[BTS FF FREELANCE] Salah Paham (Sequel ‘Adu Panco’) – Pt.1

Poster FF

[BTS FF FREELANCE] Salah Paham (Sequel ‘Adu Panco’) – Pt.1

 

Salah Paham

Jeon Jung Kook (BTS’s Jungkook), Sung Rae Ah (OC), Jungkook’s parents and BunBun (Jungkook’s pet) | School life, Comedy, Family | PG-15 | Chaptered

Annyeonghaseyo~ Orenmanieyo~^^ *aegyo*
Lama tak berjumpa(?), readers! Pasti banyak yang kangen ff abal-abal bikinan author Amara17 kan? 😀 *amit-amit* (huhuhuuu jahat -.-)
Anyway, ini adalah sequel dari ff author sebelumnya Adu Panco. Kalian bisa buka linknya sebelum baca yang ini :3

Adu Panco

Yah, nama authornya disana JINjja kan? Itu sebelum author bikin akun wordpress dan pas mau bikin dengan nama itu, ternyata udah ada yang pake. Makanya nama authornya beda, tapi orangnya tetap sama kok^^

Dan ingat, ff dan OC ini adalah asli, murni, original dari otak author yang rada sableng(?) ini.
Anggap saja ini adalah lanjutan dari kisah gila seorang Jeon Jung Kook yang sangat hobi author nistai :v *plaaaakk!!*

Ayo lihat bagaimana author menistai si Bunny ini :v

CHECK THIS OUT!!

3 jam setelah adu panco itu…

“Jeon Jung Kook.”

Jungkook langsung berdiri dari kursinya setelah pak Yoon menyebut namanya. Lalu Jungkook berjalan menuju ke depan kelas.

“Nilai yang sempurna. Pertahankan ya?” ucap pak Yoon sambal tersenyum bagai malaikat dan menyerahkan selembar kertas pada anak muridnya itu. Jungkook juga membalas senyumannya dan mengangguk.

“Baik, pak guru!” sahut Jungkook senang, kemudian dia kembali ke tempat duduknya dengan perasaan yang ringan.

Pak Yoon kembali melanjutkan membagikan hasil ulangan harian Fisika pada murid-muridnya mengikuti urutan absen kelas.

Jungkook melirik ke arah Rae Ah yang duduk di sampingnya. Gadis itu melamun. Sesekali dia memainkan pensilnya.

Jungkook sebenarnya sadar dengan apa yang dia lakukan itu tidak benar. Menang dengan cara yang licik seperti itu. Dan tampaknya Rae Ah marah padanya. Apalagi baru kali ini dia mencium dahi seorang gadis. Selama Jungkook hidup, dia hanya dekat dengan ibu dan neneknya.

Tapi Jungkook berani bersumpah, dia tidak ada maksud apa-apa pada Rae Ah. Gerakan itu hanya reflex dia lakukan. Apa karena tuntutan gengsi sebab dia adalah laki-laki? Entahlah.

“Sung Rae Ah.” Panggil pak Yoon.

Jungkook kembali menoleh ke arah Rae Ah yang masih melamun.

“Sung Rae Ah!” ulang pak Yoon.

“Hei! Ekor kuda! Pak Yoon memanggilmu, tuh!” bisik Jungkook sambil menoel-noel lengan Rae Ah.

Rae Ah terkejut dan langsung berteriak.

“WAAAA!!!”

Jungkook dan orang-orang yang mengisi kelas 1-3 juga terlonjak kaget karena mendengar jeritan Rae Ah.

“Hei, Sung Rae Ah! Bapak panggil dari tadi kau tidak menyahut lalu tiba-tiba kau berteriak. Ada apa denganmu?!” tanya pak Yoon marah.

Rae Ah tampak gelagapan.

“Ma-ma-maaf… pak guru…” jawabnya singkat.

“Ya sudah. Cepat ambil hasil ulanganmu ini.” Suruh pak Yoon.

Dengan ragu Rae Ah melangkahkan kakinya menuju meja guru yang ada di depan kelas.

Pak Yoon menggelengkan kepalanya sambil berdecak kecewa.

Kenapa perasaanku tidak enak ya?, batin Rae Ah.

Rae Ah menerima kertas ulangan FIsika yang dia kerjakan tadi.

Dan saat Rae Ah melihatnya…

 

JDERRR!!!

 

JEENGG!! JEEEENGGG!!!(?)

 

Nilai yang pak Yoon tulis di sana adalah… -F?!

