[BTS FF Freelance] Rainbow After the Storm (Oneshoot)

tumblr_inline_nnbj10PHnk1s9n3s8_500_副本

Author    : Nadiakhair

Cast    : BTS Kim Seokjin, Kim Taehyung, dan Kim Namjoon ; Moon Seulhee, Moon Jiho ; others

Genre    : Family, hurt, a little bit romance

Rating    : PG-15

Length : Oneshoot

Disclaimer :

Ini FF pertama yang aku kirim kesini. Semoga para pembaca suka, ya ☺ saran dan komentar sangat diperlukan. Jangan ragu untuk meninggalkan jejak, saran, kritik yang membangun, dan komentarnya. Happy reading!

Ibu sakit, Hyung, pulanglah.

Seokjin hanya mampu menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar. Taehyung, adik lelakinya, sudah 4 kali mengiriminya pesan yang sama. Tidak ada niatan Seokjin untuk membalas pesan-pesan itu. Kejam? Ya, ia tidak peduli lagi. Rasa sakit hatinya tidak bisa hilang sampai sekarang, padahal kejadian itu sudah berlangsung 7 tahun yang lalu.

Tujuh tahun lalu seorang Kim Seokjin yang tengah beranjak dewasa pergi meninggalkan rumah. Dua minggu setelah kematian ayahnya, hubungannya dengan sang Ibu memburuk. Seokjin iri pada Taehyung yang selalu dimanja, dituruti apapun keinginannya, bahkan ketika adiknya itu menolak untuk menjadi seorang tentara –seperti yang diinginkan mendiang ayahnya.

Adikmu punya potensi lain yang lebih baik, begitu kata ibunya.

Sementara dirinya?

Seokjin merasa tidak adil. Ibunya lebih memperhatikan Taehyung, mengantarnya les vocal, lomba, dan semuanya serba dituruti. Seokjin sangat benci, ia pun memilih untuk kabur dari rumahnya di Busan dan merantau ke Seoul. Kini, ia sudah menjadi seorang arsitek muda yang sukses. Ia sudah merancang bangunan dan beberapa jembatan ternama di Hongkong, Jepang, Cina, bahkan Belanda. Bahkan ia telah mendirikan usaha di bidang property. Ia bebas sekarang.

“Permisi,” suara lembut seorang perempuan membuyarkan lamunannya.

“Apakah Anda yang bernama Kim Seokjin?” tanyanya lagi.

Seokjin mengangguk dan tersenyum simpul, ia dengan segera memasukkan ponselnya ke saku jasnya. “Apa Anda sekretaris yang diusulkan oleh Hoseok?”

“Ya, perkenalkan nama saya Moon Seulhee.”

Keduanya membungkuk sebagai tanda hormat.

“Saya harap Anda bisa nyaman bekerja dengan saya, Nona Moon.”

Seulhee tersenyum, “Anda bisa memanggil saya Seulhee, tak perlu ada embel-embel Nona.”

Seokjin memandang Seulhee dengan teliti. Gadis itu cantik, ramah, dan memancarkan aura yang berbeda. Ia yakin kalau Seulhee bisa menjadi partner yang baik untuknya.

    Seokjin menikmati hari-harinya seperti biasa seolah tidak terganggu oleh kabar buruk tentang kesehatan ibundanya. Seperti sekarang ini, ia sedang menikmati jamuan makan malam bersama para pengusaha dan arsitek-arsitek muda sukses lainnya. Mereka menyewa sebuah hotel mewah di Seoul. Seokjin menikmati malam yang semakin larut dengan segelas wine di tangan kanannya. Ia pergi ke balkon bersama Namjoon, salah satu rekannya.

“Sudah lama aku tidak bersenang-senang,” ucap Seokjin.

“Namanya juga arsitek yang baru naik daun. You’ve been so busy these day, man!” gurau Namjoon.

Keduanya tertawa lalu bersulang.

“Kudengar kau punya sekretaris baru, ya? Is she that hot?” Namjoon berbicara dengan logat Amerika yang khas ditambah dengan raut muka yang menunjukkan rasa penasaran. Seokjin hanya tertawa pelan menanggapi pertanyaan rekannya itu.

“Pekan ini aku berencana untuk main golf, mau ikut?” Seokjin mengalihkan pembicaraan.

I’m sorry, I have a family party this week. Sudah lama aku tidak bertemu dengan kedua orangtuaku.”

“Oh, kedengarannya bagus.”

Namjoon menyesap kembali winenya, “Kau tidak ada niatan untuk mengunjungi ibumu?” tanyanya.

Seokjin terdiam sejenak.

