[BTS FF Freelance] Revenge (Oneshot)

Cover

Tittle : Revenge

Author : Kookie_HY

Genre : Drama, Romance

Rating :PG 15+

Length : Oneshoot

Main Cast : Jeon Jungkook

  Yoo Haeyeon

   Park Jimin

Disclaimer : BTS belong to BIGHIT, cerita dan OC adalah murni hasil pemikiran Author.

Pria itu mengikutiku. Dia menggunakan pakaian hitam dan juga topi hitam. Jika aku berhenti dia juga akan ikut berhenti, aku lari dia juga akan lari untuk mengikutiku. Aku benar-benar ketakutan, jalan yang aku lewati juga sangat gelap bahkan aku tidak bisa melihat seorangpun yang melewati jalan ini. Akupun memberanikan diri untuk berbalik dan bertanya kepadanya.

“Siapa kamu? Kenapa kamu selalu mengikutiku?”

Pria itu tidak menjawab dan menundukkan kepalanya agar aku tidak bisa melihat wajahnya.

“Apa yang kamu inginkan? Kamu mau uang? Baiklah ambil uang ini dan berhentilah mengikutiku.”Teriakku kepada pria itu sambil mengeluarkan semua uang yang ada dalam tasku.

“Aku tidak membutuhkan uangmu!”Ucap pria itu sambil berjalan mendekatiku. Aku seperti mengenal suara itu, tapi siapa?!

“La,,lalu a,,pa yang ka,kamu inginkan?”Aku semakin takut dan berusaha untuk menjauhi pria yang saat ini sedang berusaha untuk mendekatiku.

Kemudian dia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada ku.

“Aku akan membunuhmu…”

“HAEYEON-ah, bangunlah kamu harus segera pergi ke kampus.”

“Hahh,,hah. Ternyata hanya mimpi, syukurlah” Aku terbangun dengan suara ibu yang memanggilku. “Nae eomma!” Akupun segera bangun dari tempat tidurku dan bergegas untuk pergi ke kampus.

>>>

Saat perjalan ke kampus aku masih terus kepikiran dengan mimpi itu. Banyak pikiran aneh yang selalu datang menghantuiku.

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi.” Aku pun berusaha untuk tidak memikirkan mimpi itu.

Akhirnya aku pun sampai di kampus.

Rasanya sangat senang melihat kampus ini lagi. Kampus yang dimana tersimpan banyak kenangan bersama orang-orang yang aku sayang, bersama sahabat ataupun,,, ataupun bersama pacar aku.

Baru beberapa langkah aku turun dari mobil tiba-tiba ada yang merangkulku dari belakang.

“Aaaa!” Aku kaget dan tanpa ku sadari teriakan itu keluar dari dalam mulutku.

“Hei, kamu kenapa sih? Biasanya juga kamu nggak pernah kaget kayak gitu.” Suara itu berdengung(?) ditelingaku. “Ah, Jimin. Aku pikir siapa.”

“Kamu kenapa? Sakit?”Tanya Jimin sambil memegang dahiku.

“Anni, mungkin masih kebawa sama mimpi yang tadi”

“Mimpi? Mimpi apa, kenapa bisa sampai segitunya?”

“Ah, udahlah lupain aja.”Ucap ku sambil berjalan dan diikuti oleh Jimin.

Ya, dia adalah Jimin, Park Jimin. Sahabat aku sejak kecil. Dan mungkin dia adalah sahabat satu-satunya yang aku punya. Jimin juga bersahabat dengan pacar ku, Jungkook. Kalau nggak salah mereka sudah bersahabat sejak SMA. Dan mereka berdua adalah orang yang berarti buat aku setelah kedua orang tua ku.

Dan kalau di suruh memilih antara Jungkook dan Jimin, aku pasti enggak akan bisa memilih salah satu di antara mereka. Dan yang terpenting selama ini Jungkook tidak pernah marah kalau aku sering bareng sama Jimin, bahkan kadang aku sempat berfikir apa Jungkook beneran cinta sama aku. Karena dia nggak pernah sama sekali cemburu sama Jimin.

>>>

Setelah mata kuliah selesai aku segera keluar dari ruangan dan menuju ke kantin sekolah.

Sesampainya di kantin aku bukannya makan malah mencari-cari seseorang yang sejak tadi pagi tidak terlihat. Karena biasanya dia akan menungguku disini sambil mengirimkan pesan yang isinya selalu ‘Aku merindukanmu’ Dan aku akan segera ke kantin untuk menemuinya.

Tapi sekarang aku yang harus menunggunya.

“Jungkook kemana sih? Dari tadi di telfonin nggak di angkat.”

Dan akhirnya orang yang dari tadi aku tunggu udah duduk dengan santainya di depan aku.

Kami berdua masih saja diam sambil menatap satu sama lain. Aku menatapnya dengan penuh kemarahan dan dia hanya menatapku bingung.

“Wae?” Dia bertanya dengan nada yang manis dan tatapan yang akan membuat semua wanita tidak akan berkutik. Dalam hatiku sudah sangat ingin memarahi laki-laki yang sangat aku cintai ini, tapi mulutku sangat susah untuk mengeluarkan semua amarahku.

“Anniya”Hanya kata itu yang bisa keluar dari dalam mulutku, akupun segera memalingkan wajahku agar tidak terlalu terpesona dengan ketampanannya.

Dan setelah itu kami melanjutkan pembicaraan kami.

