[BTS FF Freelance] Gone – Twoshot#1

Ck_aR4DUYAEuLjr.jpg large

 

Gone

By Rednae Mega

Poster by Ken’s @ Indo Fanfictions Arts

[BTS’] Kim Taehyung & [TheArk’s] Jung Yoojin ||

Slight! [BTS’s] Jung Hoseok|| SadRomance, Friendship, Songfic  || T || Twoshot

Based on ‘Gone’ by Jin Lovelyz.

Disclaimer :  It just a fanfiction. Don’t forget to RCL, copast? Siders? Go away!! NO PLAGIAT!

Note : must be focus! Because this plot is not arange.

.

.

“Aku menyayangimu bahkan mencintaimu sampai akhir hayatku~”

.

.

**

>♪Now Playing » Jin-Gone <

 

—gone’s Story is begin…

 

July 2017, 31st

Aku berdiri disini, karena aku sangat merindukanmu

 

Hamparan ilalang di tengah rintikan sang hujan, menambah kesan bahwa dunia ini slalu berduka. Mega mendung masih menguasai kanvas Tuhan. Kelabu dimana-mana itu sudah biasa, goresan-goresan warna yang biasa tampak juga menghilang ditelan sang mega mendung. Sama seperti hati seseorang yang kini tengah berdiam di tengah derasnya hujan. Yeoja itu kini, berteduh di sebuah halte yang sudah tak terawat. Coretan tangan-tangan jahil terpampang jelas. Yeoja itu mengedarkan pandangannya, melihat satu per satu goresan yang ada disana. Matanya kini, tertuju pada sebuah coretan yang sudah berdebu. Yeoja itu meniup-niupkan ke arah coretan tersebut, yang tampaknya masih sama seperti dahulu. Suatu coretan berbentuk hati yang didalamnya terletak 2 nama dengan dibumbui kata You & I Forever~.

 

“Masih tampak sama,” lirih yeoja itu.

 

Berkali-kali bus datang menghampiri halte tersebut, tetapi tak satupun yeoja itu naiki. Sepertinya, memang ada hal lain yang lebih penting daripada berpergian tanpa tujuan. Ia masih asyik dengan dunianya sendiri. Terkadang, yeoja itu menggosok-gosokkan tangannya, untuk menghangatkan diri.

 

Ya, yeoja itu adalah Jung Yoojin. Yeoja berumur 20 tahun yang dianggap ramah dan murah senyum. Bekerja di sebuah Rumah Sakit sebagai dokter muda yang menggeluti penyakit kanker darah, tepatnya Leukemia. Terdengar beberapa gosip mengatakan bahwa dokter muda ini mempunyai masa lalu yang sedikit kelabu bahkan datar. Sikapnya pendiam, jutek, arogan, egois dan misterius. Sifatnya yang begitu misterius sangat sulit untuk diubah, sampai seseorang masuk kedalam jalur kehidupannya. Seseorang yang nyaris bersama dalam jalurnya. Seseorang yang membuat lengkungan-lengkungan kebahagiaan yang tercipta di jalurnya, jalur penuh warna. Membuat Yoojin menjadi seorang gadis periang nan baik.

 

Tersimpan sebuah alasan mengapa ia terus berada di halte yang tak terawat ini.

 

Ingatanku tertingal disini

 

Mengambil sesuatu yang telah hilang, dua tahun lalu. Mengambil kembali ingatannya yang pernah tertinggal disini seiring kepergian seseorang. Mengumpulkan kembali kepingan puzzle yang berserakkan di tempat ini.

 

Seseorang yang memberikan goresan-goresan warna dalam kanvas kehidupannya. Yang semula, hidupnya datar, kelabu, dan membosankan. Yang membuatnya bangkit dari kedataran hidup, yang membuat bibir manis itu melengkung indah, yang membuatnya jadi pribadi periang, yang membuatnya sadar bahwa seluruh insan di dunia ini harus bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan.

 

“dan yang terpenting, yang membuatku dapat merasakan indahnya jatuh cinta…”

 

¤¤

Masa lalu yang begitu berarti dalam hidup..

Maaf dan Terima Kasih atas semua kasih sayangmu padaku..

Terima kasih atas semua pemberianmu..

Ada satu kata yang belum sempat aku ucapkan padamu..

‘Saranghaeyo Kim Taehyung’

 

*Yoojin’s Diary

——————————————————————————————

 

FLASHBACK

 

June 2014, 30th

 

Aku merasa begitu senang hanya dengan berjalan di tengah hujan bersamamu

 

—Yoojin POV—

 

Aku masih sibuk dengan kegiatanku, ya melukis. Aku slalu menghabiskan waktuku disini, di tengah hamparan ilalang, menghirup udara segar, itu sudah menjadi hobiku sejak kecil. Kanvas, kuas, cat air dan earphone adalah temanku.

 

Sudah kubilang, aku adalah seseorang yang bisa dianggap ‘Misterius’ terkesan pendiam dan penyendiri. Kepribadianku sangat tertutup dengan orang lain, bisa saja kepribadianku disebut ‘Kepribadian yang sangat dipertanyakan’. Banyak orang yang yang mendekatiku untuk mengetahui lebih tentangku. Namun, sayangnya aku lebih cerdas dari mereka, aku slalu saja menghindar, jadi intinya tak kuizinkan siapapun mengetahui tentang ku.

 

Sebenarnya, aku cukup dikenal banyak orang, karena aku memiliki intelegensi yang cukup tinggi. Sikapku yang sedikit arogan dan egois, mungkin. Aku juga tidak pernah berbaur dengan siapapun di universitas, ya disebut asosial? Ah~aku tak masalah dengan predikat itu. Aku memiliki sedikit masalah dalam hidupku, aku memiliki penyakit, ah~maksudku masalah sekaligus siksaan. Salah satu ginjalku diangkat karena sebuah kecelakaan. Kini aku hidup hanya dengan satu ginjal yang hampir rusak, haha mengerikan.

