[BTS FF Freelance] Trapped in a Marriage (Chapter 9)

Trapped in A Marriage (9)

Title

Trapped in a Marriage

Author

Yoohwanhee

Main Cast

Jung Hyerin [OC]

Jeon Jungkook [BTS] 

Kim Hanbin [iKon]

Kim Taehyung [BTS]

Ryu Sujeong [Lovelyz]

Genre

Romance, Marriage-Life, AU!, Conflic, School Life

Length

Chaptered

Rating

PG-15

Summary

Resiko dalam sebuah pernikahan adalah: Masalahmu, masalahku juga. Itu karena kita harus melengkapi satu sama lain, jangan biarkan sesuatu tersembunyi diantara kita. Kalaupun ada yang kau sembunyikan, izinkan aku untuk mengetahuinya. 

Disclaimer

BTS dan cast lainnya milik orangtua, agensi, dan Army, kecuali OC adalah milik author. Cerita murni hasil pemikiran author, so DO NOT PLAGIATOR. Jika ada kesamaan plot, tokoh, judul, dll adalah ketidak sengajaan.

SORRY FOR TYPO and HAPPY READING

Note: Cast dan rating bisa berubah disetiap chapternya.

pastedGraphic.png

Chapter sebelumnya:

“Ya, ada apa dengan Taehyung? Kenapa dia berjalan kemari?” Tanya Hyerin sembari menyikut pelan temannya yang berada tepat di sebelahnya. Belum sempat menjawab, Sujeong sudah di tarik duluan oleh Taehyung, membuat Hyerin yang duduk di sana membelalak kaget karena sikap Taehyung yang tidak biasa.

“Ya, kau kenapa? Kenapa tiba-tiba menarikku dan—“

“Diam dan ikuti aku!” Mendengar itu, Sujeong hanya bisa diam setelahnya namun masih tetap mencoba melepaskan genggaman tangan Taehyung di lengannya. Kini seluruh pusat perhatian tertuju pada Sujeong dan Taehyung. Bisikan-bisikan mulai terdengar sampai akhirnya Sujeong dan Taehyung keluar dari kelas.

Sementara Hyerin yang masih berada di dalam kelas terlihat bingung sendiri dengan sikap Taehyung yang tidak biasa itu. Sebenarnya apa yang terjadi antara Sujeong dan Taehyung? Ada apa Taehyung menarik Sujeong pergi begitu saja?

***

Oh astaga, Jung Hyerin telah tertidur di perpustakaan rupanya.

Sedetik kemudian, gadis itu mengacak-acakkan rambutnya dan menggeleng cepat. Berharap mimpi yang tadi itu hilang disaat ia menggelengkan kepalanya begitu. Oh sungguh, Hyerin benar-benar tidak ingin mimpi itu terwujud. Sama sekali tidak!

“Eew, geli.” Gumamnya sembari memeluk dirinya sendiri.

Hey, Jung Hyerin, jangan berlagak jijik seperti itu pada Jeon Jungkook. Toh pada akhirnya kau juga akan jatuh cinta pada lelaki itu, arra? Tapi tentu saja melalui cara yang berbeda dengan orang lain. 

Kau akan mencintainya dengan cara yang berbeda, dengan kisah percintaan yang begitu rumit dan memiliki tantangan tersendiri di dalamnya serta ditaburi berbagai masalah yang tidak akan ada habis-habisnya. . Kau akan menemani dirinya menghadapi setiap masalah dan mencoba menenangkannya. Kau akan mencintainya dalam kondisi apapun.

Karena itu pula, cinta mu padanya akan sangat berharga dan begitu berarti.

//Trapped in a Marriage//

-Cerita awal dibalik cerita ini-

//Trapped in a Marriage//

Kurang sabar apa Sujeong sampai harus diberi cobaan seperti ini?

Terik matahari yang begitu menyengat serta kaki yang pegal karena berlari dan naik tangga untuk sampai ke atap sekolah ini membuat Sujeong harus bisa terus bersabar. Rasanya ingin mengumpat kesal sekarang juga namun tidak bisa, mengingat dihadapannya kini berdiri seorang lelaki dengan wajah datar dan juga tatapan yang menghunus tajam ke arahnya. Ouh, sebenarnya ada apa dengan Taehyung hari ini?

“Aku sudah kunci pintunya jadi tidak akan ada orang yang bisa mendengar kita. Sekarang cepat jelaskan!”

Sujeong hanya bisa diam sembari menatap bingung Taehyung di depannya. Apa Taehyung gila? Dia yang menarik Sujeong ke sini, tapi malah menyuruh Sujeong menjelaskan sesuatu yang Sujeong juga tidak tahu apa itu.

“Jelaskan? Apa yang harus aku jelaskan?” tanya Sujeong.

Kini, malah Taehyung yang melemparkan pandangan bingung pada Sujeong. Oh astaga, apa ini game saling melayangkan pandangan bingung? Kenapa keduanya jadi kelihatan bodoh seperti ini?

Setelah mengambil nafas cukup panjang, Taehyung kembali buka suara “Tentang pernikahan kita…” ucap Taehyung, yang diikuti oleh tatapan bingung dari Sujeong. Awalnya Sujeong masih tidak mengerti dengan topik pembicaraan Taehyung saat ini, namun setelah mendengar kata ‘pernikahan’ di dalamnya, Sujeong jadi teringat sesuatu.

Pembicaraan dia dan ibunya di telpon saat di Jeju lalu.

Memang benar ia tahu mengenai pernikahan itu, tapi memangnya ada yang salah dengan itu? Lagipula ibu dan ayahnya belum mengajak keluarga Kim untuk memutuskan kapan mereka akan dinikahkan. Selama ini tidak ada kabar apa-apa dari kedua orangtuanya mengenai pernikahan itu, jadi Sujeong berpikir mungkin saja pernikahan itu tidak akan dilaksanakan. Karena itulah ia hanya menganggap pernikahannya dengan Taehyung itu adalah info sesaat saja yang tidak perlu di lebih-lebihkan.

Tapi, kali ini sepertinya apa yang akan disampaikan Taehyung adalah sesuatu yang penting dan itu berkaitan dengan pernikahan mereka. Beriringan dengan itu, firasat buruk kini mulai menyelimuti Sujeong.

Taehyung yang berdiri di hadapan Sujeong terlihat menatap lurus kedua iris gadis di depannya itu. Sebelum melanjutkan, Taehyung bertanya “Aku yakin kau pasti tahu tentang pernikahan kita. Tapi, mengenai yang satu ini, apa ibu atau ayahmu tidak memberitahukan ini padamu?” tanya Taehyung.

Sujeong menggeleng pelan “T-tidak… sama sekali. M-memangnya apa?” Ia memang tidak tahu apa-apa mengenai pernikahan itu. Kedua orangtuanya tidak pernah memberitahukan sesuatu padanya karena itulah ia tidak tahu menahu tentang pernikahannya dengan Taehyung itu.

Sebelum melanjutkan, Taehyung menutup matanya dan menarik nafas, lalu menatap lekat iris kecoklatan milik Sujeong kemudian bersuara “Ya, kita akan dinikahkan tiga bulan lagi, bodoh!”

Sontak mata indah gadis yang kini berdiri di depannya itu membulat seketika. Tiga bulan lagi? Apa dia tidak salah dengar? Sungguh, bagi Sujeong itu benar-benar tidak masuk akal.

“A-apa katamu?!”

***

Entah sudah yang keberapa kalinya buku ini di bolak-balikkan oleh Hyerin. Bukan bukunya, tetapi lembaran kertas di dalamnya. Dirinya bahkan tidak membaca satu katapun yang ada di dalam buku itu. Untuk apa? Tujuannya datang ke perpustakaan ini bukan untuk membaca buku, melainkan menunggu Jungkook.

Yah, dia pun tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang.

“Haah~ Membosankan” Gadis itu melempar buku ke meja dengan malas, kemudian bersandar pada kursi yang dudukinya sekarang. Sampai akhirnya ia memilih untuk menunduk di meja. Sepertinya mengangkat kepalanya sendiri saja ia sudah malas. Efek terlalu lama menunggu lelaki yang menyuruhnya menunggu disini.

“Hyerin?”

Menyadari namanya di panggil, Hyerin sontak mengangkat kepalanya. Itu suara Jungkook, jelas sekali di telinganya.

Benar saja, lelaki yang ditunggunya sedari tadi kini telah berdiri di sampingnya dengan menatapnya. Karena itu pula, Hyerin langsung mengalihkan wajahnya untuk tidak melihat Jungkook. Oh, sungguh, tatapan itu benar-benar mirip dengan tatapan Jungkook di mimpinya. Tatapan lembut itu, persis dengan tatapan Jungkook di mimpinya tadi. Hyerin merasa aneh saat dilayangkan tatapan seperti itu dari Jungkook yang dikenal memiliki sorot mata yang tajam setiap saat.

“Kau kenapa?” Sontak saja Hyerin kembali mengadahkan pandangannya pada Jungkook, tapi hanya sekilas lalu kembali menatap meja di depannya “T-tidak apa-apa. Oh! Kenapa lama sekali?” Tanya Hyerin dengan sikap yang sedikit salah tingkah. Sementara Jungkook yang melihatnya terlihat memasang tampang heran.