>>>

Malam ini aku akan pergi kencan bersama Jungkook. Setiap kali aku menunggunya aku selalu merasa gugup seakan-akan ini adalah kencan pertama kami. Tapi apa mungkin Jungkook juga merasakan hal yang sama? Apa aku saja yang terlalu berlebihan?

Tiba-tiba ada sebuah mobil yang tidak  aku kenal berhenti tepat didepanku. Aku berusaha untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil itu. Bukannya keluar dari dalam mobil tapi orang yang berada di dalam hanya melemparkan sebuah kotak berwarna merah. Aku benar-benar kaget melihat kotak itu.

“Kotak ini lagi.” Ini sudah sekian kalinya aku mendapatkan kotak ini. Kotak yang di dalamnya  berisi boneka yang sudah berlumuran darah dan juga sebuah kertas yang bertuliskan ‘Aku akan membuat DIA menjadi seperti boneka itu’. Akupun menjatuhkan kotak itu.

Awalnya aku hanya menganggap orang yang melakukan ini hanya orang yang ingin menakutiku saja, tetapi setelah mimpi pada hari itu aku jadi sangat takut. Bagaimana kalau mimpi itu adalah pertanda?

Dan saat itu juga ponselku bunyi dan ternyata Jungkook yang menelfonku.

“Jungkook-ah, kamu dimana?”Tanya ku dengan nada yang sangat khawatir.

“Dibelakangmu” Aku langsung berbalik dan ternyata dia benar-benar dibelakangku.

Aku yang melihat Jungkook langsung saja memeluknya. Aku takut kalau orang yang dimaksud pengirim kotak ini adalah Jungkook.

“Kamu kenapa?”Tanya Jungkook, dia juga membalas pelukanku sambil membelai lembut rambutku.

“Aku takut.” Aku semakin mempererat pelukanku.

“Kamu takut kenapa? Hmm?” Jungkook melepaskan pelukan kami dan langsung melihat kearahku sambil memegang kedua pipi ku.

Aku pun menunjuk kearah kotak itu. Setelah itu Jungkook langsung saja mengambil kotak itu dan segera membukanya. Benar saja kertas itu berisi sebuah boneka yang sudah berlumuran darah beserta sebuah kertas.

“Siapa yang memberikannya?”Jungkook bertanya dengan ekspresi wajah yang sangat marah. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

“Ini nggak bisa dibiarin, kita harus melaporkan ini ke polisi. Biar mereka yang akan menyelidiki ini.”

“Enggak, aku nggak mau.”

“Kalau dibiarin gini aja orang itu pasti bakalan gangguin kamu terus.”

“Tapi kalau orang itu sampai nekat gimana? Aku nggak mau kalau orang yang di maksud itu adalah kamu.” Aku semakin menangis sejadi-jadinya. Jungkook pun kembali memelukku lagi.

“Kamu tenang aja, aku janji sama kamu kalau aku akan baik-baik saja. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan kamu. Pokoknya kita harus melaporkan ini ke polisi.”Akupun mengangguk.

Setelah itu kita batalin kencan kita dan segera menuju ke kantor  polisi. Dan aku menceritakan semuanya, tapi sayangnya bukti yang aku punya tinggal kotak itu saja, karena kotak yang lalu udah aku buang.

>>>

Diperjalanan pulang aku masih saja merasa khawatir dan tiba-tiba Jungkook menghentikan mobilnya. Aku kaget saat Jungkook tiba-tiba memegang tanganku.

“Kamu masih memikirkan kotak itu?”Aku hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jungkook.

“Udah kamu nggak usah mikirin kotak itu lagi, aku akan selalu jagain kamu. Dan aku juga akan menjaga diri aku. Jadi kamu nggak usah khawatir, polisi juga akan berusaha untuk menemukan orang itu.” “Sekarang kamu tenangin diri kamu dulu, disitu juga ada mini market aku akan kesana untuk membeli minuman untukmu.” Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

Saat Jungkook keluar dari mini market itu tiba-tiba ada sepeda motor yang berhenti, orang yang berada di motor itu turun sambil membawa sebuah kayu dan berjalan kearah Jungkook.

“JUNGKOOK-ah AWAS!” Jungkook yang mendengarnya langsung melihat kearahku dan orang itu juga lari dan melaju kencang dengan sepada motornya. Aku berlari menuju ke arah Jungjook

“Jungkook-ah orang itu berusaha untuk melukaimu.” “Kalau orang itu datang lagi gimana? Gimana kalau dia akan mencoba untuk melukai kamu lagi?.”Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi, aku benar-benar takut. Tapi Jungkook terus saja berusaha untuk bisa menenangkan diriku.

“Udah kamu tenang aja ya, kita pulang sekarang. Ayo”Jungkook membantu ku untuk berjalan ke mobil.

Kenapa orang itu berusaha untuk melukai Jungkook? Jika dia memang benci kepadaku kenapa dia tidak melukai aku saja.

>>>

Sebulan kemudian setelah kejadian itu, aku sudah tidak pernah menerima kotak itu ataupun melihat orang yang berusaha untuk melukai Jungkook.  Akupun menjadi lebih tenang sekarang. Tapi biar bagaimana juga aku masih belum mengetahui orang itu dan apa tujuannya. Bahkan polisi juga belum memberikan kabar apa-apa. Mungkin saja sekarang dia berada di sekitarku.Tapi selama dia tidak menyakiti orang-orang yang aku sayang itu tidak akan jadi masalah buat aku.