“Ck! Ck! Ck! Bagaimana bisa kau mendapat nilai serendah ini? Yang paling rendah pula. Kau ini belajar tidak?!” tanya pak Yoon.

Badan Rae Ah terasa lemas. Dia merasa takut dengan amukan pak Yoon yang termasuk salah satu guru killer di sekolahnya.

“Sa-saya belajar, pak…” jawab Rae Ah takut-takut.

“Kalau kau belajar, kau tidak akan mendapat nilai serendah ini!”

Rae Ah merasa sangat malu karena pak Yoon memarahinya di hadapan teman-teman sekelasnya.

“Benar, pak! Saya sudah belajar dari tadi malam. Tapi… saat mengerjakan soal tadi… semua yang sudah saya pelajari hilang…” jawab Rae Ah jujur.

“Alasan macam apa itu? Hah! Sudahlah! Bapak tidak mau tahu! Karena kau mendapat nilai yang paling rendah, kau harus ikut remedial hari Kamis ini.” Kata pak Yoon.

Rae Ah menundukkan kepalanya lesu.

“Baik, pak…”

“Jungkook, karena kau yang mendapat nilai tertinggi, kau yang mengajari Rae Ah agar bisa mengerjakan soal remedial nanti ya?”

Jungkook dan Rae Ah sama-sama membelalakkan matanya. Kaget.

“KENAPA?!” tanya Rae Ah.

“Karena biarpun kau belajar sendiri, bapak yakin kau tidak akan mengerjakannya dengan baik.”

 

JLEEEB!!

 

Kata-kata pedas pak Yoon begitu mengena(?) di hati Rae Ah.

Dasar guru sialan!, umpat Rae Ah dalam hati.

“Pak, saya bisa minta diajari Jihyo. Bukan Jungkook juga tidak apa-apa!” Rae Ah tetap bersikeras tidak mau diajari Jungkook.

“Ck! Kau mau melawan bapak?!” tanya pak Yoon.

Nyali Rae Ah langsung ciut. “Ti-tidak, pak…”

 

TENG! TENG!

 

“Pelajaran hari ini sampai disini. Selamat siang dan sampai jumpa hari Kamis.” Kata pak Yoon lalu keluar dari kelas 1-3.

Para murid bersorak senang karena jam istirahat sudah tiba dan satu persatu dari mereka keluar dari kelas.

Rae Ah kembali ke tempat duduknya dengan muka masam(?).

“Jangan cemberut begitu, dong.” Kata Jungkook.

Rae Ah menghembuskan nafasnya kasar lalu menoleh ke arah Jungkook dengan tatapan marah.

“Semua ini salahmu, brengsek!!” umpat Rae Ah.

Jungkook terperangah mendengar Rae Ah yang menyumpah padanya.

“Heh! Apa-apaan kau mengataiku begitu?!” tanya Jungkook sewot.

“Coba saja kau tidak mengajakku adu panco tadi pagi, aku mungkin tidak akan hilang konsentrasi dan kena remedial! Aku sangat tidak ingin melihat wajahmu! Aku benci padamu!!”

“Memangnya yang aku lakukan tadi membuatmu kau kehilangan fokus?!” tanya Jungkook lagi.

“Iya!! Dasar bodoh!”

“Apa kau bilang?! Heh! Orang yang kau sebut bodoh ini mendapat nilai tertinggi saat ulangan harian Fisika pagi ini. Hati-hati kalau bicara!” Ucap Jungkook mulai kesal.

“Kau mau ku tonjok lagi, Jeon Jung Kook?!” tantang Rae Ah.

“Ayo, sini!” Jungkook malah ngelonjak(?).

Saat Rae Ah ingin menonjok wajah Jungkook lagi, para murid yang ada di dalam kelas buru-buru mendatangi mereka berdua untuk kembali melerai perkelahian yang akan terjadi lagi.

“Lepaskan akuuuuuu!!!” seru Rae Ah marah. Tak lupa dia juga meronta seperti sapi gila(?)

“Sialan kau, Jeon Jung Koooooookkk!!!!”

***

Rae Ah menghempaskan badannya ke kasur kesayangannya. Dia begitu lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Dia ingin istirahat.

“Ah! Baru ingat. Ada PR dari bu Song. Kerjakan sekarang ah.” gumam Rae Ah yang tiba-tiba teringat PR Bahasa Inggris yang baru saja diberi oleh bu Song dan harus dikumpul besok.Dia pun mengambil tasnya dan mencari buku tulis Bahasa Inggris bersampul merah miliknya juga alat tulisnya. Setelah ketemu, Rae Ah langsung membukanya.

