[BTS FF Freelance] Survive to be an Idol (Chapter 1)

SI

A fanfiction with,
Idol Life/Fashion Fanfic

Staring by BTS’s members & Rinata Andriani (Author’s OC)

Rating PG-15

Multichaptered Length

Rinata’s Point of View

DISCLAIMER

Cerita fan fiksi ini murni milik author yang kebetulan sedang lancar berimajinasi. Anggota BTS, nama produk, nama agensi yang tersebutkan adalah miliknya sendiri serta memiliki hak cipta, author hanya meminjam nama. Karakter lain sebagai pendukung adalah milik author. Ini hanyalah sebuah fan fiksi, bukan untuk laba fan work. Jika ada kesamaan nama dan cerita harap maklum karena faktor ketidaksengajaan. Segala upaya penjiplakan harap di pikir dua kali karena ide tidak muncul sembarang dan semudah copy-paste. Terimakasih.

― 2016© MEGANDA & ARRYLEA Collaboration Presents All Right Reserved ―

Has been published too at ARRYLEA NO KAOKU’s
Poster credits to Pinterest which has been edited by ARRYLEA.

█ █🌺█ █🌸█ █🌼█ █ SELAMAT MEMBACA █ █🌺█ █🌸█ █🌼█ █

BAGIAN 1

Ulangan semester adalah satu hal yang paling aku tunggu. Selain bisa pulang cepat, aku ingin memperlihatkan hasil ujianku pada Mama. Bahkan kalau bisa, aku ingin teleportasi dari sekolah langsung ke rumah saking ingin cepat-cepat sampai.

Pintu bercorak berwarna hijau yang menghiasi rumahku mulai terbuka. Memasuki dalamnya dengan hati-hati seolah akan memberikan kejutan paling berkesan. Tepat ketika aku sampai di ruangan tamu. Dengan bangganya aku berkata, “Mama, Papa, Ka! Lihat aku dapat ni―”. Ucapanku tiba-tiba terpotong ketika melihat bagaimana kedua orangtuaku tengah menangis sedangkan kakakku hanya bisa menenangkan keduanya.

Aku menatap sekeliling, memperhatikan setiap detil keadaan dan baru sadar ketika isi rumahku kosong melompong seperti lapang. Ini seperti sebuah pukulan bagiku, mimpi buruk yang paling aku takuti selama hidup ini menjadi nyata. Aku mundur beberapa langkah, mencoba mengatur pernafasanku yang mulai naik turun begitu cepat hingga terasa sesak di dalam rongga dada. Membuatku terjatuh sekaligus tanpa iming-iming menahan badan sendiri. Kakakku yang melihat bagaimana aku terkapar tak berdaya langsung meraihku ke dalam pangkuannya. Aku hampir kehilangan nafas terakhir karena ini dan memilih menyudahi rasa sesak sambil menutup mata. Aku langsung tak sadarkan diri.

On Rina’s side.

Kelopak mataku terbuka dengan cepat, jantungku rasanya akan copot dihitungan menit selanjutnya, bahkan peluh mengalir sempurna dari permukaan kulit wajah. “Sial! Mimpi lagi.” Umpatku kesal ketika sadar bahwa hal mengerikan tadi hanyalah sebuah  bunga tidur. Memilih untuk bangun daripada meneruskan mimpi itu. Tanpa alih-alih melirik ponsel atau memandang diri berlama-lama di depan cermin, merupakan suatu kebiasaan bagiku untuk cepat-cepat mandi ketika bangun tidur, setidaknya untuk menyadarkan diri dari mimpi buruk semalam.
Setelah mandi, aku berjalan menuju dapur, memperhatikan sekeliling. Dengan erangan nafas yang sedikit kasar, aku mengeluh. Ini bukan rumahku. Ini asrama. Asramaku sejak menjadi seorang trainee.

“Selamat pagi,” sapa seorang wanita berparas Korean-Rusian yang tengah memasak sarapan di dapur ketika melihatku melewatinya.

“Selamat pagi, Anna eonni.” Balasku ogah-ogahan sambil terhuyung menuju kulkas untuk mengambil air.

“Barusan kau berkeringat dingin dan sempat mengigau. Apa kau mimpi buruk?”

“Aku hanya memimpikan sanak-saudaraku di tanah air, eonni.”

Homesick, hm?” Anna menghampiriku yang duduk di meja makan, ia sudah selesai dengan masakannya di dapur.

“Mungkin.”

“Sudah hampir pukul 7. Lebih baik kau siap-siap dan bergegas sekolah, Rina-ya.” Ingatnya.

“Iya. Setelah aku menghabiskan sarapanku.”