Tapi sepertinya ada yang aneh saat ini, aku merasa sangat aneh karena sudah sebulan ini aku jarang bertemu Jimin. Mungkin kita ketemuannya baru 2 kali saja. Dan setiap aku bertanya dia pasti selalu ngomong kalau dia lagi sibuk sama urusan kampus.

Akupun memutuskan untuk menelfon Jimin. Tapi Jimin tidak mengangkat telfonnya. Mungkin saja dia sudah pulang. Jadi aku pun langsung bergegas untuk pergi ke rumah Jimin.

>>>

Jimin’s House

Sesampainya disana aku langsung di sambut oleh Eommanya Jimin, karena aku juga bukan sekedar dekat sama Jimin tapi juga dengan keluarganya.

“Ahjumma, Jimin udah pulangkan?” Tanyaku sesaat setelah aku di persilahkan duduk oleh Eomma Jimin.

“Iya, dia juga baru sampai. Tunggu ya. Jimin-ah, ini Haeyeon mau ketemu sama kamu!” Dan tidak lama kemudian Jimin langsung keluar dari kamarnya dan datang untuk menghampiriku.

“Ya! Kamu dari mana aja sih? dari tadi aku telfonin nggak kamu angkat.” Akupun langsung mengomeli Jimin.

“Mian, tadi aku capek banget jadi aku nggak sempat angkat telfon kamu. Dan sebenarnya aku juga udah mau istirahat, tapi kalau aku nggak segera nyamperin kamu, kamu pasti bakalan masuk ke kamar aku dan akan teriak-teriak kayak orang gila.” Jelas Jimin dan aku hanya bisa tertawa mendengar ucapan dia.

“Yaudah deh, kalau gitu aku balik aja yah. Aku juga sebenarnya cuma mau mastiin kalau kamu baik-baik aja.” Jimin hanya mengangguk. “ Mian, aku nggak bisa nganterin kamu kedepan.” “Oke. Kamu tidur aja sana.” Ucap ku sambil melambaikan tangan kepadanya.

Saat aku keluar, aku melihat orang yang mengantarkan paket untuk Jimin. Tapi entah kenapa aku sangat penasaran dengan paket itu. Setelah orang itu mengantarkan paketnya, aku segera menghampirinya.

“Maaf Pak, kalau boleh tau itu paket apa ya?”

“Ohh itu, itu paket boneka.”

“Boneka? Untuk siapa?”

“Saya juga kurang tahu, yang saya tahu orang yang bernama Park Jimin itu selalu memesan banyak boneka di toko kami. Jadi dia selalu meminta kami untuk mengantarkannya. Saya pergi dulu” Jelas orang itu sambil meninggalkanku yang masih bingung.

Akupun memutuskan untuk pulang. Tapi aku selalu memikirkan paket boneka yang di pesan Jimin. “Apa mungkin? Enggak, mungkin saja dia mau memberikan boneka itu kepada orang lain.” “Tapi, tadi katanya Jimin emang udah sering memesan boneka di toko mereka.” “Argh. Pokoknya aku nggak boleh berprasangka buruk dulu kepada Jimin.”

>>>

Hari ini adalah anniversary aku dan Jungkook yang ke 3 tahun. Nggak kerasa udah 3 tahun aku menjalin hubungan dengan Jungkook. Walaupun Jungkook orang yang sangat cuek dan nggak pernah romantis, tapi nggak tahu kenapa aku akan selalu merasa nyaman kalau bersama dia.

Bahkan dia pertama kali nyium aku sewaktu anniversary pertama kita, dan itu adalah first kiss kita berdua.

Untuk merayakan anniv kita yang ketiga, Jungkook mengajak aku dinner di café yang udah sering kita datengin.

Kata Jungkook dia mau jemput aku jam 07:00, tapi sampai jam 07:30 dia masih belum datang juga.

“Jungkook mana ya? Kenapa lama sekali sih?” Aku dari tadi udah mondar-mandir di depan rumah buat nungguin dia. “Awas aja kalau udah sampai, bakalan aku marahin habis-habisan dia.”

Aku makin bête aja nungguin dia. Marah? Emang aku bisa marahin dia? Dia pasti bakalan nunjukin senyum manisnya itu dan tatapan matanya yang bakalan membuat aku nggak bisa berbuat apa-apa.

Piip,,piip.. (ceritanya klakson mobil)

Akhirnya pangeran ku ini datang. Hanya dengan melihat pakaiannya saja sudah bisa membuat aku terpesona, gimana sama muka nya.

“Mian, aku telat. Tadi mama nyuruh aku buat nganterin mama ke rumah nenek. Dan jalanan juga macet, jadi aku telat deh.”Ucap Jungkook yang saat ini udah berdiri di depan ku.

“Ohh yaudah, kalau gitu kita berangkat aja.” Aku bilang juga apa, aku nggak bisa marahin dia.

Jungkook membuka pintu mobil buat aku dan di dalam mobil dia juga memasangkan seatbelt ku.

“Oh ya, aku mau bilang sesuatu sama kamu” Kata Jungkook tiba-tiba.

“Bilang apa?”

“Kamu kelihatan sangat cantik malam ini.” Aku yang mendengar ucapannya nggak bisa ngomong apa-apa lagi dan hanya bisa tersipu malu sambil memalingkan wajahku kearah luar, karena Jungkook juga jarang banget muji aku. Dan aku juga yakin di dalam hatinya sekarang dia lagi tertawain aku karena tingkah ku ini.

>

Akhirnya setelah beberapa menit kita sampai juga di café ini, café ini memiliki suasana yang sangat romantis jadi wajar saja kalau banyak pasangan yang suka untuk datang ke tempat ini.