Eh, tapi…

 

“Kok tulisannya beda?” Tanya Rae Ah bingung.

Rae Ah membolak-balikkan halaman demi halaman buku tulis itu. Tulisan yang tertera di sana memang bukan tulisannya.

Apa bukunya tertukar?

Rae Ah mengecek sampul buku tulis itu dan…

 

JENG!! JEEEEENNNGGG!!

 

‘JEON JUNG KOOK’

 

“Kenapa buku anak itu bisa ada padaku?!” teriak Rae Ah terkejut.

Sepertinya hari ini bukan keberuntungan Rae Ah.

“Lalu bukuku di mana? Apa ada pada anak itu?!” Tanya Rae Ah entah pada siapa.

Apa Rae Ah harus mengambil buku itu dari Jungkook?

Tapi, bagaimana?

Nomor telepon Jungkook saja tidak tahu apalagi rumahnya.

Rae Ah kembali mengambil buku tulis Bahasa Inggris milik Jungkook dan membuka-buka halamannya lagi. Siapa tahu Rae Ah bisa dapat sedikit petunjuk(?).

 

BINGO!

 

Terima kasih, Tuhan…

 

Ternyata Jungkook suka mencoret-coret bagian belakang bukunya. Dan lebih beruntungnya, ada tertulis nomor telepon juga di sana.

Entah apa benar Jungkook yang mempunyai nomor itu atau bukan, tapi tidak ada salahnya dicoba ‘kan?

Dengan buru-buru Rae Ah mengambil handphone-nya dan mengetik nomor yang ada di buku tulis Jungkook. Setelah itu, Rae Ah langsung memencet tombol DIAL.

Trrrtt… Trrrrrrttt…

“Ayolah… semoga ini berhasil. Aku sudah kena remedial Fisika. Jangan sampai aku membersihkan gudang olahraga sendirian besok.” Gumam Rae Ah penuh harap.

“Aish! Jeon Jung Kook! Angkatlah!!”

Di sisi lain…

Jungkook melepaskan seragam musim panasnya lalu menggantinya dengan baju kaos merah favoritnya.

~If I was your boyfriend, never let you go~

Dering handphone Jungkook terdengar nyaring. Dia pun langsung mengambil handphonenya yang ada di dalam saku celana sekolahnya.

Saat melihat layar handphonenya, Jungkook mengernyit bingung.

“Nomor siapa ini?” gumamnya.

Awalnya dia ragu untuk merespon panggilan itu, apalagi dari nomor yang tak dikenal. Tapi siapa tahu kalau itu penting ‘kan?

Akhirnya Jungkook mengangkat panggilan itu, lalu memposisikan handphonenya di telinga kirinya.

“Halo?”

“Ha-halo? Bisa bicara dengan Jeon Jung Kook?”

“Iya. Saya sendiri. Siapa ini?” Tanya Jungkook.

“HEH!! BOCAH TENGIL!!”

Jungkook langsung menjauhkan handphone itu dari telinganya. Dia khawatir dia akan tuli setelah mendengar teriakan itu.

Tapi, tunggu dulu.

 

Sepertinya suara itu tidak asing lagi di telinga Jungkook.

Mungkinkah…

 

“Eiiiyy… tidak mungkin. Dia ‘kan tidak punya nomorku.” Gumam Jungkook meyakinkan dirinya sendiri.

Jungkook pun mendekatkan handphonenya ke telinganya lagi.

“HEH! KENAPA KAU TIDAK MENJAWAB PERTANYAANKU, SIALAN??!!”

Sial! Itu benar-benar Rae Ah!

 

“Heh! Bagaimana kau dapat nomorku? Kau penguntit, hah?!” Tanya Jungkook.

“Penguntit apaan? Justru kau yang terlalu ceroboh menulis nomor teleponmu di bukumu! Kalau saja gadis lain yang mendapatkan bukumu ini, aku yakin hidupmu tidak akan tenang.” ucap Rae Ah angkuh di seberang sana.

Jungkook berdecak kesal. “Ck! Sudahlah! Kau mau apa meneleponku?”

“Heh! Kau sadar tidak? Buku tulis Bahasa Inggris kita tertukar, bodoh!”

Jungkook membelalakkan matanya tak percaya. Dia pun langsung membongkar isi tas sekolahnya dan mencari buku tulis bersampul merah.

