[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Time Life Chapter 3

26676095013_6a6e6868d3_b

Jungkook Series : (Time Life) Chapter 3

Scripwritter by: coolbebh_

Starring by; Jeon Jungkook [BTS], Nam Heewon [coolbebh_ OC’s]

Rate : PG-17

Genre : Marriege Life, SoL

Length : Chaptered

[About 1,516 words ]

.

.

Disclaimer : WARNING!!! TYPO AND VERY UGLY ABOUT PLOT!! DON’T BE A SIDERS AND IT’S FANFICION PURE MINE OF MIND!

.

.

coolbebh™—Present**

 

Tak selamanya kehidupan Rumah Tangga selalu mulus begitu saja tanpa ada halangan disela-sela kebahagiaan. Seperti halnya saat ini. Heewon marah, lebih tepatnya kesal. Sang suami yang seharusnya menemaninya berbincang di hari weekend-nya harus terpotong karena pekerjaan yang mendadak harus di datangi hari itu juga. Oh, hei! Bagaimana dengan nasib Heewon yang saat ini tengah cemberut menangkup pipinya sendiri yang akhir-akhir ini menyembul seperti bakpao. Terlihat mengggemaskan.

Ia hanya memandang minuman yang telah dipersiapkan oleh Jungkook sebelum ia pergi begitu saja, walau Jungkook tak lupa memberikan kecupan di keningnya.

Oh, ayolah.. Jungkook sampai kapan kau harus berkutat dengan pekerjaanmu itu, hm? Gumamnya dalam hati.

Jari telunjuk dan tengahnya mengetuk-ngetuk meja makan yang memang terdengar lebih keras karena pantulan suara ruangan yang sangat hening. Ini sudah lebih dari empat jam Heewon seperti ini, merasa bosan dan digandrungi rasa kesal.

Tatapannya kini tertuju pada benda persegi panjang yang nyatanya tak nampak pemberitahuan yang pasti dari suaminya. Sungguh menyebalkan!

‘Aku janji, takkan lama, sayang..’

Mengingat perkataan Jungkook yang seperti itu membuat dia merasa sedih. Jungkook telah berbohong padanya, mengingkari perkataannya sendiri. Maksudnya apa?

Jika memang ia harus lama, ia;Jungkook tak usah berkata seperti itu kalau memang nyatanya benar-benar penting. Baik, memang Heewon harus belajar mengerti jika suaminya mempunyai kepentingan sendiri dalam hal pekerjaannya. Namun, Jungkook pernah—lebih tepatnya berjanji takkan meninggalkan Heewon kala akhir pekannya dan menyerahkan semua pekerjannya pada sekretarisnya itu.

Mengingat tentang sekretarisnya yang menurut Heewon sangat cantik dibandingkan dirinya, ia selalu kesal sekaligus cemburu pada saat mereka berbincang ria meskipun itu lewat ponsel sekalipun. Rasanya, dia lebih mendapatkan perhatian yang banyak dari Jungkook ketimbang dirinya.

‘Ini demi dirimu, masa depan kita. Aku, kau, dan bayi yang ada dalam kandunganmu, Heewon. Mengertilah..’

Oke-oke Heewon harus mengerti mulai saat ini. Melihat status yang disandang Jungkook tak main-main, seorang Presdir muda diumur duapuluh empat tahunnya. Mereka memang hanya terpaut satu tahun, yang kata oranglain atau tentang ramalan lainnya, pasangan yang terpaut hanya berbeda umur lebih sedikit beresiko perceraian.

Oh, Tidak! Heewon tak ingin merasakan seperti itu. Ia ingin semuanya berjalan lancar seperti ekspektasinya.

 Perlahan ia meraih gelas yang berisi minuman berkewajiban akhir-akhir ini;susu ibu hamil. Ia menyeruputnya dengan pelan tak berselera, rasanya hambar dan pastinya dingin. Ini lebih parah ketimbang morning sickness yang terus rutin yang ia lakukan setiap hari.

Punggungnya ia sandarkan pada tumpuan kursi berwarna coklat tua itu, menghela napas sebentar sembari memejamkan matanya sejenak. Berharap jika ia membuka mata Jungkook telah dihadapannya dan melayangkan senyuman yang selalu disukainya setiap waktu.

Ketika getaran ponselnya itu membangunkan aksi istirahatnya, ia terlonjak kaget dan dengan sigapnya meraih ponsel silvernya dengan cepatnya.

Suaminya mengirimi pesan singkat yang membuatnya tersenyum, menimbulkan letupan panas disekitar pipinya.

From : Jungkook ❤

Send 11.34 AM

 

‘Aku mungkin pulang malam. Istirahatlah yang banyak, jangan menungguku. Aku pastikan, aku akan membawakan makanan pedas kesukaanmu, ya..’

