[BTS FF Freelance] Illusions – (Chapter 2)

Illusions1

Title : Illusions

Author : Maru

Main Cast : – Kim Tae Hyung

– Jeon Jung Kook as Kim Jung Kook

– Ryu Su Jeong

Baek Hyun

Jung Ho Seok

(main cast akan bertambah seiring berjalannya cerita)

Support Cast : – Jeong Ye In

– Yook Sung Jae

– Jang Dong Woo

– Other cast …

Genre : fantasy, family, friendship, action, school life, mystery, AU

Rating : PG -13

Leght : Chaptered

Disclaimer : Selain cerita dan OC bukan milik ku. Semua perbuatan jelek di FF ini jangan ditiru. Maaf kalau bahasanya aneh, authornya gak pinter ngerangkai kata-kata. ^^ Happy reading ….

 

Note : Di chapter sebelumnya, Taehyung sama Jungkook melihat seorang guru yang dikenali mereka sebagai Senior Himchan. Itu salah, seharusnya Senior Namjoon. Maaf atas ketidak nyamanannya.

 

~-~

 

Di halaman sebuah bangunan besar itu, tampak dua orang tengah bertarung dengan sengit. Berkali-kali pedang mereka saling bersentuhan. Dari balkon bangunan besar itu, seseorang yang mengenakan jubah memperhatikan kegiatan dua orang itu. Ia mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan kegiatan anak buahnya yang lain yang tidak berbeda jauh dengan dua orang tadi, bertarung dengan sesama mereka guna mengasah kemampuan mereka.

Tuan Kim.”

Seseorang berjalan mendekati orang berjubah itu. Ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, kemudian kembali berdiri tegak.

Orang berjubah itu tersenyum. “Apa kau sudah melakukannya?”

Sudah, Tuan.” jawab orang itu. “Hanya saja ada sedikit kesalahan. Aku salah memberikan thiens kepada skaith junior itu. Maafkan aku.”

“Ah, itu tidak jadi masalah. Kau sudah memperbaikinya, kan? Apa mereka sudah pergi ke sana?” tanya Tuan Kim.

Sudah. Mereka juga sudah bertemu dengan thiens mereka.”

Kedua mahluk itu terdiam sejenak. Tuan Kim kembali melemparkan pandangannya ke halaman bangunan besar yang merupakan istana sekaligus rumahnya sebagai pemimpin klan-nya, Shiro Clan.

“Mereka berlatih dengan keras.” ujar Tuan Kim tanpa mengalihkan pandangannya.

Iya, aku yakin mereka akan berusaha menjaga klan ini.” sahut orang itu.

Kau juga,” Tuan Kim memalingkan wajahnya ke arah orang di sebelahnya. “Kau juga berlatih dengan sangat keras, ya.”

Eh?” Orang itu menautkan alisnya bingung.

Tuan Kim tersenyum misterius. Ia menyibakkan poni orang itu, membuat perban yang ia coba sembunyikan dibalik poninya menampakkan dirinya.

Jangan terlalu memaksakan diri. Kau pemimpin para senior di sini.” ucap Tuan Kim. “Aku ingin ke ruangan ku dulu.”

Tuan Kim melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Orang itu membungkukkan tubuhnya tepat sebelum Tuan Kim berbalik meninggalkannya. Setelah Tuan Kim menghilang dari pandangannya, ia menyentuh keningnya dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa tuannya bisa mengetahui luka itu?

Baekhyun!”

Orang itu menoleh ke arah datangnya suara ketika mendengar namanya diserukan.Dongwoo, ada apa?”

Orang yang baru saja menyerukan namanya tersenyum ke arahnya dan berlari mendekati-nya. “Kau sudah mengatakan padanya?”

Apa? Siapa?”

Itu, junior yang ada pada foto itu. Apa kau sudah memberikannya?” Dongwoo mengulang pertanyaannya.

Oh, foto itu. Aku belum bertemu dengannya lagi. Lagipula dia sedang melakukan tugasnya. Kita tunggu saja sampai dia datang ke sini.” kata Baekhyun sambil merapihkan rambutnya yang disibakkan tadi.

Dongwoo memicingkan matanya. “Kau kenapa?”