Kita pun langsung menuju ke tempat yang sudah Jungkook pesan. Dan Jungkook memilih tempat yang emang sering kita tempatin setiap ke café ini. Di tempat ini ada kolam sama pohon-pohon kecil yang di gantung lampu yang berwarna-warni. Di tempat itu juga cuma khusus untuk satu pasangan, mungkin Jungkook emang cuma ingin berduaan aja.

“Haeyeon-ah”

“Hmm?” Aku menjawabnya sambil terus menikmati pandangan yang ada di sekelilingku.

“Ini udah ketiga kalinya kita ngerayain anniv kita di café ini. Kamu nggak keberatankan?”Tanya Jungkook. Akupun segera menoleh kearahnya.

“Yaa selama aku sama kamu, mau dimanapun aku bakalan senang.”Jawabku sambil memberikan senyuman manisku.

Setelah menghabiskan makanan kami, Jungkook langsung mengajak aku untuk pulang. Tapi saat aku berdiri Jungkook menahan tanganku.

“Wae?” Tanyaku yang menatap bingung kearahnya.

Tiba-tiba Jungkook mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Dan itu adalah sebuah kalung yang sangat indah yang baru kali ini aku lihat.

“I,, ini?”

“Iya, ini kalung untuk kamu. Kamu suka kan?” Aku pun mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Jungkook langsung memakaikan kalung itu di leherku. Aku melihat kalung yang sudah terpasang di leherku ini.

“Gomawo, kalung ini benar-benar cantik.” Saat aku mengangkat kepalaku Jungkook langsung menciumku, lebih tepatnya mengecup bibirku. Aku sangat terkejut dan aku tidak tahu harus apa lagi. Dan akhirnya kamipun saling menatap satu sama lain.

“Gomawo, karena sudah hadir dalam hidupku”Ucap Jungkook yang sukses membuat aku tersipu malu. Jungkook pun langsung memegang tengkuk leherku dan mulai mendekatkan bibirnya. Dan akhirnya kami berciuman, Jungkook menciumku dengan sangat lembut, saat aku akan membalas ciuman Jungkook tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Dan akupun melepaskan ciuman kami.

Dan saat itu Jungkook cuma bisa mendengus kesal.

Saat aku melihat ponsel ternyata Jimin yang menelfonku.

“Jimin?”Aku akan mengangkat telfon itu tapi tiba-tiba Jungkook menahan tanganku.

Jungkook menggelengkan kepalanya yang mengatakan bahwa dia tidak ingin aku mengangkat telfon itu.

“Tapi kenapa? Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan.” Dia masih saja memegang tanganku.

“Ini adalah momen penting kita, dan aku nggak mau siapapun mengganggu momen ini.”Ucap Jungkook yang kelihatan makin kesal.

Telfon itu mati dan tidak lama kemudian masuk pesan dari Jimin. Aku segera membaca pesan dari Jimin.

Dia mengatakan kalau Eommanya sedang kritis dirumah sakit, dan dia sangat membutuhkan aku untuk ada di dekatnya.

“Jungkook-ah, kita harus pergi sekarang. Eomma Jimin masuk rumah sakit dan aku harus kesana sekarang juga.”

“Jimin lagi jimin lagi!, kamu tuh bisa nggak sih, sehari aja nggak usah nyebut nama dia.”Aku bisa melihat kalau Jungkook sedang menahan amarahnya sekarang. Tapi aku juga nggak bisa biarin Jimin sendirian di saat seperti ini.

“Tapi Jimin sekarang sangat membutuhkan aku.”

“Jadi kamu pikir aku nggak butuhin kamu. Ini anniversary kita dan kamu masih saja mementingkan dia.”Suara Jungkook mulai keras dan sekarang dia benar-benar marah. Aku benar-benar kaget karena ini adalah pertama kalinya Jungkook marah.

Aku sangat khawatir kepada Jimin. Tapi aku juga nggak bisa meninggalkan Jungkook gitu aja.

“Kamu kenapa sih? Biasanya kamu nggak akan marah kalau aku akan pergi menemui Jimin. Kamu juga sahabat Jimin, jadi setidaknya kamu bisa ngertiin perasaan aku.”Aku berusaha untuk tidak marah, karena aku juga tahu jika Jungkook lebih mementingkan perempuan lain pasti aku juga akan marah, tapi aku harus bagaimana lagi Jimin pasti sangat sedih saat ini.

“Okey, kita akan pergi untuk menemui Jimin.” Akhirnya Jungkook bisa ngertiin aku, dan kamipun keluar dari café dan segera menuju ke rumah sakit.

>>>

Sesampainya di rumah sakit aku pun berlari untuk menemui Jimin.

Dan Jimin sekarang sedang terduduk lemah di kursi yang ada di luar ruangan Eommanya dirawat.

“Jimin-ah.” Jimin langsung berdiri saat mendengar suara ku.

“Ahjumma, baik-baik saja kan?” Jimin menggeleng.

“Eomma masih kritis dan dari tadi belum sadarkan diri.” Kasihan Jimin sekarang dia pasti sangat sedih.

“Kamu sabar ya, eomma kamu pasti akan baik-baik saja.”

“Iya kamu sabar aja, ahjumma pasti akan segera sembuh.”Ucap Jungkook sambil menepuk bahu Jimin.

“Gomawo, kalian udah mau datang kesini.” Aku dan Jungkook hanya bisa mengangguk.

Sekarang sudah jam 12 malam, sudah hampir 2 jam kita menunggu dan eomma Jimin belum juga sadarkan diri.