“Omong kosong macam apa itu, Namjoon.”

Keluarga.

Satu kata itu terasa amat menohok bagi Seokjin. Ia menatap Namjoon sekilas, ada perasaan sesak dalam dirinya. Seketika ia teringat ibunya yang sedang sakit. Namjoon, lelaki itu sudah amat sukses tetapi ia tidak pernah melupakan keluarganya.

Apa yang kau pikirkan, Seokjin…

Dengan segera ia menepis semua pikiran yang sempat terlintas tadi. Tidak, nasibnya berbeda dengan Namjoon. Keluarga Namjoon baik-baik saja, tanpa masalah, tidak seperti keluarganya. Lagipula, ia juga bisa sukses tanpa bantuan ibu dan adiknya sekalipun.

PIP PIP!

Ponsel Seokjin berbunyi, tanda sebuah pesan masuk. Ia pamit sebentar pada Namjoon untuk menjauh, perasaannya berkata bahwa Taehyung-lah yang mengiriminya pesan. Kali ini pasti tentang ibunya lagi.

Hyung, ibu masuk rumah sakit. Bisakah kau pulang? Kumohon, sekali ini saja, buatlah ibu lega.

Seokjin segera menghubungi Taehyung, “Berikan alamatnya padaku sekarang.”

Tiga jam kemudian, Seokjin sudah duduk berhadapan dengan Taehyung di kafetaria sebelah Rumah Sakit. Seokjin sengaja, ia tidak ingin melihat ibunya secara langsung.

“Bagaimana keadaan ibu? Apa dia tidak curiga saat kau keluar?” Tanya Seokjin pada adiknya.

“Tidak, ada seorang perawat yang menjaganya. Aku bilang ingin membeli makanan ringan.”

Keheningan menyelimuti keduanya. Entah sudah berapa lama mereka, Seokjin dan Taehyung, berbicara empat mata seperti ini. Percakapan terakhir mereka adalah ketika Taehyung menahannya pergi tujuh tahun lalu. Kini mereka menjadi canggung.

“Jadi… Sampai kapan hyung akan terus sembunyi seperti ini?”

“Aku tidak pernah sembunyi.”

“Tak bisakah hyung menemui ibu sekali saja? Kondisinya cukup parah sekarang, mungkin ibu juga rindu padamu,” Taehyung menatap Seokjin penuh harap. Jujur, ia sangat ingin keluarganya utuh kembali. Ia rindu kakaknya, Kim Seokjin.

“Kau tahu apa jawabanku dan alasan dibalik semuanya. Luka itu masih ada, Taehyung.”

“Tapi…”

“Aku sudah sukses, aku sudah menemukan hidupku yang sesungguhnya. Berhenti mencampuri urusanku. Ibu lebih membutuhkanmu, bukankah dari dulu ibu sudah memperlihatkannya?”

Seokjin mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya. Amplop itu berisi sejumlah uang untuk biaya pengobatan ibundanya. Amplop itu dilemparkannya dengan sedikit kasar pada Taehyung. “Ambillah, untuk pengobatan ibu.”

Kemudian pria berbadan jangkung itu bangkit dari kursinya dan melenggang pergi. Dengan tergesa ia masuk ke dalam mobil mewahnya. Jam menunjukkan pukul 1 dini hari, ia akan sampai di Seoul pukul 3 jika tidak terjebak macet. Seokjin sadar kalau besok ia ada jadwal meeting dengan relasinya, ia tidak boleh terlambat. Dalam perjalanan pulang, ia melewati Rumah Sakit tempat ibunya dirawat. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya, namun ia memilih untuk acuh dan tetap pergi.

============00============

“Tuan Seokjin.”

“…..”

“Tuan Kim Seokjin.”

“…..”

PLAK!

Seulhee menepuk kedua telapak tangannya di depan wajah Seokjin, membuat pria itu tersadar dari lamunannya. Ia sedikit kaget saat melihat kedua telapak tangan Seulhee yang berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Seulhee yang baru sadar akan perbuatannya segera menyingkirkan kedua telapak tangannya. Ia membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf, ia merasa sudah bertindak keterlaluan pada atasannya.

“Maaf, Tuan, saya terpaksa melakukannya karena sedari tadi Anda terus melamun.”

“Ya.”

“Setelah ini kita ada undangan makan siang dengan TS Company di restoran daerah Gangnam,” ujar Seulhee sambal membolak-balik halaman di buku catatan kecilnya. Kini mereka sedang berada di dalam lift dan akan menuju ke parkiran, mereka baru saja selesai rapat.

“Oke, kita langsung kesana.”