Eng. Tidak, tidak apa-apa. Hanya saja ….” Baekhyun menggantungkan kalimatnya.

Hanya saja?”

Baekhyun tersentak. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya ke arah Dongwoo.Kau! Kau yang memberi tahu Tuan Kim tentang luka ku, ya?” terka Baekhyun.

Luka? Oh, lukamu. Ya, itu aku. Tuan Kim sendiri yang meminta ku memberi laporan tentang perkembanganmu. Kau tahu? Ku rasa Tuan Kim sudah menganggapmu sebagai anaknya sendiri.” terang Dongwoo.

Kau ….”

Hm. Kau marah? Ah, kalau begitu aku pergi dulu.” Dongwoo mulai berbalik dan melangkahkan kakinya menjauh.

JANG DONG WOO!”

 

~-~

 

Yein menyendokan makanan yang ada di hadapannya ke dalam mulutnya tanpa memperhatikannya. Matanya masih serius membaca buku yang ada di genggamannya. Ibu yang duduk di sebelahnya menggelengkan kepalanya pelan, melihat kelakuan anak semata wayangnya itu. Ibu mengambil buku itu dari tangan Yein yang disambut ocehan gadis itu.

Habiskan makanan mu terlebih dahulu. Omong-omong, ibu tidak ingat kau memiliki buku ini.” kata ibu sambil memperhatikan buku itu.

Itu milik Kak Sujeong, senior ku.” balas Yein. “Aku sudah selesai. Aku pergi dulu.”

Yein mengambil buku itu dari ibunya kemudian memasukannya ke dalam tas yang sudah menggantung di pundaknya. Yein berpamitan kepada ayah dan ibunya, setelah itu ia berlari-lari kecil menuju pintu depan.

Ah, Yein. Tunggu sebentar!”

Tangan Yein menggantung pada kenop pintu ketika mendengar seruan ibunya. Ia menoleh ke arah ibunya yang mendekatinya sambil membawa sebuah wadah yang terbuat dari kayu.

Buku-buku mu datang kemarin saat ibu tidak di rumah, jadi tetangga sebelah kiri itu yang menerimanya. Berikan ini kepadanya sebagai ucapan terima kasih.” kata ibu sambil menyodorkan wadah itu.

Yein hendak mengelak karena ia hendak pergi ke sekolah. Tapi tampaknya mengantarkan itu ke tetangganya tidak membutuhkan waktu lama, jika tetangganya bukan seseorang yang suka berbasa-basi. Yein meraih wadah itu menggunakan tangan kanan dengan sedikit malas. Tangannya yang satu lagi bergerak membuka pintu rumahnya dan kakinya ia langkahkan keluar.

Yein berdiri di depan pagar rumah tetangganya sambil memandangi rumah itu. Rumah itu tidak bisa di sebut mewah, tapi rumah itu juga tidak tampak murahan. Rumah itu lebih besar dari rumahnya. Cat putih yang melapisi dinding luar rumah itu masih bersih, tampak seperti baru di cat. Yein mengulurkan tangan kirinya yang tidak membawa beban apa-apa untuk menekan bel di samping pagar. Tak ada balasan.

Saat Yein hendak menekan untuk yang ketiga kalinya, pintu rumah itu terbuka. Seorang laki-laki yang tampaknya seumuran dengannya muncul dari balik pintu dan melihat ke arahnya. Tiba-tiba saja laki-laki itu terjungkal ke depan. Di belakangnya muncul laki-laki lain yang mengenakan pakaian yang sama sepeti laki-laki tadi.

Akh, apa yang kau lakukan?” Orang yang terjungkal tadi menatap tajam laki-laki di belakangnya.

Kau menghalangi jalan. Lambat.” ejek laki-laki yang satunya.

Apa?!”

Hei, kenapa bertengkar di sini?” Seorang laki-laki paruh baya keluar dari rumah itu dan menjauhkan kedua laki-laki yang sudah bersiap saling memukul itu. “Kalian tidak melihat ada tamu?”

Yein yang berdiri di luar pagar tersenyum ke arah laki-laki paruh baya itu. Sesaat ia menyadari kedua laki-laki yang ribut tadi menggunakan seragam sekolah sepertinya. Laki-laki paruh baya itu membukakan pagar untuk Yein dan menyapanya ramah.