 

‘SUNG RAE AH’

 

Sial… buku kami tertukar…, batin Jungkook.

Dia memukulkan buku tulis itu ke kepalanya sendiri.

“Cepat kembalikan bukuku. Aku mau mengerjakan PR.”

“Aku bahkan tidak tahu di mana rumahmu, ekor kuda!” balas Jungkook sewot.

PS : Ekor Kuda adalah julukan Rae Ah dari Jungkook karena model ikatan rambut gadis itu adalah pony tail. Rae Ah tidak suka dipanggil begitu. Hingga saat ini hanya Jungkook yang memanggilnya ekor kuda.

“Ck! Dasar gigi tonggos! Cari tempat bertemu yang memungkinkan ‘kek!” kata Rae Ah ketus.

PS : Gigi Tonggos adalah julukan Jungkook dari Rae Ah karena dua gigi depan lelaki itu seperti gigi kelinci. Dan hanya Rae Ah yang berani memanggil Jungkook begitu. Tapi anehnya Jungkook hanya marah dan tidak pernah menyuruh Rae Ah berhenti seperti gadis itu yang menyuruh Jungkook berhenti memanggilnya ekor kuda.

Jungkook berpikir sejenak.

“Bagaimana kalau Hongdae. Rumahku di sekitar situ. Kita bertemu di depan bioskop. Bagaimana?” tawar Jungkook.

Rae Ah menimbang-nimbang tawaran Jungkook.

“Ya sudah. Aku akan ganti baju dan langsung pergi.”

“Iya, aku tunggu.”

Jungkook dan Rae Ah mematikan sambungan mereka dan bersiap-siap untuk bertemu.

***

Sekitar 20 menit Jungkook menunggu kedatangan Rae Ah. Dia hanya memakai baju kaos merah lengan pendek dipadukan jeans biru dan sneakers hitam. Tak lupa juga Jungkook membawa buku tulis Rae Ah.

Tak beberapa lama kemudian, Jungkook melihat siluet seseorang diantara orang-orang yang memadati jalanan Hongdae.

“Jeon Jung Kook!” panggil siluet yang perlahan-lahan makin jelas wujudnya. Akhirnya Rae Ah datang. Dengan mengenakan pakaian musim panas yang santai. Baju t-shirt biru dipadukan dengan celana jeans abu-abu. Ah, tak lupa juga sepatu converse merah miliknya. Dia pun membawa tas ransel di punggungnya. Mungkin buku Jungkook ada disana.

“Hei, akhirnya kau datang juga.” Kata Jungkook malas.

Rae Ah buru-buru mengeluarkan buku tulis milik Jungkook dari dalam tasnya.

“Ini. Bukumu.” Kata Rae Ah sambil menyodorkan buku itu pada pemilik aslinya.

“Hm. Terima kasih.” Jawab Jungkook singkat.

“Nah, kalau begitu aku pergi ya?”

Jungkook terkejut dengan pertemuan mereka yang tidak sampai 1 menit itu. Dengan cepat dia meraih tangan Rae Ah dan membuat gadis itu menoleh padanya.

“Eh? Apa?” tanya Rae Ah bingung.

“Hei. Kau mau pergi ke mana?” tanya Jungkook.

“Pulang.” Jawab Rae Ah dengan wajah polosnya.

“Kau… sudah tidak marah lagi padaku?” tanya Jungkook lagi.

Muka Rae Ah yang polos, tiba-tiba berubah cemberut.

“Aku masih marah padamu.” Sahut Rae Ah ketus seraya membuang muka.

Jungkook mengacak rambutnya sendiri karena frustasi dan menghembuskan napasnya kasar.

“Aku ‘kan sudah minta maaf tadi. Bagaimana caranya agar kau tidak marah padaku lagi?”

Rae Ah tidak menjawab dan hanya memonyongkan bibirnya kesal.

Desahan napas berat Jungkook kembali keluar. Dia pun mengalihkan padangannya asal. Dan dia tidak sengaja melihat gedung bioskop yang sedang ramai pengunjung.

Tiba-tiba ada ide yang muncul di otak cerdasnya.

“Hei, ayo kita nonton film. Aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf. Bagaimana?” tawar Jungkook.

Rae Ah melihat ke arah pandangan Jungkook. Matanya langsung berbinar-binar.