“Tapi, Tuan, saya tidak bisa ikut. Saya harus menjemput adik dari sekolah, ia sedang tidak enak badan,” ucap Seulhee hati-hati.

“Jam berapa undangan makan siangnya?”

“Satu jam lagi, Tuan.”

Seokjin melirik jam tangannya. “Aku ikut menjemput adikmu, setelah urusan beres kita berangkat,” tukas Seokjin cepat. Tanpa memperdulikan Seulhee yang seketika diam di tempat, ia terus berjalan dengan entengnya.

Seulhee mencerca Seokjin dengan berbagai pertanyaan, bahkan sampai mereka sudah berada di dalam mobil. Supir yang mengantar mereka dibuat heran, baru kali ini ia melihat seorang sekretaris yang berani seakrab itu dengan Seokjin.

“Tuan, apa Anda yakin?”

“Ya.”

“Tapi ini akan memakan waktu lama. Saya masih harus menyiapkan makanan dan segala macamnya untuk adik saya.”

“Tak apa.”

“Tapi, Tuan….”

“…..”

“Nona Moon, kau ini berisik sekali.”

Seulhee menghentikan ocehannya saat itu juga. “Jeosonghamnida,” ucapnya pelan.

“Terserah,” dengus Seokjin malas.

Mereka sampai di depan sebuah SMP di pinggiran kota Seoul. Seokjin memilih untuk tetap berada di dalam mobil sementara Seulhee masuk ke gedung tua itu untuk menjemput adiknya. Tak lama, Seulhee muncul dengan seorang anak laki-laki. Entahlah, dari wajahnya tidak nampak tampang orang sakit sama sekali.

Noona, ini mobil siapa?” Seokjin dapat mendengar dengan jelas suara adik Seulhee yang cukup keras itu.

“Sapalah dengan sopan, dia itu atasanku,” bisik Seulhee saat keduanya sudah berada di dalam mobil.

Annyeonghaseyo, Moon Jihoo imnida. Bangapseumnida, Ahjuss –Aww!”

Jihoo meringis kesakitan saat tangan Seulhee mencubit pinggang kanannya cukup kencang. Saat menoleh, ia mendapati kakak perempuannya itu menatapnya sangar. “Apa?” ucap Jihoo pelan.

“Dia bukan ahjussi.

Seokjin hanya tersenyum tipis melihat kelakuan sepasang kakak beradik itu. Tiba-tiba saja ia teringat pada Taehyung, dulu mereka juga sering bercanda bersama dan… Ah, Seokjin benci jika ia sudah mengingat-ingat masa lalunya.

“Kenapa bisa sakit, sih? Jajan sembarangan, ya? Aku kan, sudah bilang,” omel Seulhee.

“Kemarin aku kehujanan,” Jihoo membela diri.

Setelah 15 menit menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah pemukiman sederhana. Seokjin memperhatikan sekitar dengan seksama. Ia heran, bagaimana mungkin wanita secantik Seulhee tinggal di tempat kumuh seperti ini.

“Jika Anda tidak keberatan, mampirlah ke rumah kami,” ucap Seulhee sopan.

“Iya, Hyung, nanti aku tunjukkan koleksi robotku!” Bagai petir, Jihoo menyambar dengan antusias seolah ia dan Seokjin sudah lama kenal. Tentu saja hal itu membuat Seulhee tak segan mendaratkan hantaman di kepala adiknya.

Mampir? Tidak ada salahnya, pikir Seokjin. Ia akhirnya memutuskan untuk ikut masuk ke rumah Seulhee dan Jihoo. Walaupun ia sedikit tidak tahan dengan bau selokan yang cukup menyengat saat mereka melewati sebuah gang sempit.

“Silahkan.”

Seokjin dibuat terpesona begitu masuk ke rumah Seulhee, begitu rapi, bersih, dan sangat nyaman. Sebuah hunian sederhana yang tidak terlalu besar. Seokjin duduk di sebuah sofa berbahan kulit, sementara Seulhee sibuk mengurus adik kecilnya yang (katanya) demam. Ia melihat ke sekeliling, kakinya mulai melangkah untuk menjelajah sebab ia bosan duduk berlama-lama. Terlihat beberapa bingkai foto yang terjajar rapi di dinding. Salah satu yang menyita perhatiannya adalah foto keluarga Seulhee, mereka tampak tersenyum bahagia. Seulhee terlihat sangat cantik dengan hanbok berwarna pastel, wajahnya sangat mirip dengan ibunya. Lagi-lagi, perasaan rindu itu datang.

“Silahkan diminum tehnya, Tuan.”

