[Ficlet] What Adults Don’t Know

jungkook
what adults don’t know

a ficlet by tsukiyamarisa; part of An Ode to Youth series 

BTS’ Jeon Jungkook

775 words | AU, Life | 17

.

“Karena sungguh, apa gunanya menerima bimbingan dari orang-orang macam mereka?”

.

.

.

.

 

Jeon Jungkook benci orang dewasa.

Orang dewasa selalu saja bertingkah seenaknya, orang dewasa senantiasa membuat emosinya naik ke ubun-ubun. Orang dewasa adalah mereka yang hobi bertingkah sok, berlagak tahu segalanya di dunia ini. Mereka juga sering memberikan nasihat yang kadang tak berguna, namun mengiringnya dengan senyum manis-nan-mengancam sehingga kau akan kesusahan membantah. Pura-pura terlihat tulus, hah? Oh, merekalah ahlinya.

Kata pepatah, kebijaksanaan itu meningkat seiring dengan berjalannya umur, bukan?

Well….

“Bullshit,” decak Jungkook, seraya ia—dengan sengaja—membanting pintu ruang guru hingga tertutup. Lelaki itu baru saja selesai mengumpulkan tugas milik teman-teman sekelasnya; tepat ketika ia tak sengaja mendengar obrolan yang membuat amarahnya mendadak mendidih.

Anak-anak itu, berkata seakan-akan mereka yang paling benar. Apa sih, susahnya mengerjakan semua tugas dengan kemampuan sendiri?”

“Hei, Guru Choi, anak di kelasku malah dengan sengaja berkata ‘Tugas ini terlalu banyak, kami juga punya hal lain untuk dikerjakan.’ Memang, apa sih yang mereka kerjakan? Bermain dan merusak diri?”

“Anak muda memang tak mengerti apa-apa, Guru Lee. Mereka belum sebijak kita yang sudah melewati banyak hal. Mereka masih butuh bimbingan.”

Cih, bimbingan, ya?

Hanya itu yang melintas di kepala Jungkook, selagi ia—lagi-lagi dengan sengaja—tidak memberi salam ataupun sapa pada kedua guru yang sedang berbincang tersebut. Masa bodoh dengan mereka, lantaran otaknya sudah keburu melontarkan barisan-barisan kalimat sarkastis dan enggan untuk dibungkam kembali.

Karena sungguh, apa gunanya menerima bimbingan dari orang-orang macam mereka?

Orang-orang yang berpikir jikalau masa muda itu hanya digunakan untuk belajar, mengerjakan tugas, mengejar nilai tinggi, dan—voila!—kesuksesanmu pun akan dijamin.

Yeah, yeah, omongan sampah, memang.

Mata mereka itu diletakkan di mana, sih?

Tidak bisakah orang dewasa melihat jika masa muda itu lebih rumit dari yang dibayangkan serta dilisankan? Lupakah mereka akan masa-masa itu—sesuatu yang pastinya juga sudah pernah mereka lalui? Dan lagi, apa hak orang dewasa untuk menilai bagaimana cara anak-anak muda sepertinya hidup? Mengatakan bahwa pemuda seperti Jungkook punya kehidupan yang mudah dan lancar, yang jauh berbeda dengan kehidupan di masa lalu?

Enak sekali ya, kalian bisa bekerja paruh waktu di restoran cepat saji seperti ini. Mudah dan tidak terlalu menantang, jika dibandingkan dengan….”

Yah, Jungkook tak begitu ingat apa persisnya perbandingan yang disampaikan oleh bapak tua berkumis menyebalkan itu. Ia hanya ingat bahwa dirinya terpaksa memberikan senyum kala itu, sembari tangan menyodorkan beberapa lembar uang kembalian—masih untung Jungkook tidak melemparkannya ke wajah si bapak. Namun, senyum itu hanyalah senyum. Sesuatu yang tak bermakna, topeng yang ia pasang sampai jam kerja paruh waktunya berakhir. Barulah setelahnya, ia mengumpat dan memaki. Menyumpahi-nyumpahi agar segala hal yang buruk menimpa orang-orang dewasa macam tadi, semata-mata hanya karena satu alasan sederhana.

Jungkook lelah.

Sekolah, bekerja demi tambahan uang agar ia tak merepotkan ibunya, dan masih harus ditambah dengan berbagai komentar busuk. Wajar kan, kalau ia lelah? Hidupnya dicap “kurang menantang”, ketika ia sendiri harus bersusah-payah untuk melaluinya. Lagi pula, pekerjaan paruh waktu macam apa yang harus ia lakukan agar bisa dianggap menantang? Bagi Jungkook, menghadapi berbagai pelanggan yang menyebalkan seperti si bapak idiot tadi sudah cukup melelahkan, kok.

