[BTS FF FREELANCE] Your Love Sign Is Mine – [Series 3/Suga Version/Vignette]

cats

Title: Your Love Sign Is Mine [Series 3/Suga Version/Vignette]

Author: Classichamster

Lenght: Series/Vignette

Rating: PG-13

Cast:

Min Yoongi (Suga BTS)

Lee Yeonmi

Author note:

Cerita ini terdiri dari tiga series menggunakan judul yang sama akan tetapi menggunakan pemeran utama yang berbeda.

Series 1: Taehyung Version

Series 2: Jungkook Version

Series 3: Suga Version

Maaf atas segala kekurangan dan typo yang bertebaran.

Hope you like it.

***

“Jangan memberikan love sign sembarangan kepada orang lain kecuali aku!”

***

            Aku hanya bisa tersenyum tipis saat mengingat kekasih yang sangat aku cintai, mengangkat kedua tangannya di atas kepala lalu menyatukannya membentuk sebuah love sign kepada orang lain. Walau sebenarnya tidak rela jika dia bersikap begitu terhadap orang lain, tetapi apa yang harus kulakukan? Aku memintanya, tetapi jawabannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku inginkan di dalam hatiku.

“Suga, bisakah kau tidak memberikan love sign itu kepada orang lain?”

            “Memangnya kenapa? Aku kan tidak mengatakan bahwa aku menyukainya ataupun mencintainya.”

            “Kau tertawa riang gembira saat memberikan love sign itu kepada orang lain. Sedangkan kau tak pernah sekalipun bersikap seperti itu terhadapku.”

            “Sudahlah, hentikan. Sudah berapa kali kita berbicara tentang love sign itu? Jangan bertingkah manja.”

Ya, sudah sering sekali percakapan itu terjadi. Apa aku salah? Lihatlah, dia tak pernah memberikan love sign itu kepadaku, bahkan dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Aneh? Memang. Sepertinya hubungan ini hanya dianggapnya sebagai permainan. Sikap dinginnya itu, aku membencinya. Kapan dia bisa bersikap manis seperti kekasih orang lain pada umumnya?

“Suga, aku ingin boneka.”

“Boneka? Itu hanya untuk anak-anak perempuan. Yeonmi, kau sudah dewasa, bukan? Sudah kukatakan, jangan bertingkah manja.”

“Tapi–”

“Sudahlah jangan bicara lagi.”

Selalu seperti itu. Sudahlah, sebaiknya aku diam saja dan membiarkannya fokus menyetir mobil. Kami sedang berjalan-jalan, tetapi Suga tidak pernah mengajakku ke sebuah taman bermain atau hal-hal yang menyenangkan. Dia sering mengajakku ke tempat makan, museum, itu saja tidak ada yang lain.

Suga tak pernah mengatakan dia mencintaiku, bagaimana bisa ia menjadi kekasihku? Haha, rasanya aku ingin tertawa. Ya, kami berpacaran sekitar lima bulan yang lalu dan dia hanya bilang menyukaiku bukan mencintaiku. Dan bodohnya, aku langsung menerimanya karena kupikir dia orang yang ceria dan bisa menghiburku.

Lima bulan sudah berjalan? Yah, bisa dibilang lumayan lama dan aku bertahan sendirian. Entahlah, rasanya berat sekali mengakhiri hubungan ini. Kami yang selalu berjalan-jalan dan jarang berbicara satu sama lain, tetapi tak ada kata berakhir untuk hubungan ini. Walau hubungan ini terlihat kaku, tapi entah mengapa aku tetap merasa bahagia dan sesungguhnya aku juga nyaman berada di dekatnya. Itulah alasan mengapa aku sulit mengakhiri hubungan ini.

Aku mencintainya. Aku mencintainya.

“Apa kau lapar?” Tanya Suga membuka pembicaraan padaku.

“Tidak, aku tidak ingin makan.”

“Bagus, uangku tidak berkurang.”

Sialan. Sempat-sempatnya berpikir seperti itu.

“Adakah tempat yang ingin kau kunjungi?” Tanyanya lagi.

“Terserah kau saja ingin pergi kemana, kau kan takut uangmu habis!”

“Jika aku bertanya begitu, seharusnya kau menjawabnya dengan benar. Aku yakin ada tempat yang ingin kau kunjungi, bukan?”

“Terserah kau saja, Suga.”

“Sudahlah, terserah kau saja.”

“Taman bermain, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dengan berjalan kaki dan bersenang-senang.”

“Tidak! Itu seperti anak-anak.”

“Tadi kau bilang terserah!”

