[BTS FF Freelance] Jungkook Series: She Look so Perfect! (Chapter 4)

26676095013_6a6e6868d3_b

Jungkook Series : She Look So Perfect! Chapter 4

Scripwriter by ; coolbebh_

Starring by; Jeon Jungkook [BTS’s], Nam Heewon [OC’s]

Genre : Married Life, Slice of Life

Length : Chaptered

[ABOUT 1,715 words]

Disclaimer : Warning! Plot is mine of mind! Don’t repost or copy paste^^

*

*

coolbebh™Present**

Jungkook POV

Wanitaku tengah berjalan anggun dengan dress panjang yang aku berikan tadi sore. Setelah bekerja, kuurungkan niatku untuk membeli sepasang baju untuknya tak lupa baju hamilpun aku beli demi kenyamanan tubuhnya saat ini. Terlihat saat ini ia sangat cantik. Ah.. ralat, sangat-sangat cantik, mungkinkah efek dia sedang hamil? Entahlah..

Dia tersenyum kepadaku sembari membuka kedua lengannya meminta pelukan. Oh, ayolah.. kau sangat imut, Heewon.

Ku pandangi wajahnya yang teduh itu, membuat dadaku selalu berdesir aneh dan mengulum senyum. Kemudian memeluk pinggangnya erat dengan sepenuh hatiku. Meski berbeda dari yang dulu, pinggangnya membesar sekitar beberapa senti. Tak apa, itu tak masalah. Asalkan Heewon selalu mendampingiku sampai akhir hayatku.

Aku menghirup aroma vanilla yang selalu menyeruak di leher putihnya. Bisa dibilang, jika diriku tak menahan hormonku sendiri mungkin Heewon telah habis sekarang. Mengingat dirinya tengah mengandung anakku, benih yang sudah di tanam sejak dulu namun baru kali ini ia tumbuh subur di rahimnya.

Kecupan demi kecupan di sekitar lehernya membuat dirinya menggelinjang geli. Aku terkekeh pelan akan reaksinya, masih mempunyai hasrat ternyata.

“Jung… jangan…”

“Maaf, ya?” ia hanya mengangguk pelan dan menenggelam kepalanya dalam dadaku. Tanganku terperintahkan untuk mengelus rambut hitam legamnya yang benar-benar aku sukai.

“Jungkook,”

“Apa?” Pelukan hangat yang aku berikan terlepas sudah, ia mengalungkan tangannya pada leherku kemudian mengecup bibirku sesaat. Lucu sekali. Jujur, diriku terhenyak akan perbuatannya yang menurut kalian mungkin inilah skinsip biasa jika dalam hubungan suami istri. Namun, ingatlah.. Heewon jarang memberikan kecupan di bibir kecuali pipi atau pun mencium tangan sebelum berangkat bekerja.

Heewon hanya tertunduk malu menanggapi apa yang dilakukannya tadi. Hey! Jangan malu, sayang…

Aku mengulum senyum akan tingkah lucunya sehingga diriku tertarik untuk memegang dagunya untuk menjadikan dirinya menghadap padaku, menatapku lekat.

“Kau sangat cantik saat ini, sayang..” ujarku padanya. Pipinya memerah dan bibirnya yang merah muda itu pun tersenyum tulus padaku saat ini. Dan entah mengapa secara tidak sadar aku mencium bibirnya itu dengan gemas. Bisakkah aku menghabisinya sekarang?

“Jung, hentikan.” Ujarnya. Dorongan tangannya pada dadaku kini membuat diriku sadar akan apa yang dilakukan. Aku hanya menggaruk tengkukku yang tak gatal ini sembari tersenyum kikuk. Dan dia hanya mengerucutkan bibirnya yang terlihat imut.

“Sebenarnya kita mau kemana, Jung? Kau belum memberi tahuku secara detil.” Heewon bertanya padaku yang membuatnya mati penasaran. Pasalnya, aku hanya menyuruhnya dandan yang cantik sambil memberikan dress warna biru laut ini dengan aksen brukat yang terlihat sederhana namun elegan. Baik, aku memang tahu selera istriku.