“Haeyeon-ah, ini sudah larut malam. Kalian bisa pulang sekarang.”Ucap Jimin.

“Tapi kamu gimana?”Tanya ku khawatir.

“Aku nggak apa-apa. Appa juga ada bersama aku, jadi lebih baik kalian pulang saja.”

Aku dan Jungkook pun pamitan kepada Jimin dan juga appanya.

>>>

Saat di perjalanan pulang aku dan Jungkook tidak berbicara satu sama lain karena pertengkaran kita sewaktu di cafe. Sebenarnya aku sangat ingin meminta maaf kepadanya, tapi aku tidak tahu harus bicara apa karena ini adalah pertama kalinya kita bertengkar.

Akupun memberanikan diri untuk meminta maaf kepadanya.

“Berhenti.”Ucapku tiba-tiba tapi Jungkook tidak mendengarkanku, dia masih saja menjalankan mobilnya. “Aku bilang berhenti!” Akhirnya dia menghentikan mobilnya.

“Kenapa berhenti sih? Ini kan udah larut malam dan kamu harus segera pulang ke rumah kamu.”

Aku tidak menghiraukan ucapannya.

“Kamu masih marah sama aku?” Aku bertanya kepadanya sambil melihat ke arahnya.

“Anni.”Meskipun dia mengatakan tidak, tapi aku tahu kalau sebenarnya dia masih marah.

“Kamu nggak usah bohong, aku tahu kamu pasti marahkan sama aku. Mianhae, jeongmal mianhae.”Sekarang aku sudah memegang erat tangan Jungkook. Dan Jungkook bahkan tidak melihat ke arahku.

“Iya aku maafin.”Ucap Jungkook sambil melepaskan tanganku. Dan dia belum mau untuk menatapku.

“Udah maafin tapi ekspresi kamu masih kayak gitu sih. Yaudah kalau kamu nggak mau maafin aku, aku bakalan turun dari mobil kamu dan aku nggak mau pulang sama kamu.”Sebenarnya aku hanya ingin menggertak Jungkook saja, lagian ini juga udah larut malam aku juga takut untuk pulang sendirian. Dan benar saja, saat aku mencoba untuk membuka pintu mobilnya Jungkook langsung memegang tangan aku.

“Kamu kayak anak kecil aja. Okey, aku akan maafin kamu, tapi dengan satu syarat.” Akhirnya aku bisa melihat senyumnya lagi. Tapi aku masih bingung syarat apa yang akan Jungkook berikan.

Dan Jungkook memberikan isyarat dengan menunjuk-nunjuk ke arah bibirnya. Dan aku tahu kalau Jungkook ingin aku menciumnya.

Tanpa menunggu lama aku langsung mencium bibirnya. Dan kamipun berciuman tidak lama. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

>>>

Setelah seminggu akhirnya Eomma Jimin sudah mulai membaik dan sekarang dia sudah bisa pulang. Aku juga ikut untuk mengantarkanya pulang ke rumah mereka.

Sesampainya di rumah Jimin, aku jadi kepikiran dengan paket boneka yang waktu itu di terima Jimin. Aku berpura-pura untuk meminjam laptop Jimin untuk sekedar membuka email ku.

Tapi saat berada di kamar Jimin aku terus mencari paket itu.

Saat membuka lemari pakaian Jimin aku melihat paket itu. Akupun segera mengeluarkan paket itu, setelah aku membukanya aku benar-benar kaget. Boneka yang Jimin beli sama dengan boneka yang selalu aku terima dari orang itu. Aku benar-benar takut sekarang, badan ku sangat gemeteran dan rasanya aku sangat ingin menangis. Yang ada dalam pikiran ku sekarang, Jimin adalah orang yang selama ini selalu menerorku dan aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini.

Aku kaget saat Jimin sudah berada di depan ku.

“Katanya kamu mau pinjam laptop aku, tapi kenapa….”Belum selesai Jimin berbicara aku langsung memotong pembicaraannya.

“Jadi kamu?” Aku berdiri sambil menatap Jimin dengan penuh amarah.

“Ma, maksud kamu?”Aku tidak tahu sekarang dia benar-benar tidak tahu atau hanya berpura-pura tidak tahu.

“Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu. Boneka ini,,”Aku menunjuk ke arah boneka-boneka itu, Jimin pun melihat ke arah boneka itu.

“Jadi selama ini kamu yang udah neror aku? Aku nggak nyangka kalau kamu adalah orang yang jahat.”Aku sudah tidak bisa menahan air mataku.

“Enggak, kamu salah paham. Aku bisa jelasin semuanya.”Jimin berusaha untuk memegang tanganku, tapi aku menepis tangannya dengan kasar.

“Jelasin apalagi? Hanya dengan melihat  boneka ini aku udah bisa tahu semuanya.” Saat aku ingin keluar Jimin berusaha untuk terus menahan aku untuk menjelaskan semuanya.

Sesampai di pintu kamar Jimin aku berbalik untuk mengatakan sesuatu kepadanya.

“Aku cuma mau bilang sama kamu, jangan pernah hubungin aku lagi dan jangan pernah mencoba untuk menyakiti Jungkook.” Setelah mengatakan itu aku pun pulang.

Aku masih belum percaya kalau ternyata sahabat yang sangat aku sayang itu adalah orang jahat yang selalu menakuti aku dan mencoba untuk melukai Jungkook.

‘Kenapa Jimin? Kenapa kamu harus melakukan ini?’