Setelah mengambil tempat duduk di samping Hyerin, Jungkook bersuara “Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu” ucapnya, membuat Hyerin yang berada di sampingnya menoleh dan melayangkan tatapan tanda tanya.

Jungkook pun mengadahkan pandangannya pada Hyerin “Apa mungkin kau mengenal Joo Hwayeon?” Tanya Jungkook. Dan itu sukses membuat Hyerin mengerutkan alisnya bingung. “Joo Hwayeon?” Ulang Hyerin sembari mencoba mengingat nama yang menurutnya cukup familiar di telinga nya itu.

Seingatnya, nama itu penah diucapkan Hanbin dulu. Entah Hyerin mengenalnya atau tidak, tapi yang jelas nama itu pernah di dengarnya dulu.

“Bukankah kau berteman dengan Hanbin sejak sekolah menengah?” tanya Jungkook lagi, membuyarkan konsentrasi Hyerin yang sedang mencoba mengingat siapa sebenarnya Joo Hwayeon yang dimaksud Jungkook. Langsung saja gadis itu mendengus kesal “Aku sedang mencoba mengingatnya jadi bisakah kau diam saja?” omel gadis itu. Sementara Jungkook hanya bisa menelan ludah melihat wajah Hyerin yang tiba-tiba jadi sangar seperti itu.

“Dan entah kenapa aku jadi ikut penasaran dengan nama itu” sambung Hyerin lalu menghembuskan nafasnya pelan. Otak gadis itu kembali bekerja, mencari tahu sebenarnya siapa Joo Hwayeon itu.

Keadaan jadi hening. Wajar saja, karena tadi Hyerin menyuruh Jungkook untuk diam, bukan? Sampai akhirnya seruan dari Hyerin terdengar, membuat Jungkook sedikit terlonjak kaget. Oh astaga, apa gadis itu tidak tahu bahwa mereka sedang berada di perpustakaan sekarang? Bisa-bisa keduanya diusir atau disuruh membersihkan perpustakaan karena terlalu berisik.

“Kurasa aku mengingatnya!” Seru Hyerin.

“Maksudmu Joo Hwayeon yang sebangku dengan Hanbin itu, ya? Ahh, aku benar-benar membencinya dulu. Dia seperti sedang menggoda Kim Hanbin saja setiap kali bel istirahat berbunyi. Hanya karena dia satu meja dengan Hanbin, bisa-bisanya dia-“

“Jadi kau mengenalnya?” Potong Jungkook cepat, tidak ingin berbelit-belit dengan cerita Hyerin. Gadis di sampingnya itu lalu mengangguk “Tentu saja. Dia sangat terkenal di sekolah dengan sifat pendiamnya. Bahkan ada rumor bahwa dia tidak bisa berbicara” ujar Hyerin yang sama sekali tidak digubris Jungkook. Jika Jungkook bisa jujur sekarang juga, ia ingin membantah kalimat terakhir Hyerin. Hey, Joo Hwayeon itu bisa berbicara!

Hyerin yang tadinya sibuk berceloteh kini tiba-tiba terdiam, lalu mengadahkan pandangannya pada Jungkook “Eoh?! Tunggu, bukankah…”

“Aku pacarnya saat itu” ucap Jungkook cepat, mengira bahwa Hyerin akan mengatakan bahwa ‘bukankah kau pacar Joo Hwayeon?’. Tapi, Hyerin menggeleng, menandakan bahwa ia tidak bermaksud menanyakan itu, melainkan…

“Bukankah kau Jeon? Teman satu gengnya Kim Hanbin dulu?”

Jungkook menekuk alisnya. Teman satu geng?

Dari sekian banyak ingatannya yang kembali, ia tidak pernah mengingat bahwa Kim Hanbin adalah teman satu gengnya dulu. Yang ia ingat, Kim Hanbin adalah teman sekelas Joo Hwayeon. Bahkan ia pun tidak ingat bahwa dirinya dan Hanbin pernah berbicara satu sama lain dulu. Setahunya ia hanya sering berkelahi dengan lelaki itu.

“Aku… dan Hanbin?”

Hyerin mengangguk mantap “Wah, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi! Setelah dua tahun berada di sekolah ini, kenapa aku tidak bisa mengenalmu, ya? Apa karena postur badanmu yang sudah berubah atau wajah mu yang tiba-tiba berubah jadi tampan seperti ini?” Lagi-lagi, Hyerin membuat keributan yang sama sekali tidak digubris oleh Jungkook.

Jungkook mencoba berpikir sejenak kemudian kembali menoleh pada Hyerin “Jadi, aku dan Hanbin pernah berteman dulu?”

Mendengar itu, Hyerin menekuk alisnya dan terdiam sejenak “Apa kau… tidak mengingat Hanbin dan aku? Bahkan aku pernah memberikan botol air padamu saat kau latihan taekwondo dulu” jelas Hyerin.

Sungguh, penjelasan itu sama sekali tidak ada yang masuk dalam kepalanya. Jungkook malah tambah bingung dengan keadaan sekarang ini. Sepertinya keadaan ini akan membuat otak nya terkuras habis, terlalu rumit dan sulit untuk dipecahkan.

Sebenarnya ada hubungan apa aku dengan Hanbin dan Hyerin?

***

Keesokan harinya…

Bel istirahat telah berbunyi sebelas menit yang lalu. Tepat saat itu juga para siswa-siswa dari setiap kelas keluar dari kelas dan berlari menuju kantin. Musim panas seperti ini membuat mereka lebih cepat lapar dan haus. Apalagi saat ini kantin sedang menyajikan menu makanan yang spesial di tambah dengan semangkuk kecil patbingsu (es serut) yang sangat menggugah selera mereka untuk makan disana.

Dan disinilah Hyerin dan Sujeong. Sedang menikmati makan siang mereka sembari bercakap-cakap mengenai nama idola mereka yang sedang naik daun sekarang. Siapa lagi kalau bukan Park Jimin?

“Sayang sekali, aku tidak diijinkan membeli album terbarunya yang berjudul ‘Young Forever’” ucap Sujeong kecewa kemudian menunduk di atas meja, menempelkan pipi kirinya di atas meja sementara kedua obsidiannya menatap lurus ke sebelah kanan.

Mendengar itu,Hyerin yang sedang memakan patbingsu nya lalu mengangguk-angguk mengerti “Aku tahu perasaan itu, teman, jadi bersabarlah. Kita bisa mengunduh lagunya dari internet, bukan?” Hyerin mencoba menyemangati Sujeong lalu menepuk pelan pundak temannya.

Tidak ada respon dari Sujeong, tidak ada kata ‘iya’ atau apa saja yang keluar dari bibir gadis itu. Sontak Hyerin menekuk alisnya, kemudian menggoyangkan pelan pundak temannya itu, memastikan jika temannya itu masih hidup atau tidak “Ryu Sujeong, Sujeong-ah!” Panggil Hyerin.

Masih tak ada respon.

Langsung saja Hyerin mengikuti arah pandang teman satunya itu. Sebenarnya apa yang dilihat gadis itu sampai membuatnya jadi diam mematung begini.

“Ah, Jeon Jungkook” sahut Hyerin yang sontak membuat Sujeong di depannya mengangkat kepala nya yang tertunduk tadi. Kedua netra itu menatap lurus Hyerin yang duduk di hadapannya dan tersenyum kaku “A-ah, tadi kau bilang apa?” Tanya Sujeong seraya menggaruk pelan tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

Ya, Sujeong sedari tadi memerhatikan sesosok lelaki yang baru saja masuk dalam kantin itu. Tidak hanya Ryu Sujeong, tetapi setiap siswi yang ada di dalam kantin langsung mengarahkan perhatian mereka pada sosok lelaki yang tinggi dan tampan itu.

Namun anehnya, lelaki itu berjalan masuk dengan wajah sangar dan tatapan tajam. Membuat para gadis yang ada di dalam kantin itu mengenyampingkan dulu ketampanan dan sikap keren dari seorang Jeon Jungkook.

Pantas saja Jungkook berjalan masuk dengan wajah seperti itu. Tepat beberapa meter dari tempat berdirinya sekarang, terdapat Kim Hanbin yang sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan. Kepalan tangan Jungkook semakin menguat dan bahkan sesekali bergetar pelan karena saking kuatnya lelaki itu mengepalkan tangannya.

Lelaki itu mencoba untuk tetap rileks dan menahan amarahnya pada Hanbin. Ia hanya ingin menghampiri anggota BTS lainnya yang sedang makan di meja yang tidak terlalu jauh dari tempat dirinya berdiri itu. Ia terus melangkahkan kakinya, sementara Hanbin yang kini masih menatapnya pun ikut berjalan keluar dari kantin.

Geraman pelan terdengar dari bibir Jungkook disaat Hanbin berjalan melewatinya sembari tersenyum sinis, bahkan tertawa yang juga sama sinisnya dengan tatapan lelaki itu. Dan seolah-olah tidak memiliki dosa apapun pada Jungkook, Hanbin menyapa lelaki itu “Hai, Jeon-Jung-Kook” sapanya dengan nada yang terkesan tidak bersahabat.