 

Seharusnya aku bersyukur, karena aku masih diperbolehkan untuk hidup di dunia ini. Tetapi, aku sama sekali tak ingin bersyukur, karena kecelakaan itu merenggut nyawa eomma-ku. Membuatku murka, mengapa tak sekalian saja aku MATI bersama eomma-KU?. Daripada membiarkan aku hidup tanpa seorang eomma. Sungguh Tuhan terkadang tak adil, memangnya eommaku pernah melakukan sesuatu yang membuat-NYA murka? Tidak! Jelas tidak, eomma-ku sangat baik, ramah. Kalau saja aku memiliki mesin waktu, aku akan menghapus hari itu, dimana aku ingin membeli lolly di kedai. Peristiwa yang merenggut eomma-ku.

 

Semua manusia di dunia ini memiliki jalan hidup masing-masing. Jalan hidupku begitu curam, extreme. Tragis sekali, bukan?. Tuhan membiarkanku tetap berada di jalan yang curam ini, membuatku mati secara perlahan, membiarkan siksaan bodoh ini menerpa hidupku. Menurutku, Tuhan itu terkadang tak adil.

 

 

Goresan demi goresan aku ciptakan di kanvasku. Mengekspresikan semua yang terngiang dalam otakku. Goresan-goresan itu tercipta, terus bergabung menjadi sebuah gambar yang membuatku puas. Angin sepoi-sepoi menemani kegiatanku kali ini, membuat rambutku ikut menari seiring alunan angin. Burung-burung pun turut bersenandung. Aku menghentikan kegiatanku, dan membaringkan diri di tengah hamparan ilalang.

“Hhmmm,,” ujarku sembari menghirup udara lepas. Aku memejamkan mataku, sekejap… menikmati semua keindahan alamku. Merasakan alunan-alunan nada yang tercipta dengan sendirinya.

 

Mataku membulat disaat aku merasakan derap langkah menujuku. Dan tangan itu meraih tanganku.

 

TAP…

TAP…

 

“Hey,” Sapanya. Mataku semakin membulat ketika aku sadari wajah namja itu sangat dekat denganku. Namja dengan perawakan sedang, berkulit putih, bersurai krem pekat dan jaket parasit yang ia kenakan.

 

“Yak! Apa yang kau lakukan, disini? Pergi sana!” Ujarku dengan mendorong tubuhnya hingga terlentang.

 

“Aww, sakit…” Aku menghiraukan semua gubrisannya, sudah kubilang aku ini EGOIS. Aku membereskan semua yang tadi aku bawa memasukkan semuanya kedalam tasku—termasuk hasil karyaku, lalu melenggang pergi.

 

“Yak! Jangan tinggalkan aku.. Tunggu..” Teriaknya. Suaranya yang begitu melengking, membuat telingaku sedikit sakit. Aku menutup telingaku dengan earphone kesayanganku.

 

Aku menoleh kebelakang, nampaknya dia masih mengikutiku. Ah~biarkan saja, aku tak peduli.

 

“Tunggu aku!” Dia masih mengikutiku, membuatku sedikit terusik akan keberadaannya. “Yak! Bisakah kau berbicara padaku!” Teriaknya tepat di telingaku.

 

“Hmm, waeyo?” Jawabku dingin.

 

Aigoo~bisakah kau tak sedingin itu?” Dia mempoutkan bibirnya kesal. Aku tak tertawa ataupun geli, malahan yang ada ingin sekali aku pergi jauh-jauh darinya.

 

“…”

 

“Hey, yeoja dingin..” Ujarnya lagi.

 

“Jangan sebut aku dengan sebutanmu,” ucapku dingin.

 

“Maka dari itu, sebutkan namamu..” Sekarang posisi tubuhnya tepat didpeanku, yang membuatku mau tak mau harus menjawab pertanyaan namja aneh ini, agar aku bisa berjalan.

 

“Memang apa urusanmu?. Awas!” Ujarku sembari melenggang pergi kembali.

 

“Ck, sombong sekali!”

 

“Hey, yeoja dingin nan sombong!“ Ujarnya kedua kali.

 

“Sudah kubilang, jangan sebut aku dengan sebutanmu!” Jawabku dingin.

 

“Okay, mianhae. Perkenalkan namaku Kim Taehyung,” Namja itu mengulurkan tangannya.

 

“Eum, Jung Yoojin-imnida,” jawabku singkat. Dia hanya tersenyum manis didepanku saat aku menyambut tangannya. Tunggu, manis? Ah~maksudku aneh, bagaimana tidak senyuman itu menampilkan deretan gigi, layaknya kuda.

 

“Bolehkah aku memanggilmu dengan embel-embel -ah?” Tanyanya sembari berlari kecil, dan mensejajarkan jalanku.

 

“Mm,” aku kembali berdehem kecil.

 

“Yoojin-ah..”

 

“Mm,”

 

“Sebentar lagi hujan, ayo kita kesana!” Tunjuk Taehyung ke sebuah halte yang sangat sepi. Dipinggirnya terdapat pohon yang sangat rindang, membuat suasana sedikit mencekam, mungkin?. Aku tidak menggubris titahnya, aku terus berjalan ke tengah hamparan ilalang.

 

“Yoojin-ah! Kajja!” Ajaknya dengan memegang tanganku.

 

“Hm,”

 

“Ayolah! Hujan sebentar lagi turun,” Titahnya.

 

“Haha, memangnya kau itu peramal, huh?”Aku hanya tertawa sinis, lalu melepaskan genggaman, lalu pergi.

 

Tetapi, alam tak berpihak padaku. Perlahan, rintik-rintik hujan mulai menetes, aku menengadahkan wajahku, merasakan lebih dalam rintikan hujan itu. Aku menyukai hujan.. Kubiarkan rintikan itu masuk kedalam mataku, menusuk retinaku. Benar, apa yang dikatakan Taehyung, rintikan hujan membasahi tubuhku. Pemandangan hujan itu membuat lengkungan di bibirku. Mataku membulat disaat kurasakan sesuatu melindungi aksiku. Aku kembali menengadahkan wajahku, melihat apa yang membuatku terlindung dari hujan.