Mungkin Jimin mempunyai alasan kenapa dia harus melakukan ini, tapi tetap saja apa yang sudah dia lakukan ini sudah sangat keterlaluan.

‘Apa Jimin cemburu?’ Sekarang dalam benakku sudah ada begitu banyak pernyataan.

Sebenarnya sewaktu SMA Jimin pernah menyatakan cintanya sama aku, tapi aku hanya menyayangi Jimin sebatas sahabat saja dan itu tidak lebih.

>>>

Keesokan harinya Jungkook mengajak aku pergi ke pesta ulang tahun temannya.

Pestanya sangat mewah dan begitu banyak orang yang ada disana. Teman Jungkook juga kuliah di kampus yang sama dengan kami jadi wajar saja kalau banyak teman kampus kami disini.

Di pesta itu juga ada Jimin, tidak tahu kenapa aku jadi takut ketika melihat Jimin.

Dan akhirnya setelah beberapa jam pesta itu selesai dan Jungkook langsung mengajak aku pulang.

Saat melewati jalan yang sepi, aku melihat mobil yang mirip dengan mobil Jimin di hadang oleh 3 orang pria yang sangat menakutkan. Aku meminta Jungkook untuk berhenti. Saat kami berhenti Jimin keluar dari mobilnya dan 3 pria itu memukuli Jimin dan mereka membawa Jimin masuk ke dalam mobil mereka.

Aku panik sekaligus takut, bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Jimin.

“Jungkook-ah, kejar mobil itu, mereka pasti akan melakukan sesuatu kepada Jimin.”Jungkook langsung melajukan mobilnya dan berusaha untuk mengikuti mobil itu.

Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, aku benar-benar panik. Bahkan aku tidak sempat untuk menghubungi polisi.

Dan mobil yang membawa Jimin berhenti di sebuah rumah yang berada di dalam hutan. Aku dan Jungkook terus mengikuti mereka dengan hati-hati, Jungkook menghentikan mobilnya di tempat yang lebih jauh dari tempat mereka berada agar mereka tidak akan mengetahui keberadaan kami.

“Apa yang harus kita lakukan? Gimna kalau terjadi sesuatu kepada Jimin.?”

“Kamu tenang aja, aku akan menghubungi polisi.” Jungkook pun mengambil ponselnya dan memberitahukan kepada polisi tempat Jimin di bawa.

Tapi tiba-tiba ada 3 pria lagi yang merupakan komplotan orang yang membawa Jimin itu menghampiri mobil Jungkook.

“Jungkook-ah.”Jungkook memegang tanganku erat.

Belum sempat Jungkook mengunci pintu mobilnya, orang-orang itu sudah membuka pintu mobilnya dan mereka menyeret aku dan Jungkook keluar. 2 dari mereka memukuli Jungkook dan satunya lagi membawa aku ke tempat dimana mereka membawa Jimin.

“JUNGKOOK-AH, JUNGKOOK-AH.”Aku terus berteriak, aku benar-benar takut.

“DIAM!”Pria itu berteriak sambil terus membawa aku ke rumah itu.

“Aku mohon jangan sakiti Jungkook!”

Sesampai di rumah itu aku melihat Jimin di ikat di sebuah kursi.

“Jimin-ah.” Aku mencoba untuk melepaskan diri dari orang ini agar bisa menghampiri Jimin. Tapi orang ini sangat kuat, sehingga aku tidak bisa melepaskan genggamanya.

Sekarang orang itu sudah mengikat aku di kursi yang berada di dekat Jimin.

“Jimin-ah.”Aku berusaha untuk terus memanggil Jimin, tapi Jimin sudah tidak sadarkan diri.

“Apa mau kalian? Kenapa kalian membawa kami kesini?” Aku terus berteriak kepada 4 orang pria yang berada di depan kami. Tapi bukannya menjawab mereka malah tertawa mendengar pertanyaanku.

Merekapun keluar dari rumah itu membiarkan aku dan Jimin di dalam.

Aku terus berusaha untuk memanggil nama Jimin agar dia bisa sadar. Dan akhirnya Jimin sadar.

“Haeyeon-ah, kenapa kamu bisa disini?” Jimin bertanya dengan nada suara seperti orang yang sedang kesakitan.

“Kamu baik-baik aja, kan?” Jimin hanya bisa menganggukan kepalanya.

“Jungkook,, mereka memukuli Jungkook.” Aku teringat kepada Jungkook. Aku tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan kepada Jungkook.

Aku terus berusaha untuk melepaskan ikatan ini. Tapi mereka mengikatnya dengan sangat kuat.

Dan akhirnya setelah satu jam kami di dalam, tiba-tiba pintu itu terbuka. Aku melihat Jungkook masuk ke dalam. Aku sangat senang ketika melihat Jungkook.

“Kamu baik-baik saja, kan?” Tanya Jungkook sambil berjalan ke arah kami. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku.

Jungkook melepaskan tali yang mengikat ku.

Setelah tali itu terlepas, aku langsung memeluk Jungkook. Dia juga membalas pelukanku.

Saat Jungkook berjalan ke arah Jimin, tiba-tiba…

BRUKKK…

Apa yang aku lihat saat ini? Tatapan yang biasanya penuh dengan kelembutan itu sekarang berubah menjadi tatapan yang penuh dengan kemarahan. Aku bahkan tidak bisa mengartikan ekspresi wajahnya saat ini.

Ya, Jungkook telah berubah.

Dia menendang kursi yang di duduki Jimin sehingga membuat Jimin terjatuh bersama kursi itu.

