[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Flashback—Fight of Love (Chapter 7)

ir-req-jungkook-series-2-e1466503162886

Jungkook Series : Flashback—Fight of Love Chapter 7

A story by ; coolbebh’s

Jeon Jungkook [BTS’s], Nam Heewon [OC’s]

| PG-15| Married Life, Slice of Life | Chaptered

1,420 words

.

.

Coolbebh’s Mempersembahkan **

Jungkook POV

Seoul, 15 Mei 2014

 

Ini adalah malam pertama kami dalam pernikahan kami yang di gelar sejak pagi hari.Penuh haru dan rasa tak percaya.Bayangkan saja, diriku yang brengsek ini bisa memiliki Heewon –wanita sempurna– meski belum seutuhnya. Tak apa, dia memang sangat kelelahan untuk menjalani persepsi tadi.

 

Tubuhku juga memang merasakan remuknya tulang sampai keujung-ujung, apalagi Heewon?Dia menggunakan gaun panjang putih yang melambangkan kesucian yang mendalam.Jujur, dia sangat cantik pada saat ayahnya menuntunnya dan memberikan padaku di altar. Dengan polesan yang lucu nan lugu, namun tak menghilangkan sikap kedewasaannya dalam menghadapi masalah.

 

Ketika kami mengucapkan janji bersama di hadapan Tuhan dan inilah momen yang kutunggu-tunggu itu, mencium bibir ranumnya yang sangat mencandukan hatiku. Rautnya menyiratkan akan kegugupan, dia selalu tertunduk menghindari sentuhan tanganku pada tengkuknya. Lucu sekali.

 

Heewon memang masih polos, tak pernah diriku menghancurkan kehormatannya demi memuaskan nafsuku ini.Toh, ada waktunya ‘kan?Dan saat ini adalah waktunya.Namun, sayangnya … gambaran-gambaran indah sembari diliputi kegugupan itu punah sudah.Heewon terlelap didekapanku sembari mendengkur halus, dan ini adalah pertama kalinya diriku mendengar dengkurannya yang membuatku selalu tersenyum.

 

Dia begitu lelah, terlihat dari cara bernapasnya yang tak terlalu beraturan, bahkan suhu badannya juga terasa sedikit panas. Membuatku khawatir saja.Bukan Heewon namanya jika tak keras kepala.Ia benar-benar wanita yang tak suka dinasehati jika menurutnya itu benar. Huh, kau memang tak peka Heewon.

 

Jika kau sakit, bagaimana bisa kau melayaniku sebagai suamimu?

 

Aku saat ini tak bisa mengistirahatkan tubuhku.Hanya menatap wajahnya yang tenang yang bisa kulakukan saat ini.dia begitu indah di mataku, sungguh, Tuhan benar-benar Maha Kuasa memahat wajahnya yang mungkin bidadari surga pun kalah dengannya.

 

Kehadirannya membuatku sadar bahwa cinta itu benar-benar begitu manis, gila akal, dan selalu melakukan hal konyol lainnya demi mendapatkan perhatiannya.

 

Tepat empat tahun yang lalu, aku pernah—ralat sering mengkhianatinya dengan diriku sendiri. Mengabaikannya seolah-olah tak peduli dengannya, membuatnya menangis tersedu-sedu ketika diriku terpergoki sedang melakukan ciuman panas dengan selingkuhanku, bahkan … parahnya diriku pernah mengatakan dirinya wanita murahan yang mengejarku;mengemiscinta.

 

Dan saat ini, yang dia lakukan berbalik padaku.Mengemis cintanya yang hampir punah.

 

Oke, cukup.Kesalahanku padanya tak bisa dihitung jari, dan ini sebabnya aku menyesal padanya yang telah menyakitinya dari arah belakang.Nyatanya, saat dia pergi dariku dan berpaling pada lelaki yang memang lebih tampan dariku, lebih sempurna, lebih pintar dan kaya, hatiku terasa uring-uringan tak bisa melakukan apapun.Hanya beberapa botol soju yang bisa menenangkanku kala itu.Meski dulu, diriku masih dibawah umur.Apalah daya, cinta membuat diriku gila.

 

Semua yang aku lakukan kepada wanita bayaranku hanyalah sebuah nafsu belaka, jujur, Heewon benar-benar tak ingin memberikan sesajen lekuk tubuhnya padaku, lumatan bibir seinci pun tak pernah ia beri. Dan itu membuat diriku bosan, sungguh iblisnya hatiku kala itu.

