[BTS FF Freelance] You Are My Shining Star – (Oneshot)

jin

You Are My Shining Star

A Story by karamelmacchiato

Cast : Kim Seokjin

Genre : Slice of Life, Family, Sad

Rating : G

Length : Oneshot

I just own the storyline.

Note: Halo karamelmacchiato datang dengan ff remake. Kangen pingin post ff disini hehe. Ff ini pernah di publish dengan cast Chanyeol EXO, tapi waktu di publish kayak ada yang kepotong gitu kalimatnya jadi author sedih huhuu 😥

Author berharap disini ffnya ga kepotong-potong ya, biar dapet feelnya. Sekian dan happy reading

.

‘Dan bintang yang paling terang itu adalah orang yang paling kau sayangi.’

(Seokjin Oppa)

.

.

.

Pagi. Dan hujan sudah mengguyur kota seoul sejak dini hari. Aku terbangun dan melihat kakakku, Seokjin, duduk di sampingku, diatas springbed yang terbalut bedcover princess favoritku. Seokjin Oppa tersenyum padaku dan membelai lembut surai hitamku yang masih berantakan.

“Kau sudah baikan? Hmm?” Tanyanya.

Biar kujelaskan dulu bagaimana keadaanku saat itu. Jadi aku baru saja mengalami demam tinggi selama dua hari dua malam karena kehujanan seharian. Tapi untungnya suhu tubuhku sudah kembali normal.

“Apa kau sudah kuat untuk kembali pergi sekolah?”

Aku mengangguk.

“Baiklah tapi hari ini oppa yang akan mengantar jemputmu ke sekolah, mengerti?”

Aku hanya diam dan kembali mengangguk.

Mungkin ada beberapa pertanyaan di benak kalian, kenapa kakakku bicara seperti itu dan siapa yang mengantar jemputku sekolah selama ini jika bukan dia? Jawabannya adalah Jungkook, Jeon Jungkook pacarku.

Bukankah wajar jika anak SMA berangkat dan pulang sekolah bersama dengan pacarnya? Tapi entah kenapa kakakku selalu saja mempermasalahkan hubunganku dengan Jungkook. Dia punya banyak sekali alasan untuk menentang hubungan kami. Pertama, katanya aku masih kecil dan belum paham tentang apa itu cinta, kedua ujian sekolah yang semakin dekat, Kakakku bilang aku tidak pernah mendapat nilai bagus karena terlalu asik pacaran dan malas belajar. Ketiga, Jungkook itu masih belum dewasa. Keempat, kelima, dan seterusnya.

“Coba kalau waktu itu kau menurut dan pulang bersama oppa naik mobil, pasti kau tidak akan kehujanan dan jatuh sakit. Sayangnya kau lebih memilih pulang bersama bocah itu dengan motornya. Yah, beginilah jadinya.”

Oppa.” Aku mendengus kesal. Aku benci jika dia mulai membicarakan pacarku.

Dia tertawa dan kabur sebelum aku sempat memukulnya. “Cepat mandi dan bersiap-siap. Oppa akan memasak sarapan untukmu.” ucapnya dari balik pintu kamarku.

Aku hanya mendesah kemudian menuruti perintahnya untuk segera bersiap-siap.

Tubuhku masih terasa lemas. Memang benar kata Seokjin Oppa, seharusnya waktu itu aku menuruti perkataannya, tapi siapa yang tau kalau hari itu akan turun hujan? Jika aku tau pasti aku akan menyuruh Jungkook untuk jangan dulu pulang dan menunggu hujan turun hingga reda.

Kali ini aku mengalah pada kakakku dan pulang bersamanya, kami mampir ke sebuah restoran jepang yang berada di dalam departemen store untuk makan siang. Lalu setelahnya kuputuskan untuk jalan-jalan sebentar mengelilingi tempat itu.

Aku memekik girang kala melihat seekor anak kucing lucu di dalam kandangnya yang terpajang di sebuah etalase petshop yang kami lewati. “Waaah, lucu sekali! Oppa! Oppa kemari coba lihat!” kuhampiri kucing itu lantas kuperhatikannya dari balik kaca.

