[BTS FF Freelance] In the Mood of Love (Chapter 3)

in the mood of love ch 3

In the Mood of Love

a fanfiction by

riria ly

Starring :

BTS’s Jungkook a.k.a Jeon Jungkook

Kenzie Kim (OC)

Gfriend’s ShinB a.k.a Hwang Eunbi

17’s Mingyu a.k.a Kim Mingyu

BTS’s Suga a.k.a Min Yoongi

Others

Genre : Romance, School Life, Friendship | Rating : T | Length : Chaptered

The casts belong to God, their parents and agency. But the story is mine.

****

In the Mood of Love Chapter 3

-Happy Reading-

Bisik-bisik terjadi saat Jungkook memasuki kelasnya ditemani Eunbi dan Taehyung. Kejadian semalam sudah menjadi rahasia umum sekarang ini, kemana pun Jungkook melangkah –ia selalu mendengar namanya disebut-sebut dengan suara rendah diiringi tatapan mencemooh ataupun heran dan entahlah apalagi.

Jungkook melirik bagian pojok kanan belakang kelas, berharap mendapati kehadiran seseorang. Tapi kursi itu kosong, begitupula kursi di sampingnya.

“Hei Jeon, kudengar kau membuat Kenzie celaka ya?” tanya seseorang yang biasa Jungkook panggil Junhoe.

“Justru Jungkook yang menyelamatkannya.” Seperti biasa, Eunbi mewakili.

“Tapi Mingyu ngga bilang begitu”, ujar salah seorang gerombolan Mingyu, Hoshi panggilannya.

“Karena dia belum tahu yang sebenarnya.” Jungkook, Eunbi dan Taehyung menuju tempat duduknya masing-masing yang berdekatan.

“Sebenarnya tidak begitu penting kau salah atau tidak.” Jika dari pihak cowok adalah Mingyu, maka dari pihak cewek yang paling sering bercengkrama dengan Kenzie adalah cewek ini. “Tapi yang pasti Mingyu akan membuatmu menderita,” tambah cewek berambut panjang itu.

“Terimakasih atas penjelasannya Jung Yerin”, kata Jungkook, Eunbi memelototinya.

“Kau belum tahu Mingyu seperti apa”, ujar gadis itu memperingati.

“Sepertinya aku tahu”, balas Jungkook sembari memikirkan bagaimana keadaan si princess itu, apa dia baik-baik saja? Apa dia sudah mendapatkan perawatan yang benar? Apa dokternya bisa mengatasinya? Jeon Jungkook apa kau gila, mungkin jika jarak Seoul dan Jerman hanya satu jam –gadis itu pasti akan dibawah ke rumah sakit terbaik di negara itu.

Obrolan Jungkook dan Eunbi berhenti saat guru Fisika memasuki kelas super mewah itu. Jungkook menjalani kelas itu dengan cukup baik walaupun pikirannya masih tertuju pada gadis itu.

******

    “Jelaskan sedetail-detailnya!”

Jungkook menatap ngeri gadis di sampingnya, jika dalam keadaan biasa wajahnya penuh aegyo –kini wajahnya betul-betul menyeramkan(?).

“Aku mengajarinya Matematika, lalu ketika pulang aku mendapatinya tergigit anjing –sebagai teman sekelasnya aku menolongnya”, ucap Jungkook jelas dan singkat.

Gadis itu mendengus sebal. “Bukan seperti itu yang kudengar.”

“Ayolah Noona.. maksudku Nayeon-ah, aku hanya menolongnya –tidak kurang dan tidak lebih.” Jungkook merangkul pundak Nayeon, tapi gadis itu menepisnya.

“Kau menggodanya juga, kan?”

“Sedikit sih”, Jungkook keceplosan.

“Tuh kan!” Nayeon makin menekuk wajahnya.

“Bukan seperti itu, aku hanya mengejeknya.” Biasanya Jungkook tak sesemangat ini dalam meladeni pacar-pacarnya yang ngambek. Walaupun Nayeon itu cerewet, tapi dia sedikit menyukai gadis itu –dan tak mau hubungan mereka yang baru berjalan 2 minggu berakhir begitu saja.

“Kau juga menggendongnya”, beber Nayeon lagi, Jungkook menguatkan hatinya.

