[BTS FF Freelance] Jungkook Series; Flashback—About Taraxacum Officinale and Phalaenopsis spp (Chapter 6)

ir-req-jungkook-series-2-e1466503162886

Jungkook Series : Flashback—About Taraxacum Officinale and Phalaenopsis spp. Chapter 6

Cast ; Jeon Jungkook [BTS’s], Nam Heewon [OC’s]

Genre ; Married Life, Slice of Life

Length : Chaptered

Rate ; PG-15

/About 1,925 words\

.

.

Warning! To much typo.

Coolbebh’s Present ** 2016

Aroma makanan telah menyeruak mantap pada ruangan dapurnya yang cukup menampung lima orang. Sayangnya, di rumahnya hanya dihuni dua orang tak lebih. Dia dan sang suami. Dirinya kini sedang berperang ria pada perabotannya yang kini selalu menemaninya setiap hari. Tak ada bosan-bosannya memang untuk meluangkan waktu bermasak ria yang hanya sekedar bermanja lidah bersama suami.

Jeon Jungkook. Ya, benar. Pria itu berhasil mempersuntingnya secara sah dihadapan Tuhan dengan seizin orangtua masing-masing. Meski dia pernah meragukan rasa cinta Jungkook padanya, segala sesuatunya. Hati manusia tidak ada yang tahu bukan?

Bisa saja suaminya itu hanya berpura-pura cinta namun dibelakangnya menghunuskan pedang melebihi ketajamannya. Bukankah itu menyakitkan? Namun, dengan usahanya berserah diri pada Tuhan, dia benar-benar bisa meyakinkan hatinya. Tak meragukan lagi rasa cinta, kasih dan sayang suaminya untuknya kini dan selamanya.

Tuhan memang adil, selalu berlaku seperti itu pada umatnya. Tak peduli bahwa umatnya menyeleweng pada agamanya sendiri, tetap saja ia akan memberikan limpahan harta yang tak bisa dihitung oleh jari.

Jeon Heewon, nama itulah yang kini tersematkan padanya. Ia saat ini telah menyandang status Ny. Jeon yang sah. Pandangannya kini melirik lekat pada mejanya yang telah penuh akannya makanan yang melezatkan dan memanjakan isi perutnya.

Dihirupnya aromanya, memang benar-benar menggoda. Sekilas, ia melirik jam dinding yang sudah berdenting menunjukkan Pukul 07.00 PM. Sebentar lagi Jungkook akan segera pulang ke rumah sederhananya.

Ia urungkan untuk membersihkan perabotan seperti panci, teflon, wajan dan sebagainya untuk terlihat enak dipandang.

Sebenarnya … ini baru pertama kalinya ia memasakkan makanan enak sebanyak ini, mulai sundubu-jigae kesukaan suaminya sampai dengan japchae. Pipinya terasa panas karena suatu yang menggelitikkan hatinya jika mengingat hari ini.

Hari yang special di kehidupan Rumah Tangganya. Apa itu?

Segera ia bersihkan sisa-sisa bumbu pada mejanya yang memang terlihat kotor. Kemudian dia bergegas mencuci tangan untuk menghilangkan bau amisnya. Kali ini dirinya akan melihat tata riasnya, takut-takut rusak atau pun pudar. Itu bisa membahayakan acara malamnya.

Rasanya hari ini dirinya sangat dipenuhi kesenangan yang amat menjalar tumbuh subur.

Tunggu! Ia lupa akan apa yang dipikirannya. Sesuatu yang kurang enak dipandang di meja makannya yang telah tertata rapi. Lantas apa itu?

Lilin.

Ya, benda itu syaratnya akan membangunkan keromantisan dan keharmonisan rumah tangganya kini, apalagi suasana lampu yang sedikit remang-remang dan ditemani musik harmonisasi klasik yang indah. Bukankah itu … manis?

Ia meletakkan benda tersebut sebanyak empat lilin untuk terlihat kesan dramatis dan romantis.

Ia tersenyum sejemang melihat perbuatannya kali ini. Jujur, Heewon merasa pipinya memerah dikala mengingat apa yang telah mereka lewati selama ini.  mulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Kemudian, dirinya mendudukkan pantatnya itu untuk merilekskan badannya yang terasa sedikit lelah, sesekali pandangannya itu telah menempati Pukul 07.45 PM. Ia mendengus pelan, rasa khawatir bercampur kesal telah mendominasinya saat ini. kemana suaminya itu? Apa dia akan mengingkari janjinya?