“Eh?” Seokjin terkesiap saat mendengar suara Seulhee dari balik punggungnya. “Maaf,” ucap Seokjin kemudian.

Seulhee tersenyum ramah, ia beralih ke sebelah Seokjin. “Ayahku sudah meninggal 9 tahun yang lalu, sedangkan ibuku berada di Ilsan menemani nenekku yang sudah tua dan tinggal seorang diri.”

“Jadi kalian hanya tinggal berdua?”

Seulhee mengangguk.

Hyung! Kau suka robot?” tiba-tiba saja Jihoo muncul.

“Astaga, Jihoo! Katanya sakit, kenapa malah main?!” omel Seulhee. Jihoo Nampak kecewa saat kakaknya mendorongnya kembali ke kamar.

“Tapi aku ingin pamer pada hyung.”

Seokjin tertawa melihat ekspresi Jihoo yang menurutnya lucu itu. “Seulhee, biarkan dia disini bersamaku.”

“Tapi, Tuan…”

“Kemari, Jihoo-ya!” titah Seokjin.

Jihoo menjulurkan lidahnya pada Seulhee kemudian berlari mendekati Seokjin. Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Seokjin tidak sadar bahwa ia bersikap sangat hangat pada Jihoo, apa saja yang ia lakukan sekarang ini sama persis seperti apa yang ia lakukan pada Taehyung. Rangkulan itu, tawa itu, semuanya sama persis seperti bertahun-tahun lalu saat hubungannya dengan Taehyung masih baik-baik saja.

“Jangan bilang kau membohongi noona?” selidik Seokjin.

“Tidak, aku memang sedang tidak enak badan.”

“Hmmm… Baiklah, aku percaya. Ngomong-ngomong, kau ini kelas berapa?”

“Kelas 1.”

“Jadilah anak yang rajin, ya.”

Jihoo mengangguk senang.

Melihat keakraban sang Adik dengan Seokjin, Seulhee merasa senang. Ia senang karena hubungannya dengan Seokjin menjadi lebih baik, sehingga mereka tidak akan terlalu canggung nantinya.

“Astaga!” Seulhee agak berteriak saat melihat arloji yang melekat di tangan kirinya. Mereka terlambat menghadiri undangan makan siang. Dengan segera ia menghampiri Seokjin.

“Tuan,” panggilnya. “Kita terlambat menghadiri undangan makan siang.”

“Tidak apa-apa, Seulhee.”

Bibir mungil Seulhee terbuka. Semudah itukah dia membatalkan perjanjian? Batin Seulhee tak percaya.

“Tak perlu khawatir, aku sudah menghubungi sekretaris TS Company tadi,” kata Seokjin enteng.

Hari itu Seokjin menghabiskan waktu di kediaman Seulhee. Ada sebuah kenyamanan baru saat ia berada di tengah sepasang kakak beradik itu. Sebuah kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan, kehangatan sebuah keluarga.

============00============

Hari demi hari berlalu, Seokjin benar-benar lupa dengan kondisi ibunya. Taehyung pun sudah tidak pernah mengiriminya pesan lagi, ditambah dengan pekerjaannya yang semakin padat sehingga perhatiannya hanya fokus pada pekerjaan.

8 Oktober.

Akhirnya hari itu datang juga. Hari yang menjadi peringatan kematian ayah Seokjin. Entah kenapa ia merasa sangat ingin mengunjungi makam ayahnya itu. Tetapi ia ragu, takut kalau ibu dan adiknya juga datang ke makam ayahnya. Ia tidak mau hal itu terjadi. Dan lagi, ia kini tengah menatap meja ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Seulhee yang sedari tadi mengoceh menyebutkan satu persatu jadwalnya untuk seminggu ini pun diacuhkannya. Seokjin tidak fokus.

“Aku ingin usul, bagaimana kal–“ ucapan Seulhee seketika terhenti saat ia menyadari bahwa Seokjin tidak sedang memperhatikannya. Wanita itu mendesah pelan, ia yakin ada yang tidak beres dengan atasannya ini.

“Anda melamun lagi, Tuan.”

Seokjin langsung ‘kembali’ saat mendengar teguran halus Seulhee. Ia kemudian menegakkan posisi duduknya dan menatap sekretarisnya itu dengan seksama. “Apa ada yang ingin dibicarakan?” tanyanya.

Seulhee memutar kedua bola matanya. “Mungkin Anda butuh hiburan, Tuan. Kelihatannya kondisi psikismu sedang tidak baik.”

Seokjin tertegun, “Kau pikir aku gila?!”

“Bukan seperti itu, Tuan,” Seulhee tertawa. “Sepertinya Anda sedang punya masalah yang cukup berat, Tuan. Akhir-akhir ini Anda sering melamun.”

