah lebih dulu mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Tanpa pikir panjang gadis itu segera memberhentikan taksi yang lewat didepannya. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 19.00 waktunya bertemu Nam Joon di taman kota.

Ahjushi, antarkan aku ke Sungai Han.” Ujar Soo Jin dengan berat hati.

Mianhae, Nam Joon-Oppa.

©∞©∞©∞©∞©

Ia segera mencari Yoon Gi setibanya di Sungai Han. Sepanjang pinggiran sungai sudah ia telusuri tapi ia tetap tak menemukannya. Hal itu membuat gadis itu nyaris putus asa. Ia kembali bersemangat melihat motor Yoon Gi terparkir tak jauh dari tempatnya berada. Wajahnya berubah cerah begitu melihat sosok pria yang duduk tertunduk di bawah jembatan Sungai Han yang ia yakin adalah pria yang sedang dicarinya. Gadis itu berlutut dihadapan Yoon Gi sambil memakaikan syal putih yang tadi tak sempat ia kembalikan.

“Di udara sedingin ini kau hanya mengenakan kaus tipis. Kau bisa sakit, bodoh!” Omel Soo Jin, dengan senyum yang tetap merekah dibibirnya. Yoon Gi mengangkat wajahnya. Memastikan sosok yang ada dihadapannya adalah gadis yang selama ini sangat dicintainya.

Tak bisa menahan diri lebih lama lagi, Yoon Gi menarik leher Soo Jin mencium Soo Jin lembut. Otak Soo Jin berusaha untuk menolak, tapi tidak dengan hatinya yang makin berdebar setiap kali Yoon Gi mendekapnya. Gadis itu bersumpah membenci dirinya sendiri karena tak bisa berdusta bahwa ia juga menikmati ciuman itu.

Hangat. Sebuah kehangatan yang selama ini memang sangat dirindukannya dari sosok dihadapannya. Tapi ini salah! Soo Jin tau ini salah, tidak saat ia masih memiliki Nam Joon sebagai kekasihnya.

“Maafkan aku, Soo Jin.” Ujar Yoon Gi sambil membuang mukanya tak berani menatap langsung mata gadis dihadapannya. “Itu jawaban atas segala sikapku selama ini. Mungkin kau tak pernah menyadari bahwa mataku selalu tertuju padamu. Jadi bagaimana bisa aku mencintai gadis lain disaat kau sudah menjadi pemilik hatiku?”

Soo Jin terlihat tak percaya dengan apa yang didengarnya? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Yoon Gi menyukainya? Dan bagaimana bisa ia tak menyadarinya? Bukankah selama ini ia selalu beranggapan bahwa ia sangat mengerti Yoon Gi. Kenyataannya? Ia bahkan tak tahu siapa yang sebenarnya Yoon Gi cintai.

“Aku membenci Nam Joon yang telah merebutmu dariku. Tapi aku lebih membenci diriku sendiri yang tak bisa mempertahankanmu untuk tetap berada disisiku. Aku takut, kejujuranku akan mengubah semuanya.

Aku mengutuk diriku sendiri ketika mereka semua mem-bully-mu. Aku sangat ingin melindungimu. Hanya saja, kupikir jika aku melindungimu mereka akan semakin keras terhadapmu. Karena itu aku mulai bersikap layaknya seorang playboy. Dengan itu kau tak akan menjadi sasaran mereka lagi. Kau tahu aku hanya bisa melindungimu saat aku ada di dekatmu tapi saat kau tak sedang bersamaku apa yang bisa aku lakukan?

Lagi-lagi aku salah, hal itu malah membuatmu menyukai Nam Joon. Aku tak ingin kau membenciku dan menyalahkanku karena itu aku memilih untuk menjauh darimu.” Jelas Yoon Gi. Soo Jin merasa bersalah atas kebodohannya yang telah melukai hati Yoon Gi. Pantas saja ia selalu melihat goresan luka di setiap senyum yang selalu Yoon Gi berikan untuknya.