“Percepat makanmu, Jungkook sudah menunggu sejak 15 menit yang lalu. Dan jangan lupakan latihan kita nanti setelah kau pulang sekolah, ya!” peringatnya lagi seperti seorang Ibu. Aku hanya mengangguk, mengiyakan.

Latihan, latihan, latihan, dan latihan. Setiap hari aku melakukannya. Entah itu latihan menari, vocal, mimik dan gestur, atau mungkin belajar instrumen musik. Inilah duniaku sekarang. Menjadi seorang trainee yang tak pernah disangka dan diduga-duga. Siapa pula yang tak senang terpilih menjadi trainee dari salah satu agensi berkelas yang hampir menyaingi SM, YG dan JYP. BigHit Ent. kini menjadi tempatku bernaung.
Percaya atau tidak. Aku adalah satu-satunya anak Indonesia yang berhasil lolos global audition BigHit dan menjadi traineenya. Ada kebanggaan tersendiri bagiku membawa nama Indonesia dikancah dunia Korea. Dan satu tahun yang lalu, lebih tepatnya 8 Juli kemarin aku resmi menjadi trainee disini.
Tujuanku sendiri menjadi seorang trainee adalah untuk membantu kondisi ekonomi keluargaku. Debut adalah impianku untuk mencetak uang lebih banyak. Dan aku tak sabar untuk hari itu.

Seragam berwarna kuning dengan dasi bintang berpita. Siapapun pasti mengenal motif dan warna khas seragam sekolah yang kukenakan. School Performing of Arts Seoul, adalah sekolahku di sini. Lumayan sulit mengurus segala tetek-bengek kepindahanku dari sekolah menengah atas di Indonesia. Karena butuh waktu hampir 6 bulan bagiku menyelaraskan bahasa hingga akhirnya aku bisa lolos masuk SOPA atas rekomendasi manajer. Setidaknya aku beruntung bisa belajar bahasa Korea dengan cepat setelah tinggal disini.

 “Ah aku lapar!” sahut Jungkook sembari memainkan ponselnya ketika keluar dari gedung agensi yang sekaligus asrama ini.

“Kookie-ya!” seru stylish noona. Ia berlari dengan membawa beberapa tas kecil dan sebuah sisir ditangannya. Mendekati Jungkook dan merapihkan pakaian, rambut dan wajah Jungkook yang sedikit berkeringat.

Sulit sekali harus terlihat rapi kapanpun. Padahal hanya ke sekolah.’ Batinku.

Beruntungnya jadi diriku adalah aku bisa satu sekolah dengan Jungkook oppa dan satu van dengannya. Karena aku trainee, segala sesuatu yang berhubungan dengan artis sangat diharamkan. Tanpa terkecuali. Seperti aku sekarang yang selalu—ingat se-la-lu―berangkat sekolah bersama member BTS termuda meskipun dia satu tahun diatasku.

Di dalam van aku tak banyak bicara. Bukan tipikal perempuan cerewet yang lebih senang diam memandang layar ponsel.
Biasanya jika tak ada yang menarik dari ponselku, aku hanya mendengarkan lagu lewat earphone sambil mundar-mandir dari home ke menu dan begitu terus. Tapi kali ini ada sebuah notifikasi dari salah satu grup teman kelasku ketika di Indonesia. Mereka tengah menunggu hasil Ujian Nasional ternyata.

Hai! Gimana UN kalian? Sukses? Disini ujian masuk perguruan tinggi baru tahun depan, gak ada UN disini T.T” Ketikku di atas layar ponsel. Mencoba mengikuti pembicaraan.

Sambil menunggu jawaban mereka, aku memperhatikan Jungkook yang tengah tertidur pulas menghadap jendela. Mungkin dia kelelahan karena comeback kemarin. Semenit kemudian ponselku berbunyi, notifikasi grup seketika menggunung. Aku hanya tersenyum simpul melihat reaksi mereka. Sekilas, ada perasaan rindu pada mereka disana.

Wah, Rina! Disana gak ada UN?

Rina, apa kabar?

Cie mau debut dong.

Calon artis Korea harus ikut UN juga?

Rina, aku kangen:((“

Rin, rin. Disana jam 7 ya? Cie mau berangkat sekolah. Salam ke Jungkook oppa ya!

Cepet debut hey kamu calon artis Koriyah.”

Rin, mantan merindukanmu.”

Alisku bertaut bersama kening ketika membaca pesan terakhir. Senang, benci tapi juga kurang suka. Seketika menyatu mendengar nama ‘mantan’. Sambil tersipu, aku membalas pesan mereka.

Do’ain aku cepet debut ya semua.
Si Kookie lagi tidur nih disebelah, cape abis comeback FIRE kemarin.
Aku kangen juga ih:((
Mantan itu, apa?