“Haha…” suara tawa yang dipaksakan sangat terdengar.

“Apa ada yang bisa saya bantu?”

Seketika Seulhee berubah bak seorang malaikat di mata Seokjin. Senyum tipis yang menyiratkan ketulusan terukir di wajahnya, sangat jelas kalau sosok di hadapannya itu ingin membantu.

“Hhhh…” hembusan nafas berat Seokjin memecah keheningan di antara keduanya. “Aku sedang bingung. Hari ini peringatan 7 tahun kematian ayahku, aku ingin sekali mengunjungi makamnya tapi…” Seokjin menggantung kalimatnya. Tidak mungkin ia menceritakan semuanya pada Seulhee, masalah ini terlalu pribadi dan ia juga merasa malu.

“Tapi?”

“Jadwalku padat hari ini. Ayahku dimakamkan di Busan, cukup jauh dari Seoul,” ia berbohong.

Seulhee tampak berpikir sejenak, sementara Seokjin justru asyik menikmati wajah Seulhee yang terlihat menggemaskan saat sedang berpikir. Pandangannya berkeliling kesana kemari seakan sedang mencari inspirasi. Mungkin Seokjin mulai menaruh hati pada Seulhee. Mungkin.

“Tuan, aku bisa kosongkan jadwalmu hari ini. Berangkatlah ke Busan, aku yang akan mengatur semuanya.”

“B-benarkah?”

Seulhee mengangguk mantap.

Dengan mantap Seokjin menyambar kunci mobilnya dan berlari menuju ke parkiran mobil. Ia sangat senang, kini harapannya hanyalah semoga ibu dan adiknya tidak datang ke makam bersamaan dengan kedatangannya.

Perjalanan Seoul-Busan ditempuh dengan waktu yang relatif sebentar karena hari ini jalanan tidak terlalu ramai. Tak lupa Seokjin membeli sebuket bunga untuk ayahnya. Sesampainya di pemakaman, Seokjin segera menghampiri makam ayahnya.

Makam itu masih bagus dan terawatt, membuatnya lega. Ia berlutut dan meletakkan bunga yang ia beli tadi di atas makam ayahnya. Tangannya terulur untuk menyentuh nisan yang sudah mulai keropos dimakan usia.

“Bagaimana kabarmu, Ayah? Kuharap kau sudah tenang disana.” Tak terasa sungai-sungai kecil mulai mengalir di kedua pipinya. Ia memang sangat rindu pada ayahnya. “Aku sudah sukses sekarang, kau bangga, kan?”

Seokjin benar-benar tak kuasa membendung airmatanya, ia hanya bisa menangis dan memeluk nisan ayahnya erat. Ada banyak yang ingin ia ungkapkan, namun mulutnya tak mampu untuk berbicara. “Maafkan aku, Ayah, maafkan aku…” hanya itu kalimat terakhir yang mampu ia ucapkan, selebihnya ia hanya menangis.

Setelah puas mengunjungi ayahnya, Seokjin kembali ke mobilnya. Namun saat ia melintasi gerbang pemakaman, seorang penjaga menghentikan langkahnya.

“Untukmu,” seorang pria paruh baya menyerahkan amplop kecil yang sudah kekuningan karena lama disimpan. “Adikmu menitipkannya padaku, kalau kau datang kesini aku harus menyerahkannya.”

Seokjin menerima amplop itu dengan sopan kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Saat sampai di mobil, Seokjin menatap amplop itu dengan nanar. Mungkinkah ini surat wasiat dari ayah? Batinnya.

Dengan ragu ia membuka amplop tersebut. Terdapat selembar kertas usang yang terisi penuh oleh goresan tangan sang Ayah. Seokjin sangat penasaran dibuatnya, meski ragu ia tetap memberanikan diri untuk membaca surat itu.

Untuk anakku, Kim Seokjin

Apa kabar, Nak? Kuharap kau baik-baik saja. Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah tiada. Tak apa, surat ini memang khusus kutuliskan untukmu.

Anakku, saat kau tumbuh dewasa nanti akan ada banyak hal yang kau temui. Akan ada banyak rintangan yang menghadang jalanmu menuju kesuksesan. Tak perlu khawatir, kau hanya perlu terus semangat dan tidak berputus asa. Jangan lupa juga untuk terus berdoa dan meminta restu ibumu.

Ya, Nak, ibumu.