Tidak. Jungkook tidak seperti itu.

Lantas, punggungnya itu ia senderkan pada penyangga kursi yang ditempatinya. Beberapa kali ia menguap;rasa kantunknya telah menyerbunya saat ini. ia bosan menunggu Jungkook, omong-omong.

Tak terasa waktu semakin berlalu, sangat jauh ekspektasi, keluar dari janji. Oh, ayolah … Heewon telah bosan menunggu.

Tangannya kini sedikit menyentuh makanan tersebut, diletakkan telapak tangannya ke atas mencari kondisi sang makanan.

Dingin. Uapnya telah hilang. Ia merenggut kesal, rasa kecewanya tak bisa diobati saat ini. Dirinya sudah menunggu Jungkook beberapa jam. Namun, batang hidungnya tak nampak di penglihatannya.

Secara tak sadar, kepalanya itu telah tenggelam pada tangannya yang bertumpuan meja. Ia lelah, sungguh. Lilin yang dinyalakannya tak bisa terkondisikan dengan baik, mereka telah melebur dengan waktu yang semakin berlanjut.

Heewon berhasil terlelap karena suatu rasa kelelahannya yang mengerubuni jiwanya. Dengkuran halusnya kini telah menguar, menggantikan melodi klasik seperti Beethoven contohnya.

Matanya yang terpejam itu semakin dalam, mengantarkan dirinya pada alam mimpi.

Namun, dibalik itu semua. Seseorang yang telah ditunggunya telah datang. Meski tak tepat waktu. Ya, Jungkook telat selama dua jam. Keterlaluan memang.

Derap langkahnya mengantarkan bunyi yang lembut nan tenang. Kini, dirinya menajamkan pendengarannya yang berhasil membawanya pada ruang makannya. Pandangannya kini tengah tertuju pada objek yang selalu mendebarkan hatinya.

Sejenak, dirinya memandang makanan yang terjajar rapi tanpa ada noda sedikitpun. Dan itu semua makanan kesukaannya, ia mengulum senyum bangga. Kini Jungkook meraih kepalanya yang tengah tenggelam ria dibalik lengannya itu. Tangan besarnya mengelusnya perlahan sembari mencium pucuk rambutnya yang terasa harum.

Sebenarnya ada acara apa ini? Bukankah ulang tahunnya masil lama? Entahlah….

Niatnya saat ini adalah mencuci tangannya terlebih dahulu kemudian mengambil secukil nasi pada piring yang sudah tersedia disana. Ia mengambil beberapa makanan yang menggugah selera itu. Sebelum dirinya melahap makanannya, ia menatap Heewon lekat.

Kemudian tangannya itu perlahan akan menyentuh pundaknya. Namun, terlambat. Heewon telah bangun dari tidur singkatnya, beberapa kali Heewon mengerjapkan matanya yang kini terasa berat dan tangannya itu terasa pegal. Ia menatap Jungkook dengan raut wajah datar.

“Selamat malam, sayangku….”

“Hmm.” Hanya itu yang berhasil Heewon keluarkan saat ini. ia benar-benar malas akan melakukan komunikasinya bersama sang suami. Lebih baik ia beranjak dari kursi ini kemudian bergegas tidur.

“Kau mau kemana, sayang?’ cegatnya. Genggaman hangat itu membuat langkahnya berhenti sejenak, “Tidur. Aku lelah.” Balasnya.

“Tak menemaniku makan, hm?”

“Tidak. Jangan dimakan, Jung. Makanannya sudah dingin, tak enak.”

“Tidak masalah, asalkan ini buatan istriku tercinta. Aku siap memakannya dengan senang hati.”

Kini Heewon hanya menatap Jungkook datar meski sang suami tengah mengulum senyum tulus. Perlahan, ia melepaskan genggaman Jungkook itu. Ia akan pergi dari ruangan ini dan beristirahat ria dibaluti selimut. Namun, lagi-lagi langkahnya berhenti. Walau sangat berbeda dengan dari yang tadi. Jungkook memeluk pinggangnya dari arah belakang sembari menenggelamkan

kepalanya di ceruk lehernya. Jantungnya berdetak melebihi dari biasanya, aura panas yang menjalar di sekujur tubuhnya sangat terasa. Bahkan seperti sengatan listrik kecil.