Sepanjang perjalanan menuju SOPA. Aku tertawa cekikikan membalas pesan-pesan gila dan abnormal teman-teman kelasku di Indonesia. Hingga tak terasa SOPA sudah di depan mata.

“Rina-ssi, Jungkook-ssi. Kita sudah sampai.” Kata supir sopan.

Aku mengangguk dan mencoba membangunkan Jungkook. Laki-laki itu berhasil terbangun walaupun belum sepenuhnya. Ia bahkan sampai mengigau kelaparan ingin beli tteokpokie. Ah iya, Jungkook belum sarapan ‘kan tadi ia bilang?
Sebelum turun, sebagai pengganti stylish noona sementara. Aku merapihkan rambut, pakaian, dan memberikan beberapa tepukan bedak dan semprotan parfum pada Jungkook. Trainee harus serba bisa. Termasuk jadi assisten stylish noona sekalipun.

“Rina-ya. Kau merapihkan rambutku dan mengatur segala penampilanku. Tapi kau sendiri belum rapi.” Ucapnya ketika kami baru menginjak tanah SOPA.

Aku bergidig. “Biarkan saja. Tak akan ada yang memperhatikanku.”

Jungkook malah menggelengkan kepala dan mendekatiku. Seraya merapihkan tatanan rambutku yang sedikit keluar dari sarangnya karena menyandar pada punggung kursi. Dan juga membenarkan pakaianku, memberikan tepukan bedak dan semprotan parfum plus olesan lipblam, persis seperti yang aku lakukan barusan dan stylish noona tadi pagi padanya.

“Nah, kau terlihat lebih baik sekarang.”

Aku tersenyum simpul sambil membungkuk sedikit untuk rasa hormat, “Terimakasih.” Ucapku. Bukannya membalas bungkukan atau terimakasihku, Jungkook malah menoyor jidatku. “Jangan formal begitu, kita satu angkatan disini. Aku merasa lebih tua jadinya.” Sahutnya sarkatis. Sedangkan aku hanya menggosok-gosok tempat dimana Jungkook menonjok, kecil dan pelan tapi menyakitkan. Dengan sedikit gerutuan pastinya.

⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬜⬛⬛⬜⬛⬜⬜

Ketika kami berada di dalam kelas. Jungkook terus mengoceh padaku selama pelajaran bahasa Inggris. Ia bahkan merelakan harga dirinya jatuh hanya untuk meminta diajari bahasa Inggris padaku karena tak satupun kosa kata yang masuk hari itu.

“Rina-ya, cantik, imut, menggemaskan, pintar aegyo. Kumohon ajari aku kata-kata ini!” Begitu katanya meminta.
Dasar anggota BTS memang tidak ada yang waras. Kujamin, tak hanya Jungkook. Taehyung dan Suga pun pernah. Memohon-mohon untuk menerjemahkan komposisi sebuah mie instan asal Indonesia yang aku bawa dari sana. Jelas sekali bukan, tak akan ada terjemahan bahasa Korea pada kemasan asli Indonesia. Berbeda cerita jika aku membelinya di toko Asian yang sudah menerjemahkannya. Walaupun terpaksa menerjemahkannya, aku tetap senang karena mereka begitu ramah dan baik. Bahkan sebagai rasa terimakasih, mereka membelikanku tiga set pakaian yang tak sepadan dengan apa yang aku lakukan. Ayolah aku hanya menerjemahkan. Mereka memang suka berlebihan. Dan lagi-lagi kini sebagai gantinya juga, Jungkook mentraktirku makan jjangmyeon di kantin SOPA.

“Rina-ya. Ayo kita belajar vocal lagi nanti,” ajaknya penuh semangat. Aku hanya tersenyum kecut sebagai balasan. Antara canggung dan sedikit risih dengan perlakuan istimewa dadakan Jungkook. Dia tak waras, aku ‘kan hanya membantunya mengerjakan soal bahasa Inggris!

Sesaat, aku merasa bersyukur karena Jungkook tak lagi mengangguku. Tapi sayangnya hanya sebentar karena ia mulai kumat dan mengetuk-ngetuk meja kantin tak sabaran sambil menopang kepala dengan tangan satunya. “Aku lapar, i’m hungry!!” keluhnya.

Oppa, jangan buat kosa kata yang aneh-aneh! Itu memusingkan.” Protesku. Yang diprotes malah-malah menyengir tak tahu diri sambil mengacak-ngacak sedikit tatanan rambutku.

Ganteng-ganteng sengklek, ya Lord. Tadi pagi dia yang membenarkan tatanan rambutku, sekarang dia juga yang merusaknya.’ Batinku menggerutu.

