[BTS FF Freelance] Can You Trust Me? (Twoshot#2)

poster

Title : Can You Trust me ( Twoshoot 2/2 END)

Author : Yuki

Genre : Romance, Sad, Fun

Maincast : Kim Taehyung (BTS) || Song Ahri (OC)

Other Cast : Lee Mijoo (Lovelyz) : Kim Yura || All member’s BTS

Rating : PG-15

Length : (Twoshoot 2/2 END)

Desclaimer : FF ini murni dari pikiran author sendiri. Kim Taehyung hanya milik Tuhan,  agensi, dan keluarganya kecuali OC. Warning! Typo bertebaran dimana-mana.

Preview

“Baiklah kita sesuai dengan perjanjian” ucap Yura tersenyum.

***

“Kau ingin aku melakukan apa?” Tanya Taehyung bingung.

“Pertama-tama kau tandatangani dulu poster ini” ucap Yura.

Taehyung  mengambil poster tersebut dari Yura. Saat Taehyung membuka poster tersebut, ia sangat terkejut melihat foto member BTS di poster itu.

“Apa kau seorang army?” tanya Taehyung ragu yang menoleh ke Yura.

“Sudah. Kau cukup tandatangani saja”

Taehyung pun menandatangani poster tersebut. Setelah menandatangani poster tersebut, Taehyung menyerahkan kembali poster tersebut ke Yura.

“Apakah sudah selesai?” Tanya Taehyung kepada Yura.

“Belum. Sekarang yang kedua aku ingin memelukmu” ucap Yura.

“Mwo? Kenapa aku harus memelukmu?” Tanya Taehyung.

“Kau cukup memelukku dan rahasia jati dirimu akan aman bersamaku. Ottokhae?”

Taehyung pun tidak ada pilihan lain selain memeluk Yura. Ahri yang melihat mereka berdua berpelukan, tiba-tiba saja meneteskan air matanya.

“Kenapa aku menangis? Oh… rahasia apa yang mereka sembunyikan dariku?” ucap Ahri yang mulai menangis sambil mengusap air matanya tetapi ia tetap tegar dan memilih untuk mendengarkan pembicaraan Taehyung dan Yura.

“Oh… ternyata begini jika dipeluk oleh seorang artis?” ucap Yura yang masih memeluk Taehyung.

Taehyung pun langsung melepaskan pelukannya dari Yura.

“Apa sekarang sudah?”

“Belum. Ini yang terakhir”

Taehyung sedikit lega karena permintaan gadis itu sisa terakhir.

“Aku ingin mencium pipimu” ucap Yura malu-malu.

“MWO?!! Menciumku?”

“Nde. Apa kau bisa?”

“Ani. Aku tidak bisa. Bukankah mencium seseorang haruslah ada perasaan kepada orang tersebut?”

“Aku tau. Jika kau menolaknya, aku tidak papa. Tapi rahasiamu seorang artis boyband akan terbongkar dan aku akan memberi tahu jati dirimu ini kepada Ahri. Ottokhae?”

“Mwo? Jadi Yonghee itu memang seorang artis? Kenapa dia berbohong kepadaku? Kenapa ia tidak mengatakan dari awal jika dirinya adalah seorang artis? Wae?!” ucap Ahri yang daritadi sudah bercucuran air mata.

“Baiklah” ucap Taehyung pasrah. Taehyung pun diam dan Yura memejamkan matanya untuk bersiap mencium Taehyung, tetapi suara berisik yang berasal dari Ahri membuat mereka berdua menoleh ke sumber suara tersebut. Tenyata saat Ahri mau bangkit dan tidak mau melihat Yura mencium Taehyung, Ahri pun langsung terjatuh dan itu menimbulkan suara yang membuat Taehyung dan Yura menoleh ke arahnya.

“Ahri?” ucap Taehyung dan Yura bersamaan.

Ahri yang keberadaanya telah ketahuan oleh mereka, langsung berlari meninggalkan Taehyung dan Yura di taman tersebut.  Taehyung pun meninggalkan Yura dan memilih mengejar Ahri. Yura yang merasa tidak enak dengan Ahri, ikut juga mengejarnya.

“Ahri? Tunggu!” ucap Taehyung yang berlari mengejar Ahri.

“Mau apa kau pembohong? Jangan kejar aku” ucap Ahri yang berlari dengan bercucuran air mata sambil mengusap air matanya yang terus menerus terjatuh.

“Ahri…! Mianh. Aku dan Taehyung tidak ada bermaksud apa-apa” ucap Yura yang juga mengejar Ahri.

“Apa kau sekarang sudah puas telah membuat situasi menjadi seperti ini?” Tanya Taehyung yang berlari bersampingan dengan Yura.

“Nde. Aku sudah puas sekarang” ucap Yura yang langsung berlari lebih laju meninggalkan Taehyung di belakang.

“Mwo?” Tanya Tehyung heran dengan tingkah Yura.

Akhirnya Ahri pun telah sampai di rumahnya dan langsung menutup pintu rumahnya.

Taehyung dan Yura  juga telah sampai di rumah Ahri. Yura langsung menggedor-gedor pintu rumah Ahri.

“Ahri…. Bukalah. Aku tidak ada maksud untuk membohongimu” ucap Yura yang menggedor-gedor pintu rumah Ahri.

Ahri pun menangis sekencang-kencangnya karena dua orang yang telah ia percayai berkhianat di belakangnya.

“Pergilah kau Yura. Aku tidak ingin bertemu denganmu” ucap Ahri yang langsung terduduk lemas di balik pintu tersebut.

Taehyung yang baru sampai, juga ikut menggedor-gedor pintu tersebut.

“Ahri… aku ingin menjelaskan sesuatu kepadamu”

“Pergilah kau PEMBOHONG!!! Jangan datangi aku lagi” ucap Ahri yang langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju kamarnya.

Ibunya yang mendengar suara berisik di luar kamarnya, langsung bergegas keluar.Ibunya mendengar suara Ahri yang menangis di dalam kamarnya. Ibunya langsung mendatangi kamar Ahri dan mengetok-ngetok pintu kamarnya.

“Ahri… apa terjadi sesuatu?”

“Eomma…. Huhu… Suruh dua orang di depan rumah kita untuk pergi dari sini sekarang!”

Ibunya yang bingung langsung berjalan keluar rumah.

Taehyung dan Yura yang masih duduk di depan rumah Ahri, langsung menghampiri Ibunya Ahri yang keluar dari rumah.

“Eommoni. Apakah Ahrinya ada?” tanya Yura.

“Yura? Sedang apa kau disini?”

“Aku ingin bertemu Ahri, Eommoni”

“Mianh. Tapi aku tidak tau kenapa Ahri bisa menangis sekeras itu. Biasanya dia tidak pernah seperti itu. Ahri menyuruhku untuk tidak menemuinya dulu. Apa ada sesuatu yang terjadi pada kalian?”

Yura pun menjelaskan masalah tersebut kepada ibunya Ahri.

“Arasseo… Yura, kau pulanglah dulu ke rumahmu. Dan namamu Kim Taehyung kan?”

Taehyung mengangguk pasrah. Ia merasa juga ikut membohongi orang tua Ahri. Ibunya Ahri tersenyum kepada Taehyung.

“Jika kau sudah menemukan tempat tinggalmu kembali, pulanglah. Aku takut jika orang-orang disekitarmu sedang mencarimu” ucap Ibunya Ahri yang tersenyum kepada Taehyung.

“Mianh…. kalau begitu. Gamsahamnida” ucap Yura yang membungkukkan tubuhnya dihadapan Ibunya Ahri. Begitupun dengan Taehyung. Ia juga membungkukkan tubuhnya sopan di hadapan ibunya Ahri.

Ibunya ahri pun masuk kembali ke dalam rumahnya.

Taehyung duduk di kursi depan rumah Ahri sambil terus menunduk.

“Mianhe, Taehyung. Aku tidak bermaksud untuk—“

“Gwechana. Aku tau jika akhirnya semuanya akan menjadi seperti ini. Ini juga sepenuhnya salahku. Aku telah membohonginya dan berpura-pura menjadi Shin Yonghee. Aku ini bodoh sekali” ucap Taehyung yang mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

Yura pun juga duduk di samping Taehyung.

“Kenapa kau bisa bersama Ahri? Apa Ahri benar-benar tidak tahu tentang dirimu?” Tanya Yura yang menoleh kea rah Taehyung di samping kanannya.

“Kurasa dia memang tidak tahu. Kau lihat sendiri kan dia menangis seperti itu karena aku telah membohonginya”

“Kurasa kau salah. Dia juga menangis seperti itu karena aku telah merahasiakan ini darinya”

Hening.

“Apa kau sebenarnya tersesat?” Tanya Yura lagi kepada Taehyung yang masih menundukkan kepalanya.

“Nde. Aku tidak tahu bagaimana cara balik ke dorm ku”

Yura pun berfikir-fikir dan mendapatkan ide.

“Bagaimana jika aku mengantarmu ke halte? Kau bisa bilang ke sopir bus tersebut untuk mengantarkanmu ke alamat di dorm mu itu”

Taehyung pun berfikir sejenak.

“Idemu juga bagus. Kenapa aku tidak memikirkan ini dari kemarin? Ah… tapi aku juga tidak ingin meninggalkan Ahri begitu saja”

“Taehyung? Apa kau telah menyukai Ahri?”

“Molla. Aku tidak tahu. Seperti ada perasaan sedih jika meninggalkannya sekarang. Tapi aku tau, dia pasti marah besar kepadaku dan dia pasti tidak akan memaafkanku begitu saja karena aku telah berbohong kepadanya”

“Kenapa kau berbohong kepadanya? Kenapa kau tidak jujur saja tentang jati dirimu?”

“Aku tidak mau dia menjaga jarak denganku karena aku seorang artis dan aku tidak mau kehilangan yeoja sepertinya”

Yura merasa tidak enak dengan mereka berdua. Dia merasa bahwa dia yang merusak hubungan sahabatnya dengan Taehyung. Yura pun beranjak dari duduknya.

“Aku akan mengantarkanmu menuju halte bus sekarang. Apa kau mau?”

Taehyung  menganggukkan kepalanya. Mereka pun berjalan menuju ke Halte bus dengan perasaan yang sedih. Hari mulai malam. Setelah berjalan dari rumah Ahri, akhirnya mereka pun sampai di halte bus.

“Apa kau berani menunggu di halte ini sendirian?”