Jungkook berusaha tenang, tidak membuat keributan. Ia rasa pukulannya kemarin sudah cukup membuat lelaki itu kesakitan. Akhirnya Jungkook pun hanya mengabaikannya dan terus berjalan menuju tempat makan anggota BTS yang lainnya. Sementara Kim Hanbin hanya tertawa sinis “Dia bahkan tidak menyapaku balik” ucapnya pada kedua teman yang berada di belakangnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kantin.

Untuk kesekian kalinya, Jungkook ingin sekali memukul lelaki itu. Wajah Hanbin yang seperti ingin menantang Jungkook membuat Jungkook geram. Ia tidak mau ada orang yang menampakkan wajah menantang seperti itu padanya. Dia sangat tidak suka itu, merasa disaingi oleh orang lain. Ia hanya ingin menjadi yang terkuat dan nomor satu. Ia ingin memenangkan perang ini.

Ia tahu betul apa alasan dibalik Kim Hanbin memperlakukannya seperti musuh itu. Yang pasti pada dasarnya adalah ‘Joo Hwayeon’. Jungkook yakin, tapi tidak sepenuhnya. Jika saja ingatannya sudah utuh kembali, mungkin ia akan yakin seratus persen mengenai alasan dibalik sikap Kim Hanbin padanya itu.

Sudahlah, lagipula ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan mencoba mencari tahu kepingan-kepingan ingatannya dulu dengan bertanya pada orang-orang disekitarnya. Toh siapa yang akan peduli dengan masa lalu? Yang sudah lalu biarlah berlalu, bukan?

Ya! Jeon Jungkook!” Suara itu sukses membuat Jungkook membuyarkan lamunannya. Langsung saja Jungkook menengok pada Jin yang baru saja menyebut namanya itu “Apa?” Tanya Jungkook dingin, nada bicara khasnya.

Sebelum menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya, Jin berujar “Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Hanbin?” Tanya Jin.

Jungkook diam sejenak. Oh, pertanyaan itu sukses membuat otaknya terputar. Entah bagaimana bisa ia memiliki hubungan dengan Hanbin. Yang ia tahu Hanbin adalah orang yang mengingatkannya tentang Joo Hwayeon sekaligus orang yang selalu mengancamnya akhir-akhir ini. Status Kim Hanbin pada otak Jungkook sama sekali tidak jelas. Ditambah lagi perkataan Hyerin kemarin, bahwa Hanbin adalah teman satu gengnya.

Molla” jawab Jungkook asal kemudian meraih sumpit dan mulai makan. Tidak menghiraukan Jin yang kini menatapnya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya “Hhh… Lagi-lagi kau menggunakan kata informal denganku”

Taehyung yang makan di samping Jin langsung menyenggol tangan lelaki itu “Hyeong, sudah dua tahun ini dia menggunakan bahasa informal padamu tapi kenapa nanti sekarang kau mengoceh?” Tanya Taehyung dengan mulut yang penuh dengan nasi. Sementara Jin hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan “Sudahlah, aku tidak perlu dihormati” ucapnya dengan mimik wajah kesal, membuat Taehyung dan Yoongi terkekeh pelan melihatnya.

***

Hyerin tampak sedang berlari kecil menuju kelasnya. Dengan wajah yang tidak bisa ditebak, sepertinya gadis itu sedang terburu-buru. Sampai-sampai ia hampir menabrak tong sampah yang barusan dilewatinya itu.

Pintu kelas di geser oleh gadis itu kemudian masuk kedalamnya dan menghampiri Sujeong yang sekarang sedang berkumpul dengan teman-temannya yang lain “Sujeong-ah!” panggil Hyerin dengan tangan kirinya menyentuh pelan pundak temannya itu “Eoh? Ada apa? Kenapa kau buru-buru seperti itu? Apa yang terjadi?” Tanya Sujeong dengan nada khawatir. Wajar saja, melihat Hyerin yang tiba-tiba datang dengan nafas yang tidak teratur lalu memanggil-manggil namanya membuat Sujeong cemas.

Hyerin mencoba untuk menetralkan kembali pernafasannya. Berlari dari lantai bawah sampai kesini memang cukup melelahkan. Setelah merasa sudah bisa mengatur deru nafasnya, Hyerin pun berbicara “Itu… Tadi aku melihat orangtua mu masuk ke ruang kepala sekolah”

Kedua netra gadis itu membulat kaget. Untuk apa orangtuanya datang ke sekolah dan pergi menemui kepala sekolah? Apa dia melakukan suatu kesalahan? Atau apa itu menyangkut tentang pernikahannya dengan Taehyung tiga bulan nanti? Mungkin saja orangtuanya meminta izin kepala sekolah untuk menikahkan anak didiknya? Eum, sepertinya tidak, itu terlalu konyol untuk dijadikan alasan kenapa orangtuanya datang ke sekolah.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Sujeong segera berdiri dan berlari pelan keluar dari kelas. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat mengucapkan terima kasih pada Hyerin.

Sementara Hyerin yang masih sibuk mencoba menetralkan pernafasannya langsung terduduk di tempat Sujeong. Kedua teman Sujeong yang tadi sedang berbicara dengan gadis itu hanya bisa menatap Hyerin seolah-olah baru pertama kali melihat penampilan Hyerin yang acak-acakan seperti itu. Merasa dipandangi, Hyerin menoleh pada kedua gadis tersebut “Ya, bisa minta air mu? Aku kelelahan karena berlari dari lantai bawah.”

***

Sujeong mencoba mendengarkan dari luar ruangan kepala sekolah. Tapi nihil, sama sekali tidak ada suara yang dapat di dengarnya selain suara ribut-ribut para siswa yang berada di koridor sebelahnya.

Akhirnya, dengan keberanian yang sudah mencapai puncaknya, Sujeong mendorong kenop pintu ke bawah dan membuka pintu ruangan kepala sekolah tanpa ragu-ragu.

“Oh, anakku.” Seru Nyonya Ryu disaat melihat anaknya masuk dan menatap kedua orangtuanya itu dengan tatapan yang seolah-olah menanyakan ‘kenapa-ibu-dan-ayah-bisa-ada-disini’.

Kepala Sekolah tersenyum simpul kearah Sujeong, yang semakin membuat rasa penasaran gadis itu memuncak. Sebenarnya ada apa? Kenapa suasananya normal-normal saja disini? Perkiraan gadis itu meleset jauh sekali. Dirinya mengira ada masalah menyangkut dirinya dan mengharuskan kedua orangtuanya itu datang ke sekolah. Rupanya tidak ada masalah apapun yang terjadi. Bahkan ketiga manusia yang ditatapnya sekarang itu terlihat tersenyum dan menyuruhnya duduk di sofa.

Tatapan bingung masih saja ditujukan Sujeong pada kedua orangtuanya. Jujur, ia tidak mengerti situasi ini. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Apa kita bisa membawa Sujeong lusa?” Tanya Tuan Ryu pada sang Kepala Sekolah. Membawaku? Kemana?, batin Sujeong.

Kepala Sekolah terlihat mengangguk dengan sebuah senyuman di wajahnya “Tentu saja. Tidak masalah jika ia dibawa kesana untuk seminggu lebih, tapi setelahnya ia harus berada di sekolah karena ujian tengah semester akan dilaksanakan seminggu kemudian” Jelas Kepala Sekolah yang diikuti oleh anggukan kedua orangtua Sujeong. Sedangkan Sujeong yang kini tengah menyimak mencoba untuk ambil mengerti dengan arah pembicaraan orangtuanya dan Kepala Sekolah itu.

“Tapi, kami kesini tidak hanya ingin meminta izin untuk membawa Sujeong—“

***

Untuk kesekian kalinya, bola basket itu dimasukkan oleh Taehyung kedalam ring dengan sempurna. Keadaan lapangan itu sedang sepi, jadi tidak ada yang menyorakinya seperti biasa. Ini sudah hampir jam pulang karena itulah para siswa-siswi tengah sibuk membersihkan kelas bahkan ada yang sudah pulang lebih awal.

Taehyung memantul-mantulkan bola basket itu ke tanah dan bersiap untuk memasukkannya lagi ke dalam ring. Keringatnya yang bercucuran terlihat membasahi dahi serta lehernya. Jika saja para siswi menontonnya sekarang, mungkin dirinya sudah dikerumuni oleh para gadis yang ingin memberikannya handuk atau air.

Taehyung kembali bersiap untuk melempar bolanya ke dalam ring basket itu. Namun, aktivitas bermain bola basketnya terhenti disaat kedua obsidiannya menangkap sesuatu di pinggir lapangan.

Itu Sujeong bersama kedua orangtua gadis itu, tengah memperhatikan Taehyung yang sedang sibuk memantul-mantulkan bola. Langsung saja Taehyung melempar bola basket itu sembarangan dan berlari menghampiri mereka.