Oppa, maafkan aku.” Soo Jin memeluk Yoon Gi erat. Ia tak bisa menahan tangisnya. Hatinya sakit melihat Yoon Gi begitu terluka karenanya. Ia sadar makian yang ia tujukan pada Yoon Gi beberapa waktu lalu seharusnya ia tujukan untuk dirinya sendiri.

Soo Jin-ah, kalau kau bersikap seperti ini bagaimana caraku melepaskanmu? Kau semakin membuatku tak bisa berpaling darimu.

Malam itu mereka menghabiskan waktu berdua di bawah jembatan Sungai Han. Entah mengapa pemandangan malam ini terlihat begitu indah dimata Soo Jin. Mungkinkah dilubuk hatinya sejak dulu ia sudah menyukai Yoon Gi?

Ponselnya sudah berulangkali berdering menandakan ada panggilan masuk. Ini sudah kesepuluh kalinya. Ia tak berani mengangkatnya. Tentu saja ia merasa bersalah hari jadinya yang kedua tahun dengan Nam Joon dia lewati bersama pria lain.

©∞©∞©∞©∞©

Oppa, mian!” Ujar Soo Jin memohon.

Gwenchana, aku mengerti.” Tak dapat dipungkiri Nam Joon benar-benar kecewa dibuatnya. Ia bahkan menunggu Soo Jin hingga pukul 00.00. “Kalau tak ada lagi yang ingin kau sampaikan, aku akan kembali ke ruang OSIS. Masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan.” Pamit Nam Joon.

Ingin sekali Soo Jin menghilang dari dunia ini. Bayangan Yoon Gi tak pernah mau menyingkir dari pikirannya bahkan saat ia bersama dengan Nam Joon sekalipun. Ia terus menerus menyalahkan dirinya hari itu. Kenapa ia tega melakukan hal jahat pada Nam Joon yang sangat menyayanginya? Kenapa tidak ia angkat saja telponnya atau setidaknya mengirimkan pesan agar Nam Joon tak perlu menunggunya.

©∞©∞©∞©∞©

Sudah lima hari berlalu, tak ada yang berubah antara ia dan Nam Joon selain perasaannya yang semakin menyadari bahwa bukan cintalah yang ia rasakan selama ini pada kekasihnya. Tapi itu tak merubah apapun. Sejak saat itu ia bahkan tak pernah sekalipun bertemu dengan Yoon Gi. Hampa adalah saat ia tak melihat pemuda itu tersenyum padanya. Mungkin benar Soo Jin mencintai Yoon Gi. Tapi apa yang harus ia lakukan? Ia bahkan tak tau harus memulainya dari mana.

Soo Jin kembali tak bisa menghubungi Yoon Gi. Ia tak habis pikir kenapa Yoon Gi yang seperti menghilang dari dunia ini ketika dialah yang berharap untuk menghilang. Apa Yoon Gi ingin menjauhinya lagi? Tidak. Kali ini Soo Jin tidak sanggup kalau harus menjaga jarak dari Yoon Gi.

“ARGHHTTTT!!!” Soo Jin mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Soo Jin-ah, kau baik-baik saja?” Tanya Ha Na khawatir melihat keadaan Soo Jin. Soo Jin mengangguk. “Yang seperti ini kau bilang baik-baik saja?” Lagi-lagi Soo Jin mengangguk. “Kau dan Nam Joon-Oppa baik-baik saja kan?” Soo Jin terdiam kemudian mengangguk. Ia tak punya tenaga yang cukup untuk sekedar menjawab pertanyaan dari sahabatnya.

Ha Na menari nafas dalam-dalam. “Kau mencintai Yoon Gi, kan?” Tanpa sadar Soo Jin mengangguk. “Kau merindukannya?” Lagi-lagi Soo Jin mengangguk. Sesaat kemudian gadis itu terdiam menyadari apa yang dia lakukan.