Sehebat itukah Jungkook meluluhkan sang permaisurinya?

“Sayang … temani aku makan, ya?”

“Tapi, aku—“

“Selamat Hari Anniversary yang ke satu tahun, istriku.” Ucapnya sembari membalikkan tubuhnya dan mengecup keningnya ini. Heewon tertegun tak bisa berkutik apapun saat ini. benarkah Jungkook mengingatnya?

“Kau mengingatnya?”

“Tentu. Hari yang paling bersejarah di kehidupanku….” Jungkook menghela napas sebentar, “…maafkan aku terlambat pulang. Namun, niatku untuk merayakan ini semua tentunya sudah direncanakan olehku jauh-jauh hari. Kau percaya ‘kan padaku?” lanjutnya. Heewon mengangguk paham, ia segera menghambur pada pelukannya yang sangat hangat dan nyaman. Jungkook membalasnya dengan senang hati, ia memberikan elusan lembut itu di pucuk rambutnya. Mereka tersenyum sembari menikmati debaran jantung masing-masing.

Detak jantungnya memang melebihi alunan music hiphop atau pun disco.

Mereka melepaskan pelukan dengan berbarengan sembari menukar senyuman menampakkan ketengan. Sejenak, Jungkook menyatukan dahinya sebelum mencium bibirnya perlahan. Yang memang berhasil dibuat melayang ke langit sana.

“Heewon … aku mempunyai sesuatu untukmu.”

Jungkook membuka tasnya itu kemudian mengambil benda yang dirahasiakan untuknya. Benda yang menjadi saksi bisu untuk malam yang special bagi mereka.

“Untukmu.” Jungkook menyodorkan sebuah benda yang lucu itu namun tak bisa menghilangkan aksen keindahannya. Sederhana dan simple, namun sangat bersejarah bagi Heewon.

“Bunga?” Jungkook mengangguk membenarkan. Ia menghirup bunga itu perlahan, dan menatap Jungkook yang tengah mengulum senyum dengan tatapan lembutnya. Bisakah ia ingin berteriak bahagia?

“Kau tahu mengapa aku memberikan bunga-bunga yang murahan namun mempunyai filosofi yang tinggi?” Heewon menggeleng pelan, “Karena, cinta berawal dari kesederhaan yang dibaluti kesucian hati. Kau tahu bunga apa ini?”

“Dandelion.” Jawabnya.

“Dan ini?”

“Anggrek.”

“Benar, dandelion mempunyai sejarah panjang dikehidupannya. Seperti cinta kita,” Jungkook mulai meremas bahu Heewon dengan lembut namun tatapannya menyiratkan keseriusan yang amat dalam, “Dandelion selalu mendapatkan kehidupan yang tak layak seperti bunga-bunga lainnya, dia selalu diabaikan, selalu diinjak tanpa memperdulikan bahwa dirinya juga merasakan sakit pada batang tubuhnya, tempatnya tak bisa dikatakan baik tak seperti bunga-bunga lainnya yang selalu mendapatkan pot yang indah dengan pemberian pupuk yang berkualitas tinggi. Dandelion memang tumbuh secara liar dengan kehendak Tuhan. Namun, ingatlah … ketika dirinya diterpa angin dan membaur kesana-kemari sesuai jalur yang ditentukan, dia tetap memberikan benih-benihnya dan tumbuh dikehidupan barunya tanpa melupakan kodrat asalnya.” Jelas Jungkook.

“Seperti cinta kita, sebesar apapun kita dipisahkan oleh sesuatu yang tak bisa dikatakan oleh bibir, tetap saja kau dan aku tetap menyatu tanpa sedikit kata lelah yang dirasa oleh hati. Tuhan sudah menggariskan bahwa kita berjodoh. Dandelion sangat kuat, cinta kita pun seperti itu. Meski, dandelion sangat dipandang sebelah mata, tetap saja ia takkan lelah memperjuangkan hidupnya. Apakah kau ingat sebesar apa perjuangan kita mempertahankan rumah tangga kita, sayang?” Heewon menggeleng, “Kita saling cemburu, saling mengatur ego masing-masing, tak dipungkiri memang kita sering bertengkar karena hal yang sepele. Oranglain berkata bahwa diriku sama sekali tak pantas untukmu, karena kau sangat sempurna, Heewon. Oke, manusia memang tak sempurna, namun jika manusia dibandikan dengan hewan, manusialah yang menang. Karena manusia mempunyai akal dan nafsu,”

Jungkook merengkuh Heewon kedalam pelukannya yang hangat. Ia memberikan usapan lembutnya pada punggung Heewon, sungguh saat ini Jungkook merasakan bahwa baju kemejanya saat ini terasa lembab, Jungkook tahu bahwa Heewon tengah menangis di pelukannya. Dipikirannya saat ini adalah rasa takut; bahwa yang apa dilontarkannya itu salah.