Yein menyodorkan wadah yang dibawanya. “Ibu bilang kemarin paman yang menerima paket buku-buku ku. Ini untuk paman, sebagai balasannya.”

Ah, tidak perlu repot-repot. Tapi, terima kasih.” balas paman itu sambil mengambil wadah itu. “Kau murid SMA Taeyang?”

Yein mengangguk. Ia melirik sekilas dua laki-laki yang masih berdiri di halaman rumah itu. Yein menerka mereka mungkin anak dari paman ini. Tapi rasanya ia pernah melihat kedua laki-laki ini.

Oh, kebetulan sekali. Anak ku juga sekolah di sana. Namaku Kim Hyun Seong, kau bisa memanggil ku Paman Kim. Dan itu anak ku, Jungkook.” kata paman itu sambil mengarahkan telunjuknya ke arah laki-laki yang tadi mendorong laki-laki lainnya.

Yein ingat sekarang. Itu kedua teman Sungjae, Jungkook dan Taehyung.

Dan itu keponakan ku, Taehyung.” sambung Paman Kim sambil menunjuk laki-laki yang terjungkal tadi. “Siapa nama mu?”

Aku Jeong Ye In.” jawab Yein sambil membungkukkan tubuhnya.

Kau akan pergi ke sekolah, kan? Boleh aku meminta tolong?” tanya Paman Kim yang dibalas sebuah anggukan dari Yein.Tolong jaga kedua anak ini. Mereka bisa bertengkar setiap saat.” kata Paman Kim sambil menunujuk Jungkook dan Taehyung.

Eh, oh, baiklah.” Yein sedikit gugup mendengar permintaan Paman Kim. Masalahnya, Jungkook dan Taehyung tadi hampir memukul satu sama lain. Apa ia bisa melerai mereka?

Paman Kim tersenyum. “Terima kasih. Dan kalian, jangan bertengkar atau akan ku kirim kalian ke ‘kandang singa’!” seru Paman Kim sambil menatap tajam kedua laki-laki itu.

Jungkook menghela nafas pendek. “Ah, menyebalkan. Kenapa harus ‘singa’ itu?”

Sebaiknya kalian cepat ke sekolah, atau guru kalian memberi hukuman nanti.” Paman Kim masih melayangkan tatapan tajam ke arah dua laki-laki itu.

Ya, baik, baik. Aku pergi, ayah!” Jungkook berjalan begitu saja keluar dari halaman rumahnya, melewati Yein yang masih terdiam di tempatnya.

Taehyung menghela nafas pelan melihat sepupunya itu. Ia pun berjalan keluar mengikuti sepupunya yang sudah hampir sampai di ujung gang. Yein berlari mengejar keduannya setelah memberi salam kepada Paman Kim. Ia menyamakan langkahnya dengan Taehyung yang lebih dekat dengannya, sementara Jungkook sudah menghilang dari pandangannya.

Apa kalian selalu bertengkar?” tanya Yein.

Taehyung melirik sekilas. “Tidak bisa disebut bertengkar, kami hanya bercanda. Ya, itu memang berlebihan, sih.”

Yein mengerutkan keningnya tidak mengerti.

Kami tidak pernah benar-benar membenci satu sama lain. Lihat saja di halte nanti. Aku jamin dia akan mengucapkan sesuatu.” kata Taehyung.

Yein langsung terdiam setelah itu. Walaupun ia bingung dengan perkataan Taehyung tadi, tapi sepertinya jika ia melontarkan pertanyaan lagi itu akan membuatnya semakin tidak mengerti.

Halte sudah terlihat di depan matanya. Jungkook tampak tengah bersandar pada tiang penyangga atap halte itu sambil memainkan handphone-nya. Taehyung berjalan ke arahnya dan berdiri di sebelahnya, sementara Yein memilih untuk duduk di bangku halte yang kosong.

Hei,” Jungkook menyikut Taehyung yang berdiri di sebelahnya. “Apa ‘singa’ itu memiliki handphone?