“Eh… ti…tidak… apa maksudmu aku mencintainya?” Sangkal Soo Jin walau sudah terlambat. Wajahnya Soo Jin merah padam menyadari segala bentuk sangkalan darinya tak dapat membohongi sahabatnya.

Ha Na terkekeh geli melihat Soo Jin salah tingkah. “Sudahlah, menjengkelkan melihatmu belakangan ini seperti mayat hidup. Kami sudah tahu semuanya. Maksudku, aku dan Nam Joon-Oppa. Sejak awal aku sudah tahu kalau Yoon Gi menyukaimu. Tapi aku berusaha keras menyangkalnya karena aku tahu saat itu kau sedang berpacaran dengan Nam Joon-Oppa. Aku malah tidak mengerti kenapa kau tak pernah menyadari perasaannya.” Jelas Ha Na santai.

“Eh, Nam Joon-Oppa tau?” Tanya Soo Jin tak percaya.

“Dia tahu baru-baru ini. Dan saat ia tahu, hari itu adalah hari terberat untuknya. Bisa ku bilang kalau kau cukup kejam menghancurkan perasaannya.” Jawab Ha Na. Soo Jin kembali merasa sangat bersalah dibuatnya. “Yah kurasa itu sudah berlalu, dia sudah jauh lebih baik sekarang tentu saja setelah ia melampiaskan kemarahannya.”

“Tapi bagaimana bisa Nam Joon-Oppa bersikap seolah tak ada apa-apa?”

“Oh, dia hanya ingin melihat bagaimana reaksimu. Seperti bagaimana aku ingin melihat reaksimu. Dia bilang kau yang sekarang lebih mirip seperti mayat hidup. Tidak menyenangkan lagi bermain denganmu.” Jelas Ha Na. Soo Jin menghela nafas lega. Seolah beban yang selama ini harus ia pikul menguap begitu saja.

“Tapi kurasa sudah terlambat. Mungkin Yoon Gi-Oppa tak akan muncul dihadapanku. Lagi-lagi ia menghindariku dan menghilang begitu saja.” Ujar Soo Jin sedih.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Menghilang bagaimana maksudmu? Jelas-jelas dia ada dirumahnya. Apa kau yakin kalian bertetangga? Bagaimana kau bisa tak tahu?”

Lagi-lagi Soo Jin mengutuk kebodohannya. Kenapa tak pernah ia pikirkan sebelumnya untuk mencari Yoon Gi dirumahnya saat Sungai Han pun sudah ia datangi. “Ha Na-ya, terima kasih!” Soo Jin tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ia bergegas pergi untuk menemui pria yang sangat dirindukannya.

©∞©∞©∞©∞©

BRAAAKKKKK!!!! Soo Jin membuka pintu kamar Yoon Gi kasar.

“MIN YOON GI!!!” Gadis itu langsung memukul Yoon Gi membabi buta. Ia benar-beanr kesal di saat ia sangat merindukannya pemuda itu malah tidur nyenyak. Serangan itu membuat Yoon Gi tersadar dari tidur lelapnya. Ia benar-benar kaget melihat Soo Jin sudah terduduk diatas tubuhnya.

“Soo…Soo Jin-ah, apa yang kau lakukan disini?”

Oppa! Bukan itu yang ingin kudengar. Kemana saja kau selama ini. Membuatku hampir gila karena merindukanmu. Kupikir kau akan meninggalkanku.” Ujar Soo Jin. Memalukan memang, tapi ia sudah tak bisa menahan air matanya lagi, ia menangis membuat air matanya menetes di wajah Yoon Gi.

Mianhae.” Yoon Gi mengusap air mata Soo Jin. “Jangan menangis. Sudah terlambat bagiku untuk lepas darimu. Jadi mana mungkin aku meninggalkanmu. Saat kau minta maaf pada Nam Joon, aku melihatnya. Melihat mu menyalahkan dirimu benar-benar membuatku merasa menjadi pria paling tidak berguna. Karena itu, sepulang sekolah aku menemui Nam Joon menceritakan semuanya termasuk perasaanku padamu.”

