[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Whimper (Chapter 5)

26676095013_6a6e6868d3_b

Jungkook Series : Whimper Chapter 5

A story by ; coolbebh’s

Starring by ; Jeon Jungkook [BTS’s], Nam Heewon [OC’s]

Genre : Married Life, Slice of Life

Length : Chaptered

Rate ; PG-15

About 2,623 words

DISCLAIMER : WARNING! PLOT IS UGLY AND VERY BORING. HOPE YOU LIKE IT! AND … CAST BELONG OF GOD, OK?

Coolbebh’s Present; 2016 **

.

.

Heewon sedang membuka beberapa lembaran kertas dalam majalah yang di pegangnya kini, menunggu suami pulang membuatnya jenuh seketika. Lebih baik mencari kesibukan sendiri pada waktu luangnya ini yang membosankan.

Jungkook memang sangat-sangat overprotective terhadapnya, wajar sih. Tak boleh keluar rumah tanpa seizingnya, meminta izin pun tetap saja tak boleh. Mungkin, karena dirinya tengah hamil yang memang sudah menginjak lima bulan lamanya. Morning sickness masih ia rasakan, dan entah sampai kapan dirinya seperti ini. Menderita namun dibaluti rasa kesenangan.

Beberapa lembaran tengah ia lihat dengan seksama, mulai dari fashion yang sekarang tengah marak-maraknya, sepatu kets, high heels atau pun platform pun juga ada. Ia merasa bingung, fashion kali ini memang benar-benar menggugah selera. Sifat wanitanya tengah muncul saat ini, membeli barang yang berharga untuknya namun bagi sang suami tidak.

Apa ia bisa meluluhkan hati Jungkook dengan senyuman dan aegyo-nya? Dia rasa tidak, meluluhkan Jungkook tentunya harus mempunyai perjuangan tinggi sampai titik darah penghabisan. Ah, tidak. Itu berlebihan.

Mungkin saat ini ia harus mengurungkan egonya dalam-dalam. Toh, sebaik-baiknya fashion style itu pun tak cocok dengan tubuh tambulnya yang lebih mirip babi bercampur gajah. Tapi, Jungkook tetap cinta ‘kok.

Ia membuka lembaran-lembaran berikutnya, pandangannya melebar, melotot tak karuan. Heewon menjilat bibirnya sesekali, air liurnya sudah terasa keluar dengan sendirinya. Ini benar-benar lebih menyegarkan daripada tadi.

Mungkin Jungkook bisa ya membelikan ini?

Ketika dirinya terus menatap gambar tersebut, suara pintu yang mengedor-gedor keras itu pun membuat dirinya tersadar akan lamunan imajinasinya. Tubuhnya kini segera beranjak menuju pintu. Tangannya kini memegang kenop pintu dan menampakkan seseorang yang ditunggunya selama ini.

Bibirnya mengulum senyum, rasa yang membuncah dari dirinya mulai terobati secara perlahan. Jungkook membuka tangannya, menyuruhnya untuk merengkuhnya dengan penuh kasih sayang.

Rasa cinta dan juga sayang itu tercampur dengan mengantarkan melodi buncahan dada yang tak karuan. Mereka mengeratkan pelukan masing-masing sembari memejamkan mata. Jungkook mulai mengelus rambutnya ini yang tengah ia ikat dengan sedikit tak rapi, ia mengecupnya pucuk rambutnya sesaat kemudian memandangnya lekat.

“Sayang….”

“Suamiku … Aku merindukanmu.” Ungkapnya malu. Heewon mengecup bibirnya sekejap lalu menenggelamkan kepalanya di dada Jungkook yang membuatnya nyaman sekaligus terasa hangat. Jungkook terkekeh pelan melihat tingkah istrinya yang lucu, beginilah Heewon jika menyambutnya pulang kerja. Terasa manis.

“Ah … ternyata, istriku ini sedang menggodaku, ya?” ucap Jungkook sembari menangkup pipinya. Heewon mengerutkan dahinya tak mengerti, ia menggigit bibir bawahnya ketika Jungkook mencolek dagunya.

“Maksudmu apa? Ku rasa aku tak menggodamu?”

“Tak merasa, ya? Mengapa kau menciumku? Mengapa kau mengigit bibirmu? Agar terlihat seksi?”

“Tidak.” Balasnya singkat. Heewon melepas rangkulan tangan Jungkook yang tadi tengah memegang pinggangnya. Heewon kesal, ia meninggalkan Jungkook begitu saja menuju kamarnya untuk beristirahat ria. Oh, Jungkook ternyata lupa bahwa Heewon akhir-akhir ini sangat sensitive.