Kakakku turut mendekat dan tersenyum melihatnya.

Oppa aku mau.” ucapku merajuk manja.

“Belajar dulu yang benar, jika kau dapat nilai matematika diatas tujuh baru oppa belikan dia untukmu.”

“Ah oppa menyebalkan.” aku melengos dan kembali berjalan mendahului kakakku. Dia hanya menggeleng lalu mengikutiku.

Mataku kembali melebar ketika melihat sepatu converse high warna pink di sebuah toko sepatu ternama. Aku berlari kecil memasukinya. “Oppa kesini! Oppa ini bagus tidak?” tanyaku dengan antusias tinggi.

Seokjin Oppa hanya menatapku dengan datar. “Koleksi sepatumu sudah banyak dan semuanya masih bagus, bahkan beberapa hanya kau pakai sekali. Jangan membuang uang untuk hal yang tidak penting.” jawaban yang mengecewakan.

Aku tidak menyerah, “Tapi Oppa, aku belum punya converse warna pink pastel seperti ini. Di rumah hanya ada warna merah, putih, kuning, dan biru. Ini tidak ada di toko lainnya, Oppa.”

“Kubilang tidak.”

“Shhh. Oppa pelit!” aku berbalik dan berjalan cepat, berusaha meninggalkan kakakku.

Setelah itu aku sengaja mendiamkannya sepanjang perjalanan pulang hingga kami sampai di rumah dan keadaan kembali normal dengan sendirinya.

Malam itu, aku sedikit melirik kakakku yang sedang sibuk menyiapkan makan malam kami. Dia sangat jago memasak. Oh aku hampir lupa, aku belum cerita kalau kami hanya tinggal berdua di rumah yang cukup besar ini. Aku dan kakakku. Seokjin Oppa seorang lelaki berusia 24 tahun dan belum menikah, dia sangat menyayangiku lebih dari apapaun di dunia ini. Aku merasa sangat beruntung memilikinya. Jika kami bukan saudara aku yakin dia pasti akan melamarku untuk menjadi istrinya nanti.

Lalu dimana kedua orang tuaku? Ayahku tinggal di luar kota karena tuntutan profesi. Ibu? Sudah meninggal saat melahirkanku. Hanya itu yang kutahu. Orang bilang aku sangat cantik mirip seperti ibuku, tapi satu yang membedakan kami adalah sifat malasku.

Aku tidak pernah bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bagaimana tidak? Kakakku selalu melakukan semuanya untukku, memasak makananku, mencuci pakaianku, membersihkan rumah, semua dilakukannya seorang diri. Dia hanya menyuruhku untuk rajin belajar agar mendapat nilai yang bagus. Ya, nilai matematikaku memang sedikit mengecewakan dibandingkan mata pelajaran yang lain.

“Makan malam siap.” Suara Seokjin Oppa menyadarkanku.

“Hmm,” aku mengendus aroma chiken teriyaki buatannya. “Mari kita lihat, masakan chef Seokjin yang terkenal kelezatannya di seantero Korea ini, apakah benar seperti yang di bicarakan orang-orang?” ucapku dengan suara dan mimik lucu. Meniru salah seorang MC di acara memasak yang di tayangkan di suatu chanel televisi.

Seokjin Oppa tertawa geli.

Aku menyumpit sepotong daging ayam dan kemudian melahapnya. “Wah! Daebak!” kataku lagi, dengan ekspresi terkejut sekaligus kagum yang kubuat berlebihan membuat kakakku semakin terpingkal melihatnya. Aku pun turut tergelak bersamanya.

“Sudah, sudah. Kau menggelikan.” Seokjin Oppa terengah berusaha menghentikan tawanya. “Cepat habiskan makananmu lalu masuk kamarmu dan belajar.”

Aku mengangguk dengan tersenyum kemudian kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutku dengan sumpit.

Seokjin Oppa juga mulai melahap makanannya.

Oppa, ajari aku memasak.” ucapku di sela-sela aktivitasku menyantap makan malam.

Mata Seokjin Oppa melebar. “Apa aku tidak salah dengar?”