 

“Tuh kan. Benar. Kau saja yang tidak percaya padaku. Ayo kita kesana,” kali ini aku tak menolak ajakan Taehyung, malah aku sambut dengan bahagia. Tunggu sebentar, bahagia? Argghh~maksudku biasa saja -_- . Pelindung itu adalah jaket Taehyung, dia merelakan jaket-nya hanya untuk melindungiku. Dia yang memiliki jaket itu, membiarkan hujan yang membasahinya.

 

“Taehyung-ssi,” Ujarku pelan.

 

“Mm,wae?”

 

“Kita pakai berdua, saja,” Jawabku dengan memegangi jaketnya juga, kini kami berdua-lah yang terlindungi. Melihat apa yang kulakukan, Taehyung hanya tersenyum padaku dan sedikit berlari agar tak lama kehujanan.

 

Aku mencoba untuk mengerti cara kau berbicara, senyummu

Kau yang sulit dipahami

 

  • ••

Canggung, itu yang sekarang kami rasakan. Entah, apa yang menaungi pikiranku. Tak biasanya aku bersikap seperti ini pada seorang namja.

“Yoojin-ah,” “Taehyung-ssi,” ucap kami bersamaan.

 

“Ahh Taehyung-ssi, gomawo.. Kau sudah mau membagi jaketmu padaku..” Ucapku sembari melengkungkan wajahku, entah darahku seperti berhenti mengalir, saat melihat mata sipitnya yang begitu menawan.

 

Cheonmayo.. Yoojin-ah..” Ujarnya singkat. “Jin-ah?”

 

“Mm?”

“Bisakah kau memanggilku dengan embel-embel -ah? Aku merasa tidak enak dengan embel-embel -ssi, terlalu formal,” katanya sembari menggaruk tengkuknya.

 

“Mm. Taehyung-ah… Seperti itu?” Taehyung hanya mengangguk pelan. Taehyung merogoh sesuatu yang ada di dalam tasnya, ya mantel.

 

Dingin yang kurasa saat ini, karena tadi terlalu lama berdiam di tengah hujan. Badanku menggigil, bibirku pucat pasi, jangan tanya bagaimana keadaanku sekarang.

 

“Untukmu.. ” Taehyung memberi-ku mantel yang tadi ia bawa dari tas-nya.

 

“Haha, tak usah.. Itu untukmu saja,” kataku pelan.

 

Ani.. Ini untukmu. Aku? Tak usah khawatir, aku punya dua..” Seakan ada ikatan magnet, bibirku terangkat, mataku menyipit. Tak sadar, aku memberikan senyuman yang sudah lama kurahasiakan.

 

“Nah, begitu.. Kau akan semakin cantik, jika kau tersenyum. Aku suka itu!” Pujian Taehyung membuatku tersadar, bahwa sedari tadi aku tersenyum padanya. Pipiku pun ikut bersemu seiring kata-kata yang dilontarkan Taehyung.

 

Mwoo? Lihat pipi kau seperti kepiting rebus.. Ahh, ani.. Tepatnya, Yoojin rebus.. HAHAHA,” Taehyung tertawa puas, melihat rona pipiku terpampang jelas.

 

“Kyyyaaa! TAEHYUNG-AH HENTIKAN!!” Ujarku dengan memukul lengan Taehyung pelan. Bukannya, Taehyung meminta maaf padaku, tetapi ia malah semakin mengejekku, yang sontak membuatku naik pitam.

 

“Ya—!!!” Teriakanku terhenti, saat Taehyung berhenti tertawa dan menyandarkan kepalanya tepat di bahuku. Aku sempat menjauh, tetapi kata-kata Taehyung membuatku beku.

 

“Tolong sebentar saja.. Aku kedinginan.. Bolehkah kau memelukku?” Ujarnya terang-terangan. Entah, kapan dan mengapa bibirku mengatakan ‘YA’. Aku memeluk Taehyung erat, Taehyung juga membalas pelukanku. Taehyung tertidur didekapanku. Entah karena apa aku tak bisa menolak permintaannya. Kubiarkan Taehyung tidur dalam pelukanku.

 

“Sudah sedikit hangat?” Kataku pelan. Yang membuat Taehyung terbangun dan mensejajarkan tatapanku

 

DEG

 

Wajah kami sangat dekat. Aku melemparkan tatapanku ke arah lain. Dan membalikkan kepalaku ke arah lain. Tetapi, tangan Taehyung memegang daguku, membuatku tak bisa bergerak. Terlebih, tangannya masih melingkar di pinggangku.

 

“Sudah.. Gomapta…”

 

“Gomapta? Untuk apa?”

 

“Karena kau mau memelukku,”Cakap Taehyung dengan menatapku lekat, menembus ke kedalaman selaput jala kedua mataku, seperti menyelinap, mengorek-ngorek sesuatu lebih dalam.

 

Cheonnma..” Taehyung kembali memelukku, kini pelukannya lebih erat dari yang pertama  “Eummm, Taehyung-ah~” tanyaku ragu. “Waeyo?” “Aku tak bisa bernafas, kau memelukku terlalu erat..” Ucapku dengan melonggarkan pelukanku. “Ah~mianhae,” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya pelan.

 

“Lehermu gatal, huh?!”

 

“Aaa…ani..” Taehyung terlihat gugup saat aku menatapnya tepat di retinanya.

 

Perasaan canggung menyelimuti kami untuk kesekian kalinya.

 

Hari sudah semakin gelap, rintikan hujan pun kini sudah mereda. Hanya saja meninggalkan jejak-jejak kelabu di langit. Tak terasa aku menghabiskan waktuku dengan Taehyung, teman baruku.

 

“Taehyung-ah, sepertinya aku harus segera pulang.. Sudah hampir malam, lagipula hujannya pun sudah reda. Kebetulan itu bis-nya sudah datang,” Cakapku dengan sedikit ragu.