“Heewon….” Panggilnya lembut. Lantas, Jungkook menghampirinya yang kini berjalan menuju kasurya. Ia memperhatikan Heewon yang tengah berbenah diri;menyelimutinya sampai leher. Helaan napas pelan Jungkook keluarkan saat ini. Sebegitu tersinggungkah saat ini?

Tungkainya mengantarkan pada kasur empuk mereka, sejarah manis dan pahit mereka ukir di kamar ini. Jungkook ingat, mereka sering bertengkar kecil, apa pun hal itu. Mulai dari tingkah yang kekanakan, berbeda pendapat, atau salah ucapan.

Ia raih selimut hangat itu, yang memang saksi bisu aksi bercinta mereka di kasur ini dibaluti selimut lembut. Jungkook berbaring disampingnya sembari mengelus rambutnya yang membelakanginya. Tangannya itu mulai menurun ke bawah, mencari sang pinggang istri; untuk memeluknya dari arah belakang.

“Maafkan aku jika aku salah.” Heewon bergeming, menulikan semua frasa Jungkook yang telah menguar di udara. Jungkook tahu bahwa istri tercintanya itu sedang berpura-pura tidur untuk mendiamkan Jungkook. Ia benci ini.

Benar. Jungkook benci disaat Heewon mendiamkannya seperti hidup sebatang kara.

“Sayang….”

“Sayangku….” Merasa pusing, Jungkook meraih bahunya untuk berhadapan dengan dirinya yang tengah kesal akan kekanakannya sifat Heewon, bolehkah dia marah? Memberikan peringatan? Ia lelah, butuh perhatian dan belaian sang istri dikala dirinya tengah pusing dengan pekerjaan kantor. Cengkraman tangan Jungkook sedikit kasar membuat Heewon meringis.

Baru kali ini Heewon melihat mata Jungkook seperti itu. Tajam namun menyelidik.

“Bisakah kau mengerti diriku, Heewon?” ucap Jungkook tegas. Tidak ada kata embel-embel sayang atau istriku lainnya. Ia menatap tajam Heewon yang kini menatapnya balik nanar.

“Aku lelah, Heewon! Ku mohon, jika diriku mempunyai salah, katakanlah dengan jujur.”

“Kau … tidak … mempunyai … salah apa pun, Jungkook.” Jawabnya terbata-bata. Heewon mengulurkan memorinya yang dahulu mereka rajut, mengingat beberapa adegan ketika mereka berdua sedang marah. Tidak. Jungkook tak pernah seperti ini.

“Lantas mengapa tak membalas panggilanku? Itu dosa, Heewon! Kau jangan berpura-pura tuli, gunakanlah indramu untuk hal bermanfaat.”

“A-aku….”

“Kita pisah ranjang malam ini, aku tak ingin tidur disini. Jika ada perlu kau tinggal datang ke kamar sebelah. Selamat malam.”

“Jung….”

Terlambat. Jungkook telah pergi dari kamarnya dengan debuman pintu terdengar sedikit keras. Meski begitu, tetap saja … Heewon mengedikkan bahu akan rasa terkejut. Ia menatap pintu itu nanar, berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya. Namun, gagal. Semua usahanya itu sia-sia saja, air mata itu meluncur bebas dengan deras tanpa mengeluarkan isakannya.

Ya. Heewon menangis dalam diam.

Heewon merutuki dirinya sendiri, ia terlalu kekanakan, tak berpikir realistis. Harusnya ia menerima candaan Jungkook yang ringan itu tanpa rasa menyindir. Iya, Heewon tersindir akan ucapan Jungkook.

Bukan karena kata menggoda, namun kata ‘seksi’nyalah yang membuat dirinya tersindir.

“…Agar terlihat seksi?”

Maksudnya apa? Harusnya Jungkook tahu diri bahwa dirinya tak seksi, bahkan seumur hidupnya tak merasakan tubuhnya seksi. Dulu, tubuhnya kelewat kurus dan sekarang kelewat gemuk. Tak ada yang sempurna.

Pikirannya saat ini menerawang. Apa yang dilakukan Jungkook disana? Apa ia sudah tidur? Harusnya suaminya itu menemaninya dengan pelukan hangat dan menceritakan dongeng yang ia sukai. Namun, egonya itu membuat dirinya melakukan kesalahan yang fatal.

Jungkook marah? Atau hanya kesal?

Entahlah. Kedua kata itu berbeda tipis.

Alih-alih atensinya, Heewon meraih bantal yang selalu suaminya gunakan untuk tidur, memeluk barang tersebut dengan erat kemudian menenggelamkan kepalanya disana.

“Maafkan aku, Jungkook. Kau tak salah.” Lirhnya dengan isakan pelan.

Bohong jika Jungkook telah beranjak pijakan di luar kamar, nyatanya dirinya tengah berdiri di depan pintu sembari mendengar apa yang dikatakan Heewon. Ia terlalu penasaran apa yang membuat Heewon mendiamkannya walau sejemang itu.