Di sela-sela makan yang akhirnya datang disaat Jungkook tak kuasa berguling diatas meja kantin. Laki-laki itu mulai membuka pembicaraan dengan mulut penuh jjangmyeon.

“Namti kuita akhan ratihang beurshama, ‘khan?”

“Telan dulu makananmu, oppa.”

Jungkook lagi-lagi nyengir tak tahu diri setelah menelan makanannya. Ia terdiam sejenak, mengecek bahwa makanannya sudah ia telan semua.

“Nanti kita akan latihan bersama, ‘kan?” lanjutnya kemudian.

“Ah? Siapa bilang? Aku tidak tahu.”

“Oh. Kukira kau tahu. Manajer bilang BTS akan latihan bersama trainee. Tapi hanya 7 orang yang terpilih.”

Uhuk. . .

Aku hampir tersedak jjangmyeon karena mendengar jumlah trainee yang katanya akan latihan bersama itu. “7 orang? Lalu bagaimana sisanya? Trainee BigHit sekarang ada 20 ‘kan?” tanyaku tak henti.

“Aku tak tahu pasti. Manajer hanya memberitahuku itu saja. Memangnya teman satu kamarmu tak memberitahu?”

“Hmm..” berpikir sambil menelan beberapa jjangmyeon yang penuh dimulutku, aku coba ingat-ingat siapa yang memberitahuku sesuatu tentang latihan. “Ah ya. Anna eonni! Tadi dia memberitahuku untuk latihan jam 8. Setahuku itu adalah jadwal rutinku latihan.” Lanjutku jujur. Jungkook hanya membulatkan mulutnya untuk balasan kalimatku. Dan kembali memakan makanannya.

⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬜⬛⬛⬜⬛⬜⬜

Mobil van yang biasa menjemputku dan Jungkook sudah siap meluncur kembali ke gedung agensi. Tapi suasana pulang saat ini tak sebebas pulang biasanya aku rasakan bersama Jungkook karena manajer Kim dan Sung tengah berada di dalam van dengan kami. Suatu hal terhormat sekaligus menegangkan bisa bersama dengan orang penting BigHit. Selama perjalanan itu sendiri. Baik aku ataupun Jungkook. Tak satupun berani mengeluarkan suara. Seolah kami akan dibawa jauh sekali dan takkan kembali. Tegang ini sampai-sampai menganggu bulu romaku.

Sesampainya di tempat tujuan. Aku tak terlalu memikirkan suasana mencekam tadi di dalam van dan langsung saja pergi menuju ruang latihan yang biasa Anna eonni menungguku.
Sedikit aneh jujur saja. Beberapa teman traineeku sedang menangis di dalam ruang latihan. Aku terkejut, tentu saja. Apa yang telah terjadi pada mereka adalah pertanyaan terbesarku saat ini. Alih-alih ingin menenangkan, Jungkook malah menarikku menjauh dari mereka dan membawaku ke ruang latihan yang biasa digunakan para artis.

Di ruangan balok dengan desain simpel dihiasi dengan lambang BigHit Entertainment ini, atmofsir tegang lagi-lagi menghampiri. Bagaimana tidak, kedua manajer yang barusan masih berada di dalam mobil, kini mereka sudah menginjakkan kakinya disini bersama member BTS lainnya. Untungnya keteganganku teratasi ketika Anna memelukku sambil menangis tersedu-sedu. Lalu kemudian diikuti 5 teman traineeku yang lain. Dan lagi-lagi pertanyaan sialan itu belum terjawab. Apa yang telah terjadi pada mereka hingga menangis begini?

“Rina-ya..” panggil Hana penuh haru.

Maknaeku sayang…” panggil Sakura juga.

“Ada apa? Kenapa? Jangan menangis kumohon siapa yang membuat kalian menangis?” tanyaku penuh penasaran.

Sejurus kemudian Anna menatapku, “Kita akan debut, Rina!” ucapnya setengah parau. Aku tak bisa menahan katup bibir yang terbuka karena terkejut dan senang. Aku baru 1 tahun disini. Bagaimana bisa aku debut secepat itu?

“Kita ber-tujuh akan debut? Sungguh?” tanyaku pada ke-6 perempuan yang tengah berdiri mengelilingi dengan mata yang sembab. Mereka mengangguk bersamaan.

Aku tersenyum menatap mereka, menahan tangis yang akhirnya pecah. “Demi apapun, eomma. Aku akan debut!” ucapku. Semua orang yang ada di dalam ruangan menertawakan tangisanku.

Sial sekali. Bukannya dibuat tenang malah ditertawakan.’ Gerutuku.

Setelah keadaan tenang dan membaik. Kami ber-tujuh berbaris menghadap manajer. Siap menerima tugas baru.