“Ohhh, ya.. Hati-hati, ne?”

 

“Cha, mantelmu.. Gomapta..” Aku melepaskan mantel yang sedari tadi membalut diriku.

 

“Ahh, tak usah khawatir.. Besok saja kau kembalikan.. Besok kau akan datang kesini lagi, huh?!” Aku hanya mengangguk.

 

“Aku akan kesini lagi, jadi kau bisa memakainya sampai rumah..”

 

“Jinjja?”

 

”Ne,”

 

“Gomawoyeo~.. Ppaii,” ucapku sembari menaiki bis yang sudah menunggu. Aku melihat wajah Taehyung dari jendela, aku melambaikan tanganku.

“Ppaii,”

 

Taehyung mengingatkanku dengan seseorang yang sama seperti dalam masa laluku. Sayangnya, aku tak mengetahui namanya. Dia yang membuatku sedikit merasakan artinya kebahagiaan meskipun hanya sehari. Membantuku untuk melupakan semua yang membuatku menangis saat itu.

 

Namja itu memberikan sebuah boneka stitch kecil padaku, sebagai tanda pengenal, mungkin?. Sampai sekarangpun boneka itu masih ada. Wajah, aroma dan senyuman itupun masih tertinggal di pikiranku. Masih terlihat jelas di benakku. Sama seperti Taehyung, yang baru aku kenal… Jika itu memang benar, aku akan berterima kasih kepadanya, karena secara tidak langsung dia sedikit merubah hidupku.

 

Kau tahu? Mengapa aku slalu menghabiskan waktuku disini?. Aku merindukan sosok itu, merindukan sesosok namja penyemangat hidupku. Kami berteman tak lama, hanya satu hari. Aku menunggu sosok itu kembali, sampai sekarang… Meskipun entah sampai kapan.

 

Aku menagih janji namja itu.

“Aku akan kembali lagi.. Entah esok atau kapan.. Yang pasti aku akan kembali.. Jangan merindukanku, eoh? Dan jangan menangis lagi.. Ppai!! Pakai sapu tangan itu, jika flu menyerangmu! Kuberikan boneka-ku untukmu jika suatu saat kau merindukanku~”

Janji itu yang membuatku terus menunggu disini..  Menghabiskan waktuku disini.. Tetapi, sayangnya dia tak disini..

 

FLASHBACK off

 

¤¤¤

 

Aku merindukanmu

 

Perlahan namun pasti, satu per satu kepingan itu mulai menyatu kembali. Membuat hatiku semakin penasaran untuk menyatukan kembali semua yang pernah tertinggal disini. Aku bersyukur memiliki teman seperti Taehyung, memiliki namjachingu seperti Taehyung meskipun hanya satu hari, sebelum kepergiannya. Aku mengerti, mengapa ia tak memberitahu penyakitnya.. Mungkin, ia takut jika aku takkan bisa menjalani hidup seperti biasanya..

 

Aku tahu, pantas saja kau slalu memakai jaket, atau tidak? membawa 2 mantel sekaligus..

Wajahmu yang terkadang pucat, memakai syal meskipun musim panas.. Terkadang lesu dan mudah lelah..

Selalu mimisan dan deretan gigi yang terkadang berdarah..

Selalu terlambat jika kita berdua berjanji bertemu di suatu tempat..

Aku mengerti sekarang, Taehyung-ah~

Terima Kasih…

Terima Kasih Banyak…

 

  • ••

Saat itu ketika kita berjalan bersama-sama

Kenangan & perasaan yang membuatnya begitu

¤¤¤

 

FLASHBACK again

 

July 2014, 12th

 

Kenangan & perasaan yang membuatnya begitu

 

Cahaya matahari yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi. Menunggu kedatangan seseorang yang entah akan datang atau tidak. Ya, aku membuat janji bersama Taehyung untuk bertemu dan bermain kembali di hamparan ilalang ini.

 

Sudah 30 menit aku menunggu Taehyung di halte. Hari ini aku hanya membawa buku gambar, pensil dan tas kecil. Tak lupa earphone kutanggalkan di leher mulusku. Di tanganku ini sudah bertengger manis, mantel milik Taehyung yang biasa aku pakai beberapa hari ini.

 

Baru kali ini, aku mempercayai seseorang. Dan baru kali ini, aku memiliki teman lagi, semenjak kepergian namja itu. Ya, sudah kubilang aku ini Asosial. Dia membuatku sedikit nyaman saat berada di dekatnya. Membuatku bisa tersenyum kembali.

 

Apakah aku mulai menyukainya?

Menyukainya sejak pandangan pertama?

Entah, hanya Tuhanlah yang mengetahui apa yang sebenarnya aku rasakan…

 

“Yoojin-ah!!!” Teriak seseorang dari ujung jalan sana menuju hamparan ilalang. Aku menyipitkan mataku, untuk melihat lebih jelas lagi, siapa orang itu.

 

“Yoojin-ah!!!” Teriaknya untuk kedua kalinya. Tubuhnya yang terlapisi mantel membuatku mengenal siapa orang itu. Dia, Taehyung. Seseorang yang kutunggu.

 

“Hey, Taehyung-ah!!“ Jawabku sembari berlari kecil ke arah Taehyung, entah mengapa tanganku bergerak untuk memeluk tubuh mungil Taehyung. Taehyung yang mendapati aku berbuat itu, membelalakkan mata.

 

“Kau kemana saja, Taehyung… Aku menunggumu sedari tadi…” Ujarku yang masih dalam keadaan memeluknya.

 

“Ohh, maafkan aku.. Tadi aku mengantar adikku ke kursusnya.. Mianhae,” Tak kusangka, Taehyung membalas pelukanku tak kalah erat. Entah, aku mulai merasa ketakutan akan kehilangannya. Apa aku salah?

 

“Ah~kebiasaan slalu menyalahkan jadwal kursus adikmu, jika terlambat,” keluhku pada Taehyung.

 

“Jadi, mau bermain?” Aku melonggarkan pelukanku dan menatap Taehyung. “Waeyo,” lanjutnya.