Soo Jin terkejut mendengar penjelasan Yoon Gi. “Kau menceritakannya? Dia tidak marah? Apa dia baik-baik saja?”

“Berhenti mengkhawatirkan pria lain dihadapanku.” Ujar Yoon Gi tak suka. “Tentu saja dia sangat marah. Aku dihajarnya habis-habisan. Karena itulah beberapa hari ini aku tidak kesekolah. Bisa hancur popularitasku kalau orang-orang melihat wajah tampanku babak belur.”

Soo Jin teringat ucapan Ha Na disekolah yang megatakan sekarang Nam Joon baik-baik saja karena sudah melampiaskan kemarahannya. Maksudnya, melampiaskan dengan menghajar Yoon Gi?

“Lalu kenapa kau tidak menghubungiku? Membalas pesanku atau mengangkat telpon dariku?”

“Pria itu tiba-tiba menghajarku. Aku bahkan tak sempat mengamankan ponselku dari kebrutalannya yang menyebabkan ponselku hancur seketika.” Jawab Yoon Gi.

“Syukurlah kau baik-baik saja.” Ujar Soo Jin lega. Setidaknya kerinduan dia sudah terobati sekarang.

Yoon Gi tersenyum melihat kelegaan diwajah Soo Jin. Ia menarik tubuh Soo Jin hingga bertukar posisi dengannya. “Nyalimu cukup besar masuk ke kamar seorang pria tanpa perlindungan, Soo Jin-sshi.” Ujar Yoon Gi sambil tersenyum nakal membuat wajah Soo Jin memerah.

Oppa, menyingkirlah sebelum aku teriak meminta bantuan.” Ancam Soo Jin tanpa rasa takut sedikitpun.

“Maaf mengecewakan, tapi tak ada siapapun selain kau dan aku disini.” Ujar Yoon Gi dengan nada penuh kemenangan.

PLEEETAKKK!!!! Ibu Yoon Gi memukul kepala anaknya dengan gulungan koran ditangannya. “Sakit!” Yoon Gi meringis kesakitan. “Eo…eomma?

“Menyingkir dari tubuh Soo Jin, bocah mesum!” Perintah Ibu Yoon Gi. Soo Jin terkekeh geli melihat Yoon Gi serba salah. “Maafkan aku Seo Jin-ah, memiliki anak dengan otak mesum seperti Yoon Gi adalah salahku dalam mendidiknya. Bagaimana ini? Kurasa Yoon Gi harus menikahimu nanti? Aku benar-benar merasa kasihan padamu.” Ujar Ibu Yoon Gi sambil membelai rambut Soo Jin lembut.

Eomma, aku akan bertanggung jawab. Menikah dengan Soo Jin adalah impianku.” Ujar Yoon Gi sambil menarik Soo Jin dari dekapan ibunya dan mencium Soo Jin secepat yang ia bisa. “Itu janjiku!” Ujarnya tanpa mempedulikan jantung Soo Jin yang berdebar kencang karenanya.

YA! MIN YOON GI!” Yoon Gi sudah lebih dulu kabur sebelum bantal yang dilemparkan Soo Jin mendarat diwajahnya.

Ibu Yoon Gi tersenyum bahagia melihat kebahagiaan terpancar lagi di wajah anaknya. Ia mengedarkan pandangannya foto-foto Yoon Gi dan Soo Jin kecil. Sejak ayahnya meninggal Yoon Gi menjadi pemurung. Terlebih karena harus bekerja, ibunya sering meninggalkan Yoon Gi sendiri. Tapi setelah bertemu Soo Jin keceriaan Yoon Gi perlahan kembali. Tak ingin melewatkan keceriaan buah hatinya, ibunya selalu mengabadikannya dengan sebuah kamera. Walau beberapa waktu lalu keceriaan Yoon Gi memudar, setidaknya dengan Soo Jin disisinya kebahagiaan itu akan selalu kembali terpancar di wajah putranya.

©∞©∞©∞©∞©

THE END

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s