“Oh! Kau benar! Hari ini penayangan perdana film The Conjuring 2! Aku sangat ingin menontonnya, Jungkook! Ayo kita nonton itu, ya?” Rae Ah seketika berubah menjadi layaknya anak kecil yang ingin dibelikan mainan oleh ibunya.

Jungkook menyadari reaksi Rae Ah yang berubah setelah mendengar tawarannya. Ternyata gadis itu gampang dibujuk.

Selain itu, entah kenapa…

 

Jungkook merasa reaksi Rae Ah itu cukup… menggemaskan…

 

Eh? Menggemaskan?

 

Apa Jungkook baru saja berpikir kalau Rae Ah itu menggemaskan? Pffft… YANG BENAR SAJA?!

 

PLAK!

 

Jungkook pun langsung menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya dari pikiran aneh itu.

 

“Jungkook-aaah~~” rengek Rae Ah.

“Ba-baiklah… ayo.” Balas Jungkook canggung.

Rae Ah pun berlari lebih dulu menuju gedung bioskop disusul Jungkook yang berjalan di belakangnya.

Jungkook membeli dua buah tiket untuk mereka berdua, sementara Rae Ah membeli cemilan untuk dimakan saat menonton film.

Dengan segera mereka memasuki ruang teater dan mencari tempat duduk mereka yang berada di tengah.

Setelah menemukannya, mereka langsung duduk.

“The Conjuring 2… ini film horror ya?” tanya Jungkook seraya membaca pamphlet film yang dia dapat saat membeli tiket tadi.

“Iya. Ini adalah film sequel dari film sebelumnya, The Conjuring. Film yang bercerita tentang… pemanggilan arwah~ huhuhuhuhuuuu~” ucap Rae Ah dengan nada dan wajah seram yang dibuat-buat.

Jungkook hanya memasang wajah datarnya melihat aksi menakuti Rae Ah yang gagal. Tak lupa dia juga menyuapkan pop corn ke dalam mulutnya walaupun film belum dimulai.

“Kau ini aneh ya? Para gadis banyak takut dengan film horror. Tapi kau tidak.”

Rae Ah hanya terkekeh.

Tiba-tiba lampu dalam ruangan teater mati. Film-nya akan dimulai.

Pembukaan diawali dengan logo Warner Bros Picture. Dan beberapa intro lainnya.

SKIP!! (Author belum nonton filmnya. Cuma kakak author yang nonton bareng pacarnya dan author gak diajak, jadi langsung di SKIP aja yaa~ :v)

Jungkook merasa terganggu dengan pasangan yang duduk di depannya.

“Mereka sih bukannya mau nonton film. Tapi bermesraan.” Batin Jungkook kesal.

Bagaimana tidak? Pasangan yang duduk di depan Jungkook dengan santainya berciuman. Sebenarnya yang membuat Jungkook tidak nyaman adalah karena dia baru kali ini berjalan dengan perempuan dan malah harus melihat adegan ini. Dia tidak enak pada Rae Ah.

Tapi saat Jungkook menoleh ke arah gadis itu, Rae Ah dengan serius menonton film yang tengah diputar.

Jungkook menghela nafasnya lega.

Seorang anak kecil sendirian di ruangan gelap. Saat dia berbalik, dia mendapati dinding yang penuh dengan banyak salib. Dan salah satu salib itu berputar terbalik.

Tiba-tiba hantunya muncul!

Dan seluruh pengunjung bioskop berteriak ketakutan, tak terkecuali Rae Ah. Sedangkan Jungkook tidak berteriak. Dia hanya terlonjak kaget saja.

Rae Ah otomatis menutup matanya dengan kedua tangannya.

Jungkook menoleh ke arahnya.

“Ck! Kukira dia berani.” Gumam Jungkook.

Anak kecil itu akan diserang dan…

 

“AAAAAAAHHHHHH!!!”

 

Para penonton dan Rae Ah kembali berteriak ketakutan. Dan kali ini Jungkook terperanjat kaget. Sangat kaget.

Bukan karena hantunya yang muncul, melainkan Rae Ah yang reflex memeluk lengannya.

Seketika badan Jungkook tegang, dadanya berdegup kencang, wajahnya terasa panas dan keringat dingin membasahi wajahnya.

Dia melirik Rae Ah yang duduk di sampingnya dan masih belum melepaskan rangkulannya.

“Astaga… benar-benar mengerikan…” gumam Rae Ah, lalu dia melepas tangannya dari lengan Jungkook. Dan gadis itu kembali focus menonton film.