“Ya baiklah, terserah padamu. Kau ingin pergi kemana?”

“Taman bermain.”

“Aku tidak mau, Yeonmi. Sudah kukatakan, hal seperti itu kekanak-kanakkan sekali.”

“Kau bilang terserah aku hendak pergi kemana, seharusnya kau menuruti permintaanku!”

“Baiklah.” Ucap Suga pada akhirnya. Aku membelalakkan mataku tak percaya, jarang sekali dia menuruti permintaanku untuk pergi ke taman bermain. Akhirnya, dia mengerti juga dengan apa yang aku inginkan.

“Suga, kau serius?”

“Kita akan pergi ke restoran untuk makan.”

SHIT! Apa katanya? Tadinya kupikir dia akan menuruti permintaanku dan mulai berubah, nyatanya dia bersikap sama saja seperti hari-hari sebelumnya. Yang ada aku bisa gila jika terus-terusan seperti ini. Suga, kapan kau bisa mengerti?

“Kau mudah sekali merasa lapar!” Ketusku. Rasanya aku ingin menarik rambutnya itu dan menonjok rahangnya. Aku benar-benar merasa sangat kesal.

“Apa itu sebuah masalah untukmu? Aku yang merasa lapar, mengapa kau berbicara ketus begitu terhadapku? Atau sesungguhnya kau yang merasa lapar dan tidak sabar untuk makan?”

Terus saja begitu! Terus saja! Hubungan ini benar-benar gila, bahkan percakapan kami bukan seperti orang yang sedang berpacaran. Aku heran pada diriku sendiri, bisa-bisanya aku mencintai seseorang yang selalu membuatku kesal seperti ini. Dan bodohnya lagi, bagaimana bisa aku merasa selalu nyaman jika bersamanya padahal kami selalu mempermasalahkan hal-hal kecil? Aku rasa ada yang aneh pada diriku.

“Aku ingin pulang saja!”

Cyiiitt! Suga menghentikan mobilnya mendadak, membuatku hampir kehilangan kendali pada tubuhku. Kepalaku nyaris mengenai sisi depan mobil. Sial, apa-apaan sih! Seharusnya jika Suga terkejut dengan ucapanku tidak harus sampai seperti ini, bukan?

“Jika terkejut dengan apa yang kukatakan, jangan sampai seperti ini. Kau ingin aku terluka, hah?”

“Memangnya apa yang kau katakan? Aku berhenti karena ada kucing yang melewati mobilku dan nyaris tertabrak. Untunglah, kucing itu baik-baik saja sekarang.”

APA KATANYA?

Aku mengalihkan pandanganku ke depan, terlihat seekor kucing yang menjilati badannya sendiri lalu beranjak pergi. Astaga. Aku mengacak rambutku frustasi, malu sekali rasanya. Hhh~ Sudahlah, aku harus sabar. Jangan sampai aku benar-benar gila karena hal ini.

“Tadi, apa yang kau katakan?”

“Aku hanya ingin pulang.” Jawabku pelan, tetapi aku yakin Suga dapat mendengarnya karena sekarang mobilnya sudah mulai perlahan berjalan lagi.

“Kenapa kau ingin pulang?”

“Aku bosan. Aku mau hubungan ini berakhir.”

Kali ini, mobil terhenti lagi. Aku tidak tahu alasan mengapa Suga menghentikan mobilnya, tetapi aku dapat melihat ada eskpresi kekecewaan dari raut wajahnya. Eh t–tunggu, Sulit dipercaya, aku mengatakannya?

Aku terpaku bingung, dia hanya menunduk tanpa sedikit pun melirik ke arahku. Jarang sekali aku melihatnya dengan ekspresi seperti itu. Selang beberapa sekon, aku semakin terkejut ketika melihat airmata yang mengalir di pipinya. Tunggu, Suga menangis? Tapi.. kenapa? Harusnya dia senang bukan? Jelas saja, karena dia tidak pernah mencintaiku dan tak pernah peduli padaku.

Suga menoleh, matanya menatapku dengan serius. “Aku tahu, hubungan ini berjalan tak seperti yang kau inginkan.”

Aku tertegun. Kulihat ia menghapus airmatanya dan tersenyum menatapku, senyuman yang jarang dia tunjukkan dan sekarang terlihat manis sekali. Entah mengapa, hatiku tersayat dan terasa sangat menyakitkan. Senyuman yang digunakan sebagai pelampiasan untuk menyemangati dirinya yang kecewa. Ingin sekali rasanya aku bertanya, apakah dia benar-benar kecewa? Itu berarti jauh dari lubuk hatinya, dia tak ingin hubungan ini berakhir, bukan?