Annyeonghaseyo” Sapa Taehyung lalu membungkuk 90 derajat. Lelaki itu terlihat sedang tersenyum, namun sepertinya senyuman paksa, terbukti dari anehnya senyuman itu terbentuk.

Melihat Taehyung yang membungkuk seperti itu, kedua orangtua Sujeong tampak senang melihat Taehyung yang begitu sopan pada mereka “Kami kesini ingin memberitahu sesuatu padamu” ucap Tuan Ryu seraya menepuk pelan pundak anak muda didepannya itu. Sementara Taehyung hanya bisa melayangkan tatapan tanda tanya “Ne?”

“Kedua orangtuamu sudah berangkat ke Swedia hari ini. Mereka meminta kami untuk menyampaikan ini padamu, bahwa kau juga akan ikut ke Swedia” jelas Tuan Ryu, yang sukses membuat Taehyung membulatkan matanya “U-untuk apa saya kesana?” Tanya Taehyung.

“Ini hanya sekedar liburan, sekaligus waktu untuk merencanakan pernikahan kalian berdua” ujar Nyonya Ryu yang berada di samping Tuan Ryu. Taehyung lagi-lagi hanya bisa mengerutkan alisnya tidak mengerti. Kenapa perencanaan pernikahan harus dipikirkan di tempat yang begitu jauh? Aneh sekali.

Nyonya Ryu tersenyum tipis kemudian berkata “Tenang, kau tidak pergi sendiri. Kami juga berencana akan pergi kesana, bersama Sujeong”. Mendengar itu, Taehyung sontak terkejut “Ne?!” Sementara Sujeong hanya bisa menunduk dan menggerutu dalam hati mendengarnya. Ini akan menjadi liburan yang menyiksa, hiks.

***

Tepat jam sembilan malam. Kedua gadis cantik itu masih berada di sini, di kafe. Menikmati minuman mereka sembari bercakap-cakap. Namun seharusnya ini tidak dilakukan oleh siswa seperti mereka. Jam sembilan malam seperti ini seharusnya mereka pergi les. Tapi, keinginan Sujeong untuk bisa bersantai dengan temannya itu terlalu besar daripada keinginannya untuk pergi les.

Sudah hampir sejam lebih mereka disini. Menikmati minuman masing-masing dan ditemani laptop untuk sekedar mem-browsing nama Park Jimin di internet. Mumpung kafe ini memiliki wi-fi gratis, kedua gadis itu memanfaatkan kesempatan ini dengan mencari tahu lebih dalam mengenai idola mereka itu.

“Jadi Jimin oppa punya adik laki-laki, ya?” gumam Hyerin sembari terus membaca artikel di layar laptopnya itu. “Aah, adiknya tinggal di Swedia. Wah, benar-benar luar biasa!” seru gadis itu kemudian tersenyum lebar disaat layar laptopnya menampilkan wajah sosok Park Jimin itu.

Disaat mendengar kata ‘Swedia’, Sujeong langsung terdiam. Gerakannya pada layar ponselnya terhenti. Ia lalu meletakkan ponsel itu di atas meja dan menghembuskan nafasnya berat “Hyerin-ah” panggil Sujeong dengan nada suara yang tidak bersemangat

Eoh, apa?” Tanya Hyerin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop miliknya itu.

Sujeong lagi-lagi menghela nafas, kemudian berucap “Kau tahu, lusa aku akan berangkat ke Swedia bersama orangtuaku.”Mendengar itu, langsung saja Hyerin mengangkat kepalanya, menatap Sujeong didepannya dengan tatapan tidak percaya “Kenapa baru bilang sekarang? Kau akan pindah kesana? Tidak, kan?”

“Tentu saja tidak. Entah dalam rangka apa kedua orangtuaku mengajakku pergi berlibur ke Swedia”

“Aah, karena itulah kemarin orangtuamu datang, ya?” respon Hyerin. Gadis itu lalu mengambil gelas yang berisi minuman dingin di samping laptopnya kemudian meminumnya. Setelah itu kembali meletakkan gelas panjang itu di atas meja “Jadi, kau diajak keluargamu ke Swedia untuk berlibur?”

“Tidak hanya aku,” Suara Sujeong sontak membuat Hyerin kembali mengarahkan pandangannya pada temannya itu, melayangkan tatapan tanda tanya. “Kim Taehyung juga” sambung Sujeong yang sukses membuat gadis didepannya itu memasang tampang terkejut.

Mwo?!” Kedua tangan Hyerin diarahkan tepat di depan mulutnya, menutup mulutnya seolah-olah sangat terkejut dengan apa yang barusan dikatakan Sujeong. “Kau tidak berpikir orangtuamu ingin menjadikan liburan itu adalah bulan madu kalian, kan?”

“Kau mau mati?! Menikah saja belum, untuk apa kita bulan madu disana. Aku bahkan tidak sudi jika itu adalah Kim Taehyung, si curut cupu yang selalu berpura-pura keren” bantah Sujeong tidak setuju dengan perkataan Hyerin barusan. Ia lalu mengibaskan rambut panjangnya dengan sombong, seolah mengatakan bahwa aku-tidak-selevel-dengan-Kim-Taehyung.

“Terserahmu saja lah. Tapi, kuperingatkan kau untuk hati-hati jika nanti ibu dan ayahmu menyuruh kalian untuk tidur di satu ruangan yang-“

“Kau sudah bosan hidup, Jung Hyerin?!!!”

***

Inilah yang paling Hyerin benci dari memiliki rumah yang berada di daerah Itaewon seperti ini. Harus menyusuri jalanan yang gelap jika ia tidak menggunakan tranportasi. Oh yaampun, ditambah lagi lampu jalan yang berjejer sama sekali sudah tidak berfungsi membuat suasana di jalan tanjakan itu terlihat menyeramkan.

Gadis itu meraih ponselnya di dalam saku celana jeansnya kemudian menyalakan ponsel itu, melihat sudah pukul berapa sekarang.

Pukul dua belas malam.

Ya, pantas saja jalanan terlihat sunyi senyap, ini sudah waktunya orang-orang untuk tidur. Sedangkan Hyerin, masih disini, diatas aspal jalan tanjakan ini dengan bermodalkan kedua kaki jenjangnya yang sudah ia rawat dan selalu di bawa ke spa.

“Hey” Suara serak yang berasal dari arah belakangnya itu membuat Hyerin bergidik takut. Hyerin langsung memegang tas selempangnya erat-erat serta mempercepat langkah kakinya. Namun,

SREET!

“Mau kemana buru-buru?”

“KYAAAA!! Lepaskan!” Bentak Hyerin disaat mendapati lelaki di belakangnya menahan lengannya untuk pergi menjauh. Gadis itu mencoba melepaskan genggaman orang itu di lengannya, namun kekuatan lelaki itu sepertinya lebih besar darinya membuat gadis itu tak bisa melakukan apapun selain berteriak tidak jelas.

“Tolong!! Siapapun itu, kumohon tolong aku!” teriak Hyerin sembari mencoba melepaskan genggaman lelaki itu di lengannya.

“Teriaklah! Lagipula ini sudah larut malam, tidak akan ada yang mendengarmu.”

Hyerin dalam bahaya! Orang yang barusan mencegatnya pergi itu tengah mabuk. Bau alkohol sudah dapat diciumnya. Bisa-bisa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi padanya. Dia harus mencari bantuan. Tapi, siapa yang bisa membantunya tengah malam buta seperti ini? Jalanan itu sudah sangat sepi, kemungkinannya sangat kecil jika ia berteriak minta tolong disini.

“Lepaskan!!” Hyerin menutup matanya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk melarikan diri dari orang itu. Tapi, disaat ia menengok ke belakang, ia merasa air wajah orang itu tidak lah asing baginya. Ia pernah melihat orang itu di—

P-Park Jimin?! Jimin oppa?!

Rupanya benar, orang itu adalah Park Jimin. Sosok yang selama ini diidolakan Hyerin. Memang, dari awal orang itu memanggilnya Hyerin sudah dapat mengenali suara itu. Tapi, yang perlu dipertanyakan sekarang, apa orang ini benar-benar Park Jimin yang setiap hari muncul di layar televisi itu? Yang selalu mempesona para penggemarnya dengan dance dan nyanyian luar biasanya? Kenapa dia jadi seperti ini? Sama sekali berbeda dengan Park Jimin yang dikenal Hyerin.

O-Oppa!” Seru Hyerin mencoba menyadarkan lelaki itu, namun sama sekali tidak ada hasilnya. Lelaki itu malah menariknya lebih kuat dan membawanya ke suatu tempat yang tak kalah gelapnya dengan jalanan tadi. Tentu saja Hyerin tidak hanya diam. Gadis itu mencoba berteriak dan memberontak. Ia sudah berada di situasi berbahaya seperti ini mana bisa ia diam saja hanya karena yang menariknya adalah lelaki tampan dan terkenal itu.

BRUK!

Hyerin didorong keras tepat pada dinding lorong itu oleh Jimin. Bersamaan dengan itu, suara ringisan keluar dari mulut Hyerin karena saking keras nya dorongan lelaki itu padanya.