“Jangan menangis, Heewon-ku.” Jungkook berkata. Ia melepaskan pelukannya, kemudian mengelus pipinya lembut sembari menghilangkan jejak air matanya yang dianggap sangat berharga bagi Jungkook.

“A-aku sangat beruntung memlikimu, Jungkook.”

“Dan aku sangat-sangat beruntung memilikimu seutuhnya.” Balasnya. Jungkook tersenyum. Tangannya itu berhasil mengusap rambutnya yang berwarna hitam legam. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya itu.

“Heewon, apa kau tahu arti bunga anggrek?” Heewon menatap bunga anggrek itu dengan lamat dan mengusapnya dengan lembut. Ia menatap Jungkook yang kini sedang menghimpit jarak, senyumannya ia berikan kepada sang suami sembari gelengan pelan yang dibarengi.

“Banyak manusia yang menyukai keindahan anggrek yang notabenenya harus membutuhkan perawatan ekstra dan kesabaran yang tinggi. Bahkan, jika si pemilik tersebut tak bisa ulet dan teliti dalam hal mengurusnya dia akan mati sia-sia. Namun, ketahuilah, jika dia sudah mati dan tumbuh kembali sepuluh tahun yang akan datang, dia akan tumbuh dengan baik dan sangat indah dibandingkan dirinya yang dulu tumbuh biasa-biasa saja. Aku berbicara seperti ini karena ada hubungannya dengan kita, Heewon. Kita sebagai umat Tuhan harus selalu bersabar dalam hal ujian yang diberikan oleh Tuhan. Di dunia ini tak ada yang instan, tugas kita hanya berusaha dan berdoa.”

“Dan kita harus senantiasa menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga kita tanpa ada rasa goyah sedikitpun. Nikmatilah setiap prosesnya dan Tuhan pasti akan memberikan keindahan yang sangat besar jauh diluar nalar manusia. Bukankah begitu, sayangku?”

Heewon menitikkan air matanya lagi, ia tak kuat dengan rasa bendungan air matanya yang menyuruhnya keluar tanpa ada rasa paksaan. Sungguh, ini bukanlah momen yang menyedihkan namun haru biru yang menyelimutinya saat ini. ia benar-benar sangat beruntung memiliki suami yang seperti Jungkook, sempurna dimatanya.

“Kau berjanji takkan meninggalkanku, Heewon?”

“Aku tak bisa berjanji, karena maut akan pasti memisahkan kita, Jungkook….” Heewon menghela napas sebentar, “…satu kalimat yang ingin aku ucapkan untukmu saat ini,”

“Apa itu?”

“Jangan mudah berpaling dariku, karena sebab yang tak dimasuk akal. Maafkan aku, jika diriku belum menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku belum bisa memberikan malaikat kecil di kehidupan kita yang membuat kita menjadi lebih dewasa.”

“Tak apa, terkadang hal indah harus mempunyai proses yang panjang. Dan aku percaya itu, Tuhan mempunyai rencana yang baik untuk rumah tangga kita, dan mungkin saat ini Tuhan belum mempercayakan kita menjadi orangtua yang seharusnya mendidik anaknya dengan baik dan tulus. Jangan khawatir, kita tak berduduk diam ‘kan? Toh, setiap malam Jumat kita selalu melakukan itu dan hari minggunya pula. Jika itu kau tak PMS, sih.”

“Ish! Dasar mesum!” Heewom memukul dada Jungkook pelan membuat orang yang dihadapannya terkikik geli, “Tapi, kau suka ‘kan? Apalagi isinya.”

“JUNGKOOK!!”

THE END

Please give me a review.

Regards

—Gina of coolbebh’s ❤

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Jungkook Series; Flashback—About Taraxacum Officinale and Phalaenopsis spp (Chapter 6)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s