Tangan Suga terangkat, dia mengacak-acak rambutku dan masih tersenyum melihatku. Ada yang aneh, mengapa sikap Suga sangat manis sekali sekarang? Senyuman itu.. benar-benar telah menghangatkan hatiku. Mengapa? Mengapa ia bersikap manis saat aku sudah mengatakan kata berakhirnya hubungan ini? Suga, jangan membuatku menarik kata-kataku lagi, kumohon.

“Aku tidak tahu apakah kau sudah menemukan yang lain atau memang ada alasan tertentu. Maaf, jika aku sangat sering membuatmu tidak nyaman. Jika itu memang kemauanmu, baiklah aku dapat menerimanya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, sampai kapan pun, aku akan tetap selalu mencintaimu.”

Ctyaarrr! Bagai disambar petir, aku benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya. Kalimat yang diucapkannya, terdengar sangat bermakna untukku. Mencintaiku? Suga mencintaiku? Apakah dia bersungguh-sungguh?

            Kau harus tahu, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.

            Kau harus tahu, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.

            Kau harus tahu, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.

            Kau harus tahu, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.

            Kau harus tahu, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu.

Kalimat itu terus mengelilingi pikiranku. Hatiku, mengapa rasanya sesak dan sakit sekali? Rasanya ada yang menghantam hati ini bertubi-tubi, aku benar-benar tidak tahu harus berbicara apa lagi. Suga, sesungguhnya aku masih mencintaimu, tetapi aku juga tidak ingin kita terlalu sering mempermasalahkan hal kecil. Kita tak cocok, kita harus mengakhirinya.

Aku baru tersadar, ketika kurasakan ada yang menyentuh pipiku. Aku menoleh, menatap Suga yang masih tersenyum dan menghapus airmataku yang mengalir. Sungguh tak terduga, aku menangis? Haha, bodoh sekali. Aku yang mengakhiri hubungan ini, tetapi aku juga menangis? Bodoh.

“Kau mencintaiku atau tidak?”

Aku mengangguk, tanpa berkata apa-apa lagi. Rasanya sekarang sulit sekali untuk berbicara.

“Jangan akhiri hubungan ini, ya?”

Lagi-lagi aku menatapnya tak percaya. Apa Suga serius meminta itu?

“Apa kau yakin, Suga? Kau tidak mencintaiku, bukan? Mengapa kau seolah-olah tidak ingin hubungan ini berakhir?” Suaraku bergetar, aku masih tak percaya ternyata aku benar-benar menangis. Pabboya!

Suga menggeleng cepat. “Kau sudah dengar, bukan? Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Maafkan aku, mungkin kau mengharapkan aku banyak mengucapkan kata ‘cinta’ untukmu. Tapi kupikir, cinta bukan hanya sekedar diucapkan tetapi juga melalui perbuatan. Ehm.. bagaimana ya? Aku juga tak terlalu pintar dalam bersikap manis pada orang yang ku cintai. Rasanya gugup sekali..”

Setelah mengatakan itu, Suga kembali menghidupkan mesin mobilnya dan fokus menyetir. Aku mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya, tetapi aku tak menanggapinya karena bingung harus berbicara bagaimana lagi. Dalam perjalanan, diantara kami tak ada yang membuka pembicaraan lagi. Kami berdua hanya diam, terhanyut dalam pikiran masing-masing.

“Maafkan aku. Aku tak pernah mengajakmu ke taman bermain..”

Setelah sekian lama terdiam, kali ini Suga membuka pembicaraan, tetapi suaranya sangat pelan. Mungkin kejadian yang telah terjadi tadi membuatnya canggung.

“Memangnya kenapa kau tak mau? Bahkan kau mengatakan kau mencintaiku, tetapi kau tak mengabulkan permintaanku untuk pergi kesana.”

Aku menoleh untuk melihatnya, namun dia fokus menyetir dan diam saja tanpa membalas perkataanku. Raut wajahnya berbeda dan kesedihan itu masih terlihat jelas. Bukan sok tahu, tetapi itulah yang dikatakan perasaan hatiku. Aku.. seperti bisa merasakan kepedihannya. Ini aneh, tetapi apa yang membuatnya sedih? Aku merasa..

“Maafkan aku..”

“Apa kau benar mencintaiku?”

Lagi-lagi Suga menghentikan mobilnya perlahan. Kemudian ia menatapku seperti tatapan memohon.

“Ada apa, Suga?”

“Aku melupakan hal yang seharusnya tak kulupakan..”

“Maksudmu?”