Yein yang mendengarnya mencoba menahan tawanya. Yang benar saja. Apa hewan bisa menggunakan handphone? Polos sekali murid ini, batinnya.

Taehyung tersenyum misterius. “Sebaiknya kau lihat dulu gadis itu.”

Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah Yein. Yein mengedarkan pandangannya ke jalan yang terhampar di hadapannya, mencoba menyembunyikan fakta bahwa ia mendengarkan percakapan mereka.

Jangan tertawa. Aku tahu kau pikir itu lucu.”

Yein tak bisa menahan tawanya lagi. Tawa keras yang ia tahan sejak tadi mulai keluar dengan kekehan pelan.

Kau tahu, anak SD juga mengetahui jawabannya.” kata Yein di sela tawanya.

Aku tahu itu.” balas Jungkook sedikit ketus sambil kembali memainkan handphone-nya.

Kau bertanya di tempat dan waktu yang salah, Jungkook.” komentar Taehyung yang ikut terkekeh melihat Yein dan Jungkook ribut tadi.

Diamlah. Aku tak ingin diganggu!”

Yein dan Taehyung masih tertawa melihat Jungkook yang kini mengerucutkan bibirnya. Tawa mereka mulai mereda ketika sebuah bis berhenti di depan mereka. Dengan seenaknya, Jungkook meninggalkan kedua temannya yang masih terkekeh itu.

Uh, dia marah. Ayo, kita susul dia.” kata Yein yang disambut sebuah anggukkan oleh Taehyung. Mereka pun melangkahkan kaki mereka menaiki bis itu.

 

~-~

 

Bel istirahat berbunyi. Sujeong memasukan buku sejarahnya ke dalam tas. Ia meraih handphone-nya dan hendak membuka internet. Gerakannya terhenti seketika ketika teman di belakangnya menepuk bahunya pelan. Sujeong menolehkan wajahnya.

Kau sudah mengerjakan PR Matematika?” tanya teman di belakangnya.

PR?” Sujeong menautkan alisnya. “PR apa?”

Kau tidak tahu? Itu, PR liburan.”

Sujeong terdiam sejenak. “Ah, iya. Terima kasih sudah mengingatkan ku. Aku belum mengerjakan satu bagian lagi.”

Sujeong mengambil buku matematikanya dari dalam tas. Tapi rasanya kelas ini terlalu bising dan itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. Sujeong mengambil alat tulisnya dan langsung berjalan keluar kelas. Ia berniat mengerjakan PR di atap karena tempat itu biasanya sepi.

Sementara temannya yang bertanya tadi terdiam di tempatnya. “Dia belum mengerjakannya? Uh, padahal aku ingin meminta jawaban soal terakhir.” gumamnya pelan.

Sujeong membuka pintu menuju atap. Kosong, tak ada siapapun di sini. Ia pun duduk di lantai atap dan mulai mengerjakan PR matematikanya. Soal-soalnya cukup rumit dan itu membuatnya harus berkonsentrasi. Tapi hal seperti itu bukan masalah besar bagi Sujeong. Ia tergolong murid yang cerdas, bahkan melebihi rata-rata.

Suara riuh di lapangan tak mengganggu konsentrasinya. Pandangannya tak lepas dari buku tulis yang sudah terisi sebagian itu.

Selesai!” ucapnya girang setelah menyelesaikan semua soal.

Tepat pada saat itu, bel masuk berbunyi. Sial, runtuk Sujeong dalam hati. Ia belum bersantai sama sekali pada jam istirahat ini. Ia pun bangkit dari posisinya dan hendak kembali ke kelas. Namun saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesosok laki-laki tengah berdiri membelakanginya di sisi atap bagian timur. Laki-laki itu berdiri di sisi atap. Siapa dia? Rasanya tadi tidak ada orang yang naik.

Laki-laki itu menutup kedua telinganya dengan headset berwarna putih. Sepertinya laki-laki itu tidak asing di matanya. Tapi siapa? Tiba-tiba saja terjadi hal yang tak terduga. Laki-laki itu menghilang layaknya debu. Sujeong membulatkan matanya kaget. Apakah ini kenyataan? Kenapa orang itu menghilang? Ah, pasti tadi hanya sebuah ilusi saja. Sujeong mengambil bukunya dan langsung berlari menuju kelasnya.