“Dikarenakan kalian telah dipilih untuk debut terlebih dahulu. Sepertinya saya harus memberitahukan kepada kalian semua seperti apa konsep dan ciri khas kalian.” Kata Manajer Kim. Lalu di lanjut oleh Manajer Sung, yang akan menjadi manajer kami nanti. “Kalian ber-tujuh, telah kami sepakati untuk debut sebagai Bangtan Girls. Pilihan yang kami tentukan tidak sembarang pilihan, kami memperhatikan dari setiap individu kalian setiap hari dari mulai latihan hingga keseharian. Kami rasa kalian sudah cukup pantas untuk diangkat ke publik dan dikenal sebagai Bangtan Girls.”

“Kenapa Bangtan Girls? Karena kami ingin mengambil pandangan ARMY kepada Bangtan Boys. Jadi bisa dikata kalian adalah adik sekaligus teman dari Bangtan Boys. Tapi ingat, saya tak ingin ada dating scandal  untuk awal-awal ini. Karena kalian baru saja debut, bisa merusak reputasi kalian nantinya. Untuk genre, kalian akan membawakan lagu-lagu Bangtan Boys dengan sedikit berbeda karena kalian akan me-recycle dan re-make lagu sebelumnya. Waktu debut kalian sebentar lagi. Maka dari itu saya ingin Bangtan Boys yang melatih plus menjadi mentor sunbae kalian. Dan oh ya, lagu debut kalian adalah I Need You.”

Leader! Saya serahkan ini padamu. Saya permisi.” Anna dan Rapmonster menoleh lalu mengangguk bersamaan setelah manajer pamit. Mereka adalah leader kami sekarang.

Sementara ruang latihan hanya dipenuhi Bangtan Boys dan Girls―serta para stylish. Leader Rapmonster mulai mengambil alih.

Hello, ladies. Karena aku dan Anna yang akan bertanggung jawab atas kalian, terutama Bangtan Girls. Aku ingin kerja sama ini bisa sukses dan lancar. Sebelum latihan, aku akan membagikan peran kalian di BTS ver. girls ini.” Katanya mantap. Terbiasa memimpin. Rapmon kemudian mengambil sebuah kertas hvs yang berisi deretan nama.

“Untuk nama yang disebut, langsung mendekati sunbaenya masing-masing.” Perintahnya kemudian mulai membaca kertas tersebut.

Pembagian memberpun menjadi sedikit tegang bagiku karena Seok Jin ada disini―dia adalah biasku.

Penjabaran anggota Bangtan Girls dengan para sunbae bisa disebut;

Anna mencover Jin;
Soo Hye bernama panggung Suhi mencover Suga;
Ara mencover Rapmon;
Sakura Sasaki bernama panggung Sasa mencover J-Hope;
Hana mencover Jimin;
Xi Chan bernama panggung C mencover V;
Dan terakhir adalah Rina yang mencover Jungkook.

Sejujurnya aku tak terlalu terkejut jika sunbaeku pasti Jeon Jungkook, maknae dengan maknae bagaimana jadinya? Tapi setidaknya sunbaeku adalah teman satu kelasku, tak perlu ada yang dikhawatirkan untuk saat ini.
Setelah semua member bersama sunbaenya masing-masing. Latihan perdana pun dimulai.

⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬛⬜⬜⬛⬜⬛⬛⬜⬛⬜⬜

Kurang lebih dari 5 jam kami berlatih. Berarti waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ketika latihan selesai, tidak satupun dari kami berani meninggalkan ruangan kecuali jika leader menyuruh. Sambil beristirahat, kami membuat lingkaran sesuai perintah Rapmon. Lucky chance sepertinya telah memilihku hari ini, karena jika kusebut-sebut banyak kejadian yang tak terduga. Dari mulai Jungkook yang menata setiap penampilanku lalu traktirannya, kemudian aku terpilih bersama 6 trainee lainnya untuk didebutkan dan yang terakhir; tepat pada detik menit dan jam ini, aku tengah duduk melingkar bersebelahan dengan Seok Jin! Entah harus teriak atau bagaimana tapi yang jelas aku benar-benar ingin berteriak!

“Santailah. Kita telah selesai latihan.” Ucap Rapmon seraya menatap sekeliling. Ia mengernyitkan dahi, merasa ganjil pada seseorang, “Hey Taetae-ah! Jangan tekuk lututmu, luruskan!” perintah Rapmon tegas. Sementara Taehyung atau yang kita kenal dengan V meluruskan lututnya sambil cengengesan. Rapmon mendelik padanya.

“Sebelum latihan tadi kita belum memperkenalkan diri satu-persatu meskipun sunbae kalian sudah mengenal kalian. Jadi siapa yang akan memulai?” lanjutnya.