 

“Sebentar, kenapa aku memelukmu?” Tanyaku heran.

 

“Hah? Molla!” Jawabnya yang semakin mengeratkan pelukannya dan mengeluarkan smirk evil-nya. Membuat tubuhku semakin menempel pada tubuhnya. Oh my god~

 

“Yak! Lepaskan Taehyung-ah! Aku tak bisa bernafas,” Aku mendorong jauh tubuh Taehyung dari hadapanku. Tubuh Taehyung tersungkur ke tanah. Dia tak sadarkan diri?? Yak! Taehyung jangan macam-macam!!

“Taehyung?”

 

“Taehyung?! Bangun-bangun! Ayo, kita bermain!” Ucapku yang mulai sedikit khawatir dengan keadaan Taehyung yang tidak mau bangun-bangun.

 

“Taehyung! Jangan membuatku khawatir!! Cepat bangun!” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya sedikit kencang, aku khawatir.. Benar-benar khawatir..

 

“Bow!” Teriak Taehyung tepat di telingaku yang sontak membuatku membelalakkan mataku.

 

“KYAA!! Ternyata kau membohongiku, hah?! KYAA!! Kau membuatku khawatir saja!” Jawabku dengan memukul dada Taehyung pelan.

 

“Yak! Jung Yoojin! Itu menyakitkan!” Ia menangkis tanganku dan menarik tubuhku. Sehingga, tubuhku ikut jatuh di pelukan namja pabo ini.

 

“Yak! Lepaskan!! Ppabo-ya!” Ujarku dengan sedikit berteriak di telinga namja ini.

 

“Ya-iya-iya..” Jawabnya dengan melepaskan pelukannya di pinggangku.

Aku pun mengganti posisi-ku, duduk di samping tubuh Taehyung.

“Jin-ah?”

 

“Mm,”

 

“Mengapa kau suka sekali berdiam disini, huh? Tak adakah tempat lain untuk bermain?” Tanya Taehyung yang aku jawab hanya dengan hembusan nafas kasar.

 

“Apa alasanmu?” Tanya Taehyung untuk kedua kalinya, mengapa ia begitu berambisi mengetahui jawabanku? Terlalu sakit untuk mengingat itu semua. Rasanya, semua memori mengenai eomma-ku kembali terkumpul, sedangkan aku sudah mengubur dalam-dalam memori itu.

 

“Kau tahu? Sebenarnya, aku berdiam disini hanya mencapai satu tujuanku yang telah aku jalani selama 8 tahun lamanya,”

 

“Tujuan? Apa tujuanmu?” Sudah pasti kutebak, pertanyaan yang akan dilontarkan oleh bibir namja ini. Tujuanku, apa tujuanku sebenarnya? Hanya orang bodoh saja yang slalu menghabiskan waktunya di hamparan ilalang yang kosong ini. Berdiam, melukis dan menatap langit itu adalah kegiatan sehari-hari ku setelah sekolah. Setelah pulang sekolah, aku memang sering kesini, alhasil banyak orang yang menganggapku sebagai seseorang yang misterius. Appa-ku memang pernah melarang-ku untuk slalu ada disini, tetapi aku memohon hanya inilah yang membuatku sedikit tenang, mengingat aku hanya memilki satu ginjal, terlebih ginjalku yang satu ini sudah hampir rusak. Mungkin hidupku hanya beberapa bulan lagi..

 

“Tujuanku? Waiting for someone,” Jawabku dingin.

 

“Hwaiting? Nuguya, jin-ah?”

 

“Molla, aku tak mengetahui namja itu. Jika saja, waktu bisa diputar kembali.. Aku akan menanyakan siapa nama namja itu? Lagipula, aku hanya kenal namja itu dan berteman sehari saja. Ingin sekali aku bisa bersamanya lebih lama. Banyak hal yang ingin aku bagi dengannya. Dia-lah yang membangkitkan-ku dari keterpurukan masa lalu-ku…hikss..hikkss.. Pada saat itu, aku menangis karena mengetahui eomma-ku meninggal karena kecelakaan yang aku alami bersamanya. Syukur memang, aku masih bisa menghirup udara. Tetapi, semua itu hampa.. Tanpa kehadiran eomma-ku. Saat aku benar-benar pulih ternyata, aku mengetahui bahwa aku hanya memilki satu ginjal, terlebih ginjalku sekarang hampir rusak.. Hiksss…hikss.. Semua itu membuatku stress.. Sampai-sampai dia datang dan membangkitkanku dari kerterpurukan…” Aku menyandarkan kepalaku di bahu Taehyung seiring dengan serbuan buliran-buliran kristal menyerbu pipi-ku. Taehyung hanya bisa tersenyum pahit mendengar pernyataan-ku.

 

Bahu-ku semakin bergetar. Taehyung segera memelukku. Seolah memberiku energi sejenak atau membantuku meluapkan rasa sedihku yang terpendam. Kini bahuku semakin terasa bergetar hebat. Dan suara isak tangisku pun terdengar. Memori mengenai kecelakaan itu kembali menyapa hidupku. Jika memori itu terus berkeliaran, perasaan bersalah itu pun kembali muncul.

 

“Menangislah.. Jika itu membuatmu lebih baik… ” Ujarnya yang semakin erat memelukku, membiarkan jaketnya basah seiring buliran-buliran yang mengalir tanpa ampun. Aku begitu merasakan hangatnya pelukan seorang namja. Rasanya begitu hangat bak berselimut di tengah cuaca yang sangat dingin.

 

“Jin-ah..”

 

“M..ww..oo?” Jawabku terbata-bata diselingi isakan tangis. Aku mengeluarkan boneka sticth kecil yang slalu menemani-ku, jika aku mengingat namja itu. Ada perasaan tenang menyelimutiku disaat aku memegang boneka kecil ini, hatiku begitu sejuk.

 

“Chakkamannayo, boneka itu?” Tanyanya heran. Seperti mengingat-ngingat benda yang ada disampingku ini. Memangnya ada yang salah dengan boneka stitch ini?. Kurasa tidak.