“Nde”

“Baiklah. Aku akan meninggalkanmu sendiri disini” Yura pun berbalik dan berjalan pulang menuju ke rumahnya.

“Yura. Jangan lupa berbaikanlah dengan Ahri. Dia adalah sahabatmu. Sampaikan salamku kepadanya jika kau sudah berbaikan dengannya”

Langkah Yura pun terhenti lalu menoleh kea rah Taehyung yang melihat ke arahnya sambil tersenyum.

“Nde. Aku akan berbaikan kepadanya”

“Gomawo telah mengantarku kesini”

“Nde sama-sama. Annyeong…” ucap Yura yang melambaikan tangannya ke Taehyung.

Taehyung pun juga melambaikan tangannya balik. Sekarang Taehyung sendirian di halte yang tidak terlalu banyak orang di halte tersebut.

***

#Mobil BTS

“Ah… daritadi kita berkeliling-keliling kita juga tetap tidak menemukan V” ucap Rapmon.

“Kita sudah menanyakan banyak orang dengan menyebutkan fisik V. Tapi orang-orang tetaplah tidak pernah melihat dimana V berada” ucap Jimin.

“Tentu saja orang-orang tidak tau” ucap Suga.

“Maksud hyung?” Tanya Jimin.

“Dia kan alien. Mana ada orang yang tau wujud fisik alien itu. Kali saja dia sudah pergi dengan kendaraan ufonya menuju ke planetnya” ucap Suga yang mulai kesal karena tidak menemukan Taehyung daritadi.

Mereka pun melewati halte.

“Hyung… hyung? Bukankah yang duduk di halte itu V hyung?” ucap Jungkook yang memanggil-manggil Jin.

Jin pun langsung menyetopkan mobilnya.

“Apa kau tidak salah, Jungkook-ah?” Tanya Jin yang menoleh ke belakang tempat Jungkook duduk berada bersama  keempat hyungnya.

“Nde. Aku yakin sekali kalau itu V hyung”

Jin pun memundurkan mobilnya dan tepat berhenti di depan halte tersebut.

Mereka semua menyipitkan mata mereka untuk memfokuskan mata mereka kea rah orang yang ditunjuk oleh Jungkook.

“Kau benar sekali Jungkookie. Itu V” ucap Jimin.

Mereka pun membuka kacamobil mereka dan berteriak memanggil-manggil Taehyung.

“V…. kau sedang apa disitu?” teriak Jin yang melambai-lambaikan tangannya dari dalam mobil.

Taehyung yang mendengar suara orang memanggilnya langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut.

“Jin hyung?”

Member lain menyuruhnya untuk ke mobil. Taehyung pun berlari kecil menuju mobil mereka.

“Wah… apa kalian sedang mencariku?” Tanya Taehyung yang menyembulkan kepalanya ke dalam mobil.

“Tentu saja. Pabo!” ucap Jimin yang langsung memukul kepala Taehyung.

“Sejak kapan kau mempunyai kumis hyung?” Tanya Taehyung yang menertawakan Jin.

“Kau masuklah ke dalam” ucap Jin serius.

Taehyung pun masuk ke dalam mobil mereka. Mobil pun melaju lagi.

Jin mendapatkan sebuah telepon dari manager Haboem. Jin terlihat ragu untuk mengangkatnya.

“Kenapa tidak kau angkat hyung?” Tanya JHope.

“Manager menelponku. Apakah harus kuangkat?” tanya Jin kepada semua nam dongsaengnya lalu kembali menatap HPnya yang masih berbunyi.

Semuanya juga terlihat ragu.

“Coba kau angkat saja hyung” ucap  Jimin.

Jin mengangguk lalu segera mengangkat telepon tersebut.

“Yeoboseyo?”

“Sekarang kalian berada dimana?”

“Kami sekarang berada di perjalanan”

“Apa kalian sudah menemukannya?”

“Nde. Kami sudah menemukannya”

“Kalau begitu, kalian datanglah ke tempat latihan seperti biasa. Jangan lupa bawa dia. Aku ingin berbicara kepadanya. Aku akan menunggu kalian”

“Baiklah—PIP” Jin pun mematikan sambungannya.

“Apa yang dikatakannya hyung?” tanya semua member.

“Kita harus ke tempat latihan sekarang untuk menemui manager. Manager ingin berbicara sesuatu kepada V”

Semua member pun menatap kea rah Taehyung.

“Mwo?” tanya Taehyung kepada semua membernya.

“Kau darimana saja?” ucap para member semuanya yang masih menatap Taehyung.

“Hahaha…Kenapa wajah kalian seperti ini? Hahah..” tawa Taehyung terbahak-bahak.

“PABO! Kau kira ini gara-gara siapa hah?” ucap Suga yang menjitak kepala Taehyung.

Taehyung pun langsung menunduk.

“Mianh. Aku pergi tanpa memberitahu kalian”

“Kau harus meminta maaf kepada manager nanti” ucap Rapmon.

“Baiklah” jawab Taehyung.

“Lihat. Kalau bukan karena Jungkook yang membelamu, kau tidak akan pernah kami maafkan” ucap JHope.

“Jinjja? Oh… Jungkookie, Gomapta. Kau adalah nam dongsaeng ku yang terbaik” ucap Taehyung yang langsung memeluk Jungkook.

“Hyung… lepas…kan aku” ucap Jungkook yang tercekik karena pelukan kuat dari Taehyung.

Taehyung pun langsung melepaskan Jungkook dan tersenyum meringis. Mobil pun melaju kencang menuju gedung Big Hit.

Akhirnya mereka telah sampai di gedung tersebut. Mereka memarkirkan mobil mereka di garasi lalu berjalan dengan penampilan seperti itu di gedung Big Hit. Banyak staf dan kru yang menertawakan mereka. Mereka berjalan malu tanpa mengiraukan orang-orang yang menertawakan mereka. Mereka menuju lift lantai 5. Lift pun terbuka. Mereka segera masuk ke ruang latihan tempat biasa mereka berlatih dance.

 Di dalam ruang latihan, sudah ada manager Haboem yang sudah menunggu mereka. Manager Haboem pun langsung menoleh ke mereka. Seketika manager Haboem langsung tertawa karena melihat penampilan mereka.

“Hahahah kenapa kalian semua berpenampilan seperti itu?” Tanya manager yang mencoba menahan tawanya.

“Ini semua karena salah V” tunjuk mereka semua kea rah Taehyung kecuali Jungkook dan Jin yang tidak menunjuk Taehyung.

Taehyung pun maju ke depan dan menghadap manager Haboem. Seketika manager Haboem tidak tertawa lagi dan berubah menjadi serius.

“Kau darimana saja?”

“Mianhe. Aku tersesat karena banyak army yang mengejarku”

“Sudah kubilang berapa kali, jika kau ingin keluar bilanglah dulu kepadaku. Jadi aku bisa menyediakan bodyguard untuk kalian”

“Ani manager. Sebab itu aku ingin membelinya sendiri. Aku tidak mau terus-terusan untuk dijaga, kami semua ini bukan anak kecil lagi manager” jawab Taehyung.

“Aku tau. Tapi coba apa yang kau lihat, kau dikejar kan tanpa pengawasan dari bodyguard. Itu bisa membahayakan dirimu dan karier mu Kim Taehyung” ucap Manager dengan sabar.

“Mianhe. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi” ucap Taehyung yang membungkuk sopan ke manager.

“Baiklah. Aku memaafkanmu. Kalian semua beristirahatlah. Persiapkan diri kalian untuk konser besok lusa”

“Gamsahamnida…” ucap semua member BTS membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari ruang latihan tersebut.

“Kukira manager akan sangat marah karena Taehyung. Ternyata manager masih baik dan mau memaafkan Taehyung” ucap Rapmon.

“Nde. Kukira juga begitu” jawab JHope.

“Baiklah…. Kita persiapkan diri kita untuk para army nanti” ucap Jimin yang mengangkat kedua tangannya semangat.

Taehyung hanya diam dan masih sedih memikirkan Ahri. Mereka pun kembali lagi ke dorm dengan menggunakan mobil mereka tadi. Sampai di dorm, mereka langsung menuju ke kamar mereka masing-masing. Tetapi sebelum mereka berjalan ke kamar mereka, Jin pun berkata kepada semua membernya untuk berkumpul di ruang tamu setelah mereka membersihkan diri mereka masing-masing.

“Ah… melelahkan sekali” ucap Jimin yang langsung menuju ke kamar mandi yang diikuti oleh Jungkook.

Jimin dan Jungkook membersihkan make up di wajah mereka di kamar mandi kecuali Taehyung yang masih berbaring di kasurnya dan memikirkan Ahri. Member lain pun juga membersihkan wajah mereka masing-masing di kamar mandi dalam kamar mereka. Jimin dan Jungkook pun telah selesai membersihkan make up di wajah mereka.

“Hei, V! Kajja. Semuanya sudah berkumpul di ruang tamu” ucap Jimin.

“Nde….kalian duluan saja. Aku akan menyusul” ucap Taehyung dengan nada lemas.

Jungkook dan Jimin pun hanya menggeleng-geleng kepala dan langsung keluar dari kamar mereka. Setelah semua member telah membersihkan diri, mereka pun langsung keluar dan menuju ke ruang utama tempat mereka biasa berkumpul dan menonton TV bersama.

“Baiklah. Pertama aku menyuruh kalian semua untuk berkumpul disini adalah karena kita harus mengetahui pernyataan V. Sekarang aku ingin bertanya kepada V. V kenapa—Lho? Dimana V?”

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari Jimin.

“Hahaha… hyung…hyung. Kau sangat lucu sekali. Kau seperti seorang reporter yang sedang kebingungan. Hahaha” tawa Jimin terbahak-bahak sambil memukul-mukul sofa yang mereka duduki.

Semua member pun menatap Jimin bingung. Jimin yang merasa diperhatikan oleh semua membernya langsung berhenti tertawa dan juga menatap mereka bingung.

“Mwo? Mwo? Aku benar kan? Jin hyung itu seperti seorang reporter yang sedang kebingungan. Hahaha” tawa Jimin lagi.

“Ya! Kau pikir ini lucu, eoh? Menurutku leluconmu itu sama sekali tidak lucu” ucap Suga yang langsung mengatakannya di depan Jimin.

Jimin pun langsung berhenti tertawa mendengar penuturan Suga.