Tidak. Tidak jadi. Rasa bahagianya pudar begitu saja kala membaca sebuah pesan yang membuatnya lebih kesal. Heewon kira Jungkook akan segera pulang dan membawa sambutan kasih sayang yang ia butuhkan selama ini, lebih dan lebih. Namun, nyatanya Jungkook lebih mementingkan pekerjaannya daripada dirinya. Mungkinnya lagi, asetnya paling terpenting di kehidupannya ketimbang dirinya yang tak mempunyai apa-apa.

Matanya semakin menyiratkan kesenduan, ia bosan disini. Ingin menghabiskan waktu bersamanya walaupun itu sekedar piknik kecil di Taman yang cukup sepi. Atau berjalan-jalan sambil berpegangan tangan di hadapan semua orang. Menyenangkan, bukan?

Tapi.. itu hanya khayalan semata saat ini.

Jungkook.. istrimu ini sedang membutuhkanmu.

Semoga telepatinya yang Heewon berikan tersampaikan dengan cepat dan tepat. Dan bisa memulangkan Jungkook ke habitat asli dan asalnya. Seperti kata pepatah—‘Rumahku Istanaku’.

Jungkook harus kembali dan tak usah pergi lagi jika tak ada yang diperlukan. Hati-hati, Jungkook. Setelah kau pulang Heewon akan mengikat dengan jeruji cintanya yang tak bisa ia lepaskan begitu saja.

Seperti yang Jungkook katakan tadi, tungkainya kini mengantarkan pada kamarnya yang beraksen berwarna biru cerah dengan beberapa foto disana. Ia membaringkan tubuhnya pada kasur empuknya dan meraih bantal yag beraksen bunga-bunga milik Jungkook. Menghirup aromanya pelan, dan terlelap tenang disana. Tanpa melanjutkan aksi penghabisan mimunan yang Jungkook buatkan.

 

*********

Petang telah tergantikan oleh sinar bintang yang berkerlap-kerlip di istana atas;langit. Menampakkan kegelapan namun tak menghilangkan aksen keindahan. Malam ini sepertinya di kuasai oleh sinar yang cukup berderang oleh pantulan bulan pada bumi yang mengitari porosnya. Tuhan sedang menunjukkan kehebatannya pada umatnya, yang tak bisa satu orang pun ciptaannya menandinginya. Kecuali Tuhan sendiri.

Sinar bulan menerobos pada jendela besar kamar yang memang tengah gelap tanpa cahaya lampu yang menghiasi sudut ruangan. Heewon terlelap, tak berkutik sedikitpun dalam tidur panjangnya sejak siang tadi.

Dengkuran napasnya terdengar halus, dadanya naik turun seirama dengan napas yang diaturnya secara alamiah.

Tubuhnya berbaring menyamping, memeluk sebuah bantal yang tak ia lepas sedikit pun. Mungkin ini penyebab yang membuatnya terjaga sepanjang hari. Aroma keringat suami tercintanya bisa mengelabui system saraf otaknya bahwa itu adalah aromatherapy. Sayangnya bukan.

Daun pintu kamar mulai terbuka perlahan, menampakkan sebuah bayangan hitam yang tak tersinari olah cahaya bulan. Ia melangkah tak bersuara, menuju pada kasur empuk yang Heewon tempati.

Belaian yang ia berikan padanya membuat Heewon sedikit terusik. Anak rambutnya ia singkirkan pada belakang telinga dan mengecupnya pipinya perlahan.

Bantal yang sedari tadi Heewon dekap dengan erat ia singkirkan demi kenyamanan sang pasangan. Dan berbaring menghadap wanita yang diicntainya tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.

Jari-jarinya berhasil mengusap pipinya yang hangat namun lembut, wajahnya yang tenang membuat segala kepenatannya menghilang begitu saja tanpa ada sebabnya. Mungkin ini yang mengakibatkan dirinya terus mencintainya. Hari ini dan selamanya.

Ya, Jungkook telah pulang tepat pukul jam dua belas malam. Keterlaluan memang, ini pertama kalinya Jungkook meninggalkan Heewon selama ini sampai larut malam, terakhir Jungkook pulang telat hanya menunjukkan pukul delapan malam tak lebih. Ada apa?

Rengkuhan yang Jungkook berikan membuat Heewon terhenyak, membuka matanya perlahan membuka yang sedikit menyipit. Pandangannya difokuskan sebentar, menyesuaikan keadaan.

“Jungkook—“ panggilnya serak. Heewon tersenyum ketika sang suami telah pulang dan menyambutnya dengan dekapan hangatnya. Tak ambil pusing, ia eratkan pelukan itu dan menyimpannya pada dada bidangnya.

“Aku merindukanmu, suamiku.” Ucapnya kembali. Ia menghirup aroma Jungkook yang memang sangat dekat. Namun, aromanya berbeda sebelum ia meluncurkan diri pada gedung perusahaan. Ini.. sangat aneh. Atau mungkin penciumannya agak terganggu akibat hormon kehamilannya?