“Baiklah. Kita akan pergi ke acara perhubungan kontrak antar perusahaan. Dan istriku yang cantik ini..” —Aku menghentikan perkataanku dan mengelus pipinya lembut—“…andil dalam perusahaan. Kau wajib datang, sayang..”

Heewon mengangguk mengerti kemudian tangannya itu memegang lenganku secara erat. Ia tersenyum manis padaku membuat diriku mabuk kepayang. “Yasudah, ayo kita pergi. Jangan membuat oranglain menunggu, Jung..”

Sebagai suami yang baik, aku mengangguk paham, aku mengelus pucuk rambutnya dan memegang tangannya balik sembari tersenyum manis.

***

Author POV

  Suara riuh dari gedung besar ini membuat serta merta pengunjung menikmati suasana yang meriah. Terlihat disana hanyalah kalangan bangsawan. Heewon tersenyum melihat dekorasi indah yang dipadukan lampu manis berwarna ungu kebiruan akannya aksen mahal.

Dirinya teringat sesuatu, jika ia tak menikah dengan Jungkook mungkin saat ini ia takkan pernah menginjak lantai marmer yang dindingnya pun dipenuhi berlian mahal. Sungguh menakjubkan.

Ia menyapu kesekelilingnya, menatap para pengunjung yang sedang menikmati makanan ringan, seperti kue dan sirup merah. Pandangannya kini tak bisa teralihkan begitu saja, melihat beberapa wanita yang seksi dan lenggak-lenggok indah yang membuat Heewon iri. Ia menatap dirinya sendiri, tubuh tambul, pipi besar dan jangan lupakan pinggulnya juga melebar secara drastis.

Mengingat hal itu Heewon kecewa akan dirinya sendiri. Ia tak membagakan suaminya yang kini tengah memegang erat tangannya sembari tersenyum kepada semua orang. Heewon hanya menunduk malu, mau bagaimana pun jika Jungkook memujinya cantik juga itu hanyalah bualan semata. Bukankah ia berbeda dari yang dulu? Dia tak langsing lagi, dia mempunyai beberapa garis di sekitar perutnya kini. Memalukan!

“Sayang.. kenapa melamun? Ayo kita kesana.” Jungkook menggenggam tangannya sembari menuntunnya pada karpet biru menuju temannya yang kini melambaikan tangannya riang. Sungguh, dirinya ingin menghentikan Jungkook dan mengajaknya pulang. Ia sungguh malu.

Melihat para wanita menatapnya –ralat, Jungkook– dengan wajah berbinar.

“Lelaki kaya dan pintar itu seharusnya denganku, bukan dengannya. Sama sekali tak menarik.” Ucapnya yang setengah berbisik bersama temannya. Suara tawaan yang membuat Heewon ingin menyumpal kaus kaki nan bau itu membuat Heewon geram. Namun, apa daya dirinya tak mempunyai keberanian lebih dan hanya menunduk sambil mengikuti arah kaki Jungkook.

“Hai, kawan! Apa kabar?”

“Tentu saja baik.”

Heewon masih bergeming tak ikut menyapanya yang perasaannya kini tengah menatapnya lekat. Ia hanya menatap ke bawah tak tentu arah tanpa ekspresi walau hatinya berkecamuk kesal.

“Dengan—“

“Sang istri.”

“Oh, kau sudah menikah, Jung? Kapan? Mengapa kau tak memberi tahuku, huh! Sialan!” lelaki itu berdecak sinis mendengar penjelasan Jungkook padanya. Sekesal itukah?

“Maafkan aku. Asal kau tahu, dulu aku ingin mengundangmu namun dirimu sedang ada projek di Rusia, kan?” tebaknya. Ia mengangguk pelan menunjukkan bahwa pernyataan Jungkook adalah benar. Lalu, langkah lelaki itu menghapus jarak mereka dan berdiri di samping Jungkook. Dan berbisik disana membuat tak satu pun orang mendengarnya.

“Jika sudah bosan dengan istrimu itu, berikan saja padaku, Jung. Aku rela yang bekas juga.”