“Baiklah. Berhenti bermain-main. Sekarang dimana V? Suruh dia untuk datang kesini”

“Biar aku saja hyung yang memanggilnya” ucap Jungkook yang langsung berlalu dan pergi menuju ke kamarnya.

Sesaat setelah Jungkook pergi, Jimin pun merasa ditatap oleh keempat hyungnya dengan wajah seperti predator yang akan siap menerkam mangsanya.

“Jungkookie…. Tunggu aku. Aku ikut” ucap Jimin takut yang langsung berlari meninggalkan ruang tamu tersebut dan langsung masuk ke dalam kamarnya yang sudah ada Jungkook disana.

Di kamar, Jungkook masih memandangi Taehyung yang juga masih terbaring diam. Jimin pun juga bingung menatap Taehyung yang masih terdiam seperti itu dan Jungkook yang berdiri terdiam memandangi Taehyung. Tak lama  Jimin pun bersuara karena keheningan di kamar mereka.

“Ya! Kenapa kalian jadi diam seperti ini? Jungkookie, jangan diam saja. Ajak V sekarang ju—“

PLAK!

Jungkook memukul pipi Taehyung. Jimin menganga tak percaya apa yang dilakukan oleh Jungkook.

“Aww… Ya! Jungkookie. Kenapa kau memukul pipiku? Sshh…” ucap Taehyung yang baru tersadar dari lamunannya sambil meringis kesakitan dan memegangi pipinya yang baru saja dipukul atau lebih tepatnya ditampar oleh Jungkook.

“Hyung… kau dipanggil oleh Jin hyung. Katanya kau akan menyusul? Kenapa masih di kamar ini? Palli. Mereka semua menunggumu disana” ucap Jungkook datar tanpa rasa bersalah.

“Ya! Jungkookie. Kau ini tidak sopan sekali memukul hyungmu” ucap Jimin.

Jungkook pun tak menghiraukan ucapan Jimin dan langsung berlalu dari kamar tersebut. Taehyung pun langsung berdiri mengikuti langkah Jungkook dan meninggalkan Jimin sendirian di kamar tersebut.

“Ya! Kenapa kalian mencuekiku? Tunggu. Jangan tinggalkan aku” ucap Jimin yang juga pergi menuju ruang tamu dan tak lupa menutup pintu kamar mereka.

Akhirnya mereka semua pun telah berkumpul di ruang tamu mereka. Taehyung langsung duduk di sofa bersama semua member yang juga duduk di sofa tersebut.

“Aissh… V! Jungkookie! Kenapa kalian meninggalkanku, eoh?” ucap Jimin dengan nada keras.

Jimin yang baru saja datang dan membuat keributan langsung menjadi sorot perhatian semua member hanya tersenyum meringis. Semuanya pun kembali serius dan menatap Taehyung.

“Kenapa kita berkumpul disini?” Tanya V yang akhirnya membuka suara.

“Kami disini ingin bertanya padamu. Bagaimana ya…? Emm begini sebe—“ ucapan Jin pun terpotong karena Suga yang memotong perkataannya.

“Sebenarnya darimana saja kau? Apa yang ingin kau beli itu? Kenapa kau tidak ijin kepada kami semua jika kau ingin membeli sesuatu? Dan kenapa tadi kau bisa ada di halte itu?” Tanya Suga yang langsung to the point.

Semuanya  menatap Suga tak percaya karena sebegitu mudahnya Suga langsung menanyakan hal tersebut kepada Taehyung.

“Mwo? Pertanyaanku benar kan?”

Semuanya hanya mengangguk setuju lalu menatap Taehyung kembali. Taehyung mencoba menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Suga dan masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan tersebut.

“Sebenarnya….”

Semuanya masih sabar menunggu perkataan selanjutnya yang akan dilontarkan oleh Taehyung.

“Aku pergi untuk membeli sebuah daging di toko langgananku lalu banyak army yang menyadari keberadaanku disitu. Aku pun berlari hingga aku semakin menjauh dari dorm karena dikejar oleh banyak army dan aku tersesat. Lalu aku bertemu seorang yeoja yang telah menolongku dari kejaran para army. Ia membantuku yang sedang tersesat dan ia membawaku menuju ke rumahnya”

“Mwo?” Tanya semua member tak percaya kecuali Suga yang hanya diam.

“Apakah ia seorang army?” tanya Rapmon.

“Aniyo. Kurasa tidak. Ia tidak tahu apa-apa tentangku”

“Bagaimana bisa? Apa dia tidak mengetahui sedikitpun tentang dirimu?” Tanya JHope

“Ani. Aku merahasiakan ini darinya”

“Jadi… kemarin kau tidur di dalam rumahnya?” Tanya Jin.

“Nde…”

“Lalu kau menyukai gadis itu?” Tanya Suga yang membuat semua member menoleh bingung ke arahnya.

“Molla… aku tidak tahu jika aku menyukainya atau tidak”

“V? Jangan pernah memikirkan untuk menyukai seorang yeoja apalagi ingin berpacaran dengannya. Kau tau sendiri kan? Itu akan merusak kariermu sebagai idol dan aku tidak mau banyak army yang kecewa jika kau melakukan itu. Kau mengerti?” ucap Suga.

Ucapan Suga ada benarnya. Tetapi Taehyung tidak bisa jika ia tidak bertemu dengan yeoja itu.

“Aku tau itu, Suga hyung. Tapi bagaimana jika aku menyukai yeoja itu atau bahkan mencintainya? Aku tidak bisa saja diam dan melupakan perasaan ini. Aku juga manusia. Kalian semua juga manusia kan yang pastinya akan mencintai dan memiliki pasangan kalian masing-masing?”

“Aku tau itu, V. Tapi maksudku tidak sekarang untuk itu. Kita harus fokus tantang karier kita. Kau mengerti kan maksudku?”

Taehyung hnaya diam saja dan merasa tidak terima apa yang dikatakan oleh Suga. Ia langsung pergi dari ruang tamu tersebut dan menuju ke kamarnya. Di ruang tamu, semuanya tampak hening. Tidak ada yang berani membantah pernyataan Suga kecuali Jimin dan Jin yang hanya berani menolak pernyataan tersebut.

“Suga hyung. Kurasa perkataanmu tadi terlalu berlebihan” ucap Jimin yang mulai angkat bicara.

“Nde. Apa yang dikatakan Taehyung mungkin ada benarnya juga. Sesuatu saat kita nanti pasti akan mendapat pasangan kita masing-masing. Mungkin V yang akan mendahului kita untuk mendapatkan pasangannya. Tetapi karena kau mengkhawatirkan dan dapat membahayakan kariernya atau lebih tepatnya karier kita, kau tidak mau itu terjadi. Begitu kan maksudmu Suga-ya?” ucap Jin membenarkan perkataan Jimin.

“Aku tau itu. Sepertinya ucapanku memang keterlaluan dengannya. Besok aku akan minta maaf kepadanya” ucap Suga yang berlalu menuju ke kamarnya.

Semuanya pun kembali ke kamar mereka masing-masing termasuk Jungkook dan Jimin yang sekarang masuk ke dalam kamar mereka dan mendapati Taehyung tengah terbaring di atas ranjangnya. Jimin memutuskan untuk tidur duluan. Taehyung tidak bisa tidur dan ia langsung terduduk di kasurnya sendiri. Jimin telah terlelap dalam tidurnya kecuali Jungkook yang masih memerhatikan hyungnya yang duduk di tepi kasurnya.

“V hyung…. Kau kenapa?” Tanya Jungkook yang berjalan kea rah kasur Taehyung.

“Kau belum tidur Jungkookie? Entahlah, sepertinya aku telah menyukai yeoja itu” ucap Taehyung sambil menunduk lemas.

“Hyung? Apa kau yakin menyukai yeoja itu?”

“Nde. Aku ingin bertemu dengannya lagi”

“Apa hyung tau dimana rumah yeoja itu?”

“Nde. sepertinya aku tau”

“Bukankah hyung bilang tadi kalau hyung kemarin tersesat? Kenapa hyung bisa tau rumahnya?”

“Saat kalian menjemputku di halte itu, aku memerhatikan jalan yang kita lewati dengan mobil kita. Jadi aku sempat mengingat sedikit jalan menuju ke rumahnya”

“Kalau begitu besok pagi, kita berdua akan kesana” ucap Jungkook yang membuat Taehyung langsung membuka matanya karena senang.

“Jinjja?”

“Nde”

“Jungkookie kau memang nam dongsaengku yang paling terbaik” ucap Taehyung yang memegang pundak Jungkook lalu menggoyang-gayangkannya.

“E..eee…. berhentilah hyung. Aku pusing”

Taehyung pun langsung berhenti menggoyang-goyangkan pundak Jungkook dan langsung berbaring di kasurnya dengan tersenyum. Jungkook hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat hyungnya yang terbaring begitu semangat sambil tersenyum. Taehyung dan Jungkook pun akhirnya tertidur lelap.

***

#Rumah Ahri

Ahri  masih belum mau keluar dari kamarnya. Hari ini ia memilih untuk tidak membuat Tteobokki. Ibunya yang daritadi khawatir, terus mengetok pintu kamar Ahri.

“Ahri… kau belum makan kan? Eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Apa kau masih tidak mau makan?”

Tidak ada jawaban dari Ahri. Ahri masih menangis di kamarnya. Matanya telah sembab karena terlalu banyak menangis.

“Kenapa aku harus menyukai namja pabo itu?” ucap Ahri yang semakin menangis jika mengingat-ingat mereka selalu bersama.

“Kenapa aku harus menolong namja Pabo sepertimu..?”

“Kenapa aku bisa menyukai kau hanya dengan satu hari saja?”

“Miwohaeyo” teriak Ahri.

Ibunya Ahri pun semakin khawatir mendengar Ahri berteriak seperti itu. Ibunya memutuskan untuk menaruh makanannya di dapur. Lalu ibunya Ahri memutuskan untuk menyapu daripada menunggu di depan pintu Ahri berlama-lama. Saat ingin mengambil sapu di depan rumahnya, Ibunya melihat ada sweeter abu-abu terletak di kursi depan Ahri. Lalu diatas tumpukan pakaian tersebut, terdapat dua tiket berbentuk buku kecil berwarna hitam dan bertuliskan VIP. Di dalam tiket itu, ada surat putih kecil dari Taehyung. Terdapat juga amplop coklat yang berisi uang. Ibunya Ahri pun bingung dan membawanya semua ke dalam.