Dia adalah wanita terhebat dalam hidup keluarga kita, bagi ayah, kau, dan adikmu, Taehyung. Jangan pernah lupakan jasanya yang telah mengandung dan merawat kalian sejak kecil. Darinya kau bisa belajar tentang arti ketulusan cinta. Ibumu juga yang akan menjadi penentu kesuksesanmu.

Seokjin, jadilah lelaki sejati yang selalu tabah dan bisa melindungi keluarga. Lindungi ibu dan Taehyung, jagalah mereka. Kau yang akan menjadi tulang punggung keluarga saat ayah tiada. Tetaplah bersama mereka apapun yang terjadi, sesulit apapun kondisi yang kalian hadapi. Ayah hanya ingin melihat kalian bahagia bersama.

Saat ibu memarahimu, jangan pernah merasa sakit hati, itu adalah wujud kasih sayang nyata darinya. Begitu juga saat kau merasa ibu tidak adil, ibu lebih memperhatikan Taehyung. Sesungguhnya ia tak bermaksud begitu, tapi itu adalah pertanda bahwa kau sudah dianggap cukup dewasa dan harus belajar mandiri.

Seokjin, hanya satu pesan ayah, tetaplah bersama dengan ibu dan adikmu. Tak peduli seberapa sukses dirimu kelak, ayah ingin kalian tetap rukun dan bahagia bersama. Ayah yakin, kau pasti bisa menjaga keluarga kecil kita, Nak. Ayah sayang padamu.

Sakit. Dadanya terasa sakit setelah membaca surat wasiat ayahnya itu. Ayahnya seolah menegurnya lewat rentetan kalimat yang ia tulis dengan tangannya sendiri. Secara tidak langsung, Seokjin merasa tersindir, merasa ia telah dicap sebagai ‘Anak Durhaka’ oleh ayahnya sendiri.

“ARGHH!!”

Pengecut! Kau pengecut, Kim Seokjin! Makinya dalam hati. Ia benar-benar kacau saat ini.

DRRT! DRRT!

Benda pipih berwarna putih itu bergetar di atas dashboard mobilnya. Ia baru sadar kalau sedari tadi ia meninggalkan ponselnya di mobil. Dengan malas ia meraih benda itu, sebuah pesan masuk ke inboxnya.

Hyung, ibu masuk ruang ICU. Tolong jawab panggilanku.

Dunia serasa runtuh saat itu juga. Seokjin menangis tersedu-sedu dan membanting ponselnya ke sembarang arah. Ia sudah tidak peduli dengan sekitar.

“Payah! Kau memang payah!” tak henti-hentinya Seokjin memaki dirinya sendiri.

Dentuman musik disko semakin keras seiring dengan semakin larutnya malam. Nampak seorang pria tampan dengan kemeja yang berantakan, ia melepas dasinya kasar. Dengan tatapan kosong ia meneguk sebotol bir di meja bar. Ketika beberapa wanita ‘nakal’ mencoba mendekatinya, ia justru mengusirnya dengan kasar.

Dialah Kim Seokjin.

Pria itu malah memutuskan untuk pergi ke sebuah klub malam terbesar di Seoul, berniat melepaskan segala beban pikirannya. Kali ini ia sudah meneguk botol ketiga dan tampaknya ia belum berniat untuk berhenti.

“Seokjin! Are you insane, huh?

“…..”

“Hey, Kim Seokjin!”

Ia mendengar dengan jelas suara Namjoon, namun ia tidak mampu untuk bertahan. Pandangannya buram dan ia ambruk seketika.

============00============

Seulhee berjalan dengan tergesa menyusuri lorong apartemen Seokjin. Pagi tadi seseorang bernama Namjoon menghubunginya dan mengatakan kalau Seokjin sedang terkapar akibat mabuk berat semalam. Ia segera membatalkan seluruh jadwal Seokjin dan mengatakan kalau atasannya itu sedang tidak enak badan.

“Beruntung kau datang tepat waktu.”

Seulhee segera menuju ke kamar utama, tempat Seokjin ditidurkan. Ia dibuat terkejut saat melihat Seokjin yang pucat dan raut wajahnya benar-benar menyiratkan kepedihan. Seulhee yakin Seokjin sedang depresi.

“Aku tidak tahu beban apa yang ia pendam selama ini. Yang jelas, semalam ia meracau tidak jelas. Ia mengatai dirinya sendiri,” Namjoon muncul dan bersandar di pintu kamar. “Kuharap kau bisa memulihkan kondisinya.”

“Bukankah kau sahabat dekatnya?” Tanya Seulhee.

Namjoon tersenyum, “Kurasa kau orang yang lebih tepat untuk hal ini.”

“Baiklah. Eng… Bolehkah kau jaga dia sebentar? Aku akan membuatkan makanan untuknya.”