Seok Jin mengacungkan diri, “Aku saja.” Katanya.

“Tapi oppa, kita semua sudah pasti mengenalmu.” Sahut C.

“Tidak masalah, kalian belum tahu kepribadian setiap orang disini ‘kan? Kesukaan? Hobi? Cita-cita mungkin?” usulnya panjang lebar.

Rapmon menghela nafas, “Setidaknya untuk member Bangtan Boys kita perlu tambahan itu, tapi tak apa jika Bangtan Girls juga ingin melakukannya. Lanjutkan hyung, silahkan kenalkan dirimu.”

Ketika perkenalan Bangtan Boys, semuanya begitu memperlihatkan sisi normal mereka sebagai diri mereka, bukan sebagai artis. Mereka lebih banyak bercanda daripada yang kukira, terutama Taehyung. Bagaimana tidak ia memiliki hobi tidur tengkurap dengan kacamata di tengkuknya, dasar orang aneh pantas saja dia selalu disebut ‘alien’.
Perkenalan anggota Bangtan Girls juga terus berlanjut hingga akhirnya berhenti padaku, sebagai maknae dan yang dikenalkan terakhir.

“Kita semua sudah mengenalmu, Rina. Kau tak perlu memperkenalkan diri.” Kata Suga. Mendengar Suga berkata seperti itu, aku juga jadi ragu untuk berdiri.

“Jangan dengarkan Suga hyung. Aku leadernya. Kenalkan dirimu, Rina-ya.”

Karena diperintah, akhirnya aku berdiri. Menghela nafas lalu mulai memperkenalkan diri. “Annyeonghaseo, namaku Rinata Andriani, tapi lebih sering dipanggil Rina. Termasuk kedalam maknae line karena aku lahir di tahun 1998. Aku berasal dari Indonesia, suatu kehormatan bagiku bisa menjadi bagian keluarga BigHit sebagai perwakilan Indonesia. Di Bangtan Girls, aku mencover Jeon Jungkook oppa. Aku sudah 1 tahun menjadi trainee disini.” Ucapku panjang dan sedikit terbata-bata karena keterbatasan bahasa dan takut salah tanggap. Terkadang mereka menaikan satu alisnya ketika kata-kataku mungkin tak sesuai maksudnya. Dan kuganti dengan bahasa Inggris. Ah betapa bodohnya aku.

Semua bertepuk tangan, kemudian Taehyung mengacungkan tangannya. “Rina-ya, Apa hobi dan cita-citamu?” tanyanya.
Aku yang baru saja duduk, ragu untuk berdiri lagi. Tapi Rapmon leader menyuruh duduk saja sambil menepuk-nepuk tangannya di udara sebagai isyarat.
Aku mengangguk dan mulai menjawab pertanyaan Taehyung, “Anu, hobiku menyanyi tapi aku juga suka baca buku meskipun tak semua buku aku suka. Hanya buku-buku bergenre fantasi dan sedikit misteri yang membuatku bisa terpaku padanya. Cita-citaku menjadi seorang penyanyi atau mungkin artis. Maka dari itu aku berada disini bersama kalian. Aku ingin meraih cita-citaku.” Kataku polos atau mungkin kelewat jujur.

Seok Jin lagi-lagi juga mengacungkan tangannya, bertanya. “Rina-ya. Aku juga ingin memanggilmu begitu. Kau suka apa? Apapun, makanan barang? Dan kudengar kau muslim?”
Alih-alih mau menjawab, Jungkook malah menyelaku. “Rina menyukai Kerropi, katak hijau dengan suara aneh itu. Apapun yang berhubungan dengan Kerropi dia akan menggeliat dengan senang sambil berteriak dan loncat-loncat. Dan berakhir dengan kata, ‘ahhh lucu sekali’,” Jungkook meniruku.

Sial, Jungkook oppa membuka aibku.’ Gerutuku sambil tersenyum kecut padanya.

Bukannya berhenti dia malah menaik turunkan alis dan melanjutkannya, “Dan dia seorang muslim. Ya dia muslim. Dia sangat taat beribadah. Agamanya juga melarang untuk memakan babi, berdekatan dengan anjing sekalipun ia ingin sekali dan meminum soju atau mabuk-mabukan. Dan dia juga harus makan makanan yang halal.

Ketika Jungkook menjelaskan semuanya, ekspresi setiap member kecuali aku, Anna dan Jungkook pastinya seketika melongo. Tak percaya dengan apa yang dikatakan Jungkook.
Kini Anna yang mengacungkan tangannya, “Ya, maknae ini sangat rajin beribadah. Karena aku adalah roomatenya. Aku tahu betul setiap dia akan melaksanakan ibadah. Dan anjing, Kookie dia bukannya tak boleh berdekatan dengan anjing, dia hanya perlu menjaga agar anjing itu tidak menjilatinya atau menghindari air liurnya.” Jelas Anna.