Oppa!”

Dia tertawa -lagi- membuatku gemas. “Baiklah, jika sempat oppa akan mengajarimu memasak, tapi nanti ya tidak sekarang.”

Kakakku memang super sibuk. Profesinya sebagai seorang dokter di sebuah rumah sakit besar, dan sebagai kakak yang harus mengurusi seorang adik perempuan yang rewel sepertiku ini, pasti sangat melelahkan.

Aku mengangguk dan mencubit pipi Seokjin Oppa gemas, “Ai~ng, terimakasih oppa-ku yang tampan.”

“Aah hentikan.” Gerutu Seokjin Oppa.

Tiba-tiba terdengar bunyi ringtone dari ponsel di saku celanaku yang sedikit bergetar. Aku segera memeriksa nama yang tertera di layar touchscreennya.

“Oh Jungkook!” kulirik sekilas wajah kakakku yang berubah malas. Atmosfer di sekeliling kami berubah seketika. Selalu saja begitu, jika sudah ada Jungkook diantara kami.

“Selesaikan dulu makanmu.” Seokjin Oppa sedikit menyentak.

Aku hanya diam, dilema. Kulirik lagi ponselku yang masih berdering lalu kembali menoleh pada kakakku yang tengah menatapku tajam.

“Aku sudah kenyang.” akhirnya kuputuskan untuk menerima panggilan dari Jungkook.

Aku segera berlari ke kamarku tanpa mempedulikan Seokjin Oppa yang beberapa kali memanggil namaku.

Hari Minggu. Hari favorit semua orang. Benarkan? Selain hari sabtu tentunya. Dan di hari itulah semua bermula.

Aku sedang asik berkutat dengan ponselku entah bermain game atau berselancar di dunia maya. Hingga saat ku merasa lelah menatap layar ponsel, kuputuskan untuk menyudahi chatku dengan teman-teman di sosial media dan meletakkan ponselku diatas nakas, menukarnya dengan miniatur karakter rilakkuma pemberian Jungkook. Kupandangi rilakkuma itu lama, lucu. Aku sangat menyukainya. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri seperti orang tidak waras.

“Ada yang sedang bahagia.” suara Seokjin Oppa.

Aku menoleh sekilas dan kembali memainkan rilakkumaku. Seokjin Oppa melangkah memasuki kamarku dan merapikan meja belajarku yang sedikit berantakan.

“Kalau kau tidak ada kegiatan lebih baik kau belajar agar nilai matematikamu naik.” ucap kakakku kemudian.

“Iya iya, nanti setelah ini aku akan belajar Oppa.” aku menjawab tanpa mengalihkan perhatianku dari rilakkuma. Namun senyumku memudar saat tiba-tiba Seokjin Oppa menyodorkan selembar kertas di hadapanku, air mukanya berubah serius membuatku sedikit merasa tegang.

“Apa ini?” dia menuntut penjelasanku. Aku sedikit mendekat untuk memastikan kertas apa itu.

Ternyata lembar jawaban tryout matematika kemarin dengan coretan tinta merah membentuk dua buah angka yang sama disana.

“Tiga puluh tiga?!”

Aku tertegun. Kucoba  menatap mata kakakku ragu.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan nilai sejelek ini?! Kau sudah kelas dua belas dan ujian sudah semakin dekat. Aku tidak yakin kau bisa lulus jika terus bermain-main seperti ini.” Seokjin Oppa mendesah kesal dan menggeleng. “Putuskan pacarmu.”

“Apa?! Tidak mau! Oppa, teman-temanku juga punya pacar dan orang tuanya tidak melarang. Kenapa oppa bersikap begini padaku?”

“Aku tidak masalah jika kau bisa mendapat nilai bagus dan lulus pada setiap ujian tryout. Tapi kenyataannya kau tidak pernah lulus tryout matematika dan nilaimu malah semakin menurun!” intonasi kakakku meninggi seiring dengan tatapannya yang kian menajam.

“Itu tidak ada hubungannya dengan Jungkook, Oppa!” aku membantah.