“K-kau mau apa?!” Tanya Hyerin disaat ia menyadari lelaki itu semakin mengikis jarak diantara mereka. Hyerin hanya bisa diam dengan mengepalkan kedua tangannya. Ia bisa saja memukul lelaki itu tapi, dirinya sudah lebih dulu diselimuti oleh rasa takut. Oleh karena itulah ia tidak bisa melawan.

Hyerin ketakutan, sangat ketakutan. Bibirnya bergetar hebat, begitu pula seluruh tubuhnya sekarang. Apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Ia tidak bisa terus-menerus menatap sorot mata Jimin yang menunjukkan tatapan tajam serta senyuman menyeringai yang terkesan mesum itu. Seseorang tolong dirinya sekarang! Gadis itu bahkan sudah tidak tahan untuk berdiri lagi, kedua kakinya terasa sangat lemas.

“Tenanglah, hanya ada kita berdua disini. Aku tidak akan membahayakanmu, cantik” ucap Jimin dengan wajah yang memerah. Rupanya lelaki itu sudah benar-benar mabuk. Bau alkohol semakin menyengat disaat Jimin mulai mendekatkan wajahnya pada gadis yang kini hanya bisa menunduk dalam itu.

Hyerin terus menolak, mendorong lelaki itu agar menjauh darinya namun tetap saja lelaki itu terus mendekatkan wajahnya pada Hyerin. Gadis itu tidak kuat lagi. Tenaganya sudah habis karena terus berteriak dan memberontak. Kakinya tidak bisa lagi menjadi tumpuannya untuk berdiri. Ia akan terjatuh. Pandangannya memudar, wajah Park Jimin yang berjarak beberapa senti dari wajahnya sudah tidak dapat dilihatnya dengan jelas.

“Ayolah, manis. Aku tidak akan-“

SREET!

BUGH!!!

Hyerin langsung mengadahkan pandangannya disaat ia sudah tidak merasakan lagi cengkeraman  kuat Jimin di pundaknya. Hyerin lalu mengeluarkan ponselnya dan menyalakan layar ponsel itu kemudian mengarahkannya kedepan, berharap dengan cahay dari ponsel itu ia bisa melihat lebih jelas dikeadaan yang gelap itu.

Betapa terkejutnya Hyerin menyadari Jimin kini sudah tersungkur di tanah dengan bibir berdarah. Apa yang terjadi? Apa preman lain datang dan menggantikan posisi Jimin? Apa Hyerin harus lari sekarang? Tapi kakinya terlalu lemas bahkan untuk berjalan berapa langkah.

“Siapa yang berani memukulku, hah?! Aku Park Jimin! Siapa kau, dasar-“

“Dia istriku dan berani sekali kau menyentuhnya?! Apa perlu tulang rusukmu aku hancurkan?”

DEG!

Suara ini… Hyerin mengerutkan alisnya. Ia kenal betul suara itu. Gadis itu kemudian mengarahkan layar ponselnya ke arah kanan, lebih tepatnya pada seseorang yang baru saja mengatakan bahwa Hyerin adalah istrinya.

Mata Hyerin membelalak disaat mendapati Jeon Jungkook kini sedang berdiri di samping Jimin yang sudah terkapar lemah di atas tanah. Rupanya Jungkook hanya menghajarnya dalam satu kali sehingga lelaki itu terkapar lemah tak berdaya di atas tanah. Terbukti dari kondisi Jimin yang sudah tidak dapat dijelaskan lagi, yang pasti lelaki itu sudah penuh darah di sekitar bibirnya dan juga lebam di pipi kanan.

Hyerin masih memandangi Jungkook dengan tatapan tidak percaya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Jungkook akan datang menolongnya seperti ini. Sungguh, tidak terbesit di pikirannya bahwa lelaki itu akan menolongnya. Sama sekali tidak ada.

Sebelum akhirnya berjalan menghampiri Hyerin, Jungkook sempat menendang Jimin yang sudah tidak berdaya itu dan berkata “Hati-hatilah di jalan pulang, idol preman” Kemudian lelaki itu berjalan ke arah Hyerin dan menarik lengan gadis itu “Ayo pulang!”. Hyerin hanya bisa diam disaat lelaki itu menarik lengannya dan berjalan di depannya.

Sepanjang perjalanan ke rumah, hanya ada suara derapan kaki dari kedua insan itu. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah katapun. Tidak, Jungkook memang tidak ingin berkata apa-apa, tapi Hyerin lah yang ingin mengatakan ‘terima kasih’ pada Jungkook. Namun gadis itu tidak cukup berani mengatakannya. Sampai akhirnya Jungkook lah yang memecahkan keheningan panjang itu.

“Lain kali jangan berjalan sendirian jika sudah malam begini! Kalau saja aku tidak ada tadi, bagaimana nasibmu nanti?” Omel Jungkook, yang hanya didiamkan oleh Hyerin. Sungguh, tidak ada yang bisa mendeskripsikan perasaan Hyerin sekarang. Intinya ia begitu bersyukur bahwa Jungkook datang tepat waktu menolongnya. Dirinya begitu berhutang budi pada Jeon Jungkook.

***

Pintu rumah itu terbuka. Jungkook dan Hyerin langsung mengambil langkah masuk kedalam. Jungkook langsung berjalan masuk menuju dapur, ia cukup haus setelah berjalan lima belas menit untuk sampai ke rumah karena itulah ia ingin meminum segelas air sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya dan tidur disana.

Lelaki itu membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin dari dalam sana kemudian meneguknya tanpa menyalinnya ke gelas terlebih dahulu. Toh hanya dia yang sering minum air es di rumah ini. Hyerin bahkan tidak pernah menyentuh botol air es itu dan selalu beralasan takut gemuk jika ia meminum air es. Jungkook pun bingung, memangnya meminum air es ada efek pada berat badan? Entahlah, Jeon Jungkook bukanlah pakar mengenai hal itu.

Setelah puas meminum setengah isi dari botol itu, Jungkook kembali memasukkannya kemudian menutup kulkas besar itu. Namun, disaat dirinya berbalik, ia hampir saja berteriak kaget jika saja ia tidak mempertahankan ekspresi cool nya itu disaat Hyerin menatapnya lurus dengan tatapan yang tidak pernah dilihat oleh Jungkook sebelumnya itu.

“A-aku… minta maaf dan berterima kasih padamu karena telah menolongku tadi” ucap Hyerin seraya menunduk perlahan. Jungkook yang mendengarnya hanya diam dan memandang gadis itu dengan tatapan aneh. Sungguh, dia benar-benar tidak cocok untuk mengatakan kata maaf. Tidak ada ikhlas-ikhlasnya sama sekali.

“Lupakanlah” ucap Jungkook kemudian berjalan melewati Hyerin dan pergi menuju kamarnya di lantai dua. Namun sebelum itu, suara Hyerin membuatnya berhenti melangkah.

“Aku benar-benar bersyukur saat kau datang menolongku tadi. T-terima kasih” ucap Hyerin dengan nada bicara yang sedikit gugup. Baiklah, untuk kali ini Hyerin akui dia gugup untuk mengatakan ucapan terima kasih itu pada Jungkook.

Lagi-lagi, Jungkook hanya memandangi gadis itu begitu saja kemudian berlalu, meninggalkan Hyerin yang berdiri terdiam disana. Ia melangkahkan kakinya berjalan di atas anak tangga dengan kedua tangannya di selipkan di kantong celananya.

Perlahan, sebuah senyum tipis terukir di wajah lelaki itu…

Wajahnya benar-benar lucu, kkk~

***

Matahari mulai naik, menyinari kota Seoul yang sudah ramai di penuhi oleh orang-orang yang akan beraktivitas di hari minggu pagi ini. Hari ini libur jadi Hyerin sengaja untuk bangun lebih telat dari biasanya. Setidaknya ia melakukan ini setiap seminggu sekali. Hyerin adalah tipe orang yang selalu bangun awal, tapi untuk hari minggu hal itu tidak berlaku baginya. Hari ini spesial baginya untuk bermalas-malasan. Atau mungkin berbelanja. Tapi nanti, pagi-pagi seperti ini ia hanya ingin tidur dulu beberapa menit.

Namun, acara tidur malasnya terganggu dengan bau telur goreng yang baru saja menghampiri hidungnya. Gadis itu lalu bangun, memakai sendal rumahnya dan turun dari sofa putih itu. Oh, jangan lupa, ia tidur di sofa karena Jungkook tidak mau membagi kamar dengannya.

Dengan malas, ia berjalan ke arah dapur. Melihat siapa yang sedang memasak pagi-pagi begini. Setahunya mereka tidak memiliki pelayan jadi mungkin itu adalah Jungkook. Dan, memang benar itu adalah Jeon Jungkook. Sedang menggunakan celemek dan dengan berlagak seperti seorang masterchef.

Tapi, yang membuat Hyerin sampai mengerutkan alisnya adalah—

Ya! Kau mau membakar rumah ini?! Apinya terlalu besar!” Teriak Hyerin lalu segera berlari pelan menuju kompor dan mengecilkan api kompor itu. Jungkook yang tidak tahu apa-apa hanya bengong dan mundur selangkah. Ia hanya bisa membulatkan matanya begitu Hyerin berteriak padanya tadi. Sungguh, ia benar-benar kaget karena setahunya Hyerin sedang tidur dan tiba-tiba suara cempreng gadis itu menggema di setiap sudut dapur, bagaimana bisa ia tidak kaget dengan itu?