“Dia kan tak bisa jalan, masa aku harus menyeretnya sih.”

“Kau menyebalkan Jeon Jungkook.” Nayeon membuang muka sebal, Jungkook menariknya untuk mendekat dan mengunci pandangannya.

“Kau makin cantik jika cemberut begitu.” Dia mencubit pipi Nayeon gemas –orang-orang yang tak tahu pasti akan berfikir jika umur gadis itu lebih muda darinya.

“Tutup mulutmu!”

“Apa kau ada waktu sore nanti? Bagaimana kalau Dream World?” ajak Jungkook, dalam usaha untuk mencairkan suasana gadis bermarga Im itu.

“ Jam tujuh, depan asramaku dan jangan telat!”

Jungkook mendapat pelajaran berharga kali ini, bahwa menenangkan cewek yang sedang ngambek memang butuh perjuangan. Dia berharap Nayeon jangan terlalu sering seperti itu.

~~~~~

Jungkook dibuat terbengong-bengong saat memasuki kamarnya yang berantakan. Kamarnya memang tak pernah rapih –tapi sekarang ini benar-benar jauh dari kata rapih, seolah-olah baru dijatuhi jet ukuran super besar. Baju-bajunya tercecer dilantai, buku-bukunya terhampar diranjang, bekas-bekas snack yang tadinya di tong sampah kini berceceran di meja belajar. Jungkook menatap horror semua itu.

“Jungkook-ah, kau masih punya ramyeon… woahhh apa sebuah jet baru saja landas di sini?” Taehyung dengan ekspresi yang tak beda jauh, berdiri di sampingnya.

“Aku juga masih bertanya-tanya soal itu.” Jungkook menyelamatkan sebuah buku dari genangan air jeruk yang meluber kemana-mana.

“Coba kauperiksa barang berhargamu, apa ada yang hilang.”

“Memangnya di sini ada pencuri apa?” Jungkook mengerang kesal saat mengangkat PSP kesayangannya yang hancur. Sialan kau Kim Mingyu!

    “Lalu apa tujuannya semua ini?” Taehyung bertanya, ia memungut dua cup ramyeon yang dicarinya.

Jungkook mengepalkan kedua tangannya sembari menjawab, “Mencoba membuatku menderita sepertinya.”

“Apa kau tahu pelakunya?”

Jungkook mendecak, masa sih pria itu tak bisa menebak situasi ini. “Sepertinya.”

*****

Hari berganti dan gadis itu belum juga menampakkan dirinya. Jungkook berkali-kali memukul kepalanya untuk menyadarkannya agar fokus pada pelajaran. Eunbi juga berkali-kali menatap tak suka padanya.

“Kau kenapa sih?” gadis itu bertanya risih.

“Lapar”, Jungkook membalas sekenanya.

Jungkook tak pernah merasa sesenang ini saat mendengar bel istirahat berbunyi, pria itu langsung meninggalkan kelas bahkan saat gurunya sedang membereskan buku-bukunya. Di belakangnya Eunbi dan Taehyung berteriak memintanya menunggu.

“Aku tunggu di kantin”, balas Jungkook dengan suara yang tak pelan.

Awalnya perjalanan Jungkook menuju kantin lancar-lancar saja, sebelum seseorang dengan sengaja menabraknya plus menumpahkan jus jeruk di seragam putihnya.

“Maaf, aku tak sengaja.” Mati-matian dia tak mendamprat orang yang telah melakukannya itu.

Jungkook sejenak menggertakan giginya sebelum menjawab. “Apa aku harus membelikanmu kacamata agar kau bisa berjalan dengan baik?” Kedua mata itu bertatapan dengan tajam, saling mengejek dan mengintimidasi.

“Mataku baik-baik saja Jeon, kau yang seharusnya memeriksakan matamu itu.”

“Atas dasar apa?”

“Agar tak melihat yang bukan milikmu”, geram Mingyu.

Ne? Maksudmu Kenzie?” Jungkook menelengkan kepalanya, dengan raut wajah menyeringai dia melanjutkan. “Memangnya dia milikmu apa? Setahuku kalian tidak berkencan dan itu artinya Kenzie masih milik orangtuanya ‘kan?”

“Tutup mulut kotormu itu!”

“Tentu, aku sekalian pamit ya.” Baru dua langkah, Jungkook berhenti dan kembali berbalik. “Terimakasih atas hadiahnya, aku sedikit menderita loh.”

 

****

Jungkook tahu dia tak akan menemukan Kenzie Kim diperpustakaan, tapi nyatanya ia tetap datang. Berharap? Tidak juga. Tapi bisa dibilang begitu, karena pria berambut gelap itu terus saja menengadahkan kepalanya kesana kemari seolah mencari sesuatu.