Di kelas ia langsung duduk di bangkunya dan mengatur napasnya yang tidak beraturan. Ia mengedarkan pandangannya sejenak. Murid-murid masih asyik bercanda karena guru belum datang.

Ada apa?”

Sujeong menoleh ke arah samping, tempat asal pertanyaan tadi. “Tidak, tidak ada apa-apa.”

Teman sebangkunya yang bernama Hyunhee itu hanya mengangguk mengerti. “Hei, apa kau tahu? Hoseok dan temannya itu tidak masuk.”

Sujeong memiringkan kepalanya. Untuk apa ia peduli dengan anak pemilik sekolah bernama Hoseok yang selalu seenaknya sendiri itu? Padahal ini masih awal-awal sekolah, dan ia sudah membolos lagi?

Tapi sejujurnya Sujeong penasaran dengan murid yang selalu mengikuti kemanapun Takeru pergi itu. Dari wajahnya ia terlihat seperti orang yang dingin, tapi di sisi lain dia juga terlihat imut. Temannya itu sebenarnya murid baru di kelas 11. Tapi entah bagaimana mereka terlihat seperti sudah lama berteman. Mungkin temannya itu bukan sekedar teman biasa, melainkan seseorang yang memiliki hubungan darah dengannya? Atau malah murid itu pengawalnya?

Sujeong tak habis pikir, bagaimana bisa murid pembuat masalah seperti Hoseok diidolakan oleh gadis-gadis di sini. Jika mereka mengidolakan temannya, Sujoeng rasa itu wajar apalagi temannya itu terlihat lebih pintar dari Hoseok.

“Hei, kau mendengarkan ku tidak?” tanya Hyunhee melihat Sujeong yang tengah melamun.

“Eung? Ya, ya, aku dengar, kok.” balas Sujeong sambil merapihkan buku-buku di mejanya.

“Ah, aku lupa. Kau, kan, tidak tertarik dengan Hoseok. Percuma aku memberi tahu mu. Respon mu pasti biasa-biasa saja.” kata Hyunhee.

Sujeong tersenyum. “Kau tahu alasannya aku melamun, kan? Karena itu, aku bingung kenapa kau memberi tahu ku berita yang tidak ku pedulikan itu.”

Hyunhee hendak membalas ucapan Sujeong, tapi guru sudah memasuki kelas dan membuat ruangan itu hening seketika.

 

~-~

 

Ruangan luas yang di setiap sisinya terdapat banyak deretan kursi itu tampak sangat sepi. Hanya terdapat dua orang di ruangan itu. Yang satu duduk di salah satu kursi, memperhatikan orang yang satu lagi yang tengah mengayunkan sebuah pedang di tengah-tengah ruangan yang sengaja dikosongkan karena ruangan itu dibuat untuk arena pertarungan. Orang itu berputar sesekali sambil terus mengayunkan pedangnya seakan-akan ada musuh di hadapannya.

Orang itu memukulkan unjung pedangnya ke lantai, membuat suara nyaring yang menggema di ruangan itu. Ia meletakkan pedang itu ke tempatnya dan berjalan mendekati orang yang tengah duduk itu.

“Kau tidak mau berlatih?” tanya orang itu sambil duduk di salah satu kursi.

“Tidak. Aku masih dalam masa pemulihan.” ujarnya sambil menunjukkan perban yang melilit lengan kanannya.

Orang itu menegak minuman yang ada di dekatnya. Setelah itu ia berdiri dan berjalan melewati orang yang satu lagi.

“Ayo, kita pergi.”

“Apa? Kau membolos hanya untuk latihan selama tiga puluh menit? Kau bisa melakukannya saat jam istirahat, tidak perlu membolos seperti ini.” protes orang itu.

“Tidak, bukan hanya untuk ini.” ujarnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman sinis. “Eren akan mendapat teman baru.”

Orang itu berjalan keluar ruangan meninggalkan orang yang satu lagi. Orang yang masih berada di ruangan itu tetap berdiri di tempatnya. Ia mengepalakan tangannya kuat-kuat sambil menggertakkan giginya.

Menakjubkan. Ini pasti berhasil.