 

“Hyung-ah? Kau kenapa?” Tanyaku sembari melambai-lambaikan telapak tanganku tepat di depan wajahnya.

 

“Itu.. Boneka stitch milik kamu, jin?” Taehyung menunjuk boneka yang sedari tadi kugenggam.

 

“Ne, memangnya kenapa? Ada yang salah dengan boneka stitch-ku?”

 

“Hmm… boleh aku lihat sebentar?”

 

“Tentu!” Aku menyerahkan boneka-ku kepada Taehyung. “Memangnya kenapa dengan boneka-ku? jangan bilang kau menyukai boneka juga sama seperti yeoja? Aishh, ternyata seorang Taehyung seperti banci,” lanjutku. Taehyung terdiam sambil memperhatikan boneka stitch-ku. Dan dia membuka sebuah kain tersembunyi, yang hanya aku dan namja masa lalu-ku yang mengetahui. Kain itu berisikan kata-kata penyemangat. Yang membuatku merasakan kehadiran namja itu dalam hidupku, meskipun aku tak pernah bertemu lagi dengannya. Sebentar, mengapa Taehyung mengetahui kain rahasia itu? Jangan katakan, namja yang kutunggu itu… Ah~tidak mungkin.

 

“Tak kusangka, kau masih menyimpan boneka jelek ini… ” gumam Taehyung, tanpa menatapku. Sebentar…? Apa yang dia ucapkan? BONEKA JELEK?

 

“Yak! Kau sebut boneka itu jelek, huh?!” Aku tak terima jika boneka kesayanganku, dihina seperti itu. Sama saja Taehyung menghina pemberian namja penyemangatku.

 

“Mm, iya~” kekehnya yang membuatku mengembungkan pipiku kesal.

 

“Jin-ah… janganlah marah…” Godanya seraya menggoyang-goyangkan lenganku manja.

 

“Okay, aku salah. Maafkan aku, jaebal,”

 

“Hmm, ye,” jawabku dingin.

 

“Ha! Chim. Ha! Chim.” Flu-ku kambuh lagi. Segera kukeluarkan secarik kain— lebih tepatnya sebuah sapu tangan—pemberian namja manis itu.

 

“Kau masih menyimpan sapu tangan jelekmu, itu?” Aku hanya menjawab dengan kembungan pipi chubby-ku.

 

“Jin-ah? Apakah kau masih merindukan namja itu?”

 

“Mm, sangat merindunya~”

 

“Kau mendapatkannya!”

 

“Mendapatkan? Maksudmu?”

 

“Namja itu sebenarnya ada disampingmu, sekarang,” Senyum yang indah itu merekah manis di bibir Taehyung. Akhirnya, aku tahu namja itu. Eittss, namja itu? Namja masa-laluku adalah Taehyung, Kim Taehyung?

 

“Maksudmu?” Aku masih tidak percaya dengan pernyataan Taehyung yang baru saja ia lontarkan.

 

“Sini, kuceritakan sebuah cerita yang menurutku bagus… Kemarilah~” Tangan Taehyung menarik paksa lenganku untuk berada di dekatnya. Kini tangan kiri-nya memeluk pinggangku dan tangan kanan-nya mengelus punggung tanganku.

 

“Hey, jawab dahulu pertanyaan-ku, baru kau bercerita,” sergahku.

“Eitts, melalui cerita ini, kau akan mengetahui jawaban itu,”

 

“Cerita? Ya sudah, cepat ceritakan! Awas jika ceritamu itu boring,” Ujarku dengan memukul lengan kiri Taehyung yang terlalu erat memeluk pinggangku.

 

—Author POV—

 

FLASHBACK

Suatu hari, ada seorang gadis kecil berusia 10 tahun berdiam di taman ilalang ini. Wajahnya sangatlah kusut. Kau tahu? Jika dilihat-lihat wajah itu sama seperti monster. Monster yang sangat mengerikan.

 

Dan disaat yang bersamaan, ada seorang lelaki kecil berusia 11 tahun berlari-lari disekitar area ini. Dia melihat gadis itu berteriak

“Aku benci Tuhan!, mengapa takdir ada ditanganmu?” Lelaki kecil itu mengernyitkan dahinya kecil, ia tak mengerti dengan semua kata-kata yang terlontar dari bibir gadis itu. Dengan beraninya, lelaki itu menghampiri gadis kecil itu dengan ceria.

 

“Hei, siapa namamu? Mengapa kau berdiam disini?” Sapa lelaki kecil itu.

Meskipun lelaki itu menyapanya dengan lembut, tetap saja gadis itu tak menggubrisnya, ia masih kukuh dengan posisinya, menelungkupkan kepalanya di kedua lututnya. Hanya terdengar suara tangisan parau dari gadis itu.

 

Lelaki itu tak habis akal, ia menyeimbangkan posisi-nya dengan gadis itu. Duduk, tepat disampingnya mengusap-usap kepala gadis itu selembut sutera.

 

“Uljima… tenanglah aku ada disampingmu,” Ucap lelaki itu dengan lembut.

 

Sepertinya usaha anak lelaki itu berhasil, lihat saja gadis itu menengadahkan kepalanya dan mulai mengucapkan sepatah kata.

 

“Kau siapa?” Ucap gadis itu parau.

 

“Kau tak perlu mengetahui namaku,”

 

“Waeyo?”

 

“Ah, abaikan saja. Nih, kuberikan bonekaku untukmu—” Belum juga anak lelaki itu menyelesaikan cakapnya, gadis itu hampir merebut paksa boneka stitch kecil itu.

 

“—eitts. Karena ini boneka kesayanganku, maka akan kuberikan. Jika kau menepati janji kita berdua. Setuju?” Ajak anak lelaki itu. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum manis di depan anak lelaki itu.

 

“Ah, apapun juga boleh~. Yang terpenting aku bisa memilki boneka itu, sebagai sahabatku,” batin gadis kecil itu.