Ah eonni, kau memang penyelamatku,” batinku sambil tersenyum-senyum pada Anna.

Sejurus kemudian mereka yang lain hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Setidaknya mereka harus tahu makananku harus serba dijaga disini dan juga waktu beribadahku harus tetap teratur.

“Aku merasa senang mendapat teman berbeda kepercayaan sepertimu, Rina-ya. Tentunya kami semua disini juga begitu. Semoga tak ada perdebatan yang memecah belah. Dan Kookie, Jin hyung bertanya pada Rina, bukan padamu.” Perjelas Rapmon. Yang dimarahi lagi-lagi malah unjuk gigi. Taehyung dan Jungkook tak ada bedanya.

“Ah iya, ngomong-ngomong tujuan dibentuknya Bangtan Girls adalah untuk mewakili ARMY, mungkin lagu kalian tak sepenuhnya hasil re-make, hanya berbeda lirik pada beberapa part. Kenapa lagu kalian itu mewakili ARMY? Karena lagunya mewakili perasaan perempuan terhadap kami.” Jelas Jimin yang sedari tadi lebih senang menyimak.

“Jadi maksudnya seperti lagu I Need You, yang biasanya I need you, girl menjadi I need you, boy, begitu?” tanyaku. Member Bangtan Boys mengangguk bersamaan sebagai jawaban. “Benar sekali Rina, jadi kalian bisa mewakili ARMY secara maksimal.” Sahut Suga menambahkan.

Setelah perkenalan dan beberapa basa-basi sebelum meninggalkan ruang latihan. Akhirnya latihan dibubarkan. Aku dan ke-6 anggota Bangtan Girls berpamitan dan mengucapkan terimakasih. Lalu kembali ke asrama masing-masing.

Ketika ke-5 lainnya sudah mulai memasuki kamarnya, aku hendak menuju rooftop untuk menenangkan diri menghirup udara malam.

“Mau kemana?” tanya Anna sedikit mencegah dengan menarik lenganku.

“Ke rooftop, sebentar. Mengambil nafas.” Kataku. Sejurus kemudian Anna mengangguk mengerti.

Rooftop dan langit malam adalah hal yang paling menakjubkan sekaligus menenangkan. Sambil menatap bintang, aku mengambil ponsel. Hendak menelepon Mama di Indonesia.

Hallo?” sahut Mama di ujung telepon. Rasanya ingin menangis sudah lama tak mendengar suaranya.

“Hallo Ma, ini Rina.”

Rina? Sayang? Kamu sehat disana, ‘nak?

“Iya Ma, Rina sehat. Mama sehat ‘kan?”

Mama sehat disini. Bagaimana disana? Sekolahmu? Traineenya?

“Syukurlah. Disini baik-baik saja, Ma. Sekolahku lancar, soal trainee sebentar lagi aku akan debut menjadi artis, Ma. Do’akan aku ya.” Kataku parau akhirnya menahan tangis.

Alhamdulillah, Mama do’akan yang terbaik sayang. Jaga diri ya.”

“Iya, Ma. Mama juga. Lusa nanti Rina pulang ke Indonesia, minta izin.”

Pulang ‘nak, pintu terbuka lebar untukmu kapanpun.”

Aku tersenyum kecut, betapa rindu diri ini pada pelukan Mama. Karena jika Mama tahu, aku pulang ke Indonesia hanyalah untuk melepas rindu sebentar. Karena sore, malam atau mungkin pagi esoknya aku harus kembali ke Korea dan menetap disana karena jadwal debutku. Setelah lama basa-basiku bersama Mama, telepon akhirnya diputus. Melepas penat, keluh kesah pada malam dan langit berbintang memang hal yang tak pernah kusesali.

“Hey, kau melamun!” kata Jungkook yang entah darimana tiba-tiba di sampingku.

“Tidak, ish.” Elakku sambil sedikit kesal karena mengejutkanku.

“Jangan melamun, ini sudah malam kau tahu.”

“Iya aku tahu,” kataku ketus.

“Ini untukmu,” katanya sambil menyodorkan minuman kaleng bersoda.

“Dalam rangka apa?”

“Ucapan selamat karena akan debut.”

“Terimakasih.” Kataku. “Kau memang sudah tahu dari awal ya ternyata. Menyebalkan sekali.” Lanjutku.

Surprise. Tak akan seru jika kau tahu duluan.” Jungkook nyengir.