“Aku tidak mau tau, aku tidak akan mengijinkanmu bertemu bocah itu lagi!”

Oppa!”

Dia melirik rilakkuma di tanganku dan berusaha untuk merebutnya.

“Jangan Oppa! Lepaskan!”

“Berikan padaku!”

“Tidak mau!”

Kami terus berebut hingga rilakkuma itu terlepas dari genggamanku dan terjatuh bebas menghantam lantai. Aku membelalakkan mataku ketika melihat Kepala rilakkuma kesayanganku terpisah dari tubuhnya.

Tatapan Seokjin Oppa padaku melemah, raut penyesalan tampak jelas di wajahnya.

Rilakkuma…” lirihku.

“Ma-maaf, oppa tidak bermaksud-”

Oppa jahat!” teriakku sekeras mungkin dan setelah itu berlari meninggalkan Seokjin Oppa di kamarku.

Aku kembali mengusap air mata yang tidak henti-hentinya  menetes di pipiku. Aku benci bertengkar dengan kakakku. Apalagi karena masalah Jungkook. Aku tidak bisa meninggalkannya, aku sudah terlanjur menyimpan rasa yang besar terhadapnya. Kakakku tidak mengerti perasaanku.

Malam sudah hampir larut dan aku belum juga terlelap. Masih menatap kosong langit-langit kamarku yang membiaskan cahaya lampu tidur bintang-bintang. Kudengar derit pintu kamarku yang dibuka oleh seseorang. Seokjin Oppa. Aku segera memejamkan mataku, berpura-pura tidur.

Suara langkah kaki Seokjin Oppa semakin mendekat, lalu terdengar bunyi benda keras yang diletakkan diatas nakas. Entah apa yang Seokjin Oppa letakkan disana. Sesaat kemudian aku merasakan tangan Seokjin Oppa menyentuh kepalaku, membelaiku dengan lembut. Ia lalu memanggil namaku lirih.

“Maafkan oppa, oppa tidak bermaksud merusak rilakkuma milikmu, apalagi membuatmu sedih seperti ini. Oppa hanya ingin kau sadar dan berusaha sungguh-sungguh agar bisa lulus ujian. Kau pasti tidak ingin mengecewakan mama dan papa kan?” ia menggumam.

Oppa menyayangimu.” dan setelah itu bibirnya menyentuh kilat keningku. Kemudian dia melangkah keluar, meninggalkan kamarku.

Esok paginya aku masih bertahan untuk mangabaikan kakakku. Aku tak peduli jika dia mau marah-marah atau apalah. Who cares? Aku tetap akan mempertahankan hubunganku dengan Jungkook.

Kulihat kakakku sudah menunggu di meja makan dengan pakaian kerjanya yang rapi. “Hei, kau tidak mau sarapan?” kalimat pertama dari Seokjin Oppa untukku pagi itu.

Aku hanya menoleh sekilas dan berlalu melewatinya. Jungkook sudah menunggu di luar.

“Berhenti! Aku sedang bicara padamu.” Seokjin Oppa membentak.

Kuhentikan langkahku dan berbalik untuk menatap kakakku. “Oppa, aku sudah besar. Berhenti mengurusi hidupku.”

“Aku ini kakakmu. Aku berhak mengatur kehidupanmu. Apalagi kau masih sekolah dan nilaimu jelek. Apa di sekolah kau hanya belajar untuk berpacaran?”

Oppa cukup! Aku lelah dengan semua ini, oppa pasti mau menyalahkan Jungkook lagi kan?” aku membalas omelan Seokjin oppa.

“Oh, sekarang kau sudah berani membantahku? Karena dia? Iya?!”

Oppa!”

“Aku hanya ingin kau bisa lulus dengan nilai bagus agar bisa membanggakan papa dan mama.”

“Kalau begitu jangan salahkan Jungkook!”

“Sebelum kau bepacaran dengan bocah itu, nilaimu tidak pernah sejelek ini.”

Aku mendengus kesal. Lagi-lagi Seokjin Oppa menyalahkan Jungkook atas hancurnya nilai matematikaku.

“Benarkan?”