 

Mungkin pada saat aku melakukan hal kepada wanita yang bukan Heewon, hatiku bisa merasakan indahnya surga dunia dan kebahagiaan. Namun, persepsi itu salah! Salah besar! kebahagiaan yang aku dapatkan hanyalah sekejap mata, masih bisa dihitung waktu.

 

Berbeda dengannya, wanita yang berhasil aku sunting secara sah dan penuh perjuangan, kebahagiaan yang aku dapatkan begitu berlimpah dan memang tak bisa dikatakan oleh bibir.Meski, saat ini, detik ini diriku belum bisa memilikinya seutuhnya yang aku bisa.

 

Aku rasa, diriku benar-benar tak pantas untuknya.Buktinya, ketika diriku ingin memintanya kembali padaku— beberapa badai menghadang selalu menyerbuku bertubi-tubi.Hatiku sakit, sunggu.Namun, aku memang pantas mendapatkan itu semua.

 

Kebahagiaan Heewon adalah kebahagiaanku juga.

 

Ketika telingaku mendengar berita bahwa Heewon berpacaran dengan rivalku itu, Kim Taehyung.Hatiku panas, ingin memukulnya dengan sebuah pukulan telak yang mematikan.Apalah daya, aku bukan lagi siapa-siapanya.Dan memang, Taehyung lebih sempurna baginya.Beberapa usaha yang aku coba seperti meminum racun dan bunuh diri nyatanya tak bisa memutuskan hidupku begitu saja.

 

Heewon benar-benar memenjarakan hatiku dengan erat dan tak bisa keluar begitu saja.Aku sadar itu.Aku membutuhkannya, separuh napasnya adalah milikku.Dia adalah bidadariku yang pantas menjaga malaikat kecilku kelak nanti.Heewon adalah orang yang hebat, penuh rasa sabar dan tentunya pemikirannya yang luas.

 

Ia bisa keluar dari masalahnya tanpa sedikitpun orang andil dalam hal itu. Dia benar-benar wanita yang kuat.

 

Diriku saat ini memeluknya erat ketika sang istriku –Heewon– menyimpan tangannya di dadaku dan menelusupkan kepalanya, aku hanya bisa mengelus surainya dengan lembut tanpa ada niatan untuk membangunkannya.

 

Heewon, tidur saja kau sangat cantik.Bagaimana kau tidak tidur?Itu bisa membuatku gila dalam sekejap.

 

Kulihat dirinya melenguh lembut sembari mengucekkan matanya dengan pergerakannya sedikit kasar.Apa aku mengganggunya? Ia menatapku sembari masih menyipitkan matanya, tangannya kini menggenggam tanganku hangat. Dan saat itulah diriku tersenyum karenanya.

 

“Jung … belum tidur?”

“Menjagamu.”

“Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehataan.” Tegasnya yang masih digandrungi suara paraunya. Ku balas dengan senyumanku yang secerah mentari, namun, nyatanya ia masih memandangiku aneh.

 

“Sakit?”

“Eh? Tidak!”

“Habisnya kau senyum-senyum sendiri.” Balasnya sembari mengerucutkan bibirnya.Ia kembali menelusupkan kepalanya di dadaku sembari memelukku erat. Oke, ini adalah kedua kalinya kami melakukan skinsip yang memang oranglain lakukan sebelum menikah.Tanganku menyangga kepalanya sebagai pengganti bantalnya yang empuk itu.Hangat memang, yang membuat jantungku terpompa jelas.

 

“Aku tak menyangka jika kau berhasil meluluhkan hatiku lagi. Padahal—“

“Kau masih mencintainya?Maaf jika aku mennjadi orang ketiga dihubungan kalian yang sebentar lagi menginjak ke jenjang pernikahan.Aku memang tak pantas untukmu, Heewon.”

“Sudah kubilang, jika diriku tak mempunyai hubungan apapun.Kami hanya sebatas teman, tak lebih.Lagi pula, memangnya kau tak tahu, ya, jika wanita susah menghilangkan rasa cinta pertamanya?”Aku tertegun.Cinta pertama?Siapa?