Dadanya kini merasa sakit mendengar isakan tangis yang mulai mengeras, Jungkook merasa bahwa dirinya terlalu keterlaluan dalam hal tindakannya. Bukankah itu hal sepele?

Namun, rasa kesalnya telah mendominasi. Ia tak suka di diamkan oleh pujaan hati, ia suka Heewon cerewet, menggodanya dengan kecentilannya.

Heewon memang wanita penggoda kelas kakap tapi hanya untuk dirinya seorang. Bayangkan saja dirinya sebelum hamil, keagresifannya melebihi hormonnya. Ia selalu mengganggu dirinya ketika menjelajahi skripsi kantor, dan Heewon memeluknya dari arah belakang sembari melumat lehernya dengan pelan. Apa itu sedikit … rrrr … susah dijelaskan. Mana ada lelaki yang tahan digodai oleh sang tercinta, jujur saja, Jungkook mengikuti permainannya sampai akhir. Sampai skripsi itu terbengkalai habis selama seminggu penuh.

Mengingat hal itu, Jungkook tersenyum. Namun, mengingat sekarang dia masih tersenyum sembari menampilakan rasa kemirisannya. Saat ini, ia meninggalkan bebas daun pintu kamar mereka menuju kamar sebelahnya yang terhalangi ruangan kerjanya.

Ia meninggalkan Heewon sendirian di tengah-tengah dirinya butuh kasih sayang Jungkook seorang. Lalu, siapa yang egois?

Di berbeda ruangan. Jungkook meraih handuk cadangan untuk membersihkan badannya yang lengket, dan setelah ini Jungkook akan tidur;mengistirahatkan badannya yang lelah itu.

Beberapa menit kemudian Jungkook keluar. Tatapannya kini tertuju pada kasur berwarna cream itu, biasanya Heewon selalu mempersiapkan baju tidurnya di atas kasur sembari menyambutnya dengan senyuman. Namun, malam ini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Tak ada perhatian Heewon, meski ini pasti sementara. Mereka berdua pastinya tak kuat dengan ego masing-masing dan memutuskan untuk berdamai.

Ia mengacak rambutnya yang basah itu. Beberapa langkahnya ia urungkan pada lemari berwarna coklat keputih-putihan untuk mencari kaos yang akan dikenakannya sebelum tidur. Setelah itu Jungkook membaringkan tubuhnya ke kasur, merebahkannya dengan tenang sembari merilekskan otot-otot persendiannya.

Saat ini ia tengah berusaha memejamkan mata yang terasa sepi nan hambar. Malam ini menurutnya ia merasa tidur di tengah hutan sepi tak berpenghuni. Sosok Heewon memang sangat perlu di kehidupannya.

Tubuhnya menyamping ke kanan, tempat biasanya Heewon tidur. Mengelus permukaan kasur sembari membayangkan dirinya tengah bermesraan ria di tengah dinginnya malam. Sesaat, perasaannya terasa ganjil. Ada yang salah dengan salah satu organnya itu.

Jungkook menatap tangan kanannya;tempat yang selalu di pergunakan ia makan. Mengingat sesuatu yang membuat dirinya resah, hatinya terasa kosong, tak mempenuhi syarat.

Jungkook ingat saat ini. Kebiasaannya ia lupakan karena pertengkaran kecil ini.

“Aku belum mengelus perut istriku dan memberikan selamat malam pada bayiku, belum menciumnya, membelainya, mendengar detak jantungnya dan bercengkrama ria dengan bayiku. Oh, Tuhan….”

Jungkook mengusak rambutnya khawatir. Mengingat apa yang selalu ia kerjakan rutin. Bodoh! Dia benar-benar bodoh.

Jungkook lekas bergegas pada kamarnya yang terasa sepi dan dingin, kakinya itu mengantarkannya kembali kamar aslinya. Kamar Jungkook dan Heewon, tempat mereka bercerita, bercanda tawa, dan bercinta. Ia membuka kenop pintu dengan perlahan meski suara gaduh tak bisa diatasi.

Dilihatnya, Heewon telah meringku dengan balutan selimut lembutnya. Tubuhnya itu berbaring ke kiri menghadap tempat Jungkook tertidur. Seperti beberapa hari yang lalu di saat Heewon tengah menunggunya sampai larut malam. Tangannya itu tengah memeluk bantalnya dengan erat.

Perbuatan Heewon membuatnya mengulum senyum. Ia menghampiri istrinya itu yang tengah terlelap tanpa menghapuskan jejak air matanya di pipi.

Jungkook berbaring perlahan, menatapnya wajahnya lekat, meski Heewon sedikit mengerutkan dahinya sesaat.