 

~-~

 

Yein menatap malas 7 lembar kertas di hadapannya. Tulisan yang ada di kertas itu sama persis seperti yang dibacakan Guru Han, guru sejarah -pelajaran yang paling dibencinya, hanya saja Guru Han sesekali menambahkan penjelasan lain. Tapi tampaknya bukan hanya Yein yang membenci pelajaran ini. Teman sebangkunya pun mengalihkan perhatiannya ke luar jendela dan menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.

“Baiklah. Pelajaran hari ini telah selesai.” ucap Guru Han membuat sebuah senyuman muncul dengan sekilas pada wajah Yein. “Tapi saya akan memberikan PR kepada kalian, dan harus dikumpulkan besok. Kertas yang saya bagikan tadi, kalian salin ke bahasa Inggris.”

“Apa?” Semua murid langsung membulatkan matanya tidak percaya. Ini pelajaran sejarah atau bahasa Inggris?

“Baiklah. Kalian boleh pulang setelah bel berbunyi. Selamat sore.” Guru Han mengemasi barang-barangnya dan melangkah keluar kelas.

“Bagaimana bisa begitu? Argh, aku tidak bisa menonton drama malam ini.” keluh Sungjae sambil membolak-balikkan kertas-kertas itu.

“Menyebalkan.” komentar Yein. Beberapa murid lain juga mulai mengeluh dengan hal itu.

“Hei,” Jungkook yang duduk di belakang Yuri dan Yuta menyikut teman sebangkunya. “Bahasa Inggris itu apa?”

Taehyung menatapnya aneh. “Kau tidak tahu? Itu bahasa internasional, yang kau gunakan di handphone-mu itu.”

Jungkook terdiam sejenak kemudian mengangguk-angguk mengerti. “Oh, itu.”

Bel pulang berbunyi nyaring. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas dan bersegera pulang ke rumah. Yein juga melakukan hal yang sama karena ia tidak yakin bisa menyelesaikannya jika hanya mengerjakannya malam ini.

 

~-~

 

Argh, guru menyebalkan! PR macam apa ini?!”

Gerutuan Jungkook memenuhi ruangan kecil itu sejak satu jam yang lalu. Ia berjalan kesana kemari mengelilingi kamar itu sambil sesekali melirik buku yang terbuka dan lembaran-lembaran kertas di atas meja belajarnya. Sementara Taehyung yang berada di ruangan itu menutup kedua telinganya dengan earphone sejak Jungkook mulai berteriak-teriak tidak jelas. Tapi suara yang keluar dari earphone itu kalah keras dengan teriakan sepupunya.

Berhentilah menggerutu. Kalau kau mengerjakannya sejak tadi, kau sudah bisa menyelesaikan separuhnya.” kata Taehyung sambil menggoreskan penanya ke atas buku. Ia sudah menyelesaikan sebagian PR yang diberikan Guru Han.

Jungkook meliriknya sinis. “Woah, kau berubah menjadi penurut sekarang.” sindirnya karena sebenarnya Taehyung termasuk orang yang suka melanggar peraturan.

Bukan tanpa alasan. Aku tidak mau orang-orang yang baru kukenal mengecapku seperti kalian mengecapku sebagai ‘pembangkang’.” sahut Taehyung tanpa mengalihkan perhatiannya. “Cepat kerjakan, atau kujamin paman akan menghabisimu.”

Jungkook mendecih pelan. Dengan malas ia menarik kursi di hadapan mejanya dan duduk di sana. Ia melemparkan pandangannya keluar lewat jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Di seberang sana, ia melihat seorang gadis tengah menulis dengan serius. Jungkook menyerukan nama gadis itu, membuat pemilik nama itu mengangkat wajahnya dan mencari arah asal suara. Ia tersenyum tatkala mendapati Jungkook melambaikan tangan ke arahnya.

Mengerjakan PR?” tanya Jungkook setengah berteriak.

Yein menganggguk. “Kau juga?”

Ya.” jawab Jungkook. Taehyung terkekeh pelan mendengarnya.

Apa dia percaya?” Taehyung bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya.

Jungkook bergumam pelan mengiyakan. “Tapi, apa dia tidak mendengar gerutuanku tadi?”