“Sial! Takkan pernah!” Jungkook mengeraskan rahangnya dan menatapnya tajam. Jika ini bukan acara resmi mungkin ia akan memberikan pukulan telak pada pipinya itu tanpa ampun.

Heewon mendongakkan wajahnya menatap suaminya yang sedang merah padam. Pikirannya kalut, apa yang terjadi sebenarnya dengan Jungkook? Sebuah genggaman yang erat pun Heewon terima. Jungkook seperti tak ingin melepasnya seinci pun, melihat dari auranya yang dingin namun digandrungi api.

“Hahaha. Aku hanya bercanda, Jung. Ah, tidak juga, sih.” Ucapnya enteng

“Ekhm. Siapa namamu, nona.”

“Aku—“

“Jangan dijawab, sayang. Ayo kita kesana!” Jungkook membawa tangannya pada sebuah meja kosong yang telah dibaluti kain sutra. Ia meninggalkan mereka yang tenagh menatapnya aneh. Ia mempersilahkan Heewon duduk secara perlahan. Kucuran teh hangat pada gelas kecil itu di berikan pada Heewon yang saat ini tengah menatapnya heran.

“Ada apa, Jung? Mengapa kau tadi terlihat marah?” tanyanya. Heewon enggan meminum teh hijau tersebut yang Jungkook buatkan padanya kini. Ia lebih mengkhawatirkan Jungkook yang kini tengah terdiam menatap pijakan dengan kosong melompong. Jungkook menghela napas berat kemudian menggenggam tangannya kembali sembari mengelus punggung tangannya.

“Aku menyesal tak membawa susu ibu hamil untukmu.”

“Jangan mengelak. Jawab saja.”

Baik, Heewon tak suka jika lawan bicaranya mengalihkan pembicaraan yang ditujunya. Ia ingin langsung, mengungkapkan apa yang terjadi tanpa basa-basi. Seperti saat ini, Jungkook tengah menatapnya nanar dengan genangan air di pelupuk sana.

“Heewon, kau janji ‘kan takkan meninggalkanku sejemang pun?” ucapnya lirih. Heewon menganggukan kepalanya perlahan meski tak mengerti arah pembicaraannya kini. Ia mengelus surai Jungkook dengan lembut dan tersenyum disana secerah mentari.

“Aku khawatir kau melirik lelaki yang lebih sempurna dan lebih mapan dariku.” Tatapan Jungkook berubah lebih dramatis membuat Heewon cemas. Ia memeluk Jungkook dengan erat memberikan ketenangan walau hanya sementara.

“Tidak akan. Justru aku yang harusnya berpikir seperti itu. Disini ada beberapa wanita yang berusaha menggodamu namun kau hanya menatapku lekat tanpa menlirik oranglain. Kau tahu? Hatiku sakit, Jung. Mengingat diriku sekarang lebih jelek daripada dulu.”

“Kata siapa? Kau cantik, sayang.” Jungkook menyangkal perkataan Heewon. Ia menangkup pipi Heewon dan mengelusnya perlahan. Sejenak, Jungkook memberikan kecupan singkat di keningnya itu. “Kau malu mengandung anakku?”

“Hey! Jangan sembarangan! Jika seperti itu, mungkin aku sudah menggugurkannya.”

“Habisnya kau tak percaya omonganku. Iya, kan?”

Heewon menggeleng bertanda bahwa dirinya menyangkal apa yang dikatakan Jungkook. Bukan itu maksudnya, ia hanya khawatir Jungkook meninggalkannya dan membuangnya seperti sampah.

“Aku tak berpikiran seperti itu, Jung..” ucapnya yakin. Ia memegang pergelangan Jungkook yang saat ini tengah menangkup pipinya. Tatapan Jungkook mulai teduh namun syarat akan kekhawatiran masih menjalar disana.

“Kau tahu apa yang terjadi tadi?” Heewon menggeleng pelan. “Dia—lelaki tadi menyukaimu dan berusaha untuk merebutmu dariku.”