“Maaf, aku ada urusan penting setelah ini. Kurasa aku yang harus menitipkannya padamu.”

“O-oke.”

Namjoon pun pamit. Kini tinggal dirinya seorang diri yang menjaga Seokjin. Usai membuatkan makanan, ia kembali ke kamar Seokjin. Rupanya pria itu sudah siuman.

“Jangan dipaksakan, Tuan,” cegah Seulhee saat melihat Seokjin berusaha bangkit dari posisi tidurnya.

“Hey,” Seokjin mengerutkan dahinya. “Kenapa kau ada disini?”

“Teman Anda yang bernama Namjoon menghubungi saya tadi pagi.”

Seokjin hanya diam, kepalanya masih terasa sedikit pusing.

“Apa Anda sedang punya masalah? Kondisi Anda sungguh mengkhawatirkan.”

“Sesungguhnya aku ingin bercerita padamu, tetapi… Ini sangat memalukan.”

Seulhee menatap Seokjin khawatir, rupanya pria kalem yang menjadi atasannya ini sedang dirundung masalah serius. Karena tak tega, ia pun menawarkan diri untuk menjadi pendengar, siapa tahu ia bisa memberi solusi.

“Kau akan benci padaku setelah ini.”

“Tidak, Tuan. Setiap manusia pasti punya masalah, setiap manusia juga pasti pernah salah.”

Airmata itu kembali jatuh. “Aku adalah manusia paling pengecut di dunia ini. Aku payah, bodoh, dan tidak berguna. Aku sudah mengecewakan ayahku sendiri.”

Seulhee terdiam.

“Aku kabur dari rumah tujuh tahun yang lalu, dua minggu setelah ayahku meninggal. Aku iri pada adikku yang selalu mendapat perhatian lebih dari ibu. Dan kini, ibuku dirawat di ruang ICU, ia sakit. Aku… Aku bingung harus bagaimana, Seulhee.” Seokjin menceritakan semua kisahnya, termasuk surat wasiat yang kemarin ia terima.

Seulhee prihatin, sangat prihatin. Seorang pemuda sukses dan tampan seperti Seokjin, ternyata menyimpan kisah masa lalu yang pahit. Tidak bisa dipungkiri, cerita Seokjin membuatnya teringat pada ibundanya di Ilsan.

“Aku juga sama sepertimu, tinggal terpisah dengan keluarga. Aku berusaha untuk menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi Jihoo. Disitulah aku merasakan betapa beratnya perjuangan seorang ibu. Jika saja Tuan tahu, pasti beliau selalu menyisipkan doa untuk Anda di setiap hembusan nafasnya. Itulah yang mengantarkan Anda menjadi sukses seperti sekarang ini. Begitupun dengan adik Anda, ia juga melakukan hal yang sama.”

Seokjin terdiam menyesali perbuatannya. Perkataan Seulhee benar, ia terlalu egois selama ini, ia selalu menutup mata dan telinganya tak peduli dengan kondisi ibu dan adiknya. Sebenarnya ini bukanlah kesalahan ibu atau adiknya, tapi ini murni kesalahannya sendiri. Keegoisan yang tidak bisa ia kalahkan.

“Sebaiknya Anda sarapan terlebih dahulu. Setelah ini, Anda harus pergi ke Busan dan mengunjungi ibu.”

Seokjin menurut dan ia memakan sarapan yang disiapkan Seulhee. Masakannya sangat enak, ia jadi teringat masakan ibunya.

PRANG!!

Tanpa sengaja Seokjin menyenggol gelas saat ia hendak meletakkan piringnya di atas nakas di samping kasurnya. Gelas itu pecah berkeping-keping. Dengan cekatan Seulhee membersihkan serpihan gelas itu.

“Jangan mendekat, Tuan!” pekik Seulhee.

Entah mengapa, melihat Seulhee yang cekatan melakukan segala hal membuat Seokjin terpesona. Menurutnya, wanita itu sangat luar biasa. Akan sangat beruntung jika ia memiliki istri yang cantik, rajin, dan cekatan seperti Seulhee. Apalagi Seulhee juga pandai memasak, salah satu kriteria wanita idamannya.

Kini Seokjin sampai di Rumah Sakit tempat ibunya dirawat, bersama dengan Seulhee. Ia merasa bahwa Seulhee harus berada disampingnya seharian ini. Ada sebuah perasaan tak enak menggerogoti dadanya. Seulhee bilang itu hanya perasaan gugup karena sudah terlalu lama mereka tidak berjumpa.

“Anda tahu dimana ruangannya?” Tanya Seulhee.