“Jungkook-ah, apa yang kamu lakukan?” Perasaan takut itu datang lagi, ini pertama kalinya aku melihat Jungkook seperti ini.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Jungkook malah mengambil sebuah pistol.

DOORR.

Aku sangat terkejut saat Jungkook menembakkan pistol itu.

Jungkook menembakkan pistol itu ke arah sebuah meja. Dan di atas meja itu sudah ada boneka yang berlumuran darah beserta kertas yang selalu aku terima.

“Jadi, selama ini?”Aku benar-benar tidak bisa mempercayai ini semua. Selama ini Jungkook yang sudah meneror aku dan bukan Jimin.

Jungkook mengarahkan pistol itu ke kepala Jimin. Aku berusaha untuk mendekatinya.

“Haeyeon-ah, jangan mendekat.” Jimin menghentikanku. Tapi aku tidak mendengarkannya. Aku mendekati Jungkook, karena aku tahu Jungkook benar-benar mencintai aku, dan dia nggak akan menyakiti aku.

“Kenapa kamu jadi seperti ini? Jungkook-ah.”Aku berusaha untuk menghentikan Jungkook, saat aku ingin memegang tangannya, Jungkook mengalihkan pistol itu ke arahku.

“Ini semua karena cowok brengsek ini.”Aku jadi semakin bingung dengan semua ini. Mereka adalah sahabat tapi kenapa Jungkook menjadi seperti ini karena Jimin?

Flashback ON  >>

Sewaktu kelas 1 SMA Jungkook mencintai seorang perempuan yang bernama Jiyool dan Jiyool adalah cinta pertama Jungkook. Saat itu Jungkook sangat berharap Jiyool juga mencintainya.

Jungkook tidak pernah menceritakan tentang perasaannya kepada Jimin. Sampai pada suatu hari Jungkook mengutarakan cintanya kepada Jiyool.

“Mianhae Jungkook-ah. Aku tidak bisa menerima cintamu. Aku sudah mempunyai seseorang di dalam hatiku.”Jungkook sangat terpukul dengan ucapan Jiyool, tapi Jungkook berusaha untuk menyembunyikan perasaan sakitnya. Dia hanya bisa tersenyum.

“Baiklah, tidak apa-apa. Kamu berhak untuk memiliki orang yang kamu cintai.” Ungkap Jungkook. Jungkook pun segera pergi meninggalkan Jiyool.

Sampai suatu hari Jungkook mengetahui bahwa orang yang Jiyool cintai adalah Jimin, sahabatnya sendiri. Jungkook berusaha untuk menerima semuanya, meskipun dia masih sangat mencintai Jiyool. Dia bisa merelakan Jiyool untuk sahabatnya sendiri, karena dia tahu dia tidak mungkin memaksa Jiyool untuk mencintainya.

“Jiyool sangat mencintaimu, jagalah dia untukku.”Ucap Jungkook kepada Jimin.

“Tapi aku tidak mempunyai perasaan kepada Jiyool. Kalau kamu benar-benar mencintai dia, kamu harus membuat dia bisa mencintaimu. Karena suatu saat perasaan cinta itu pasti akan tumbuh.” Jelas Jimin. Tapi Jungkook merasa semua sudah cukup, dia sudah berusaha agar Jiyool bisa mencintainya. Tapi tetap saja Jiyool hanya mencintai Jimin.

Jungkook berpikir yang dia harapkan sekarang adalah Jiyool akan bisa bahagia bersama orang yang dia cintai. Tidak peduli itu bersamanya atau bersama sahabatnya sendiri.

“Aku mohon, jangan buat dia sakit hati. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu bisa membuat dia bahagia.”Ucap Jungkook sambil berjalan meninggalkan Jimin.

>

Suatu hari Jiyool datang untuk menemui Jimin. Saat itu Jiyool mengatakan semua perasaannya kepada Jimin. Jimin teringat dengan semua kata-kata Jungkook, dia sangat ingin menjaga Jiyool untuk Jungkook. Tapi sudah ada orang lain yang Jimin cintai, sampai akhirnya Jimin menolak cinta Jiyool dan dia akan berusaha untuk membuat Jungkook bisa memiliki Jiyool.

Tetapi Jiyool terlalu mencintai Jimin sehingga dia tidak terima jika dia tidak bisa mendapatkan cinta Jimin. Sampai akhirnya Jiyool melakukan hal yang tidak diharapkan, Jiyool bunuh diri.

Jungkook mengetahui bahwa Jiyool bunuh diri karena Jimin menolak cintanya dari surat yang Jiyool tulis untuk Jimin.

Sejak saat itu Jungkook sangat membenci Jimin, tapi Jungkook tidak menampakan kebenciannya, karena ingin membalaskan dendamnya kepada Jimin.

Saat mereka naik ke kelas 2, Haeyeon pindah ke sekolah mereka.

Dan Jungkook pun mengetahui bahwa ternyata Jimin mencintai Haeyeon.

Jungkook berencana untuk membalas dendam kepada Jimin dengan merebut Haeyeon darinya.

Agar Jimin tidak curiga dengan rencana balas dendam Jungkook, Jungkook berencana untuk mendekati Haeyeon pada saat mereka naik ke kelas 3.

Saat mereka kelas 3 Jungkook mengatakan kepada Jimin bahwa dia mencintai Haeyeon.

“Aku mencintai Haeyeon.”Jimin sangat kaget dengan perkataan Jungkook, tapi Jimin juga tidak bisa berbuat apa-apa.