Oppa, nilaiku tidak ada hubungannya dengan Jungkook!”

“Kalau begitu buktikan jika kau bisa mendapat nilai bagus.”

“Baiklah, tapi oppa harus janji, jika aku mendapat nilai tujuh maka Seokjin Oppa tidak boleh mengganggu hubunganku dengan Jungkook lagi.”

Seokjin Oppa memutar bola matanya jengah. “Tujuh tidak seberapa. Delapan!”

“Oke, delapan. Dan berhenti mencampuri dan mengatur kehidupanku!”

“Baiklah aku tidak akan mengganggumu lagi. Tapi jika kau gagal dan tidak lulus ujian. Kau tidak boleh berhubungan dengan bocah itu lagi.”

“Aku pasti bisa mendapat nilai delapan itu Oppa. Kita sepakat.”

“Oke.”

“Jangan ganggu aku!” Dan setelah itu tanpa menunggu jawaban darinya lagi, aku bergegas melangkah cepat menuju keluar rumah.

Aku tidak pernah tau kalau setelah itu Seokjin Oppa akan benar-benar berhenti mengurusi dan mengganggu kehidupanku.

Saat itu, hari pengumuman hasil ujian akhir dan aku sangat senang karena namaku ada di peringkat sepuluh besar. Dan yang lebih membahagiakan aku berhasil mendapat nilai delapan dalam pelajaran matematika yang sebelumnya tidak pernah bisa bersahabat denganku. Itu artinya Seokjin Oppa tidak bisa melarang hubunganku dengan Jungkook lagi. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahu Seokjin Oppa.

Setibanya di rumah, aku mencari Seokjin Oppa hingga ke seluruh sudut ruangan yang ada di rumahku namun tak dapat menemukannya, kurasa dia pasti masih di kantornya. Kuputuskan untuk menunggunya di kamar, setiap pulang dari kerja dia pasti akan memeriksa kamarku lebih dulu.

Kuraih rilakkuma dari atas nakas. Kupandanginya lama hingga tanpa sadar seutas senyum kembali tersungging di bibirku. Rilakkuma itu masih sama, tidak ada yang tau kalau dia pernah terluka dan ditangani oleh seorang dokter spesialis yang handal. Oke, kurasa itu berlebihan. Maksudnya rilakkuma itu pernah rusak dan di perbaiki oleh Seokjin Oppa dengan sangat baik hingga tak berbekas sedikitpun. Aku senang.

Aku menoleh kala menyadari seseorang mendorong kecil pintu kamarku yang sedikit terbuka. “Seokjin Oppa?”

Bukan.

“Hai” Sesosok lelaki berwajah manis dengan sepasang manik obsidian indahnya menyapaku. Itu sepupuku.

“Taehyung Oppa?”Aku tersenyum menyambutnya, kami sudah lama tidak berjumpa.

“Kau disini rupanya? Aku-”

Oppa lihat aku mendapat nilai delapan di ujian matematika!” Aku berseru memamerkan lembar hasil ujian padanya dengan gembira.

Dia terlihat biasa saja. Tidak menunjukkan ekspresi senang atau apalah, setidaknya beri aku selamat atas kelulusanku saja sudah cukup.

“Aku mencoba meneleponmu beberapa kali, tapi tidak tersambung.” Ucapnya to the point.

Aku segera memeriksa ponselku yang tersimpan di dalam ransel dan ternyata mati. Low battery. “Ah, ponselku mati Oppa.”

“Begini, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu-”

Oppa, kau tidak memberiku selamat atas kelulusanku?” Aku menginterupsi kalimatnya.

“Ah iya aku lupa, selamat ya.”

Aku tersenyum getir. Kedengarannya ia sedikit tidak rela untuk memberiku selamat.

“Oh iya, ini untukmu.” Dia menyodorkan sebuah tas jinjing berwarna pink cantik padaku.

“Apa ini?” rasa kesalku pergi begitu saja tergantikan oleh seutas senyum yang terukir manis di bibirku kala mendapati sepasang converse high pink di dalam kotak yang terbungkus tas jinjing itu. “Wah, terimakasih oppa! Aku sangat menginginkan sepatu ini, bagaimana oppa bisa tau?”