“Ah sial, ada apa denganmu Jeon Jungkook.” Ia mengacak-acak rambutnya sembari mengerang frustasi memikirkan gadis itu. Oh yang benar saja, dia bahkan hanya sesekali memikirkan pacarnya –sementara gadis itu teman saja bukan, apalagi pacar, tetapi hanya sekedar tutor(?)

    “Bernasib sama sepertiku?” Begitu melirik ke samping kirinya Jungkook mendapati Eunbi, dengan setumpuk buku tebal.

“Dia juga tak datang?” Eunbi mengangguk.

“Awas saja jika pertemuan selanjutnya dia tak datang, aku akan menyeretnya ke perpustakaan dan menghadiakannya soal matematika super sulit”, ujar Eunbi bersungut-sungut.

“Memangnya kau berani melakukannya?” Entah karena Jungkook yang kurang fokus, atau pria itu bisa berteleportasi –tetapi Min Yoongi sudah ada di depannya kini.

“Kenapa kau ada di sini?” Eunbi bertanya, menurut Jungkook gadis itu juga sama kagetnya dengan dia.

“Ini kan perpustakaan, aku bisa berada di sini kapanpun aku mau”, balas si Min Yoongi. Jujur sampai saat ini, Jungkook masih tak mengerti kenapa akhir-akhir ini senior itu sering muncul di depan Eunbi.

“Tempat duduk ‘kan banyak, kenapa kau malah duduk di sini?” Eunbi masih tak menyerah.

“Aku pinginnya di sini.” Nada bicara Yoongi tak mau dibantah lagi.

    Tunggu dulu, pria di depannya itu kan sepupu Kenzie.

Jungkook berdehem, “Hmm Sunbae…” Yoongi menatapnya dengan pandangan apa-kita-saling-kenal yang ingin membuat Jungkook menghilang dari tempat itu sekarang juga. “Bagaimana keadaan Kenzie?”

Bukannya menjawab, Yoongi memutar mata malas dan melanjutkan aktivitasnya mengganggu Eunbi. Apa Jungkook baru saja diabaikan? Tepat sekali.

“Hei Jungkook bertanya padamu”, seru Eunbi melotot pada Yoongi, pria itu menatap tak suka pada Jungkook.

“Kenzie baik-baik saja”, jawab pria itu alakadarnya. “Hei Hwang kemarin kauberjanji akan mengajariku, sekarang ku tagih janjimu”, tambahnya pada Eunbi.

“Kapan dia akan keluar?”

Diabaikan lagi.

“Tidak bisa, ini sudah terlalu malam sekarang.”

“Apa lukanya sudah sembuh?” Jungkook masih berusaha.

“Oh ayolah ini baru jam 8 Hwang, asrama tutup pada jam 10. Kalaupun sudah ditutup aku tahu jalan rahasianya, kau tak perlu khawatir.”

“Tidak ada gejala-gejala yang aneh pada dirinya ‘kan?”

“Woahh dasar siswa tak tahu aturan, kaupikir aku mau melakukan itu eoh?”

Bahkan Eunbi ikut mengabaikannya sekarang.

“Kau harus mau karena aku mau!” ujar Yoongi penuh penekanan disetiap katanya.

Cukup sudah!

Jungkook benar-benar sengaja membuat kursi itu berdenyit berbunyi saat ia berdiri dari duduknya. Ia juga membuat suara yang tak kalah keras saat membereskan buku-bukunya, yang membuatnya mendapat pelototan tajam dari Yoongi dan wajah penuh tanya Eunbi.

“Kau mau kemana?”

“Tidur, kalian lanjutkan saja debatnya.”

*****

Hari kelima Jungkook uring-uringan adalah hari di mana pria itu kembali melihat Kenzie Kim.  Anehnya, gadis itu muncul tiba-tiba di ruang klub musik –setahu Jungkook gadis itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan klub tersebut.

“Kenapa dia bisa ada di sini?” tanyanya pada Seokjin, sembari melirik Kenzie tengah mengobrol yang anehnya terlihat akrab dengan Yuju –salah seorang anggota klub musik yang punya suara emas. Sebelum Seokjin menjawab, Namjoon terlebih dahulu meminta perhatian. Pria itu memanggil Kenzie untuk mendekat.

“Mungkin bagi anggota baru atau yang bukan teman sekelasnya belum tahu siapa dia.” Jungkook mendengar Kenzie mendecak, mana-mungkin-ada-yang-tidak-tahu-aku jelas terpampang diwajahnya. “Dia Kenzie Kim, salah satu anggota klub musik yang sudah lulus –dia ikut klub ini sejak kelas 1 SMP. Dan kehadiran dia di sini sekarang untuk membantu kita mempersiapkan festival musik nanti”, jelas Namjoon.