“Jung—“

“Ya?”

Refleks. Heewon melepaskan pelukannya itu dengan kasar, menatap Jungkook keatas yang memang lebih tinggi darinya

“Ada apa, sayang?” ucap Jungkook yang digandrungi keheranan. Lantas Heewon bangkit dan memalingkan wajahnya tanpa memperdulikan sang suami yang menatapnya kini. Ia melipatkan tangannya pada dadanya kini dan tak memperdulikan Jungkook yang sama bangkit dan menaruh kepalanya pada bahunya.

Tak bisakah ia peka?

“Apa yang kau lakukan tadi disana?” ucapnya dingin.

Kerutan dari dahi Jungkook mulai muncul ketika sang indra pendengarannnya menangkap sebuah kalimat yang membuat dirinya berpikir keras. Namun, tubuh Heewon ia dekap kembali; menyalurkan kehangatan yang mungkin bisa mencairkan suasana.

“Tentu saja mencari nafkah.” Balasnya tenang. Heewon tak suka Jungkook membalasnya dengan nada seperti itu, seperti tak ada masalah sedikitpun menurutnya. Huh.

Ketika acara pelukan hangat yang Jungkook selalu berikan selama ini, baru kali ini ia tak menyukainya sedikitpun. Dan lebih menyingkirkan tangan besarnya yang kini memegang pinggangnya. Gangguan aroma itulah yang membuat Heewon tak merasa enak.

“Jujur saja!”

“Aku jujur, Heewon.” Ia masih tak percaya pada suaminya kini. Jawabannya tak mengandung kepuasan hati.

“Lantas bau apa ditubuhmu itu, Jung? Feminism sekali! Kau mengganti parfum-mu, huh?”

Mengerti ucapan sang istri, Jungkook menghirup aroma tubuhnya berkali-kali dan berpikir sesaat apa yang dihirupnya kini. Namun, kecurigaan yang dibuat oleh sang istri tak membuatnya menemukan jawaban. Kini ia menatap Heewon yang tengah dilanda si jago merah di irisnya itu. Ia bergidik ngeri melihat Heewon yang memandangnya tajam dan membuatnya tak berkutik.

“Tidak bau apa-apa, kok.”

“Apa? Dasar tak peka! Ayo cium lagi!”

Jungkook menurut, menghirupnya kembali pada area ketiaknya itu.

“Hehe.. Maafkan aku, Heewon.” Kekehnya pelan. Heewon memutar bolanya malas, tangannya berhasil memukul dada bidang Jungkook dengan cukup keras.

“Aw! Sakit Heewon.”

“Lebay sekali dirimu! Cepat mandi, atau kau tak bisa tidur disini. Tidur diluar sana!”

“Kau kejam sekali.”

“Aku bukan kejam tapi tegas.” Balasnya sengit. Jungkook tersenyum-senyum sendiri membuat Heewon menatapnya ngeri. Jangan-jangan Jungkook tengah kesurupan!

“Benarkah?” ujarnya sembari mencolek dagunya kini. Ia terkekeh pelan melihat Heewon yang menatapnya kesal tak kepayang. Menggoda sang istri sedang serius menyenangkan juga ternyata.

“Ayo cepat!”

“Tidak mau. Bagaimana jika suamimu ini terserang encok dadakan, hm? Siapa yang bertanggung jawab?”

“Memangnya aku bodoh, Jungkook. Di kamar mandi kita sudah tersedia otomatis air hangat.”

“Yasudah jika kau memaksa, istriku tercinta… Tapi, ada syaratnya!” Heewon berdecih pelan dan mendorong tubuh Jungkook yang semakin menghimpit tubuhnya. Mandi saja harus ada syaratnya, bagaimana yang lain? Gumamnya dalam hati.

“Mandikan aku jika kau tak ingin terserang oleh benda lembap kesukaanmu ini.” Ucap Jungkook disertai menjilat bibirnya perlahan.

Turuti saja Heewon jika kau ingin selamat!

 

TBC

Fyyuuhh.. akhirnya udah te-be-ce juga hehehe.. makasih readers udah baca FF gaje-ku ini. Tunggu di pt.4 yaaa!

coolbebh_

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Time Life Chapter 3

  1. mifta

    ini ambigu deh, itu cuman bau ketek, apa si kookie iseng pake parfumnya heewon makanya kok bau feminim, atau selingkuh? ini yang bener mana? Thor… Si kookie udah besar. Baru aja kemaren rasanya lulus teka. :3 over all? good.

    Like

  2. mifta

    aawww finally… The most story yg ane tunggu2 tlah lahir. Sempet putus asa. Pasrah. Kapan nih admin nim ngepublish nya. Padahal si autornim udah ngirim. huhuhu, belom dibaca. Simpen buat ntar malem biar feelnya makin kerasa. Makasih, tengkyu. Laf yu.

    Like

  3. Pingback: [BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Time Life Chapter 3 – coolbebh

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s