“Sebentar lagi kita sampai, kok. Nah, itu dia adikku. Tae–“ Seokjin mengurungkan niatnya memanggil adiknya saat melihat seorang wanita berjas putih dengan stetoskop tergantung di lehernya keluar dari ruangan.

Tidak!

Kumohon, jangan menangis, Taehyung.

Kumohon.

Tidak mungkin.

Seokjin membeku di tempat. Ia melihat Taehyung menangis di hadapannya, rupanya adiknya itu tidak menyadari kehadirannya. Tiba-tiba saja kedua kaki Seokjin terasa berat untuk dilangkahkan.

“Tuan? Anda baik-baik saja?” Tanya Seulhee.

Sedetik kemudian, badan Seokjin bergetar hebat dan ia menangis. “Ibu…” isaknya pelan.

Menyadari suasana yang mulai tegang, Seulhee memampah Seokjin pelan menghampiri Taehyung. Dengan jantung berdebar, ia berusaha memanggil Taehyung.

“Taehyung-ssi.”

Lelaki itu menoleh seketika dan ia terkejut melihat kehadiran Seokjin. Lalu Seokjin menghambur ke arah adiknya itu secara tiba-tiba. Keduanya pun terisak, terutama Seokjin. Kini Seulhee mengerti, kakak beradik itu tengah berduka.

Ibunda Seokjin baru saja meninggal dunia.

“Maafkan aku, Tae. Maafkan kakakmu yang payah ini.”

“Minta maaf pada ibu, Hyung. Ia menantimu sejak kemarin.”

Seokjin melepas pelukannya dan berlari ke dalam ruang ICU. Beberapa orang perawat tengah mencopot selang dan alat yang menempel di tubuh ibunya. Para perawat seolah mengerti, mereka memberi ruang untuk Seokjin.

“Ibuuuuuu!!!”

Seokjin memeluk ibunya erat. “Aku menyesal, Bu. Aku menyesal! Maafkan aku, Ibu…. Maaf karena aku mengabaikanmu selama ini. Maaf karena aku tidak bisa menjagamu seperti yang ayah inginkan. Bangunlah, Bu…”

Seulhee meneteskan airmata saat mendengar isakan Seokjin dari luar ruangan. Ia sadar, momen ini akan datang juga padanya suatu hari nanti.

“Aku janji, aku akan menjaga Taehyung.”

“Aku janji akan mengajakmu berkeliling dunia dan melihat hasil karyaku, Bu.”

“Bangunlah, Bu, bangunlah…”

Semuanya percuma, Tuhan sudah mengambil nyawa malaikat penolong di hidup Seokjin itu. Semua sudah terlambat, tak peduli seberapa keras ia berteriak, ibunya tidak akan kembali. Sebuah pukulan telak untuknya, kini hanya ada penyesalan yang tersisa.

“Ibu, aku mencintaimu.”

============00============

Seokjin meletakkan sebuket bunga mawar segar di makam ibundanya, dan sebuket lainnya di makam ayahnya. Kedua orangtuanya dimakamkan bersebelahan. Tak terasa sudah 3 tahun ibunya pergi meninggalkan dunia ini. Selama itu pula Seokjin berusaha untuk mengembalikan kedekatannya dengan Taehyung, adik laki-lakinya. Ia memboyong Taehyung untuk tinggal bersama di Seoul dan membiayainya melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah seni.

“Apa kabar, Bu? Kami rindu padamu.”

Seokjin mengalihkan pandangannya ke samping, seorang wanita cantik tengah menggendong bayi perempuan berusia 1 tahun. Mereka adalah Seulhee dan Jinhee, dua bidadari pujaan hatinya.

Ya, setahun setelah ibunya meninggal, Seokjin meminang Seulhee dan kini mereka sudah dikaruniai seorang buah hati yang cantik.

Seokjin bahagia. Benar kata pepatah, setelah badai pasti akan ada pelangi. Ini merupakan momen terindah dalam hidupnya. Meskipun ia harus menelan pahitnya penyesalan saat ia tidak bisa berbicara dengan ibunya untuk terakhir kali, tapi insiden itu membuatnya sadar dan berubah. Kini keluarganya kembali utuh.

“Salah satu momen indah dalam hidup adalah kehadiran seseorang. Namun terkadang kita tidak menyadarinya sehingga kita harus menelan pahitnya kehilangan. Terimakasih, Seulhee, kau sudah bersedia berada di sisiku sampai saat ini. Terimakasih, Ibu, kau membuatku sadar akan hal terindah dalam hidup.” -Kim Seokjin-

-THE END-.

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Rainbow After the Storm (Oneshoot)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s