Ah, atau kalian masih butuh lagi alasan mengapa Jungkook benci orang dewasa?

“Selalu menganggap diri mereka paling benar, seperti biasa.”

Yep, fuck them.

“Kautahu, ibu-ibu yang tinggal di sebelah flatku dengan seenaknya memintaku membawakan tas-tas belanjanya. Bukan masalah sih, tapi—shit, tidakkah ia punya mulut untuk mengatakan terima kasih? Alih-alih, ia hanya melenggang dan berkata ‘Anak muda memang bisa diandalkan. Itu gunanya kalian, kan?’

“Diandalkan,” dengus Jungkook, sembari ia mendengarkan cerita Taehyung—kawannya—yang masih tampak berapi-api. “Memang kita ini robot atau semacam barang? Kenapa mereka selalu berpikir bahwa kita tahu segalanya dan bisa diperintah apa saja?”

Sang sahabat hanya mengedikkan bahu, pura-pura berpikir sebelum ia akhirnya menjawab, “Entahlah. Mungkin mereka merasa berkuasa dan menjadi malas menggunakan otak? Kuharap otak dan hati mereka tidak karatan, itu saja sih.”

Gelak tawa kompak lantas terdengar memecah senja, diiringi dengan suara musik keras yang sengaja Jungkook setel melalui ponselnya. Keduanya kini duduk di salah satu kursi taman yang tersedia, biarkan orang-orang dewasa yang melintas berikan pandangan mencela. Orang-orang yang amat Jungkook benci, yang senantiasa membuatnya ingin memamerkan kepalan tangan, sampai—

“Tapi, suatu saat nanti, kita akan menjadi dewasa juga.”

—sampai Taehyung berkata demikian.

“Aku tahu.”

“Kita akan jadi menyebalkan, kita akan dibenci anak-anak muda, serta—“

“Kita akan baik-baik saja,” potong Jungkook, teramat mendadak tetapi juga penuh dengan keyakinan. “Aku benci orang dewasa, tetapi mengingat kita tidak bisa menolak bertambahnya umur….” Jeda sejenak, sembari Jungkook mengulurkan kelingkingnya ke arah sang sahabat. Bermaksud untuk membuat janji, untuk mengingat betapa susahnya masa-masa muda, serta untuk menjadi seseorang yang berbeda di masa depan nanti.

.

.

.

“Kalau besok aku jadi menyebalkan saat sudah dewasa, hajar saja aku, oke?”

.

fin.

a.n.

Not a really bright topic, yeah.

But hope you can get the point of this story, though *cross finger*

Advertisements

10 thoughts on “[Ficlet] What Adults Don’t Know

  1. Kelewat batas kali ya, soalnya aku disini yang lagi merasakan itu /naayo/
    Masih muda, ngena bgt sma nih ff ㅋㅋㅋ Bener ya, anak muda itu punya pikiran yg beda dgn org dewasa.. Mereka ga tau gmn kita stres belajar di samping kegiatan lain dan masih bilang “apa sih susahnya begini? apa sih susahnya begitu?”
    Bagi aku ini bener, tapi gatau kedepannya soalnya pas baca komen ternyata kebanyakan sudah dewasa wkwk..
    “Kalau besok aku jadi menyebalkan saat sudah dewasa, hajar saja aku, oke?”

    Like

  2. Pingback: [Challenge] An Ode to Youth – Chamber of Fiction and Fantasy

  3. sepikiran ma ff ni gue..
    akhirnya ada sebuah tulisan yg bisa menjabarkan kekesalan gue ma orang dewasa..
    akhir2 ni emang gue kesel banget ma bapak2 tua yg ada di tmpat kerja gue *kok mlah curhat 😛

    suka banget ma ff nya, omoooo
    keep writing and fighting 😀

    Like

  4. Dulu sering nih mikir kyk gini, orang dewasa tuh ngeselin, gak mau tau tapinya sok tau…
    Eh, pas udah dewasa /sebenernya ini msh hrs dipertanyakan dg sangat, kkk/ ternyata sama nyebelinnya ha ha.
    Cuma masalah waktu aja sih yaa, nanti jg bakal ngerti kok knp orang2 dewasa kyk gitu, dan tahap mencoba mengerti itu yg susah. Secara masa muda itu ga mudah…

    Selalu suka baca ceritanya Kak Amer ❤

    Like

  5. Kim Soo In

    Biar gue tebak lo lagi marah sama orang dewasa itu kan kak?
    Ih sotoy dahh,,haha soalnya jalan cerita itu tergantung moodnya penulis..
    Kalau waktu heppiii ya bikin yang berbunga” semanis lollipop tp kalau lagi bete ya dibikin se dark”nya sampe ngalahin seremnya film horor ,,nah yang paling nyebelin nih ff yang bikin gue nangis.. Abis ketemu nyokap dikira gue abis patah hati /curhat/ haha..