Ya, kau mau ku pukuli?! Jantungku hampir copot tadi, bodoh!” Sahut Jungkook tak kalah cemprengnya dengan suara Hyerin tadi.

Hyerin yang sedang membungkuk lalu bangun dan menatap lurus Jungkook di sampingnya “Makanya, kalau aku sedang tidur tolong jangan membangunkanku dengan bau telur goreng yang hampir gosong itu!”

“Siapa bilang itu gosong? Lihat, telurnya matang dengan sempurna, tidak seperti wajahmu yang sudah gosong dari dulu!”

Ya! Wajahku yang putih bersih ini kau bilang gosong?! Apa kau tidak salah lihat?”

“Kau memang gosong! Dasar wajah pantat panci!”

Mwo?! Ya, kemari kau! Akan ku jambak rambutmu sampai botak! Kemari kau, Jeon Jungkook!!!”

***

Mata gadis itu membelalak disaat mendengar perkataan ibunya barusan,

“Sujeong-ah, menumpanglah dulu di mobil Taehyung. Di mobil kita sudah banyak koper dan tas-tas. Tidak apa, kan, Taehyung?”

Menumpang? Apa ibunya tidak keliru? Sungguh, ia tidak sudi bahkan hanya untuk duduk semenit saja di mobil pria itu. Kenapa? Karena ia tidak ingin ayah dan ibunya berpikiran macam-macam tentang dirinya dengan Taehyung yang sudah jelas tidak memiliki hubungan apa-apa selain… teman? Ah tidak, kenalan.

Namun, buruknya lagi, lelaki itu menerima tawaran ibunya untuk menitip Sujeong di mobil itu untuk bisa sampai ke bandara. Apa Sujeong tidak bisa menaiki mobilnya sendiri? Atau setidaknya naik taksi?

“Kami berangkat” pamit Taehyung pada kedua orang tua Sujeong yang berada di luar mobil. Nyonya Ryu tersenyum kemudian melambaikan tangannya, sementara Tuan Ryu hanya tersenyum melihat kepergian mobil itu.

Dan disinilah Sujeong. Duduk bersebelahan dengan Taehyung yang memegang alih kemudi. Ia tidak bisa berucap apa-apa lagi begitu mobil ini bergerak menuju bandara. Namun, Taehyung di sebelahnya lah yang sedari tadi selalu mencoba mengajaknya bicara.

“Mau dengar lagu?”

“Apa aku buka saja jendelanya?”

“Kau tidak lapar, kan?”

“Kenapa diam?”

Pertanyaan-pertanyaan Taehyung sama sekali tidak didengar Sujeong. Gadis itu hanya memandangi keadaan luar kaca jendela dan sesekali menghela nafasnya. Ya, ini hari sialnya. Dia sangat yakin itu.

TRING!

Tiba-tiba, ponsel gadis itu berbunyi menandakan ada pesan masuk. Langsung saja ia membuka pesan yang rupanya dari Hyerin itu.

‘From: Hyerin

Sujeong-ah, maaf. Aku tidak bisa mengantarmu ke bandara hari ini. Alarm ku rupanya tidak berbunyi makanya aku bangun telat dan sepertinya tidak ada waktu lagi untuk mandi dan bersiap-siap karena itulah aku tidak bisa mengantarmu. Maaf ya~’

Sujeong hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah, kemudian  mengirimkan pesan balasan pada Hyerin.

‘To: Hyerin

Tidak apa. Toh aku juga pergi bersama Taehyung. Hiks, tadinya aku tidak mau tapi ibuku memaksaku habis-habisan T_T Kau mungkin tidak akan bisa menelponku karena biaya telpon ke luar negeri mungkin mahal, jadi sampai ketemu minggu depan, teman! Jangan lupa untuk memberi kabar mengenai dirimu dengan mengirimku pesan. Jangan sampai kau menghilang jika aku kembali dari Swedia!’

Gadis itu lalu memasukkan kembali ponselnya di dalam tas selempang miliknya setelah selesai mengirim pesan balasan pada Hyerin. Sujeong lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, diam dan memandang keadaan di luar. Namun, sebelum itu ia mengarahkan pandangannya pada Taehyung dan bertanya “Kau tidak pergi dengan orangtuamu?” tanya Sujeong yang mengundang lelaki itu untuk menoleh sekilas kearahnya.

“Orang tuaku sudah lebih dulu pergi ke Swedia beberapa hari yang lalu” jawab Taehyung disertai senyuman tipisnya. Sujeong yang mendengar itu langsung mengangguk “Benar juga, aku lupa.” respon gadis itu. Sujeong lalu kembali bersandar di kaca jendela dan melihat keadaan di luar dari balik kaca jendela.

Mobil itu berhenti kala lampu lalu lintas yang terpampang jelas di atas jalan itu menunjukkan lampu berwarna merah yang mengharuskan mereka berhenti sejenak. Taehyung yang tadinya sedang memegang stir mobil kini melepaskan pegangannya dari benda itu kemudian bersandar sejenak. Ia lalu mengarahkan pandangannya pada Sujeong dan memandangi gadis itu beberapa detik sampai akhirnya sebuah kalimat keluar tiba-tiba dari mulutnya.

“Kau benar-benar sangat cantik hari ini.”

DEG!

Sujeong terdiam dan menoleh kearah Taehyung yang barusan membuatnya terkejut setengah mati. Apa katanya? Cantik? Apa barusan Taehyung sedang menggodanya? Atau ia sedang mengejeknya?

Kedua iris berwarna coklat itu bertemu dengan sepasang iris lainnya, berada dalam posisi saling menatap seperti itu dalam beberapa detik sampai akhirnya Taehyung berucap “Bohong” kemudian mengeluarkan lidahnya, mengejek Sujeong yang sudah menganggap perkataannya tadi dengan serius.

Oh astaga! Bisa-bisanya lelaki itu bercanda dengan candaan yang sama sekali tidak bisa dianggap sebuah candaan itu?!

Saking kesalnya, Sujeong pun mengarahkan tangannya untuk memukul pelan Taehyung di sebelahnya “Ya! Kau mau mati, huh? Berani sekali kau!” ujar Sujeong sembari terus memukul Taehyung yang membuat pria itu mengeluh sakit dan tertawa di saat yang bersamaan “Aak! Sakit! Yak!! Arasseo, aku tidak berbohong! Kau memang sangat cantik hari ini!” ucap Taehyung sembari menangkap tangan Sujeong yang sedari tadi memukulnya, menggenggamnya erat agar gadis itu tidak lagi memukulnya.

Lagi-lagi Sujeong kembali terdiam mendengarnya, kemudian menarik tangannya dari genggaman lelaki itu “Jangan main-main denganku atau kau akan kupukul!” ucap gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya dari Taehyung, memandang lurus kedepan dan diam.

Melihat itu, Taehyung hanya bisa tertawa kecil “Kau juga imut, Sujeong-ah” ucapnya yang sukses membuat gadis di sampingnya itu melayangkan tatapan tajamnya.

“Kim Taehyung!!!” Dan Taehyung pun kembali tertawa karenanya.

***

Setelah melewati pagi hari yang cukup ‘mengenaskan’ tadi, Jungkook dan Hyerin akhirnya bisa sarapan dengan tenang. Walaupun keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun, namun dari sorot mata mereka sudah jelas mereka masih saling mengejek lewat tatapan itu. Oh astaga, entah kenapa mereka jadi kekanak-kanakkan seperti ini. Ckck…

Pagi ini sarapan mereka adalah roti dengan telur goreng diatasnya. Walaupun telurnya sangat matang hampir mendekati gosong, tapi Jungkook dan Hyerin tetap mencoba menelannya. Jika saja mereka tidak bertengkar tadi dan membiarkan telur itu diatas wajan, mungkin kondisi telurnya tidak akan jadi mengenaskan seperti ini.

Setelah selesai makan, keduanya langsung pergi menuju area mereka masing-masing. Jungkook pergi ke kamarnya dan Hyerin duduk di atas sofa putih di ruang tamu.

“Cih, kalau saja aku tidak kelaparan, aku pasti tidak akan memakan telur goreng buatannya” gumam Hyerin kemudian mengibaskan rambutnya sombong. Seakan telah melupakan kebaikan Jungkook tadi malam, Hyerin kembali ke sikapnya dan memarahi lelaki itu. Oh astaga, katanya dia berhutang budi, lalu kenapa malah jadi begini?

Merasa bosan, gadis itu lalu meraih remot dan menyalakan televisi, menonton acara yang akan membuatnya terhibur. Namun setelah, beberapa menit menggonta-ganti kanal televisi, sepertinya tidak ada yang menarik. Hyerin pun segera beranjak dari sofa setelah mematikan televisi. Ia lalu berjalan menuju tangga, hendak mandi —karena memang kamar mandinya ada di atas—.