“Ternyata itu rumahnya? Kau lihat itu hyung? Kurasa sepertinya tadi ibunya” ucap Jungkook yang masih diatas motor sportnya dengan menggunakan Helm dan kacamata hitam besar.

“Aku tau. Semoga Ahri membaca surat itu dariku” ucap Taehyung juga memakai kacamata hitam besar dan topi di atas kepalanya. Ia berdiri bersandar di motor sport tersebut dan memandang rumah Ahri dari kejauhan.

Taehyung langsung menaiki motor sport tersebut yang dinaiki oleh Jungkook.

“Wah… Jungkookie. Kau bisa mengendari motor sebesar ini? Daebak! Kau dapat motor ini darimana?”

Jungkook hanya meringis mendengar pujian dari Taehyung.

“Sebenarnya ini motor milik Jimin hyung. Aku meminjam tanpa bilang kepadanya”

“Jinjja? Aissh… kau ini kenapa tidak ijin dulu? Bisa-bisa aku yang dipukul nanti olehnya”

“Mianh, hyung. Tidak ada lagi kendaraan yang bisa kita pakai. Mobil kita, kuncinya ada pada Jin hyung. Hanya motor ini satu-satunya yang bisa kita pakai”

“Kau benar Jungkookie. Tapi tak apa, kita akan bersenang-senang dengan motor Jimin” teriak Taehyung semangat.

Jungkook dan Taehyung pun segera pergi dari rumah Ahri dengan motor sport mereka.

Ibunya Ahri mengetok pintu kamar Ahri lagi. Tok tok tok.

“Eomma…. Jangan menggangguku” ucap Ahri yang masih saja menangis.

“Eomma tidak akan mengganggumu. Tapi seseorang memberikan barang-barang ini di depan rumah kita”

Ahri pun langsung berhenti menangis dan langsung mengusap air matanya. Ahri membuka pintu kamarnya sedikit lalu ia mengeluarkan tangan kanannya untuk meminta barang-barang dan surat tersebut kepada ibunya. Ibunya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu memberikan semua itu kepada Ahri. Ahri pun menutup pintu kamarnya

kembali. Di dalam ia mengamati 2 tiket hitam tersebut. Lalu ia membuka tiket tersebut. Ahri pun menemukan surat putih kecil di dalam tiket tersebut. Ahri langsung membuka dan membaca surat tersebut.

To: Song Ahri

Mianhe. Selama ini aku telah berbohong kepadamu kalau aku bukanlah seorang artis. Aku melakukan itu karena kupikir aku bisa berteman dekat denganmu. Lalu semakin lama aku dekat denganmu semakin ingin kututupi  jati  diriku ini apapun caranya. Mengenai sahabatmu itu, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Yang kau lihat waktu itu hanyalah salah paham. Dia adalah seorang army. Aku mengerti bagaimana jika fans bertemu dengan idolanya. Hahahah aku teringat saat pertama kali kau salah menyebut dirimu sebagai tentara. Hem… biar kujelaskan army itu adalah sebutan untuk para fans yang menyukai boyband kami. Ah… aku lupa. Baju dan jaketku masih ada denganmu kan? Aku ingin kau menyimpan baju itu sebagai kenangan dariku. Aku juga memberikan sejumlah uang di amplop coklat tersebut. Kuharap uang itu bisa berguna untuk pengobatan ayahmu. Jangan lupa, kau harus berbaikan lagi dengan Yura. Walaupun begitu dia tetaplah sahabatmu. Mintalah penjelasannya jika masih kurang. Aku juga memberikan dua tiket VIP untukmu dan sahabatmu. Aku banyak berterima kasih kepada sahabatmu yang menolongku tadi malam untuk membantuku menunjukkan jalan keluar agar aku tidak tersesat lagi. Biar kukatakan sekali lagi. Kalau kau masih peduli padaku, datanglah ke konser boyband kami besok. Aku telah menyiapkan kursi VIP untuk kalian berdua besok. Aku akan menunggumu disana.

 Kim Taehyung

Ahri meneteskan air matanya setelah membaca surat tersebut.

“Kenapa kau masih peduli kepadaku. Pabo!”

Ahri membuka amplop coklat tersebut dan melihat semua uangnya. Uang tersebut sangatlah banyak yang tidak bisa Ahri terima begitu saja. Ahri mencoba untuk tersenyum dan mengusap air matanya yang terus terjatuh.

“Aku akan berbaikan dengan Yura. Kau betul. Aku tidak bisa begini terus”

Ahri pun keluar dari kamar. Melihat Ahri yang telah keluar dari kamarnya, langsung menghampiri Ahri dan memeluk Ahri.

“Eomma sangat khawatir kepadamu. Apa telah terjadi sesuatu denganmu?” ucap ibunya yang masih memeluk Ahri.

“Ani. Aku hanya lagi pusing saja”

“Kalau begitu makanlah. Ini eomma sudah membuatkan makanan kesukaanmu”

“Gomawo, eomma. Nanti akan kumakan. Aku ingin pergi menemui Yura dulu”

“Apa kau yakin tidak papa?” Tanya ibunya yang masih khawatir.

“Nde. Aku tidak papa. Eomma.. aku pergi dulu, nde?”

“Baiklah. Hati-hati di jalan”

Ahri pun berjalan kea rah pintu keluar rumahnya. Saat ahri membuka pintu, ia melihat Yura di depan pintu rumah Ahri dengan tangan kanan yang ingin mengetok pintu tersebut tetapi tak jadi karena Ahri sudah membukanya.

“Mau apa kau kesini?” Tanya Ahri yang berpura-pura ketus.

“Ahri. Mianhe. Aku telah merahasiakan ini kepadamu. Aku tidak bermaksud untuk bohong kepadamu. Kejadian yang kau lihat waktu itu hanyalah salah paham. Aku hanya seorang penggemarnya. Taehyung menyuruhku untuk berbaikan lagi kepadamu. Jadi apa kau mau memaafkanku?” ucap Yura yang memohon dengan tangannya di depan Ahri.

Ahri hanya diam saja. Ahri ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya.

“Apa kau masih tidak mau memaafkanku?”

Ahri hanya diam saja dan masih memandang Yura sinis.

“Baiklah… jika kau tidak mau memaafkanku. Aku memang tidak pantas menjadi sahabatmu dan aku memang tidak pantas untuk dimaafkan” ucap Yura yang berbalik pergi dari rumah Ahri dengan wajah yang sangat sedih. Tiba-tiba Ahri pun langsung memeluk Yura dari belakang.

“Ani. Kau adalah sahabatku yang terbaik. Aku juga ingin meminta maaf kepadamu. Apa kau mau memaafkanku?” Tanya Ahri yang meneteskan air matanya.

Yura pun langsung berbalik kea rah Ahri dan langsung memeluk tubuh Ahri.

“Nde. Aku pasti akan memaafkanmu. Kau juga akan memaafkanku kan?”

Ahri mengangguk-angguk  di pelukan Yura. Mereka pun saling menangis bahagia.

Setelah mereka berbaikan, Ahri mengajak Yura untuk duduk dan berbicara sesuatu kepada Yura.

“Kita jadi berkelahi gara-gara namja Pabo itu” ucap Ahri.

“Tidak juga. Dia tidak sebodoh yang kau kira”

“Ah… aku ingin mengajakmu untuk menonton konser… konser apa itu ya?”

Yura menaikkan satu alisnya memandang Ahri yang terlihat bingung memikirkan hal tersebut.

“B….B…B…”

“BTS?” Tanya Yura langsung.

“Ah… iya BTS. Konser BTS. Apa kau mau?”

“Mustahil. Kita tidak punya uang Ahri… kau lihat sendiri kan keadaan kita bagaimana?”

“Tidak ada yang mustahil. Kita akan menontonnya dengan ini!” ucap Ahri yang langsung mengeluarkan 2 tiket VIP tersebut.

Yura membulatkan matanya tak percaya.

“Woa…. Daebak! Kau mendapatkan ini darimana?”  Tanya Yura yang langsung mengambil 2 tiket tersebut dari Ahri dan melihat-lihatnya.

“Yonghee eh maksudku Taehyung yang memberikanku ini. Apa kau mau menonton konser itu denganku?”

“Tentu!! Aku ingin sekali. Kapan kita akan menonton konser itu?”

“Disini tertulis hari Minggu tanggal 23 Juli pukul 17.00 di kota Seoul”

“Baiklah. Besok aku akan menjemputmu. Tapi semenjak kapan kau jadi ingin menonton konser? Bukankah kau tidak tertarik dengan hal yang seperti ini?”

“Molla. Aku juga tidak tahu kenapa”

“Apa kau menyukai Taehyung?”

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu kepadaku? Bukankah kau juga menyukainya?”

“Sudah kubilang Ahri. Aku hanya menyukainya sebagai fans. Tidak lebih. Bias ku adalah Jungkook. Bukan Taehyung. Kan sudah pernah kukatakan padamu. Aku menyukai boyband BTS dan biasku adalah Jungkook. Apa kau tidak mengingatnya waktu aku mengatakan itu padamu?”

“Kapan kau mengatakannya? Aku tidak pernah dengar”

“Jadi…jadi selama ini saat aku bercerita padamu tentang BTS kau tidak mendengarkanku?”

“Mungkin. Soalnya aku tidak tertarik pada pembicaraanmu waktu itu”

“Kau ini, tega sekali kepadaku. Tapi apa sekarang kau mulai menyukai BTS? Dan tertarik pada anggotanya yang bernama Kim Taehyung~? Hem, hem, hem” Tanya Yura menggoda sambil mencolek-colek lengan Ahri.

“Ya! Aku saja belum mengenal semua membernya kecuali Kim Taehyung. Tapi entahlah… aku tidak tahu apa aku menyukainya atau tidak?

“Kenapa begitu?”

“Dia itu namja yang sangat Pabo”

“Hahaha… kau itu. Dia itu memang member paling terkonyol di BTS”

“Maka dari itu. Karena kekonyolannya dia menjadi Pabo”

“Hhh… untung saja kau bukan seorang army. Jika kau seorang army, kau tidak akan mengatakannya seperti itu”

“Yura?”

“Emmm?”

“Apa benar army itu bukan seorang tentara?”

“Tentu saja bukan. Army itu adalah sebutan fans yang menyukai boyband BTS. Memangnya ada apa?”

Seketika Ahri pun langsung menutup wajahnya karena malu teringat saat ia ditertawakan oleh Taehyung yang mengotot dirinya bukan seorang tentara.