Namun berbeda dengan Jungkook. Lelaki itu masih belum bisa mengendalikan debaran jantungnya yang masih begitu cepat.

Mungkin dengan makan, degupan jantungnya akan melambat. Tapi saat hendak mengambil popcorn, tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Rae Ah yang sepertinya juga ingin menyantap makanan khas di bioskop itu.

Seperti tersengat listrik, Jungkook langsung menjauhkan tangannya.

“Oh, maaf. Ambillah duluan.” Kata Rae Ah.

“Ti-tidak! Kau saja duluan!” sahut Jungkook gugup.

Rae Ah mengangguk. “Ya sudah.”

Gadis itu pun mengambil secuil popcorn dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Jungkook melepaskan nafasnya. Lalu dia memegangi dadanya.

“Sial, kenapa sekarang makin cepat?!”, batin Jungkook frustasi.

Dalam hatinya, Jungkook berharap film ini cepat selesai. Dan dia bisa segera pulang.

SKIP!!

Akhirnya film The Conjuring 2 pun selesai. Para penonton mulai meninggalkan kursi mereka dan keluar dari ruang teater.

Entah apa yang Jungkook pikirkan, tapi dia terus diam saat film tengah berlangsung hingga sekarang.

“Filmnya seru ya, Jungkook?” tanya Rae Ah dengan semangat.

“I-iya…”

Mereka berjalan keluar dari gedung bioskop.

TES!

Mendadak, Rae Ah merasakan ada air menjatuhi kepalanya.

“Ng? Apa ini?” tanya Rae Ah sambal memegang kepalanya.

TES! TES! TES!

ZRAAASSSHH!!!

Sial. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.

Jungkook dan Rae Ah kewalahan menghindari hujan. Mereka pun berlari menuju halte bis terdekat dan berteduh di sana.

“Ya ampun! Kenapa pakai hujan segala, sih?!” gerutu Rae Ah.

Jungkook menatapnya. Dia bisa melihat tubuh Rae Ah cukup basah dan dia menggigil kedinginan.

Cukup lama Jungkook dan Rae Ah menunggu hujan berhenti, tapi bahkan sama sekali tidak ada tanda hujannya akan reda dalam waktu dekat. Dan sekarang sudah sangat sore.

Rae Ah merogoh tas ranselnya yang basah dan mengeluarkan handphonenya.

“Sudah jam 6 sore. Dan hujannya sangat deras. Juga tidak ada bis yang datang. Bagaimana kita bisa pulang, Jungkook? Padahal aku naik bis dua kali menuju kemari.” tanya Rae Ah khawatir.

Benar juga. Bagaimana mereka bisa pulang dengan cepat kalau begini?

Sebenarnya bagi Jungkook sih tidak apa-apa, karena rumahnya cukup dekat. Hanya sekitar tiga blok dari sini. Tapi Rae Ah?

Jadi apa yang harus mereka lakukan?

Lama Jungkook memikirkan jalan keluar, hingga akhirnya…

TING!!(?)

Sebenarnya Jungkook agak ragu memberikan saran ini, tapi tidak ada pilihan lain.

“Bagaimana… kita ke rumahku saja?” saran Jungkook ragu. Rae Ah menoleh ke arahnya.

“Apa kau bilang?” tanya Rae Ah memastikan.

“Kita… ke rumahku…”

 

BERSAMBUNG…

 

Kata-kata horror yang muncul di setiap ff chaptered :v

Kasih author support untuk ngirim chapter selanjutnya ya?
Pengiriman ff juga sangat bergantung ke WiFi tetangga dan kuota internet author.

Mohon bantuannya ya~ dan tetap tunggu part 2-nya^^

See ya~

 

Love,

Amara17 :*

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Salah Paham (Sequel ‘Adu Panco’) – Pt.1

  1. Astaga benci bgt sama ff yg ceritanya ttg kisah cinta abg yg malu” kucing >< AAAAAKKHH, terbang tidak ya? terbang tidak ya? kalo terbang ntar gua gak bisa turunnya T-T
    My Juki honey bunny cutie pie, kamu udah bisa jatuh cinta,nak? ^-^ #backsong: Inikah namanya cinta~ oh inikah cinta~ lalalala~ xD
    Yaampun ini cute miapa. Gregetnya dapet bgt. Mau dong jadi OC nya xD #plakk #diusirAuthor :v Tapi pokoknya ff ini kece, nuansa anak muda nya dapet sekali #ceilehhh :p Good job thor, Ditunggu next chap nya T-T

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s