[Ficlet] To Have No Regrets

namjun

to have no regrets

a ficlet by tsukiyamarisa; part of An Ode to Youth series 

BTS’ Kim Namjoon

730 words | AU, Life, Friendship | 15

.

“Tapi, yang tak ia mengerti, mengapa waktu tak bisa berjalan seorang diri?”

.

.

.

.

 

“Kau lebih memilih project itu dibandingkan kompetisi tahunan yang biasanya kita ikuti? Kau serius, Hyung?”

“Namjoon-a, kau tahu betapa berartinya project ini, kan? Dan kau juga tahu jika deadline-nya terlalu dekat dengan hari berlangsungnya kompetisi, bukan?”

“Tapi, biasanya kita mengikuti kompetisi ini—“

“Tidak untuk tahun ini, Joon. Maaf.”

Satu kalimat bernada mengakhiri, dilontarkan oleh seorang Min Yoongi seraya dirinya berjalan keluar dari studio. Jelas sudah bahwa kawan Kim Namjoon yang satu itu tak ingin memperpanjang konversasi, pun melanjutkan perdebatan yang dianggap membuang-buang waktu. Bahkan, samar-samar, Namjoon bisa mendengar debam pelan pintu studio sebelah. Diikuti dengan dentuman musik yang membahana, pertanda bahwa sang sahabat sudah kembali menenggelamkan diri di dalam track lagu terbarunya.

Dammit!”

Menarik napas panjang-panjang, Namjoon berusaha menenangkan dirinya. Tetapi, sekelebat pandang ke ruang studionya malah mengacaukan usaha itu. Kertas-kertas yang bertebaran; track setengah jadi yang mendapat komentar buruk dari Yoongi; coretan kata-kata yang tak lagi seindah dulu lantaran Namjoon membuatnya dalam keadaan emosi. Semua itu malah mengingatkannya akan segala perubahan yang ada, yang membuatnya ingin menjambak-jambak rambut saking frustasinya.

My life’s suck.

Menyalahkan kehidupan, itulah yang Namjoon perbuat selagi ia mengempaskan diri di kursi terdekat. Jemari terangkat untuk memijat pelipis, berpolah seakan ia bisa mengusir semua ingatan akan kejadian buruk dari dalam pikiran. Namun, layaknya usaha Namjoon yang sia-sia tadi, kali ini pun demikian. Sang lelaki malah semakin mengingat semuanya, termasuk keputusan Hoseok—teman akrabnya yang lain—untuk mengikuti sebuah pelatihan dance. Keputusan yang tak bisa sepenuhnya ia salahkan, tapi tetap menghadirkan rasa terabaikan di dalam dada.

Karena sungguh, Kim Namjoon tak mengerti mengapa rutinitas mereka mulai berubah seperti ini.

Dulu, mereka bertiga selalu mengikuti kompetisi membuat lagu bersama. Menghabiskan jam-jam di dalam studio, menyusun nada serta lirik diikuti gelak tawa. Argumen adalah sesuatu yang jarang terjadi—atau jikalau terjadi pun, hanya akan bersifat candaan. Hidup mereka kala itu sederhana, dan Namjoon menyukainya lebih dari apa pun juga.

Sampai waktu berjalan.

Ya, waktu selalu berjalan. Namjoon tahu itu. Tapi, yang tak ia mengerti, mengapa waktu tak bisa berjalan seorang diri? Mengapa ia harus mengajak seseorang bernama perubahan bersamanya? Tidak adil bukan, bagaimana waktu dan perubahan senantiasa bisa bersama sementara yang lain dipaksa untuk menyesuaikan diri?

Bagi Namjoon, itu sangat tidak adil.

Namjoon tidak suka menyesuaikan diri; atau tepatnya, ia benci melihat kawan-kawannya menjauh. Ia merindukan masa-masa ketika perdebatan bukanlah sesuatu yang mendominasi, ketika obrolan mereka tidak ditutup dengan rasa kecewa. Ia ingin mendiskusikan musik serta lagu-lagu favoritnya dengan mereka, bukan malah terlampau sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, sekali lagi, apa bisa Namjoon menyalahkan mereka?

Well, ia tidak bisa.

Ia toh tahu jika Yoongi dan Hoseok hanya sedang berusaha menggapai mimpi mereka. Sesuatu yang sudah mereka kejar semenjak duduk di bangku sekolah, yang akhirnya bisa mulai terkabul setelah bertahun-tahun memeras keringat serta air mata. Itu tidak salah, hanya saja…

“It’s okay right, to miss the past?”

Tahu bahwa mempertahankan emosi tak akan banyak berguna, Namjoon pun meraih segumpal kertas yang ada di dekat kakinya. Dengan lamat-lamat meratakannya, seraya batinnya terus-menerus berkata betapa kertas itu tampak serupa dengan hidupnya. Penuh dengan luka, penuh kerusakan, berantakan, dan tak indah dipandang. Namjoon yang sekarang pasti tampak seperti itu, sehingga wajar bukan jika ia menginginkan masa lalunya kembali?

Kalau boleh, Namjoon ingin kembali ke masa lalu saja.

Bukan karena ia memiliki penyesalan, bukan pula karena ia ingin mengubah sesuatu. Malah, di situlah letak perkaranya. Ia tak punya penyesalan, ia punya hidup yang lebih tertata di masa lalu. Absennya rasa sesal adalah pemicu dari semua ini, penambah rasa sesak di dada lantaran Namjoon tahu bahwa ia tak akan pernah bisa menjejak masa yang telah lesap.

Menyebalkan, memang.

Tetapi, apa lagi yang bisa Namjoon lakukan?

Apa yang bisa ia perbuat selain kembali menyeret diri ke hadapan komputernya, membuka software pembuat lagu, dan kembali menyusun nada-nada agar tak sumbang? Apa yang bisa ia lakukan selain melanjutkan hidupnya sendiri?

Tidak ada.

Kim Namjoon tak bisa memikirkan hal yang lain. Ia boleh saja merasa kesal, marah, rindu, dan  kesepian. Ia boleh merasakan semua itu. Apa pun, asalkan ia bisa tetap bertahan dan memastikan bahwa dirinya tak akan sering berjumpa dengan penyesalan. Karena bagaimanapun juga, masa lalu yang tanpa rasa sesal lebih baik daripada masa lalu yang dipenuhi penyesalan, bukan?

Itulah alasan mengapa Namjoon akan terus berjalan.

Sederhana saja.

Karena suatu saat nanti, ia juga ingin mengingat masa-masa ini dengan senyuman sembari berucap:

.

.

“I have no regrets; and I miss the past times, again.”

.

fin.

Dream. Hope. Keep Going.

Do read this with Young Forever as the background song (that’s what I did when I wrote this anyway)

And see you next week! ❤

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet] To Have No Regrets

  1. YA ALLAH KAKK AKU PENS MU SEJAK LAMA PLZ HIKSEU HIKSE FF MU PENUH MAKNA SELALU DAN… KALI INI BAWA2 DREAM HOPE KEEP GOING. ADOHHH MATI AKUU
    TERUS NULIS KAKKK!! I LOVE UR FF AS ALWAYS!

    Btw maapkan pens durkamit mu ini 😦

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s