“Taehyung menertawakanku karena kukira army adalah seorang tentara”

“Hahaha… kau itu sangatlah polos Ahri. Jadi karena itu kau sampai malu begini? Sudah sewajarnya Taehyung menertawakanmu karena kau sangatlah polos” tawa Yura sambil menepuk-nepuk pundak Ahri.

“Kau ini berhentilah menertawakanku! Aku hanya tidak tahu saat itu”

“Ah… benarkah? Hem….” Yura memandang wajah Ahri.

“Mwo?”

“Tidak ada. Hhh…baiklah. Aku harus ke kedai dulu sekarang, apa kau mau ikut?”

“Ani. Aku harus membantu eommaku mengurus Appa. Mianh”

“Gwechana. Annyeong…”

“Annyeong”

“Oh… ya. Kau mendapatkan salam dari Taehyung” teriak Yura.

Ahri hanya tersenyum saja menanggapi perkataan Yura. Ahri pun masuk ke dalam rumahnya sambil tersenyum senang.

***

#23 Juli 2015

Pukul 13.00 KST

Terlihat Yura yang sedang mengendarai motornya. Sekarang ia sedang menuju ke tempat Ahri. Sampai di rumah Ahri, ia mengetok-ngetok pintu rumah Ahri. Tak lama, seseorang pun membukakan pintunya.

“Yura?” ucap Ahri bingung melihat sahabatnya yang datang tiba-tiba.

“Annyeong….” Lambai Yura.

“Sedang apa kau disini? Bukankah waktu konsernya pukul 17.00?”

“Memang. Aku datang kesini bukan untuk pergi ke konser itu sekarang”

“Jadi?”

“Aku akan mendandanimu sekarang”

“Mwo? Maksud kau?”

Yura mendorong-dorong tubuh Ahri unttuk masuk kembali ke rumahnya.

“Ya! apa yang kau lakukan?” ucap Ahri sambil menengok kea rah Yura yang mendorong di belakangnya.

“Sudahlah. Kau cukup diam saja”

Yura berhenti mendorong Ahri tepat di depan pintu kamar Ahri.

“Kau ini sebenarnya kenapa?” Tanya Ahri bingung dengan tingkah Yura yang tadi mendorong-dorongnya.

Yura mengangkat tas plastik bawaannya di hadapan wajah Ahri.

“Tebak, apa yang kubawa?”

“Aku tidak tahu, kau membawa apa?”

“Baju” jawab Yura cepat.

“Baju? Untuk siapa?”

Yura memutar bola matanya malas.

“Untuk siapa lagi jika aku datang kesini kalau bukan untukmu”

“Untukku?” Tanya Ahri sambil menunjuk dirinya sendiri.

“T-tapi untuk apa?” Tanya Ahri lagi.

“Ah…aku sangat capek sekali berbicara denganmu. Sekarang lebih baik kita masuk dulu ke kamarmu” ucap Yura membuka pintu kamar Ahri lalu mendorong Ahri untuk masuk ke kamarnya sendiri.

Di kamar Ahri, Yura menaruh tas plastik bawaannya di atas kasur Ahri.

“Sekarang aku ingin bertanya dengan kau” ucap Yura yang duduk di atas kasur Ahri.

“Kau ingin bertanya kepadaku tentang apa? Daritadi sikapmu ini tidak jelas sekali”

“Pertama, saat ke konser nanti kau akan memakai baju apa?”

“Hanya itu?”

Yura mengangguk serius. Ahri hanya menggeleng-geleng kepala lalu ia berjalan menuju kea rah lemari pakaiannya. Ia pun membuka lemari pakaiannya lalu mengambil baju yang akan dipakainya nanti dan menunjukkannya pada Yura.

“Itu? Kau akan memakai baju itu?” Tanya Yura tidak percaya.

“Nde… memangnya apa lagi?”

Yura menggeleng-gelengkan kepalanya menatap tidak percaya baju yang akan digunakan oleh Ahri nanti. Baju tersebut hanya kaos biru lengan panjang biasa.

“Sudah kutebak jika pakaianmu nanti akan seperti ini”

“Memangnya kenapa?”

Yura bangkit dari duduknya dan berjalan kea rah Ahri yang sedang berdiri.

“Coba kau pikir, jika kau datang ke konser mereka dan  mengenakan pakaianmu itu apa Taehyung tidak akan melihatmu?”

Ahri hanya diam mencerna perkataan Yura.

“Kalau dilihat-lihat, tubuhmu itu bentuknya bagus. Tapi sayang, kau selau mengenakan pakaian yang menurutmu itu sopan” ucap Yura sambil mengelilingi Ahri yang sedari tadi berdiri disitu.

“Maksud kau?” tanya Ahri yang masih bingung dengan perkataan Yura.

“Baiklah. Aku tidak mau tau. Jika nanti ke konser, kau harus mengenakan pakaian dariku” ucap Yura yang berhenti mengelilingi Ahri dan menatap Ahri dihadapannya.

“Kau itu daritadi tidak jelas. Jadi maksudmu, aku harus mengenakan pakaian darimu? Pakaian yang mana?”

Yura tersenyum simpul lalu berjalan menuju kea rah kasur Ahri dan mengambil tas plastik bawaannya tadi. Yura berjalan lagi kea rah Ahri dan menunjukkan tas plastik bawaannya di depan wajah Ahri.

“Tada…. Kau akan mengenakan ini. Sekarang cobalah pakaian itu dariku”

Ahri mengambil tas plastik tersebut dari tangan Yura dan mengeluarkan isi dari tas plastik tersebut. Ahri membuka lipatan pakaian tidak berlengan berwarna merah yang dikeluarkannya tadi dari kantong plastik milik Yura.

“Aku…. Pakai ini?” Tanya Ahri tidak percaya lalu menoleh kea rah Yura yang berada di hadapannya.

“Nde. Aku tidak mau tau. Pokoknya saat kau ke konser nanti, kau harus memakai ini. Sekarang cobalah dulu. Aku akan menunggumu di luar”

“Tapi… aku tidak bisa. Menurutku pakaia—“

“Pakaian itu terbuka? Sudah kutebak jika kau akan berkata seperti itu. Berhenti membuatku kecewa, aku sudah lelah kesana kemari hanya untuk mencarikan baju itu.

“Tapi…”

“Tidak ada penolakan. Sekarang pakailah baju itu. Aku akan menunggumu diluar”

Yura berjalan kea rah pintu kamar Ahri lalu segera keluar.

“Ck, dasar anak itu”

Ahri menghela nafasnya pelan menatap baju yang dipegangnya. Sebenarnya ia tidak mau memakai baju tersebut. Ia tidak pernah memakai pakaian sedikit terbuka sebelumnya. Menurutnya, pakaian itu terlihat sedikit terbuka dengan baju yang tidak berlengan. Biarpun begitu, ia tidak mau mengecewakan sahabatnya yang sudah mencarikan baju untuknya kesana kemari.

“Aishhh… jinjja” keluh Ahri.

Di luar, Yura sedang duduk menunggu Ahri yang sedang mengganti pakaiannya. Merasa bosan, Yura memutuskan untuk membaca majalah yang ada di atas meja kecil. Saat ia ingin mengambil majalah tersebut, ia melihat jaket hitam dan kaos putih di atas meja tersebut.

“Ini… punya siapa?” Tanya Yura bingung pada dirinya sendiri.

Tak lama, ibu Ahri keluar dari kamarnya. Saat ibu Ahri ingin menuju ke kamar Ahri, ia melihat Yura yang sedang berdiri di dekat meja kecil tersebut.

“Yura?”

Seketika Yura langsung menoleh mendengar namanya yang dipanggil oleh ibu Ahri.

“Oh….eommoni?”

“Kau disini?”

“Nde. Saya sedang menunggu Yura di kamarnya”

“Kau sudah menunggu disini daritadi? Ah… dasar anak itu” ucap Ibu Ahri lalu berjalan kea rah pintu kamar Ahri dan mengggedor-gedornya.

“Ahri….? Bukalah. Ada sahabatmu disini. Apa kau tidak mau keluar lagi?”

“Eommoni… bukannya begitu” ucap Yura menghampiri ibunya Ahri di depan pintu kamar Ahri.

“Maksudmu?”

Saat Yura ingin menjelaskan kesalahpahaman tersebut, tak lama Ahri keluar dengan mengenakan pakaian tidak berlengan warna merah tersebut. Ibu Ahri dan Yura menatapnya tak percaya.

“Wah… daebak! Kau cantik sekali Ahri. Tapi kurasa ada yang kurang” ucap Yura memandang tubuh Ahri dari atas hingga ke bawah. Yura tau apa yang kurang dari penampilan Ahri.

“Mwo?” Tanya Ahri yang melihat sahabatnya di hadapannya yang sedang menatapnya.

“Aku tau apa yang kurang dari penampilanmu itu”

“Apa? Apa yang kurang?” Tanya Ahri malas.

“Harusnya pasangan dari baju yang kau pakai sekarang adalah rok. Kenapa kau pakai celana panjang hitammu itu?Apa perlu kupinjam—“

“Tidak perlu. Aku tidak mau. Lebih pilih aku memakai baju ini atau tidak sama sekali?”

“Ah… arraseo, arraseo. Kau cukup pakai baju itu dariku. Jangan sampai kau tidak menggunakannya saat di konser nanti, nde?”

“Nde. Apa kau sekarang sudah puas?” Tanya Ahri.

“Sebenarnya belum. Melihat kau tidak mau memakai bawahan rok. Tapi tidak papa. Aku sudah puas sekarang. Tidakkah baju itu sangat cocok untukmu?”

Ibunya Ahri menatap anaknya tidak percaya.

“Apa kau ini Ahri?’ Tanya ibunya tak percaya.

“Eomma…. Lihat apa yang Yura lakukan padaku” rengek Ahri manja bergelayut di lengan ibunya.

“Kau sangat cantik sekali. Eomma sangat suka jika kau cantik seperti ini. Darimana kau mendapatkan baju ini?”

Ahri berhenti begelayut di lengan ibunya kemudian mempoutkan bibirnya.

“Eomma…. Kau itu sama saja dengan Yura”

Ibu Ahri menoleh kea rah Yura.

“Hehe…eommoni. Aku sudah datang daritadi dan aku memberikan baju ini untuk Yura” ucap Yura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Ibu Yura menatap tidak percaya.