 

“Kau harus kuat, tegar dan satu lagi~jangan jadi gadis yang cengeng. Kau tahu? Wajahmu itu sangat buruk, ketika lelehan bening itu keluar dari hidungmu. Iywh~” Gadis itu memukul lengan lelaki kecil itu pelan dan mengembungkan pipinya kesal.

 

“Hanya itu?” Balas gadis kecil.

 

“Tidak juga,”

 

“Lalu apa lagi?”

 

“Kau harus mau menjadi sahabatku sekarang dan selamanya. Janji?” Lelaki kecil itu mengacungkan kelingkingnya seolah ada ikatan magnet, gadis kecil itupun mengikuti,dan mengaitkan jari kelingkingnya.

 

“Janji!” Jawab gadis itu dengan penuh semangat.

 

“Nih, kutepati janjiku. Kuberikan bonekaku sekaligus sapu tangaku, agar bisa mengahpus lelehan bening hidunmu. Dan kau bisa memiliki sepenuhnya. Emm, jangan lupa kau rawat boneka itu, ya?” Lelaki kecil itupun menyodorkan bonekanya disambut dengan mata sipit gadis itu.

Betapa bahagianya hati gadis kecil itu. Sangat bahagia.

 

“Sini, kutuliskan beberapa kata-kata penyemangat untukmu~” Gadis itu menuruti langkah lelaki itu. Melihat beberapa kata mungil nan lucu tersurat di kain yang tersembunyi itu. Dan diakhiri dengan tulisan ‘Seoul, end of June. Tn. Kim’.

 

“Gomawoyeo~” gadis itu mengeluarkan suara lembutnya. Lelaki kecil itu hanya tersenyum manis melihat wajah bahagia yang tersirat. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita paruh baya mencari-cari anaknya.

“Jagiya! Dimana kau?”

 

“Oh, nampaknya aku harus pergi. Ibuku telah memanggil-manggilku,” keluh lelaki kecil itu. Wajah gadis kecil itu yang semula bahagia terlihat kecewa, sangat kecewa.

 

“Kau mau kemana?” Kini buliran-buliran kristal bening mulai kembali meruntuhkan benteng pertahanan gadis kecil itu. Suara paraunya kembali terdengar.

 

“Aku harus pulang. Maafkan aku,” Lelaki kecil itu mulai bangkit dari duduknya. Tetapi, tangan gadis itu mencegahnya, mengisyaratkan ‘Jangan pergi. Aku membutuhkanmu’.

 

“Jangan takut. Aku akan kembali lagi.. Entah esok atau kapan.. Yang pasti aku akan kembali.. Jangan merindukanku, eoh? Dan jangan menangis lagi.. Ppai!! Pakai sapu tangan itu, jika flu menyerangmu! Kuberikan boneka-ku untukmu jika suatu saat kau merindukanku~” Lelaki kecil itu melenggang pergi, meninggalkan gadis itu seorang diri. Akhir yang menyedihkan.

 

FLASHBACK off

 

Back to Yoojin POV

 

“Selesai~” Tutup Taehyung dengan senyuman manisnya.

 

“Darimana kau mengetahui semua jalan cerita itu?” Heranku. Akankah Taehyung itu adalah seorang mata-mata? Mengetahui percis jalan hidupku di masa lalu.

 

“Sudahkah kau mengetahui jawabannya?” Tanya Taehyung. Aku kembali memikirkan semua alur cerita yang diceritakan Taehyung. Apa jangan-jangan——

 

“A-pa kau ada-lah ora–ng–nya?” Ucapku terbata-bata. Seakan tak percaya dengan semua realita yang diceritakan Taehyung.

 

“Ye,” jawabnya singkat.

Mengetahui jawaban Taehyung seperti itu, dengan refleks aku langsung memeluk Taehyung erat. Lalu menangis sejadi-jadi di dada bidangnya.

“Yak! Mengapa kau baru memberitahuku bahwa kau orangnya?” Ujarku sembari tangisan bahagia yang mengalir.

 

“Lagipula, aku tak mengetahui~bahwa gadis ingusan itu akan menjelma menjadi yeoja yang cantik seperti ini,” Candanya, membuatku semakin ingin tertawa di pelukannya.

 

“Yak! Disaat-saat seperti ini, kau masih bisa merayu. Dasar gombal!” Aku memukul pelan dada Taehyung pelan.

 

“Yaya. Bisakah kau memelankan pukulanmu padaku. Itu menyakitkan, Jung Yoojin,”

 

Akhirnya penantianku selama ini, tidak sia-sia. Namja yang kutunggu selama ini, adalah seseorang yang ada disampingku saat ini. Aku sangat bersyukur, Taehyung kembali dalam jalur kehidupanku. Memberikan warna kembali.

“Jin-ah,” Cakap Taehyung.

 

“Hmm,”

 

“Maukah kau berjanji suatu hal padaku?” Aku melonggarkan pelukanku dan menatap manik coklat milik namja berambut krem itu.

 

“Berjanji apa?”

 

“Berjanji untuk slalu berada disampingku, takkan pernah saling meninggalkan satu sama lain dan berjanji untuk merubah sikapmu menjadi lebih periang, dalam arti kita bersahabat sekarang dan selamanya, arra?” Ujarnya panjang lebar sembari menyerahkan jari kelingkingnya kepadaku.

 

“Arra,” Aku mengaitkan jari kelingkingku juga kepadanya. Ya tanda janji untuk bersahabat bersamanya.

 

“Gomawo…” Taehyung kembali memelukku, akhirnya 9 tahun penantianku menunggunya tak sia-sia. Dia kembali menghiasi kanvas kehidupanku, memberikan goresan-goresan warna padaku. Kini, tak hanya hitam putih yang ada dalam kanvasku melainkan warna-warni kehidupan yang begitu berarti dalam hidupku.