 

“Kau, Jeon Jungkook. Kau cintaa pertamaku.Dan aku tak bisa menghilangkan perasaan itu meski, ya … lelaki itu memberikan secara lebih padaku dan dia memang telah mengungkapkan isi hatinya. Tapi, entahlah … sebuah kenangan dirimu dihatiku telah tergulung erat tak bisa dilepas begitu saja.” Jelas Heewon.Ia menatapku lamat tanpa berkutik apapun. Sebuah buliran air matanya berhasil meluncur bebas melewati pipi dan hidungnya.

 

“Heewon, jangan menangis.”

“Tidak, aku tidak menangis.Hanya saja aku sedikit bernostalgia.Aku memang perempuan bodoh dan memaksakan kehendak yang memang ingin memilikimu, Jungkook.”

“Sssstttt … berhentilah, aku yang bodoh menyianyiakan dirimu, sayang….” Kuusap air matanya yang semakin deras membasahi pipinya, aku tak bisa melihatnya yang semakin terpuruk karena diriku. Benar-benar brengsek kau, Jungkook!

 

“Aku sangat senang pada saat dirimu berusaha merebutku dari pelukannya.”

“Benarkah?Bukankah kau bahagia dengannya ‘kan?”

“Ya, memang.Tapi, aku lebih bahagia denganmu.”

 

Senyumanku mengembang tulus, manik matanya yang kecoklatan itu bergerak gerik menatapku.Aku menatapnya lekat dengan hembusan napas yang semakin memburu.Tanganku yang memegang tengkuknya kini di dorongnya pelan, menghapus jarak yang memang beberapa senti terhalang. Bibirku berhasil menemukan bibirnya yang kenyal akan kelembutan. Inikah rasanya wanita yang tak pernah tersentuh oleh lelaki? Sangat manis melebihi yang kurasakan dulu menjamahi wanita lain.Entahlah, suatu frasa tak bisa menandingi rasa yang aku rasakan saat ini.

 

Lumatanku semakin dalam, namun masih memiliki aksen kelembutan, aku meraupnya tanpa menyisakan seinci pun bibirnya yang memang saat dulu inginku jamah.Aku tak ingin mendapatkan kesan pertama yang menyakitkan di ciuman pertamanya.Tak ingin.

Yang aku lakukan adalah yang diperbolehkan oleh Tuhan.

 

Kulepas tautanku ini secara perlahan, benang saliva pun terlihat jelas membuktikan bahwa diriku berhasil merenggut ciumannya yang pertama kalinya.Aku merasa bangga, merasa dihormati sebagai lelaki.Dia benar-benar bisa menjaga tubuhnya untuk suaminya kelak, bukan untuk pasangannya yang tak jelas.Berbeda denganku, aku telah melepaskan hartaku untuk wanita lain.

 

Tanganku mengusap bibirnya yang kini memerah, senyumannya terukir disana membuat hatiku terbawa arus oleh cintanya.Bersiap-siaplah, diriku saat ini sedang mabuk kepayang.

 

“Heewon….”

“Ya?” ia menatapku lekat dan serius, adakalanya diriku gugup akan dibuatnya. Bibirku susah mengeluarkan kata yang ingin ku lontarkan padanya. Suasana atmosfer di seluruh kamar kami semakin dingin saja.

“Bolehkah aku meminta hak dan kewajibanku?” ucapku gamblang.

“Tentu saja.Bukankah ini adalah waktunya?”

“Y-ya….” Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.Bingung membalas percakapannya kembali. Oh, ayolah … ada apa denganku, huh?

 

“Jangan gugup, perlahan namun pasti, ya?”

“Bolehkah?”Heewon mengangguk setuju.

“Akan ku pastikan dirimu menjadi dewiku selamanya, Heewon.Dan mungkin jika di surga nanti bila tanpamu aku tak akan bahagia kendati berjuta-juta bidadari mengahampiriku untuk mendampingiku.”

“Aku percaya padamu, Jungkook.Suamiku.”

 

Kini, yang aku lakukan adalah memeluknya, memberikan rasa kenyamanan tanpa ada goresan tinta merah di kehidupannya lagi.Aku tak ingin menyakitinya lagi. Demi Tuhan, janjiku padamu bukanlah bualan semata.

 

Dan inilah awal kebahagiaanku dengannya.Membangun rumah tangga tanpa ada unsur kekerasan.Namun, dibaluti ketenangan merajut cinta yang suci.

 

TBC

Review, readers~

Love

—Gina

 

 

 

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s