“Bagus. Kau harus membuat anak ini menjadi cantik. Ah… aku bersyukur sekali kau menjadi sahabat dari anakku”

“Hehe.. tenang saja, eommoni. Aku akan membuatnya menjadi lebih cantik”

“Eomma..” rengek Ahri.

“Ahri? Milik siapa jaket dan kaos putih itu?” tanyaYura ke Ahri yang menunjuk dengan dagunya.

“Ah… ini kaos dan jaket milik Taehyung. Ia lupa membawanya dan ia menyuruhku untuk menyimpannya” ucap Ahri yang berjalan ke meja kecil itu lalu mengambilnya.

Ahri sempat menyium sedikit kaos dan jaket milk Taehyung lalu berjalan mendekati Yura dan ibunya.

“Tidakkah kau pikir jaket dan kaos miliknya ini bau?” Tanya Ahri.

Yura juga mencium bau jaket dan kaos itu.

“Kurasa tidak. Kaos dan jaket ini masih tersisa bau dari parfum Taehyung. Ternyata ini bau Kim Taehyung~”

“Ya! Berhentilah seperti itu”

“Hahaha” tawa Yura dan Ibu Ahri.

Saat mereka tertawa-tawa, tiba-tiba ayahnya Ahri batuk-batuk dan berteriak kesakitan. Ahri pun memberikan jaket dan kaos putih milik Taehyung ke Yura lalu ia langsung bergegas menuju ke kamar ayahnya dan saat sampai ia melihat ayahnya terjatuh dari kasurnya.

“Appa?!” teriak Ahri.

Ibunya pun juga kaget dan langsung menghampiri suaminya.

Yura yang melihat Ahri langsung berlari, menaruh jaket dan kaos putih tersebut lalu ia juga langsung berlari mengikutinya.

“Ahri…? Apa yang terjadi?” Tanya Yura.

“Appa? Appa? Appa? Bangun. Kita harus membawanya ke rumah sakit”

“Tapi darimana kita mendapatkan biaya sebesar itu Ahri?” ucap eommanya.

“Dengan ini. Kita bisa mengobati appa dengan uang ini”

“Darimana kau mendapatkan uang itu?” Tanya Yura.

“Ini dari Taehyung. Taehyung yang memberikanku uang ini untuk biaya pengobatan Appa”

“Kalau begitu aku akan mengantar appa mu ke rumah sakit dengan motorku. Ottokhae?”

“Baiklah aku serahkan Appa kepadamu. Cepat bawa dia ke rumah sakit sekarang. Eomma, kita akan menyusul Appa dengan sepedaku”

“Baiklah. Ayo kita harus segera kesana sekarang” ucap eommanya yang meneteskan air matanya karena khawatir dengan suaminya.

Yura langsung mengangkat tubuh ayah Ahri dan dibantu oleh Ahri dengan ibunya. Untung saja pada jam segitu dua adik laki-laki Ahri masih bersekolah dan jika pulang, dua adik laki-lakinya pasti dititipkan ke tempat bibinya karena jarak dari rumah Ahri ke sekolah adiknya tersebut sangat jauh. Ia memutuskan untuk mengabari bibinya saat appanya sudah dalam kondisi baik.

“Eomma… jangan menangis. Appa pasti akan sembuh” ucap Ahri yang menenangkan ibunya.

Ibunya mengangguk.

Mereka semua pun berangkat bersama ke rumah sakit.

***

#Rumah sakit pukul 14.00 KST

Ayahnya Ahri pun sekarang berada di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan. Ahri berjalan mondar-mandir menunggu dokter untuk keluar dari ruang ICU tersebut. Ibunya Ahri daritadi hanya menangis. Yura pun mencoba menenangkan ibunya Ahri. Tak lama dokter pun muncul dengan wajah datarnya.

“Dokter? Bagaimana dengan keadaan Appa saya?”

“Apakah kau keluarga dari pasien tersebut?”

“Nde. Saya anaknya”

“Ikuti saya ke ruangan saya”

Yura pun bertanya kepada Ahri dengan suara berbisik.

“Kau mau kemana?”

“Kau jaga Eomma disitu. Aku akan segera datang”

Sampai di ruangan dokter, dokter tersebut menceritakan keadaan ayahnya.

“Keadaan Appamu semakin memburuk. Pembengkakan di telinganya menyebabkan sakit yang menjalar ke kepalanya”

Ahri pun meneteskan air matanya.

“Apa yang harus saya lakukan dokter?”

“Kita harus segera mengoperasi telinga pasien tersebut. Jika tidak, pembengkakannya akan semakin menjalar dan menyebabkan infeksi pada saluran saraf di otaknya”

“Berapa yang harus saya bayar untuk operasi tersebut?”

“Sekitar 500000 Won.”

Ahri pun mengeluarkan uang yang telah diberi oleh Taehyung.

“Apa segini cukup?” Tanya Ahri.

“Ini 250000 setengahnya dari 500000”

“Aku mohon dokter. Selamatkan Appa. Aku akan membayar setengahnya setelah kau operasi appa ku” ucap Ahri yang daritadi berlinang air mata.

“Baiklah. Saya akan menolongmu”

“Kapan jadwal jam operasinya?”

“Kalau bisa sekarang juga aku akan mengoperasinya”

“Gamsahamnida”

Ahri pun keluar dari ruangan dokter tersebut.

“Ottokhae? Apa yang dikatakan dokter itu?” Tanya Yura.

“Mereka akan mengoperasi Appa”

“Mwo? Apa kau yakin? Apa uang yang dikasih Taehyung cukup untuk membayar operasi itu?”

“Tidak cukup. Tapi uang yang dikasih Taehyung harga dari setengahnya”

“Dimana eomma?”

“Eomma pingsan. Jadi ia dibawa oleh suster ke kamar pasien”

Operasi pada Ayahnya Ahri pun dimulai. Mereka pun menunggu operasi yang dilakukan oleh dokter tersebut. Operasi akhirnya selesai berjalan selama 3 jam. Dokter pun keluar dari ruang operasi tersebut dan memindahkan ayahnya Ahri ke ruang ICU. Ahri pun diperbolehkan masuk ke dalam ruang ICU tersebut. Tetapi Yura tidak. Ahri pun memandang appanya yang tergolek lemas tidak berdaya.

Appa Ahri akhirnya tersadar. Saat itu tibalah ibunya Ahri dan langsung masuk ke dalam ruang ICU tersebut.

“Appa…. Aku sangat mengkhawatirkanmu” tangis Ahri.

Ayahnya pun mengelus rambut putrinya.

“Sudahlah… aku tidak papa” ucap ayahnya yang pendegarannya telah kembali normal lalu ia menenangkan putrinya.

“Yeobo… aku mengkhatirkanmu” ucap Ibu Ahri yang juga ikut menangis dan memeluk suaminya di keranjang tempat tidurnya.

Mereka saling menangis.

“Sudahlah… aku tidak papa” ucap ayahnya Ahri yang mengusap rambut istri dan anaknya walaupun ia masih tidak bisa melihat.

“Ahri? Apa kau diundang oleh Taehyung?” Tanya ibunya kemudian setelah tangisannya sedikit reda.

“Ani eomma. Eomma tau darimana jika aku diundang olehnya?”

“Kau jangan berbohong pada eomma mu ini. Aku tau kau di undang olehnya. Sekarang kau pergi ke konser itu”

“Tapi appa bagaimana?”

“Sudahlah eomma bisa menjaganya sendiri disini. Kau datanglah kesana sebelum waktu konsernya habis”

“Baiklah”

Ahri pun keluar dan mendapati Yura yang sedang duduk menunggu di kursi tunggu.

“Yura? Jam berapa ini?”

“Jam 17.10. Astaga konsernya, tapi kau kan sedang menjaga appamu kan?”

“Ani. Kita harus kesana sekarang”

“Apa kau yakin?”

“Nde” mereka pun berlari keluar rumah sakit dan berangkat dengan motor Yura.

Sampai di tempat konser tersebut, mereka pun mencari jalan masuk ke dalam bangunan besar tersebut. Akhirnya mereka menemukan pintu masuknya. Saat mereka ingin melewati pintu tersebut, mereka dicegat oleh dua orang penjaga pintu tersebut. Mereka pun bertanya kepada Ahri dan Yura

“Siapa kau?” ucap penjaga yang berambut hitam.

“Apa kau mau menyelundup masuk dengan diam-diam?” ucap penjaga berkepala botak dan berbadan besar tersebut.

“Ani. Kami juga ingin menonton konser mereka” ucap Ahri.

“Jika kau ingin menonton, dimana tiketmu?”

Yura pun mengeluarkan 2 tiket di kantongnya.

“Hahah apa kau ingin menipu kami dengan tiket VIP tersebut?” ucap penjaga pintu tersebut yang meremehkan Ahri dan Yura karena tidak yakin oleh penampilan mereka yang sangat sederhana bisa membeli tiket VIP.

Yura pun langsung memberikan tiket tersebut ke dua penjaga pintu masuk. Saat kedua penjaga tersebut melihatnya, mereka langsung memperlakukan Ahri dan Yura dengan hormat.

“Kalian bukan tamu biasa. Kalian ikutlah dengan kami” ucap kedua penjaga tersebut lalu mengembalikan tiket mereka.

“Ada apa dengan mereka? Kenapa reaksi mereka berbeda saat melihat tiket ini?” Tanya Ahri kepada Yura.

Yura pun melihat-lihat tiket tersebut lalu ia menemukan sesuatu yang tertulis di tiket itu.

“Hah! kurasa karena ini” tunjuk Yura yang mengarah ke tanda tangan Taehyung di tiket tersebut.

“Ah… jadi begitu” ucap Ahri mengerti.

Ahri dan Yura pun mengikutinya. Tetapi Ahri menginginkan di tempat biasa bukan di tempat VIP. Petugas itu pun akhirnya menuruti permintaan Ahri dan Yura.

“Kenapa kau tidak ingin duduk di kursi VIP itu? Lihat ada dua kursi VIP yang kosong disana. Itu pasti milik kita” cibir Yura.

“Ani. Aku hanya ingin disini. Aku tidak mau Taehyung melihatku disini. Aku hanya ingin menonton konsernya saja”

Yura hanya mempoutkan bibirnya. Mereka berdua pun menyaksikan BTS yang menyanyikan lagu I Need U. Yura pun mengikuti nyanyian I Need U.

“Jadi seperti ini yang namanya konser” ucap Ahri melihat BTS menari dari kejauhan.