 

——SKIP——

 

¤¤¤

July 2014, 29th

Pada saat itu aku mulai menyerupaimu

 

Matahari pagi membuatku terbangun dari dunia mimpi yang indah. Aku membuka jendela yang sedikit serat engselnya, mencari celah udara dari ruanganku yang ‘pengap’ ini. Ruanganku begitu penuh dengan lukisan hasil karyaku dan banyak photo-photo ku bersama Taehyung terpajang di dindingku. Memang semenjak namja itu datang kembali ke hidupku, kanvas yang Tuhan berikan sedikit berwarna. Semua tentangnya tersimpan rapi di kamarku, ya anggap saja bahwa kamarku adalah museum kenangan kami.

 

Aku menerawang menatap awan di atas sana. Sekumpulan awan begitu ringan beterbangan di pelataran langit, saling buru memburu dengan kerelaan. Ingin sekali hidupku seperti mereka, bebas tanpa paksaan sedikitpun. Tanpa beban hidup yang harus kutanggung seumur hidup.

 

Ya, kau tahu hidupku takkan lama lagi. Ginjalku kini sudah hampir rusak, hanya suatu keajaiban-lah yang membuatku terbebas dari yaa, semacam ‘siksaan’ ini. Mengapa orang seperti-ku yang tak memiliki salah besar terhadap orang lain, harus menanggung masalah seberat ini? Sedangkan, mereka para perampok, pencuri… Seseorang yang jelas merugikan banyak pihak. Mereka tak pernah diberi suatu masalah yang berat, mereka hanya memiliki masalah ekonomi, saja. Berbeda jauh denganku. Terkadang, aku slalu menyalahkan Tuhan akan kehendaknya. Entah meskipun aku terus mencoba tak menyalahkan Tuhan, tetapi rasanya sulit sekali untuk membuang perasaan itu.

 

“Chagi-ya~, diluar ada temanmu,” suara oppa membuyarkan semua lamunan pagiku ini. Ya, aku punya oppa, hanya punya oppa tak punya eonie atau saeng.. Oppa-ku yang bernama Jung Hoseok. Oppa yang lebih tua 2 tahun dariku, sangat menyayangiku. Tetapi, ia terlalu disibukkan oleh bisnis yang ia jalani.

 

Padahal, aku ingin sekali lebih jauh menerawang hati nurani-ku mencari secuil kepercayaan bahwa Tuhan itu adil.

 

“Nuguya, oppa?” Teriakku yang masih setia berdiam di jendela rumahku.

 

“Itu namja bawel yang sering kau ajak ke rumah. Namanya kalau gak salah Lim Taehyun—” cakap oppa. Memang, semenjak hari pertemuan itu. Kami jadi semakin dekat, terlebih aku sering mengajaknya ke rumahku hanya sekadar nonton dvd drakor yang kusukai atau belajar bersama. Karena sekarang, aku dan Taehyung satu sekolah, lalu rumahnya pun hanya beda 2 blok dari rumahku. Aku pun sering mengunjungi rumah Taehyung. Ny. Kim dan Tn. Kim sudah mengetahui-ku. Entah, mereka berdua seperti mendukung hubungan kami lebih dari sekedar teman atau tetangga. Aku sempat heran dengan apa yang diucapkan oppa-ku. Lim Taehyun? Ahh~oppa masa saja lupa dengan nama namja itu.. “LIM TAEHYUN? KIM TAEHYUNG, OPPA!”

 

“Nah, itu.. Oppa lupa.. Ah~sudahlah Cepat temui temanmu yang sedikit bawel ini, oppa sudah tidak kuat, dia terus mengoceh yang tidak jelas… Ah~entah oppa sudah cape meladeni anak alien ini..”

 

“Yak! Yoojin-ah.. Jangan percaya dengan ucapan oppa-mu..” Teriak seorang namja, yang tak lain Taehyung yang sudah berdiri tepat di bawah jendela rumahku.

 

“Yak! Sejak kapan kau ada disana, huh?!” Sergapku dengan penuh kebahagiaan dan kebingungan tentunya.

 

“Aku? Sejak tadi.. Sejak kau membuka jendelamu.. Hehe,” kekehnya yang sontak kubalas tatapan sinis..

 

“Aisshh~Matamu itu…. Sudah, kajja kita pergi jogging dan ke Taman Sakura sekaligus, mumpung lagi gratis..” Ujarnya. Aku membalasnya dengan sebuah senyum yang menyeramkan. Melihat tingkah laku-ku, Taehyung hanya berdecik kesal.

 

“Sebentar.. Aku mandi dulu, ne? Ppaii.. Nikmati penungguanmu Tuan.Kim,” ujarku dengan melenggang pergi meninggalkan jendela dan mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.

 

**

“Ahh~selesai… Kajja, Taehyung!” Ajakku sembari menarik tangannya.

 

“Sudah?” Cakapnya singkat.

 

“Apa kau buta, huh?! Aku disini, ya pasti sudah selesai dengan mandiku. Kajja!” Ajakku untuk kedua kalinya. Taehyung hanya bisa pasrah saat aku menarik tangannya dan memaksa Taehyung untuk mengikutiku berjalan.

 

“Annyeong, oppa~” ucapku sebelum pergi meninggalkan rumah.

 

“Annyeong, hyung~” ujar Taehyung yang dijawab dengan delikan mata bulat Hoseok Oppa. “Jaga dia baik-baik, alien. Kalau sampai ada apa-apa… Yang kupastikan hanya tertinggal nama..” Kecam Hoseok oppa.

 

“Ne, hyung~ masa saja aku akan membiarkan nona Jung yang cantik ini?”

 

—Fin—

 

A/n : bhhhhaaaqqq! Pasti kalian aneh yaa sama akhirnya? Tenang, aja ini belum akhir kooqq, kan namanya juga twoshot /yaelah thor, gue juga tau/. Sebenernya feel sadnya banyak di #2, penasaran gak, sama kelanjutannya? Makanya pantengin terus karya Mega selanjutnya. Tunggu di episode dua. LEAVE COMMENT, JUSEYOO! Plus MIND TO REVIEW?

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Gone – Twoshot#1

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s