“Dia yang membuat aku bisa melupakan semua masa lalu itu dan bisa melupakan Jiyool.”

Jimin juga tahu bahwa Jiminlah penyebab Jiyool bunuh diri. Dan Jimin selalu merasa bersalah kepada Jungkook.

Akhirnya Jimin melepaskan Haeyeon untuk Jungkook.

Flashback OFF >>

“Jadi selama ini kamu mendekati aku hanya untuk balas dendam kepada Jimin?”Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Jungkook.

“Iya, karena aku ingin membalaskan dendam ku kepada dia.” Jungkook kembali menodongkan pistol itu ke arah Jimin.

“Semua yang terjadi itu, kamu yang sudah mengatur semuanya? Kamu juga yang mengirimkan semua boneka itu ke rumah Jimin.?”Aku terus memberikan pertanyaan kepada Jungkook, meskipun aku tahu saat ini bisa saja Jungkook akan menembakku.

“Ya, aku yang sudah melakukan itu semua.”

“Wae? Kamu sudah berhasil memiliki aku, merebut aku dari Jimin. Tapi kenapa kamu masih melakukan ini semua.?”

Jungkook kembali menodongkan pistol itu ke arah ku.

“Dendam ku tidak akan terbalaskan selama dia masih bisa melihatmu.” Aku terkejut dengan ucapan Jungkook. Apa mungkin dia benar-benar akan membunuhku?

“Andwae Jungkook-ah! Jangan melakukan hal yang akan membuatmu menyesal.”Jimin terus berusaha agar Jungkook tidak melakukan hal yang tidak di inginkan.

“Menyesal?..”

“Iya, karena kamu mencintai Haeyeon.” Jungkook terdiam, perlahan tangan Jungkook mulai turun, dan kepalanya mulai menunduk. Aku tahu dan aku yakin bahwa selama ini Jungkook benar-benar mencintai aku.

Namun tiba-tiba Jungkook kembali mengangkat pistolnya. Dan menodongkannya kepadaku.

“Anni,, aku tidak mencintainya.” Aku bisa melihat kebohongan diwajahnya.

“Anni,, kamu mencintaiku Jungkook-ah. Jika kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu harus melakukan ini semua setelah 3 tahun kita pacaran? Sadarlah Jungkook, aku tahu kamu benar-benar mencintaiku dan aku juga sangat mencintaimu Jungkook.”Aku berusaha untuk bisa menyadarkan Jungkook.

Dan tiba-tiba Jungkook mengangkat kepalanya dan menatapku.

“Aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi kebencianku kepada Jimin terlalu besar, dan aku tidak akan pernah tenang selama dendam itu belum terbalaskan.”Jungkook sekarang benar-benar marah, aku bisa melihat dari tatapan matanya.

Aku memegang tangan Jungkook yang sedang memegang pistol itu.

“Tembak aku sekarang juga, jika dengan kematianku bisa membuat hidupmu lebih tenang. Bunuh aku sekarang juga.”Aku semakin memperkuat pegangan ku di tangan Jungkook.

Jimin sangat terkejut mendengar ucapanku.

“Andwae, Jungkook-ah sadarlah. Haeyeon-ah jangan melakukan hal bodoh.”Jimin terus berteriak untuk menyadarkan Jungkook.

Jungkook masih saja terdiam dengan tanganku yang sedang memegang tangannya.

“Sekarang kamu cuma punya 2 pilihan. Pertama, lupakan semua dendammu kepada Jimin dan kita bisa kembali bersama-sama lag. Kedua, kamu bisa menembakku sekarang agar kamu bisa membalaskan dendammu kepada Jimin.”Ucapku sambil memegang pipi Jungkook. Kamipun saling bertatapan.

Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Jungkook. Tapi aku sangat berharap dia bisa kembali menjadi Jungkook yang aku kenal selama ini.

Akhirnya Jungkook melepaskan pistol itu dan aku langsung memeluknya agar dia bisa lebih tenang. Jungkook juga memelukku dengan sangat erat.

Jimin juga sudah lega setelah Jungkook melepaskan pistol itu.

>>>

1 tahun kemudian…

Setelah kejadian 1 tahun yang lalu, Jungkook memutuskan untuk pindah ke Amerika. Dia ingin menenangkan dirinya dan juga melupakan dendamnya kepada Jimin.

Aku dan Jimin masih seperti biasanya, kita masih bersahabat hingga saat ini.

Aku dan Jungkook sudah tidak pernah berkomunikasi lagi sejak dia pergi ke Amerika. Sampai saat ini aku masih sangat berharap Jungkook akan kembali lagi ke korea dan kita bisa bersama-sama lagi.

Tapi mungkin saja dia sudah melupakan aku. Tapi aku harap tidak!

>>

Hari ini aku datang ke café tempat biasa aku dan Jungkook merayakan anniversary kita. Karena tepatnya hari ini adalah anniversary kita yang ke 4 tahun.

Aku duduk sendirian sambil menikmati minuman yang aku pesan. Setelah aku duduk, tiba-tiba…

“Haeyeon-ah.” Suara itu, aku mengenal suara itu.

Akupun membalikkan badanku untuk melihat ke arah suara itu.

Dan…

Suara itu adalah suara dari seseorang yang sangat aku rindukan selama ini.

Dia sudah kembali, dia benar-benar kembali. Dia bahkan datang di saat yang sangat tepat.

Apa kita bisa kembali menjalani hubungan kita lagi?

-THE END-

Maaf kalau banyak kekurangan. Ini adalah ff pertama aku.

Semoga kalian suka.^^

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s