Di panggung, Ahri melihat Taehyung yang tidak fokus dan sesekali melirik ke kursi VIP.

‘Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak fokus seperti itu?’  gumam Ahri.

Konser pun berakhir, satu persatu dari penonton pun keluar di pintu keluar. Taehyung pun langsung turun dari panggung dengan menggunakan masker di wajahnya dan topi hitam di kepalanya lalu ia mencari-cari Ahri di sekitar pintu keluar penonton.

“Hey… kau mau kemana?” Tanya semua member BTS.

Taehyung tidak menggubris pertanyaan dari mereka.

Tak lama Taehyung pun melihat Ahri dari belakang. Ia mengenal Ahri dari tubuhnya. Taehyung pun langsung menarik Ahri dan membawa Ahri ke belakang panggung. Ahri pun berteriak karena terkejut.

“Woaa….Siapa kau?” Ahri pun menoleh kea rah Taehyung.

Taehyung tetap menarik lengan Ahri dan membawanya ke belakang panggung. Yura yang melihat Ahri dibawa oleh orang yang memakai masker di wajahnya, mengikuti mereka diam-diam.

Sampai di belakang panggung, banyak staf dan kru yang berlalu lalang dan sesekali melihat Taehyung dan Ahri. Mungkin mereka pikir, Ahri adalah teman Taehyung.

“Kenapa kau tidak duduk di kursi VIP?”

“Lepaskan aku” ucap Ahri yang langsung menarik tangannya.

“Apa kau masih tidak mau memaafkanku?” Tanya Taehyung lalu melepaskan maskernya dari wajahnya.

“Yonghee?”

“Jangan memanggilku seperti itu lagi. Sekarang aku bukanlah Yonghee. Kau jawab pertanyaanku,kenapa kau tidak duduk di kursi VIP yang telah kusediakan?”

Ahri tidak menggubris pertanyaan tersebut dan langsung pergi dari hadapan Taehyung namun Taehyung pun mengatakan sesuatu yang membuat Ahri terkejut dan langsung menghentikan langkahnya.

“Kau seorang pembohong” ucap Taehyung yang berubah menjadi serius.

Ahri pun menoleh kea rah Taehyung.

“Mwo? Mwo? Katakan itu sekali lagi di hadapanku”

“Kau seorang Pem-bo-hong” eja Taehyung.

Ahri pun meneteskan air mata dan mendekat ke Taehyung lalu memukul dada Taehyung berulang kali.

“Bukankah kau yang pembohong? Kenapa kau bohong tentang jati dirimu? Kenapa kau bohong tentang namamu? Dan kenapa kau bohong bahwa kau seorang penulis lagu? Kenapa hah? Bukankah kau yang pembohong” tangis Ahri yang masih memukul-mukul dada Taehyung.

Yura pun mencari Ahri dan mendapati Ahri dengan Taehyung di belakang panggung tersebut. Yura membiarkan mereka berdua untuk berbicara. Saat Yura ingin berbalik, ia melihat semua member BTS datang dan menuju ke belakang panggung.

“Kalian berhentilah!” ucap Yura dengan gugup yang menghadang member BTS.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini? Apa kau seorang army yang sedang tersesat?” Tanya Rapmon.

“Ani. Aku mohon kalian jangan mengganggu Taehyung dan Ahri. Kalian lihat! Mereka sedang berbicara serius” tunjuk Yura kea rah Taehyung dan Ahri.

Semua member BTS pun mengintip bersama dengan Yura dari balik panggung depan.

“Ah… jadi itu adalah yeoja yang disukai V hyung” ucap Jungkook mengangguk mengerti.

“Mwo? Jadi itu yeoja yang dimaksud V semalam? Tapi cantik juga” ucap Jimin yang membuat semuanya menoleh ke arahnya.

“Mwo? Aku benar kan?” ucap Jimin.

Semuanya hanya menggeleng-geleng kepala menanggapi perkataan Jimin lalu mereka pun terfokus lagi untuk mendengarkan percakapan Taehyung dan Ahri.

“Kau ingin aku menjawab semua pertanyaanmu itu?” Tanya Taehyung yang menahan tangan Ahri yang sejak tadi memukul dadanya.

“Baiklah. Pertama karena aku tidak ingin menjauh darimu. Kedua agar kau tidak mencari-cari nama asliku dan bertanya kepada semua orang ‘apakah kau tau Kim Taehyung?’ lalu jika kau tau jati diriku, kau tidak ingin dekat denganku lagi. Dan yang ketiga aku tidak berbohong. Aku memang seorang penulis lagu yang berhasil meliris lagu berjudul Hold me Tight. Apa kau sekarang puas? Bukankah yang pembohong itu kau?”

“Aku berbohong apa padamu? Apa aku pernah menipumu?”

“Tentu tidak. Perasaanmu”

“Mwo?! Perasaanku sekarang sedang sedih. Apa kau tidak tau itu?”

“Kau harus bertanggung jawab”

Ahri pun berhenti menangis.

“Maksud kau?”

“Kau harus bertanggung jawab atas perasaanku. Joahaeyo”

“Tumben V menjadi seserius ini” ucap Rapmon.

“Ah… kau ini sebenarnya siapa?” Tanya Jungkook yang menoleh kepada Yura yang sedari tadi bersama mereka.

Yura pun gugup karena member yang ia suka, bertanya dengan dirinya.

“A-a-aku sahabatnya Ahri”

“Jinjja?”

Yura hanya mengangguk-angguk menjawab pertanyaan Jungkook. Jungkook hanya tersenyum kecil. Mereka pun fokus lagi mendengar percakapan Ahri dan Taehyung.

“Kenapa kau tidak jujur denganku? Bisakah sekarang kau jujur padaku dan percaya padaku jika aku benar-benar menyukaimu?” ucap Taehyung menatap Ahri dalam sambil memegang bahu Ahri dengan kedua tangannya.

“Sebenarnya aku juga menyukaimu. Tapi kita berbeda. Aku tidak bisa menyukaimu. Kau seorang artis sedangkan aku penjual Tteobokki. Kita sangat berbeda”

Taehyung pun langsung memeluk Ahri dan berbisik di telinga Ahri.

“Aku menerimamu apa adanya. Jadi tetaplah bersamaku. Kau mengerti!”

Ahri mengangguk-angguk iya. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari member BTS. Taehyung pun langsung melepaskan pelukannya dari Ahri dan melihat semua teman-temannya menghampirinya.

“Kalian sedang apa disini?” Tanya Taehyung yang bingung karena semua teman-temannya berada disitu.

“V kau sangat hebat” ucap Jin.

“Jadi kalian memperhatikanku daritadi?”

“Hahaha… sudahlah. Kau tidak usah malu begitu. Kau ini seorang pria. Maka jadilah seorang pria” ucap Jimin yang merangkul pundak Taehyung sambil memperlihatkan otot-ototnya di tangan.

“Huuuu….” Ucap semua member lalu mendorong-dorong tubuh Jimin.

Suga pun menghampiri Taehyung. Lalu Suga mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai permintaan maaf atas perkataannya semalam tadi saat di dorm.

“Ada apa hyung?” Tanya Taehyung bingung dengan uluran tangan Suga.

“Aku minta maaf atas perkataan kasarku yang menyinggungmu tadi malam. Apakah kau mau memaafkanku?”

Taehyung pun langsung tersenyum dan menyambut uluran tangan Suga lalu menarik Suga ke dalam pelukan Taehyung.

“Hyung…. Aku tidak akan marah hanya gara-gara itu. Kau memang benar, itu akan membahayakan karier ku dan karier kita. Tapi aku juga tidak bisa menyim—“

“Arraseo, arraseo. Jangan bahas itu lagi. Sekali lagi aku minta maaf atas perkataan ku tadi malam terhadapmu, nde?” ucap Suga yang melepas pelukan dari Taehyung.

Taehyung pun mengangguk tersenyum. Semua member pun tersenyum melihat Taehyung dan Suga termasuk Ahri dan Yura.

“Baiklah… kita akan menjaga rahasia ini dari manager dan semua publik. Nde?” ucap Suga kepada semua membernya.

“Nde!” teriak lima member BTS serempak menyemangati Taehyung.

“Ahri… kau hebat. Kau bisa mendapatkan Taehyung dengan begitu mudah. Aku jadi iri padamu~” ucap Yura memegang pundak Ahri.

“Ah… ani. Kau bilang itu mudah? Ah iya Appa” ucap Ahri yang baru saja ingat dengan ayahnya yang terbaring lemas di rumah sakit.

“Ayahmu kenapa?” Tanya Taehyung.

“Appa sedang dirawat di rumah sakit. Aku harus kembali ke rumah sakit”

“Ahri…? Pergilah dengan Taehyung” ucap Yura yang melemparkan kunci motornya.

“Gomawo” ucap Ahri.

Ahri dan Taehyung pun berlari keluar dari gedung tempat konser tersebut. Saat mereka berlari menjauh, terdengar banyak sorakan semangat dari para member BTS.

“V! Fighting!” teriak semua member BTS.

Taehyung pun sempat menoleh kea rah mereka lalu mengacungkan kedua jempolnya sambil berlari di belakang Ahri. Mereka menuju tempat parkir. Ternyata di luar gedung tersebut, masih banyak orang yang belum pulang. Melihat Taehyung disitu, semua orang pun berlari menuju tempat parkir mereka.

“Cepatlah. Kenapa kau sangat lama sekali?”

“Aku lupa. Aku tidak bisa menyetir. Bagaimana ini?” ucap Ahri yang panik sambil mencoba-coba cara memasukkan kunci dengan benar.

“Berikan kunci itu kepadaku!”

“Kau mau apa?”

“Berikan saja. Palli!”

Ahri pun memberikan kunci motor tersebut kepada Taehyung. Taehyung langsung menaiki motor tersebut lalu memasukkan kunci motor itu ke dalam motor.

“Naiklah!” perintah Taehyung.

“Apa kau yakin?”

“Tentu saja” ucap Taehyung dengan smirknya.

Ahri pun menaiki motor tersebut. Semua orang pun hampir mendekati mereka.

“Kau siap?” Tanya Taehyung.

Ahri hanya diam tidak mengerti maksud perkataan Taehyung. Taehyung mengambil helm milik Yura yang terletak di atas kaca spion lalu  memakaikan helm milik Yura tersebut di kepala Ahri. Ahri hanya diam saja saat kepalanya dipakaikan helm oleh Taehyung.