Sambil membuka dan meminum kaleng soda pemberian Jungkook, aku menatap sekeliling. Lalu terfokus pada gedung yang hampir jadi di depan gedung agensi. Seolah tahu fokusku kemana, Jungkook berceloteh, “Akhirnya gedung itu hampir jadi juga ya.”

“Gedung trainee.” Sahutku pelan.

“Iya. Kau tak perlu pindah, Rina. Karena sebentar  lagi kau akan debut. Kau akan menjadi artis.”

“Aku tak perlu pindah?” tanyaku mendadak bodoh.

“Tidak perlu. Kecuali jika gedung disana sudah kita beli.” Kata Jungkook sambil menunjuk gedung dimaksud. Tanpa sadar aku menguap lebar sekali. Sepertinya kantuk baru menyerangku. Jungkook yang melihatku menguap langsung tertawa sambil mengusap kepalaku, “Sudah debut nanti kau harus belajar menjadi makhluk nocturnal. Ayo istirahat!” Ajaknya. Aku mengangguk mengiyakan lalu mengikutinya.

█ █🌺█ █🌸█ █🌼█ █ TO BE CONTINUED █ █🌺█ █🌸█ █🌼█ █

AUTHOR’s NOTE

Fiuh._. Bingung sih ya mau cuap-cuap apa kalau authornya ada 2 gini wkwk. Jadi kayanya bakal bacot mayan banyak nih buat chapter pertama. Maaf ya readers *deepbows /lumayan sambil kenalan loh /apasih.
So, let’s begin with founder this idea, Meganda’s! *keprok~~

MEGANDA’s NOTE

Hallo~~
Perkenalkan author baru yang siap melemparkan fantasi gila ke kalian /bhakkXD
Untuk cerita kali ini, maafkan kalo masih gajelas, krik-krik guguk auuu/? Karna author sendiri masih rookie disini ㅠㅠ
Kalo kalian bertanya, kenapa bisa kepikiran ceritanya gini? Karena author kebanyakan ngidol idol Jepang sebelah yg bejibun sister grupnya /eh /gak /plak😂😂
Sebenernya ini ff gaya penulisannya kacau kaya ucapan author ini😂😂
Tapi dibantuin Arr, akhirnya gaya bahasanya rapi *menurut author /ditendang Arr😂😂
Pokonya terakhir semoga suka, kalo suka ikutin aja terus jalan ceritanya. Kritik saran diterima karna itu sangat penting bagaikan pendapatan buruh bangunan /bhak :v /ga😂😂
SEKIAN DAN TERIMAKASIHHH🙋🙋

ARR’s NOTE

Ty buat Nda /ane manggil Meganda begitu/ yang udah ngizinin ikut cuap-cuap di ffnya. Gimana bilangnya ya? Sebenernya tulisan Arr sendiri belum bagus kok, masih berantakan banget pokonya XD tapi belajarlah dikit-dikit dari senpai hehehe :v Btw, maaf ya isinya kepanjangan gini. Pure ff itu ada 3.603 words. Tapi ditambah disclaimer sama cuap-cuap jadi 4.040 dah :v
Awalnya sih iseng nanya doi; katanya bikin ff gitu, pas baca; wih ini idenya keren /kata ane/ terus ane bilang aja mau beta-in. Dan jadilah collab, soalnya beberapa diantara isinya ada hasil otak ane juga wkwk :v
Ya, pokonya. Makasih banyak buat readers yang udah baca. Plis ninggalin jejak, like doang juga gapapa kok sumpah;( soalnya berarti bgt sebagai ff debut. Iya ini ff debut pertama tentang bities haha xD yaudah sih :v gananya juga ‘kan /apasih😂😂
Peluk cium buat Suga /dilempar budir Echaminswag/ gadeng, flying kiss buat readers haha. Thanks for reading!😂🙈💘

Advertisements

7 thoughts on “[BTS FF Freelance] Survive to be an Idol (Chapter 1)

  1. wahh ff nya bagus , ini ada adegan romans gak ya ?? ada ya antara jungkook dan rinata , itu mimpi nya knapa ya ?? rinata orang kaya atau sebalik nya ? ahh lanjut deh pokok nya , penasaran , eh sbentar author nya ada 2 😓 baru tau 😂😂 lanjut deh. dan klo boleh tau author2 ini ada fb tidak ?? klo ada boleh dong di bagi , supaya bisa lebih kenal, salam 98liner

    Liked by 1 person

    1. Hallo. Maaf ya baru dibalas wkwk.
      Ada kok, tenang aja. Romance kan bumbu penting wkkw. Ada apa yaa Kuki sama Rina? :v
      Iyaa authornya ada dua, kita collab hahaha.

      Ada kok, ada. Dateng ke blog aku aja yuk, nanti kenalan disana biar gampang :v hihi.
      Salam 98 juga><

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s