“Jungkook … maafkan istri kampungan nan bodohmu. Ma … af….” Gumamnya yang melindur. Jungkook tertegun mendengar ucapannya itu, ia mengecup matanya pelan namun lama. Sakit rasanya jika dirinya benar-benar menyakiti istrinya itu.

Perlahan bibirnya itu terasa geli akan gerakan bulu matanya. Ya, Heewon bangun. Menatapnya sendu, Jungkook terkejut, ia berhasil mengganggu tidur sang istri tercinta.

“Ma-maaf, a-aku—”

Jungkook bungkam saat ini sekaligus terkejut. Heewon melumat bibirnya pelan serta mengeluarkan cairan hangat yang membasahi pipinya. Sesakit itukah? Heewon melepas ciuman itu dan menatapnya nanar.

“Kau bosan suamiku? Sehingga tak membalas ciumanku? Tidak apa-apa, kau berhak seperti itu karena kau raja disini, imam disini. Kau segalanya dalam urusan ketua rumah tangga.”

“Aku takkan pernah bosan denganmu, Heewon. Maaf jika menyinggungmu.”

“Sudah terbukti bahwa dirimu tak menyayangiku lagi. Kau tak memanggilku dengan ucapan kata sayang….” Lirihnya yang terisak. Jungkook menangkup pipinya dengan hangat, ia menatap buliran air mata yang sangat berharga baginya.

Entah dari mana dorongan kuatnya itu, ia meraih tengkuk Heewon secara perlahan agar tidak sakit. Menyambar bibirnya pelan dengan penyatuan bibirnya. Lumatan-lumatan itu semakin dalam seiringnya waktu tanpa memperdulikan bahwa Jungkook tengah berganti posisi. Ia tak membaringkan lagi kepalanya, namun saat ini kepalanya telah naik keatas sembari menyempitkan badannya dengan Heewon.

Jungkook melepaskan pagutannya itu, menatapnya kembali dengan menyiratkan keyakinan cinta.

“Masih ragu, permaisuriku?”

“Jika aku bosan padamu, mungkin dari dulu aku akan membuat surat perceraian kita. Kau tahu, dulu aku sedikit bosan dengan hidup rumah tangga kita yang memang tak mempunyai momongan. Namun, tak ada sedikit pun ada pikiran di otakku untuk bercerai denganmu, melainkan diotakku ini memikirkan bahwa kita akan mengangkat anak dari panti asuhan. Namun, mungkin Tuhan tak mengizinkan, kau hamil, mengandung anakku….” ucapnya yang terdengar serak. Ia mengelus perutnya perlahan kemudian menyibakkan selimut untuk menyentuhnya dengan leluasa.

Heewon tertegun akan sikap Jungkook, ucapannya membuatnya berhasil untuk  memercayainya dan meyakininya. Ya, Heewon tak perlu khawatirkan? Yang saat ini yang harus dikhawatirkan adalah kesehatannya.

Saat ini, Jungkook tengah mecium perutnya lama, bukan lagi kecupan berkali-kali. Bahunya naik turun dengan deruan napas yang sedikit tercekat. Jungkook berhasil menangis dihadapan bayi yang dikandungannya kini.

“Maafkan ayahmu ini, nak. Ayah baru sempat mengelusmu, memberikan sebuah ciuman hangat. Maaf….” Ucapnya. Jungkook mengelus perutnya lagi sembari memejamkan matanya. Ia memanjatkan doa yang terbaik untuk anaknya kelak dan rumah tangganya. Ayat-ayat suci itu ia lafalkan dengan tenang sembari memegang tangan Heewon yang hangat.

Jungkook sebenarnya merasakan bahwa Heewon tengah menatapnya lekat, ia menatap Heewon balik sembari menampilkan senyuman khasnya. Kecupan hangat di keningnya membuat Heewon terpejam sesaat sebelum Jungkook mendekatkan dahi mereka dan menggesekkan hidung mereka berdua.

“Sayang….”

“Ya?”

“Berjanjilah padaku dan Tuhan, bahwa ini adalah pertengkaran terakhir di kehiudpan kita. Tak ada lagi rasa marah, kesal atau pun lainnya. Janji?”

“Janji.” Jungkook tersenyum menanggapi jawaban Heewon. Ia merengkuhnya kembali tubuhnya itu dengan senang hati. Tak lupa bibirnya itu mengeluarkan kalimat yang selalu ia ungkapkan.

“Permaisuriku …  wanitaku yang kelak menemaniku di surga, aku menyayangimu, mencintaimu tanpa ada kata habisnya.”

TBC

Alhamdulillah sudah kelar aksi ngetikku. Mohon kritik dan saran, readers >,<

Love

—Gina’s

Coolbebh’s—

 

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Whimper (Chapter 5)

  1. Pingback: [BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Whimper (Chapter 5) – Hey You!

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s