Suga tersenyum, tetapi tersirat kesedihan dari ekspresinya. “Maukah kau menemaniku?”

“Menemanimu?”

“Dia..” Suga menunjuk sebuah foto anak perempuan kecil sambil tersenyum manis–sepertinya sekitar berumur tujuh tahun–berada di depan sisi mobil jok depannya.

“Dia adalah adikku.”

“Aku tahu, yang sekarang berada di Beijing, bukan?”

Suga menggeleng, “Dia alasan mengapa aku tak ingin pergi ke taman bermain.”

“Apa?”

“Maukah kau menemaniku ke pemakamannya hari ini?”

Aku tersentak. Apa katanya?

“Aku baru teringat hari ini hari ulang tahunnya. Maukah kau menemaniku?”

“Maksudmu.. adikmu telah.. Tunggu, bukankah kau bilang adikmu sedang di Beijing?”

“Aku berbohong.” Suga tersenyum lemah. “Aku mempunyai masa lalu yang kelam. Ketika aku berada di taman bermain, aku selalu teringat padanya. Ketika kau meminta boneka, atau hal semacamnya aku menjadi teringat padanya lagi. Ketika aku mengingatnya, rasanya sesak sekali dan aku benar-benar tak berdaya. Namun jika aku melupakannya, aku terlihat sangat menyedihkan dan tak punya hati, bukan? Aku harus bagaimana?”

Aku mengerti sekarang.

            Sungguh bodoh aku malah menyakiti hatinya. Suga menangis tanpa suara, dapat kulihat tak ada kebohongan dari pancaran matanya. Jadi, itu alasannya? Aku sangat paham sekarang mengapa Suga tak ingin membawaku ke taman bermain.

“Aku.. akan menemanimu.”

“Kau serius?” Suga dengan cepat menghapus airmatanya dan menatapku tak percaya.

Aku mengangguk. “Aku serius.”

“Kau minta apa saja pasti akan aku beli, tapi jangan yang aneh-aneh, ya. Kupikir sekarang aku sudah menemukan jawabannya.”

Alisku bertaut. “Jawaban?”

“Dari pertanyaan yang memenuhi hatiku. Bukan karena hal itu saja, aku juga punya alasan mengapa sulit sekali untuk pergi ke taman bermain. Aku akan mencobanya sekarang..”

“Kau ingin pergi ke taman bermain?”

“Setelah kita mengunjungi pemakamannya. Siapa tahu aku bisa menemuinya di taman bermain..”

Aku tersenyum simpul mendengarnya, walau yang dikatakannya terdengar mustahil. “Kau harus terus mengingatnya. Jika kau melupakannya, kesakitan itu akan semakin menusuk hatimu jika suatu saat nanti, tiba-tiba kau mengingatnya. Karena.. melupakan sesuatu yang telah terjadi tidaklah mudah.”

Suga menganggung cepat. “Terima kasih, aku lega sekali mendengarnya. Maaf, aku baru cerita tentang hal ini yang hanya diketahui olehmu dan Hyemi sekarang.”

“Hyemi mengetahuinya?”

[*Hyemi – Your Love Sign Is Mine (2)]

“Jangan cemburu terhadap tetanggamu itu. Hyemi hanya teman dekatku sejak sekolah menengah pertama.”

“Siapa yang cemburu?”

Suga terkekeh pelan mendengar ucapanku. Kemudian dia menyatukan tangannya di atas kepala membentuk love sign. “Aku mencintaimu..”

Aku tak percaya dengan ini. Suga melakukannya untukku?

“K..kau…”

“Aku sungguh mencintaimu.” Dia tersenyum, “Sangat mencintaimu..”

“Jangan berikan lagi love sign itu pada orang lain.”

“Kenapa?”

“Because your love sign is mine!”

Kami tertawa. Sebenarnya, masih banyak hal yang tak dapat kumengerti tentangnya, tetapi satu hal yang akan aku kuatkan di dalam hatiku.

Aku tidak akan ragu lagi dan akan percaya pada cintanya mulai dari sekarang.

FIN

***

Holla!! Akhirnya selesai juga cerita ini 🙂 Maaf atas segala kekurangan dalam cerita series ini, karena saya juga masih belajar, haha 😀

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF FREELANCE] Your Love Sign Is Mine – [Series 3/Suga Version/Vignette]

  1. kirito

    Kok yang bagian suga nyesek yah? Aku hampir nangis kalau nggak banyak gangguan di rumah ini-_- kan feelnya langsung ilang /malah curcol/ pingin ada sequel buat suga gatau kenapa wkwkwk.. nice FF thor

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s