Entahlah. Mungkin ia terlalu serius sampai menganggap teriakan mu tadi hanya suara kucing kelaparan.” ejek Taehyung.

Apa?” Jungkook menoleh ke arah Taehyung. “Kucing kelaparan? Apa suara ku seperti itu?”

Terserah kau saja. Cepat kerjakan PR mu.” kata Taehyung sambil melepas earphone-nya, berharap Jungkook tidak akan berteriak-teriak lagi.

Jungkook mendesah pelan. Ia mengambil kertas-kertas yang diberikan Guru Han dan meletakkannya di atas meja. Ia membacanya perlahan dan mulai menyalinnya ke dalam bahasa Inggris. Suasana menjadi hening. Sesekali Jungkook melirik Yein yang masih mengerjakan PR-nya.

Tiba-tiba suara deritan pintu menghancurkan keheningan yang tercipta di ruangan itu. Kedua laki-laki itu tampak tidak tertarik dengan suara itu.

Hei, ‘singa’ itu datang.” ucap seseorang dari arah pintu.

Ergh, ayah, aku ada PR. Katakan padanya untuk menemui kita besok saja.” kata Jungkook tanpa mengalihkan perhatiannya. Tidak sopan, padahal ia berbicara dengan ayahnya sendiri.

Memangnya kenapa? Ini masih pukul 10 malam.” balas Paman Kim sambil melihat ke arah jam putih yang menggantung di salah satu sisi kamar itu.

Itu masalahnya.” Jungkook menoleh ke arah ayahnya. “Seharusnya kita tidur satu jam lagi, tapi PR-nya sangat banyak.”

Paman Kim menggeleng-gelengkan kepalanya. “Itu jika kau manusia. Dua jam sudah cukup untuk kalian. Cepat turun! Dia bilang ada hal penting yang ingin disampaikan”

Paman Kim melangkah pergi. Taehyung menutup bukunya dan berjalan keluar dari kamar. Jungkook menghela napas sejenak, ia meletakkan penanya dan ikut berjalan keluar lalu turun ke lantai dasar. Di sana Taehyung, ayahnya dan ‘singa’ itu sudah duduk di sofa putih yang berada di ruang tengah. Ayahnya duduk bersebelahan dengan ‘singa’ itu di sofa panjang, sementara Taehyung duduk di sofa kecil di hadapan mereka. Jungkook berjalan menuju sofa di sebelah Taehyung dan duduk di sana.

Nah, jadi ada apa?” tanya Paman Kim kepada orang di sebelahnya.

Jadi-”

Benarkah?!”

Belum saja selesai berbicara, Jungkook memotong ucapan orang itu sambil membulatkan matanya, membuat yang lain menatap ke arahnya.

Hei, bisakah kau berhenti membaca pikiran orang?” tanya Taehyung sedikit ketus.

Tidak bisa.” kilah Jungkook. “Itu tertulis begitu saja di atas kepala kalian, bahkan sekalipun aku menutupinya dengan tanganku.”

Taehyung menggertakkan giginya. Ingin sekali rasanya ia memukul sepupunya itu. Taehyung mengepalkan tangannya dan bersiap melayangkannya.

Berhenti! Kau ingin memukulku, kan? Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri.” sela Jungkook sebelum Taehyung melayangkan kepalan tangannya, ia memukul pelan kepalanya kemudian mengalihkan perhatiannya. “Lanjutkan, aku tidak akan mengganggu.”

Orang tadi masih menatap ke arah Jungkook, sejurus kemudian ia mengalihkan perhatiannya ke arah Taehyung dan Paman Kim. “Kuro Clan mendapat satu predator lagi.”

Benarkah?” Taehyung dan Paman Kim membulatkan mata mereka.

Baekhyun, kau tidak berbohong?” tanya Paman Kim memastikan mengingat senior yang satu ini senang bercanda.

Baekhyun mengangguk mantap. “Untuk apa aku berbohong?”

Akh, kita tertinggal satu langkah dari mereka.” keluh Taehyung yang disambung dengan helaan napas panjang.

Tidak juga. Sekalipun mereka mendapat predator baru, aku yakin Xujin masih menjadi yang paling kuat.” kata Baekhyun.