“Apa? Itu tak mungkin! Aku jel—“

“Kau cantik, Heewon. Apalagi saat ini kau tengah hamil, poin kecantikanmu bertambah drastis. Aku pusing! Aku tergila-gila olehmu. aku—“

“Sssttt…” Heewon menaruh jari telunjuknya pada bibir Jungkook. “.. kalau begitu kita buang prasangka buruk kita dan menatanya kembali. Hapus semua pikiran negative dan menggenggam tangan kita dengan erat agar rumah tangga kita terjaga akan keharmonisan.” Ucap Heewon.

“Heewon,”

“Janji?”

“Ya, aku janji, istriku.”

Mereka tersenyum lega akan perasaan yang telah diungkapkannya. Kekhawatiran yang menyelimuti relung mereka pupus sudah tak tersisa, hanya sebuah janji dan keyakinanan hati akan kepercayaan masing-masing. Heewon percaya Jungkook dan Jungkook percaya Heewon.

Sebuah kepercayaan dan pengertian adalah resep awet rumah tangga yang tak bisa dirobohkan. Sesuai janji mereka di altar dulu, suka maupun duka mereka akan selalu menggenggam tangan dengan erat tanpa satu orang pun yang bisa memisahkannya.

Pelukan hangat yang disalurkan cinta masing-masing akan syarat bahwa mereka sedang berpegang teguh pada perasaan mereka berdua. Cinta, kasih dan sayang sudah melekat pada relung hati Jungkook dan Heewon.

Semoga Tuhan mengabulkan doa mereka.

**

“Sial!”

“Kau kenapa, Namjoon? Mukamu tak enak dipandang.”

Ia menyeka wajahnya dengan kasar dan menatap wajah seseorang yang disampingnya. “Kau tahu istrinya Jungkook? Dia cantik sekali. Sayangnya perutnya itu terlihat seperti hamil muda. Arrrgghhh! Aku harus bagaimana?” ucapnya gusar. Ia mngusak rambutnya acak membuat sang lelaki itu yang disampingnya kini hanya bisa menggelangkan kepalanya kesal.

“Dulu juga aku pun begitu, namun apalah daya dia telah menikah. Cintaku yang malang..” lirihnya. Tatapannya sedikit menerawang ketika dulu ia mengungkapakan isi hatinya. Namun apalah daya.. Jungkook menghampirinya memberitahunya bahwa wanita tersebut adalah istrinya. Huh, betapa sakitnya hati ini.

“Kau tahu siapa namanya?”

“Tentu, namanya—“

“Kau tak bisa merebut istriku, Hyung! Asal kau tahu saja cinta kami terlalu kuat dan saat ini istriku tercinta tengah hamil, mengandung anakku. Jadi jangan harap.” Jungkook memotong perkataannya begitu saja dan menatap mereka dengan tajam. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat sebelum ia melontarkan lagi perkataannya.

“Permisi.”

“Kau mau kemana, Jungkook?” teriaknya.

“Kontrak kita berakhir! Lebih tepatnya aku tak ingin bekerja sama denganmu. Ingat itu!” balas Jungkook setengah teriak. Genggaman Jungkook semakin mengerat membuat Heewon hanya diam menurut saja. Takut jika emosinya tersulutkan akan kecemburuan.

“Tuan, bolehkah saya—“

“Maaf, nona. Saya sudah mempunyai istri. Jadi, pergilah.” Katanya dingin.

Bagaimana dengan perasaan Heewon sekarang? Jujur, hatinya tengah bahagia diliputi haru. Ternyata Jungkook menghargai pendapatnya dan semakin mengurungnya dalam lautan kasih sayang yang Jungkook berikan.

TBC

Maaf  lama, ya^^ Mohon krisar readers~

coolbebh_

Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] Jungkook Series: She Look so Perfect! (Chapter 4)

  1. Bisanya guling2… Astaga romance banget…. Pengen bisa nulis yg beginian tapi gak bisa… Jiwa saya kurang romance… Wkwkwkwkwk…

    Ditunggu banget kelanjutannya mbak~

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s