Beribu pertanyaan menghinggapi benak Jungkook, tapi tak ada satupun yang keluar.

“Pasti festival nanti sukses besar jika kau ikut bergabung Kenzie-ya”, girang Dokyeom, Kenzie memberinya tatapan jangan-sok-kenal seperti biasa.

“Dan Jungkook-ah, dia akan menjadi teman duetmu nanti.”

Mwo?”

Waeyo? Kau tak mau?” seru Kenzie, ekspresi wajahnya kelihatan malas tapi syukurlah dia sudah terlihat sangat sehat sekarang.

Aniya”, balas Jungkook cepat, ia jadi penasaran mengenai bakat musik Kenzie.

“Nah ini ada rincian mengenai festival nanti, kalian bisa membacanya sembari berlatih.” Wendy –teman sekelas Namjoon membagikan selebaran kepada semua anggota. Jungkook sendiri sama sekali tak tertarik pada selebaran itu, ia masih betah menatap Kenzie yang kini duduk di sofa.

Bukankah sudah saatnya bagi gadis itu mengatakan sesuatu padanya. Haruskah ia yang terlebih dahulu mendekatinya sekarang? Mungkin saja ‘kan dia malas jalan kemari, dia itu kan princess, harus selalu didekati.

“Ehmm.” Jungkook berdehem untuk meminta perhatian gadis itu. Kenzie meliriknya, tapi hanya untuk sejenak sebelum kembali memfokuskan diri pada selebaran yang dibagikan Wendy tadi.

Chogi… kau baik-baik saja, ‘kan?”

“Menurutmu?” Kenzie balik bertanya.

Untung dia cantik, batin Jungkook sabar.

“Sepertinya iya.”

“Sudah tahu kenapa bertanya.” Iris tajam Jungkook melebar. “Kau sudah mengaransemen ulang lagunya?”

Jungkook mengangguk. “Aku akan menyerahkannya padamu nanti sore di asrama”, jawabnya.

“Kuharap hasil aransemennya menakbjubkan.” Kenzie berdiri dari duduknya. “Yuju-ya aku pergi ya”, pamitnya, ia sempat menatap tanpa ekspresi pada Jungkook sebelum berjalan keluar.

Hanya itu saja?

Jungkook mendengus tak percaya. Tidak ada ucapan terimakasih atau aku berutang budi padamu dan sejenisnya –yang ada hanya kata-kata ketus dan raut datar seperti biasa. Seolah-olah kejadian 5 hari yang lalu itu menguap begitu saja dari kepala gadis itu.

Oh yang benar saja, siang malam Jungkook memikirkan gadis itu bagaikan orang tolol seperti tak ada gunanya, melihat tingkah Kenzie yang datar dan biasa seperti tadi.

“Kenapa wajahmu merah Jungkook-ah?” Taehyung bertanya heran. Wajah Jungkook memang akan terlihat merah jika ia tengah kesal. Pria itu mencoba menetralkan emosinya agar wajah tampannya kembali seperti semula.

“Kedinginan”, ceplosnya asal.

“Kau mau kemana?” tanya Taehyung lagi, melihat Jungkook bersiap-siap pergi.

“Klub dance, tolong bilang pada Jin dan Namjoon Hyung, ya.”

Menari memang hal yang cocok dilakukan untuk menghilangkan stress.

******

Jungkook mengerang kesal untuk kesekian kalinya karena ia tidak bisa melakukan b-boying dengaan benar. Bukannya menghiangkan stress, justru dia menjadi semakin stress sekarang.

“Kau tak akan bisa melakukannya dengan benar jika emosi seperti itu.” Jungkook melirik kearah asal suara, dan mendapati seorang pria dengan wajah ramah.

“Ahh… Hyung”, katanya agak malu. “Sejak kapan Hyung ada disitu?”

“Sejak kaubilang merasa dibodohi.”

Oh ya ampun memalukan sekali, Jungkook secara tak sadar meringis.

“Tak usah sungkan, Hyung juga sering dibilang bodoh kok.” Pria tadi duduk di sebelah Jungkook dan menepuk pundaknya ramah.

Mwoya? Hoseok Hyung sangat keren ketika menari.” Ekspresi yang ditampilkan Jungkook membuat Hoseok tersenyum geli.

“Ada masalah? Kau tak terlihat baik”, pria itu mengalihkan pembicaraan.

“Bukan masalah besar kok, Hyung.”

“Mau kuajarkan trik menghilangkan stress dengan cepat?” Hoseok menawarkan.

“Aku akan merasa sangat terhormat.”