Keadaan menjadi hening sesaat. Jungkook masih mengalihkan perhatiannya sambil sedikit memajukan bibirnya, Baekhyun memperhatikan setiap sisi rumah ini, sementara Taehyung dan Paman Kim hanya terdiam.

Baekhyun,” panggil Paman Kim tiba-tiba. “Ada apa dengan kening mu?”

Baekhyun menoleh ketika mendengar Paman Kim memanggilnya. Ia menyentuh perban di keningnya setelah mendengar pertanyaan Paman Kim. “Tanya saja pada mereka.” Baekhyun memberi isyarat menggunakan matanya untuk menunjuk Taehyung dan Jungkook.

Kami?” Taehyung memiringkan kepalanya.

Baekhyun mendecih pelan. “Jangan berbohong.”

Apa yang terjadi, huh?” tanya Paman Kim yang kini ia arahkan kepada kedua remaja itu.

Itu, kami sedang berlatih, lalu Kak Baekhyun muncul secara tiba-tiba. Dan … yah, ayah tahu apa yang terjadi.” kata Jungkook dengan polosnya.

Jadi kalian yang melukainya? Cepat minta maaf!” perintah Paman Kim sambil sedikit meniggikan suaranya.

Apa? Minta maaf? Kami tidak bersalah.” kilah Jungkook.

Taehyung mengangguk, mendukung ucapan sepupunya. “Itu salah Kak Baekhyun yang muncul secara tiba-tiba.”

Apa!?” Baekhyun berdiri dari kursinya dan menatap tajam ke arah Taehyung dan Jungkook.

Hei, hei, tenanglah.” Paman Kim mencoba menenangkan Baekhyun yang mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi ‘singa’. “Kalian, cepat minta maaf!”

Tapi, ayah ….”

Tidak ada penolakkan. Cepat!” Kali ini nada bicara Paman Kim semakin meninggi dan terdengar seperti sebuah bentakkan.

Taehyung dan Jungkook mengalah. Paman Kim sangat mengerikan jika ia marah. Mereka berdua baru melihat hal itu satu kali, tapi itu benar-benar membuat mereka ketakutan dan memutuskan untuk mengalah setiap kali Paman Kim mulai meninggikan suaranya. Mereka berdiri dan segera membungkuk dalam sambil meminta maaf. Setelah itu suasana menjadi lebih tenang.

Baekhyun, apa kau akan kembali?” tanya Paman Kim.

Baekhyun terdiam sejenak. Kemudian ia menatap Paman Kim sambil mengedipkan matanya beberapa kali. “Paman, bolehkah aku tidur di sini? Aku tidak punya tempat tinggal di bumi, tapi aku ingin merasakan tinggal di sini. Boleh, ya? Hanya satu malam saja.” pinta Baekhyun.

Eh? Tapi di sini hanya ada dua kamar.” kata Paman Kim.

Tidak apa. Aku bisa tidur dengan mereka.” ujar Baekhyun santai sambil menunjuk Taehyung dan Jungkook, padahal ia tahu bahwa kedua orang itu pasti menolak.

Tidak mau!”

Benar saja. Bahkan kalimat yang mereka ucapkan sama dengan nada yang sama pula. Ingin rasanya Baekhyun tertawa karena menurutnya malam ini akan sangat mengasyikkan jika ia ditemani dua mahluk ini.

Baiklah. Tapi aku tidak menanggung segala hal yang akan terjadi nanti.” Paman Kim memberi syarat.

Baekhyun tersenyum. “Tentu saja, aku mengerti tentang itu. Sekarang, yang mana kamarnya?”

Paman Kim dan Baekhyun bangkit dari sofa dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Taehyung dan Jungkook yang berada dalam satu ruangan. Jungkook mengerucutkan bibirnya, sementara Taehyung menghela napas pasrah.

Kita sudah berhasil pergi dari gedung yang sama dengan ‘singa’ itu, tapi sekarang kita sekandang dengannya. Argh, menyebalkan!” Jungkook melempar bantal sofa secara asal untuk melampiaskan kekesalannya.

 

~To Be Continue~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Illusions – (Chapter 2)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s