Namun, bunyi bel dan ketukan di pintu utama rumah itu membuat langkah Hyerin terhenti. Sepertinya ada tamu, pikirnya. Tapi, siapa yang bertamu ke rumah ini pagi-pagi begini?

Hyerin pun berbalik, memutar arah jalannya dan menghampiri pintu rumah yang masih tertutup rapat itu. Ia kemudian meraih gagang pintu dan hendak membukanya. Sampai akhirnya seseorang yang berada di depan pintu yang kini sedang tersenyum ke arah Hyerin membuat gadis itu mengerutkan alisnya. Wajah gadis yang juga sedang berdiri di depan pintu itu terlihat familiar, namun Hyerin sama sekali tidak mengenalnya.

“Kau siapa?”

***

“Akh!”

Rintihan itu keluar dari mulut Jungkook. Rasa sakit itu kembali lagi. Kepalanya terasa terputar-putar, pandangannya mulai buram, dengungan di telinganya datang dan langsung menusuk pendengarannya tanpa ampun. Kesakitan yang dari dulu tidak dapat ditahan lelaki itu akhirnya datang menghujamnya kembali. Juga, mendatangkan ingatan barunya.

Ingatan yang bersangkutan dengan Kim Hanbin serta Jung Hyerin.

FLASHBACK

Kala itu, matahari hampir terbenam. Langit Seoul terlihat seperti kanvas oranye dengan lukisan awan putih yang begitu indah. Dan disinilah Jungkook dan Hanbin. Berada di kelas mereka sembari tertawa terbahak-bahak karena Hanbin baru saja menceritakan pengalaman konyolnya pada Jungkook yang sukses membuat temannya itu tertawa. Keadaan sekolah memang sudah sepi, namun mereka masih belum ingin beranjak dari kelas itu.

Kini, giliran Jungkook yang berbagi pengalamannya dengan Hanbin. Ia bercerita bahwa dirinya pernah tinggal di suatu tempat yang aneh, rumah yang sudah kumuh seperti rumah tradisional Korea, yang ia ingat waktu itu hanya ada dia dan ayahnya. Saat itu ia menginjak umur yang ke lima tahun, namun ingatan itu masih sangat jelas dikepalanya.

“Memangnya ada sesuatu yang terjadi yang mengharuskan kalian tinggal di tempat seperti itu?” Tanya Hanbin penasaran. Jungkook mengangkat kedua bahunya dan berkata sembari tersenyum tanpa dosa “Aku tidak tahu.” Jawaban itu langsung membuat Hanbin menjitak cepat kepala Jungkook “Kalau kau tidak tahu lalu kenapa cerita padaku, pabo!” Protesnya. Keduanya lalu tertawa karenanya. Ya, itu hanya lelucon Jungkook.

Keadaan hening pun menghampiri. Tidak lama, hanya dua menit kemudian Jungkook berucap “Kau tahu, nama asliku bukanlah Jeon Jungkook.”

Mendengar itu, Hanbin menoleh ke arah lelaki duduk di sebelahnya. Menatap lelaki itu dengan tatapan selidik, berusaha mencari tahu apa kalimat Jungkook barusan adalah candaan atau tidak.

Jungkook yang menyadari tatapan selidik itu langsung tersenyum pahit “Nama asliku Park Jungkook” sambungnya dengan wajah yang masih mengukir senyum pahit. Sontak Hanbin menekuk alisnya dan mencoba menerka-nerka apakah Jungkook sedang berbohong padanya atau tidak. “P-Park Jungkook?” Tanya Hanbin memastikan yang kemudian di jawab oleh anggukan dari temannya itu.

Ya, Jungkook tidak berbohong. Senyum paksa yang terpapar jelas di wajah lelaki itu menjadi jawaban dari semua pertanyaan Hanbin. Bahwa yang barusan diungkapkan Jungkook adalah kenyataan. Kenyataan yang pahit bahwa ia memiliki dua ibu.

Namun, bukan Jeon Jungkook namanya kalau ia membiarkan lima menit dalam hidupnya terbuang sia-sia hanya karena memikirkan kebenaran yang menyakitkan itu. Lihat saja sekarang lelaki itu tersenyum tipis kemudian berkata “Aku ingin mengungkapkan sesuatu lagi padamu, rahasiaku selama ini kusimpan rapat-rapat.” ucapnya dengan senyuman lebar yang berbeda dengan senyum yang ia tunjukkan dua menit yang lalu.

Mendengar itu, Hanbin langsung melayangkan tatapan penasaran. Rahasia? Memangnya ada lagi rahasia Jungkook yang tidak diketahui Hanbin? Mereka selalu bersama dua puluh empat jam selama tiga ratus enam puluh lima hari dan masih ada rahasia yang tidak diketahui Hanbin?

Sebelum berbicara, Jungkook mengambil nafas panjang lalu tersenyum lebar “Kurasa aku menyukainya” ucapnya terus terang, membuat Hanbin kembali mengerutkan alisnya “Mwo?”

Lelaki bermarga Jeon itu lalu mengarahkan pandangannya pada Hanbin yang duduk di dekat jendela. Sebelum akhirnya mengungkapkan rahasia itu, ia memandang ke arah langit sore di belakang Hanbin, tepatnya di luar jendela kemudian mengagumi keindahan itu dalam hati. Sampai akhirnya ia kembali berucap “Sepertinya aku menyukai Jung Hyerin” ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah di luar. Tanpa tahu bagaimana ekspresi Hanbin sekarang, yang begitu terkejut dengan pengakuan Jungkook barusan.

“Aku benar-benar menyukainya, sangat!” tegas lelaki itu kemudian tersenyum malu.

FLASHBACK END

-To Be Continue-

Haiii~ Lama tak berjumpa ya :* Astaga, ini ngawur banget isinya yak? Gapapa deh, udah ditulis jugak T-T

Saya ga bakal banyak bicara di chapter ini, jadi udah aja yak. Btw, bagi yang udah comment, aku berterima kasih banyak atas review kalian. Itu adalah salah satu vitamin saya selama ini *hiks* *terbawa suasana*

Okey, itu ajahh.. Sampai jumpa di next chapter /kissbye/

Next Chapter:

Yeoboseyo, Dokter Kim?”

“Tolong segera datang kesini. Kakakku tidak sadarkan diri lagi!”

“K-kami akan menjenguknya besok. Katakan padanya untuk beristirahat lebih! Sampai jumpa besok.”

“Kau tidak pernah mengasihani diriku. Untuk apa aku melakukan hal yang sebaliknya?”

“Aku ingin menghancurkan hidupmu, sama seperti kau yang menghancurkan hidupku.”

“Aku minta maaf karena telah membentakmu semalam. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Jungkook…”

“Aku tidak akan melupakanmu lagi”

Trapped in a Marriage: Chapter 10

Advertisements

32 thoughts on “[BTS FF Freelance] Trapped in a Marriage (Chapter 9)

  1. Akhirnyaaaa bisa coment juga sempet eror
    Ihh gregettt bangettttt sama mereka
    Sebenarnya apa hubungan jk bi sama hyerin nya
    Suka bangett
    Maaf baru coment sekarangg
    Ilikethis …..

    Like

  2. Wah akhirnya keluar juga..
    Sepertinya prediksi aku bakalan salah deh, prediksi bahwa cerita ini bakalan selesai pas di part 9-10 ketika baca part 7, tapi ternyata masih panjang toh jalan cerita yang mesti dipecahkan. Huuuuuuooooh serrrruuuuu nih 😊..
    Tapi btw nih, takut aku keliru bukannya park jimin itu temannya jungkook ya pas di part awal-awal yang ikut suga ngegosipin jungkook bahwa jungkook adalah anak haram keluarha jeon? tapi kok di part ini (part 9) park jimin malah jadi seorang ‘idol preman’ yang kemungkinan dia kakak kandung jungkook (mungkin). Jadi bingung 😁
    Tapi ttp semangat buat lanjutin ceritanya biar gak penasaran 😉 nih😁

    Like

  3. Anonymous

    Anyeoonngg salam kenal, ak reader baru, sbner.a udah laaamaaaaaaaaaaaa banget ak ngga ngunjungin website ini, dan wktu mlm ak iseng buka website ak nemu ff ini yg judul menarik menurut ak, dan yg bikin ak kaget laahh umur author.a jauh bgt sama ak #clapclapclap tp miaann ak baca.a maraton jd ak cuman coment dsini cheongmal mianhae #deepbow
    Sejauh dri yg ak baca ff ini bagus, sdikit complicated sih tp pda kenyataan.a khdupan anak remaja skrg emang kek gt, rumit. Hewhewheww 😀 dan ak suka ko cerita.a sumpah sampe chapter 9 ini, part ini yg paling ak sukaaaa ( ื▿ ืʃƪ)
    Ak tunggu deh for next chap.a anyeeoonngg ( ˆ⌣ˆ​​​​ )

    Like

  4. Yeeahhh.. FF KESAYANGANKU BACK YOOO~!! *ala2rappergagal 😀

    Akhirnya post juga..*hufh lega! Karatan kita nunggunya thor 😀 *
    Ampul si jeon.. Tuh bocah nggak sadar ato gimana sich,,di situ kan ada Hanbinnya Ayu..nnt habis di hajar lho.. 😀
    *Halah!