“Baiklah. Kali ini kau siap?”

“Siap? Siap apa? Daritadi kau ini tidak jelas sama seka—woaa” Ahri pun terkejut dan langsung memegang pinggang Taehyung  karena tiba-tiba Taehyung menarik gas motor tersebut dengan kencang.

“OMO!! Kau ini… kau kira kita sedang balapan apa?”

“Tentu. Peganganlah yang kuat”

Ahri tidak tahu apa yang sedang merasuki pikiran oleh Taehyung sekarang. Ahri melepaskan pegangannya dari pinggang Taehyung. Ahri ingin memegang tubuh Taehyung dengan ragu, Taehyung pun tau jika Ahri ingin memegang pinggangnya dengan ragu.

“Kau ini, memegang begini saja lama” ucap Taehyung yang langsung memegang tangan Ahri untuk memeluk pinggangnya agar Ahri bisa berpegangan.

Ahri pun sangat malu. Taehyung tersenyum melihat wajah Ahri yang sekarang seperti terlihat kepiting rebus di kaca spion motor tersebut tanpa Ahri sadari. Taehyung menyetir dengan kecepatan yang sangat laju, hingga mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit yang dimaksud Ahri. Ahri langsung berlari masuk yang diikuti oleh Taehyung. Ahri datang ke tempat kamar ayahnya yang sedang di rawat. Saat ia telah sampai di depan pintu, ia mendengar suara ibunya memohon-mohon kepada seseorang. Ahri mencoba mendengarkan percakapan di dalam kamar tersebut.

“Aku mohon… jangan kau pindahkan nampyeonku ke kamar lain. Dia harus mendapatkan perawatan yang lebih baik”

“Tidak bisa, maaf. Kita harus memindahkannya karena anda belum membayar operasi separuhnya” ucap seorang wanita di dalam kamar tesebut yang sepertinya adalah seorang perawat.

“Aku mohon.. tolong jangan—“ ucapan ibunya Ahri pun terhenti karena Ahri langsung membuka kamar tersebut.

“Ya! Apa kau tidak melihat ayahku sedang beristirahat? Tidak bisakah kau sedikit lebih sopan kepada Eommaku?!” bentak Ahri kepada perawat tersebut.

“Mianhe, tapi—“

“Suster, bisa kau ikut aku?” Tanya Taehyung kepada suster tersebut.

“Taehyung kau mau kemana?” Tanya Ahri.

“Kau tunggu saja disini. Aku ada urusan sebentar. Kajja” ajak Taehyung ke perawat tersebut.

Perawat tersebut mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan ICU mengikuti langkah Taehyung. Sampai di luar, Taehyung bertanya kepada suster tersebut.

“Berapa sisa uang yang harus kubayar?”

“Maaf. Apa kau ingin membayarnya?”

“Tentu. Aku harus membayar berapa?”

“Ikuti aku”

Perawat itu menyuruh Taehyung untuk mengikutinya menuju kea rah kasir. Sampai di kasir, Taehyung langsung membayar dari sisa uang yang belum dibayar Ahri. Setelah membayarnya, Taehyung pun kembali ke kamar ICU tersebut.

“Taehyung-ah kau darimana saja?” Tanya ahri.

“Aku sudah membayarkan sisa uang itu yang belum dibayar. Jadi kau tidak usah khawatir. Ah.. iya apa ayahmu baik-baik saja?”

“Jinjja? Mianhe. Keluargaku sudah merepotkanmu. Aku tidak tahu harus bagaimana berterima kasih denganmu. Appa sedang—ups” Ahri pun spontan menutup mulutnya lalu menoleh kea rah appanya.

“Taehyung… sebaiknya kita berbicara di luar saja, aku—“ bisik Ahri namun terpotong ucapannya karena seseorang.

“Tidak perlu” ucap ayahnya Ahri.

Mereka semua pun terkejut. Ahri mendekati ayahnya.

“Appa? Maksud kau?”

“Dari dulu aku sudah mengetahui lelaki itu”

“Tunggu! Maksud appa, dengan Taehyung?”

“Nde. Dimana dia? Aku ingin berbicara dengannya”

Ahri menyuruh Taehyung untuk mendekat kea rah ranjang tempat ayahnya berbaring.

“Apa anda mencari saya?” Tanya Taehyung.

“Nde. Apa kau yang telah membayarkan seluruh operasi ini?”

Taehyung hanya mengangguk-angguk. Ayah Ahri pun tersenyum.

“Kau adalah pria yang sangat baik kepada kami, terutama dengan putriku. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Aku telah banyak diceritakan dengan anaeku. Aku kira semua lelaki adalah sama yang bisa menyakiti hati putriku begitu saja. Namun, aku telah menyadari keberadaanmu saat pertama kali kau berada di rumah kami. Aku melihat apa yang kau lakukan terhadap putriku. Walaupun aku tidak bisa melihat lagi, aku bisa merasakan hati putriku saat itu. Kau adalah pria yang bisa menenangkan hati putriku dari segala kesedihannya terhadap keadaanku. Gomawo”

Ahri terkejut karena appanya berkata seperti itu. Appanya menyuruh Taehyung untuk mendekat.Taehyung menundukkan sedikit tubuhnya lalu mendengarkan pesan dari ayahnya Ahri.

“Jagalah putriku bersamamu. Aku ingin memilih kau sebagai pasangan dari putriku. Apa kau bisa?”

“Tentu. Aku bisa memenuhi keinginan anda” ucap Taehyung tersenyum lalu menjauhkan telinganya dari ayahnya Ahri.

“Appa kau bicara apa dengan Taehyung?”

“Tidak ada” ucap ayahnya sambil tersenyum. Ibu Ahri pun juga ikut tersenyum.

“Appa… kau ini membuatku penasa—“ tiba-tiba Taehyung langsung menarik tangan Ahri untuk keluar.

“Eommoni, apponi. Aku ingin membawa putri kalian sebentar. Apa aku boleh?”

“Silahkan saja” ucap kedua orang tua Ahri.

Hari semakin malam. Taehyung pun membawa Ahri menuju ke belakang taman rumah sakit. Di belakang rumah sakit,  taman tersebut sangat sepi dan tidak ada orang. Taehyung pun berhenti menarik tangan Ahri dan menghadapkan Ahri ke hadapannya.

“Aigoo…. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawaku kesini?”

“Jika kau menolaknya, kau akan menyesal”

“Maksud kau?”

“Sebelum itu, aku ingin bertanya”

“Bertanya? Kau ingin menanyakan aku tentang apa?”

“Apakah benar, jika dulu kau itu selalu disakiti oleh banyak namja?”

“Nde… banyak lelaki yang suka kepadaku, namun setelah melihat keadaan appaku, mereka semua telah menjauhiku begitu saja”

“Apa mereka dulu itu pabo? Menyakiti yeoja secantik ini begitu saja, huh?” gumam Taehyung kesal yang masih bisa di dengar Ahri.

Saat mendengar itu, pipi Ahri bersemu merah. Bagaimana tidak, Taehyung memuji dirinya bahwa ia cantik. Tetapi Ahri langsung tersadar bahwa ia tidak bisa lebih dekat dengan Taehyung. Hanya cukup bersama dengan Taehyung saja, membuatnya bahagia. Ia tidak boleh berharap lebih dengan Taehyung. Taehyung langsung melihat Ahri yang sedang melamun dengan pipi yang sangat merah.

“Kenapa wajahmu merah?” Tanya Taehyung.

Seketika Ahri pun langsung tersadar dari lamunannya dan memegang pipinya yang merah.

“Ah… ani. Kau ini bicara apa?! Disini dingin. Palli! Kau ingin mengatakan apa kepadaku tadi?” ucap Ahri sambil memeluk dirinya sendiri.

Taehyung melepaskan jaketnya sehingga ia masih menyisakan kaos putih di tubuhnya dan jaket yang ia lepaskan tadi, ia pakaikan ke tubuh Ahri.

“Kau kedinginan bukan?”

Ahri hanya menjadikan sebuah alasan ‘kedinginan’ tadi karena wajahnya yang bersemu merah. Ahri hanya mengangguk-angguk.

“Palli! Jika kau tidak ingin mengatakan sesuatu, aku akan pergi sekarang!”

“Arraseo, Arraseo.” Taehyung mengeluarkan sesuatu dari balik topi hitam yang dipakainya. Ahri pun bingung apa yang dilakukan oleh Taehyung.

“Jadilah yeojachinguku. Apa kau mau?” ucap Taehyung yang mengeluarkan bunga mawar dari balik topi hitamnya di depan Ahri.

“Ah… duri-duri mawar ini daritadi menusuk kepalaku” gerutu Taehyung yang memegang-megang kepalanya yang sedikit sakit.

Ahri pun menganga tidak percaya. Padahal apa yang baru saja dipikirkannya bahwa ia tidak bisa berharap lebih pada Taehyung sekarang menjadi kenyataan. Ahri pun tidak sadar meneteskan air matanya lalu mengangguk setuju dan mengambil mawar tersebut dari Taehyung. Taehyung pun langsung memeluk Ahri.

“Pabo! Kenapa kau menyimpannya di kepala?”

“Tidak papa. Aku hanya ingin memberikan seorang yeoja dengan cara yang berbeda saja. Jadi apa kau mau menerimaku untuk menjadi namjachingumu?”

Ahri mengangguk senang sekaligus meneteskan air mata karena bahagia.

“Mulai detik ini, kau sekarang adalah milikku” ucap Taehyung tersenyum.

—END—

Ya….akhirnya ff ini sudah selesai. Terima kasih para reader-nim yang mau menyempatkan diri kalian untuk membaca ff abal-abal ini. Mianhe jika kalian memang kurang suka dengan cerita ff ini. Kalian bisa memberi kritik atau saran disini.  Hehe… Baiklah saya pamit undur diri. Gamsahamnida…. Anyyeong~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Can You Trust Me? (Twoshot#2)

  1. Anyyeong Nadel… Iya nih Taehyung emang benar-benar alien hahaha. Gomawo Nadel sudah baca ff ini sampai selesai dan gomawo sudah memberi semangat. Jeongmal gomawo^^😂😊

    Like

  2. Pertama kali baca pernah baper gegara ni cerita but,…
    Horeeee… Taehyung dan Ahri akhirnya bersama^^:):):)
    Taehyung… kau memang Alien,naruh mawar dikepala–” tapi itu Romantiss…^^
    @Yukiii… fightingg ya buat ff selanjutnya:v

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s