“Itu Seokjin Hyung yang membelikannya untukmu.”

“Benarkah? Lalu mana Seokjin Oppa?”

“Sebenarnya aku ingin memberitahumu kalau Seokjin Hyung,” dia memberi jeda sesaat, “Dia berada di rumah sakit sekarang.”

Aku mengerutkan dahiku lalu sedetik kemudian tertawa mendengar pernyataannya. “Ya iyalah, dia itu kan dokter, dan tempat kerjanya memang di rumah sakit.” Kataku sambil menahan tawa yang nyaris meledak lebih parah.

“Bukan itu maksudku.” Kalimat Taehyung Oppa menghentikan tawaku.

Aku menatapnya penuh tanya.

“Seokjin Hyung mengalami kecelakaan, dan… nyawanya tidak tertolong.”

Bruk

Tas jinjing terjatuh dari tanganku.

Mendadak jantungku serasa berhenti berdetak. Aku terhenyak. Kucoba menelan saliva dengan susah payah. Ini seperti mimpi, semua terasa tidak nyata. Aku pasti salah mendengar omongan sepupuku itu. “Ini tidak mungkin.” Kataku tidak terima. Kumundurkan langkahku teratur menjauhi Taehyung Oppa.

“Maafkan aku. Aku sudah mencoba menghubungimu beberapa kali tapi tidak tersambung. Aku juga mencarimu ke sekolah tapi kau sudah pulang duluan.” Dia mendekatiku perlahan.

Kepalaku mendadak pening. Semuanya berputar-putar di sekelilingku. Rasanya sakit, sakit sekali mendengar kalimat Taehyung Oppa barusan. Hatiku seperti dihujam ribuan pisau yang menghancurkannya berkeping-keping. Tubuhku bergetar, seluruh persendianku melemas hingga tak sanggup menopang berat tubuhku sendiri. Aku jatuh terduduk di lantai. Tangisku pecah seketika. “Ini tidak mungkin oppa! Ini tidak mungkin! Seokjin Oppa tidak mungkin meninggalkanku!” aku histeris.

Taehyung Oppa berjongkok di sampingku dan mendekapku erat. “Kau harus tabah, biarkan Seokjin Hyung pergi dengan tenang.”

Aku meronta di pelukannya. “Tidak oppa! Seokjin Oppa tidak boleh pergi!”

Dan tangis piluku memenuhi seluruh sudut ruangan kamarku.

Aku berdiri, bersandar pada pagar pembatas balkon kamarku seorang diri. Tatapku menyentuh langit yang dipenuhi titik-titik cahaya putih yang bersinar terang, bintang. Seokjin Oppa bilang semua orang yang aku sayangi tidak akan pergi meninggalkanku. ‘Mereka hanya berubah, menjadi bintang, yang akan mengawasimu dari kejauhan. Dan bintang yang paling terang itu adalah orang yang paling kau sayangi.’

Saat ini kutatap sebuah bintang yang bersinar paling terang diantara yang lain. “Oppa, itu Seokjin Oppa ya?” lirihku bermonolog.

“Maafkan aku oppa, aku tidak pernah menginginkan oppa untuk benar-benar pergi dari kehidupanku. Aku tidak bermaksud begitu.”

Seandainya aku dapat memutar waktu dan mengulang semuanya, aku tidak akan pernah mengatakan kalimat terkutuk itu. Namun aku tak berdaya, menangis darah pun tak akan mengembalikan Seokjin Oppa-ku. Aku benar-benar menyesal. Kini aku hanya bisa menangis setiap malam, merindukan Seokjin oppa-ku, kakakku, kakak yang selalu menggangguku, kakak yang senang mengatur hidupku, kakak yang selalu menyayangiku selamanya.

“Aku menyayangimu oppa.”

END

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] You Are My Shining Star – (Oneshot)

  1. Sad bangeet author tanggung jawab bikin aku sedih hampir nangis. Ini ada amanatnya juga ya jadi jgn sia siain org yg menyayangi kita

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s