    Ndak papalah asalkan mazz Jungkook tetep keren gue gak bakal protes.. Tp karakternya dia kurang ajar cuy *ini protes sih*
    Haha okelah cukup sekian curhatan dd pada kk,muah

    Like

  6. Aku tau kok… emang orang dewasa selalu menganggap yg lebih muda itu nggk dewasa. Soalnya aku juga kadang nganggap adekku gak dewasa gitu tapi sebenernya mereka emang udah memiliki oemikiran sendiri setidaknya buat masa depannya /lah sumpah komenku belibet gini/ intinya aku mau dewasa bareng dd jungkook bhahahah.

    Makasih ficnya kaamer :’)

    Like

  7. Mer ameerr kyaaaaaaaa /salah/
    Assalamualaikum /.\
    Aku baca fic ini pagi2 antara mau nyengir sampe mau meringis yaa memaknai tiap paragrafnya mwehehe
    Dari judulnya udah kebayang sosok jjk yang mewakili generasi muda menjadi makhluk-yang-selalu-salah dan yaa aku suka banget baca fic narasi kaya gini tau gaksi merr /gatau py mboh/ yaudah kasi tau doang kenapa sih/lalu dibuang
    Tbh aku bacanya sambil mikir mau dibawa kemana endingnya mwahahahha iya ini tamparan sekali. Pukul saja aku yang waktu kecil suka bilang “orang dewasa ngeselin” tapi waktu dewasa juga sama ngeselinnya /brb beli kaca lima meter persegi//
    Intinya ini nampol banget terimakasih untuk sentilannya shenpai /bhay/

    Like

  8. Pertamax!
    Sebelumnya mau kenalan dulu. Halo, aku Ajeng. Emang jarang mampir ke sini tapi entah kenapa malem ini mampir, mungkin salah satunya karena tulisan mbak Tsuki(?) ini.
    Tulisannya bagus, maknanya juga nyampe.
    Aku jadi inget omongan orang dewasa yang selalu membanding-bandingkan generasi beliau dengan generasi milenium.
    “Dulu jamanku ga ada tuh henpon-henponan. ”
    “Dulu semua orang berangkat sekolah jalan kaki, naik sepeda itu udah ‘wah'”
    “Dulu ini ….”
    “Dulu itu ….”
    Tiap denger perbandingan yang aku rasa nggak imbang itu aku juga cuma bisa senyum aja kayak Jungkook. Menurutku kalo terus-terusan bandingin sama masa lalu kapan kita bisa maju? Iya nggak sih? Yang lain udah bisa liburan ke bulan kita masih aja sibuk bahas betapa kerasnya perjuangan orang-orang dulu yang katanya nggak semudah kayak sekarang.
    Bukannya nggak menghargai perjuangan yang udah-udah sih tapi yaaaaaah… kalo orang dewasanya kayak yang ditemuin Jungkook gitu ya males juga kalilaaaaaaah.
    Dan sebenernya pola megalomania ini selalu berulang kalo kata aku ya. Kalo versi sekarang tuh biasanya generasi 90an yang selalu ngerasa generasi mereka paling oke, paling eco-friendly dibanding anak-anak generasi gadget (aku juga generasi 90an kok, jangan hujat aku) cumaaan yaudah sih past is past. Jamannya udah beda. Mengesampingkan penyalahgunaan teknologi yang berakhir dengan hal-hal berbau kriminalitas dan kecanduan gadget ya, ada juga kok anak-anak di luar sana yang menggunakan teknologi masa kini dengan bijak. Kadang sering sedih juga liat berita isinya yang jelek-jelek kayak kita tuh nggak pernah melakukan sesuatu yang memabanggakan aja.
    Tunggu ….
    Kenapa-aku-jadi-rambling-gini.
    Aduh, maaf ya. Sekian aja deh komentarnya.
    Terima kasih untuk bacaan yang bermanfaat ini, bisa buat intropeksi sekaligus membuat janji agar menjadi orang dewasa yang fleksibel seburuk apapun masa muda.

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s