~~~~

“Bagaimana jika gerakan Jungkook tadi kita jadikan koreografi?”

“Bosan hidup kau Park Jimin?” seru Jungkook sangar.

“Hei jangan bentak pacarku begitu dong!” ujar seorang gadis tanggung nan cantik, Jungkook merengut padanya.

Saat Hoseok tengah mengajarkannya cara menghilangkan stress, tiba-tiba Jimin dan pacarnya –Sojung nongol dan ikut mericuhkan suasana.

“Kok bisa sih Noona mau jadi pacar Jimin Hyung?” heran Jungkook setengah mencela, menurutnya Jimin dan Sojung adalah perpaduan yang aneh –yang satu kalem yang satu jauh dari kata kalem.

“Kok bisa sih Nayeon mau pacaran denganmu?” Sojung membalas, membuat wajah Jungkook semakin menekuk sementara Jimin berteriak girang.

“Ngomong-ngomong tarianmu makin hebat Jungkook-ah, yang dibilang Jimin tadi –tidak ada salahnya untuk dicoba.” Hoseok nyengir.

“Berhenti menggodaku Hyung.” Jungkook mungkin tak sadar jika wajahnya sekarang terlihat sangat imut –hal yang ingin selalu dia hindari sebenarnya.

“Eh Jungkook-ah, itu Kenzie akhirnya nongol”, kata Jimin heboh, Jungkook memberikan pandangan tutup-mulutmu-Hyung. Seperti yang dibilang Jimin, dengan jarak satu meter Kenzie tengah berjalan kearahnya –bukan tepat kearahnya sih, palingan cuma melewatinya.

“Sudah tahu”, balas Jungkook tanpa minat.

“Bukannya kamu kangen berat padanya?” Jungkook hanya melotot pada Sojung –menyuruh gadis cantik itu diam dengan tatapannya.

Seperti dugaannya, gadis itu tak menegur sama sekali –begitupula Jungkook, malahan pria itu sempat menatap sebal pada gadis super cantik itu.

Yakk Jeon Jungkook!” Kenzie menyerukan namanya dengan keras.

Mwo?” Jungkook menghentikan langkahnya, tapi tak berbalik.

“Aku perlu bicara denganmu, sekarang!” Jungkook sangat  menyayangkan wajah sempurna Kenzie karena nada suaranya itu.

“Bicaralah di sini.”

Shireo, cepat ikuti aku!”

Kenzie kembali melanjutkan langkahnya. Dan Jungkook membenci dirinya karena menuruti permintaan gadis itu. Ia merasa siap terjun bebas jika gadis itu juga menyuruhnya.

    Menyedihkan bukan?

****TBC*****

Huwaaa maapin authornya lama banget updatenyaaa 😦

Akhir-akhir ini sukanya bikin cerita oneshot dan melupakan ff chapternya, maaf yaaa

Next chap insyaallah dicepetin, kuliah juga udah libur 😀

Makasih ya yang udah sempetin review, review2 dari kalian itu bener2 berharga buat author hehee

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s