    Oh iya si taetae….. *agrrh nggak tau mw ngomong apa! Kerenn*
    Banyakin moment dong~

    Em,Overall KECE kok thor…
    Bikin gregett….

    KEEP WRITTING!!
    *jangan lama2 post kelanjutan nya ya,,pleaseuu~* :

    Like

  5. ElsaexoliarmyXjhilsakim

    Huaaaaaaa daebak!!!😱😘👏👍
    Jadi jungkook sebenarnya suka sama hyerin!? Lalu hyerin suka sama jungkook lalu berpisah dan ketemu lagi terus dinikahin tapi mereka nggak ingat masa itu daaaaaan akhirnya* jeng jeng jeng
    Next chapter hyekook moment “Aku tidak akan melupakanmu lagi” kyaaaaa 😆😆*cengengesan sendiri
    Thanks to author udah bikin ff luwarbiasa gini.😄😘
    Next chapter jangan lama2 thor!!
    Fighting !💪👏 kami selalu mendukungmu * Eaeaeaea/ maapkan readeralayini/😁😉

    Sekalian thor TaeJeong momentnya jangan lupa.!!
    Taehyung yg mulai genit tapi manis sama sujeong 😊😍. Nampaknya mulai tumbuh benih2 cinta *Eaeaeaea / pletakk 😂😅
    see you NEXT CHAPTER fighting thorr 😘👏👍👍

    Like

  6. misakimoon

    OMAYGOT GOT GOT….
    diriku tercengang/00
    jungkook suka hyerin waktu dulu? sukanya pake banget lagi…
    ini authornya kelewat hebat apa ya?
    penasaran abdi teh….
    KEEP WRITTING AH!

    Like

  7. misakimoon

    omaygot got got…/..
    aku begitu tercengang /0_0\
    Dulunya jungkook suka ma hyerin? bilangnya suka pake banget lagi..
    ini authornya kelewatan hebat apa ya?
    penasaran abdi teh…. ya ampuuuun
    KEEP WRITTING AH!

    Like

  8. ms9868sm

    To be continue baca kalimat ini kadang bikin ngenes hati, disamping itu baper, terus penasaran 😭😭. Next chapter please coming soon ya ya ya 😂😊😊😁

    Like

  9. Caca

    Akhirnya update..
    Senangnya aku wkwk. Jujur aku suka momen jungkook hyerin dan yg lain ku skip wkwkwk. Terlalu suka 2 couple itu wkwk
    Semangat nulis Fighting ^^

    Like

  10. Yuki yuki

    Aaaa….. aaaaaaa *teriak2* {author : “berisik!”) tambah penasaran, authornya tega buat readersnya tambah penasaran 😥 ….. aku tambah dibuat penasaran dan juga kenapa Jungkook dlu suka Hyerin, bukannya dia sma Hwayeon. Mungkin Jungkook dlu suka sm Hyerin trus ditolak sm Hyerinnya pas Jungkook menyataan perasaannya dan jadinya ia sm Hwayeon, //sok tahu, ditampar author//

    dan juga siapa yg dtang ke rmh hyekook, apa mungkin Hwayeon? //sok tahu, ditampar author lagi// maafkan readermu ini author yang suka menebak-nebak, ingin tahu dan sok tahu. Aku benar-benar penasaran, dipikiranku aku menebaknya itu. Sekali lagi maafkan readermu yang bnyak omong ini…..

    Author Yoonwanhee benar-benar hebat >.< , setiap chapter readersnya dibuat penasaran terus. ff authornya ceritanya bagus banget, gk heran bnyk yang comment di ff author ini. feelnya dapat, bahasanya enak dibaca, dan setiap chapter ceritanya itu menarik semua dan syang untuk dilewatkan.

    Omong-omong sepertinya kita seumuran, wktu itu authornya blng saat di chap satu bru umur 14 sdh buat ff tentang pernikahan gini, authornya Yoonwanhee emang the best lah, salken ya, author Yoonwanhee,,,,, sepertinya aku bakal jadi penggemarmu ;), cielah…. mungkin segini aja driku. *bnykomongya?* sampai jumpa di chap selanjutnya…..^^

    Liked by 1 person

    1. *ngefly bareng member bities*
      Aduh pujianmu itu loh, makasih bangeett… Teliti ya kamu bacanya (~’u’ )~ Aku suka aku suka~ jangan bosan buat nebak-nebak alur ceritanya yaa /ketjub/ /plak/
      Dan oh ya, waktu itu typoo hiks 😥 umurku baru tiga belas menjelang empat belas.. tiga bulan lagi eaa /gaada yang nanya/
      Hokehokee,, salken juga yuki :*

      Like

  11. Shilu28

    “Dia istriku dan berani sekali kau menyentuhnya?! Apa perlu tulang rusukmu aku hancurkan?”
    ulang terusss smpek jungkook jd suami ku wkwkwk , mereka ber-4 a.k.a (jungkook-hyerin-hanbin-hwayeon) satu SMP ? ok mungkin stelah ini aku bakal terkejut , jungkook suka hyerin ? fix , jd ngapain dia pacaran sma hwayeon2 itu ?? dan lagi siapa yg dtg ke rumah hyekook ? ok redam dlu penasaran nya dan tunggu aja next nya T.T btw thor ff mu baguss aku kasih 2 jempol 👍👍

    Liked by 1 person

  12. jimindrea

    Rada ngakak pas jungkook bilang ke hyerin “Dasar wajah pantat panci!” 😂😂😂disitu saya nguquq hard bacanya astaga 😆

    Dan dannn!! Itu si tae kenap jadi genit genit manis gitu 😍sumpah scene ny TaeJeong paling aku suka 😆

    Selebihny, PERFECT! Aku ga tau ini gimana bilangnya

    Liked by 1 person

  13. son naeun

    Duh ternyata udah di update senangnya dirikuuuuuu

    Haloo admin yg bisa aku panggil apa nih? Kakak kah? Hehehe.

    Aku ini orang yg maksa pengen ada taejeong moment HEHE. DAN DI CHAPTER INI FIX BIKIN AKU BAPERRRRRRR. Jadi Taehyung udah bisa move on dari Hyerin yaa? HEHE.

    Jungkook kok suka nya Hyerin? TUH KAN SI KAKAK MAH BIKIN AKU PENASARAN. Tapi kayaknya salah deh kak harusnya Jungkook suka aku? YAKAN YAKAN YAKAN *abaikan.

    Intinya aku penggemar ff kakak yang satu ini! Semangat buat ngelanjutin chapter berikutnya kak! Aku mah setia menunggu kok, soalnya biasanya kalau aku baca ff chapter aku bosen duluan tapi ff si kakak ini mah berhasil bikin aku selalu nunggu dan pengen baca terus HEHE.

    Maafin aku yang bukan komen tapi malah jadi curhat hehe. Buat taejeong nya ku suka lapyu ah kak! Aku tunggu selanjutnya. SEMANGAT KAK SEMANGAT! *ANGKAT BANNER BARENG JUNGKOOK*

    Liked by 1 person

  14. Aaaaaah, ini aku namanya ” iseng2 berhadiah ” tau ga knp thor? Karena pas iseng2 buka wp ini ternyata ff ini dah di apdet *yeay* aku baper banget sama taehyung nggombal gitu kkkk. Oalah, jd selama ini hanbin sm jungkook berteman? Dan jungkook suka hyerin? Jungkook bakal inget itu kan thor? Sepertinya taehyung udah lupain hyerin yaa? Dan beralih ke sujeong haha. Aku asli suka banget sm ffmu ini thor entah kenapaa. Dari segi cerita, penulisannya, alurnyaa, authornya pun jugaa *eaa* haha. Udah lah, ku tunggu lanjutannya thor *kiss**kiss**muahh* hehe

    Liked by 1 person

  15. VemyaANP

    Chapter terbaper dari trapped in a marriage ini miiiiin😍😍😍..readers nggak nahan bacanya,rasanya mau ngejedotin ini kepala ke tembok😂😂..
    Next yah thor,fighting💪💪../ciumjarakjauhdarireaders😗😗😗/

    Liked by 1 person

  16. LatteSweet8

    Heol 🙂
    Aku suka banget pas bagian flashback nya si Jungkook
    itu keren deh, aku baca sambil bayangin scene nya hehe
    Aduh si Jeon itu suka sama Hyerin ya?
    Kan dia pacaran sama hwayoung?
    Ya ampun hanbin oppa …..

    Aku tunggu chapter selanjutnya ya Authornim
    Semangat 🙂

    Liked by 1 person

    1. Jeon sukanya Hyerin? Iya.
      Kan dia pacaran sama Hwayoung? Emm, gimana yaa… Itu bakal dijelasin nanti 😀 (koreksi ya.. namanya Hwayeon 🙂 )

      Makasi supportnya ya kak/dek/mba/tan/beb (?) :v /abaikan/
      Jadwal next chap bisa dilihat di freelance verific 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s